Dims Star

-Chapter 1-

Proudly Present

Arit291

Cast : Kim JongWoon (Yesung), Lee HukJae, Kim YongWoon (Kangin)

Pairing: YeHyuk, KangHyuk, xHyuk

Rate : T

Genre: Angst, Family

Disclaimer : GOD and Themselves

+HAPPY READING+

Summary: Aku hidup karenanya. Tak masalah jika semua orang tak menginginkan keberadaanku. Cukup dia ada dan memberikan senyuman manisnya untukku. Semuanya tak apa. Pernah kau mengalami kisah hidup yang dikucilkan oleh keluargamu sendiri hanya karena kau berbeda dan aneh? Jika ada, kau tak perlu takut. Carilah kebahagiaanmu dan bertahanlah demi mereka, maka kau akan bisa setegarku hingga kau merasa kuat untuk melawan dunia ini. Dan lembaran perjalanan hidupku semuanya bermula dari sini. Ketika aku beranggapan hidup itu tak pantas untuk orang 'ANEH' sepertiku.

.

.

.

Author POV

" Yeobo, kenapa kau lama sekali? Aku merindukanmu"

" Tidak, bukan begitu. Aku hanya— ya, baiklah jika kau tak bisa. Aku akan minta Pak Kang mengantarkanku. Tidak apa. Kau teruskan saja pekerjaanmu. Aku mencintaimu." Dan wanita itu menunduk. Sedikit kecewa dengan jawaban yang diterima Suaminya. Tidak mau larut dalam suasana sedihnya, ia melangkah. Meletakan ponselnya di atas nakas, dan berajalan pelan menuju sudut pintu. Mengenakan jaket coklatnya yang sepanjang lutut dan keluar dari kamar.

" Yoona, Ibu pergi sebentar ne, Diluar sedang dingin. Ibu tak mungkin mengajakmu." Lirihnya lalu mengecup kening sang putri sulungnya yang sedang tertidur damai. Mata si Ibu sedikit berkaca. Mengingat betapa lama ia mengabaikan putrinya yang sedang nakalnya saat ini. " Ini demi adikmu. Kau ingin dia tampak sehat kan? Baiklah Ibu pergi sebentar. Sepertinya ia menginginkan sesuatu di luar sana." Bisiknya mengelus perutnya yang sudah mulai membesar. Mengingat sekarang sudah memasuki bulan ke 7. Tinggal beberapa bulan lagi bukan? Sang Ibu, untuk terakhir kalinya kembali mengecup kening sang buah hati sebelum benar-benar meninggalkan kamar pribadi yang baru saja di tempati anaknya 1 minggu lalu. Ia tersenyum tipis, menyeka air matanya agar tak melunturkan riasan wajahnya yang seadanya dan menutup pintu itu sepelan mungkin dan turun ke lantai bawah.

" Pak Kang, antarkan aku ke Toko Buah"

.

.

.

" Nyonya, hmm… apa sebaiknya kita tidak langsung pulang saja?" Tanya Pak Kang, sedikit canggung. Pasalnya ini sudah jam 10 malam. Ia tidak mau Istri tuannya terjadi apa-apa. Terlebih dengan kondisi sang bayi saat ini.

" Tidak Pak Kang, aku mau ke kantor suamiku dulu. Aku merindukannya. Hanya sebentar."

" Baiklah Nyonya."

15 menit sudah berlalu.

Si wanita dengan jaket coklatnya sekarang sudah berada di dalam lift kantor. Ia melarang Supirnya ikut dikarenakan ia bukanlah wanita lemah. Kandungannya tak kan membuatnya kenapa. Dan ia percaya. "Yeobo, Aegyakita merindukan belaianmu" bisiknya parau. Tapi meski begitu, seulas senyum teretas dari bibir mungilnya yang merah. Ia tak sabar ingin berjumpa dengan pasangan hidup sematinya. Yang belakangan ini tampaknya begitu sibuk dengan pekerjaannya.

.

.

.

" I-iini tidak mungkin kan? "

Pandangan itu penuh luka. Air mata itu tak terhitung jumlahnya.

SAKIT!

Itu yang di rasakan sang wanita yang tengah menahan rindu dan juga dinginnya malam di Musim dingin seperti ini. Setelah pintu itu di bukanya, bukan pandangan sang suami yang tengah berkutat dengan kertas-kertasnya yang ia lihat. BUKAN. Tapi, tapi..

" Kim Se Na?"

Wajah itu menegang. Kaki itu melemas. Dan mata itu sungguh memancarkan rasa bersalah yang mendalam. Kenapa? Kenapa sang istrinya ada di saat yang.. TIDAK TEPAT?

" Jawab aku ini hanya mimpi kan Yeobo? Siapa wanita telanjang yang tengah kau cumbui itu? Apa sekretarismu? Pelac*rmu? JAWAB AKU KIM YON SUK."

Jeritnya histeris. Sakit sungguh sakit hatinya menerima kenyataan seperti ini. Ia memukul keras perutnya. Tak menghiraukan rasa sakit yang menderanya. Sungguh. Ia bahkan tidak ingin mencatat memori ini dalam kepalanya. Dua orang yang sedang bersetubuh di Sofa kerja suaminya. " Anakmu membutuhkanmu, dan kau melampiaskan hasrat bej*t mu di sini! Aku benar-benar kecewa. Kau tau Sungie sebentar lagi akan lahir kan, dan kauu? KAU? Argghh. " Tiba-tiba ia meregang. Suaminya mencekal pergelangan tangannya tiba-tiba.

" Sena-ah, Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku, aku, argghh dan Kau? Cepat keluar dari kantorku SEKARANG!. Tunggu apa lagi!" Wanita yang menjadi dalang dari keributan rumah tangga sepasang suami istri itu, hanya menunduk, memungut sisa-sisa pakaiannya yang berserakan di lantai dan segera keluar. Tak berani memandang dua sejoli itu yang tengah berdebat hebat di depan pintu. Tapi dibalik wajahnya yang tertunduk. Ia menyeringai. Puas.

.

.

.

" Sena- ah, dengarkan aku. Ini, ini tidak. Ahh—" Lelaki tampan itu frustasi. Ia meninjukan kepalan tangan kosongnya ke udara. Ini pertama kali dalam hidupnya ia kepergok. Sungguh. Ini benar-benar membuatnya malu. Ia terlihat bajingan sekarang. Di jelaskan pun percuma. Siapa yang akan percaya hah? Shit!

" Aku benar-benar kecewa padamu Yon Suk. Hiks, aku pikir kau benar-benar bekerja demi aku, demi anak-anakmu. Tapi kau? Sejak kapan kau bersamanya hah?" Marah itu sudah sampai ubun-ubun. Ia kalap. Wanita yang tengah mengandung itu benar-benar di atas puncak emosinya.

" Aku tidak menjalin hubungan dengannya. Sungguh. Percaya padaku Sena-ah." Mata itu penuh kejujuran. Air mata hamper turun membasahi pipinya. Takut. Anak ke-2 yang sedang di kandung istrinya itu, bisa saja kena imbasnya.

" Sekarang, mulai sekarang. Kau bukan lagi suamiku. Anak ini, Yoona dan aku. Tak kan menganggapmu ada. Kau paham? Yesungie tak kan punya Ayah sepertimu. Kita akan bertemu di pengadilan nanti. "

Dan setelah mengucapkan itu, Suami mana yang tidak serangan jantung? CERAI? Pernahkah terlintas di kepalamu? Dan tanpa sadar, ia mengejar langkah istrinya yang sudah duluan keluar.

"Shit! Liftnya penuh." Tak ingin tertangkap oleh suami-ralat-mantan suami-nya sebentar lagi. Si wanita mengambil inisiatif menuruni tangga yang kebetulan berada di sudut ruangan kantor. Dan 5 langkah sebelum suami menyentuh pergelangan tangannya, semua terjadi begitu saja. Kaki wanita itu terpeleset hingga badanya lebih dulu menyentuh lantai.

"KIM SE NA"!

.

.

.

" Selamat Tuan. Bayi anda telah lahir. Walau sedikit premature. Tapi dia SEHAT. Dan istri anda juga sehat. Begitulah berita yang ia dapatkan setelah mengantarkan istrinya ke Rumah sakit 2 jam yang lalu. Sang suami menangis haru. Setidaknya dua nyawa terselematkan. Dia tidak peduli lagi yang lain. Dan seolah telah melupakan ia baru saja di gugat oleh sang istrinya, ia segera menghampiri istri tercintanya dan terakhir mengunjungi kamar aegya ke-dua nya.

" KIM JON WON. Yesung-ah itulah namamu. Putraku" Serunya ketika melihat bayi itu tersenyum.

1 tahun kemudian

" DIA CACAT. Dia bukan anak ku. Lihat. Sudah 1 tahun bahkan dia belum bisa berjalan benar. Ahhh dia bukan anak ku."

" Sena, jaga ucapanmu. Kau tak ingat. Dia anak kita. Yesungie hanya butuh sedikit perawatan lebih lama. Ia bisa berjalan. Percayalah."

" Dia bukan anaku. Dia bukan anak ku. Ahhhhh"

2 tahun kemudian

" SUNGIE, Jangan pegang itu. Kenapa kau tak mendengarkan kata Noona mu ini? Itu kotoran hewan. Ah ayo kita cepat masuk. Nanti Eomma marah."

" Yak! Jangan di sentuh PABO! Kenapa kau tak bisa membedakan mana yang kotor. Ahh aku malu jadi Noonamu." Jitakan itu berhasil memecah tangis si bungsu. Membuat sang Appa yang berada di ruang kerjanya di lantai 1 terusik.

" Yoona, jangan pukuli adikmu. Dia tidak tahu apa-apa."

" Tapi dia bodoh Appa. Adik teman Yoona yang 1,5 tahun saja bahkan lebih pintar dari Sungie. Aku tak mau punya adik seperti dia. Huh."

" Huee,, hueee,,,, gak ada yang sayang Sungie, hueeeeeee"

"BERHENTI MENANGIS PABO! "

" Yak! YOONAA"

" Ahh, Bela saja dia terus Appa. Dan kau bodoh, kau bukan adik ku. Ingat itu baik-baik! " Dan dengan hati miris, sang kepala keluarga jongkok, mensejajarkan tinggi mereka, mengusap kepala anak lelaki satu-satunya dengan air mata yang tertahan.

" Mianhae Sungie, Mianhae. Semuanya salah Appa. Mianhae membuatmu seperti ini. Hiks."

3 tahun kemudian

" Appa, huee,, jangan tinggalkan Sungie, Hueee Sungie tidak mau sendirian. Hueee"

" Yeobo, terima kasih untuk semuanya. Aku benar-benar tidak percaya kau meninggalkan banyak harta untuk kami. Kau takut kami kekurangan kan? Hiks,, Yoona mu semakin besar sekarang. Sebentar lagi dia akan TK. Kau senang kan? Yoona, beri salam penghormatan untuk Appamu."

" Appa, kau sudah di surga kan? Yoona akan jadi anak yang membanggakan untuk Appa. Percayalah. Yoona pasti bisa membuat Appa bangga."

4 tahun kemudian

" Sungie, Noona bilang jangan besarkan suaramu. Ahh teman-teman Noona pada lari. Kau menyebalkan. Kenapa kau harus jadi adik ku hah?. "

5 tahun kemudian

" Sungie membuatku malu Eomma. Hiks, dia memasukan serangga ke dalam tas temanku. Hiks sekarang Yoona benar-benar di benci. Dia bilang, Sungie itu anak idiot. Huaaaaaaa. Yoona benar-benar membencinya sekarang!"

6 tahun kemudian

" Kura-kura. Kura-kura. Hahahaha. Mainan. Hahahaha. Pasir. Hahaa.

Suara berat basah si bungsu menggema di dalam ruangan gelap nan basah itu. Rupanya ia tengah berkubang dengan lumpur yang ada di sudut taman. Beberapa mata memandangnya. Menatap heran padanya. Masalahnya anak siapa yang bermain seperti layaknya anak 'sedikit-tidak'normal' itu dan meninggalkannya sendirian?. Dan karena kebetulan sang Ibu yang kebetulan lewat di situ, dengan suara keras, ia memanggil sang Umma dengan senyumnya yang amat lebar. Membuat sang Ibu malu dan langsung pergi dari area tersebut. Tau karena apa? Salah seorang Ibu-ibu terdekat darinya mengatakan " Ternyata ini Ibu anaktak normal itu. "

7 tahun kemudian dan seterusnya

" Ddangkoma, jangan diam saja. Ayo bicara. Tidak satupun yang mau main sama Sungie. Menyebalkan bukan? Para pekerja di rumah sama saja. Melarang ini-itu. Cih! Memangnya Sungie anak kecil apa? " Dan ia terus berceloteh dengan kura-kura kebanggannya di dalam kamar. Berbicara tanpa henti di sana. Mungkin ia tak sadar, Kakaknya mendengar dari kamar sebelah.

" Umma, dia bukan aneh lagi tapi AUTIS. Bicara seperti orang gila. Apa yang harus Yoona lakukan?

14 tahun sekarang

" Ini semua karena kau lagi. Ahh sampai kapan kau akan membuat kami malu hah, kau sudah remaja Sungie. Dan kau tau apa yang kau lakukan tadi? Kau bermain dengan seorang relasi Eomma. Ahh kau benar-benar membuat keluarga kita malu. Malu. Kau tau? " Yonna histeris. Dia tidak tahan hingga membeturkan kepala adiknya berulang di wastafel. Menangisi dirinya yang harus mengalami tekanan seberat ini.

" Sekarang cepat kau masuk kamar. Asal kau tau, aku benar-benar membencimu" Yoona mendorong kasar adiknya hingga jatuh telungkup di lantai. Ia menyeka kasar air matanya dan membanting pintu itu. Lalu menguncinya. Tak peduli adiknya lecet-lecet akibat perbuatannya tadi.

Yesung POV

" Noona, buka pintunya. Sungie mau keluar. Noona" aku beteriak. Menangis. Sungguh. Tak peduli dengan kondisiku saat ini. Aku hanya memikirkan Hyukkie. Ada apa dengannya? Kenapa dia pingsan? Gelang yang dicarinya ada padaku. Hiks,, buka Noona. Aku terjatuh. Memeluk kedua lutut ku di depan pintu. Sungguh, jika bisa di putar ulang, aku tak kan membuatnya menangis. Hyukkie. Aku harus keluar. Argghhhh!

Aku meninju kaca jendela. Lumayan. Walau ada terali besi, tapi aku pernah membukanya 1 kali . Sudah lama sih. Dan aha! Bisa. Aku turun mengendap. Meloncat ke pohon yang ada di lantai 2 kamarku. Langsung berlari ketika sudah menyentuh permukaan tanah dan berlari ke gerbang utama. Aku harus mencari Hyukkie sampai ketemu. Tidak peduli harus mencari kemana. Dan tak peduli dengan kepala ku yang ada darah bekas penganiayaan Noonaku. Aku bodoh bukan? Autis bukan? Tak apa. Aku terbiasa karena ini salahku. Terlahir dengan keadaan tak sempurna.

.

.

.

Some One POV

" Kalian siapa? Hyukkie mau lewat. Minggir!

Aku mendengar ada suara minta tolong. Owhh kedengarannya lembut. Aku terka dia mungkin seorang yeoja. Dan yup.. I found it! Segerombolan remaja tengik tengah mengerubungi seseorang. Tuh kan aku benar. Dia pasti yeoja? Kalau tidak mana mungkin dikerubungi ikan busuk itu. Cih menganggu kegiatanku saja. Tapi lumayan lah. Bisa jadikan mangsa nih. Hehe

Aku menghampiri mereka semua. Dengan langkah santai aku menyapa mereka semua.

" Hei kalian, mau ngajak ku bergabung?"

"Kau siapa hah? Jangan ikut campur. Ini urusan kami. Ayo anak manis, serahkan tubuhmu itu, ohh ayolah. Atau begini saja, kau temani kami malam ini di Club bagaimana?"

Cih! Apa dia bilang barusan. Club? Anak kecil seperti mereka? Aku mendengus. Mereka tampaknya mendengar. Baguslah.

" He, apa yang kau tertawakan hah? Kau pergi saja sebelum kami habis kesabaran."

Aku kembali melangkah. Ingin tahu rupa mereka semua. Tentunya sang target juga. Siapa tahu uang nya banyak. Haha

" Ayo sini anak manis"

Cup~

Sebuah kiss di leher ok! Ini sudah keterlaluan. Aku melihat anak itu langsung menunduk dengan kemeja kebesarannya. Bahunya gemetaran. Aku meregang tanpa sebab. Ada apa ini? Tak pernah aku begini sebelumnya. Tapi darahku terasa mendidih. Dan kesal karena si pelaku yang sama berusaha mengecup leher korban lagi, aku memegang lengannya.

" Hadapi aku dulu bocah"

Desis ku disertai gigi bergemeletuk. Aku marah. Sungguh. Dan langsung membantingnya ke tanah. Memancing emosi teman lainnya.

" Siapa kau HAH?"

" Aku? Kalian Tanya siapa aku? Ok baiklah!"

Aku kembali menendang kaki seseorang yang berada di sebelah kiriku. Belum puas melayangkan berapa pukulan ke perutnya.

"NAMAKU"

Teriak ku kembali menendang orang ketiga yang ada di kananku, dan satu di belakangku. Entah kapan. Aku tak menyadari kehadirannya. Satu pukulan serta tendangan di wajah telak mengenai mereka semua. Cih! Hanya begitu saja! Payah.

"CHO!"

Dan orang pertama yang jatuh tadi, merasa dipermalukan ia kembali bangkit, melayangkan pisau. Main curang rupanya.

"KYU!"

Teriak ku dan mematahkan tangan si mesum itu, dan ia memekik kesakitan. Membuatku puas.

" HYUN!"

Aku menendang orang terakhir, orang ke lima yang langsung ambruk hanya dengan 1x tendangan di punggung saja. Ahh tidak menarik.

" Ampun, ampuni kami. Dia milikmu sekarang" Dan mereka semua meninggalkan si manis yang masih saja dengan posisi berlututnya itu. Hah, dasar anak perempuan.

" Baiklah. Ingat namaku baik-baik! Teriakku saat mereka menghilang begitu cepatnya.

" CHO KYU HYUN"

Teriak ku lantang dan menyeka hidungku yang gatal. Ahh ini memang mudah.

Tebeceh. Bagaimana readers semua? Abis part ini ada Ikan loh, eh maksudku Donghae di Chap depan. Rencananya setiap part, mau ku buat 5000words. Itu kalau ada yang mau baca. Kalau tidak yeaa beginilah setiap partnya ^^ Gomawo untuk yang koment kemarin..