A/N :

Sebelumnya aku mau kasih tau dulu, ini kan fanfic Alternative Universe, jadi anggap aja wajar kalau semua cast terkesan OOC banget dari kenyataannya kkk~

Di sini umur Yesung 21 y.o, Siwon, Donghae sama Kyuhyun 25 y.o dan Kibum 17 y.o

Jadi siapa hyung-dongsaeng sudah jelas, kan? ^^

.


.

Tell Me A Lie

Pairing : Yewon

Genre : Romance, Hurt/comfort

Rate : T ( Akan berubah-ubah sesuai mood author) XD

Disclaimer : Ide cerita terinspirasi dari drama korea Nice Guy. Semua cast milik Tuhan, dan Yewon saling memiliki ^^

A Yewon Fanfiction © 2013 by Fairy_Siwoonie


~ HAPPY READING ~


Yesung menghela napas pelan seraya membuang pandangannya keluar jendela, mengabaikan Cho Kyuhyun yang tengah mengobati goresan kecil di pipinya. Kyuhyun terlihat sangat cemas ketika menyambutnya keluar dari ruangan Sang Appa tadi, seolah namja berkulit pucat itu sudah tahu apa yang terjadi bahkan sebelum ia sempat bercerita sedikit pun.

"Apa sakit?" Kyuhyun bertanya setelah selesai menempelkan plester di pipi kiri Yesung yang terkena serpihan kaca di ruang kerja Mr. Kim tadi.

"Anni," jawab Yesung masih tanpa menatap Kyuhyun.

Kyuhyun menghela napas, "Seharusnya kau tidak melakukan itu, Yesung-ah. Kau tau Tuan besar pasti akan marah,"

"Aku tidak peduli. Aku hanya berusaha menepati janjiku pada Umma,"

"Aku mengerti," sahut Kyuhyun seraya merapikan rambut Yesung yang bahkan sebenarnya sama sekali tidak terlihat berantakan.

"Tempat itu adalah satu-satunya kenangan yang masih tersisa. Apa tidak puas yeoja itu sudah membuang semua barang-barang milik Umma-ku?"

Kyuhyun meraih bahu Yesung, membawa namja yang empat tahun lebih muda darinya itu ke dalam pelukannya, meskipun sebenarnya cukup sulit karena posisi mereka sekarang sedang berada di dalam mobil. Ya, setidaknya hanya di saat seperti ini Yesung membiarkan ia memeluknya. Hanya di saat tak ada siapapun di sekitar mereka ia bisa melihat sosok Yesung yang sebenarnya, meskipun tetap saja, ia melihat masih ada yang disembunyikan di sana.

"Sshh.." Yesung mendesis pelan, membuat Kyuhyun yang menyadari sesuatu sontak langsung melepaskan pelukannya.

"Ah, mianhae. Aku lupa kalau punggungmu terluka. Apa masih sakit?" tanya Kyuhyun khawatir.

"Anni. Hanya sedikit perih saja,"

"Kau sudah memberitahu Tuan besar tentang ini?"

Yesung terkekeh pelan, "Untuk apa?"

"Tapi setidaknya Tuan besar harus tau, Yesung-ah. Kau tidak pernah memberitahunya setiap kali yeoja itu melukaimu,"

"Aku pernah, hyung. Dan kau tau apa yang aku dapatkan," Yesung tersenyum ambigu, tetapi bukan Cho Kyuhyun namanya jika ia tidak bisa membaca apa yang tersirat di dalam raut wajah namja manis di sampingnya itu.

Kyuhyun terdiam, menatap iba ke arah Yesung yang kini memejamkan kedua matanya.

"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak butuh dikasihani oleh siapapun," ujar Yesung masih tanpa membuka kedua matanya, membuat Kyuhyun langsung salah tingkah.

"Mi-mianhae," ucap Kyuhyun seraya mengubah posisinya dengan canggung.

Keduanya terdiam beberapa saat sebelum kemudian Kyuhyun kembali membuka suara.

"Tapi kau harus selalu berhati-hati, Yesung-ah. Kau tau dengan pasti Jung Soyeon itu seperti apa. Dia pasti tidak akan berhenti sampai di sini,"

Yesung tersenyum sinis, "Tidak masalah. Aku akan tetap menghadapinya,"

Kyuhyun tersenyum, "Aku akan selalu ada di belakangmu,"

Yesung tertawa pelan, "Bukankah kau memang dibayar untuk itu, Pengacara Cho?"

Kyuhyun kembali tersenyum, 'Bahkan tanpa dibayar pun aku akan tetap melakukannya,' gumamnya dalam hati.

"Huh~~ aku tidak mood untuk kuliah hari ini," ujar Yesung sambil melepaskan seat belt-nya.

"Kau mau kemana?" tanya Kyuhyun.

"Aku ingin mencari udara segar," jawab Yesung seraya membuka pintu mobilnya, "Jangan mengikutiku," lanjutnya lagi membuat Kyuhyun yang baru saja akan melepaskan seat belt-nya mengurungkan niatnya.

"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian, Yesung-ah,"

"Mendampingiku memang salah satu tugasmu, Kyuhyun-sshi, tetapi kau tidak dibayar untuk selalu mencampuri kehidupan pribadiku. Bukankah kau masih memiliki sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan?" ujar Yesung sebelum kemudian menutup pintu mobilnya, meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa mendesah pasrah di sana. Tuan mudanya itu memang benar-benar keras kepala.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Yesung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sembari memejamkan matanya sejenak, menikmati angin musim gugur yang mungkin hanya dalam hitungan hari tak akan ia rasakan lagi. Ia tersenyum samar seraya kembali membuka kedua matanya, menatap sebuah taman bunga yang cukup luas di hadapannya. Di samping taman bunga itu terdapat sebuah gedung mewah bergaya eropa dengan sungai buatan yang mengelilinginya.

'Bukankah tempat ini sangat indah, Sungie-ah? Appa membangun tempat ini spesial untuk Umma sebagai kado pernikahan kami. Suatu hari nanti kau juga harus menikah di sini. Dan jika nanti kau memiliki anak, mereka juga harus menikah di tempat, begitu seterusnya. Bukankah itu akan sangat menarik?'

'Umma benar-benar membosankan. Itu kuno sekali,'

Yesung tersenyum samar, "Kau tahu kita hampir kehilangan tempat ini, Umma? Aku bahkan mempertaruhkan posisiku hanya untuk melindungi tempat ini. Kau harus membayar mahal padaku,"

Yesung menggeleng pelan, entah dalam artian apa. Ia kemudian berbalik dan beranjak untuk meninggalkan tempat itu ketika tiba-tiba beberapa namja dengan pakaian serba hitam menghadangnya.

Awalnya Yesung tampak terkejut, namun tidak cukup lama karena seringaian khas itu segera menghiasi wajah manisnya.

"Apa yang kalian inginkan?" tanya Yesung santai, sama sekali tak menyiratkan ketakutan. Well, sekedar memberitahu, Yesung sudah cukup terbiasa dengan hal seperti ini.

"Ikut kami," ujar namja dengan postur tinggi yang berdiri tepat di depan Yesung.

Yesung tertawa renyah, "Kenapa aku harus melakukannya?"

"Hanya ikuti perintah kami jika kau tidak ingin terluka!"

"Berapa persen kau bisa menjamin aku tidak akan terluka kalau aku mengikuti kalian?" tanya Yesung masih dengan menampilkan seringaiannya.

Namja itu tampak melirik namja lain yang berdiri di sampingnya, memberikan kode yang sepertinya hanya mereka yang mengetahui apa artinya.

"Aku tahu siapa yang menyuruh kalian. Berapa dia membayar ka—argh!" Yesung mengerang ketika merasakan seseorang tiba-tiba memukul punggungnya dari belakang, membuat luka yang bahkan belum mengering di sana kembali terasa perih.

Yesung jatuh berlutut di depan ketiga namja tadi dengan kedua mata terpejam erat.

"Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk menjadi anak baik, namja manis?" ujar namja tadi yang kemudian langsung disambut gelak tawa dari temannya yang lain.

Yesung mengepalkan kedua tangannya, 'Aku tidak boleh lemah..' gumamnya dalam hati.

"Bawa dia!"

Dugh!

Yesung mengangkat kepalanya dengan gerakan cepat, membuatnya berbenturan dengan namja yang berdiri di depannya tadi. Dengan sisa kekuatannya serta rasa pening yang tiba-tiba mendera kepalanya, ia menendang namja yang berdiri di belakangnya kemudian berlari meninggalkan tempat itu.

"Yah berhenti kau!"

Yesung terus berlari dengan langkah tertatih. Ia mengumpat berkali-kali karena tak menemukan siapapun yang bisa ia mintai bantuan di sana. Shit! Ia tidak mungkin bisa terus berlari dengan kondisi seperti ini.

"Yah! Jangan lari!"

Suara itu terdengar semakin mendekat. Tanpa menoleh sedikit pun, Yesung mempercepat langkah kakinya hingga ia menemukan sebuah gang. Senyum di bibirnya langsung mengembang begitu melihat seorang namja tengah berjalan melalui gang tersebut.

Dengan napas terengah, Yesung mempercepat langkahnya menghampiri namja itu, "Aku mohon sembunyikan aku.." pintanya.

Namja itu terlihat sedikit melebarkan matanya dan menatapnya bingung, "Nuguya?"

"Aku mohon sembunyikan aku dari mereka. Aku tidak kuat berlari lagi.." ujar Yesung tanpa menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu.

Terdengar derap langkah kaki mendekat, membuat wajah Yesung semakin panik.

"Hey, apa kau—"

Yesung hanya bisa melebarkan matanya ketika tiba-tiba namja tadi menarik tubuhnya hingga mereka bertukar posisi. Belum sempat ia menghilangkan keterkejutannya, namja itu justru langsung mencium bibirnya membuat matanya terbelalak sempurna.

"Haiz! Dasar anak muda sekarang! Melakukan hal semacam itu di tempat seperti ini. Ayo kita cari namja itu lagi!" suara yang sempat terpotong tadi kembali berbicara sebelum kemudian Yesung mendengar derap langkah kaki menjauh meninggalkan tempat itu.

Yesung masih tidak bergeming. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup cepat, bahkan lebih kencang daripada saat ia panik ketika orang-orang tadi mengejarnya.

Namja tampan beriris obidian itu menarik wajahnya seraya menatap kesal ke arah Yesung yang masih terpaku, "Menyusahkan saja. Aku bahkan tidak mengenalmu," gerutunya sambil menyeka sudut bibirnya.

"Ka-kau?"

"Tidak perlu mengucapkan terima kasih," ujar namja itu seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana, melangkah pergi meninggalkan Yesung seperti tak pernah terjadi apa-apa.

"Di-dia menciumku?"

.

.

~ 예 원 ~

.

.

"Bukankah sudah aku katakan untuk tidak pergi sendirian? Sekarang kau lihat apa yang terjadi padamu, huh?" seru Kyuhyun seraya terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara Yesung yang duduk di sampingnya hanya membalasnya dengan tatapan jengah.

"Aku sudah bosan mendengar itu, Kyuhyun-sshi. Lagipula aku masih hidup, kan? Kau sangat berlebihan,"

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sendirian lagi," ujar Kyuhyun dengan nada final.

"Yah! Kau pikir kau siapa, huh? Aku bisa dengan mudah memecatmu, kau tau?" balas Yesung kesal. Kyuhyun memang selalu seperti ini, bersikap terlalu berlebihan pada sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak menganggapnya penting.

Raut wajah Kyuhyun sedikit berubah, seakan menyadari bahwa ia baru saja melakukan sebuah kesalahan. Yesung benar, memangnya ia siapa? Apa hak yang ia miliki untuk memutuskan hal seperti itu?

"Mianhamnida, aku hanya terlalu khawatir,"

Yesung tidak menjawab, ia beralih mengamati jalanan di sekelilingnya sebelum kemudian kembali menatap Kyuhyun tajam, "Jangan bilang kau akan membawaku ke rumah sakit!"

"Tentu saja aku harus membawamu ke rumah sakit. Kau terluka, Yesung-ya!"

"Kau tidak dengar tadi aku mengatakan aku ingin langsung pulang?!"

"Tapi—"

"Aku ingin pulang!" potong Yesung, "Kalau kau tidak mau mengantarku pulang, turunkan aku di sini, dan sebagai gantinya, antarkan surat pengunduran dirimu hari ini juga!"

Kyuhyun menghembuskan napas frustasi, benar-benar tak habis pikir dengan kekeraskepalaan Tuan mudanya yang semakin menjadi itu.

"Arraseo,"

.

.

.

.

"Jangan ikut masuk ke dalam rumah!" ujar Yesung pada Kyuhyun sebelum kemudian namja manis itu melangkahkan kakinya masih dengan sedikit tertatih masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kyuhyun yang lagi-lagi hanya bisa mendesah pasrah.

Yesung menghentikan langkahnya di ruang tamu ketika mendapati Mr. Kim dan Jung Soyeon –atau mungkin kita bisa menyebutnya dengan Mrs. Kim—terlihat menunggunya di sana.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Mr. Kim.

Yesung menyeringai tipis, "Sebaiknya Appa tanyakan saja pada yeoja di samping Appa itu, dia pasti lebih tahu apa yang terjadi padaku," jawabnya seraya melirik Mrs. Kim yang berdiri di samping Mr. Kim.

"Jaga ucapanmu, Kim Yesung!" seru Mr. Kim.

Yesung terkekeh pelan, "Lalu untuk apa Appa bertanya kalau tidak mau mendengar jawabanku? Kalau Appa hanya ingin menunjukkan kepedulian Appa sebagai seorang ayah, lebih baik tidak usah. Aku tidak membutuhkannya,"

Mr. Kim menghampiri Yesung dengan langkah gusar dan langsung memberikan sebuah tamparan yang cukup keras di pipi kiri Yesung, membuat namja manis itu jatuh terjerembab ke lantai.

Yesung mengernyit, kembali merasakan perih ketika punggungnya menghantam sofa di belakangnya dengan cukup keras.

"Yesung!" Pekik Mrs. Kim kaget. Ia segera berlari menghampiri Yesung dan mencoba membantunya berdiri, namun namja manis itu justru menepis tangannya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku! Kau tidak perlu berpura-pura baik padaku, Jung Soyeon-sshi!"

"Siapa yang mengajarimu untuk kurang ajar seperti ini, Kim Yesung?!" Seru Mr. Kim marah.

"Sudahlah, yeobo, jangan terlalu keras pada Yesung. Apa kau tidak melihat dia sedang terluka?" ujar Mrs. Kim mencoba menenangkan Mr. Kim.

"Kau benar-benar menjijikkan, Jung Soyeon," gumam Yesung sinis, namun sayang Mr. dan Mrs. Kim masih dapat mendengarnya.

Plak!

Mr. Kim kembali menampar Yesung, membuat pipi kiri namja manis itu terlihat memerah. Yesung memejamkan matanya sejenak. Mendapatkan tamparan sekeras itu membuat kepalanya terasa berputar.

Para pelayan yang melihat kejadian itu hanya bisa menatap Yesung iba, mereka tidak mungkin berani ikut campur dalam keadaan seperti ini.

"Tinggalkan dia sendiri! Jangan ada yang berani membantunya! Biarkan dia menyesali kesalahannya!" seru Mr. Kim pada para pelayan itu, yang tentu saja hanya dibalas dengan anggukan patuh dari mereka.

Mr. Kim kemudian menarik tangan Mrs. Kim dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu, menyisakan Yesung yang masih tergeletak di lantai.

Yesung tersenyum perih. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, ia berusaha bangkit. Kembali mengernyit saat merasakan sakit mendera beberapa bagian tubuhnya.

"Hyung!"

Yesung menoleh, menemukan Kibum yang sepertinya baru pulang dari sekolah menatapnya dengan mata melebar.

"A-apa yang terjadi padamu?"

"Bukan urusanmu," jawab Yesung dingin seraya melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

"Hyung!"

Kibum langsung berlari menghampiri Yesung ketika melihat namja yang lebih tua darinya itu nyaris terjatuh, beruntung ia dengan cepat dapat menangkapnya.

"Jangan sentuh aku!" seru Yesung seraya mendorong tubuh Kibum, membuat dirinya sendiri hampir kembali terjatuh.

"Kita harus ke rumah sakit, hyung! Kau terluka!"

Yesung tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan kembali melangkah menuju kamarnya. Air mata yang sejak tadi terlihat menggenang di kedua sudut matanya kini mulai berjatuhan membasahi pipinya.

Kibum kembali melebarkan matanya begitu melihat Yesung menghentikan langkahnya. Namja manis itu terlihat menahan sakit dengan mencengkeram dada sebelah kirinya.

Bruk!

"Yesung hyung!"

Kibum mengambil langkah panjang menghampiri Yesung yang sudah tersungkur ke lantai. Dengan wajah cemas ia mengangkat kepala Yesung dan mendekapnya di lengannya.

"H-hyung.."

Raut wajah Kibum tampak semakin panik melihat Yesung mulai kesulitan bernapas. Air mata namja manis itu juga terlihat terus mengalir membasahi kedua pipinya yang semakin terlihat pucat.

"Yah! Apa yang kalian lakukan di sana?! Cepat panggil ambulan!" teriak Kibum membuat para pelayan yang berdiri mengelilinginya langsung berhamburan mengikuti perintah Sang tuan muda.

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Yesung membuka kedua matanya dengan perlahan, disambut oleh bias cahaya yang menyusup masuk melalui kisi-kisi jendela. Aroma khas rumah sakit langsung menyambut indra penciumannya begitu ia mendapatkan seluruh kesadarannya. Caramel-nya berputar mengamati sekeliling ruangan tempat ia berada, tak ada siapapun di sana selain dirinya sendiri.

Yesung kembali memejamkan matanya, merasakan dadanya yang berdenyut menyesakkan. Ingatannya masih cukup tajam untuk sekedar mereka ulang apa yang membawanya ke tempat itu.

"Yesung-ah?"

Yesung menoleh mendengar seseorang memanggil namanya, mendapati Kyuhyun yang sepertinya baru saja masuk ke dalam ruangan itu berdiri di depan pintu.

"Yesung-ah, kau sudah bangun?" tanya Kyuhyun seraya menghampiri Yesung. Senyuman langsung terlihat mengembang di wajahnya.

Yesung tidak menyahut dan lebih memilih untuk menatap keluar jendela ruangan itu.

"Tuan dan Nyonya besar sedang berada di China, jadi—"

"Aku tidak menanyakan mereka," ujar Yesung memotong ucapan Kyuhyun.

"Mereka sudah menjengukmu kemarin, tetapi—"

"Sudah aku katakan aku tidak menanyakan mereka!" seru Yesung sambil menatap Kyuhyun tajam, membuat namja tampan berkulit pucat itu langsung bungkam.

"Mi-mianhae,"

Yesung mendengus, "Sudah berapa lama aku berada di tempat ini?"

"Kibum yang mengantarmu ke rumah sakit kemarin, tetapi sekarang dia sedang berada di sekolahnya. Apa ada yang sakit? Aku akan memanggil dokter—"

"Aku ingin pulang,"

"Yah! Kau masih membutuhkan perawatan, Yesung-ah!"

"Aku baik-baik saja. Tempat ini benar-benar membosankan," ujar Yesung sembari mengubah posisinya menjadi duduk, "Kau lihat, aku baik-baik saja,"

"Tapi kemarin kau pingsan, Yesung-ah. Dan—"

"Aku pingsan bukan karena aku sakit, jadi aku tidak perlu berlama-lama di tempat ini,"

"Tidak bisa, Yesung-ah. Tuan besar mengatakan kau boleh keluar dari rumah sakit kalau sudah ada ijin dari dokter, sementara tadi dokter mengatakan padaku kau masih memerlukan perawatan selama beberapa hari,"

"Dan membiarkan aku mati bosan di tempat ini?"

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Kau tidak akan mati hanya karena dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, Tuan muda,"

Yesung menatap Kyuhyun kesal, "Memang kau pikir kau itu siapa, huh? Aku bisa memecatmu—"

"Kali ini kau tidak bisa," potong Kyuhyun.

Yesung mendelik, "Wae?"

"Karena aku sedang menjalankan perintah dari Tuan besar, jadi Tuan muda tidak berhak memecatku," jawab Kyuhyun seraya tersenyum memang.

Yesung mendengus, membuat Kyuhyun terkekeh melihatnya.

"Yah! Tidak perlu seperti itu, Yesung-ah. Kau hanya perlu istirahat di sini selama beberapa hari. Lagipula luka di punggungmu juga masih memerlukan perawatan,"

Yesung membuang muka, membuat Kyuhyun harus menahan tawanya agar tidak meledak jika tidak mau membuat mood namja manis itu semakin memburuk.

"Apa kau membawa baju ganti untukku?"

Kyuhyun mengangkat alisnya, "Huh?"

"Aku tidak mau memakai baju murahan ini. Dimana bajuku?"

"Yah, kau harus memakai baju itu, Yesung-ah,"

"Ambilkan aku baju ganti, atau kita pulang sekarang!" ujar Yesung dengan nada final.

"Baiklah, aku akan mengambilnya di mobil. Kau tunggu di sini sebentar, okay?"

Yesung mengangguk kecil.

Kyuhyun tersenyum sebelum kemudian keluar dari kamar rawat Yesung.

Tak lama kemudian seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu dengan sebuah membawa nampan di tangannya.

"Selamat pagi Yesung-sshi, anda sudah bangun?" sapa perawat itu sambil tersenyum ramah.

"Bukankah kau bisa melihatnya sendiri?" balas Yesung ketus.

"N-nde, cheosonghamnida," ucap perawat itu seraya meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja nakas, "Ini sarapan anda, Yesung-sshi. Bagaimana keadaan anda? Apa aku perlu memanggil dokter?"

"Anni," jawab Yesung.

"Ah, baiklah. Ini vitamin, anda bisa meminumnya setelah menghabiskan sarapan anda. Dan obat yang ini bisa anda minum agar anda bisa tidur lebih nyenyak," ujar perawat itu lagi sembari menunjuk dua butir obat yang dibawanya bersama makanan tadi.

"Araseo. Sekarang bisakah kau keluar? Aku butuh istirahat,"

"Baiklah, selamat beristirahat," Perawat itu kembali membungukkan badannya masih dengan tersenyum ramah sebelum kemudian keluar dari kamar itu.

Yesung melirik makanan di sampingnya seraya menyeringai kecil.

.

.

.

.

"Ini bajumu," ujar Kyuhyun sambil menyerahkan baju di tangannya pada Yesung.

"Gomapta," ucap Yesung seraya turun dari bed-nya, "Ah iya, aku tidak suka sup itu. Lebih baik kau saja yang memakannya. Aku tidak mau tahu, kau harus sudah menghabiskan sebelum aku selesai mengganti bajuku. Sup itu benar-benar membuatku tidak selera makan," ujarnya lagi sebelum kemudian masuk ke kamar mandi.

Setelah selesai mengganti pakaiannya, Yesung segera keluar dari kamar mandi. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat Kyuhyun tertidur di sofa. Ia kemudian melirik mangkuk sup yang sudah kosong di atas meja nakas.

"Anak pintar," gumamnya.

Ia meletakkan pakaian rumah sakit yang tadi dikenakannya di atas bed, kemudian menghampiri Kyuhyun yang tampaknya tertidur sangat lelap.

"Kau pasti sudah menjagaku sejak kemarin, hyung, jadi lebih baik sekarang kau istirahat dengan nyenyak. Selamat tidur, Kyuhyun hyung~~" ucap Yesung seraya tertawa kecil.

Yesung kemudian berjalan menuju pintu, memastikan keadaan aman terlebih dahulu sebelum kemudian menyelinap keluar dari rumah sakit.

"Huh~~ aku merasa lebih baik," gumamnya seraya menarik napas panjang, menikmati aroma musim gugur yang sepertinya akan benar-benar berakhir hari ini.

"Sekarang aku harus kemana? Pulang? Andwaei! Mereka pasti akan langsung mengirimku kembali ke rumah sakit. Jalan-jalan? Tapi aku tidak membawa uang," Yesung mulai dilema, "Kenapa tadi aku tidak mengambil dompet Kyuhyun hyung? Kalau sekarang aku kembali ke rumah sakit, itu sama saja aku bunuh diri,"

Bruk!

"Argh!" Yesung mengerang tertahan ketika tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang.

"Mianhae, aku buru-buru!" ucap namja bertubuh tinggi itu seraya berjalan dengan langkah tergesa meninggalkan Yesung.

"Haiz! Dasar tidak sopan!" seru Yesung kesal. Ia baru saja akan kembali mengumpat ketika ekor caramel-nya menemukan sesuatu tergeletak di bawah kakinya.

"Apa ini?" gumam Yesung sambil memungut kertas berukuran kecil itu, "Kartu nama?"

Mata berbentuk bulan sabit milik Yesung langsung melebar begitu mengenali sosok namja yang berada dalam foto di tangannya itu. Ia masih mengingatnya dengan sangat jelas. Wajah oriental dengan iris obsidian itu..

"Jadi.. namanya Choi Siwon?"

.

.

~ 예 원 ~

.

.

"Apa yang kau dapatkan?" tanya Siwon seraya duduk di samping Donghae. Saat ini keduanya tengah berada di dalam sebuah restaurant jepang. Siwon sendiri tadinya sedang berada di rumah sakit ketika tiba-tiba Donghae meneleponnya dan menyuruhnya ke sana.

"Aku mendapatkan ini," jawab Donghae sambil melemparkan berkas-berkas di tangannya ke hadapan Siwon.

"Apa ini?"

"Laporan kesehatan Kim Youngmin, presiden Kim Group. Suami Jung Soyeon,"

"Apa ada yang penting?" tanya Siwon sembari memeriksa berkas-berkas itu.

"Kim Youngmin memiliki penyakit jantung yang bisa dikatakan cukup parah. Kondisinya semakin memburuk akhir-akhir ini. Sekitar dua minggu yang lalu dia masuk rumah sakit karena penyakitnya kambuh," jelas Donghae.

Siwon mengangguk mengerti.

"Bukankah dengan begini kita akan semakin mudah menghancurkan keluarga itu?" tanya Donghae sambil memainkan alisnya.

Siwon menyeringai, "Gomawo, Donghae-ya," ucapnya seraya bangkit.

"Kau mau kemana lagi? Tidak makan dulu?"

Siwon menggeleng seraya menyerahkan berkas tadi pada Donghae, "Aku masih ada urusan, bawa itu pulang. Aku pergi," ujarnya seraya berjalan keluar dari restaurant itu.

Sementara itu, Yesung yang sejak tadi menunggu Siwon di depan restaurant langsung bersembunyi di balik tiang penyangga begitu melihat namja tampan itu keluar dari restaurant. Ia terus mengamati Siwon yang berjalan meninggalkan restaurant itu sebelum kemudian memutuskan untuk mengikutinya dengan mengendap-endap.

Langkah panjang Siwon tiba-tiba terhenti di dekat sebuah taman, membuat Yesung langsung melompat untuk bersembunyi di balik pohon yang berada di sampingnya. Sepertinya namja tampan itu cukup peka, ia bisa merasakan seseorang mengikutinya sejak dari restaurant tadi.

Siwon berbalik, namun tak menemukan siapapun di belakangnya. Namja dengan iris gelap itu mengerutkan keningnya, tidak mungkin itu hanya perasaannya saja.

Sebuah akal terlintas di kepala Siwon. Masih dengan mengamati sekelilingnya, ia kembali melangkah untuk bersembunyi di balik sebuah pohon.

Tak lama kemudian iris obsidian Siwon menangkap seorang namja manis keluar dari balik pohon yang tidak jauh darinya. Namja berambut hitam kecokelatan itu tampak kebingungnya.

Siwon menyeringai. Tak sulit baginya untuk mengenali namja itu. Wajah kebingungan namja manis itu tidak jauh berbeda dengan wajah shock-nya saat ia tiba-tiba menciumnya beberapa hari yang lalu.

Masih dengan seringaian yang menghiasi wajahnya, Siwon keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri si namja manis yang terlihat kebingungan.

"Mencariku?" tanya Siwon membuat Yesung—namja manis itu tersentak kaget.

"Ka-kau?"

Siwon tertawa pelan, "Kau mengikutiku, kan? Apa aku memiliki urusan denganmu?"

"A-aku tidak mengikutimu!" jawab Yesung gugup.

"Hmm, benarkah? Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Siwon seraya bergegas pergi.

"Yah tunggu!" seru Yesung sambil menarik tangan Siwon.

Siwon melirik tangannya, sedikit mengangkat alisnya seakan tengah melihat sesuatu yang tidak biasa. Ia meraih tangan Yesung dengan tangannya yang lain, kemudian menatap namja manis yang terlihat bingung dengan sikapnya itu, "Boleh aku bertanya sesuatu?"

Yesung sedikit memiringkan kepalanya, "Huh?"

"Apa kau benar-benar seorang namja? Kenapa tanganmu kecil sekali?" tanya Siwon dengan wajah tak berdosa.

Yesung langsung menarik tangannya dari genggaman Siwon, "Kau menyebalkan!"

Siwon kembali tertawa, "Kau benar-benar tidak punya urusan denganku, kan? Aku harus pergi,"

"Yah! Apa kau sama sekali tidak mengingatku?"

Siwon mengangkat alisnya, "Nugu?"

Yesung menatap Siwon tidak percaya, "Kau benar-benar tidak mengingatku?"

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Siwon sambil menahan tawa. Raut wajah namja di depannya itu benar-benar menggemaskan.

"Ya! Dan kau sudah mencuri ciuman pertamaku!" seru Yesung membuat tawa Siwon hampir meledak, namun namja tampan itu tetap berusaha untuk menahannya.

"Ciuman?"

Yesung mengangguk, "Kau benar-benar kurang ajar!"

Tiba-tiba Siwon meraih pinggang Yesung dan menariknya mendekat, membuat mata sipit si namja manis langsung melebar.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Yesung gugup.

"Ciuman, hm? Bagiku, yang seperti itu sama sekali bukan sebuah ciuman," ujar Siwon seraya mendekatkan wajahnya, membuat hembusan napas hangatnya menerpa wajah Yesung.

Napas Yesung seolah tercekat ketika tiba-tiba Siwon mencium bibirnya. Kali ini bukan hanya sekedar menempel seperti sebelumnya, karena perlahan bibir namja tampan mulai bergerak mengulum bibir tipisnya. Pikirannya mengatakan ini gila, tetapi tubuhnya sama sekali tidak berniat memberontak. Ini hanya.. terlalu memabukkan.

Lidah Siwon menyapu belahan bibir Yesung, membuat namja manis itu membuka bibirnya dan membiarkan lidah Siwon menerobos masuk, menelusuri setiap sudut rongga mulutnya.

Yesung berusaha mengimbangi, membelit lidah Siwon yang berada di dalam mulutnya dan mengajaknya bertarung. Namun tetap saja, sekeras apapun ia berusaha, ia tak akan mampu mengimbangi permainan namja itu. Apalagi ini pengalaman pertamanya, kau ingat?

Siwon menyeringai di sela ciumannya, tangan kanannya semakin erat memeluk tubuh Yesung, sementara tangannya yang lain menekan tengkuk Yesung untuk memperdalam ciuman mereka.

Ciuman itu terus berlangsung selama beberapa menit sebelum akhirnya Siwon melepaskan tautan bibir mereka.

"Ini baru namanya ciuman," ucap Siwon seraya menyeringai, sedangkan Yesung terlihat masih sibuk mengatur napasnya yang tersengal.

Siwon melepaskan tangannya dari tubuh Yesung, kemudian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan namja manis itu.

"Sampai jumpa!" seru Siwon seraya melambaikan tangan pada Yesung.

Yesung tersenyum seraya menyentuh bibirnya yang masih basah.

"Choi Siwon.."

.

.

~ 예 원 ~

.

.

Siwon melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, menghampiri Donghae yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

"Kau darimana saja?" tanya Donghae seraya melirik Siwon sekilas, kemudian kembali memperhatikan layar televisi di hadapannya.

"Hanya jalan-jalan sebentar. Aku sangat merindukan Seoul," jawab Siwon seadanya, "Eh? Siapa namja itu?" tanyanya seraya menunjuk layar televisi di hadapannya.

"Ah, itu anak pertama Kim Youngmin, calon pewaris Kim group, anak tiri Jung Soyeon, Kim Yesung," jawab Donghae, "Wae?"

"Anak Kim Youngmin?"

Donghae mengangguk, "Kau pernah bertemu dengannya?"

"Ah, jadi namanya Kim Yesung," gumam Siwon seraya menyeringai, membuat Donghae mengerutkan keningnya bingung.

"Apa kau mengenalnya?" Donghae kembali bertanya.

Siwon tertawa pelan, "Aku bahkan berciuman dengannya,"

Donghae melebarkan matanya terkejut, "Mwo?"

"Donghae-ya, bagaimana menurutmu kalau kita menggunakan dia untuk menghancurkan keluarganya?"

Donghae menatap Siwon tidak mengerti, "Menggunakan Kim Yesung?"

Siwon mengangguk, "Apa saja yang kau ketahui tentang KimYesung?"

"Aku hanya tahu KimYesung itu terkenal sombong dan suka seenaknya. Tahun kedua kuliah di Seoul National University, jurusan bisnis. Dia sama sekali tidak memiliki teman dekat atau semacamnya. Usianya empat tahun di bawah kita. Hanya itu yang aku tahu, tapi kalau kau mau, aku bisa mendapatkan informasi lebih banyak," ujar Donghae menjelaskan apa yang diketahuinya, meskipun sebenarnya ia masih belum benar-benar mengerti dengan rencana Siwon.

"Cari tahu semua tentang dia!"

"Araseo,"

"Kim Yesung.." gumam Siwon pelan.

"Siwon-ya," Panggil Donghae membuat Siwon langsung menatapnya.

"Hm?"

"Apa kau benar-benar harus membalas dendam?"

Siwon mengangkat alisnya, "Nde?"

"Maksudku, kau ini namja yang cukup tampan, kecerdasanmu juga di atas rata-rata. Daripada menghabiskan waktu untuk menghancurkan mereka, bukankah lebih baik kau menjalani kehidupanmu dengan tenang, bertemu dengan orang yang kau cintai, lalu menikah dan bahagia untuk selama-lamanya?" tanya Donghae sedikit berlebihan.

Siwon tersenyum sinis, "Aku tidak akan pernah membiarkan dia hidup dengan tenang setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku tidak peduli meskipun aku harus menghabiskan seumur hidupku untuk membalaskan dendamku padanya,"

Donghae menghela napas, "Ya, aku mengerti perasaanmu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membantumu,"

"Gomawo, Donghae-ya,"

.


To be Continued~~


Thanks to

Yanie_Rayie159_Jae dy_Leony_yeyepapo_Mels Fitriani_ 24

shfly3421_Nakazawa Ryu_CheftyClouds_YeWonshipper

tyassiblackjackeverlasting_yesunghyunggue90_zita frauke _Asha Lightyagamikun

Sparkcloudy_Szasza harnis_cloudhy_fly407_cloud3024_Qhia503_aKyuCloud

ikhaasan_Cloud'sHana_L Hanazawa_Ayyes3407_niea clouds_Jerome Je

Michele_pepiqyu_Uyun wonye_yolyol_srelf567_Deanda Mahfita

Cloudy10_yewon_bubble blue_Love Clouds_ajib4ff_Kisscha_

Nierin_cloudskar_TikaClouds2124_CloudsYeskie_Song Je Yoo_yesungismine

UkeYesung_ratna_rinaElf_denita18_ _yeppen.

Gaegmgyu92_YEWONovie_Minahminchuchuchu_Qciestefanatic Pholephel Yukers

ElfCloud Dhy_Micky Sona_Sung HyoHee_reva kyuminelf_spfly3024_Osha Kim

nhyed'Agiestaa_ryu jackson clouds_ _LalaClouds_Hyunlypa

Mianhae kalau ada yang kelewat ^^


.

A/N

Aku sama sekali nggak pede publish part 2 ini tbh -_-

Di prolog kemarin kan aku udah bilang masih bingung gimana mau melanjutkan FF ini, jadi emang bener-bener asal tulis yang penting update XD

Buat para author, aku kasih saran, jangan hiatus kelamaan karena akan menimbulkan efek samping berupa keenakan u,u

Mencoba nulis lagi tapi hasilnya nggak karuan gini -_-

Maaf kalau nggak memuaskan, yang pasti aku udah berusaha memberikan yang terbaik ^^

Gomawo buat readers yang sudah bersedia baca dan review FF absurd ini :)

Bagaimanapun hasilnya, yang sudah baca review, ne?

.

P.s : Mianhae buat temen-temen fb yang kemarin minta link kalau FF ini udah update tapi ngga kena tag

Soalnya ada beberapa orang yang nama fb-nya sama username yang dipakai buat review nggak ada mirip-miripnya, jadi aku bingung mau ngetag yang mana u,u

Kalau masih mau di tag link untuk updatean chap.3 nanti, di review kasih tau nama fb-nya sekalian ya

Atau twitter juga boleh ^^

Kamsahaminda :)