Chapter 2 : Clover 4 ?

Disclaimer : We don't own Vocaloid and Kobayakawa Sena but this story is Our's

Genre: Friendship, Romance, Humor, Hurt/Comfort

Rate: T

Warning: AU, OOC, judul gak nyambung ama cerita, garing, gaje ,kata-kata tak sesuai EYD, typo dimana-mana, dkk.

Don't Like? Don't Read!

RIN POV

Keesokan Harinya~

BYUUUR!

"SENAAA!" aku terbangun dari mimpi indahku (mimpi indah = makan jeruk bersama Kobayakawa Sena) dan yang kulihat sekarang adalah... KAKAKKU DENGAN CENGIRAN TAK BERDOSANYA MEMEGANG EMBER YANG TADINYA BERISI AIR UNTUK MENYIRAM DAKUH YANG IMUT-IMUT INI! Tak bisa dimaafkan!

"RINTOO! MAU APA KAU? HAH!" teriakku sambil memasang kuda-kuda untuk berperang dengannya.

"MAU APA, HEH? DARI TADI GUE BANGUNIN ELO AMPE UBANAN TAUK! LO NIAT SEKOLAH KAGAK SEH?" jawab Rinto yang menimbulkan hujan lokal di sekitar wajahku.

"YAUDAH SIH, NGOMONGNYA NYANTAI DONG MAS! DASAR LO *piip* *piip*"

"APA LO? *piip* *piip*"

-skip time biar gak ganti rate-

Whuush~

Saat ini aku berada di depan gerbang sekolah, "Yah,terlambat deh," gumamku. Hanya ada satu pilihan yaitu... ekhem bolos. *Teman-teman di rumah jangan tiru aku yah! Inikan just fanfic*

Yah~ lagi pula aku tak mungkin sekolah dengan keadaan seperti ini. Kau tanya seperti apa? Wajahku saat ini, seperti habis ekhem-dikeroyok kucing kau tahu? Tapi perjuanganku tak sia-sia, karena akulah sang pemenangnya, saat ini Rinto sedang dipukuli ekhem-bokongnya oleh ibu, haha rasakan kau~

Karena terlalu lama melamun, tak terasa aku telah sampai di taman. Aku merebahkan diriku diatas ribuan clover, ng... daripada bosan lebih baik aku mencari clover 4, katanya kalau kita bisa menemukan clover 4, kita bisa mendapat keberuntungan. Aku benar-benar membutuhkan clover 4 dalam kesuraman hidupku ini. Ugh... sulit sekali mencarinya, sejak tadi yang ku temukan hanya clover 3 saja.

Tiba-tiba a-ada yang mencolek coretpantatkucoret,

"Yo, Rinny!" aku mendengar suara yang tak asing lagi dari belakangku.

BUAGH!

Aku menonjok 'orang' itu atau bisa kau sebut 'Len'.

"Aww, Itu sakit Rinny!" kata Len sambil meringgis.

"Ma-mau apa kau?" tanyaku sambil menyembunyikan rona merah di pipi chubby-ku ini.

"Uh, Rinny kau bolos yah? Nakal sekali~"

"Ak-aku... kau sendiri sedang apa disini?" tanyaku yang mencoba menghindari pertanyaannya.

"Aku bolos! ^v^" jawabnya enteng seenteng panci tanpa isi.

Apa-apaan bocah kuning ini? Rambutnya kena hepatitis yah? Rambut kuning aneh dan mata aquamarine-nya membuat wajahnya yang shota, oh Kami.. sa.. ma? Loh? Kok?

BLUSH!

"O-oh," jawabku dengan terbata-bata.

"Ngomong-ngomong kau sedang apa disini?"

"Mencari clover 4," jawabku singkat.

"Apa? Clo, apa? Itu nama Restoran?" tanya Len dengan tampang polosnya.

"Bu-bukan, Itu nama tanaman liar, biasanya hanya ada 3 kelopak, tapi kalau ada 4 namanya clover 4, jika kita menemukannya kita akan mendapatkan keberuntungan," jelasku panjang besar-eh! Lebar.

"Oh~sayang sekali, aku tak tertarik, kalau hanya bergantung pada tanaman liar, orang bodoh juga bisa,"

JLEB!

Apa? Tiba-tiba raut wajahnya suram, tidak seperti biasanya.

"Ta-tapi tidak salahkan kalau berharap,"

"Memang, tapi aku... tak mau berharap... " gumamnya pelan sambil menunduk, melihat sepatu putihnya.

"Jika tidak punya harapan, sama seperti burung tanpa awan, sudah ayo bantu aku!" ajakku sambil menarik tangannya dengan paksa. Aku tidak tahan melihat wajahnya.

Tes... tes...

Aku merasakan mataku mulai memanas,

Eh?

Ke-kenapa aku...

Menangis?

"Ah! Rin kau kenapa?" tanya Len yang menyadari kalau aku menangis.

"Hiks... Aku gak tau kenapa,tapi gak bisa... hiks... berhenti... hiks... "

"Eh?"

"Orang bodoh sepertimu... hiks... sama sekali gak pantas berwajah seperti itu... hiks... tahu!"

Tiba-tiba Len memeluk tubuh kecilku,

Aku benar-benar kaget saat itu,

Banyak sekali pertanyaan yang berputar dikepalaku,

Tapi tubuhku...

Bergerak lebih cepat dari pada otakku...

Dan tanpa ku sadari...

Aku telah membalas pelukan Len...

Hangat.

Tangan Len menyentuh pipiku dan membuat wajahku menatap wajahnya, lalu jari-jari lentiknya menyeka air mataku,

"Iya, maaf yah! Sudah jangan menangis, ayo kita mencari closet itu!"

"Clover!"

Setelah kejadian yang membuat author mimisan ditempat, dan matahari terus BBM-an ama bulan untuk bertukar pekerjaan, aku beranjak pulang, tapi...

"Rumah kita searah Rinny~"

"Lalu?"

"Pulang bareng yuk!" pinta Len dengan puppy eyes andalannya.

"Baiklah."

Kami berjalan berdua menyusuri jalan dan menikmati cahaya langit jingga pukul 6 sore yang menyejukkan seperti lemon (lagu Aqua Timez)

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Len menghentikan langkahnya di sebuah rumah bergaya Eropa atau rumah Len.

"Kenapa berhen-" aku terdiam, pandangan Len tertuju pada seorang pria-yang wajahnya kurang lebih mirip dengan Len, yang sedang berjalan menuju ke tempat kami,

Aku kembali menatap Len, mata aquamarine yang biasanya memancarkan sinar yang indah, kini kembali meredup.

Pria itu berlalu begitu saja.

"Tou-san," gumam Len. Dia-pun terdiam,

"Len?"

"Rin, aku sudah sampai, kau mau mampir sebentar?" tawar Len sambil tersenyum,

Ah! Tapi senyuman itu tak seperti yang biasanya...

Itu lebih terlihat...

Terpaksa?

Aku harus mengetahui apa masalah Len!

Aku...

Tak ingin melihatnya bersedih seperti itu...

Biarpun dia menyebalkan...

Biarpun dia suka menjahiliku...

Tapi aku yakin dia orang baik...

Dan orang baik seperti dirinya...

Tak pantas untuk bersedih!

-To Be Continued-

Chapter dua udah apdet desu~ maap kalo mengecewakan :( Makasih banget benget bangetan buat para senpai yang udah baca dan ngereview fic iniiii ^^ maaf yah gak bisa bales satu-satu (halah bilang aja males -,-)

Akhir kata, boleh minta review seikhlasnya? :)