Seharusnya aku tidak ikut Yugyeom kemarin. Sial anak itu ternyata menjadikanku barang taruhan. Memangnya aku ini apa ? Shit. Akan aku buat club mu bubar dan Mark sialan itu ugh... ingin ku remukkan tubuh rampingnya itu. Haishh jinjja membuatku pusing saja memikirkannya.
Sekarang aku harus lepas dari namja itu. Bagaimana caranya ? aigoo~ nan michil geotgata.
"hyung, aku ingin bertemu denganmu sekarang. Aku ingin membicarakan masalah semalam." Ucap Jungkook saat sambungan teleponnya telah tersambung dengan seseorang.
"ok, tapi tentang apa Kook ?" jawab orang itu dari seberang telepon.
"aku berencana untuk membubarkan Club sport car's G7, bila perlu habisi mereka tapi jangan sampai mati, aku tidak mau kita masuk penjara." Serunya berapi-api.
"Yak!!! Apa kau bercanda ? yang benar saja. Sebenarnya apa yang terjadi semalam ?" tanya orang itu.
"jangnan aniya!! Yoongi hyung. Holly shit. Mereka menggunakanku sebagai imbalan taruhan balapan mereka semalam dengan Club sport car's Bangtan. Mereka pikir aku ini barang apa ? hell no!!" kesal Jungkook.
"omo jinjjaya ? baiklah kalau itu alasanmu. Aku bisa mengurusnya dengan anak anggota lain. Kau tidak perlu khawatir. Siang ini tidak usah bertemu. Datang saja ke basecamp setelah pulang kuliah siang ini." Yoongi kemudian memutuskan sambungan secara sepihak.
"yak!! Haishh...dasar. Yoongi hyung kau membuat mood-ku semakin buruk sekarang." kesal Jungkook saat sambungan teleponnya diputus oleh Yoongi begitu saja.
"kalau begini aku menyesal hari ini datang ke kam-
"hei."
Seseorang memanggil namanya membuat kaliamat yang keluar dari bibirnya terhenti. Jungkook berbalik melihat siapa yang memanggilnya. 'shit' umpat Jungkook dalam hati.
"apa." Jawab Jungkook ketus.
"ya, sopanlah sedikit aku ini sunbae-mu." Tegur orang itu.
"persetan dengan kau adalah sunbae-ku. Apa perduliku ? memangnya kau siapaku ? hyung bukan, teman juga bukan, apalagi keluarga" Sungut Jungkook.
Tatapan Taehyung mengeras, mendengar kalimat itu keluar dari namja manis didepannya itu membuat hatinya panas. 'ada apa denganmu Kim Taehyung, kenapa kau marah mendengar kalimat itu ? bukankah kau sudah biasa mendengarnya dari orang lain ?' pikir Taehyung.
"lagi pula kalimat 'kau sudah menjadi milikku sekarang.' Semalam tidak berlaku, karena Mark memakai cara licik untuk mendapatkanku sebagai imbalan untukmu, bahkan tanpa
persetujuanku dia memberikanku padamu begitu saja. Tsk... memangnya aku barang apa ?" sambung Jungkook, matanya memancarkan kekesalan yang amat sangat.
Wajah Taehyung semakin mengeras. Dengan gerakan cepat ia menangkap kedua bahu Jungkook kemudian mendorongnya kuat membuat punggung Jungkook membentur kuat tembok di belakangnya. Jungkook meringis merasakan nyeri di punggungnya.
Kedua telapak tangan Taehyung menepuk keras dinding di samping telinga Jungkook sebagai tumpuannya. Jungkook berjengit kaget. 'ugh... jantungku serasa ingin copot, sialan.' Ujar Jungkook dalam Hati.
"kau pikir aku peduli dengan Mark yang memakai cara licik dan persetujuanmu sebagai imbalan balapan semalam hah ? kalau aku sudah bilang MILIKKU maka tidak ada satupun yang bisa membantahnya termasuk dirimu." Taehyung menekankan kata 'milikku' dengan wajah yang sedikit memerah menahan amarahnya. Mahasiswa yang berlalu lalang yang melihat perdebatan itu hanya bergidik ngeri. Baru kali ini mereka melihat seorang Kim Taehyung marah.
Jungkook terdiam menatap Taehyung. Ia menghela nafas sejenak. "menyingkirlah dari hadapanku sekarang. Aku sedang malas berdebat dengan orang lain." Jungkook menepis kuat kedua tangan Taehyung yang menghalangi jalannya bermaksud untuk beranjak dari tempatnya. Sayangnya Jungkook harus merasakan punggungnya kembali terbentur ke dinding.
Taehyung mencengkram kuat dagu Jungkook dengan kuncian dari jari telunjuk dan ibu jarinya. "dengar ini baik-baik. Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang memang milikku. Salahkan dirimu sendiri mengapa kau bisa termakan rayuan mereka hah ?" Taehyung sudah tidak bisa menahan amarahnya kali ini.
Jungkook menatap Taehyung datar. Untuk yang kedua kalinya Jungkook menepis tangan Taehyung. "kau pikir aku takut dengan gertakanmu ? tidak!! Aku tidak takut sama sekali. Aku tidak ada kaitannya dengan imbalan balapanmu dengan Mark. Kau sudah mendapatkan mobil Mark, kenapa memaksaku untuk menjadi milikmu eo ? memangnya aku barang yang bisa di perjual belikan? Memangnya aku barang yang bisa di mainkan kesana dan kesini. Hell no!"
"aku tidak mau dengar alasan apapun itu dari mulutmu. Aku sudah bilang padamu jika aku sudah berkata ya tetap ya, tidak tetap tidak dan milikku tetap akan menjadi milikku."
"terserah apa katamu aku tidak perduli." Setelah mengatakan itu Jungkook mendorong kuat tubuh Taehyung agar menjauh darinya, kemudian ia beranjak pergi dari tepat itu. Ia menggeram kesal. "ugh... se-enaknya saja memperlakukanku seperti itu, bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali." Gerutu Jungkook.
"hei kalian kemarilah, aku ada tugas untuk kalian dari ketua Jeon." Yoongi yang baru saja memasuki ruang kumpul di basecamp langsung berjalan ke arah sofa merah panjang milik Jungkook dan duduk di sana.
"tugas apa hyung ?" itu suara Woozi yang baru saja mendudukkan dirinya di samping Yoongi.
"iya hyung tugas apa ?" sahut Jeonghan.
Tak
"aww... yak!!! Hyung apa yang kau lakukan, mengapa kau memukul kepalaku... aisshh." Woozi mengelus kepalanya yang terkena pukulan Yoongi.
"heh bocah, aku mencarimu di rumah, pergi ke sini tidak bilang-bilang. Aku bisa di panggang hidup-hidup dengan eomma dan appa jika kau sampai pergi ke tempat itu lagi. Tamat riwayatmu.
!! Sudah tahu masih sakit, masih saja keluyuran kemana-mana." Sungut Yoongi sambil menatap deongsaeng-nya itu. Woozi yang mendapatkan amukan dari Yoongi hanya merengut sebal pada hyung-nya itu.
"aku lupa menghubungimu hyung. Aku janji tidak akan ke tempat itu lagi, lagi pula aku masih sayang nyawaku." Woozi sedikit menekukkan wajahnya karena kesal dengan hyung-nya.
"Sudah lupakan, sekarang- YAK!!! Kalian yang di sana kemari. Atau ku penggal kepala kalian satu per satu." Mereka yang mendengar ancaman Yoongi segera beranjak dari tempat mereka menuju Yoongi, Woozi dan Jeonghan berada.
"Hyung, kau galak sekali sih. Pantas saja tidak ada yang mau berpacaran denganmu, bahkan Jonghyun pun memutuskanmu." Ejek Wonwoo.
"I jasik!!" Yoongi beranjak dari duduknya bermaksud untuk memukul Wonwoo tetapi dengan cepat di tahan oleh Woozi dan Jeonghan.
"Ya kemari kau dasar bocah sialan." Maki Yoongi.
"Hyung tenanglah, jangan terpancing dengan ucapannya. Kau ini seperti tidak tahu Wonwoo saja hyung." Ujar Woozi.
"Huufftt... tenang Min Yoongi, tenang." Yoongi berucap pada dirinya sendiri. Setelah tenang ia mendudukkan kembali tubuhnya ke sofa.
"Ok, begini. Kalian ingat club G7 kan ? Club mobil sport milik Mark Tuan itu ?" Mereka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Dan kalian ingat kemarin siang Jungkook menghilang, dan malamnya sekitar pukul 12 malam ia menelponku, tapi aku tidak terlalu jelas mendengar apa yang ia katakan jadi aku jawab seadanya saja. Dan pagi tadi juga Jungkook menelpon lagi. Jungkook bilang semalam itu dia di bawa oleh Mark dan anggota club nya yang lain dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya ?" Semua serempak menggelengkan kepalanya.
"Mereka menjadikan Ketua kita sebagai special gift di balapan mereka. Dan lebih parahnya lagi Mark kalah dalam balapan melawan Kim Taehyung dari club mobil sport Bangtan."
"Mwo ?" Mereka semua memekik serempak karena kaget mendengar nama 'Kim Taehyung' dan 'club mobil sport Bangtan'.
"Waahh... jinjjaya ? Ini tidak bisa di biarkan." Sahut Wonwoo.
"Tapi hyung, bagaimana dengan Ketua ? Aku yakin ia tidak bisa lepas dari Kim Taehyung hyung. Bagaimana pun juga itu sangat sulit di lakukan." Ucap Jeonghan.
"Itu dia masalahnya. Aku pun tidak tahu bagaimana cara membantunya lepas dari Taehyung itu. Kita hanya bisa menjalankan 1 tugas saat ini. Pulang nanti ikut aku ke daerah sekitar club G7 kita akan menghadang mereka di sana." Jawab Yoongi.
"Ok!" Semua serempak berteriak menyetujui ucapan Yoongi.
"Sudah selesai berdiskusinya ? Kenapa tidak pergi sekarang saja ?" Entah datang sejak kapan, Jungkook yang menyenderkan punggungnya di balik pintu masuk basecamp dengan tangan menyilang di depan dada berucap demikian.
"Omo, sejak kapan kau berdiri di situ Jeon ?" Kaget Yoongi.
"Sejak tadi, come on! Berdiri dari sofa itu, kita berangkat sekarang." Semua anggota langsung beranjak dari sofa mendengar sang ketua memberi perintah.
"Aku tidak ikut kalian sekarang, aku ada urusan sebentar nanti aku menyusul." Ujar Yoongi.
"Ne hyung!!" Jawab Jungkook.
-Distrik Songpa-gu-
Motor merah milik Yoongi melaju kencang membelah jalanan kota songpa-gu. Ia mempunyai janji dengan seseorang. Yoongi berhenti di dekat jalan dengan mobil orange merk ferrari terparkir di sana.
Yoongi turun dari motornya kemudian menghampiri mobil itu. "Keluarlah, dan jelaskan padaku sekarang juga." Ujar Yoongi. Sang pengemudi keliar dari mobilnya menampakkan wajah tegas milik Jonghyun. Ya, Yoongi menemui Jonghyun sang mantan kekasih yang memutuskannya tanpa sebab yang jelas.
Jonghyun menghampiri Yoongi yang menyender di bagian depan mobil miliknya sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Hei, jangan seperti itu babe."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi." Sambar Yoongi cepat.
"Hei hei hei, Yoongi sayang kau ini seharusnya peka dengan keadaan sekitatmu. Aku memutuskanmu ada sebabnya sayang." Tangan kiri Jonghyun menjalar ke tengkuk Yoongi membuat Yoongi merinding seketika. Yoongi diam di tempatnya, entah kenapa badannya jadi susah di gerakkan setelah sesuatu yang tajam menusuk lehernya.
"Apa yang ka-kau lakukan Jonghyun ? Badanku tidak bisa bergerak." Ucap Yoongi. Jonghyun memperlihatkan senyum miringnya. Jantung Yoongi berdetak kencang ia merasa ada yang tidak beres.
"Kau ingat saat di pub daerah gangnam kau menolakku un-
"STOP!! Aku tahu apa yang kau bicarakan. Jonghyun, aku sudah bilang aku tidak mau me- ARGHH... Yak!! Apa yang kau ingin lakukan!! Berhenti Jonghyun, BERHENTI!!" Teriak Yoongi setelah tubuhnya terhempas ke kap mobil karena dorongan Jonghyun. 'Sial aku benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhku.' Pikir Yoongi kesal.
Jonghyun tidak mengindahkan kalimat Yoongi yang menyuruhnya berhenti, ia terus mengecupi dan menggigit leher jenjang nan putih milik Yoongi. Yoongi pasrah, kalau sudah begini ia tidak bisa melawan bahkan untuk bergerak pun ia tidak bisa. 'Seseorang tolong aku!' Batin Yoongi berteriak.
Srak!!
Bugh!!
Seseorang menarik Jonghyun dari atas tubuh Yoongi dan setelahnya terdengar suara orang yang memukul.
"Apa kau tidak dengar yang di katakan Yoongi hah ? Dasar brengsek!!" Maki orang itu.
Yoongi mengerutkan keningnya saat mendengar suara namja yang sepertinya tak asing di telinganya. "Seperti suara...omo, Park Jimin!!" Mata Yoongi membulat setelah mengingat suara siapa yang telah menolongnya itu.
Setelah puas memukul Jonghyun, Jimin menghampiri Yoongi yang masih terbaring kaku di tempatnya. "Yoongi hyung, kau tidak apa kan ?" Tanya Jimin.
"Aku tidak bisa bergerak Jimin, dia menyuntikkan sesuatu pada tubuhku." Jawab Yoongi.
Jimin segera mengangkat tubuh Yoongi dan membawanya ke dalam mobilnya. "Terima kasih Jimin, kau sudah menolongku." Ujar Yoongi sembari tersenyum kecil.
"No problem hyung." Jimin ikut terseyum.
"Ah ya, mungkin sekitar 1 sampai 2 menit lagi kau sudah bisa bergerak hyung." Sambung Jimin. Yoongi menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apakah pernyataanmu minggu lalu masih bisa aku jawab sekarang Jim ? Maksudku jawabanku yang sebenarnya." Tanya Yoongi. Seketika Jimin membeku, jantungnya berdegup kencang.
"N-ne hyung." Jawab Jimin gugup.
Yoongi tersenyum, badanya sudah terasa kembali seperti semula, tangannya terulur menarik Jimin mendekat. Jantung keduanya seperti irama musik yang mengiringi mereka. Yoongi menghapus jarak di antara mereka "ini adalah Jawabanku." Ujar Yoongi kemudian semakin mendekat pada Jimin Hingga bibir keduanya bersentuhan, hanya bersentuhan tanpa menggerakkannya. Yoongi berniat melepaskan tautannya tetapi Jimin menahan tengkuknya agar memperdalam ciumannya.
Jimin menggerakkan lidahnya menyapu permukaan bibir Yoongi meminta akses masuk ke dalam mulut Yoongi. Dengan senang hati Yoongi membuka sedikit mulutnya.
Beberapa menit berlalu, setelah merasa oksigen mulai menipis Yoongi memutuskan ciuman lembut nan panasnya bersama Jimin. Pipinya memerah karena malu.
"Bibirmu manis hyung, seperti permen kapas yang lembut." Ujar Jimin gemas.
"Jangan menggombal Jim." Yoongi memukul pelan lengan Jimin.
T.B.C
maaf sebelumnya ini masih belum di refisi ulang ya karen ini re-post dari wattpad. di wattpad tulisannya rapih kok nggak berantakkan kayak ini, karena biasa kalau copy paste pasti jelek di pengaturan percakapan dan bait ceritanya, diusahakan akan di perbaiki jika saya ada waktu banyak, sekali lagi maaf ya
