In Spring 2017
Title : In Spring 2017/春2017年 (Haru 2017-nen)
Author : Anita Han
Genre : Romance, Drama, Humor (sedang diusahakan)
Rating : PG-15/T
Length : Chaptered (1-…)
Cast :
· Sakura Haruno (24 tahun)
· Sasuke Uchiha (24 tahun)
· Hinata Hyuuga (22 tahun)
· Naruto Uzumaki (25 tahun)
etc.
Summary :
Sakura dan Sasuke adalah sahabat sejak di bangku sekolah dasar. Saat mereka berada di tingkat terakhir sekolah dasar, Sasuke membuat janji, dia akan menikahi Sakura jika mereka tidak mempunyai pasangan saat musim semi tahun 2017. Sasuke akan menikah di tahun itu dan akan melamar Sakura di tempat yang telah ditentukan olehnya. Tetapi jika salah satu diantara mereka memiliki pasangan saat musim semi tahun 2017, maka mereka harus tetap bertemu di tempat itu dan memberikan restu pada sahabatnya. Tetapi ketika mereka akan berada di tingkat akhir sekolah menengah pertama, Sasuke harus pindah dari sekolah tersebut secara mendadak dan hilang kontak dengan Sakura. Beberapa tahun kemudian saat keduanya berada di dunia kerja, Sakura yang merupakan seorang dokter tak menyangka akan bertemu dengan pebisnis rumah dan properti yang sangat sukses yang merupakan sahabat masa kecilnya, Sasuke Uchiha. Apakah keduanya masih memegang janji masa kecil mereka?
Warning :
1. Tokoh dan Penokohan
Memilih tokoh beserta karakternya merupakan kebebasan dari penulis. Jika anda tidak menyukainya, jangan dibaca atau buatlah cerita anda sendiri maka anda bebas menentukan tokoh dan karakternya.
2. Readers, SSL, SHL, dan etika
Saya tidak pernah sekalipun menghina sebuah atau beberapa karya orang lain termasuk karya SHL. Pedoman saya, memilih tokoh dan karakternya merupakan hak dari seorang penulis. Oleh karena itu, saya tidak pernah berkomentar yang tak beretika di cerita SH. Saya hanya akan tidak membacanya atau walaupun ceritanya membuat saya tertarik, saya akan membacanya dan berkomentar tanpa mempermasalahkan tokoh dan penokohannya, tetapi tokoh harus tetaplah memiliki karakter yang mungkin seseorang miliki dalam artian tidak "berlebihan" hanya karena penulis membenci tokoh tersebut, yang akan saya lakukan adalah memberikan kritik dan saran agar karyanya dapat menjadi lebih baik. Memang benar saya tidak suka dengan SH tetapi saya akan tetap berusaha untuk berbuat adil dan bijak. Seseorang maupun beberapa orang telah berkomentar tak beretika mengenai SS. Benar, saya marah. Ini mungkin akan terlihat kasar, tapi kenyataannya SasuSaku adalah canon. Itulah prinsip saya sehingga saya tidak melakukan hal yang seperti anda lakukan. Mau seburuk tau sebagus apapun SHL menciptakan karyanya, maupun mau sejelek apapun karakter Sakura yang penulis SHL pilih, itu karyanya. Sedangkan pada saat itu juga saya tidak akan menghinanya karena prinsip saya SasuSaku is Canon. Aku harap SSL bisa untuk tahan dalam komentar buruk mengenai SS terutama Sakura. Untuk SSL dan SHL, aku berharap kalian tidak mengeluarkan sifat tak beretika kalian hanya karena tokoh dalam cerita ataupun hal yang lainnya. Damai itu indah.
Anita Han presents…
In Spring 2017 © 2016
Naruto © Masashi Kishimoto
Previously on In Spring 2017
Orang tersebut pun berbalik sambil menyodorkan tangan kirinya yang mengalami luka robek sekitar empat senti meter panjangnya.
"B… big boss?"
Sakura tergagap dengan kedua matanya yang membulat sambil memandang wajah pasien tersebut yang tengah memandangnya sambil menampilakan seringainya yang menawan.
"Lama tidak berjumpa, Saki."
"Sa… suke?
Chapter 2 – Then and Past
13 tahun yang lalu…
"Sasuke, apakah kau tahu apa itu pasangan suami-istri? Ibuku bilang pasangan suami-istri adalah ayah dan ibu." ujar Sakura kepada Sasuke.
Sasuke dan Sakura sekarang sedang berjalan pulang setelah sekolah usai. Mereka bertetangga dan bersahabat sehingga mereka sering pulang bersama dengan berjalan kaki. Cuaca sedang panas, wajar karena sekarang musim panas di Osaka.
"Kau salah menyimpulkan maksud ibumu, Sakura. Pasangan suami-istri adalah orang yang telah berjanji untuk hidup bersama. Mereka menikah." Sasuke berkata tanpa sedikitpun menoleh.
"Benarkah? Kalau begitu dengan siapakah kau akan menikah Sasuke?" tanya Sakura seraya menghentikan langkahnya dan menatap kea rah depan, kepada Sasuke yang terus berjalan.
Setelah ucapan Sakura selesai, barulah Sasuke berhenti dan kemudian berbalik menghadap Sakura kemudian menatapnya. Sakura yang memiliki rambut merah muda panjang yang ia gerai membingkai wajah cantik dan polos miliknya. Rambutnya ditiup angin musim panas. Sasuke masih terdiam dengan mata memperhatikan Sakura.
"Aku akan menikah denganmu. Aku akan memintamu menjadi pasanganku, memintamu untuk menjadi ibu dan aku menjadi ayah. Di sana, di taman itu." ucap Sasuke sambil memalingkan wajah dan menunjuk taman yang ada di dekat mereka.
Sakura yang mendengarnya entah mengapa pipinya bersemu merah dan kemudian ikut menoleh ke arah yang dituju oleh jari telunjuk Sasuke.
"Tentu saja. Bukankah kita memang akan hidup bersama."
Sasuke pun berbalik dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumah milik keluarga Uchiha. Sakura pun berlari untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Sasuke yang telah beberapa langkah di depannya.
"Sasuke, maukah kau membeli es krim dulu sebelum kita sampai? Aku sangat menginginkan es krim coklat. Panas sekali."
"Hn…"
Sakura telah selesai menjahit luka di tangan Sasuke dan sedang membereskan peralatan menjahitnya.
"Aku tidak menyangka kau berhasil menjadi apa yang kau cita-citakan selama ini." ucap Sasuke memulai percakapan setelah keheningan meyelimuti mereka.
"Banyak yang kau lewatkan Sasuke."
"Ya. Sekarang rambutmu pendek. Apa kau sudah menikah? Sudah memiliki anak?" tanya Sasuke datar.
"B-bukan seperi itu maksudku!"
"Ah… kau tetap sama seperti yang dulu Sakura. Apakah kau masih suka menangis?" Sasuke menyeringai.
Pipi Sakura bersemu karena malu. DIa sudah selesai membereskan peralatan menjahitnya.
"Aku harus pergi. Semoga cepat sembuh, Sasuke."
Sakura pun beranjak pergi tetapi sebuah genggaman di tangannya membuatnya berhenti untuk melangkah.
"Tidakah kau merindukan sahabatmu ini?"
"Mana ada sahabat yang meninggalkan sahabatnya sendiri tanpa ada kabar. Dan ya… aku masih suka menangis saat kau tidak ada pun, aku tetap melakukannya. Tapi itu adalah dua tangisan. Aku hanya menangis dua kali saat kau telah meninggalkanku. Sekarang aku tidak menangis lagi. Mereka yang terakhir, aku rasa."
Sasuke menatap wajah Sakura yang tidak menatapnya, yang berada lebih atas dari wajahnya karena dia duduk di ranjang sedangkan Sakura berdiri.
"Aku harus pergi, Sasuke. Aku masih punya pekerjaan lain."
Sasuke melepaskan genggaman tangannya di tangan Sakura. Sakura pun bergegas pergi setelah berkata, "Senang bertemu denganmu lagi".
"Sasuke, aku dengar kau berpacaran dengan Shion. Apakah itu benar?" tanya salah satu teman laki-laki Sasuke.
"Iya. Memang benar."
"Ya ampun. Ternyata kau normal Sasuke. Maksudku, aku selalu berpikir bahwa kau berpacaran dengan Sakura tetapi ketika aku bertanya hal itu padamu, kau membantahnya. Itu membuatku curiga kau itu seorang gay."
Sasuke langsung menatap temannya tersebut dengan tatapan mengintimidasi. Mereka sedang berada di kantin Osaka Junior High School.
"Kau cari mati ya, Shikamaru?" tanya teman Sasuke yang lain yang berkulit pucat.
"Tidak Sai, aku hanya ingin tidur."
Laki-laki yang bernama Shikamaru itu langsung merebahkan setegah badannya di atas meja kantin dan memulai menutup matanya. Sasuke tak habis pikir mengapa temannya yang satu ini suka sekali berbicara hal yang aneh dan tertidur dimana saja.
Bel masuk berbunyi. Semua siswa dan siswi meninggalkan kantin secara berangsur-angsur. Sasuke pun pergi ke kelasnya. Dia masuk ke dalam kelas 8-1 dan telah mendapati beberapa siswa dan siswi di sana. Pada akhirnya semua kursi telah penuh dan datanglah guru untuk mengajar.
Sakura dan Sasuke turun dari bis dan kemudian berjalan menuju rumah mereka. Mereka selalu akan melewati taman itu, taman yang dijadikan Sasuke sebagai taman untuk melamar Sakura jika mereka tidak memiliki pasangan saat musim panas 2017. Sakura melirik sekilas taman itu dengan pandangan sedih. Kemudian dia memasang wajah cerianya kembali ketika selesai dengan memandangi taman itu.
"Aku dengar kau sudah berpacaran dengan Shion. Aku kira kau tak laku Sasuke."
Sakura tertawa jenaka setelah mengatai Sasuke dengan sebutan "tak laku" tetapi sebenarnya dia tertawa karena lebih peduli untuk menyembunyikan perasaannya yang sakit.
"Aku pikir kita tidak akan menjadi pasangan suami-istri. Kau tidak akan melamarku di taman itu. Memang janji anak kecil pastilah kekanak-kanakan."
Sesuatu membuat Sasuke berhenti sedangkan Sakura belum menyadari jika Sasuke tertinggal di belakangnya. Sasuke merasa sesuatu mencubitnya dari dalam.
"Jika kita sudah memilik pasangan saat musim semi 2017, kita harus tetap pergi ke taman itu. Kita harus memberikan restu satu sama lain."
Sakura berhenti dan berbalik menghadap Sasuke yang berbicara. Kelopak bunga sakura beterbangan saat mereka saling menatap.
"Tentu."
Tok… tok… tok…
"Masuk."
Sebuah suara dari dalam memberitahukan bahwa Sakura bisa masuk. Sakura memutar knop pintu dan sampailah ia kepada temannya yang berambut kuning. Temannya masih memeriksa beberapa berkas rumah sakit yang meginformasikan keadaan pasiennya. Dokter Naruto adalah salah satu dokter spesialis Jantung di Tokyo Hospital.
"Apakah kau masih sibuk? Jika ya, kita bisa makan siang bersama di lain hari."
"Tidak. Tunggulah sebentar. Aku akan membereskannya."
"Baiklah."
Pagi hari udara terasa dingin apalagi ini musim gugur. Sakura sedang menghabiskan sarapannya.
"Ibu, apakah Sasuke sudah datang? Dia tidak biasanya terlambat. Apakah mungkin dia sudah datang dan bilang akan berangkat sendiri karena aku akan membuatnya menunggu lama?"
"Ah… keluarga Uchiha sudah pindah tadi malam, sayang. Mereka memang mendadak pindah. Ibu dengar mereka pindah ke Tokyo."
Sakura terdiam beberapa saat dan kemudian menggeser kursinya.
"Aku sudah selesai."
Sakura memakai sepatu sekolahnya dan kemudian membuka pintu.
"Aku pergi."
"Hati-hati Sakura."
Sakura berjalan menuju halte bis setelah melihat rumah di sebrang jalan terlihat tak berpenghuni. Sedikit demi sedikit langkahnya bertambah cepat dan akhirnya dia berlari. Saat itulah dia menangis dengan air mata yang deras.
"Sasuke, ini keterlaluan. Tidakkah kau tahu apa itu ponsel? Setidaknya kau bisa mengabariku menggunakan itu. Kejahilanmu sungguh keterlaluan sekarang."
Sakura menunggu di halte bis sambil menyeka air matanya.
To Be Continued…
Dimohon untuk reviewnya. Mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan tidak langsung emosional atas orang lain. Bantu saya dalam melakukannya.
Jadilah pengguna internet yang memiliki netiquette (internet etiquette) atau etika berinternet.
Beri komentar dan kritik untuk membuat saya lebih baik lagi dalam menulis *bow*
