PinkuPinkuHunnie present
.
.
.
.
.
"Something about 30 years old Lady"
.
.
.
.
.
Main Cast :
Oh Sehun
Xi Lu Han
Kim Jongin (Kai)
Kyungsoo
Kim Minseok
Park Chanyeol
.
Zhuyi
.
.
Other Cast :
Other EXO's member
SM Ent artist
.
Gender Switch for all 'uke' Character
.
.
.
WARNING!:
RATE M! NC
Maybe full of Dirty Talk and Sorry for Typo(s), OOC, abal abal story and other
.
.
Saya sangat mawanti wanti agar para readers membaca ff ini saat sahur dan setelah berbuka. :'D
Saya cuma ngga mau dosa :'( jadi karena saya sudah memperingati. Sisanya tergantung anda anda sekalian :''D
Dan aku kayaknya nggak akan hiatus di bulan ramadhan deh :''D cuma ya aku gaakan update yang Ncnya bejibun :''D .
Eh tapi gatau juga sih kkkk. :''D
.
.
.
.
BTW saya ganti nama dan update profil. Jadi silahkan baca profil saya dulu sebelum membaca dan mereview ya~.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa review ya :*
.
.
.
.
.
.
Chapter Two
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku belum pernah merasakan kepalaku sesakit ini. Bahkan ketika aku meneguk tequila ke tujuhku rasanya tidak pernah sepusing ini. Kalau saja bukan Yixing noona yang menyampaikan hal itu padaku, mungkin aku akan menendang bokongnya atau sekedar memukul kepalanya karena menbuatku nyaris gila seperti saat ini. Oke, kalian tidak lupa soal 'hal itu' yang kumaksud kan? Ya itu. Menjadi fotografer untuk si malaikat. Ini membuatku seperti harus memilih antara terjun bebas dari puncak gunung himalaya atau mendaki gunung everest tanpa alas kaki. Tetap pada posisi atau mengundurkan diri. Sugguh aku benar benar tidak bisa membayangkan jika si malaikat berada dibawah kekungan tanganku sambil mendesah nikmat dan berteriak 'Oh Sehun give me more!' Atau 'ah fuck me! Lick me! Ah ah!' selama tujuh hari dalam seminggu berturut turut. Oke ini berlebihan, tapi ini hanya perumpamaan. Tapi bagaimana jika itu terjadi? Oh tuhan!
Lihatlah aku sekarang. Memijat dahiku keras keras. Sambil terus mengingat perkataan manager si malaikat yang wajahnya keibuan dan welas asih itu. Entah kenapa perkataannya terngiang ngiang dikupingku. Aku muak. Ngomong ngomong, aku meninggalkan pesta itu. Aku hilang selera.
"Sehun?"
Aku menengok kearah pintu dengan malas. "Apa?"
Itu Kyungsoo, masih dengan setelan gaun pendeknya yang membosankan. "Pergilah jika kau datang hanya untuk mengoceh dan marah marah."
Kyungsoo sepertinya tidak terima, lihatlah bagaimana dia melepas flat shoesnya dan melemparnya tepat ke dadaku. "Kenapa kau ada disini bodoh?! Tuan Park mencarimu! Argh! Kau membuat tim kita kelihatan buruk dimatanya!" Wow, dia naik pitam rupanya.
"Apa dia mengerutkan dahinya ketika aku tidak ada?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan." Balasku santai.
"Cukup jawab saja ya atau tidak?"
"Apa itu penting sekarang?!" Ucapnya melipat tangan didada.
"Ya atau tidak?"
"Kau mulai berani melawan ya?!"
Aku mendesah malas, dan mengangkat handphoneku. "Halo, Kai. Sepertinya Kyungsoo punya hal menarik yang perlu ia bicarakan denganmu." Oke ini hanya jebakan.
Dia panik dan secepat kilat mengambil handphoneku. "Tidak tidak Kai! Sehun hanya bergurau-" dan dia melihat layar handphoneku.
"Kai bahkan tidak menelepon sama sekali."
"Yep." Aku menggulingkan badan.
"Kau mengelabuhiku!"
"Kau yang memperumit sejak awal!"
"Apa kau bilang?! Kau benar benar sudah berani melawan ya!"
"Hei aku bahkan tak pernah takut padamu- Dyodoro!" Ucapku sambil menekankan panggilan barunya.
"A-apa itu!"
"Cukup Sehun! Kyungsoo!" Untung saja Minseok Noona datang melerai kami, kalau tidak wanita ini sudah ku telanjangi dan kukunci dikamar mandi Kai.
"Noona dia menyebalkan!" Aduku.
"Eonnie! Dia yang duluan meninggalkan pesta!"
"Sudahlah! Lagipula Tuan Park tidak semarah itu!"
Aku bangun dan menatap Kyungsoo kesal. "Siapa yang salah sekarang?"
Dan dia mendelik.
"Aku lelah, jadi berhenti bertengkar. Atau kalian akan merasakan runcingnya heels baruku." Minseok Noona membalikkan badannya dan kembali ke tempat tidurnya.
"Apa pesta sudah selesai?" Ucapku
"Kau berbicara padaku?" Tch.. Pinguin inii-!
"Apa menurutmu aku sedang berbicara dengan makhluk lain selain dirimu ?"
"Ya." jawaban singkat khasnya yang sangan menjengkelkan.
"Sialan kau."
"Sudah selesai. Makanya aku kemari."
"Kai?"
"Kenapa harus tanya padaku?" Kyungsoo melangkah menjauh.
"Kau salah tingkah setiap aku menyebut nama Kai." Ucapku datar sambil menatapnya.
"Berisik." Dia menutup telinga.
"Kai Kai Kai Kai Kai-"
"Cukupppp!"
Blaaaam-! Pintu kamarnya dibanting sangat keras.
.
.
.
.
Aku mengucek mata saat suara Minseok Noona masuk kedalam gendang telingaku. Si wanita nyentrik itu memang selalu gaduh dipagi hari. Ditambah dengan mata sipitnya dan wajah dingin seolah olah dia tak melakukan apa apa.
"OH SEHUNNNNN!"
"Sehun masih tertidur Noona. Jadi jangan berisik." Ucapku sambil menutup kepala dengan bantal.
"Baiklahh." Jawabnya.
Aku memejamkan mataku, sekitar lima menit. Dan dia datang sambil membanting pintu kamarku. Tipu dayaku mustahil saja.
"BANGUN! ATAU PENGGARUK PUNGGUNGKU AKAN MENYAPA WAJAHMU PAGI INI!"
"Apalagi sih Noona?!"
"KELUAR!"
Oke. Kalau dia bukan atasanku, aku sudah menolak permintaannya. Berani sekali membangunkanku di hari libur begini. Dasar sial.
Aku melangkah malas keluar dari sarangku. "Apa noona?"
"Ada yang ingin bertemu denganmu."
"Nugu?"
Aku menyipitkan mata saat melihat sosok yang membuatku terbangun di pagi ini. Dan aku meneguk air liurku. Bukan, itu bukan si malaikat.
"KAU LAGI?! ASTAGA!"
Ya, si cengeng Zhuyi dengan dua tangkai bunga matahari ditangannya. Cih, dia pikir aku wanita?!
"Ajusshi tidak boleh berteriak."
"Sesukaku bodoh! Ini wilayahku!"
"Mama bilang tidak boleh berteriak dipagi hari."
"Katakan pada mamamu bahwa dia kuno sekali!"
Dia cemberut dan menunduk. "Baik ajusshi. Zhuyi akan bilang pada mama."
"Good boy!" Aku mengacak rambutnya.
"Ajusshi ini untuk ajusshi."
"Oh tidak tidak. Jika kau memintaku menerima bunga matahari itu aku tidak mau."
"Kenapa? Ajusshi tidak suka bunga matahari?"
"Aku benci bunga!" Ketusku.
"Bunga matahari ini bukan untuk ajusshi. Ajusshi percaya diri sekali ya." KEPARAAAT GAYA BICARA ANAK INI!
"Ini untuk ajusshi, mama sangat senang dengan bunga mawar kemarin. Jadi Zhuyi mau berterima kasih pada Ajusshi." Dia memberikanku dua batang cokelat ukuran besar. Astaga, aku bahkan tidak makan makanan manis.
"Terima kasih cengeng." Aku mengambil coklatnya.
"Dimana Kyungsoo Noona?"
"Noona?! Kuberi tahu satu hal ya, anak cengeng. Dia lebih tua dua tahun dibanding a—"
"ZHUYIIII—" sialan si pororo itu.
"Kyungsoo Noona!"
Dan mereka berdua berpelukan, demi tuhan kenapa Kyungsoo menjadi berisik sekali sekarang?!
"Noona. Ini untuk Noona. Zhuyi memetiknya dari halaman depan."
"Aigoo~ Gamsahamnida Zhuyi-ya."
Dan si cengeng tersenyum malu malu.
.
.
.
.
.
.
Kini kami berempat baru saja selesai makan malam. Beruntungnya si pelayan akan datang di jam makan, sambil mendorong trolley ke masing masing kamar.
"Kita punya satu bulan sebelum memulai pekerjaan kita."
"Berarti dua bulan sebelum perilisan majalah baru kita." Lanjut Minseok Noona dengan kacamata berframe putihnya.
"Dua bulan?! Eonnie, aku lupa bagaimana merangkai kata dengan hangeul." Kyungsoo mencondongkan wajahnya pada Minseok Noona, dan aku tertawa.
"Sehun. Kau harus pulang ke Seoul lebih awal."
"Apa?! lebih awal?!" dan tawaku hilang.
"Yep. Pekerjaanmu dimulai minggu depan." Balasnya santai.
"Apa?! Noona, bagaimana bisa begitu?!"
"Kau perlu beradaptasi dengan model kita bodoh! Dan kami perlu puluhan foto darimu! Karena yang kau tangani adalah model utama kita."
"Tungu tunggu! Bukankah ada tiga model utama?!"
"Tidak. Hanya satu model utama kita. Sisanya hanya pemanis."
"PEMANIS?!" Kali ini Kai tak luput dari kekagetannya.
"Baekhyun adalah pemanis?!" ucapnya lagi.
"Yap. Baekhyun hanya model sampingan."
"Tuhan! Model sampingan saja sudah seperti dia! Bagaimana dengan model utamanya! Yak, Noona. Kau harus memberi tahuku siapa model utamanya!" oke, kalau soal wanita dia memang selalu histeris seperti ini.
"Apa kau tidak mendengar perkataan tuan Park kemarin?!"
"TIDAK SAMA SEKALI!"
Kupikir Monseok Noona akan menjawab pertanyaan Kai, tapi ternyata dia malah menarik kuping lelaki hitam itu. "Bisakah turunkan nada bicaramu hah-?!"
Aku dan Kyungsoo hanya menghela napas. Jika aku selalu bertengkar dengan Kyungsoo. maka Kai selalu dapat teriakkan dari Minseok Noona, karena ketidak sopanannya.
Bunyi telepon dari handphoneku. dan aku keluar dari ruangan itu. Untuk mengangkat telepon tentu saja.
Tidak lama kemudian aku masuk dan duduk, dengan wajah kesal.
"Siapa?" tanya Kyungsoo.
"Barangku sudah sampai di Seoul."
"Wow, itu berita bagus bukan?" Minseok Noona bertepuk tangan.
"Seharusnya itu datang seminggu lagi." Aku menatap horror pada Minseok Noona.
Dia bertingkah seolah tidak tahu apa apa. "Noona yang mempercepatnya?"
Dan dia terkekeh. "beruntung aku punya kerabat di Seoul. Jika tidak, mungkin barang barangku akan hilang entah kemana." Aku masih bisa menahan kesabaran.
"Ini Sehun." Minseok Noona memberiku sesuatu.
"Apa ini?"
"Tiket." Dia tersenyum
"Berangkat besok pukul empat sore." Dia kembali terkekeh. Kyungsoo hanya menatapku khawatir, dan Kai tertawa tanpa suara.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya aku benar benar pulang ke Seoul. Aku melambai lambaikan tangan dengan malas kearah ketiga orang yang memasang wajah pura pura sedih diujung sana. dasar menyebalkan.
Aku duduk frustasi dikursi penumpangku. Minseok Noona menyuruhku pulang ke Seoul. Sedangkan aku saja tidak tahu apa yang harus kulakukan disana, bahkan si malaikat tidak menghubungiku sama sekali. Bagaima bisa aku mengerjakan pekerjaanku! Dasar seenaknya!
Aku menoleh setelah seseorang mencolek pundakku. Cih menggangu saja!
"Aku berada di kursi sebelahmu, dipinggir jendela itu. Jadi bisakah aku duduk?" ucap wanita itu.
"Noona?" itu Yixing Noona, dengan mata sembabnya.
"Ah rupanya Sehun." Dia duduk di kursi yang seharusnya kursiku, tapi sudahlah. Sama saja.
"Noona Gwaenchana ?"
"Suamiku terbukti berselingkuh Sehunnie." Wajahnya mulai memerah.
"Oh, itu bukan berita baik Noona." Aku memberikan sapu tanganku untuknya.
Dia menyeka air matanya. "Jadi sekarang kami resmi bercerai. Padahal kami baru menikah enam bulan yang lalu." Dan dia menangis sejadi-jadinya. Aku yakin sekarang semua penumpang melihat kearahku. Sungguh sial.
Aku mengusap punggungnya. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli, tapi karena aku butuh informasi darinya, kurasa tidak ada salahnya bersimpati.
Kupikir dengan duduk disebelahnya akan mendapatkan informasi, setidaknya nama si malaikat. Tapi ternyata nihil. Sepanjang perjalanan ia hanya membiarkan aku mengatakan 'sabar Noona.' Atau 'ini pasti yang terbaik' atau 'pasti ada lelaki yang lebih baik darinya'. Dan dia menangis sepanjang perjalanan. Bahkan hingga kami sampai di bandara, dia tetap menangis.
"Aku sangat berterima kasih padamu Sehun. Aku tidak tahu jika kau tidak ada, mungkin aku akan menangis sendirian didalam sana."
"Ya Noona, tidak masalah." Aku tersenyum, palsu.
"Bagaimana jika makan malam?"
"Ah aku tidak bisa merepotkanmu Noona." Ucapku, sebenarnya aku sangat malas jika hanya berduaan dengan wanita aneh ini.
Dia mengangguk tanda mengerti. Dan aku membuka handphone ku. "kerabatku sudah menunggu, jadi kurasa aku harus pulang sekarang Noona."
"Kalau begitu hati hati Sehunnie~." Apa apaan itu? Sok kenal sekali dia.
Aku membungkuk dan berjalan menjauh darinya. Belum sampai langkah ketiga, dia meneriakkan namaku, dan berlari kearahku.
"Apa kerabatmu membawa mobil?"
"Ya, tentu saja."
"Boleh aku menumpang? Aku tidak ingin naik taksi. Aku punya trauma dengan kendaraan umum." Dia terkekeh.
Aku menatapnya malas.
"Boleh?"
"Ya." Argh! Aku harus ada didekat perempuan ini lagi, sial benar aku ini.
Dua bulan lalu aku ke Seoul dan membeli sebuah mobil. Namun karena aku harus kembali ke Inggris aku menitipkannya pada Junmyeon Hyung. Dia tinggal bersebelahan denganku dulu. Ya dulu, saat kedua orang tuaku masih di dunia ini. Dan sekarang Junmyeon Hyung menjemputku dengan mobil yang telah lama kutitipkan padanya.
"Hyung." Sapaku.
"Sehunnie! Sudah lama sekali rasanya! Ayo naik. Dan kita makan malam!" dia tetap seperti dulu, tenang dan elegan.
"Tapi kita harus mengantar seseorang." Aku naik kedalam mobil, duduk disebelah Junmyeon Hyung. Dan si welas asih yang cengeng itu duduk dibelakang.
"Annyeonghaseyo. Yixing imnida."
"Ah, annyeong Yixing. Aku Junmyeon, kerabat Sehun." Dan mereka berdua bersalaman.
"Jadi kita akan mengantarnya. Noona, dimana rumahmu?"
"Tidak jauh dari sini."
Oke, sebentar lagi aku akan menjauh dari orang ini. Benar benar menjauh.
"Namamu seperti orang asing." Junmyeon Hyung membuka pembicaraan.
"Ah, aku orang tiongkok."
"Pantas saja, namamu unik."
"Zhang Yixing. Apa itu unik? kurasa itu biasa saja."
"Maksudku unik di telinga orang pribumi." Junmyeon hyung tersenyum.
"Berapa usiamu?" Junmyeon hyung buka mulut lagi.
"Dua puluh sembilan. Kau?"
"Mei kemarin tiga puluh."
"jinjja?"
"Jinjjayo." Junmyeon Hyung kembali tersenyum, oh tidak aku mulai merasakan atmosfir aneh disini.
"Kau terlalu tampan untuk usia tiga puluh."
"Kurasa kau berlebihan."
"Sudah menikah?"
"Belum. Kau pasti sudah menikah? Wanita tidak bisa berlama lama melajang, bukan?"
Dia diam, oh aku tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini. Me-na-ngis.
.
.
.
.
.
.
Kami sampai didepan kediaman Yixing Noona. Dia menurunkan semua barang barangnya. Aku tidak membantu sama sekali. Aku membiarkan dia dan Junmyeon hyung menurunkannya berdua. Aku bukannya tidak jantan, tetapi hanya memastikan dari luar pagar bahwa ini benar benar rumahnya. Jujur aku tidak yakin, kenapa? Karena aku melihat pagarnya dirantai dan digembok. Lalu ada barang barang didepan pintu rumah. Dan ada sebuah tulisan didepan pintu, bahwa rumah ini tengah dijual.
.
.
.
.
"Untuk sementara kau bisa tidur disini. Aku akan menelepon kurir barang agar memindahkan semua barang barangmu. Arra?" Junmyeon Hyung mengusap kepala Yixing Noona yang masih terduduk lemas di sofa.
Biar aku jelaskan. Yixing Noona resmi bercerai dengan suaminya. Dan telepon dari suaminya kemarin merupakan akhir dari rumah tangga mereka karena sang suami selingkuh dan sudah menikah lagi. Lalu ia menjual rumah yang selama ini ditempatinya bersama istrinya, alias Yixing Noona. Dan rumah itu dijual tanpa sepengetahuan Yixing Noona. Barang barang ang ada didepan pintu rumah itu adalah barang barang milik Yixing Noona. Kalau sudah begini, rasanya aku benar benar tidak tega. Melihat seorang wanita terduduk lemas sambil menangisi lelaki bodoh yang sudah meninggalkannya.
"Padahal ini genap keenam bulan pernikahan kami."
"Aku mengerti." Junmyeon Hyung duduk disebelahnya, sambil terus menghapus air matanya.
Jangan salah paham. Junmyeon Hyung memang selalu begitu pada wanita.
"Sehun, kau temani dia sebentar. Aku perlu mengurusi beberapa hal."
"Baik Hyung." Aku menurut saja, kasihan.
"Jangan menangis lagi Noona."
"Aku terpuruk Sehun-ah."
"Lupakan saja dia."
"Kau benar juga.."
"Apa Noona sudah memiliki buah hati dengannya?"
"Belum. Dia bahkan melupakan malam pertama kami. dia tidak pernah menyentuhku lebih dari mencium keningku saja Sehun."
Hmm.. ini sih sudah jelas. Si lelaki tidak mencintai Yixing Noona sedikitpun. Jahatnya..
"Sehun. Jam berapa sekarang?"
"tapat jam enam sore."
"Astaga! Maukah kau menggantikanku?" dia panik.
"Menggantikan apa?"
"Kau bisa sambil mengakrabkan diri dengannya. Emm.. aku punya janji dengan modelku. Makan malam, sekaligus ke pesta pernikahan."
"Kenapa harus aku? astaga Noona ini.."
"Keadaanku benar benar tidak baik, kumohon." Aku bisa melihat pucatnya wajah yixing Noona.
"Baik."
"Jemput dia pukul tujuh malam di apartemennya. Kau punya mobil?"
"Ya."
"baguslah. Sekarang mandilah dan kenakan setelan rapimu. ini nomor handphonenya."
.
.
.
.
.
Tapat pukul tujuh malam aku menekan bel apartemen si malaikat. Oke, sampai saat ini aku tidak tahu namanya. Hebat bukan?
Dia membuka pintun apartemennya dan terdiam saat melihat yang mendatanginya bukan Yixing Noona.
Jika ada pistol disekitar sini, mungkin aku akan menembakkan nya ke kepalaku sendiri setelah melihatnya didepan mataku.
"Kau.. kenapa.. disini?" ucapnya lemah. Astaga! Aku lupa tempo lalu mengatakan hal hal tajam padanya.
"Aku menggantikan Yixing Noona. Jadi bisa kita pergi sekarang?" aku menahan debaran hebat didadaku.
Dia masih mengenakan sweater off shoulder hitam rumahan, dengan rambut dan wajah yang sudah rapi dengan riasan sederhana.
"Kau bisa menunggu didalam." Dia canggung. Aku merasa sangat bersalah sekarang.
"Aku menunggu disini saja. Jadi cepatlah." Dia mengangguk lucu dan berlari pelan.
Saat dia benar benar pergi dari ujung mataku, barulah aku menarik nafas. Astaga, dia benar benar membuatku 'berdiri'. Bagaimana bisa dia membuka pintu dengan sweater off shoulder yang memperlihatkan leher, pundak dan belahan dadanya secara jelas. Jika dia membuatku berdiri untuk yang ketiga kalinya, aku bersumpah akan menyetubuhinya saat itu juga.
Aku masih menunggunya. Apartemennya mewah tapi tampak sepi. Pantas dia kelihatan pendiam dan kesepian. Dia hidup sendiri. Jadi wajar saja.
"Ayo pergi." Dia membuyarkan lamunanku.
"Ah.. ayo."
Dia mengenakan off shoulder dress berwarna hitam, dan rambutnya terurai. Rambutnya berwarna merah wine. Dan, tunggu! Kapan dia mewarnai rambutnya?! Seingatku di pesta itu rambutnya..hitam?
"Kenapa diam saja?"
"Apa kau sendirian?"
"Iya."
"Kau tidak takut?"
"Tentu saja takut."
"Hmm.."
"Ah, kau Sehun kan?"
"Iya." Aku dan dia menaiki lift.
"apa aku sudah memperkenalkan diri?"
"Belum."
Lift terbuka dan kami keluar dari sana. aku berjalan lebih cepat mendahuluinya. Saat sampai didepan mobil aku menoleh kebelakang, dia tertinggal jauh. Dia berjalan sangat perlahan sambil menunduk. Dia kelihatan takut padaku.
Aku tanpa berpikir panjang mendekat padanya. Meraih tangannya yang meremas gaun cantik hitamnya. Dia mengangkat kepalanya, saat kucium punggung tangan lembut itu.
"Jangan berwajah sedih seperti itu nona. Kau membuatku terus merasa bersalah. Jadi tersenyumlah." Aku memberikan senyum terbaikku sepanjang masa. Dan aku sudah menduga, dia tersenyum. Dan senyumnya melebihi wanita manapun. Lembut, tulus, cantik. Oke meskipun senyumnya indah, jangan lupakan bahwa dia model majalah dewasa.
.
.
.
.
.
Aku bisa melihat ada sesuatu yang mengganggunya dipesta ini. Setelah dia bertemu dengan pasangan pengantin. Dia kelihatan, membatin? Entahlah dia seperti muak berada disini.
"Kau baik?" aku merangkulnya perlahan.
Dia menyandarkan kepalanya pada dadaku. Shit! "Aku tidak yakin."
"Apa yang membuatmu tidak yakin?"
"Dia mantan kekasihku."
"pfft—"
"Kenapa kau tertawa? Jahat sekali.." dia memukul dadaku pelan, padahal dia pukul dengan keraspun aku tidak akan apa apa.
"Kau ditinggal menikah. Perih sekali kisah cintamu."
"Kau mengejekku, padahal aku belum memperkenalkan diriku padamu."
"Kalau begitu , siapa namamu?"
Dia berdiri didepanku dan mengulurkan tangannya. "Xi Lu Han."
"Kau orang tiongkok?"
"Yap." Dia tersenyum lucu.
"Sebenarnya banyak hal yang ingin kubicarakan padamu. Tapi, ini cukup privasi."
"Kita bisa mengobrol di mobil seusai pesta."
"Kenapa harus dimobil?"
"Kau tidak mau?" Dia menatapku lekat. Dalam detik ke dua puluh aku bisa kejang kejang.
"Maksudku, kenapa tidak di tempat yang lebih nyaman?"
Dia hanya mengedip ngedipkan matanya. tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
"Baik. Terserah kau saja." Ucapku frustasi, dan dia tersenyum.
"Ngomong ngomong.."
"hmm?" Aku menoleh padanya.
"Kau bilang kau menggantikan Yixing? Memang dia kemana?"
"Dia tidak enak badan."
"Bagaimana bisa kau mengenalnya?"
"Itu yang mau kubicarakan denganmu, sayang." Oke panggilan itu keluar begitu saja dari mulutku.
Dan dia merona hebat. manis sekali. "Apa kau selalu memanggil wanita seperti itu?" Tanyanya malu malu.
"Tidak. Hanya kau saja." Aku menatapnya dalam. Tanpa aku jelaskan, kallian sudah tahu itu..bohong.
Dia melangkah mendekat dan..memelukku. "aku malu." Ucapnya. Astagaaaaaaa bunuh aku sekaraang! Bunuh! Ini sama saja dengan mati perlahaan! Argh!
"Kau tidak biasa dipanggil seperti itu hmm?" Aku mengelus rambutnya. Lembut sekali, seperti sutera dan bulu domba.
"Tidak pernah." Dia menggeleng sambil membenamkan dirinya pada dadaku.
"Bahkan si Jonghyun itu?"
Dia mengangguk. "Dia kekasihku ketika zaman SMA."
"Pantas saja."
"Sehun.." dia memanggil namaku dengan lirih.
"Apa?"
"Bisa kita keluar dari tempat ini?"
Aku menuruti perkataannya. Melangkah keluar pesta sambil menggenggam tangannya. "Kau mau pulang?"
Dia mengangguk, masih dengan wajahnya yang merah muda.
"Apa sebegitu malunya kupanggil sayang?"
"Cukup!." Dia membekap mulutku dengan kedua tangannya.
.
.
.
.
Selama perjalanan pulang kupikir dia akan mendengarkan semua penjelasanku soal menjadi fotografernya. Tetapi jangankan mendengar, membuka mata saja tidak. Dia tertidur pulas sekali disebelahku. Sampai aku harus menunggu hampir satu jam di parkiran apartemennya. Aku tidak tega membangunkannya, tetapi sekarang sudah tidak ada pilihan lain. Aku membawanya ke dalam apartemen, dengan sedikit kriminal, mengambil kunci dari tasnya. Aku tak punya pilihan lain.
Setelah membaringkan tubuhnya, aku melepas sepatunya. Dan tentu saja aku tidak mau menyia nyiakan kesempatan. Sekedar melumat bibirnya dan meremas payudaranya kirasa itu cukup. Yeah selama sepuluh menit aku melalukannya dan dia tidak terbangun sama sekali, hebat juga tidurnya.
Aku meninggalkannh bersama sepucuk kertas berisi tulisan gombal untuknya, dan juga nomor handphoneku. Memintanya menghubunhiku besok. Sampai jumpa besok Luhanku.
.
.
.
.
Pagi itu aku meminum kopi hitam bersama Junmyeon Hyung di halaman rumahnya. Punggungku sakit, karena harus tidur di sofa kemarin. Junmyeon Hyung membiarkan yixing Noona menggunakan kamar tamu, yang seharusnya untukku, agar dia dapat beristirahat dengan baik.
"Kemana kau semalam?"
"Apa aku tidak berpamitan kemarin?"
"Kau hanya mengambil kunci mobil lalu pergi."
"Menggantikan si welas asih." Ucapku asal.
"Siapa yang kau sebut 'si welas asih'?"
"Tamu tidak diundang dirumahmu Hyung."
Junmyeon Hyung memukul kepalaku dengan koran yang ia gulung sedari tadi. "Dia lebih tua darimu, sopanlah!"
"Arra arra!" aku mengusap kepalaku.
"Menggantikannya untuk apa?"
"Pesta pernikahan."
"Oh."
Junmyeon Hyung orang yang elegan, intelek, serius dan membosankan. Tetapi dia tetap orang yang sangat kupercayai sejak dulu. Terlebih aku tidak dekat dengan kedua orang tuaku. Jadi dialah yang selama ini merawatku, bahkan membiayai kuliahku, dan memberiku modal saat ke Inggris. Dia pria mapan kaya raya, tetapi dia tidak pernah jatuh cinta pada wanita. Pada lelakipun tak pernah. Aku curiga, apa dia pernah dikebiri sehingga seolah olah tidak punya hawa nafsu pada lawan jenis? Entahlah.
"Sehun. Aku penasaran, bagaimana bisa kau bertemu Yixing?"
"Kami duduk bersebelahan di pesawat."
"Lalu? Hanya karena itu."
"Aku pindah ke Korea. Hyung tahu kan? Aku bekerja di majalah baru. Dan aku punya tugas khusus disini."
"tugas Khusus?" tanyanya santai.
"Aku mengurusi satu model utama. Dan Yixing Noona adalah managernya."
"Bukan Yixing yang menjadi modelnya?"
"Tentu saja bukan, dia cuma manager."
Junmyeon hyung menautkan kedua alisnya. "Kau tidak tahu seluk beluknya?"
"Tidak. Tidak penting."
Junmyeon Hyung tersenyum sambil memijat pelipisnya. "Yixing mantan model."
"MWO?!" aku menyemburkan kopi hitam yang sedari tadi berselancar didalam rongga mulutku.
"Ya. Aku mencarinya di internet. Dia mantan model pakaian dalam wanita."
"Astaga!"
"Saking terlalu cueknya kau sampai tidak tahu."
"Apa dia seksi?"
"Kau bisa mencarinya sendiri di Internet."
"Maksudku menurut hyung. Apa dia seksi?"
Aku tidak melihat ada yang aneh dengan pertanyaanku, tetapi Junmyeon Hyung hanya diam dengan wajahnya yang memerah, kemudian pergi sambil melemparkan gulungan koran padaku. Apa apaan ekspresinya tadi? So alim sekali!
Tidak lama setelah Junmyeon Hyung menghilang dari sampingku, aku mendapat sebuah telepon yang benar benar tidak mau kuangkat, Kyungsoo. ada angin apa pinguin itu menghubungiku? Karena dia tetap ngotot saat kutolak panggilan ke tiganya, akhirnya aku mengangkatnya juga.
"Kalau kau hanya mau marah marah atau mengomeliku, lebih baik kututup."
"Sehun, kami akan pulang ke seoul hari ini."
"Hmm.. begitu. Tidak penting."
Dan piip—teleponnya kututup. Setelah itu ia menghubungiku lagi, tapi tidak ku indahi. Lalu bergantian si hitam yang menghubungiku, karena ia sahabatku, jadi kuangkat.
"..."
"Hai bung. Kenapa diam?"
"Aku merasa bahwa telepon mu tidak akan penting."
"Ah! Kami pulang hari ini!"
"Sudah tahu."
"hehe.. kau bertemu dengan modelmu?"
"Ya. Lalu?"
"Boleh kutahu siapa dia?"
"Xi Lu Han."
"Apa? Xi?"
"Ya Xi Lu Han."
"Xi Lu siapa?"
"Xi Lu Han."
"Lu Han?"
Piiip—jengkel, jadi kututup teleponnya. Si hitam itu memang kalau sudah penasaran dengan wanita molek dan seksi akan seperti itu. Yeah, tipenya tinggi. Wanita seksi dan montok, jadi kurasa Kyungsoo sama sekali tidak punya harapan. Bukannya menjatuhkan, aku hanya berbicara..realita.
Oke, teror telepon itu berlanjut, kai menjadi peneror selanjutnya setelah Kyungsoo. saking kesalnya menekan 'tolak panggilan' aku menekannya terus menerus dan baru kusadari. Aku menolak panggilan dari Minseok noona dan nomor tidak dikenal.
Aku cepat cepat menelepon Minseok Noona, karena kalau tidak, aku dalam bahaya. Dia akan marah besar. Aku cukup lelah berada disekitar wanita dengan tempramen tinggi sepertinya. Dan tentu saja seperti Kyungsoo juga.
"Noona. Maaf tadi aku tidak sengaja menolak panggilanmu."
"Tidak masalah Hunnie. Aku hanya ingin memberimu info bahwa kita ada pertemuan besok malam."
"Pertemuan?"
"Ya, pekerjaan. Tim kita akan kedatangan orang baru."
"Hmm.. aku mengerti."
"Jadi usahakan, sebelum kami pulang. Kau sudah bertemu dengan modelmu dan mengatur jadwal dengannya."
"Baik Noona."
"Aku mengandalkanmu."
"Ah Noona, bisa sampaikan pada Kyungsoo dan Kai. Jangan hubungi aku dulu. Terima kasih."
Benar firasatku, penelepon yang kutolak sebelumnya adalah si malaikat. Ah maksudku Luhan. Dia mengirimiku pesan dan kami akan makan siang sekaligus membicarakan tentang pekerjaan kami. lebih tepatnya memberi tahu pekerjaanku.
.
.
.
.
Jika kalaian berfikir laki laki di usia dua puluh lima tahun sepertiku akan berpenampilan necis dan klimis saat bertemu wanita. Kalian, salah besar. Kami lebih menyukai pakaian yang terlihat seksi dimata wanita. Kaus oblong atau kemeja hitam. Dan poin utamanya, jangan luapakan jam tangan. Sebagian laki laki memilih seperti ini, salah satunya adalah aku dan Kai. Bahkan terkadang kami tidak memerlukan sesuatu yang dinamakan 'mandi'. Buang buang waktu. Tapi berhubung aku cinta kebersihan jadi aku selalu mandi sebelum pergi kemanapun. Baik mandi dengan busa sabun atau mandi dengan hanya air saja.
"Apa kau menunggu lama?" Luhan datang dengan sepatu high heels pinknya.
"Tidak juga. Ah maksudku, lumayan."
"Syukurlah." Ia duduk dihadapanku dengan kemeja pink kedodoran yang kancingnya sengaja dilepas hingga belahan dada, serta rok span hitam ketat selutut yang memiliki belahan disisi kanan dan kirinya. Oke dia membuatku 'berdiri' lagi.
Dia melepas maskernya, aku bisa melihat dia memakai choker hitam dengan berlian yang membentuk sebuah nama 'giraffe'. Dia membenarkan letak kacamatanya. "Jadi apa yang perlu kita bicarakan?"
"rambutmu berantakan." Ucapku dingin.
"Ah maaf aku lupa menyisirnya, jadi kugulung."
"Hmm.. terlihat seksi jika itu kau."
Dia menutup wajahnya dan aku tertawa kecil. Lihat kan bagaimana dia sudah jatuh dalam perangkapku. Kita lihat saja, sedikit lagi dia akan mendesah di ranjangku.
"Boleh kupesan Americano dan seloyang pizza?"
"Silahkan." Ucapku dingin. Oke, dari pengamatanku dia cuek dan apa adanya dihadapan pria. Dia bahkan mengaku bahwa dia tidak menyisir rambutnya. Dan sekarang dia memesan seloyang pizza disaaat aku tidak memesan apapun. Oke, aku lebih suka yang seperti ini.
Aku melihat dia bercengkrama dengan si pelayan dan pelayan pria itu memandang kebawah, ke dadanya, seperti dapat sentapan bagus. Setelah menyadri aku menatapnya dingin, si pelayan pergi dengan catatannya yang hampir terjatuh.
"Kau bsa mulai Sehun-ah."
"Baik. Kau tahu aku? maksudku pekerjaanku?"
Dia menggeleng. "Kau modelnya Yixing Noona kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau salah satu staff majalah + (plus) X?"
"Plus X? Majalah baru yang dikelola oleh Park Chanyeol? Jika itu maksudmu, maka jawabanku ya."
"Iya, aku salah satu model disana."
"Aku fotografermu."
Dia terbelalak, dan tak lama wajahnya merah padam. Persis sama dengan rambutnya. "Ji—jinjja?!"
"Ya, Yixing Noona mengatakan kau punya hak khusus."
"Ya, bisa aku bicarakan itu sekarang?"
"Tentu. Bicaralah."
"Pertama, aku memiliki fotogrfer khusus, dan itu kau. Kedua, kita akan melakukan semua sesi fotografi itu berdua. Hanya kau dan aku. kau sanggup?"
Aku memijat wajahku, pernahkah kalian melihat seorang fotografer bekerja sendirian? Jika belum pernah, maka kita sama. "Termasuk mengatur pencahayaan, sudut, efek dan lainnya?"
"Ya, semua hal saat pengambilan gambar. Apa kau sanggup? Jika tidak kau bisa mengundurkan diri."
"Dan aku tidak ingin kau berhenti atau mundur ditengah jalan. Aku berjanji akan mengejarmu sampai kemana pun karena sudah menghianatiku." Wajahnya berubah menjadi sangat sangat serius. Aku seperti sedang di eksekusi mati sekarang.
Baru aku sadari, ada yang lebih menyeramkan dari wanita maskulin berotot. Yeah, wanita manis pengancam. Lebih mengerikan.
"Aku sanggup."
"Oke, mendekatlah." Ucapnya, omong omong nadanya kembali ceria dan manis seperti sebelumnya.
Aku mencondongkan wajahku dan dia juga begitu. "Ketiga, aku ingin kau merahasiakan semua hal yang kau lihat dan semua hal yang kita bicarakan selama pengambilan gambar. Kau sanggup?"
"Aku bukan orang bermulut ember. Jadi tentu saja aku sanggup."
"Oke." Dia mendekatkan bibirnya pada wajahku. Jika aku membawa mistar, aku yakin jarak kita hanya lima senti.
"Dan keempat, kau tahu ini majalah apa?"
"tahu."
Dia mulai memelankan volume suaranya, dia berbisik. "jadi yang keempat adalah.. aku ingin kau memacu atau membantuku saat pengambilan gambar."
"Maksudmu?"
"Membuatku Bergairah, Horny. Menyetuhku.."
"Kau tidak masalah dengan itu?"
"Tidak masalah, jika itu kau. Karena kau orang yang sudah dipercaya olehku dan Yixing."
Aku meneguk ludah. "Baik, aku siap. Tapi kau yang harus bersiap. Karena aku tidak yakin hanya menyentuhmu saja." Bisikku.
"Aku menantikannya. Oh-Se-Hun." Ucapnya dengan nada lembut yang merdu, dan Dia menggigit bibirnya saat selesai mengeja namaku. Oh sial! Aku benar benar ingin merasakan bibir itu lagi!
"Apa ada lagi?"
"Ya. Kau harus merahasiakan semua hal tentangku pada orang2 diluar kru majalah."
"Yep, itu mudah."
"Dan yang terakhir..." Dia memundurkan wajahnya, dan nada bicaranya kembali ke titik normal.
Si pelayan mesum itu datang kembali membawakan pesanan kami, lebih tepatnya pesanan Luhan. Dan saat itu aku benar benar tidak bisa mengganggu acara makannya. Dan aku tak tahu apa kelanjutan dari perkataannya. Oke, biarkan aku mengutukmu wahai pelayan mesum!
.
.
.
.
.
"Perlu ku antar kau pulang?" Tanyaku setelah ia menyesap minumannya sambil berjalan keluar dari kafe.
"Aku membawa mobil. Meskipun aku tidak terlalu baik mengendarainya."
"Wow. Kau wanita mandiri yang hebat."
"Terima kasih.." dia tersipu.
"Aku senang bisa bekerja sama denganmu. Aku harap kau tidak mengecewakanku Tuan Oh."
"Yeah aku harap juga begitu."
"Kudengar ada tim dari Inggris. Apa itu kau?"
"Ya."
"Daebak. Apa kau sudah punya tempat tinggal di Seoul?"
"Belum."
"Kalau begitu kau bisa tinggal di—"
"Di apartemenmu?"
"Kau menginginkannya?"
"Tidak juga, mungkin justru kau yang menginginkannya." Aku tersenyum miring sambil menaikkan sebelah alisku.
"Jika kau mau, aku tidak keberatan." Wow, dia membuka diri secara cuma cuma padaku.
"Aku hanya bercanda. Wanita mana yang nyaman tinggal serumah dengan seorang pria yang bahkan tak memiliki hubungan apapun dengannya. Aku benar kan?"
"Ya. Kurasa." Dia tersenyum singkat.
"Aku ada janji setelah ini. Jadi, selamat sore Sehun." Dia berjingkit seranya memberi sebuah kecupan manis dipipiku, dan dia kembali memerah.
"Aku bisa menghubungimu kapanpun?"
"Kapanpun." Balasku.
"Gomawo Sehun-ah." Dia melambaikan tangannya padaku. Dan kami berpisah.
.
.
.
.
.
Aku kembali ke rumah Junmyeon Hyung sore itu. jujur aku terlalu gila memikirkan semua hal soal pekerjaan itu. Disana aku melihat Yixing Noona dan Junmyeon Hyung sedang bercengkrama berdua. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas mereka terlihat bahagia. hanya itu yang bisa kutafsir dari nada bicara mereka. Sisanya aku tidak peduli.
Aku meminjam kamar Junmyeon Hyung untuk sekedar berbaring. Untungnya ia merasa tidak masalah dengan itu.
Baru saja sampai rumah, Minseok noona sudah menghubungiku lagi. Aku dengan lemas mengangkatnya.
"Sehunnie, kami akan berangkat sekitar pukul sebelas malam dan sampai disana tengah malam. dan jadwal pertemuan dengan anggota baru itu digeser menjadi besok siang."
"So?"
"Kau sudah menemui modelmu?"
"Sudah. Jadi berhenti meneleponku. Aku lelah Noona.."
"Kalau begitu baiklah. Aku harap kau tidak mundur apapun yang terjadi. Jangan membuatku malu, arraseo?!"
Piip-sambungan terputus secara sepihak.
Xi Lu Han. Aku berkali kali memikirkan namanya, dan terpesat dipikiranku. Kenapa tidak kucari tahu soalnya di Internet? Dia model terkenal selama beberapa tahun terakhir bukan? Jadi pasti dia dapat kutemukan dwngan mudah di sana.
Ada telepon masuk saat aku akan mengetik namanya di tombol pencarian. Telepon dari Luhan. Pas sekali, aku ingin mencari tahu soal dirinya dan dia menghubungiku di saat itu juga.
"Sehun ah. Aku lupa menyampaikan sesuatu padamu."
"Sebelum itu boleh kutanya beberapa hal?"
"Ah tentu, kau bisa mulai duluan."
Hmm, wanita baik hati. "Apa sebelumnya kau model majalah dewasa juga?"
"Tentu saja bukan. Ini yang pertama bagiku.. aah kenapa aku jadi gugup lagi?"
"Untuk apa gugup? bukankah itu bagus? Aku menjadi meorang pertama yang memotretmu dalam keadaan.."
"..naked."
"Sehun, apa sejauh itu kau membayangkan majalah dewasa?"
"tentu saja. Kau pikir aku laki laki macam apa yang tidak tahu rupa dari majalah seperti itu. Yeah setidaknya memang beberapa bagian tertutup di majalah, tapi tidak didepan mataku."
"Kurasa.. aku memilih fotografer yang salah."
"Karena aku mesum?"
"Sayangnya, iya. Ah, ottokae? Aku tidak yakin bisa melakukannya dengan baik." Dari nada bicaranya aku tahu dia sedang malu setengah mati. Argh! Baru kali ini aku berhadapan dengan wanita manis dan lemah lembut sepertinya.
"Aku tidak akan se liar itu jika memang kau tidak menginginkannya. Jadi tenanglah Luhan."
"Apa aku bisa memegang janjimu?"
"Tentu saja, jadi giliranmu. Katakan apa yang lupa kau sampaikan tadi?"
"Ah ini yang kelima atau yang terakhir."
"Ya?"
"Aku ingin kau belajara mengurus anak."
"Baik... apa?! eh tunggu dulu?! Mengurus apa?!"
"Aku ingin kau belajar mengurus anak."
"Untuk apa?! astaga! Apa kau sudah menikah?!"
"Tentu saja belum! Aku bahkan tidak pernah mulus soal percintaan."
"Lantas untuk apa? kau lajang tetapi menmintaku mengurus anak?!"
"Aku hanya ingin kau belajar soal cara cara mengurus anak Sehun, bukan berarti aku memintamu mengurus anak."
ITU SAMA SAJAAAAAA-!
"Jadi.. kututup ya, selamat beristirahat Sehun ah~."
Piip—Oke, aku menarik nafas untuk menetralkan pikiranku. Handphoneku kehabisan baterai. Jadi aku tidak bisa mencari tahu soal Luhan. Dan aku terlalu malas bertanya pada Yixing Noona, karena aku tahu. Dia akan menceritakan banyak hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang kutanyakan. Dia agak bodoh menurutku, mungkin lebih tepatnya kikuk dan lemot.
Sebenarnya pertanyaanku sudah terjawab awalnya. Tapi sekarang timbul pertanyaan lain. Untuk apa dia yang masih muda, lajang dan ayolah siapa saja tahu kalau dia masih berusia dua puluh satu tahun! Wajahnya saja seperti bayi! Dan sekarang itu memintaku untuk belajar mengurus anak?! Oh ayolah!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue
.
.
.
.
.
.
.
.
Bacotan Pinku
Btw.. GUE GANTI NAMAAAA HAHAHAHAHA. Karena aku ganti nama dan aku juga update profil jadi silahkan baca profilku dulu sebelum mereview. Wkwkwk karena disana sudah jelas, maka jangan panggil aku author aataou thor ya.. kesannya kita ngga deket gitu.. :'''( hiks..
.
Aku mabok sama lagu Monster kkkk. Dan sempet terpesat untuk bikin ff dengan tema monster. Tapi aku sadar ff aku banyak yang belum kelar jadi aku gaakan bikin ff baru dulu. Tapi ada ff yang mau aku hapus dan aku ganti dengan ff lain. Hehehe.
.
.
.
.
.
.
.
Oke saatnya Balas Review :
.
Aku kaget review sampe 33 satu chapter :'D the power of HHS deh kayaknya kkkk
.
.
Keziaf , cici fu, nisaramaidah28, Seravin509, Hyebinbaekyeolshipper, Guest, OhLu , xi serin , Sehunsdeer , misslah , OhLulu , yehethun, HHS Hyuuga L: sudah di next yaa :*****
LisnaOhLu120 , Selenia Oh , Rly. , yayas : kkkk ayo tebak siapa ortu Zhuyi kkkk.
fuckyeahSeKaiYeol : Karena Ziyu itu anak hunhan. Aku ga rela kalo pake Ziyu tapi papanya bukan sehun :''(
fikaa194 : AMIIINN :"")
jumarohfauziyah : wkwkwk ayo coba tebak lagii kkkk
Juna Oh : The power of Chanyeol, cewe di duain ato dilimain selama lakinya si canyeol gue rasa no problem :'')
Agassi21 : kkkkk ntar pasti nayak adengan **** pas lagi potograpi ;)
Tamimei : Zhuyinya nyebelin ya kkkk
Kimmuth : Hahahaha bener banget :D
AyamnyaSehun : halo ayamnya sehun kkkkk. Salam kenal jugaaa. Pastinya Luhan-Zhuyi ada hubungan sama Kris dong~. Aku juga seneng kamu reviewnya panjangg, bahagia aku :''')
ChanBMine : wkwkwk iya ya ga hoki banget
noVi : aa terima kasih kkk. Sengaja pake sudut pandang sehun biar ringan bahasanya kkkk. Ayo tebak siapa ortu Zhuyi.
Chenma : PASTI DILANJUT DONGGS. Kamu memberi aku ide kkkk kayaknya seru kalo ot12 ada di satu ruang lingkup kkkkkk
.
.
.
.
.
Sampai ketemu di chapter berikutnyaaa pai paiiii.
