"LOVE and RIVALRY"

.

.

.

"LOVE and RIVALRY CHAPTER 2"

Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : LOVE and RIVALRY © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc ^,^/

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.

.

.

.

"Story Of Witch"

.

.

.

Aku duduk di kasur cowok berambut Pirang yang sekarang berdiri di depanku dengan membawa dua gelas jus jeruk. Sedari tadi kalungku berkedip-kedip membuatku semakin bersemangat. Dia duduk di sebelahku, aku rasa tinggi badan kami berdua tak begitu berbeda. Dia berkulit putih dan berwajah tampan. Ya cukup untuk bersaing dengan Jin yang merupakan Idol di kota Tritora. Hihihi... Rasanya semua ini akan semakin menyenangkan. Aku tersenyum tanpa sekata-kata pun. Sepertinya tingkahku di perhatikan dengan seksama oleh cowok ini. Dia menatapku cukup lama. Memperhatikan pungungku dan sesekali menatap penasaran dan menebak siapa aku. Semua terlukis jelas di kedua matanya.

"Namaku Karin Hanazono. Aku berasal dari kota Tritora." Aku mengulurkan tanganku dan dia meraihnya. "Namaku Kazune Kujyo. Aku siswa kelas 2 Akane Gaoka. Senang mengenalmu." Kami berdua berjabat tangan dan saling mengumbar senyum. Sejujurnya dia terlihat tertarik dengan duniaku dan aku juga membutuhkannya.

"Hei Karin, bukannya kota Tritora itu adalah kota yang hilang?" Kazune menanyakan pertannyaan yang cukup mengejutkan. "Eh.. Kenapa kau berfikir seperti itu? Kota itu ada kok, aku dan temanku juga, banyak orang tinggal di sana. Kami semua hidup bahagia di sana." Aku mengambil gelas yang berada di sebelahku. Aku meminum Jus itu dan meletakkannya lagi.

"Kau tahu Kazune. Mungkin ini permintaan egoisku. Aku tahu ini pertama kalinya kita bertemu tapi aku ingin kau ikut bersamaku ke kota Tritora. Kami membutuhkan bantuanmu."

Tatapan matanya terlihat terkejut. "Karin, apa benar ini pertama kalinya kita bertemu?" Sontak pertanyaan itu membuatku menatapnya dalam sepersekian detik. "Eh..." Mata kami saling bertatapan seakan ada kerinduan di mata Kazune.

"Kau tahu alasan aku bertanya kenapa Kota Tritora adalah kota yang hilang? Itu karena 100 tahun yang lalu kota itu lenyap begitu saja. Tak menyisahkan apapun. Aku membacanya di sebuah buku tua di perpustakaan kota. Aku kira itu hanya sebuah dongeng, tapi saat kau menyebut nama itu aku mulai memahami ada hal yang aneh saat kota itu menghilang dan alasan kamu ada di sini, mungkin untuk tujuan dan alasan yang sama."

Perkataan cowok di sebelahku membuatku tersenyum. "Sepertinya aku tak perlu menjelaskan panjang lebar. Jadi apa kau bersedia ikut denganku?" Ku lihat dia mengangguk dan tersenyum kepadaku. "Tapi kau tahu, sebelum kita pergi sepertinya kita harus mencari seseorang yang tersesat hahaha... " Tawaku membutnya heran.

"Saat tiba di sana aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi sepertinya kau salah dalam satu hal. Aku rasa ini pertemuan pertama kita." Kazune tersenyum seakan tak mau memperdebatkan masalah ini. Malam ini aku tidur di ranjang Kazune. Dan dia tidur di sebelahku. Aku cukup kehilangan banyak tenaga dan aku telelap begitu saja.

.

.

.

-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-

.

.

.

KAZUNE P.O.V

Malam ini bulan terlihat begitu menawan. Saat kulihat gadis berkuncir dua itu terbang dan menghampiriku, itu membuatku cukup terkejut, tapi saat dia mulai berkata asal usulnya aku merasa kalau ini adalah takdirku. Selama ini aku selalu menunggu saat ini tiba. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan Karin. Dulu... Duluuuu sekali. Aku merasa aku pernah bertemu dengannya, dalam ingata sempit dan terdalam di otakku. Memori itu semakin naik ke permukaaan seakan dia ingin bangkit dan terkenang.

Gadis ini, adalah sosok yang selalu aku tunggu. Kunci dari menghilangnya sebuah kota. Kota yang bernama "Tritora" negeri para penyihir, kota yang tak berbekas. Aku dan Karin, kurasa saling mencari keberadaan masing-masing. Saat dia berkata "Ketemu" kurasa saat itulah aku mulai berada di takdirku yang seharusnya.

Aku ragu untuk bilang kepadanya. Kota itu bukanlah kota yang tak meninggalkan apapun, dia meninggalkan sebuah kunci dan kunci itu ada padaku. Tapi, aku rasa dia sudah menyadarinya kalau aku pemegang kunci itu.

Ku lihat dia tertidur dengan lelapnya, hembusan nafasnya begitu teratur dan lembut. Dia melepas kedua ikat rambutnya. Terherai begitu saja. Aku mengelus lembut rambut coklat panjang nan halus. "Syukurlah kau bisa menemukanku." Aku mengecup dahi Karin dan menyusulnya ke alam mimpi.

END OF KAZUNE P.O.V

.

.

.

-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-

.

.

.

Pagi yang cerah menyambutku. Mata indah itu menatapku dengan senyum menawan yang terukir di wajahnya. Pagi ini aku dan Kazune akan memulai petualangan baru. Tapi sebelum petualangan seru kami di mulai, aku akan mencari Jin terlebih dahulu. Dengan sinyal ponselnya kurasa aku akan bisa menemukannya dengan cepat.

Aku dan Kazune berjalan mengelilingi jalanan kota Tokyo yang ramai. Pemandangan yang cukup menarik perhatianku dan membuatku berhenti dan mengagumi beberapa benda pernak pernik yang berada di beberapa toko yang berbeda. Kazune yang merasa kelakuanku membuang waktu berharga kami menyeretku ketempat tujuan kami. Sinyal yang kudapat dari ponsel Jin berada di sekitar rumah Kazune, dan Kazune bilang lokasinya adalah sekolahnya.

Tak aneh jika Jin menginap di sekolah Kazune, mungkin saat malam di sana tak ada penjaga dan dia bisa beristirahat di sana. Saat aku mencari Jin di sekolah Kazune aku melihat seorang gadis berwajah rupawan berlari menuju ruang olahraga, saat aku dan Kazune mengejarnya untuk mencari tau apa yang gadis itu lakukan. Cukup ane melihat seseorang berada di lingkungan sekolah saat musim libur musim panas seperti ini.

Saat memasuki gedung olahraga aku berteriak memanggil Jin, yang sedang menyantap makanannya. "Karin!" serunya saat menatapku. Dia meletakkan makannya dan berjalan menghampiriku. Gadis berambut pirang yang duduk di sebelah Jin berdiri dan ikut menghampiriku. "Eto~" gadis itu terlihat seperti tidak nyaman.

"Ah maafkan aku. Namaku Karin, aku temannya Jin." Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku pada si gadis. Gadis itu meraih tanganku dan dia bilang namanya Kazusa, nama yang manis sesuai dengan wajahnya yang menawan. "Aku sudah menemukannya, sebaiknya kita cepat kembali dan melanjutkan misi kita." Jin mengangguk dan melahap makanannya denga cepat. Jin menatap Kazusa dan berterima kasih atas semua bantuannya. Aku dan Jin memintanya merahasiakan kejadian ini kepada siapapun. Tapi di luar dugaan kami berdua, dia meminta ikut dengan kami ke Tritora.

Sepertinya dia tertarik dengan kota para penyihir, jadi aku dan Jin memutuskan membawa Kazune dan Kazusa dan akan meninggalkan Kazusa di rumahku kemudian melanjutkan misi kami. Kazusa setuju dengan saran kami, dia gadis yang baik. Sampai aku menyesali perbuatanku ini di akhir misi kami nantinya.

.

.

.

-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-

.

.

.

Aku membuka portal ke Tritora dan tak lama kemudian pemandangan sapu terbang yang melayang dengan bebasnya di angkasa membuat Kazusa dan Kazune terkesima. Kazune terbang bersamaku sedangkan Kazusa bersama Jin. Tanpa pikir Panjang kami berdua mengarah kerumahku. Kulihat Kazune menikmati hal yang baru pertama kali di lihatnya dengan seksama, Kazusa bergelantungan di tangan Jin saat dia melihat makhluk-makhluk yang tampak seperti monyet tapi dengan sayap hitam kelam. Mereka cukup jinak dan sering di jadikan peliharaan atau makanan untuk makhluk sihir yang lebih kuat. Kadang juga untuk ritual.

Saat kami semua sampai di kamarku, aku meletakkan peralatan sihirku dan dan mengisi ulang semua hal yang kami perlukan, mengistirahatkan sapu terbangku, dan menganti pakaianku. Kazusa dan Kazune duduk di sofa kamarku, menikmati secangkir teh herbal buatan Jin. Saat Jin melihatku kembali dari kamar mandi, dia memberikan gecangkir teh yang sama kepadaku. Kami semua menikmati waktu yang singkat ini dalam ruangan yang cukup minimalis. Saat Kazune mulai mengucapkan pertanyaannya semua kenyamanan ini berubah. "Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa tujuan kalian mencariku?" Aku dan Jin meletakkan minuman kami dan mulai membuka peta rahasia yang tersembunyi di balik laci mejaku.

Kazusa dan Kazune mendekat ke arahku dan Jin yang duduk di lantai. Aku melebarkan peta itu dengan hati-hati. Jin mengerakkan tangannya di atas peta dan keluarlah sebuah pemandangan yang cukup mencekam. Aku menunjukkan jariku di sebuah danau yang berwarnah hitam kelam. "Snow" seruku. Tujuan kita adalah danau Snow, apa yang kita cari ada di sana. Aku tak tau kalian berdua akan percaya atau tidak tapi sebentar lagi kota ini akan menghilang. Aku dan Jin mulai merasakan hal itu sejak setahun yang lalu, pada awalnya kota ini kota yang indah dan damai. Makhluk buas tersegel di hutan dan tak bisa menjangkau kota ini, tapi setahun yang lalu terdapat sebuah letusan yang sangat besar dan mengakibatkan dunia ini tak beraturan. Saat aku dan Jin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi kami berdua menemukan sebuah buku misterius di lantai bawah rumah ini.

Ayah Jin adalah seorang professor. Beliau meneliti tentang dunia ini bersama dengan ayahmu. Professor Kujyo. Kazune menatapku, saat kamu bilang mungkin ini bukan pertama kalinya kita bertemu mungkin dulu ayahmu pernah membawamu kemari. Di buku itu tertulis banyak hal, hanya saja di akhir halaman yang membahas tentang energi alternatife untuk menyelmatkan negeri ini hanya terdapat sebuah peta. Jadi aku dan Jin memutuskan kedunia manusia untuk menemui Kazune. Hanya saja buku yang professor Kujyo bawa tersimpan di danau Snow. Dan yang bisa membacanya hanyalah Manusia, buku itu di segel dan hanya Kazune yang bisa membukanya.

Tapi untuk sampai ke danau Snow akan membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Sejujurnya aku ingin Kazusa tetap tinggal di sini. Tempat itu terlalu berbahaya untuknya. "Sebaiknya kau tinggal di sini Kazusa." Jin menatapnya. Kazusa tersenyum dan mengangguk pelan. Mungkin dia ingin ikut hanya saja ini terlalu berbahaya untuknya.

Sebaiknya kamu menunggu di ruang bawah tanah, di sana cukup nyaman. Aku berjalan diikuti Jin, Kazune kemudian Kazusa. Aku membuka pintu yang tersembunyi di balik tembok kamar mandiku dan pemandangan ruang tamu yang tertata rapi menyambut kami. Sebuah tempat tidur king size terletak di pojok ruangan dan tumpukan buku-buku tebal tertata rapi di rak buku, di sebelahnya terdapat kamar mandi dan juga TV yang menyiarkan berita seorang penyihir yang lepas dari tahanannya.

"Kau bisa bersembunyi di sini sementar kami pergi, jika kau butuh teman tekan saja bola ini." Jin memberikan Kazusa sebuah bola berwarna biru dan menekannya tanpa ragu. Seorang gadis yang seusianya muncul dari dalam bola dan tersenyum. "Saat kau dalam bahaya kau cukup memegang jarinya dan dia akan mengirimkan sinyal SOS padaku. "Sejujurnya kami tidak tau apa yang akan menyambut kami dan siapa musuh kami. Hanya saya aku merasa semua ini terlalu berbahaya.

Perjalanan seperti apakah yang akan di lalui Karin dan teman-teman barunya?

See you next chapter….

Note : Review Chapter 1 akan di balas minggu depan. Thanks

.

.

.

Dorrr… :D

Hallo… how are you?

Akhirnya bisa balik kedunia FFN lagi hahaha…

Aku meninggalkan tempat ini cukup lama dan rasanya akun ini mulai berdebu…

Bebek balik karena udah kelar Kuliahnya … Jadi mari menikmati karya nista saya lagi hahaha xp

By © BEBEK L DARK EVIL

.

.

.

R

E

V

I

E

W