Chapter 2

Changmin menatap keluar jendela selama perjalanan berlangsung. Otaknya terus memutar ingatn tentang Tae Yeon. Demi tuhan, ia sangat menyukai gadis itu. Namun, rasa canggung mengerayanginya tatkala ia sedang berdekatan dengan leader Girls Generation itu. Mungkin, hal itulah yang membuatnya tak bisa mengungkapkan perasaannya yang terpendam pada Tae Yeon. Dalam hati, ia merasa menyesal. Menyesal karena kini gadis yang menjadi cinta pertamanya telah menjadi milik orang lain, bahkan sahabatnya sendiri. Ia memandangi Junsu yang tengah duduk bersama Yoochun di kursi sebelahnya.

"Aku takkan merelakannya, jika kau bukan sahabatku ...," gumam Changmin sambil menyandarkan kepalanya dijendela.

Junsu yang duduk disebelah Yoochun terus merasakan sedikit rasa sakit dikepalanya. Ia sendiri bingung dengan apa yang tengah menimpa dirinya akhir-akhir ini. Sedari tadi, Junsu tak bisa menikmati perjalanan menuju kota Incheon malam itu. hanya keripik kentang-lah yang senantiasa menemaninya. Yoochun sudah terlelap, begitu pula dengan dua hyung yang berada didepannya. Mata Junsu kemudian terhenti pada dongsaeng yang duduk dikursi sebelahnya. Ya, ia melihat Changmin belum tertidur.

"Kau mau keripik kentang, Min?," tawar Junsu seraya menyodorkan sebungkus keripik kentang yang tinggal separuh. Changmin menatapnya terkejut. Dengan enggan, ia mengambil beberapa keripik kentang yang ditawarkan Junsu padanya.

"Gomawo, hyung..," ujar Changmin seraya sibuk dengan angannya kembali dan mencuekkan Junsu.

Junsu merasakan ada yang tidak beres dengan Changmin. Dia dan dirinya rasanya tak sedekat dulu. Seperti ada sekat diantara keduanya. Tapi Junsu segera menepis pemikiran negatifnya dan menyandarkan kepalanya pada Yoochun yang sudah terlelap dengan mulut ternganga.

Sinar matahari menerobos melalui celah-celah jendela bis, membuat seluruh manusia yang tengah terlelap merasa tak nyaman dan akhirnya terbangun. Jaejoong membuka tirai biru yang menghiasi jendela bis, ia melihat sebuah papan berwarna hijau didepan sebuah restoran.

"INCHEON"

Jaejoong menarik nafas lega, dengan ditemukannya papan hijau itu, berarti kini mereka sudah berada di Kota Incheon, tempat konser Dong Bang Shin Ki selanjutnya. Ia merasa senang karena sudah lelah tidur sambil duduk didalam bis tour DBSK. Ia meregangkan otot-ototnya yang menegang akibat terlalu lama tidur dalam posisi duduk.

"Kita sudah sampai ya, Jae..?," suara serak Yunho mengagetkan Jaejoong.

"Belum, Yun. Sebentar lagi....,"jawab Jaejoong seraya mengelus rambut Yunho.

Kegiatan pagi yang membosankan dalam bis itu dihabiskan kelimanya dengan bermalas-malasan lagi. Junsu yang sesekali merasakan pusing dikepalanya, kini sudah bisa lebih rileks. Ia ingin melupakan semua rasa sakit yang dideritanya demi membuat keempat sahabatnya itu tenang. Karena ia mengerti bahwa semua akan menghawatirkannya jika Junsu sedikit mengeluh tentang kepalanya.

Beberapa saat kemudian, bis memasuki kawasan yang tak padat penduduk. Disanalah penginapan bagi para anggota DBSK beserta para awak lainnya. Pohon besar didepan penginapan itu, menambah rindangnya suasana. Yunho menghembuskan nafas lega tatkala menginjakkan kedua kakinya didepan pelataran penginapan. Manager memberi mereka waktu istirahan selama kurang lebih satu jam. Karena kelimanya harus mengadakan gladi bersih di gedung Golden Stair.

Pasukan yang diketuai Yunho itupun masuk satu persatu kedalam penginapan sambil membawa bawaan masing-masing. Yang paling berat, tentu bawaan Changmin. Maklum, dia suka menyimpan apasaja dalam tasnya. Changmin memiliki prinsip: 'lebih baik diam daripada meminjam'. Itu pulalah yang mungkin membuatnya tak kuasa mengungkapkan isi hatinya pada Tae Yeon. 'lebih baik diam, daripada ditolak'. Agaknya Changmin harus mengubah motto hidupnya yang kedua, jika ingin menapatkan seorang wanita.

Junsu merebahkan tubuhnya kekursi tanpa membawa barangnya kekamar. Ia mencari-cari obat sakit kepala. Jaejoong yang sadar akan kelakuan aneh Junsu, segera menghampirinya.

"Hei Su, kau sedang apa..," tanya Jaejoong yang hendak membawa barang-barangnya kekamar yang telah disiapkan pihak penyelenggara.

"Kau punya obat sakit kepala,hyung?," tanyanya lirih seraya membetulkan posisi duduknya.

"Astaga, kau masih sakit ya..?,"uar Jaejoong sambil mengecek suhu di dahi Junsu.

"Aish... aku hanya pusing. Berikan aku obatnya..!," balas Junsu memanyunkan bibirnya seraya menepis tangan Jaejoong yang semula bertengger didahinya.

"Sebentar, aku akan masukkan barang-barangku dulu dan membuatkanmu makananan, setelah itu aku akan memberimu sedikit penghilang rasa sakit," jawab Jaejoong sambil beranjak dan membawa kopernya. Tak lupa, ia juga membawa koper Junsu keatas.

"Jeongmal mianhae.. aku merepotkan lagi," ujar Junsu sambil menundukkan kepalanya. Jaejoong hanya tersenyum dengan wajah malaikat yang selalu mampu menhipnotis siapapun.

Kini, pria itu duduk sembari menghabiskan kimbabnya. Kimbab buatan sang malaikat memang lezat. Semua sahabat yang mengelilinginya selalu membuat Junsu merasa bahagia dan dapat sejenak melupakan rasa sakit yang tengah didderanya. Hanya dihadapan merekalah, seorang Kim Junsu berusaha untuk tetap kuat.

Ditolehnya pria berwajah malaikat yang baru keluar dari dapur itu. Sang malaikat masih mengenakan sebuah celemek masak berwarna kuning matang. Jaejoong memberikan setablet obat penghilang rasa sakit itu pada Junsu yang sudah selesai menyantap kimbab buatannya. Tanpa aba-aba, pria imut itu meminum obat yang telah diberikanoleh malaikatnya.

Tak terasa, sudah dua hari Dong Bang Shin Ki berada di Incheon. Selepas menggelar konser kemarin malam, Yunho dan kawan-kawan langsung menuju kekota selanjutnya yakni Busan. Busan terletak tak begitu jauh dari Incheon. Semua sudah berada didalam bis, kecuali Junsu. Ia sedang pamit ketoilet.

"Kim Junsu... sebenarnya ada apa dengan dirimu?," ujar pada dirinya sendiri saat ditoilet. Berkali-kali, ia menjedotkan kepalanya ke tembok toilet akibat rasa pusing yang tak kunjung hilang. Kini, ia merasakan rasa sakit yang mengguncang seluruh bagian dari kepalanya. Rasa sakit yang sama persis seperti kejadian saat di Seoul kemarin. Berkali-kali, ia menyeka darah yang mengalir dari hidungnya. Hingga membasahi lengan T-shirtnya. Berpuluh-puluh tisu telah dia habiskan untuk mengelap cairan merah menjijikkan dari hidungnya itu.

"Baiklah.... aku menyerah...," ujarnya sambil menjatuhkan diri dilantai toilet. Tiba-tiba bayangan orang-orang yag disayanginya muncul begitu saja diotak Junsu. Umma, Appa, adik perempuannya, Yunho, Jaejoong, Yoochun, Changmin dan Tae Yeon. Serta beberapa orang yang tak jarang meneriakkan namanya. Dalam keadaan seperti itu, Junsu teringat sesuatu. Diambilnya obat pemberian Jaejoong dan ditelannya satu persatu. Kemudian, ia mengganti bajunya. Untung saat ketoilet tadi, ia membawa kopernya.

"Junsu, kau baik-baik saja kan? ," tiba-tiba suara yang dikenalnya menggema keras ditelinga Junsu. Itu suara malaikatnya, Jaejoong. Malaikat yang senantaisa menjaadi penjaganya saat dirinnya jauh dari keluarga.

"Ya, hyung... aku sudah selesai..," balas Junsu dengan suara mantap dari balik didinng toilet. Kepalanya berangsur-angsur membaik.

Junsu dan Jaejoong segera memasuki bis karena semua sudah menunggu mereka. Junsu meminta Jaejoong duduk disampingnya. Junsu duduk didekat jendela, sementara Jaejoong duduk disebelahnya.

"Su, jangan kau apa-apakan belahan jiwaku ya..," ujar Yunho sambil mengerlingkan matanya kepada Jaejoong. Jaejoong terkejut, wajahnya penuh dengan semburat merah.

"Ah, Yunnie..," desahnya pelan. Junsu dan Yoochun hanya tertawa, sementara Changmin asik dengan hobi barunya. Yaitu: melamun.

Junsu merasa kepalanya sudah agak membaik, setidaknya untuk saat ini. Ia menyandarkan kepalanya kejendela. Memikirkan apa yang tengah menimpa dirinya. Mendadak, kepalanya sering sakit dan hidungnya juga berdarah. Ia meragukan kalau dirinya hanya terserang kecapekan. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Diambilnya sebuah kalung dari dalam dompetnya. Kalung perak berbandul salib pemberian Ummanya sebelum ia hijrah ke Seoul. Ditatapnya kalung itu berkali-kali. Tanpa berpikir panjang, ia mengaitkan kalung itu dilehernya. Ingatan tentang umamnya berkeliaran diotaknya.

"Kalung ini akan senantiasa mengingatkanmu pada tuhan...," begitu pesan nyonya Kim pada Junsu saat pertama kali DBSK memulai debutnya. Tiba-tiba air mata Junsu mengalir membasahi pipi putihnya. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali menginjakkan kakinya dirumah tuhan. Jaejoong yang diam-diam memperhatikan Junsu, terkejut melihat dongsaengnya menangis.

"Su.. Kau kenapa?," ujarnya seraya mengusap air yang turun kepipi Junsu.

"Aku merasa telah melupakan-Nya, hyung.," ujar Junsu sambil memperlihatkan kalung perak berbandul salibnya. Jaejoong yang mengerti ucapan Junsu langsung meraih kepala dongsaengnya itu untuk didekapnya sejenak.

"Bagitu sampai di Busan, kita akan kegereja bersama...,"tutur Jaejoong seraya mengusap rambut Junsu.

"Kau memang malaikat yang ditakdirkan untukku, Jaejoong-hyung..," ujar Junsu sambil menatap mata indah Jaejoong. Sebuah senyum mengambang dari bibir Junsu.

Jaejoong benar-benar menepati janjinya pada Junsu. Ia segera meminta ijin pada sang manajer untuk pergi berjalan-jalan sejenak. Mereka berdua tampil dengan jaket dan topi agar tak dikenali. Kota Busan memang indah. Akhirnya kaduanya menemukan sebuah gereja. Gereja tua yang mungkin sudah jarang didatangi lagi. Bangunannya seakan kokoh, tapi sebenarnya sangat rapuh. Terbukti dengan puluhan cat dinding yang sudah mengelupas dan tiang penyangga yang sudah tak utuh gara-gara dimakan rayap.

Tanpa pikir panjang, keduanya memaasuki gereja itu dengan langkah kaki yang sedikit gemetar. Didalamnya mereka melihat seorang lelaki tua sedang membersihkan gereja ini. saat Jaejoong dan Junsu memasuki gereja, lelaki tua itu menyambut mereka dengan hangat.

"Barbahagialah kalian yang telah mendapatkan hidayah dari-Nya...," ucapnya sambil berlalu. Junsu hanya bisa geleng-geleng tak mengerti, sementara Jaejoong hanya tersenyum kecil mendengarnya.

Junsu menggenggam kedua tangannya didepan sebuah salib besar. Jaejoong yang melihatnya sedikit terkejut karena tak biasanya Junsu seperti ini. Pria cantik itu merasakan sesuatu yang tak enak saat melihat Junsu seperti itu. Ia berpikir, apa yang membuat Junsu sampai sebegitu khusyuknya saat berdo'a?

Tak lama kemudian, keduanya kembali ke penginapan di Busan. Para anggota lainnya tengah menikmati hidangan. Hidangan pemberian fans mereka di Busan. Jaejoong dan Junsu hanya kebagian sepotong Kimchi.

"Kau saja yang makan, Su. Aku tak lapar..," ujar Jaejoong sambil memberikan sepotong Kimchi itu pada Junsu. Junsu segera melahapnya, namun tiba-tiba ia memuntahkannya.

"Ka..kau kenapa..?," teriak Yunho panik.

"Perutku sedikit tak nyaman..," ujar Junsu pelan sambil mengelap bekas mutahnya. Untung semua sudah selesai makan.

"Su, kurasa kau harus memeriksakan kondisimu lebih mendetail..," ujar Yoochun yang menatap Junsu khawatir.

"Dokter dirumah sakit kan sudah bilang, aku hanya kecapekan..," elak Junsu.

"Aku akan mengantarmu..," tawar Jaejoong.

"Sudah kubilang...," Junsu tak meneruskan omongannya.

"Kami tak bisa membiarkanmu sakit. Jika kau tak meriksakannya, artinya kau tak menghargai kami yang tengah menghawatirkanmu..," ujar Changmin dingin tanpa menatap kearah Junsu sekalipun.

"Baiklah, aku kalah... aku akan berangkat sekarang dan mengambil hasilnya nanti sore...," ujar Junsu sambil bergegas kekamar untuk berganti pakaian.

Junsu menyetir porsche merah milik sang manager untuk bergegas pergi kerumah sakit Busan. Sebenarnya, ia juga penasaran dengan apa yang sedang menimpanya. Kepalanya sering pusing dan hidungnya sering keluar darah. Akhirnya, Junsu menemukan sebuah rumah sakit. Ia pun memarkir mobilnya dan berjalan memasuki rumah sakit. Seorang dokter tinggi dan tampan yang akan menanganinya. Junsu segera dibawa masuk keruang periksa oleh dokter yang bernama Choi Siwon itu.

"Apa keluhanmu, Kim Junsu..?," ujar dokter Choi yang mengambil posisi duduk didepan Junsu.

"Akhir-akhir ini aku sering sekali pusing. Kepalaku rasanya berputar-putar hingga hidungku berdarah. Pernah suatu kali, aku menjedotkan kepalaku ke tembok gara-gara rasa sakit yang luar biasa," tutur Junsu jujur. Sejenak, dokter muda itu mengeryitkan dahinya. Seakan ia mengerti apa yang tengah diderita oleh seorang Xiah Junsu. Namun, ia memilih untuk bungkam sampai hasil rongsen menguatkan hipotesisnya.

"Baiklah, mari kita mulai tesnya..," ujar dokter Choi seraya meninggalkan kedudukannya semula untuk beranjak menuju ruang rongsen. Junsu yang mengikutinys dari belakang, tampak tegang dengan sejuta kemungkinan yang bisa saja menimpanya. Jantungnya berdegup kencang saat ia ditidurkan disebuah alat perongsen kepala. Secara otomatis, kursi tempatnya ditidurkan akan mendorong Junsu tepat dibawah alat penrongsen itu. kurang dari lima menit, ia pun keluar darisana. Tak bisa dipungkiri, Junsu sangat takut dengan vonis dokter akan dirinya. Diremasnya kalung perak berbandul salib yang ia kaitkan dilehernya dengan raut wajah was-was. Inikah yang dinamakan firasat?

"Kau bisa mengambil hasil tesnnya nanti sore, disini..," ujar sang dokter sambil tersenyum. Junsu pun mengikuti teladan sang dokter.

"Jeongmal Kamshahamnida...," ujar Junsu sambil membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.

"Chonmannaeyo..," tutur sang dokter.

Junsu pun meninggalkan sang dokter yang masih berada diruangan itu. ia bergegas menuju tempat parkir dan mensetarter mobil porsche merah milik pak manager. Sungguh, ia takut dengan vonis dokter.

"Everything is gonna be Ok, Kim Junsu..," katanya menenangkan diri sendiri.

Tak lama kemudian, porsche merah itu memasuki halaman penginapan DBSK di Busan. Para member yang semula khawatir, menyambut kedatangan si dolphin dengan perasaan was-was. Takut kalau memang terjadi sesuatu pada Junsu.

"Bagaimana hasilnya, Su?," tanya Jaejoong dengan raut muka yang amat menghawatirkan Junsu.

"Tenganlah, hasil tes baru bisa diketahui nanti sore...," jawab Junsu dengan kekhawatiran yang telah disembunyikannya.

Junsu masuk kekamarnya, warna biru dan bau vanilli memanjakan penciumannya. Tiba-tiba, ia teringat akan Tae Yeon. Aroma vanilli itu sama seperti aroma rambut Tae Yeon, gadis yang dicintainya. Tiba-tiba Junsu tertidur, aroma vanilli itu membuainya hingga kealam mimpi.

Udara yang amat sejuk begitu membuai Junsu, sehingga ia terkejut saat terbangun dan ditengoknya jam dinding sudah menunjukkan angka lima. Itu berarti, ia harus bergegas pergi ke Rumah Sakit untuk mengambil hasil tesnya. Junsu segera bergegas mandi dan mengenakan T-shirt dan jaket hitam guna menutupi keberadaannya didepan publik.

"Su, kau mau mengambil hasil tes ya..?," celetuk Yoochun yang baru selesai mandi dengan handuk kecil yang hanya menutupi bagian bawahnya.

"Tentu...," ujar Junsu yang terburu-buru.

"Jika kau sudah selesai, susul kami langsung ke gedung Elite Garden ya. Soalnya setelah ini, kami akan segera bergegas kesana..," teriak Yunho yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Sore itu, Yunho hanya mengenakan kaus dalam yang sangat mengekspos lekuk tubuhnya yang indah.

Junsu tak menjawab, ia segera bergegas ke rumah sakit menggunakan mobil porsche merah yang juga digunakannya tadi pagi. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Perasaan takut menyelimuti hati kecilnya. Ia takut menerima hasil yang buruk. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Ada telepon dari Tae yeon, Junsu langsung mengangkatnya ditengah perjalanan.

"Su, kau sudah makan?...," ujar suara lembut diujung telepon. Suara itu, suara yang membuat seorang Kim Junsu jatuh cinta.

"Sudah....Kau sendiri..?," jawab Junsu.

"Aku juga sudah makan.... semoga kau menikmati harimu, Su. Maaf aku terburu-buru, aku akan meneleponmu lagi... i love you My Su~ie...," ujar Tae Yeon seraya memutus sambungan teleponnya. Junsu hanya geleng-geleng kepala melihat ulah kekasihnya itu.

Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Junsu sampai didepan sebuah bengunan kokoh berwarna putih. Ia memasuki lorong-lorong rumah sakit dengan sejuta ketakutan yang menggerayangi batinnya. Bau obat makin membuatnya muak. Akhirnya ia tiba diruangan dokter Choi Siwon. Perlahan, ia membuka daun pintu ruangan dokter Choi. Akhirnya pintu itupun terbuka dan Junsu melihat dokter Choi yang sedang duduk dikursinya. Baliau sedang menimang sebuah lampiran bersampul cokelat. Junsu menelan ludah dengan susah payah, menikmati sensasi ketakutan saat dokter Choi mempersilahkannya masuk dengan raut wajah yang sedikit aneh dimata Junsu.

"Duduklah, Kim Junsu...," ujar dokter Choi sambil terus memandangi kertas hasil rongsen Junsu.

Junsu's POV

Aku menahan rasa takut yang menjalar hingga ke sekujur tubuhku. Takut akan vonis yang dikatakan dokter Choi padaku. Mataku tak kuasa menatap dokter Choi yang akan membacakan hasil rongsen padaku. Namun, aku bukan seorang loser. Aku memberanikan diri untuk mengangkat dagu dan menatap dokter Choi. Ia menunggu responku terhadapnya.

"Sudah siap, Kim Junsu?," tanyanya padaku, Aku terlalu jeli untuk menangkap nada bicara sang dokter yang bergetar. Sadar dokter Choi menanti reaaksiku, aku pun mengangguk pelan.

"Kau mengalami tumor otak...," ujar dokter berat. Ia menatapku yang tak percaya dengan vonisnya. Wajahku seakan dihujam air panas, sekujur tubuhku tak kuasa memberontak. Lututku melemas mendengar vonis sang dokter terhadapku.

"Tu...tumor otak...?," sumpah, aku tak percaya dengan vonis dokter ini. Jangan-jangan dokter ini adalah orang gila yang menyamar jadi dokter ? atau mungkin hasil rongsenku tertukar? Tidak, kemungkinannya hanya satu persen.

"Iya, Junsu. Tumor otakmu sudah mulai tumbuh membesar. Kita harus melaksanakan operasi secepatnya. Kalau perlu, aku akan mempersiapkan semuanya agar kita dapat memulai operasinya besok...," ujar dokter Choi penuh harap padaku. Tatapan matanya seakan memohon pada sosok Kim Junsu yang sedang gundah ini.

"Tidak semudah itu, dokter. Dong Bang Shin Ki sedang promo di Korea Selatan. Aku tak mungkin menundanya untuk operasi...," rengekku.

"Junsu, tumormu makin membesar dari waktu ke waktu. Apa kau mau menunggu sampai ia menyebar kebagian yang paling vital dari otakmu?," dokter Choi Siwon berujar dengan sinar kekhawatiran yang terpancar dari wajah tampannya. Aku tak bisa memutuskan apapun untuk saat ini.

Tiba-tiba wajah-wajah orang yang amat kusayangi muncul lagi. Umma, appa, adik perempuanku, sahabat-sahabat yang sudah mendukungku, para penggemar yang senantiasa meneriakkan namaku dan rela berdesak-desakan hingga tak jarang mereka mengorbankan nyawanya sendiri. Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Vonis ini terlalu berat untukku, apa ini hukuman tuhan untuk hamba yang tak tahu diri sepertiku? Akhirnya, aku membuat keputusan juga. Keputusan yang sudah aku pikirkan matang-matang. Aku tak ingin egois, aku tak ingin ada yang dirugikan dalam keputusanku ini.

"Seminggu lagi, aku datang kesini untuk dioprasi. Aku janji!," ujarku mantap tanpa kuasa menatap mata dokter Choi Siwon.

"Kau membutuhkan operasi secepatnya! Mana mungkin aku membiarkanmu menjalani operasi seminggu lagi sementara otakmu ditumbuhi tumor ganas itu?," kata dokter Choi dengan nada tinggi padaku.

"Aku memilih keputusan ini dengan memikirkan sebuah konsekuensi yang akan ditimbulkan oleh pillihanku...," ujarku sambil menggigiti bibir bawahku. Aku mencoba untuk tenang menjawab sanggahan dokter Choi, namun sebenarnya hatiku berat mengatakan ini.

Tubuhku gemetar hebat saat mengungkapkan keputusanku pada dokter Choi. Aku tak bisa membayangkan konsekuensi dari pilihanku ini. Kutatap wajah tampan dokter Choi Siwon yang tengah duduk didepanku. Ia tak bisa menolak atau membujukku lagi.

"Turuti kata hatimu demi semua orang yang kau sayangi," kata dokter lirih. Mataku yang basah ini menatap mata tajam dokter Choi. Dokter tampan itu sadar akan kepedihan yang menghujam batinku. Reaksi yang sama ketika berjuta kali ia menyampaikan vonis menyedihkan pada orang-orang malang yang menderita penyakit mematikan sepertiku.

"Aku sudah memutuskan untuk menunda operasi hingga DBSK selesai promo di Korea Selatan, yakni seminggu lagi..," jawabku mantap seraya menghapus titik-titik air yang turun dari mata dan merembes di pori-pori kulit pipiku. Sejenak, aku memberanikan diri menatap dokter Choi tajam.

"Baiklah, aku menyerah.... kita bertemu seminggu lagi disini !," kata dokter Choi dengan seraya mengangkat kedua tangannya yang kokoh. Aku berusaha lega, namun sebenarnya dada ini sesak. Dokter Choi pun hendak meninggalkan ruangannya, namun aku memanggilnya hingga ia menoleh.

"Dokter, tolong jangan kau ceritakan masalah ini pada siapapun..," kataku, sejenak dokter Choi mengeryitkan dahi dan mengangkat kedua alis indahnya. Namun sebelum tubuhnya menghilang dari pandanganku, ia tersenyum dan mengatakan.

"Baikalah, Xiah Junsu...," ujarnya memakai nama panggungku.

Aku berjalan menuju keluar ruangan setelah beberapa saat dokter Choi meninggalkanku sendiri. Mataku menatap kedepan, tapi sebenarnnya itu hanyalah kamuflase untuk menutupi tatapanku yang sebenarnya kosong. Aku tak bisa memikirkan apapun setelah vonis dokter tadi. Suara bariton dokter Choi Siwon yang sedang membacakan penyakitku, sama halnya dengan guntur yang menggema keras ditelingaku. Lebih dari itu, sang guntur juga menyerang hatiku. Tak bisa terbayang olehku bagaimana reaksi orang-orang yang kusayangi setelah mereka mendengar penyakitku. Mereka pasti bingung, sedih dan khawatir begitu mendengarnya.

"Aku takkan mengatakannya....," gumamku lirih pada diriku sendiri. Aku pun melanjutkan langkahku menuju tempat parkir untuk bergegas menuju Elite Garden.

Hujan menyambutku setibanya didepan bangunan rumah sakit. Langit seakan turut menangis melihatku, melihat seorang Xiah Junsu yang begitu dielu-elukan dapat terkalahkan hanya dengan sebuah vonis dari seorang dokter. Aku berjalan gontai menuju tempat parkir dan membiarkan guyuran airmata langit mempermainnkan seluruh tubuhku. Dalam hati ku berharap akan dapat merasakan hujan seperti ini seminggu lagi. Akhirnya aku mendapati sebuah mobil porsche merah dan bergegas menaikinya dengan kondisi basah kuyub. Aku segera menstarter mobil managerku itu dengan kecepatan tinggi menuju gedung Elite Garden untuk gladi bersih sebentar kemudian dilanjutkan dengan konser. Aku menyembunyikan laporan kesehatankku di bawah kursi pengemudi agar tak ketahuan oleh yang lain. Sungguh, aku tak ingin menyusahkan mereka lagi.

Settibanya disana, aku segera melewati kerumunan orang banyak dan lewat pintu belakang yang sudah dipersiapkan agar tak terdeteksi oleh orang-orang yang menggerombol didepan pintu masuk. Bajuku yang masih basah bercampur dengan darah yang mengucur deras dari hidungku. Lagi-lagi mimisan! Gerutuku. Mimisan itu pengaruh dari tumor yang menyerang otakku. Segera aku begegas menuju toilet tanpa memperdulikan seseorang yang memanggilku. Aku tak mau orang itu mengetahui keadaanku saat ini.

Normal POV.

"Junsu.... Kenapa kau basah kuyub begitu?," Yoochun memanggil Junsu yang tengah berlari menuju toilet. Yoochun yang penasaran, langsung berlari mengejar Junsu. Pergerakan Junsu sedikit melemah dan itu memudahkan Yoochun untuk mendapatkannya. Junsu tak bisa berkutik lagi tatkala Yoochun mennarik tangan kirinya, dengan sekuat tenaga Junsu mencoba menepis lengan kuat Yoochun.

"Chun, lepaskan tanganku..," Junsu meronta tanpa berani menoleh kearah Yoochun. Hal itu makin membuat si Yoochun penasaran dan tak bersedia melepaskan tangan Junsu.

"Kau kenapa, Su? Sini aku lihat wajahmu..," ujar Yoochun alih-alih menarik paksa kepala Junsu. Kekuatan Yoochun terlalu kuat sehingga terpaksa membuat Junsu menyerah. Akhirnya, ia berbalik dengan cairan pekat berwarna merah yang mengotori wajah rupawannya. Yoochun terkejut mellihatnya, ia juga melihat rona kesakitan yang terpancar dari wajah Junsu yang dibagian hidunh sampai dagunya ternodai oleh darah.

"Ka..kau berdarah....," tutur Yoochun pelan sambil mencoba mengusapi darah Junsu, Junsu menepis tangan Yoochun sambil kembali tertunduk.

"Aku terbentur.. semenjak peristiwa di Seoul itu, pembuluh dihidungku jadi lebih sensitive. Ya, begitulah kata dokter tadi...," Junsu berusaha membuat alasan setelah melihat wajah Yoochun yang khawatir. Mendengar penjelasan dari Junsu, Yoochun pun berangsur-angsur lega. Ia kemudian membiarkan Junsu bergegas ke toilet dan ia meminjami dongsaengnya itu sebuah T-shirt untuk mengganti T-shirt Junsu yang basah kuyub.

Junsu pun kembali menyusul sahabat-sahabatnya di panggung yang sudah dipersiapkan. Ia sedikit gugup menghadapi mereka. Penyakit yang diderita si Dolphin adalah penyakit serius yang akan membuat semuanya khawatir jikalau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada sosok Junsu sekarang. Didalam hatinya, Junsu juga seorang manusia yang pasti menginginkan kesembuhan akan dirinya, sedangkan disisi lain ia adalah seorang Xiah Junsu yang harus bertahan menunda operasinya seminggu lagi guna menyenangkan para penggemarnya dan menenangkan para sahabat, serta orang-orang yang amat dikasihinya. Hari itu dihabiskan Junsu dengan lebih banyak berdiam diri, beban berat yang dipikulnya membuatnya menjadi pria yang lebih pendiam. Disaat seperti ini, ia memerlukan seseorang yang bisa diajaknya untuk berbagi. Namun sepertinya ia sudah kukuh ingin menyimpan sendiri masalahnya rapat-rapat, hingga saat yang dianggapnya tepat untuk diketahui oleh semua orang.

DBSK melaksanakan konser di Busan tepat pukul delapan malam dan selesai pada pukul 22:00. Semua member DBSK sangat kelelahan akibat konser malam tadi. Kondisi Junsu makin memburuk, kepalanya didera pusing akibat tumor yang bersarang diotaknya entah sejak kapan. Wajah Junsu pucat dan keringat dingin terus membanjiri wajahnya yang tampak begitu imut.

Pukul sebelas malam, Dong Bang Shin Ki dan kru-kru yang lain segera meluncur ke kota Daegu. Kota itu berjarak lumayan jauh dengan Busan. Seperti biasa, bis yang digunakan selama tour menghampiri para anggota yang sedang berada di gedung Elite Garden. Barang-barang mereka juga sudah terangkut dalam bis. Tak seperti biasa, Junsu memilih untuk duduk sendiri dengan alasan kenyamanan. Tanpa disadarinya, ia lupa akan hasil pemeriksaan yang diletakkannya di bawah kursi pengemudi mobil sang manager.

"Su, kenapa memilih duduk sendiri...," tanya Yoochun diiringi dengan tatapan penasaran antara Yunho dan Jaejoong.

"Aku hanya ingin nyaman,hyung..," jawab Junsu sambil memalingkan pandangan dari Yunho, Yoochun dan Jaejoong. Ketiga member DBSK itupun menangkap gelagat mencurigakan dari Junsu dan mereka memilih untuk tetap diam sampai Junsu mengatakan apa masalahnya.

"Eh ya, bagaimana hasilnya tadi?," Jaejoong menanyakan hasil pemeriksaan Junsu. Namun Junsu tetap tak bergeming, ia terus menatap keluar jendela. Bingung harus melakukan apa.

Junsu's POV

Detik ini aku akan meninggalkan Busan dan resmi menolak tawaran dokter Choi untuk melaksanakan operasi esok. Aku lebih mementingkan karier daripada kesehatanku sendiri. Oh,tunggu... aku bukan mementingkan karierku semata, tapi para sahabat dan penggemarku. Aku tahu bahwa Yunho, Jaejoong, Yoochun dan Changmin akan mengutukku jika mereka tahu aku mengorbankan nyawaku sendiri hanya demi para Cassiopeia dan juga mereka. Tapi... Changmin? Apa dia juga akan menghawatirkanku? Lupakanlah.

Tiba-tiba ponselku berdering. Itu telepon dari Tae Yeon. Aku tak mengangkatnya. Aku takut dia akan kecewa jika menerima kenyataan bahwa sesungguhnya seorang Xiah Junsu yang dicintainua hanyalah pria rapuh dan cengeng dan penyakitan. Aku bingung apa yang harus kulakukan terhadapnya. Aku terlampau takut akan sakit hati jika mendapati dirinya tak mencintaiku lagi setelah mengetahui penyakitku. Aku berpikir sejenak..... beberapa saat kemudian, aku menemukan sebuah solusi. Tapi aku ragu, apa aku harus melakukan ini pada Tae Yeon. Disatu sisi aku masih sangat mencintainya, disisi lain aku tak mau mengganggu kesibukan Tae Yeon dan tak bisa memikirkan bagaimana ia memutuskanku jika mengetahui penyakitku. Akhirnya kubulatkan tekadku untuk mengakhhiri hubungan kami. Hanya itulah cara agar diriku dan Tae Yeon tidak saling terikat lagi. Tapi, apa aku sanggup melakukannya?