LOVE COMPULSION: SEQUEL
Nieve Cielo
Cast: Gaara, Uzumaki Naruto, Other
Pair: NaruGaa [Naruto X Gaara]
Naruto ©Masashi Kishimoto
Warning: Yaoi/MaleXMale/Boys Love/Rape
Sequel dari Love Compulsion, disarankan untuk membaca part sebelumnya.
Sebelumnya….
"Siapa yang mau jadi kekasihmu dasar homo! Kau yang memperkosaku!"
"Kau tidak bisa mengelak Gaara, aku sudah mendapatkan rekaman perbuatan kita tadi malam melalui CCTV dari kamar ini, kau tidak mau aku menyebarkannya kan? Maka dari itu mau tidak mau kau harus jadi kekasihku!"
"Kau tidak bisa lari dariku Gaara.."
'Sialan!'
Happy Reading~
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah seharian ini anak laki-laki itu bergumul dikasurnya, tidak melakukan sedikitpun hal yang berarti. Kepalanya terasa pusing, perasaannya tidak tenang ia bahkan tidak ingat bahwa dirinya butuh makan. Teriakan kedua kakaknya pun hanya ia dengarkan, bagaimana ingin membalas jika rasanya membuka mulut saja ia tak mampu?
"Gaara ayo keluar, kau tidak pergi ke kampus? Ada Naruto di depan dia menjemputmu!" Entah sudah berapa kali Temari menggedor pintu kamarnya. Namun kembali Gaara mengeratkan selimut yang menutup seluruh tubuhnya, menarik napas panjang ia paksakan suaranya untuk keluar, "Aku tidak mau, suruh Naruto pergi!"
"Gaara, ia sudah jauh-jauh ingin menjemputmu kau tidak bisa mengabaikannya begitu saja.."
"Suruh ia pergi Temari!"
Bayangan Naruto yang telah memperkosa dirinya selalu berputar dikepala, ia berkali-kali memukul-mukul kepala bersurai merahnya berharap dengan hal seperti itu dapat menghilangkan bayangan Naruto yang ia benci.
Kankurou sedikit geram dengan adiknya itu, ini sudah hari ketiga ketika Gaara pulang dengan wajah pucat dan lesu dilanjutkan dengan adiknya yang tidak beranjak sedikitpun dari kamarnya. Setelah menggeledah lemarinya akhirnya ia menemukan kunci cadangan kamar adiknya itu, tanpa kata Naruto pun mengikutinya ke kamar Gaara.
"Gaara, Niichan buka pintunya ya?"
"Jangan berani kau melakukannya Kankurou!"
"Mmm.. Biar aku saja yang melakukannya.."
Naruto yang sedari tadi diam kini akhirnya bersuara dan mengambil alih kunci dari tangan Kankurou.
"Ahh, baiklah terima kasih ya Naruto aku sudah terlambat berangkat kerja. Aku duluan ya.."
"Aku juga harus berangkat sekarang Naruto, tolong bujuk Gaara yaa. Aku tak tau apa yang terjadi padanya tapi aku harap dia bisa jujur padamu.." Temari menepuk pundak Naruto sesaat kemudian tersenyum "Aku pergi dulu.."
Naruto mengangguk, "Percayakan Gaara padaku.." Temari tersenyum sekali lagi kemudian sedikit tergesa menuju kamarnya untuk mengambil tas dan perlengkapan kerjanya.
Naruto mengetuk pelan kamar Gaara, ia sedikit berbasa-basi namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Kau tetap tidak mau membukanya?"
Gaara hanya bisa terdiam, di balik selimutnya. Ia benci pada Naruto, sungguh benci apalagi sejak perbuatan bejat Naruto yang dilakukan padanya. Sungguh ia serasa muak melihat wajah lelaki itu.
"Oke, kalau tidak mau keluar.." Naruto memasukan kunci yang dibawanya pada lubang pintu kamar Gaara dan memutarnya pelan.
Naruto melangkah masuk secara perlahan belum sampai pada dua langkah ia berjalan, sebuah jam beker melayang kearahnya diikuti kotak tissue dan teriakan Gaara.
"PERGI KAU! PERGI! DASAR BAJINGAN!"
Secara refleks Naruto menghindari serangan Gaara dengan cukup gesit, lelaki tinggi itu dengan langkahnya yang besar mulai maju mendekati Gaara yang kini sangat panik dan melempar apapun yang bisa ia jangkau.
"Hetikan!" Naruto kini memegangi kedua pergelangan tangan Gaara dengan cukup kuat. Gaara tak mau kalah anak itu berusaha berontak bahkan kedua kakinya mulai menendangi tubuh Naruto.
"Gaara!" Bentak Naruto sekali lagi.
"Sekarang kau mandi.. kita pergi ke kampus bersama-sama.."
"Pergi kau bajingan! Aku muak melihat wajahmu!" Desis Gaara tajam ketika ia rasa tak mampu melawan genggaman Naruto pada kedua tangannya. Ia merasa jengkel karena seberapa kerasnya ia melawan Naruto terlalu kuat untuknya.
Naruto diam, ia memandangi bagaimana Gaara berkali-kali menendang tubuhnya. Tanpa peringatan ia menarik kedua tangan Gaara dan menggendong tubuh anak itu dipundaknya membawanya menuju kamar mandi.
"Ahh! Turunkan aku! Turunkan aku! Naruto! Brengsek kau!"
Naruto menurunkan Gaara kedalam bathtub yang untungnya tidak terisi air. Lelaki itu menarik kerah piyama Gaara sedikit kasar, berusaha membuka kancing baju Gaara. Sedangkan pemilik piyama panik bukan main, tubuhnya tiba-tiba menggigil ia benar-benar ketakutan. Dengan tangan gemetar ia berusaha menahan tangan Naruto yang hampir selesai melepas seluruh kancing piyamanya.
"Ja-jangan.. Naruto jangan! Baik baik, aku akan mandi! Kumohon hentikan Naruto.." Mendengar suara parau Gaara pada kancing terakhir Naruto berhenti melepaskannya.
"Bagus, cepatlah mandi 20 menit lagi kau kutunggu dibawah. Temari sudah menyiapkan sarapan untuk kita.."
Gaara yang gemetar hanya bisa memandang Naruto tajam. Lelaki berambut merah itu bahkan mencengkram piyamanya erat-erat.
"Kau mengerti?" Naruto kali ini meremas kedua pundak Gaara. Anak itu mendelik risih namun yang bisa ia lakukan hanya mengganguk perhalan.
"Jika kau tidak turun 20 menit, aku akan melakukan hal yang tidak kau inginkan.."
Naruto beranjak keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya ia mengacak rambut merah Gaara yang sejak dulu telah menjadi idamannya.
Gaara hanya menggeram marah dengan tangan terkepal kuat. Berlanjut dengan sumpah serapah dalam hatinya.
.
.
.
.
.
Naruto memakirkan mobilnya pada parkiran di kampusnya. Ia mematikan mesin kemudian menatap Gaara yang duduk disebelahnya.
"Gaara.." Belum juga ia meneruskan kalimatnya, anak itu sudah mendahuluinya turun dari mobil. Ia menghela nafas sudah biasa dengan sifat Gaara.
"Seharusnya aku naik motor saja sendiri.." Gerutunya pelan sesaat setelah keluar dari mobil itu. Sebenarnya tadi Gaara berikeras ingin naik motor sendiri ke kampus, namun karena Naruto yang sangat tidak percaya bahwa Gaara akan sampai ke kampus atau malah berbelok ke tempat lain untuk bolos jadi ia memaksa bahkan tak segan menarik anak itu untuk semobil bersamanya.
Naruto bergegas turun dari mobilnya kemudian dengan sedikit berlari ia berhasil berjalan disebelahnya tak lupa tangan kanannya senaknya merangkul pada pundak lelaki idamannya itu. Yang dirangkul sedikit terkejut dengan perlakuan Naruto yang seperti itu didepan umum. Ia melirik para mahasiswa yang menatap mereka heran. Karena semua orang tahu bahwa dari dulu Gaara benci pada Naruto.
.
.
.
Sudah satu jam sejak jam mata kuliah berlangsung Gaara hanya memandangi detik demi detik jarum jam yang ada didepan kelasnya menunggu waktu kapan keluar dari ruangan ini karena dirinya sungguh malas melakukan kegiatan apapun. Ia ingin meliburkan diri untuk beberapa hari kedepan, bahkan kalau bisa Gaara ingin pergi keluar kota untuk sementara waktu namun ketika ia teringat bahwa hal itu akan ditentang kedua kakaknya ia hanya bisa menghela nafas pasrah. Setiap melihat Naruto, Gaara selalu teringat dengan kejadian malam itu membuat perutnya serasa diaduk dan rasanya ingi memuntahkan sesuatu.
.
.
.
"Gar, kemana saja kau hari ini? Dicariin Hinata tuh.."
Itu Deidara, lelaki yang sudah menjadi teman Gaara semenjak anak itu mulai kuliah disini.
"Kau kenapa sakit ya?" Deidara menempelkan tangannya pada anak berambut merah itu namun tak merasa bahwa suhu tubuh Gaara panas, ia mengernyit bingung. Pasalnya dari tadi anak itu hanya terdiam dengan kepala yang ia letakkan diatas meja.
"Kau itu sudah pucat, tapi kenapa sekarang aku melihatmu lebih pucat hm?"
"Oiya, Gar kenapa tadi kau bisa berangkat bareng Naruto, bukannya kalian…"
Seketika kepala yang tadi tertelungkup itu menegak, wajah yang tadinya sangat pucat itu sekarang berkeringat.
"Tegang amat santai aja bro! hehe .." Kekehan paksa yang dikeluarkan Deidara tak bisa membuat Gaara sedikitpun bersuara. Lelaki berambut panjang itu menelan ludah paksa, ia kebingungan setelah sekian lama berteman dengan anak ini. Ia masih sedikit tidak suka dengan sifat Gaara yang pendiam.
.
.
"Oi Gar, dicariin Hinata tuh.."
Deidara dan Gaara refleks menoleh, mendapati wajah cantik berambut pink yang sedang berdiri tepat didepan pintu. Gadis yang tengah memainkan lollipop dimulutnya itu mulai maju dan menggenggam lengan Gaara yang terbengong, menariknya untuk mengikuti langkah lebar Sakura.
.
.
.
.
.
Gadis imut berponi itu sedari tadi sudah menatap lelaki yang sedari tadi juga tengah menunduk, lebih memilih memandangi kedua sepatunya entah apa yang dipikirkannya.
"Gaara, a-"
"Aku minta maaf Hinata."
Hinata tersenyum, suara Gaara begitu lirih dan entah kenapa terasa sejuk ketika ia mendengarnya. Kedua tangannya terulur menyentuh wajah yang dirindukannya, mengangkatkan perlahan sedikit memaksa wajah pucat itu untuk menatap wajah didepannya. Gaara tertegun, ia tak mengira Hinata seberani ini setaunya selama ini pacarnya itu selalu malu-malu.
"Kenapa minta maaf? Kau kemarin waktu bersama Naruto tidak terjadi sesuatu kan? Kau tidak diapa-apain dia kan?"
Walaupun ucapan Hinata berantakan, namun gadis itu dengan manik bulat indahnya menatap Gaara tepat dikedua matanya. Netra Gaara meredup, sebuah senyum tersungging diwajahnya. Ia merengkuh Hinata dalam pelukannya secara tiba-tiba. Berusaha menikmati kenyamanan ini selagi bisa, selagi ia lupa..
Aku udah diapa-apain kok, Hinata.. Penjamnya.
.
.
.
.
.
Kantin kampus selalu ramai setiap harinya, karena memang di kampus ini hanya memiliki dua kantin besar yang terletak di tengah dan belakang kampus. Gaara tengah memilih tempat duduk ketika Lee, Deidara dan Shino tengah memesan makanan. Setelah bertemu Hinata tadi sedikit penatnya berkurang dan sekarang dia sangat lapar mengingat tadi pagi ia hanya makan sedikit sekali sup jagung yang dibuatkan kakaknya Temari untuknya dan Naruto. Ahh.. Ngomong-ngomong soal lelaki itu, Gaara tidak melihat batang hidungnya lagi hingga siang ini, Gaara lega bukan main karena tidak perlu repot-repot menghindari lelaki itu. Baru saja ia menghela nafas ia terkejut ketika matanya tanpa sengaja menatap lelaki berambut kuning mencolok tengah menggigit burger keju ditangannya. Dan sialnya lelaki itu balas menatapnya.
"Oi, Gar bengong aja sih! Ini Nasi Karinya.."
Nasi Kari itu mengepul, harum baunya menggugah selera Gaara. Keempat lelaki itu sama-sama memesan Nasi Kari dengan pelengkap Ocha botol, kecuali Shino yang lebih memilih minuman Isotonik.
"Loh Lee! Pesen Buger Keju juga?"
Itu Shino yang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan salah satu sohibnya itu. Kapan dia pesennya? Sebenarnya mereka bertiga tidak terlalu terkejut dengan gaya makan Lee yang gila-gilaan. Yang mereka heran adalah, kenapa tubuh Lee bisa tetap ramping dan terhitung langsing berbeda dengan lelaki seusianya.
"Hehehe Laper tauk…"
"Gar, kenapa tadi pagi bareng Naruto?" To the point tipikal Shino, sedangkan lelaki yang dipanggil Gar itu menjadi sedikit tegang.
"Dia tadi kerumah, terus maksa buat berangkat bareng. Temari juga menyarankanku bareng dia."
"Jangan dekat-dekat dia lagi, sudah bagus kau menjauh.."
Sudah banyak dari teman-teman Gaara yang sudah tahu kalau Naruto sudah berkali-kali menyatakan cinta padanya. Dan berkali-kali pula Gaara menolaknya mentah-mentah mengakibatkan teman-teman Gaara geram dan berakhir mereka dan mahasiswa lain meledeknya habis-habisan.
Gaara terdiam dengan ucapan Shino, "Iya aku kan memang sudah usaha menjauh tapi dia selalu punya cara."
"Aku dulu pernah menjadi tetangganya sewaktu SD sebelum pindah kesini." Pandangan ketiga temannya yang lain sekarang tiba-tiba berporos padanya, mengabaikan Nasi Kari mereka yang mulai mendingin.
"Dulu banyak sekali rumor dari para tetangga soal keluarga Naruto, ibuku suka sekali bergossip jadi aku sering tak sengaja mendengarnya bergossip dengan teman-temannya."
Shino berucap santai sambil tetap memakan Nasi Karinya mengabaikan ketiga temannya yang bertanya-tanya, mengapa Shino tiba-tiba menceritakan hal ini?
.
.
.
"Yang kudengar ayah Naruto itu gay dan Naruto…"
.
.
.
Shino menghentikan ucapannya melanjutkan memakan Nasi Karinya yang tinggal sesuap itu. Gaara yang berada diseberangnya tanpa sadar mencondongkan tubuhnya untuk dapat mendengar suara Shino yang terasa lirih dipendengarannya.
Menatap ketiga temannya Shino berucap dengan enteng,
.
.
.
"Naruto pernah diperkosa oleh ayahnya…"
.
.
.
Hening lama.
.
.
.
Apa-apaan?
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Hai, N hadir dengan sequel Love Compulsion. N saranin sebelum membaca yg ini baca dulu yang Part pertama. Setelah 4 tahun akhirnya N bisa lanjutin lagi, enggak tau kenapa tiba-tiba pengen buat ff lagi. Setelah sebelumnya disibukan dengan kuliah dan kerja. Ini masih permulaan, dukung N lagi ya biar bisa post part-part selanjunya.
Kalo ada typo dan kesalahan lain N mohon maaf, N masih belajar membuat ff ini menjadi lebih baik lagi hehehe
Review dan Vote selalu menjadi penyemangat N..
Sekali lagi terima kasih..
