Sebelumnya di Uzumaki no... Eh, Maksudnya Kuroko no Basuke...
"Baiklah.. Eh, apakah Kuroko Tetsuna-kun sudah datang?" Lanjut Riko, melihat ke arah sekeliling.
"Etto..." Sebuah suara tiba-tiba muncul di depan Riko, membuat Riko melebarkan matanya kaget. "Saya di sini." Suara feminin itu kembali melanjutkan.
Riko melebarkan matanya terkejut, ketika baru menyadari ada perempuan di depannya. Rambut biru sebahu, badan yang mungil.. Badan yang mungil dan hawa keberadaan yang kecil.. Perempuan ini seolah-olah tidak terlihat...
"Kau-kau.. Kuroko Tetsuna?!" Tanya Riko dengan syok.
"Ya."
"Apa kau ingin try-out untuk mencoba menjadi manajer?"
"Aku ingin try-out menjadi pemain." Ucapnya dengan penuh determinasi.
"EHH?!" Adalah gema teriakan syok dari satu gymnasium.
Minus Naruto
-LineBreak-
Setelah semua berjalan dengan lancar, hari ini bisa dibilang hari yang melelahkan. Setelah mereka semua dicek oleh Riko, mereka melakukan beberapa tes fisik untuk mengetes mereka. Berlari 10 putaran, stretching, dan melalukan shootaround bola basket.
Tetsuna payah dalam menembak bola basket, adalah apa yang ia pelajari di hari itu.
Ia tentu tertawa terbahak-bahak melihat shooting sangat jelek Tetsuna, mendapatkan reaksi kedutan alis mata dan sebuah glare.
Oh, dan juga lemparan basket ke kepalanya.
Untuk cewek boncel yang keliatannya gabisa dorong troli sekalipun, dia keras banget kalo lempar basket.
Ia melakukan oke saat shooting, memasukan 10/10 dari freethrow, 9/10 dari mid-range, dan 10/10 dari three point. Heh, jangan tanya dia kenapa dia bisa mendapat skor lebih bagus dari three point daripada midrange. Kadang ia memang aneh.
Ohya, Kagami juga melakukan bagus, ia pikir, ia terlalu sibuk mengejek shooting Tetsuna daripada melihat aksi Kagami.
Meh, ia juga mendapatkan beberapa pandangan penasaran dari coach. Maa, sepertinya coach masih penasaran dengan statistik badannya. Meh, mungkin besok ia akan memberitahunya.
Pada akhirnya, mereka selesai sekitar jam 6. Lumayan, ia sudah lama tidak meregangkan tubuhnya. Melihat karena rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah, jalan kaki adalah opsi terbaiknya untuk pulang. Sambil menikmati udara sejuk sore ini.
Tetapi...
Naruto melihat ke orang di sampingnya dengan wajah jengkel.
"Apa kau mengikutiku, pendek?!"
Kuroko Tetsuna, wajah datarnya masih memandang ke depan dan tidak mengalihkan wajahnya ke Naruto, menjawab dengan tenang.
"Kita kebetulan melewati jalan yang sama. Dan juga, tinggimu hanya beberapa inci lebih tinggi dariku, Naruto-kun."
Naruto hanya menghela nafasnya. Melihat ke arah langit yang mulus tanpa bintang, ia menguapkan mulutnya, kelihatan lelah dan ngantuk dengan hari ini.
"...kau menghabiskan setengah waktu sekolah untuk tidur, dan kau masih mengantuk?" Celetuk Tetsuna, nadanya monoton seperti biasa, tetapi tetap saja membuat Naruto jengkel entah kenapa untuk yang keribuan kalinya, sebelum akhirnya menghela nafasnya, tidak mempunyai balasan untuk itu.
"Ne, rumahmu di sekitar sekitar sini?" Tanya Naruto penasaran, mendapatkan sebuah anggukan dari Tetsuna. "Blok A, B atau C?"
"B." Naruto menaikan alisnya dengan terkejut. Itu blok tempat dia tinggal juga.
"Oke.. Nomor berapa?" Tanya Naruto lanjut.
"4A."
Naruto berkedip, sebelum akhirnya melihat ke arah Tetsuna dengan deadpan.
"...kau tidak bercanda, bukan?" Tanya Naruto, mencoba memasang wajah se-deadpan yang ia bisa(?).
Tetsuna mengedipkan kedua mata birunya kebingungan dan kemudian melihat Naruto sambil memiringkan wajahnya.
"Tentu saja tidak. Apa ada masalah, Naruto-kun?" Tanya Tetsuna dengan bingung.
"Alamat itu... Tepat di depan rumahku." Jawab Naruto dengan datar, sambil menepok jidatnya.
"...eh? Oh, jadi kau adalah orang yang baru pindah ke rumah lama Mugurumi-jii-san." Ucap Tetsuna, realisasi terlihat di wajahnya.
Naruto mengangguk. "Begitulah. Pamanku membelikannya untukku. Dia sangat kaya, menulis bukunya itu. Aku dulu tinggal di Konoha, sebuah kota kecil yang tidak akan kau tahu. Tinggal di sana sampai aku 5 tahun, setelah itu pamanku membawaku berkeliling bersamanya. Kau tahu, keliling dunia, mencari inspirasi untuk seri buku selanjutnya. Aku baru kembali ke Jepang sekitar dua tahun yang lalu."
Mendengar itu, Tetsuna menaikan alisnya. "Bagaimana dengan orangtuamu?" Tanya Tetsuna.
"Meninggal." Naruto berkata dengan aku kasual. "Ayahku meninggal sejak aku lahir. Ibu meninggal saat melahirkanku dan ayah mengalami kecelakaan saat aku hanya berumur beberapa bulan."
"Eh?" Gumam Tetsuna, sedikit kaget karena menyadari ia sudah menyentuh topik sensitif. "Maaf. Aku tidak tahu."
"Maa, tidak apa-apa. Aku tidak sempat membuat ikatan dengan mereka. Tentu, mereka orang tuaku, tapi.. Tidak ada ikatan, kau tahu? Walaupun Tante dan Paman terus menceritakan kisah mereka padaku, tetapi untukku, mereka hanyalah dua orang asing yang melahirkanku, kau tahu? Tentu, aku menghormati mereka berdua sebagai orangtuaku tapi.. Ah, aku hanya cerewet, bukan? Lupakan itu."
Tetsuna melihat kearah Naruto. "Aku mengerti." Ucap Tetsuna simpel.
"Eh?"
"Orangtuaku.." Tetsuna bergumam sebentar. Ini adalah cerita yang personal. Bahkan ia tidak pernah menceritakan ini ke siapapun, termasuk Kiseki no Sedai yang adalah teman terdekatnya. Tetsuna melihat lagi kearah Naruto yang kini melihatnya dengan penasaran. Lelaki ini.. Pertama ia bisa merasakannya, Kuroko Tetsuna, lalu ia membuat dirinya memanggil Naruto dengan nama panggilannya, bukan dengan nama keluarganya. Dan kemudian ini? Tetsuna tidak tahu, tetapi jika berada di sekitar si pirang idiot ini.. Ia selalu merasa nyaman mengatakan apapun kepada sang pirang itu. Tanpa takut dikasihani, dijudge, dan dihina. Entah darimana Tetsuna mendapatkan kepercayaan seperti itu, tetapi, itulah apa yang dia percayakan.
"Keluargamu? Ada apa dengan mereka?" Pertanyaan Naruto membuat Tetsuna kembali sadar ke dunia nyata.
"Ah ya," Tetsuna mengukirkan senyuman. "Keluargaku.." Gumam Tetsuna. "Aku ini... Bisa dibilang anak yang tidak diinginkan."
"Eh?"
"Orangtuaku memiliku saat mereka masih 20 tahun, masih kuliah dan belum menikah. Sebuah kesalahan. Mereka berdua bahkan bukan sepasang kekasih. Hanyalah dua teman yang bersenang-senang di bar." Ucap Tetsuna, mengenang kembali kisahnya. "Jika mereka adalah orang biasa, tentu mereka hanya akan mencoba mengaborsiku. Atau, ibuku akan mencoba meyakinkan kekasihnya untuk merawatku. Tetapi..." Tetsuna menghela nafas. "Ibuku berasal dari keluarga yang tua dan tradisional, kau tahu. Ayahnya adalah mantan biksu kuil. Karena itu, mendengar anaknya yang hamil di luar nikah, ia memaksa ayahku untuk menikahi ibuku. Jika mereka adalah sepasang kekasih, mungkin itu tidak masalah. Tetapi mereka tidak. Dan lebih lagi, ayahku adalah anak dari seorang konglomerat. Ini adalah skandal." Tetsuna melihat kearah langit. "Sejak kecil aku disembunyikan. Diabaikan. Selalu dibilang untuk menghindari orang. Untuk mencoba membuat diriku tidak terlihat, agar berita skandal mereka tidak terbongkar..."
Mendengar itu, Naruto mengepalkan tangannya.
"Mereka bahkan tidak pernah ada, atau jarang di rumah. Status legal mereka menikah, tetapi, mereka tidak tinggal serumah. Mereka hanya datang bersama sebulan sekali ke rumah, untuk memenuhi peraturan bahwa pengurus atau orangtua anak di bawah 17 tahun, harus setidaknya bertemu atau menjaga anaknya sekali, dalam sebulan."
Tetsuna menutup matanya. Mencoba menahan tangisan yang ingin keluar. Apa yang akan Naruto katakan? Apa dia tidak ingin berteman dengan anak seperti dia yang bahkan tidak diinginkan oleh kedua orangtuanya?
*Srek*
Mata Tetsuna terbuka lebar merasakan sepasang tangan melingkari tubuhnya, dan tanpa sadar, kepalanya menyandar ke badan yang menyelimutinya, mencoba menutupi mukanya agar seseorang yang memeluknya ini tidak melihat wajah tangisannya.
"Hey..." Naruto memegang wajah Tetsuna dengan halus, dan mengangkatnya untuk memaksa Tetsuna melihat kearahnya. Tetsuna melebarkan matanya, terkejut. Rona merah menghiasi pipinya, merasakan tangan Naruto menyentuh pipinya.
Naruto kemudian memberikan cengiran khasnya.
"Orangtuamu itu memang idiot," Ucap Naruto sambil menatap mata biru Tetsuna. "Kesalahan? Kau? Aku yakin jika aku mempunyai anak yang sangat cantik dan imut, aku tidak akan memanggilnya sebuah kesalahan, siapapun yang mengandunginya!" Seru Naruto.
Pipi Tetsuna semakin memerah mendengar itu.
"Dan lagipula, selama ini kau sukses tanpa mereka bukan? Menjadi pemain basket yang hebat, sampai bisa diakui sebagai pemain keenam Kiseki no Sedai.. Pemain bayangan ke-6." Tetsuna sedikit terkejut menyadari kalau Naruto mengetahui itu. Walaupun semua sudah tahu ia dari Teiko, belum ada yang mengkoneksinya dengan pemain ke-6 mitos dari Kiseki no Sedai. "Kau tidak membutuhkan mereka, dan mereka akan sangat membutuhkanmu, karena dalam jangka beberapa tahun kedepan, kita akan menjadi pemain terbaik Jepang! Dan beberapa tahun kemudian kita akan menjadi pemain terbaik dunia!" Seru Naruto dengan penuh percaya diri.
Tetsuna hanya tersenyum mendengar itu. "Terima kasih, Naruto-kun."
Naruto tersenyum mendengar itu dan mengelus rambut Tetsuna. "Tentu!"
Selama beberapa detik, mereka menikmati berada di rangkulan satu sama lain.
...
...
...
Awkward.
"Hoy, kalo mau pacaran jangan di tengah jalan. Cari kamar sono!" Celetuk sebuah suara di belakang mereka.
Dengan cepat, Naruto dan Tetsuna melepaskan satu sama lain, keduanya terlihat mempunyai rona merah di pipi masing-masing, dan kelihatan jelas sekali menghindari untuk melihat wajah satu sama lain.
"Eh? Kagami?!" Seru Naruto, ketika melihat orang yang tadi suruh mereka 'cari kamar' adalah seorang berbadan besar dan berambut merah. Siapa lagi kalau bukan Kagami Taiga.
"Taiga-kun.." Gumam Tetsuna. "Apa kau membuntuti kami?" Tanya Tetsuna dengan monoton dan kasual.
"HA?! Kurang kerjaan banget aku buntutin kalian!" Seru Kagami kesal, urat-urat kelihatan jelas di dahinya.
"Oy, Kagami... Um, sebelum ada yang sakit hati, aku cuma ingin bilang aku bukan gay." Ucap Naruto dengan hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti perasaan Kagami.
"Terus apa hubungannya denganku, ngehe?!" Balas Kagami, masih terlihat kesal.
"Ah jadi begitu ya," Tetsuna mengangguk, seolah memecahkan sebuah misteri yang bahkan tidak bisa dipecahkan oleh Sherlock Holmes. "Taiga-kun jatuh cinta pada Naruto-kun pada pandangan pertama, jadi ia membuntuti Naruto-kun.." Gumam Tetsuna lebih kepada dirinya sendiri.
"IDE DARIMANA ITU HAH?! AKU BUKAN GAY!"
"Kalu begitu, apa alasanmu membuntuti kami selain terkagum-kagum atas kegantengan diriku yang sangat keren ini?" Tanya Naruto dengan deadpan. Wajah Kagami yang tadi kelihatan sangat kesal entah kenapa bisa terlihat lebih kesal lagi.
Naruto kemudian menatap kearah Tetsuna, dan kemudian Kagami lagi.
"Sungguh, Kagami?" Naruto melihat kearah Tetsuna. Wajah monoton. Dada yang rata. Postur yang boncel. "Tipe cewekmu adalah orang yang seperti dia? Tentu dia sangat kawaii seperti seorang loli, dengan postur yang boncel dan wajahnya itu tapi..." Naruto kemudian mendekati wajahnya ke kuping Kagami, tangannya berada di sisi mulutnya, agar Tetsuna tidak bisa melihat apa yang dikatakan mulutnya. "...tapi dibagian dada, dia sama seperti coach, alias tidak ada sama sekali." Bisik Naruto pelan-pelan ke Kagami.
Mungkin tidak terlalu pelan untuk hanya Kagami yang mendengarnya.
"OUCHHH! SAKIITTT!"
Kagami dengan deadpan melihat Tetsuna, dengan wajah yang kesal, menusuk pinggang Naruto dengan jari-jarinya. Kagami langsung berkeringat ketika Tetsuna mengalihkan pandangannya ke Kagami sambil menyipitkan matanya.
"...menyeramkan.." Gumam Kagami.
"Apa kau mengatakan sesuatu, Taiga-kun?"
"Tidak!"
-LineBreak-
Sambil menghela nafasnya, Kagami mengangkat nampan yang berisi selusin burger miliknya, mengabaikan tatapan gila dari penghuni sekitar.
Maji Burger, bisa dibilang adalah salah satu restoran fast-food yang mempunyai lokasi yang sangat strategis. Bertempat di dekat perkantoran dan sekolahan, dan juga cukup dekat dengan perumahan dan stasiun kereta. Orang-orang yang baru datang ke sini bisa langsung makan di Maji Burger, begitu juga anak sekolahan dan para pekerja yang sangat lelah dari aktivitas mereka, saat pulang bisa mampir ke Maji Burger, karena arahnya searah dengan Stasiun dan juga daerah perumahan.
Ia berjalan, untuk mencari meja untuk makan, sebelum sebuah tangan memegang bajunya, menahannya untuk berjalan. Kagami mengedutkan alisnya, mengetahui jelas siapa pemilik tangan itu.
"Maa, maa Kagami, kau ingin ke mana? Meja kita kan di sini!" Seru seorang berambut pirang dengan cengiran yang sudah Kagami benci itu.
Si pirang itu sedang duduk. Di depannya ada semangkok ramen yang entah kenapa disediakan di restoran fast-food yang jelas-jelas mempunyai kata 'burger' di namanya.
Dan entah kenapa restoran ini juga menyediakan Vanilla Milkshake, seperti yang perempuan yang duduk di samping si pirang itu minum. Di depan dan di lain sisi meja mereka ada sebuah kursi kosong yang jelas-jelas mereka sisakan untuk Kagami.
Kagami menghela nafasnya, dan kemudian mencoba berjalan lagi, mencoba mengabaikan seorang pirang yang sedang menarik bajunya ini.
"Maa, yakin ingin mencari meja lain?" Mendengar itu, Kagami melihat sekeliling.
Yep, karena tempat ini strategis dan juga ini jamnya anak sekolahan dan para pekerja pulang, restoran ini sangat penuh.
Kagami mengedutkan matanya, sebelum akhirnya menghela nafasnya dan duduk di depan mereka.
Menaruh nampannya dengan kasar, Kagami melihat kearah mereka berdua.
"Maa, Kagami, bilang dong kalo pengen ke Maji Burger! Insiden di jalanan itu kan ga harus terjadi!" Seru Naruto sambil mengusap-ngusap pinggangnya dan memberi Tetsuna sebuah glare yang diabaikan.
"Gimana pengen bilang?! Kalian yang tiba-tiba menuduhku dan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan!" Seru Kagami dengan kesal.
"...ah, masa sih?"
"...benarkah?"
Ucap Naruto dan Tetsuna bersamaan, wajah mereka berdua terlihat sangat innocent, seolah benar-benar tidak tahu.
Urat Kagami langsung keluar lagi karena kesal, mengetahui jelas bahwa mereka berdua tahu ia benar. Tidak ingin memperpanjang masalah, Kagami hanya menghela nafasnya dan memakan burgernya, mencoba mengabaikan dua setan di depannya.
"...tempat ini jelas sekali lebih bagus jika mereka menambah sedikit oranye disini." Naruto berkata dengan tiba-tiba.
"Baka, oranye? Lebih bagus jika dipenuhi dengan biru. Warna yang teduh."
"Biru? Di tempat burger? Secara standar, tempat burger itu biasanya mempunyai standar merah!"
"...kata siapa?"
Alis Kagami berkedut kesal, selesai ia menghabiskan burger kelimanya. Mencoba mengabaikan argumen gajelas dua orang di depannya. Mereka berdua sudah selesai makan dan minum, kenapa ga pergi aja sih?!
"Ohya, kudengar Takagi Sato putus dengan pacarnya, Rin Makoto." Naruto kembali berkata lagi.
"...kau menonton gossip?"
"Hey! Aku lebih suka memanggilnya, 'mengumpulkan informasi' dari orang-orang terkenal."
"...tentu."
"Apa itu dengan pandangan 'aku-tidak-percaya' yang aku lihat?!"
"Ah? Kau hanya salah lihat, Naruto-kun."
"Aku jelas tahu apa yang aku lihat!"
Melihat kedua orang di depannya berargumen lagi, Kagami mencoba menahan tempernya. Apakah ini cara Tuhan untuk mengetes kesabarannya? Menghabiskan burger ke-12nya, Kagami kemudian meminum soda yang ia pesan bersama burgernya, langsung menghabiskannya dalam satu tegukan.
Kagami menghela nafasnya lagi. "Oy," Ucapnya, membuat Naruto dan Tetsuna berhenti berargumen. Mereka sedang ditengah-tengah berargumen tentang mana yang lebih kuat, Zombie dengan kemampuan berpikir atau Werewolves yang bisa berubah kapanpun mereka mau. Bagaimana mereka bisa ke topik itu dari topik tentang sepasang selebriti, Kagami tidak tahu.
"Uzumaki Naruto dan Kuroko Tetsuna, bukan?" Tanya Kagami, mencoba memastikan nama mereka.
Naruto menatap Kagami dengan deadpan. "Melupakan nama kita pada hari pertama?"
Kagami mengedutkan alisnya.
"...Taiga-kun memang yang terburuk." Tetsuna menambahkan.
Sebuah urat-urat mulai terlihat di dahi Kagami.
Kagami menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya.
'Harus sabar. Harus sabar. Harus sabar.' Ucapnya dalam hati, seolah ucapan itu adalah sebuah mantra.
"Aku sudah dengar dari coach kalau Kuroko berasal dari Teiko, SMP yang memangkan piala nasional 3 kali berturut-turut. Tapi, Uzumaki... Siapa kau? Coach dan yang lainnya sepertinya tidak pernah mendengar namamu, dan mereka sangat memperhatikan bola basket SMP, untuk melihat potensial rekruit dan musuh..." Kagami berhenti sejenak untuk melihat reaksi Naruto. Tetsuna, yang juga penasaran, diam-diam juga melihat kearah Naruto.
"Dan aku yakin kau bukanlah nama yang tenggelam diantara banyak atlet bintang SMP. Skillmu saat shootaround, walaupun kau mencoba menyembunyikannya, cukup bagus. Konsistensi itu... Gerakan kaki itu... Dan shooting form yang sudah dilatih secara konsisten.. Terlihat sekali kau adalah seorang pemain yang sudah lama bermain basket. Seseorang yang menguasai permainan ini sejak lama, dan berusaha meningkatkan skillnya untuk menjadi lebih konsisten." 'Seperti aku.' Kagami menambahkannya dalam hati.
Kagami memerhatikan Naruto, sekaligus Tetsuna dengan mata yang menyipit.
'Yang satu tidak mempunyai bau sama sekali.' Kagami melihat kearah Tetsuna. 'Dan yang satunya,' Ia kemudian melihat kearah Naruto. 'Mempunyai bau yang hambar. Bau yang tidak membuatmu senang, ataupun enek. Bau yang hambar, seolah kau mencium udara. Bau yang mencoba berbaur dengan sekelilingnya.' Mulutnya kemudian menyeringai lebar, excited akan prospek melawan lawan seperti mereka berdua.
'Aku tidak tahu ke Jepang akan membawakan sebuah tantangan seperti ini... Kukira hanya di Amerika saja yang akan memberiku tantangan. Kiseki no Sedai.. Kuroko Tetsuna.. Dan Uzumaki Naruto... Heh, aku jadi tidak sabar!'
-LineBreak-
Riko Aida bisa dibilang adalah orang yang gampang penasaran, dan seseorang yang akan melakukan segala cara untuk memuaskan rasa penasarannya.
Seorang lawan yang mempunyai skill yang tidak ia ketahui? Ia akan melakukan segala cara untuk mengetahuinya.
Sebuah tim yang mempunyai Ace yang misterius dan tidak diketahui? Ia akan melakukan segalanya untuk mengetahui tentang Acenya.
Dan kini, sebuah rerkrutan baru yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya, bukan nama besar, tetapi mempunyai skill yang jelas sekali diatas anak seumurannya? Tentu ia akan mencoba mengetahuinya, dan biasanya, untuk mengetahuinya hanyalah mengetik nama orang itu di Google.
Uzumaki Naruto.
Riko mengetik nama itu, penasaran dengan apa yang disembunyikan pemuda itu. Tidak seperti Kagami, yang walaupun misterius sendiri, sudah memberitahu Riko semua yang ia ingin ketahui. Stat badan. SMP sebelumnya. Skillset-nya.
Tidak seperti Uzumaki, yang menyembunyikan stat badan, sekretif atas asal usulnya, dan memberikan Riko apa yang ingin Riko lihat, bukan segalanya.
Riko menaikan alisnya ketika yang muncul dari hasil searchnya, semuanya adalah artikel dan website berbahasa spanyol. Adapun beberapa yang memakai bahasa yang ia tidak ketahui. Serbia, mungkin?
Hasil image searchnya, adalah yang membuat Riko membuka matanya sangat lebar karena terkejut.
Terlihat banyak gambar Naruto, memakai jersey basket tim professional, nomor '4' terlihat di punggungnya sedang mendribble bola.
Banyak sekali gambar Naruto, yang jelas-jelas masih terlihat 14 tahun, bermain di sebuah liga. Sebuah search lagi membuat Riko mengetahui bahwa benar, Naruto bermain di liga professional basket eropa, Euro League.
Dari Wikipedia (anak ini bahkan mempunyai Wikipedia-nya sendiri) berbahasa spanyol yang Riko translate melalui Google Translate, Naruto adalah seorang point guard utama klub basket Barcelona, yang menandatangani kontrak professionalnya bersama Barcelona setahun yang lalu setelah bermain bersama klub itu di Junior League. Di musim pertamanya di Euro League bersama Barcelona, dia berhasil membawa Barcelona menjadi juara Eropa, walaupun masih 14 tahun.
10.8 Ppg, 16.9 Apg, 6.2 Rpg, 4.1 Spg, 1.4 Bpg. 52℅ FG, 54℅ 3PT FG, 95℅ FT.
Mata Riko melebar melihat stat itu. 10 point per game.. 17 assist per game.. 6 rebound per game.. 4 steal per game, dan 1 blok per game, dalam 35 menit permainan. Dan juga Field Goal-nya.. 50-50-90?! Itu adalah nomor elit!
Stat itu bukan stat Euroleague! Itu stat Point Guard NBA!
Banyak berita yang memberitahu bahwa Naruto adalah bintang berikutnya. Press Eropa memberikannya banyak julukan. The Next Magic Johnson.. The Next Michael Jordan.. Banyak lagi.
Tapi melihat paragraf terakhir, Riko melebarkan matanya.
'Ketika di final Euroleague melawan Fenerbahce dari Turkey, Naruto merobek ACL-nya saat mencoba melakukan Hot-step Lay-up. Cedera parah itu membuat masa depan Naruto menjadi redup, masih pada umur 14 tahun. Melihat bahwa pemain yang biasanya merobek ACL-nya jarang sekali sembuh dan kembali normal performanya, Barcelona memutuskan kontrak Naruto. Naruto juga menyatakan bahwa ia akan pensiun sementara dari Liga Professional, untuk mengobati kakinya. Setelah itu dia mengatakan bahwa ia akan kembali ke negara kelahirannya di Jepang.'
Riko melebarkan matanya. Merobek ACL adalah cedera paling parah yang seorang atlet basket bisa temui.
Riko kemudian baru mengingat kalau saat shootaround, Naruto tidak pernah melakukan suatu aktivitas yang memberi stress pada kaki kanannya. Ia tidak melakukan dunk. Ia layup pun dengan loncat dari kaki kirinya. Ketika melakukan jumpshoot, ia selalu memastikan kaki kirinya mendarat terlebih dahulu. Riko kira ia hanya lebih memilih memakai kaki kirinya, walaupun bukan seorang yang kidal. Tapi semuanya masuk akal.
'Apa cedera ACL-nya benar-benar sudah sembuh? Dengan pemain seperti dia, kita bisa memenangkan InterHigh!'
Menyembuhkan cedera ACL seperti itu biasanya membutuhkan setahun, plus rehabilitasi. Dan operasinya juga bisa dibilang mahal. Riko tahu, walaupun ini sudah lebih setahun, Riko tahu kakinya pasti masih tidak 100℅ sembuh.
-LineBreak-
Suara pantulan bola basket membuat Naruto menaikan alisnya. Setelah makan di Maji Burger, Kagami sepertinya semangat untuk bermain basket, dan mengajak Naruto dan Tetsuna duel, dua lawan satu.
Kesombongannya membuat Naruto menggelengkan kepalanya. Walaupun mempuntai potensial yang tinggi, Kagami masih menganggap dirinya jauh lebih hebat dari mereka berdua. Dia meremehkan lawannya.
Naruto melihat kearah kaki kanannya dengan keras, sebelum akhirnya berjalan ke arah tempat duduk di samping lapangan.
Kagami dan Tetsuna menatapnya bingung.
"Maa, kalian berdua saja yang bermain. Aku sudah lelah karena latihan tadi. Kalian bersenang-senanglah, aku akan menunggu kalian disini." Ucap Naruto dengan kasual, duduk di samping bangku, dan menaruh tasnya dan tas Tetsuna –yang dilempar Tetsuna kearahnya ketika mengetahui bahwa ia akan bermain basket—di sampingnya.
Tetsuna hanya senang bisa bermain basket lagi, sementara Kagami, walaupun kecewa tidak bisa mengetes kemampuan Naruto, masih terlihat senang bisa mengetes kemampuan lawan yang katanya, 'tidak memiliki bau'.
...
Ya, Kagami emang aneh dengan kata-katanya.
Permainan dimulai.
Tetsuna yang pertama memegang bolanya. Kagami memerhatikannya dengan intens, mengantisipasi sebuah gerakan hebat.
Naruto memerhatikan Tetsuna. Dari apa yang ia lihat pada shootaround, Tetsuna tidak bisa shooting. Seseorang yang tidak bisa melakukan shooting, biasanya ahli dalam ball handling dan passing. 'Seperti Jason Kidd.' Pikir Naruto. Seorang playmaker murni. Jarang sekali pemain basket bisa memasteri semua skill, karena itu pemain seperti Michael Jordan, yang bisa pass, steal, block, shoot, dan rebound adalah sebuah legenda.
Tetsuna terus mendribble bolanya tanpa bergerak, seolah mencoba menganalisis defense Kagami. Naruto menatapnya lagi dengan intens.
'Tuk.'
...dan kemudian bola tadi mengenai kaki Tetsuna, membuat bola itu menggiling keluar lapangan.
...
...
"BWAHAHAHA!" Naruto tertawa terbahak-bahak melihat ball handling Tetsuna, air mata sampai keluar dari matanya. Tangan kirinya memegang perutnya sementara tangan kanannya menunjuk kearah Tetsuna, yang kini mempunyai ekspresi kesal di wajahnya.
"I-itu... BWAHAHAHA adalah ball handling paling terburuk yang pernah aku li—"
*BUGH*
"ARRKH Naruto Junior!"
Entah kapan Tetsuna sudah mengambil bola basketnya kembali dan melemparnya kearah Naruto, tepat di area di antara selangkangan Naruto.
Ouch..
Kagami yang melihat itu, secara insting merapatkan kakinya, mencoba untuk melindungi 'harta berharganya'.
-LineBreak-
Sejak dari awal, sudah terlihat jelas sekali bahwa Kagami mendominasi Tetsuna dan jelas sekali kalau skil Tetsuna dibawah rata-rata.
Slash
Bolanya lagi-lagi disteal Kagami karena dribbling ceroboh Tetsuna, Kagami lari kearah ring, entah Tetsuna mengejar Kagami atau tidak, karena dalam beberapa detik, Kagami jauh dari Tetsuna dan kini melakukan dunk lagi entah untuk yang keberapa kalinya.
Naruto menatap semuanya dari pinggir dengan intens. Jelas sekali Kuroko sudah mengerahkan semuanya, dan Kagami bahkan tidak memakai seperempat kemampuannya.
'Speasialis, huh?' Gumam Naruto di dalam hati. 'Tidak banyak orang yang menjadi speasialis di dalam satu hal, karena jelas sekali, mereka mengabaikan segala aspek lainnya dan kau tidak bisa sukses menjadi pemain basket tanpa lebih dari satu skill. Walaupun begitu, seorang spesialis biasanya sudah mempunyai permainan rata-rata di semua aspek, baru kemudian mereka meninggalkan segala aspek itu dan benar-benar fokus ke dalam satu skill. Maupun itu rebounding, shooting, atau passing.'
"Oy, main yang bener dong!"
"Aku sudah mencoba semampuku, Taiga-kun."
'Tapi dia.. Dia sama sekali tidak mempunyai kemampuan di aspek lain. Seorang spesialis passer yang benar-benar tidak mempunyai kemampuan di lain hal.. Berarti dia dari awal sudah fokus kepada permainan passingnya. Di mata Kagami, tentu saja Tetsuna bermain seperti orang yang pertama kali bermain basket. Kau tidak bisa menunjukan skill passingmu di permainan one-on-one. Pantas saja, lemparannya itu sangat cepat, keras dan selalu tepat sasaran. Dari awal, dia memang sudah berdedikasi untuk menjadi spesialis passer.' Bibir Naruto kemudian melengkung kebawah. 'Tetapi, siapa yang memotivasinya? Seseorang memotivasinya untuk benar-benar fokus pada satu skill dan mengabaikan skill lain. Basket bukanlah permainan dengan satu skill. Spesialis memang dibutuhkan, tetapi spesialis tanpa kemampuan lain selain kemampuan spesialnya...' Naruto menyipitkan matanya, '...akan sangat buruk untuk pertumbuhannya.'
"Apa kau meremehkanku?!" Teriak Kagami.
Naruto kemudian menyadari bahwa bola basketnya kini berada di samping kakinya. Kagami pasti memblock lagi-lagi percobaan shoot Kuroko.
"Mainlah dengan seluruh tenagamu!" Lanjut Kagami.
"Aku sudah bermain dengan seluruh tenagaku, Taiga-kun. Bukankah sudah jelas sekali kalau Taiga-kun adalah yang terkuat?" Balas Tetsuna dengan blunt, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa.
"Lo ngajak berantem, hah?!" Seru Kagami dengan kesal. Ia kemudian menghela nafasnya.
'Posturnya kecil dan lemah.. Dan juga, iapun adalah perempuan. Aku tahu banyak perempuan yang mempunyai postur kecil dan lemah, tapi mempunyai skill yang hebat...' Pikir Kagami.
Kagami kemudian membalikan badannya, dan membuang nafasnya dengan kecewa. 'Dia sangat lemah, bahkan ia tidak mempunyai bau sama sekali.' Pikir Kagami, ia kemudian mengalihkan perhatiannya kearah Naruto, yang daritadi memandang mereka bermain dengan mata yang tajam. 'Sementara dia...' Kagami menyipitkan matanya.
"Sudahlah, lupakan saja." Ucap Kagami sembari memakai jaketnya, bersiap untuk pulang. Ia kemudian memutarkan badannya dan memandang tajam kearah Tetsuna. "Aku tidak ingin bermain bersama orang yang lemah." Ucàp Kagami tajam, membuat Tetsuna menundukan wajahnya. Poninya menutupi wajahnya, membuat Kagami tidak bisa melihat ekspresinya.
"Biarkan aku memberikan nasihat padamu," Lanjutnya selagi merapikan barang-barangnya ke tasnya.
"Berhentilah bermain basket." Ucapnya, Kagami, dengan tajam. Naruto menyipitkan matanya kearah Kagami, tangannya mengepal.
"Mencintai permainannya dan bekerja keras untuk itu memang bagus, tapi kalau dari awal tidak mempunyai talenta, kau lebih baik menye—"
"Hahaha!" Kagami terinterupsi ketika mendengar suara tawa Naruto. Bukan suara tawa karena lelucon, melainkan suara tawa yang hambar.
"Apa kau akan bilang kepada Tetsuna untuk menyerah?" Naruto bertanya, seolah mendengar sesuatu yang sangat tidak terpercaya. "Ah maaf, maaf. Nostalgia." Ucap Naruto, mengayunkan tangannya kearah mereka. "Kau tahu, yang lucu adalah, itu adalah sebuah kata-kata yang seseorang pernah katakan padaku." Mata Naruto kemudian berubah menjadi serius, membuat Kagami menyipitkan matanya.
"Dan kau tahu apa yang terjadi pada orang itu, setahun kedepan?" Naruto melanjutkan, mengambil bola basket yang ada di kakinya, dan berjalan kearah Tetsuna."Aku mengalahkan timnya. 143-75, dan aku dengan baik menskor 82 point untuk timku." Mata Kagami dan Tetsuna melebar mendengar itu.
Naruto kemudian menaruh tangannya di pundak Tetsuna, memberikannya cengkraman untuk menenangkan Tetsuna. Cengkaraman itu bagaikan kata-kata, 'sudahlah, tidak apa-apa' yang tak terkatakan, membuat Tetsuna tersenyum kecil, merasakan detak jantungnya berdebar atas aksi Naruto.
"Kau tahu... Talenta, takdir, atau apalah.. Aku tidak mempercayai itu. Bullshit. Seseorang bisa menjadi hebat dalam sesuatu, karena mereka bekerja keras untuk itu. Bukan karena mereka dari awal mempunyai talenta untuk itu. Aku bahkan lebih mengagumi Tetsuna daripadamu. Tetsuna bekerja keras untuk mendapatkan semuanya... Tidak memperdulikan kata-kata orang lain, ia terus maju. Sementara kau..." Kagami menyipitkan matanya, ingin mengetahui opini Naruto atas dirinya.
"Ketika kau melawan lawan yang jauh lebih hebat dari dirimu, kau akan langsung kalah." Kagami mengepalkan tangannya. "Karena kau akan meremehkannya saat awal, percaya bahwa kau lebih hebat dari mereka." Kagami melebarkan matanya mendengar itu.
"Heh," Kagami menyeringai. "Aku sangat tidak suka dengan orang yang hanya bisa omong kosong. Mencetak 82 poin? Heh, jangan bercanda..."
Naruto membalasnya dengan seringaian besarnya sendiri. Ia kemudian melihat kearah Tetsuna, dan tersenyum seperti biasanya.
"Kau sudah mencoba semampumu, kau sudah bagus. Lebih dari bagus. Tingkatkan skillmu, dan kau akan mengalahkan Bakagami dengan cepat!"
"OYY!"
Tetsuna mengabaikan teriakan protes Kagami, dan walaupun ingin memghentikannya, sebuah senyuman besar terukir di bibirnya ketika mendengar kata-kata semangat dari Naruto.
'Naruto-kun.. Percaya padaku.'
Senyuman determinasi terlihat di wajah Tetsuna. 'Aku tidak akan mematahkan kepercayaannya!'
"Ohya, satu lagi."
Tetsuna melihat lagi kearah Naruto, ingin mendengar lagi pujiannya dan kata-kata penyemangatnya.
"Kau benar-benar payah. Tingkatkanlah semua skillmu." Ucap Naruto dengan deadpan.
...
Entah kenapa Naruto merasakan nyawanya dalam bahaya.
"Bakaruto-kun.. Bakaruto-kun.." Entah kenapa Naruto mendengar gumaman itu selagi Tetsuna berjalan kepinggir, aura gelap terlihat jelas mengelilinya.
"Untuk berfikir bahwa aku sempat percaya padanya.."
Naruto mendengar gumaman lagi.
Hmm suara aneh apa itu? Naruto pikir. Apa Tetsuna marah padanya dengan aura gelap itu disekelilingnya?
...
Maa, tidak mungkin! Tetsuna jelas-jelas sayang padanya!
Di pinggir lapangan, entah kenapa Tetsuna merasakan sebuah feeling untuk mencekek seorang pirang.
"Baiklah," Naruto kemudian menjatuhkan bolanya, "Kita lihat, sebagus apa 'talenta'-mu ini." Ucap Naruto selagi ia mendribble bola sambil berdiri.
Kagami hanya menyeringai dan kembali melepas jaketnya.
"Heh. Seharusnya aku yang bilang begitu," Ucapnya sembari mengambil posisi defensif.
-LineBreak-
Skit.
Suara sepatu Naruto yang bergencatan dengan aspal, lagi-lagi membuat Kagami kembali kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
Between the leg hesitation ke kiri, crossover cepat kanan, dan kemudian stepback.
Dan dengan itu keseimbangan Kagami terjatuh, untuk yang kesekian kalinya. Dengan cepat ia kembali berdiri, tetapi sudah telat, karena Naruto kini sudah drive ke basket.
Kaki Naruto melangkah ke garis free throw, sebelum kemudian, meloncat, membuat mata Kagami melebar.
Naruto merentangkan tangan kanannya yang memegang bola ke depannya dan mengayunkannya ke atas.
'Apa yang dia lakukan?! Melakukan lay-up dari garis freethrow?!'
Dan dengan ayunan pergelangan tangannya, bola itu lepas dari jemari Naruto, melambung sangat tinggi ke atas, dan kemudian gravitasi mengambil alih, membawa bola itu kebawah.
Swish.
Bola itu masuk dengan sempurna ke ring basket, tidak mengenai apapun kecuali netnya.
'Dia melakukan teardrop shot.. Dari free-throw line?!' Kagami teriak di pikirannya, tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
Mendarat dengan kaki kirinya dengan elegan, Naruto kemudian berjalan ke pinggir lapangan, inten untuk menyelesaikan permainannya.
"Kau jelas mempunyai bakat," Ucap Naruto sembari melangkah ke pinggir lapangan. "Berlatih lah lebih keras."
Kagami hanya melihat sisi belakang Naruto sambil menyipitkan matanya. Mulutnya terbuka dengan seringaian lebar.
"Kau ingin kemana heh? Pertandingan belum selesai!" Seru Kagami semangat, mengambil bolanya kembali.
"...kau ini bego ya?"
"APA?! KATAKAN ITU SEKALI LAGI!"
"Bego." Naruto mengatakannya dengan deadpan. "Ini udah jam 8 malam. Aku tak tahu denganmu, tapi aku dan Tetsuna masih mempunyai PR Kimia yang belum kita kerjakan." Ucap Naruto dengan deadpan. "Emang menurutmu kalo kita jadi pemain basket kita gabakalan dapet PR ha?"
Naruto menghela nafasnya, berjalan ke arah pinggir lapangan, memakai jaketnya yang tadi sempat ia taruh di kursi, tidak lupa memberikan kepala Tetsuna, yang masih melihat kearah lapangan dengan mata melebar, usapan yang halus.
Sudah merapikan barangnya, Naruto melihat kearah Tetsuna. "Kau sudah siap pulang, Tetsuna?"
Tetsuna, sudah kembali ke alam sadar, menganggukan kepalanya, dan juga mulai merapikan barang-barangnya.
"Kau ikut, Kagami?" Tawar Naruto, yang kini sudah siap pulang, Tetsuna di sampingnya.
Kagami hanya menyeringai. "Heh. Aku masih akan disini. Aku masih merasa semangat."
Naruto hanya menggelengkan kepalanya mendengar itu, dan kemudian bersama Tetsuna, mulai berjalan ke arah rumah mereka.
Saat perjalanan, untuk pertama kalinya mereka hening. Saat pertama kali mereka bertemu, mereka selalu saja berargumen untuk sesuatu. Semuanya selalu diawali oleh Naruto yang memberikan komentar absurd tentang sesuatu, dan kemudian balasan tajam dan blunt dari Tetsuna.
"Naruto-kun," Ucap Tetsuna halus. Mengejutkan Naruto, karena ia kira ia yang harus memecahkan keheningan itu.
"Hmm?"
"Kakimu..."
"Eh?"
"Kakimu cedera bukan?" Tanya Tetsuna, melihat kearah mata Naruto dengan serius.
Mendengar itu, Naruto sedikit terkejut. Ia tidak menduga Tetsuna bisa melihatnya. Bahkan coachpun tidak menyadarinya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Naruto membalas tanya ke Tetsuna, sebuah seringaian terlihat di bibirnya.
"Kau melakukan semuanya dengan kaki kirimu, tidak pernah memberikan tekanan pada kaki kananmu. Ketika kau meloncat, kau melakukannya dengan kaki kirimu, ketika mendarat kau seolah selalu memastikan bahwa kaki kirimu yang mendarat terlebih dahulu, melakukan jab step dengan kaki kirimu. Kau melakukan semuanya dengan kaki kirimu, seolah tidak ingin memberikan tekanan pada kaki kananmu." Tetsuna memberi jeda sedikit. "Itu adalah perilaku seseorang yang takut sesuatu terjadi dengan kaki kanannya jika ia memberikan tekanan terlalu parah, karena itu dia melakukan semuanya dengan kaki kirinya." Tetsuna mendeduksi, mengingat sebuah pengalaman dimana Aomine mencedrai tangan kanannya, dan Akashi mengatakan kalau ia tidak akan memainkan Aomine pada pertandingan berikutnya karena takut cedranya akan tambah parah. Keesokan harinya, Aomine melakukan segalanya dengan tangan kirinya, tidak ingin tangan kanannya makin sakit, dan sekaligus membuktikan kepada Akashi bahwa ia masih bisa bermain, walaupun hanya dengan tangan kirinya saja.
"Itu..." Naruto memberikan jeda dramatis. "Adalah kata-kata terpanjang pernah kudengar darimu." Naruto melanjutkannya dengan datar.
Alis Tetsuna berkedut.
"Yah, tetapi kau benar. Kaki kananku cedera. Bukan apa-apa kok, hanya cedera kecil, bukan suatu hal yang besar. Kau tidak usah khawatir." Ucap Naruto dengan senyuman, mencoba menghilangkan kekhawatiran Tetsuna, yang daritadi melihat kearah Naruto, dengan pandangan yang khawatir yang tersembunyi dibalik wajah monotonnya itu.
Tetsuna memalingkan wajahnya dari Naruto mencoba menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
"Ba-baka.. Siapa yang khawatir."
Mata Naruto melebar mendengar kata-kata itu.
Kata-kata itu...
"A-apa ini... Tetsuna... Tsundere?!" Ucap Naruto dengan kaget, lebih kepada dirinya sendiri.
Uray-urat mulai muncul di dahi Tetsuna, aura gelap mulai mengitarinya.
"Aku kira ia Kuudere.. Dengan persona dinginnya itu... Eh? Tunggu... Ia juga bisa jadi Kuudere..."
Naruto melebarkan matanya, seolah baru mengingat kalo orangtuanya meninggalkannya uang 1 trilliun.
"Kuudere-Tsundere kombo?!"
*PLAK*
"Baka."
"Ouch..." Naruto mengusap kepalanya yang tadi dijitak Tetsuna. "Untuk seseorang yang tidak punya otot sama sekali, kau sangat keras jika ingin menyakiti orang. Kau ini Yandere sekaligus?" Celetuk Naruto.
Alis Tetsuna berkedut mendengar iru, sebuah glare ia berikan kearah Naruto, membuat Naruto berkeringat dingin.
Tanpa sadar, mereka sudah di depan rumah mereka masing-masing. Naruto, tanpa mengucapkan apa-apa, langsung membelokan kakinya, menuju sebuah rumah dengan gerbang yang terkunci.
Tetsuna menatapnya dengan deadpan.
Hening.
"Apa?" Naruto akhirnya memecahkan keheningan itu.
"Kau berada di depan rumahku." Tetsuna berkata, walaupun terdengar seperti sebuah ungkapan, nada tanya juga terdengar di nadanya.
"Wow, siapa yang mengira. Kau sangat pintar sekali, Sherlock. Aku tak tahu kalau ini adalah rumahmu." Ucap Naruto dengan sarkastik.
Alis Tetsuna berkedut lagi.
Menghela nafasnya, Tetsuna berjalan ke depan rumahnya, mencoba mengabaikan seorang pirang yang jelas-jelas ingin masuk rumahnya.
Tetsuna bukanlah seseorang yang membiarkan orang yang baru ia kenal masuk ke rumahnya, tetapi dengan Naruto.. Entahlah, Tetsuna sudah tidak tahu lagi. Menyangkut Naruto, ia hanya, ah, apa kata-katanya?
Go with the flow.
Ah ya, itu.
Mengambil kunci rumahnya dari tasnya, Tetsuna membuka pintu gerbang rumahnya. Naruto, entah tidak mempunyai sopan santun atau apa, langsung masuk duluan.
"Maa, Tetsuna, membawa orang yang baru kau kenal ke rumahmu? Ck ck ck, aku tak tahu kau wanita seperti itu." Ucap Naruto, menggoyang-goyangkan alisnya ke Tetsuna, seolah memberikan sebuah kode ke Tetsuna yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
'Kau yang jelas-jelas asal masuk ke rumah orang tanpa ijin!'
Menghela nafasnya dan mengabaikan Naruto, Tetsuna berjalan ke pintu rumahnya, ingin segera istirahat.
Melepas sendalnya dan membuka pintu rumahnya, Tetsuna kemudian menyalakan lampu rumahnya.
"Tadaima." Ucap Tetsuna. Melihat pandangan bingung dari Naruto, Tetsuna memalingkan wajahnya. "Ah.. Sopan santun. Walaupun tidak ada yang menyambutnya, sepertinya kurang lengkap kalau tidak mengucapkannya." Walaupun menyembunyikannya, Naruto bisa melihat ekspresi sedih yang ada di mata Tetsuna.
Naruto mengangguk saja, dan berjalan mengikuti Tetsuna kedalam rumah.
Rumah Tetsuna bisa dibilang... Biasa-biasa saja. Rumah dasar. Ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dicampur dengan dapur, kamar mandi, dan juga 3 kamar tidur. Bisa dibilang, ini adalah sebuah rumah normal untuk sebuah keluarga kecil.
Yang membuat Naruto sedikit terkejut adalah, betapa rapinya rumahnya. Rapi bukan karena jarang ada penghuninya, tetapi rapi, karena sepertinya setiap hari seseorang membersihkannya.
Lantai yang bersih, furniture yang bersih, dan juga, sangat rapi. Bahkan tidak ada debu sama sekali.
"Wow, aku tidak menyangka rumahmu akan sangat.. Bersih dan rapi seperti ini." Ucap Naruto, sembari duduk di sofa ruang keluarga.
Tetsuna menaikan alisnya mendengar komen itu. Ia kemudian menaruh tasnya di sofa, dan kemudian menyalakan TV yang berada di depan sofa itu, dan menaruh remotnya di depan Naruto.
"Memangnya, apa yang kau harapkan dari rumahku? Kotor?" Tanya Tetsuna.
"Sejujurnya sih, ya." Jawab Naruto dengan blunt.
"Aku suka membersihkan rumah. Lebih karena aku tidak tahu harus apa yang aku lakukan, dan sekaligus, persiapan jika Otou-sama dan Okaa-sama pulang, aku tidak ingin mereka tidur di rumah yang kotor." Jawab Tetsuna, ia kemudian berjalan ke salah satu ruangan, "Aku akan mandi dulu. Jika kau lapar, dapur di depanmu. Ada banyak cemilan di lemari atas, jika kau mau." Ucap Tetsuna dan kemudian masuk ke dalam ruangan yang Naruto asumsikan adalah kamarnya.
Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi, kali ini dengan handuk dan baju kasual di tangannya. Walaupun mencoba menyembunyikan, Naruto menyeringai sedikit ketika melihat sepasang bra dan celana dalam berwarna putih yang coba Tetsuna sembunyikan dengan ditumpuk oleh handuk dan bajunya.
"Jangan mengintip!" Ucap Tetsuna, tanpa melihat kearah Naruto sambil membuka pintu di depan kamarnya, yang Naruto asumsikan adalah kamar mandi.
"Siapa juga yang ingin ngintip dengan badan seperti itu!" Balas Naruto dengan keras.
*BUG*
"Ouch!" Bola basket entah darimana menghantam kepala Naruto, menjatuhkan Naruto ke sofa sambil mengusap-ngusap kepalanya.
'Dia nyimpen bola basket di kamar mandinya apa?' Komplain Naruto dalam hati sambil mengusap-ngusap kepalanya.
Naruto kemudian mencoba memikirkan kenapa ia memutuskan untuk masuk ke rumah Tetsuna –tanpa diundang, tentunya-.
...
Entahlah. Ia hanya sangat-sangat bosan. Dan ia kira, well, tidak ada orang di rumah Naruto, dan juga Tetsuna. Daripada mereka berdua kesepian, lebih baik mereka bersama, bukan?
Mengganti channel TV Tetsuna ke channel sport, Naruto menemukan sebuah channel yang menayangkan basket. Pertandingan ulang NBA Final 2015, Golden State Warriors melawan Cleveland Cavaliers.
'Bah, lagipula, Cavs tidak mempunyai kesempatan sama sekali. Mereka tidak bisa mengalahkan three-point Golden State, dan juga tanpa Kyrie Irving dan Kevin Love yang cidera, satu satunya pemain kompeten di Cleveland adalah LeBron.'
Melihat bahwa Tetsuna masih lama mandinya, dan ia sangat bosan, Naruto berjalan ke dapur, mencoba membuat makan malam untuk mereka berdua.
Tentu, mereka sudah stop di Maji Burger, tapi, Tetsuna hanya meminum Vanilla Milkshake dan ia hanya memakan semangkok ramen. Hanya semangkok.
Membuka kulkas Tetsuna, untuk cari tahu bahan apa saja yang ada, Naruto cukup terkejut melihat kulkas Tetsuna penuh dengan bahan makanan.
'Kurasa orangtua Tetsuna tidak terlalu buruk jika mereka masih setidaknya, perduli untuk mengirimkan uang yang banyak untuk Tetsuna. Mungkik mereka sebenarnya perduli pada Tetsuna? Huh. Siapa tahu.'
"Baiklah, chef Uzumaki akan menyajikan makan malam hari ini!"
-LineBreak-
Menyelesaikan masakannya, Naruto menaruh semuanya di meja, tepat ketika ia mendengar sebuah suara memanggilnya dari ruang tengah.
"Naruto-kun?"
Dan beberapa detik kemudian, sebuah figur muncul.
Naruto melebarkan matanya sedikit melihat Tetsuna. Tetsuna memakai daster tidur berwarna biru yang sangat cocok dengan figur kecil dan slimnya, daster itu tidak terlalu panjang, dan juga tidak terlalu pendek juga. Sebuah handuk terbaring di atas rambutnya.
Sebuah pandangan yang simple dan kawaii, tetapi untuk Naruto, ia seolah seperti melihat gadis tercantik di dunia.
"Naruto-kun?"
Suara Tetsuna membuat Naruto kembali sadar. Naruto blushing sedikit, berharap kalau Tetsuna tidak tahu kalau ia memerhatikannya tadi.
"...apa kau memerhatikanku?"
...damn.
"Siapa yang memerhatikanmu? Aku hanya baru menyadari betapa bagusnya tembok dibelakangmu itu. Beh, sangat indah, aku sangat ingin mempunyai tembok seperti itu di rumahku!"
Tetsuna menatap Naruto dengan deadpan.
"E-ehm, oke, lihat! Aku membuatkan kita makan malam! Duduk duduk," Naruto menarik sebuah kursi dan kemudian menggesturkan Tetsuna untuk duduk. "Anggaplah seperti rumahmu sendiri~"
'Ini emang rumahku.' Pikir Tetsuna, sambil berjalan kearah bangkunya dan duduk.
Di depannya, sudah tersedia menu makan malam mereka. Tersedia semangkuk nasi, sop miso, dengan tempura, ikan bakar, dan juga sayuran yang direbus.
Naruto duduk di samping Tetsuna.
"Itadakimasu!" Mereka berdua mengucapkan.
Naruto melihat kearah Tetsuna dengan antisipasi, ingin menyombongi kemampuan masaknya kepada Tetsuna, matanya memerhatikan gerak Tetsuna, yang dengan perlahan memakannya.
Tetsuna melihat kearah Naruto, yang kini memandanginya dengan ekspresi seolah seperti anjing yang menantikan pujian dari pemiliknya.
"Supnya terlalu hambar."
JLEB
"Ikan bakarnya terlalu gosong."
JLEB JLEB
"Nasinya kelembekan. Kau bahkan tidak bisa memasak nasi?"
JLEB JLEB JLEB
"Dan juga—" Tetsuna berhenti, menyadari Naruto, yang mempunyai aura depresi menyelimutinya. "...ini pertama kalinya kau memasak, bukan?" Tanya Tetsuna, mendapatkan anggukan depresi dari Naruto, membuat Tetsuna menatapnya dengan deadpan. "Lalu, bagaimana kau makan selama ini? Kau tinggal sendiri, bukan?" Tanya Tetsuna dengan deadpan.
"Ramen instan..." Balas Naruto pelan, membuat Tetsuna sweatdrop.
Tetsuna menghela nafasnya, dan kembali melanjutkan makannya. "Walaupun begini, kurasa ini masih lumayan." Mendengar itu, mata Naruto bersinar kearah Tetsuna, pandangannya seolah seperti orang yang ingin bunuh diri, tetapi baru diberikan alasan untuk hidup lagi. "Tetapi, lain kali, aku yang akan memasak." Lanjut Tetsuna.
Naruto tersenyum sedikit, mendengar Tetsuna mengatakan 'lain kali', memberi tanda bahwa makan bersama ini bukanlah untuk satu kali.
Dengan mood yang bahagia, Naruto mengambil sumpitnya dan kemudian bergabung dengan Tetsuna memakan makan malam.
...
"...rasanya seperti muntah."
"Aku tahu, aku cuma mencoba sopan saja soal tadi."
-ChapterEnd-
Oke um.. Uzumaki no Eh, Maksudnya Kuroko no Basuke (titel yang absurd, btw) kembali lagi dengan chapter yang garing. Background Naruto dan Tetsuna terbongkar, dan kalian bisa melihat sedikit kemampuan Naruto.
Untuk sedikit informasi, di luar negri, emang ada pemain 14 tahun yang langsung direkrut tim professional. Yao Ming, legenda NBA, salah satunya. (Dia main professional sejak 13 tahun), jadi, ga terlalu aneh kalo Naruto professional di umur 14 tahun.
Untuk kenapa gaada yang tau Naruto, lebih kaya karena, dari kecil Naruro emang udah di Eropa dan di luar Jepang sejak kecil, jadi ia gaterlalu dapet kepopuleran di Jepang. Tentu, beberapa orang mungkin kenal dia, tetapi ga semua orang bakal tau.
Ohya, aku harap, kalian suka dengan background Tetsuna? Maap kalo ga suka, tetapi aku selalu asumsi kalo itu adalah background Kuroko. Kuroko orangnya pendiem banget dan punya aura yang kecil, biasanya orang kaya gitu punya situasi keluarga yang buruk(?) /sotau
Maaf soal karakter Naruto dan Tetsuna yang OOC. Aku harap aku bisa ngebuat karakter lain se IC mungkin.
Chapter selanjutnya, tentu saja, pertandingan antara kelas dua dan kelas satu!
..oh btw, maap update lama. Aku ngetik ini kalo Cuma ada ide dan waktu luang doang, ga ada schedulenya. :v
Have a nice day! Ciao~
