Naruto © Kishimoto Masashi.

This is a work of fanfiction. No material profit is taken.


parade memori

A Naruto fanfiction

.

.

Pria yang dipanggilnya 'Sasuke-kun' itu mengerang kecil sembari menguap lebar sebelum akhirnya kembali bergelung di bawah selimut, mempersempit jaraknya dengan putranya yang masih pulas bergelung di sisinya. Tawa renyah wanita bermata giok itu pecah, setengah geli melihat tingkah pola dua cintanya itu.

"Sasuke-kun... Ini sudah pagi," tangannya kembali bergerak mengusap kepala suaminya, gemas melihat reaksi suaminya yang tak kunjung bangun. "Sasuke-kun..." panggilnya sekali lagi dengan sabar.

Sasuke mengerang tertahan saat sensasi geli menjalari bagian perutnya, membuat kantuknya menguap begitu saja.

"Sakura, aku masih mengantuk," erangnya memelas. Disusupkannya wajahnya ke tumpukan bantal empuk di sisinya. Tangannya masih mengapit setia tubuh gembul putranya, menggesernya sedikit untuk lebih dekat dengannya.

"Sasuke-kun, kau bilang hari ini ada rapat di kantor dengan Tou-san."

Sasuke mengerang semakin keras. Dengan ogah-ogahan, pria berambut raven itu mengangkat kepalanya, setengah mengerjap memandang istrinya yang berdiri di sampingnya dengan senyum manis. Ia menghela napas sejenak, sebelum menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang. Mata sayu Sakura memandang mata onyxnya dalam-dalam sambil tersenyum.

"Ne, ohayou, Sasuke-kun," sapanya sekali lagi.

"Hn. Oyahou, Sakura," jawabnya tanpa melepas kontak mata mereka.

Dan untuk kesekian kalinya dalam hidup wanita dua puluh empat tahun itu, ia terjebak lagi dalam pesona mata Sasuke. Ingatannya berputar kembali, ke saat dimana untuk pertama kalinya, emeraldnya bertemu pandang dengan bola mata malam itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia kehilangan detak jantungnya, seolah memandangnya adalah lebih dari cukup untuk hidup.

Seorang gadis blonde berjalan di sisinya sambil memeluk kantung penuh kertas. Dirinya sendiri tengah kerepotan membawa tas plastik berisi banyak pamflet yang tidak lagi digunakan. Langkahnya terburu menyesuaikan langkah lebar sahabatnya itu. Rok lipit seragamnya tertiup angin, membuat gadis itu harus berkali-kali berhenti untuk sekedar menurunkan roknya.

"Ayo, Sakura, lebih cepat! Panas sekali!" Gadis blonde itu menghentakkan kakinya, memaksa sahabatnya itu untuk berhenti membenahi roknya dan mulai melangkah.

"Iya, sebentar!" Dengan langkah terburu, gadis pink itu kembali melangkah, tak lupa kembali menjinjing tas plastik yang tadi diletakkannya di sisi kakinya.

"Panas sekali, sih! Aku ingin cepat-cepat libur! Musim panas, yeah!" Ino, gadis blonde hiperaktif itu mengepalkan tangannya dan mengacungkannya tinggi-tinggi ke udara. Wajahnya memerah semangat, ditambah dengan suhu udara yang luar biasa tidak bersahabat.

Sedangkan Sakura hanya tersenyum tipis, lebih memilih fokus pada barang bawaannya yang lumayan berat. Beberapa kali ia mengaduh karena tas plastik yang dijinjingnya nyaris sobek.

"Gendong saja seperti aku," saran Ino dan diiyakan oleh Sakura.

Mereka mengobrol sembari berjalan. Tidak ada yang lebih menyiksa dari pada harus berjalan di tengah halaman sekolah mereka yang luar biasa luas dan gersang, sedangkan teman-teman mereka menikmati pendingin ruangan. Beberapa kali Ino merutuki ketua OSIS pemalas mereka yang seenaknya menyuruh mereka melakukan ini. Di sampingnya, gadis dengan lesung pipi itu tersenyum simpul, memilih menjadi pendengar yang baik.

Diedarkannya pandangan ke seluruh halaman sekolah mereka yang luas. Tidak banyak pohon-pohon yang tumbuh. Hanya ada beberapa pohon besar, itu pun jaraknya saling berjauhan. Tanaman-tanaman yang lain pun hanya sekedar tanaman bunga yang merambat dan tidak bisa dipakai sebagai peneduh jalan. Sekolah dengan bangunan kuno itu berdiri garang melawan matahari yang gencar mengirim panas ke bumi.

Memasuki minggu pertengahan musim panas. Seharusnya ia sedang liburan sekarang. Tapi apa daya, statusnya yang sebagai anggota komite siswa memaksanya untuk bekerja lebih di hari libur. Tugasnya tentu saja, menangani kekacauan selepas pekan olah raga yang setiap tahun diadakan sebelum libur musim panas. Sekitar dua puluh siswa lain pun terpaksa tinggal lebih lama di sekolah dan menunda jadwal libur mereka. Dengan kelapangan hati yang setengah dibuat-buat, akhirnya mereka mengiyakan perintah kepala sekolah mereka untuk kerja tanpa upah di hari libur.

Dari kejauhan terdengar celoteh riang beberapa siswa sekolah mereka. Dari pita merah yang disematkan di lengan mereka, mereka berdua mengenali segerombolan kakak tingkat mereka itu sebagai anggota kepanitian. Jangan salahkan mereka berdua kalau tidak mengenali anggota organisasi mereka. Karena memang ada gap besar antara junior dengan seniornya.

Langkah mereka berdua terhenti, menunggu senpai mereka lewat. Gadis dengan bola mata emerald bulat itu mengamati satu per satu senpainya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menoleh, atau bahkan menyadari kehadiran dirinya dan Ino yang mematung dengan wajah merah menahan panas. Satu dari mereka yang berjalan paling belakang, dengan tangan di kedua saku, mengedarkan pandangangan dan langsung bertemu mata dengan gadis emerald itu.

Sakura bersumpah, rasanya seperti menonton tayangan slow motion. Ia dengan jelas menatap mata onyx yang dingin itu. Sebongkah es di tengah gurun. Gadis itu terdiam, tidak merespon. Mata mereka masih bertemu, saling beradu. Tidak berniat memutus kontak mata. Pemuda dengan rambut berantakan itu memperlambat langkahnya. Menatap gadis itu lama, lamat-lamat meneliti iris mata jernih yang menyimpan sejuta warna hijau itu.

Mereka berdua saling menatap, merasakan getaran asing dalam diri masing-masing. Yang ia yakini, bahwa ia akan terikat dengan mata sepekat malam yang berhasil menawannya itu.