Haduh, Ayane itu imut-imut sekali ya ;w;
Warnings: OOC Souji & OOC Ayane, AU, typo bertebaran, straight pairing, OC(s)
Disclaimer: Loh? yang punya Persona 4? Ya jelas De- #ditonfa. I-iya, persona 4 punyanya mas/mbak Atlus semata. Bukan punya Deeys ;w; #cakarcakartembok
Saatnya mengganti 'jika' dengan 'kapan'.
"Ayane! Tempo mu terlalu lambat!"
"Ma-maaf Kiyu-san!"
Dengan segera aku memainkan trombone milikku sambil mengikuti tempo yang lain. Sesekali aku mengerling seseorang yang duduk di sampingku. Seseorang dengan rambut dan iris mata yang sewarna, abu-abu.
"Baiklah! Semuanya, cukup sampai disini untuk hari ini. Dan Seta-san, terima kasih sudah bergabung dengan klub musik! Kau baru masuk selama dua minggu dan permainanmu benar-benar menakjubkan!" Kiyu senpai menepuk kedua tangannya, menandakan bahwa latihan untuk hari ini sudah selesai.
Dengan segera ruangan musik menjadi kosong, yang entah kenapa hanya menyisakan diriku dan Souji senpai.
"Senpai, permainan trompet mu bagus sekali!" seruku sambil merapikan beberapa partitur musik yang berserakan. "Tempo mu tak ada yang meleset, kau-hebat sekali," tambahku lagi.
Tak ada jawaban, selesai meletakkan partitur yang kubawa aku menoleh ke arahnya. Dan entah kenapa, rona merah menari dengan indah di wajahku.
"Uh-um, maaf… Tak ada artinya bila aku yang berbicara seperti itu," lirihku pelan sambil berusaha menyembunyikan rona merah dengan menunduk.
"La-lagi pula permainanku hari ini buruk. Coba aku memiliki bakat sepertimu," tambahku pelan dan kali ini berusaha memandangnya. Tak lupa dengan sedikit senyuman yang-aku juga tak tahu-sering sekali muncul akhir-akhir ini.
"Yang penting adalah usaha bukan?" balasnya. Aku mengangguk cepat.
"Benar sekali! Ah-tapi, disini ada pemain trombone lain… Ryuki-senpai. Permainannya sangat bagus, berbeda dengan diriku yang payah dan-ah! Sudalah, lupakan senpai!" seruku cepat. Tak kusadari bahwa aku sedang curhat colongan dengan Souji senpai. Memalukan sekali…
"Memang kau tidak pernah berlatih di rumah?" Souji senpai bertanya sambil mengambil partitur yang ada di tanganku, lalu merapikannya dan menaruh ke tempat semula. Lagi-lagi wajahku sukses dibuatnya memerah.
"Bukan begitu senpai, tetangga akan protes dengan suaranya… Makanya aku jarang berlatih di rumah," jawabku. Souji senpai terdiam, ia lalu memandangku, "Mau latihan bersamaku?" tanyanya yang astaga, sudah berapa kali wajahku dibuat memerah hari ini?
Aku memandangnya tak percaya. Apa benar yang Souji senpai katakan? Dia mengajakku berlatih bersama?
"Yah, tidak apa-apa sih kalau kau tidak mau," lanjutnya cepat dan sambil kembali membantuku membereskan ruang musik.
Tidak mau? Heh, aku akan menyebut diriku gila jika tak mau berlatih bersama dengan orang yang ada di depanku ini! Yah, maksudku, berlatih dengan orang yang hebat tentu akan menyenangkan, kan?
"A-aku mau senpai!" seruku.
Souji senpai berhenti sejenak, ia lalu memandangku dan apa yang kulihat di depanku benar-benar tak bisa kupercaya. Yak- kau pun pasti tak akan percaya, maksudku, seorang Souji senpai sedang tersenyum padaku! Yah, meskipun hanya sebuah senyuman kecil.
"Hm, baiklah-ayo ikut aku," ajaknya. Aku tersenyum senang dan dengan segera kami berdua meninggalkan ruangan musik.
QAQ
Kami berdua kini berada di sungai Samegawa dan sedang memainkan sebuah lagu bersama.
"Uh, ma-maaf senpai… Permainan payahku ikut mengacaukan permainanmu." Aku meletakkan tromboneku dan duduk di kursi yang ada.
"Aku benar-benar payah," seruku pelan sambil menghela nafas panjang. Souji senpai hanya memandangku, ia lalu ikut duduk di sebelahku.
"Kau tahu senpai? Aku punya impian… Yah, impian. Dimana musikku akan bisa menggapai orang-bukan hanya sebuah musik untuk di dengarkan, tetapi musik yang bisa mengubah-tidak, musik yang bisa mempunyai arti untuk orang-orang." Aku membenamkan wajahku pada lututku.
"Mungkin terdengar muluk-tapi, entahlah… Tak ada salahnya untuk bermimpi kan senpai?" tanyaku sambil menengadahkan wajahku, berusaha untuk tersenyum. Meskipun bisa terasa bahwa air di ujung mataku akan keluar kapan saja.
Tak ada jawaban, hening. Hanya suara air yang mengalir di sungai Samegawa.
Aku kembali menundukkan wajahku. Entah kenapa, pemandangan tanah yang ada di bawahku terlihat sangat menarik untuk saat ini.
Hingga tiba-tiba sebuah tangan mengelus rambutku pelan.
Aku segera mengangkat wajahku dan betapa kagetnya saat kulihat pemuda dengan iris abu-abu yang begitu menawan-ehem, oke… jangan pedulikan yang tadi. Maksudku, pemuda yang duduk di sebelahku, yang biasanya tanpa ekspresi sedang tersenyum padaku. Bukan senyuman kecil seperti tadi, melainkan sebuah senyuman lebar yang indah-oke, salah focus. Senyuman lebar yang jarang menghiasi wajah tampannya. Hebat-sudah membuat wajahku memerah, kini juga membuatku kehilangan focus.
Dengan segera rona merah menghiasi wajahku, dan kali ini sepertinya gagal kusembunyikan.
"Ayane, wajahmu memerah… Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan raut wajah yang sudah kembali seperti semula.
Aku mengangguk cepat tanpa berani memandang Souji senpai.
"I-iya senpai… Em, senpai kenapa tersenyum lebar seperti tadi?" tanyaku masih tanpa melihatnya.
"Ah tidak apa-apa. Yah-dan untuk pertanyaanmu, kurasa tak ada salahnya menjadi pemimpi," jawabnya sambil-huh? mengelus pelan rambutku? Ya, Souji senpai mengelus pelan rambutku.
Aku mendengus pelan, dan kemudian memejamkan mataku perlahan.
"Terima kasih senpai," bisikku pelan.
Tak ada jawaban, tapi aku yakin bahwa Souji senpai mendengar apa yang kuucapkan.
QAQ
"Hei, sudah dengar? Ryuki-chan kecelakaan!"
"Eh? Kecelakaan apa? Apakah dia baik-baik saja?"
"Iya, tidak apa-apa dia hanya terpeleset kok, tapi kudengar tangannya patah."
"Loh? Patah? Lalu bagaimana dengan performance kita nanti?"
"Aku tak tahu-"
BRAKK
Obrolan di ruangan musik itupun berhenti seketika. Aku yang sedari tadi sibuk membagikan partitur untuk para anggota langsung menoleh ke arah depan. Begitupun Souji senpai yang ikut membantuku.
"Hey, jangan ngobrol sendiri-sendiri! Tenang sebentar!" seru Kiyu-san, ketua dari klub musik.
Aku segera melanjutkan membagi partitur dengan cepat dan segera kembali ke tempat dudukku. Saat sudah kembali, Kiyu-san mencoba mengambil perhatian seluruh anggota klub musik.
"Ehem, baiklah. Seperti yang sudah kita dengar, Ryuki habis mengalami kecelakaan. Yah, bukan kecelakaan besar juga sih. Dia terpeleset di tangga rumahnya yang licin dan yah-untuk performance kita… Kita masih punya Ayane bukan?"
Namaku yang tiba-tiba disebut dengan segera membuat seluruh mata anggota klub musik mengarah padaku.
"Kau yakin Kiyu? Bukankah nanti akan ada bagian dimana dia harus memainkan trombonenya secara solo?" tanya Mei senpai. Salah satu peniup trompet selain Souji senpai.
"Aku yakin, emm-kau bisa kan Ayane?" tanya Kiyu senpai kepadaku.
Aku yang sedari tadi hanya bisa berdiam diri mengangguk pelan. Tak sadar bahwa kini diriku sedang menanggung beban yang cukup berat.
"Oh, yasuda kalau kau yakin…" Mei senpai tersenyum padaku dan kemudian kembali duduk di tempatnya.
Yah, kalau aku boleh berkomentar… Bukan senyum yang ramah.
"Tentu aku yakin! Aku yakin denganmu Ayane, kau harus lebih giat berlatih! Oke?" seru Kiyu senpai bersemangat.
Aku masih tak bisa berkata apa-apa, tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku-yah, aku akan tampil di Inaba Munincipal Hospital. Dan dengan sebuah bonus, aku juga akan bermain solo.
Astaga, betapa menyenangkannya ini!
"Ba-baik senpai! Aku akan berusaha sekuat tenaga!" seruku riang dengan senyum yang lebar.
Kiyu senpai mengangguk setuju, "Baiklah, mari kita mulai latihan untuk hari ini!" serunya sambil memimpin latihan kami.
Aku bermain sambil berkonsentrasi tinggi, tak sadar bahwa seorang senpai di sebelahku sedang tersenyum kecil sambil memandangku.
Pendek? maaf QAQ
lagi terkena mager akut
Oh-oh dan untuk Maya Megumi terima kasih sudah mereview x3~ saya balas disini ya~
Iya, saya suka pairing ini xD terima kasih sudah membaca dan mereview yaa x3
Baiklah minna~
RmR? Read must review? :p Konkrit sangat diterima w
Dank je~
