Puppy Mochi Baekhyunee
Cast : Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Other : Luhan,Kyungsoo
Lay, Jongdae
E )(O
.
.
.
.
Baekhyun membereskan buku pelajarannya, dia melihat kesekeliling ruangan dan hanya terdapat dirinya sendiri. Hari menjelang sore dan sekolah mulai sepi namja itu bergidik ketika kaki mungilnya akan melangkah keluar, namun terhenti pada baris ketika susunan bangku kelasnya. Namja mungil itu dapat mendengar bunyi sepatu yang berjalan pelan ke ruang kelasnya dan semakin lama semakin mendekat. Baekhyun menelan ludahnya kasar dia mengeratkan pegangangannya pada ransel yang dia bawa pada punggungnya.
" clek,"
Seketika keringat dingin menjalar pada wajahnya yang tampak pucat pasi, tubuhnya gemetar dan kakinya melemas hingga membuatnya hampir terjatuh ke lantai jika saja dia tidak berpengangan pada ujung meja.
" kau belum pulang." Suara serak itu menggema dengan jelas di seluruh ruangan, hingga membuat telinga kecil baekhyun berdengung. Tapi yang namja mungil itu lakukan hanya diam dengan seribu macam doa yang di panjatkan ke pada Tuhan.
Kaki jenjang itu melangkah dengan pelan dan teratur untuk menyambangi seseorang yang sudah berjalan mundur, seringaiannya benar membuat siapa saja akan mati berdiri. Tidak terkecuali namja kecil itu yang sudah menahan nafasnya kala jarak mereka hanya tiga langkah.
" a a aku akan p p pulang Ssaem." Dengan terbata baekhyun berusaha menahan perasaan gugupnya.
Baekhyun ingin menangis saat itu juga ketika mata Guru Park menatapnya dengan penuh intimidasi dan dingin, seringaiannya bahkan menambahkan aura sangat menakutkan.
" kenapa terburu-buru ini masih sore." Chanyeol berkata dengan bersedekap dada, matanya mulai meneliti sang murid dari ujung rambut ke ujung kaki. Kemudian berjalan lebih mendekatkan diri hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa cm saja.
" kau sangat cantik." Chanyeol berkata dengan sangat seduktif di telinga namja mungil itu, membuat namja mungil itu bergetar dengan hebat dan itu membuat chanyeol semakin bersemangat.
" Ssaem a a aku mau p p pulang." Suara baekhyun terdengar lirih dan bergetar, rasanya dia ingin lari tapi tubuhnya sangat lemas tidak mampu hanya untuk melangkahkan kaki. Namja itu hanya bisa menundukkan kepalanya lebih dalam, tapi chanyeol bukan merasa kasihan dia malah semakin berhasrat untuk namja mungil satu ini.
Chanyeol mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku blazer yang dia kenakan, membuka pisau itu dan warna putih tajam terlihat dari mata pisau itu. Dia mengangkat dagu namja mungil itu menggunakan pisau.
Saat matanya menangkap benda mengkilap yang dipegang oleh gurunya, air mata sudah jatuh menggenang di pipinya. Dia berfikir apakah Park Ssaem akan membunuhnya sebentar lagi.
" a a ku ingin p p pulang." Baekhyun menangis terisak dengan matanya yang dia tutup tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
" Ssst jangan menangis, kau membuat ku semakin bergairah sayang." Chanyeol berujar sembari pisau itu membelai ke sisi kiri pipi chubby namja mungil itu dan seketika darah segar mengalir disana.
" ak sakit Ssaem." Dirinya meringis ketika pisau tajam itu mengiris kulitnya dan menghasilkan darah merah yang pekat, Baekhyun merasa saat memejamkan mata lidah dingin menyesap mata kanannya lalu turun menuju bekas luka dan menjilat darah itu.
Baekhyun merasa sakit dan perih dia berusaha mengumpulkan tenaganya dan membuat keberanian dalam dirinya, dengan sekuat tenaga dia mendorong dada gurunya hingga membuat chanyeol terjengkang ke belakang.
Kesempatan itu baekhyun buat untuk lari,tapi belum sampai dia melangkahi Ssamnya, sebuah tangan sudah menjeggal kakinya hingga baekhyun juga terjatuh ke lantai.
" Andew Andew Ssaem jangan bunuh aku." Baekhyun berteriak sambil berusaha melepaskan dirinya dari cengkaraman tangan kuat itu.
" Andewwwwwww."
.
.
.
.
.
E)(O
.
.
.
.
" Baekki,kau kenapa." Eommanya berlari dari dapur kala mendengar teriakan nyaring sang putra.
" Huaaaa huaaa eomma baekki tidak mau sekolah disana lagi." Baekhyun namja mungil itu berteriak dengan kencang sambil memeluk emmanya.
Nyonya Byun hanya bingung mengapa tiba-tiba putranya berkata seperti itu, dengan rasa kasih sayangnya nyonya byun mengelus surai pink sang putra.
" ada apa heum ceritakan pada eomma."
Baekhyun hanya terisak dengan wajah yang sangat menggemaskan "di sana ada psykopat gila eomma."
Nyonya byun menjatuhkan rahangnya saat alasan anaknya keluar, dan membuat wanita paruh baya itu menghela nafasnya pelan.
" Itu sebabnya eomma melarang mu terlalu banyak menonton film tentang psykopat." Nyonya byun melepaskan dirinya lalu berdiri sambil berkacak pinggang sambil mengarahkan spatula ke baekhyun.
" SEKARANG BERHENTI BERKHAYAL DAN CEPAT MANDI KAU BISA TERLAMBAT BAEKKI." Suara nyonya byun langsung mengelepar sampai ke ujung jalan rumah mereka lalu pergi dengan banyak komat-kamit di mulutnya yang halus.
Selesai dengan kegiatannya baekhyun beranjak dari kamar dengan pakaian rapi dan ransel di punggungnya, dia berjalan malas menuruni tangga. Saat mata sipitnya melihat sosok itu baekhyun kembali lagi ke kamarnya dia mencari-cari sesuatu. Saat sudah menemukan obat tetes mata baekhyun langsung memakainya dan langsung berlari lagi untuk menghampiri sosok itu.
" Lay hyunggggg." Namja itu langsung melompat masuk ke dalam dekapan seorang lelaki dewasa yang tidak lain adalah hyungnya sendiri.
Lay yang melihat itu dengan singap berdiri dari tempat duduknya langsung menangkap adik kecil kesayangannya.
" Hai kenapa menangis baby." Lay berujar sambil membawa tubuh itu duduk bersamanya di meja makan.
Baekhyun mulai mengeluarkan jurus acting yang selalu dia pelajari untuk merayu hyungnya, karena baekhyun tahu hyungnya selalu menuruti semua kemauannya.
" Hiks hiks hyung baekki tidak mau sekolah disana lagi." Namja itu memeluk erat leher hyungnya.
Lay mengerutkan dahinya bingung lalu dia mengarahkan pandangannya kepada eommanya, seakan berbicara lewat telepati antara anak dan ibu lay hanya tekekeh gemas melihat adiknya satu ini.
"Sekarang ceritakan kenapa baekki tidak ingin sekolah disana."
Baekhyun mengarahkan pandangannya ke lay dan dengan semangat dia akan menceritakannya dan tentu saja dengan bumbu-bumbu untuk mendramatisir suasana.
"hyung disana ada guru psyko hyung, dia bahkan pernah membunuh anak anjing puppy." Namja mungil itu berbicara dengan serius seakan dirinyalah yang melihat pembunuhan itu.
Lay tidak mampu untuk tidak tertawa tapi dia menahannya karena lay menghargai usaha keras adiknya itu, bagaimana pun juga baekhyun bekerja keras agar terlihat meyakinkan dengan wajah yang menggemaskan.
" memang baekki lihat." Lay bertanya sambil mengelus punggung adiknya.
Tapi baekhyun menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya dangan sangat imut, hingga membuat lay jadi gemas dibuatnya.
" jadi mengapa baekki mengatakan itu." Dengan sabar dia mendengarkan apa yang akan di katakana oleh adik tercintanya, lay hanya bisa tertawa gemas bagaimana baekki bercerita dengan gaya yang sangat dibuat-buat supaya dirinya dikasihani.
" Hyung, pindahkan baekki kesekolah lain saja ne." Baekhyun mengusakkan wajahnya ke ceruk leher lay dengan manja.
Tapi lay hanya menggeleng dan dengan pelan dia mengangkat baekhyun dan menduduknya di kursi sebelahnya.
" tidak ada psyko di sana sayang, sekarang makan dan hyung akan mengantarkan mu kesekolah okay."
Pupus sudah harapan baekhyun jika hyungnya berbicara dengan tegas tapi lembut seperti itu, dia hanya mengasihani nasibnya yang mungkin akan jadi santapan psyko gila guru PARK CHANYEOL.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun sudah sampai di kelasnya saat ini, itu juga awalnya dia menolak untuk masuk ke sana namun dengan jurus rayuan pulau kelapa hyungnya dan di janjikan akan di belikan ice cream Strawberry yang besar akhirnya baekhyun luluh juga.
" Selamat pagi baekki." Dari bangkunya namja mungil itu melihat kyungsoo menyapa dengan senyuman hati yang sangat indah.
Dengan langkah gontai baekhyun berjalan menuju bangkunya " pagi kyungie."
Dengan malas baekhyun sudah mengeluarkan buku nya, dia menatap horror bukunya saat ini 'Matematika'. Jika dulu matematika adalah hal yang paling menyenangkan bagi dirinya, tapi kini itu adalah hal yang paling menakutkan. Pada bukunya saja dia takut apalagi pada manusianya kirim saja baekki ke hawai.
Baekhyun hanya duduk sambil mengamati buku tebal itu dengan tangan terkepal dia meninju-ninju buku itu seakan buku itu adalah guru park. Hal itu membuat kyungsoo menatapnya melongo dengan mata bulatnya.
" hiyak kenapa bukunya kau pukuli." Kyungsoo mengambil buku itu dan memeluknya di depan dadanya.
" Maafkan baekki ya buku." Dengan sayang kyungsoo mengelus bukunya.
" Yak kembalikan, akan ku bunuh buku itu sekalian dengan gurunya." Dan terjadilah acara tarik-menarik antara kyungsoo dan baekhyun membuat seluruh kelas menggeleng kepalanya melihat tingkah kedua namja mungil itu.
Hingga mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka menjadi tontonan sepasang mata yang sudah berdiri di depan kelas, melihat itu dari bangku lain luhan sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" ekhmmm." Suara baritone menghentikan pertengkaran mereka, dengan cara slow motion kepala namja itu bergerak mengarah kepada lelaki yang sudah berdiri tegak di depan sana.
Kedua namja itu meneguk ludahnya dengan kasar kala mata setajam elang menatap mereka, dengan pelan dan pasti lelaki itu berjalan menghampiri mereka.
" jadi kau ingin membunuh ku." Dan kini suara itu sudah tersampai di telinga mereka dengan jarak yang begitu dekat, sehingga membuat baekhyun menatap lelaki itu dengan cara mendongak.
" a anya Ssaem hahah aku hanya bercanda, ya kan kyung." Dengan suara tawa yang dibuat namja mungil itu mencoba mencari alasan. Kyungsoo yang mengerti seakan menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat.
" kau ikut ke ruangan ku selesai pelajaran." Tanpa melihat raut ketakutan baekhyun guru itu membalik tubuhnya dan kembali ke tempat semula untuk memulai pelajarannya.
" Matilah aku Park Ssaem pasti akan membunuh ku." Dengan dramatis namja itu membenamkan wajahnya pada meja, luhan dan kyungsoo hanya menatap iba kepada namja baekhyun.
Tanpa baekhyun sadari perkataannya barusan di dengar oleh Guru Park, Guru itu menarik sudut bibirnya tipis tanpa di ketahui oleh siapa pun memberi seringaian yang sangat mematikan.
