Tsvety (Flowers) Chapter dua.
"Jadi JJ kenapa kau memanggil kami ke sini? Kau mau mentraktir kami lagi ya?" Emil mulai bertanya dengan pandangan fokus di buku menu.
Yap, siang ini mereka berempat sedang ada di sebuah kedai makanan sembari menunggu kedua teman mereka yang lain.
Sedangkan Georgi? Ia masih asik dengan handphonenya berbeda dengan Christophe yang sepertinya sedang asik menggoda seorang pelayan yang cantik.
Tak lama kumudian Mike dan Sala datang. Mereka pun kini mendudukan diri mereka secara berhadap-hadapan. JJ masih merundukan kepalanya.
"JJ?" Sala mulai bertanya. "Kami semua sudah berkumpul."
JJ terlonjak kaget. Ia mulai tersenyum kikuk dan mengabsen semua teman-temannya.
"Victor tidak ada 'kan?" Tanya JJ. Semua mulai menatap bingung.
"Tidak. Aku melihat Victor ada di dekat toko buah-buahan tadi." Balas Georgi. Dirinya penasaran kenapa JJ bertingkah laku aneh hari ini.
"Baguslah. Sebenarnya—
Tangan JJ mulai gemetar. Sala jadi khawatir.
"Aku— sudah menemukan anak itu."
"Sungguh?" Tanya Christophe. "Dimana dia? Aku ingin menenggelamkannya di kolam renang rumahku."
"Tenanglah Chris." Ucap Emil. Christophe masih terlihat kesal.
"Dia—
JJ masih menggantung kalimatnya membuat seluruh teman-temannya menatap penuh rasa penasaran.
"Dia.. Siswa jurusan Sastra Bahasa itu.. Se-sebenarnya sudah— me-meninggal."
Deg!
Mereka mulai terbelalak kaget bahkan Sala mulai menutup mulutnya karena nyaris berteriak.
"Dia meninggal selasa malam di hutan yang ada di belakang Sekolah Ice Castle. Dia menjatuhkan dirinya dari bukit berbatu."
"Dari mana kau tahu, JJ?" Mike mulai bertanya. Ia sekarang nampak ketakutan. Begitu juga dengan Christophe yang mulai berkeringat dingin seraya mengigit sendoknya dengan cemas.
Hari selasa? Itu artinya sudah enam hari yang lalu. Wajah Chrishtophe nampak sangat pucat sekarang.
"Kau.. Diteror sejak kapan Chris?" JJ mulai bertanya Chris sampai terlonjak kaget.
"Li-ma hari lalu. Saat rabu malam ketika Victor dan aku berenang untuk adu kecepatan di rumahku. Sebenarnya aku sudah merasakan kejanggalan saat itu karena seluruh pintu dirumahku masih tertutup rapat. Bahkan jendelanya juga. Jadi tidak mungkin ada penyusup yang bisa datang ke rumahku apalagi ke kolam pribadiku. Tapi.. Aku tidak memikirkannya, kau tahu? Kadang orang yang ingin membalas dendam selalu punya banyak cara."
"Kau bilang kau menemukan handphone bercasing biru bergambar poodle 'kan?" Mike kembali bertanya. Christophe mulai mengangguk.
"Iya.. Tapi handphone itu sudah mati jadi aku melemparnya ke arah tembok sampai semua partikelnya berserakan dilantai. Maid di rumahku sepertinya membuang handphone itu ke tempat sampah. Tapi aku tidak terlalu tahu. Aku sudah sangat kesal saat itu."
"Namanya Yuri Katsuki. Dia adalah Siswa pindahan sebulan yang lalu. Dia berasal dari Kota kecil di Hasetsu. Dia punya seorang saudara dan orang tua yang masih lengkap. Hanya itu yang ku tahu." JJ kembali merundukan kepalanya setelah ia mengatakan hal tersebut.
"Apa kita akan di teror juga? Dan akhirnya mati seperti Mila? Dia menjatuhkan diri juga 'kan?" Tanya Georgi, JJ mulai menggebrak mejanya.
"TIDAK MUNGKIN!"
Dan seluruh mata pun kini tertuju ke arah JJ. Para pelanggan di tempat makan tersebut mulai menjauh karena takut dengan tatapan mata pemuda asal Kanada tersebut.
"JJ tenang!" Bisik Sala. Ia sekarang mulai ketakutan. Air matanya menggenang.
"Aku tidak mau mati! Aku ada janji pada Isabella untuk menikahinya nanti!"
"Menikah? Kapan kau menikah JJ?"
Mereka terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja Victor sudah berdiri dihadapan mereka dengan soda di genggamannya.
"Vi-Victor. Kenapa kau disini?" Tanya Chrishtophe.
"Aku mau menemui teman lamaku dan.. Jahat sekali kalian tidak mengundangku." Ucap Victor sedih. JJ jadi gelagapan walaupun ia berusaha untuk tertawa.
"Haahaha-ha.. Ma-maaf Victor. Aku hanya ingat jika.. Kau bilang kau.. Acara yang kita buat tidak— tidak ada gunanya. Hehehe."
"Masa?" Tanya Victor cemberut. "Aku tidak ingat. Memangnya mengetahui seorang teman yang akan segera menikah adalah hal yang tidak ada gunanya ya?"
JJ mulai kehilangan perkataan. Christophe mengalihkan perhatiannya.
"Chris juga. Kenapa kau tidak mengajakku." Rajuk Victor.
"Ma-maaf Victor. Se-sebenarnya—
"Victor!" Dan ucapan Christophe pun terpotong oleh seorang pemuda yang tengah menunggu Victor di meja lain.
"Nanti kita lanjut lagi. Leo memanggilku." Dan setelah mengatakan hal tersebut Victor pun kembali melangkah meninggalkan JJ dan yang lainnya.
Hening sesaat.
"Apa kita harus memberi tahu Victor?" Tanya Christophe. Ia tidak mau menyembunyikan apapun dari sahabatnya tersebut. JJ masih terdiam.
"Aku tahu ini berat untukmu Chris. Tapi aku harus memberi tahumu sesuatu."
Mike dan Emil saling bertatapan.
"Victor memang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian yang kita lakukan tapi— aku takut dia mengetahui rahasia kita dan berakhir dengan Victor melaporkan kita ke Polisi. Kau tahu.. Kemarin aku tidak sengaja memutar Video itu didepan dirinya. Aku tidak tahu dia sadar atau tidak sadar. Tapi karena hal itu aku jadi sering behalusinasi buruk akhir-akhir ini. Aku tidak mau berususan dengan Polisi apalagi sampai dijebloskan ke penjara karena memperkosa seseorang."
Hening kembali terjadi.
"Kenapa tidak membunuh Victor saja?" Kata-kata itu, meluncur dengan mulus dari mulut Georgi.
"KAU GILA?" Kini Christophe yang berteriak membuat semua pelanggan kembali menjauh dan Sala pun berinisiatif menarik Christophe dibantu Mike dan Emil. Sala kini ketakutan karena Victor mulai menatap dirinya dengan intens.
Drub!
Kini pintu tertutup setelah Mike membayar pesanan mereka barusan. Mereka kini pergi meninggalkan Victor yang masih terdiam di tempatnya dan tidak sempat mendengar apapun yang dikatakan Leo barusan walaupun itu terdengar seperti hal yang penting.
.
.
.
Xxx
.
.
.
JJ pulang dengan raut wajah sangat kusut bahkan ia pun tidak sadar jika seorang gadis mulai bersembunyi di depan pintu rumahnya dengan wajah yang ia tutupi dengan sebuah majalah. Ia mulai tersenyum penuh arti, mungkin dia mau menakut-nakuti JJ. Dan benar saja ketika, JJ membuka pintu gadis tersebut langsung melompat dan berteriak di depan JJ. Namun bukannya senang atau pun kaget JJ malah terdiam takut dengan kedua mata terbelalak karena hal pertama yang ia lihat adalah gambaran dari seorang pemuda dengan banyaknya darah melumuri seluruh mulut dan gigi taringnya, mata yang berwarna merah pekat dan tangan bercakar yang tengah menggenggam sesuatu yang tidak perlu di jelaskan. Dia menyeringai membuat JJ makin membelalakkan matanya ketakutan.
Pemuda itu..
Dia..
"JJ?" Kini gadis berambut hitam tersebut atau Isabella mulai menurunkan majalah dari wajahnya. Ia nampak sangat khawatir ketika melihat tunangannya mulai berkeringat dingin, dan ketika Isabella hendak mendekat tiba-tiba JJ berteriak dan kabur dari hadapannya.
"JANGAN BUNUH AKU!"
"JJ!" Dan berakhir dengan JJ dikejar Isabella dari belakang. Bahkan gadis tersebut membuang majalah yang tadi ia pegang membuat majalah tersebut terlempar jauh dan menampakan judul dan nama dari si pemuda berlumur darah tersebut.
Eros on the blood.
.
.
.
JJ terus berlari bahkan ia tidak melihat jika di depannya ada sebuah pohon yang naasnya langsung ia tabrak begitu saja.
BRUK!
"JJ!" Dan berakhir dengan pemuda asal Kanada tersebut pingsan dengan kening memerah dan hidung mimisan.
.
.
.
Sementara itu ketika malam di rumah Chris.
Terlihatlah jika Victor tengah berenang dan Christophe bersiap di ujung kolam dengan acang-ancang siap melompat.
Dan ketika Victor sampai, tiba lah giliran Chris untuk berenang dengan kecepatan penuh.
BYUR!
Victor mulai keluar dari air dan mulai mendudukan diri seraya memeriksa handphonenya yang terus berkedip-kedip.
Chrishtophe mulai memeriksa stopwatchnya dan ia mulai merutuk kesal karena kalah nol koma enam detik dari sahabatnya tersebut.
"Oi Victor.. Tolong rekam aku yang sedang berenang. Aku mau mengirimnya nanti."
"Oh baiklah. Akan ku siapkan handphoneku dulu."
"Bukan." Balas Christophe. "Maksudku pakai handphoneku. Letaknya ada di meja. Bersebelahan dengan punyamu tadi."
"Oh iya, aku melihatnya." Balas Victor. Ia kembali berjalan dan mengambil handphone milik Christophe dan membuka sebuah aplikasi untuk merekam. Christophe siap di tempat.
"Okay. Mulailah." Ucap Victor dan Christophe pun mulai berenang dengan sangat anggun bahkan berenang dengan sangat memalukan karena tidak sengaja merasakan gatal punggung ketika berenang. Victor sampai tertawa.
"Victor! Yang tadi tidak usah direkam." Kesal Christophe walaupun sebenarnya ia malu karena sudah ditertawakan sahabatnya tersebut.
"Hahaha.. Ma-maaf maaf." Christophe mulai keluar dari kolam dan iapun memeriksa hasil dari rekamannya. Sangat jelek dan ia tidak menyukainya.
"Hapus saja." Guman Chris yang mulai menghapus Video tersebut baru saat ia hendak menyimpan Handphonenya kembali tiba-tiba Chris merasa bulu romanya mulai berdiri. Dengan cepat ia melihat layar handphonenya kembali. Membuka bagian video yang seakan ia kenal dan mulai membukanya dengan volume yang sangat kecil.
Deg!
"Kenapa Chris?" Tanya Victor penasaran. Ia kini sudah ada di kolam renang kembali.
Hening terjadi.
"Chris?" Dan Victor kembali memanggil karena penasaran. Christophe buru-buru menghapus video itu juga dan mulai berbalik menghadap sahabatnya tersebut.
"Apa? Hah? Ahahaha.. Tidak apa-apa." Balas Chris gugup.
'Aku yakin sudah menghapus video terkutuk itu, kenapa tiba-tiba ada lagi? Apa tadi Victor melihatnya?' Chris terus bergumam dalam hati. Ia mulai ketakutan bahkan sangat khawatir ketika tadi Victor memegang handphonenya.
'Kenapa tidak membunuh, Victor saja?" Dan kata-kata Georgi melintas kembali di benaknya. Chris mulai berjalan maju bersiap dengan kedua tangannya yang hendak meraih leher Victor dari belakang. Rasa gugup dan takut mulai menghatui dirinya. Keringat dingin pun mulai mengalir melewati pelipisnya dan akhirnya jatuh begitu saja, namun—
Tap.
"Pulanglah, Victor. Ini sudah terlalu malam." Ucap Christophe seraya menepuk pundak Victor pelan.
"Hah? Memangnya kenapa?" Tanya Victor kaget. Ia mulai membalik badannya. "Kau seperti tidak rela saja aku berenang lama-lama dikolammu."
"Bu-bukannya begitu. Hanya saja— aku ada urusan sejam lagi, begitu-lah hehehe.."
Hening dan Victor pun mulai menganggukan kepalanya sekali.
"Baiklah. Aku akan pulang. Hati-hati di perjalanmu ya Chris."
"Kau juga Victor." Hening kembali terjadi dan Christophe pun kembali merenung setelah Victor kembali masuk ke dalam dengan sebuah handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Hening masih terjadi sampai tiba-tiba seseorang ada yang menghantam kepala Christophe dengan siku tangannya dan membuat Chris tercebur sampai tak sadarkan diri. Tak lama kemudian seorang maid pun datang dan mulai berteriak minta bantuan sampai membuat seluruh penghuni rumah tersebut geger luar biasa.
.
.
.
Xxx
.
.
.
Chrishtophe masih memejamkan matanya. Kini dia ada di rumah sakit karena kecelakaan yang ia alami sejam yang lalu. Bahkan tak lama kemudian seorang suster datang dan mulai menyuntikkan sesuatu di tangan Christophe. Tak lama kemudian kejang mulai terjadi. Suster tersebut sampai kaget dibuatnya ia sampai menjatuhkan alat suntik di tangannya. Ia mulai berteriak, berlari dan memanggil bantuan. Tak lama kemudian tubuh Chris pun berhenti mengejang dan dengan perlahan dadanya pun berhenti bergerak dengan napas yang sudah tak terasa.
Biiiipp..
Dan alat Electrocardiography pun kini menunjukan satu garis horizontal yang mengartikan sang pasien sudah kehilangan nyawanya.
Brak!
Pintu dibuka dan sang Dokter pun mulai mengeluh sedih. Mereka terlambat. Christophe. Pasien mereka sudah tak terselamatkan.
Ia meninggal.
.
.
.
Xxx
.
.
.
"Victor.. Victor.. Victor!" Victor terbangun dari lamunannya. Wajahnya terlihat sangat sembab karena terus-terusan menangis sedari tadi. Kini Victor dan semua teman-temannya ada di rumah Chris. Mereka akan memberikan salam perpisahan pagi ini.
"Tenangkan dirimu kawan." Ucap Emil bersimpati.
"Padahal baru kemarin malam kami tertawa bersama, berenang.. Dan.. Meminum es jeruk yang kami buat sendiri. Tapi— hiks.."
"Victor.. Jangan menangis. Kau membuatku sedih." Sala mulai mengelus punggung Victor namun air mata terus bercucuran dari iris samudranya yang mulai keruh karena warna merah dan air mata.
"Hiks.. Beberapa maid bilang jika Tuan mereka terpeleset saat hendak melompat ke kolamnya dan Dokter bilang jika obat yang harusnya menyembuhkan pasien mereka ternyata adalah racun. Chris pasti dibunuh. Hiks.. Siapa yang tega melakukannya? Kalian tahu sesuatu 'kan? Kenapa tidak mau memberi tahuku? Chris tidak punya musuh 'kan?"
Sala mulai terdiam. Bahkan Mike dan Georgi pun sama.
"Victor." Panggil Sala. Ia masih mengelus punggung Victor. "Kami hanya bisa berkata. Sabarkan dirimu. Oh iya. Setelah dari sini kami mau kerumah JJ katanya kemarin ia terkena kecelakaan karena tunangannya mengagetkan dia berlebihan. Kau mau ikut?"
Gelengan kepala yang diberikan.
"Kami mengerti. Kalau begitu kami pamit pergi."
"..."
Tak ada balasan bahkan setelah Sala, Mike, Emil dan Georgi meninggalkan dirinya yang masih terduduk di sebuah kursi.
.
.
.
Sementara itu di sebuah mobil. Sala terlihat sedang merundukan kepalanya sampai membuat Mike menatap bingung.
"Sala?"
"..." Tak ada balasan. Bahkan Emil pun jadi tidak fokus menyetir. Mike kembali memanggil.
"Sa—
"Aku mau menyerahkan diriku."
CKIT!
Mobil tiba-tiba direm mendadak sehingga membuat Emil dan Georgi melihat ke arah Sala yang rupanya masih menangis.
"Apa kau gila?" Tanya Georgi. Ia jelas sangat kaget.
"Aku tidak mau mati! Apa kalian mau mati? Seperti Mila? Atau Christophe?"
"Chris memang mati! Tapi ini tidak ada hubungannya dengan hantu atau kutukan! Chris dibunuh! Kau dengar sendiri? Victor berkata begitu!" Emil mulai membalas. Sala mulai menggelengkan kepalanya.
"Pokonya aku mau menyerahkan diriku!"
"Tidak Sala! Aku tidak mau kau menyerahkan dirimu! Aku tidak bisa hidup tanpamu!" Mike mulai bicara. Air matanya seakan ingin mengalir. Sala masih tetap pada pendiriannya.
"Kalau kalian mau menunggu kematian kalian ya silakan saja. Aku pergi dari sini."
Sala mulai membuka pintu mobil disusul Mike dari belakang namun Emil dan Georgi mulai melihat satu sama lain. Mereka mulai ketakutan.
"SALA!" Mike mulai memanggil namun Sala tidak mau menendengarnya bahkan di belakang ada Emil dan Georgi yang mulai berlari dengan sepotong besi yang mereka sembunyikan di belakang tubuh mereka. Beruntung bukan? Jalanan sekarang cukup sepi.
Sala masih berlari begitu juga dengan Mike bahkan mereka tidak sadar jika sebuah mobil hitam mulai melaju dengan ugal ugalan dari belakang membuat Emil dan Georgi nyaris tertabrak.
"OI!" Kesal Emil.
Mobil tersebut terus melaju kedepan mengarah ke arah Sala dan Mike yang sontak membuat Emil kaget.
"MIKE!" Panggil Emil. Ia mulai berlari menyelamatkan pemuda tersebut meninggalkan Sala yang hendak berbelok dan akhirnya.
"EMIL!" Teriak Georgi.
CKIT!
BRUK!
Tertabrak oleh mobil ugal-ugalan tersebut.
Mike terbagun dari perlindungan Emil dan hal pertama yang ia lihat adalah kembarannya yang berlumur darah dengan si pengendara mobil yang sudah pergi entah kemana. Mike mulai membelalakan matanya dan tak lama kemudian.
"ARRRRGGGHHH!" Menjerit sampai tak sadarkan diri.
Darah masih mengalir dan Sala tidak akan membuka matanya kembali.
.
.
.
Suasana berkabung kembali terjadi. Semua teman, sanak saudara dan kerabat kembali berkumpul sebelum tubuh Sala diterbangkan ke Negara asalnya kembali namun.. Mike tidak ada di tempatnya.
Sret!
Kain sudah terpasang.
Tap!
Dan kursi sudah disiapkan.
Mike mulai meneguk ludah gugup dengan air mata yang masih mengalir tanpa henti. Ia mulai menaiki kursi di depannya, mengelus kain yang sudah ia ikat sedemikian rupa lalu mengikatkan kain tersebut ke lehernya.
Satu kata yang diucapkan Mike.
"Sa-la."
Dan diakhiri dengan Mike menendang kuris di bawahnya.
Tubuh mulai mengejang. Jeritan sakit mulai terdengar. Air mata terus mengalir. Dan.. Bibir perlahan mulai berubah biru.
Mike berhenti bergerak dan iapun mulai terdiam bisu dengan mata setengah tertutup. Tak lama kemudian seorang wanita datang dan iapun langsung berteriak dengan tubuh terkulai lemas.
"ANAKKU! MICHELE!" .
.
.
Xxx
.
.
.
Emil sangat terpukul. Ia sudah menangis di atas foto Mike selama empat jam tanpa henti membuat Georgi bersimpati tapi tak dihiraukan pemuda berjenggot tersebut.
Bahkan Victor hanya bisa mendudukan diri di sebuah kursi seraya melihat handphonenya dimana foto-foto ketika mereka tertawa bersama masih ada dan utuh.
Tawa bahagia mereka kini berganti menjadi tangis yang berduka.
JJ pun demikian. Ia hanya bisa terdiam di rumahnya. Ia tidak ikut ke rumah si kembar untuk mengucapkan salam terakhir karena terus-terusan berpikir hingga membuat kepalanya sakit.
Pertama, Mila.
Kedua, Christophe.
Ketiga, Sala.
Keempat, Mike.
Lalu yang kelima siapa? Apa mungkin dirinya? Memikirkannya saja membuat JJ takut. Ia mulai menggigit kuku ibu jarinya.
"JJ?"
"Issabela?" Tanya JJ ia mulai mendongak ketika melihat gadis cantik tersebut mulai mendudukan diri di sebelahnya.
"Kau ada masalah? Kau bisa mengatakannya padaku, JJ." Gadis tersebut, atau Isabella mulai menggenggam tangan JJ hingga membuat JJ terdiam namun dengan kepala mulai menggeleng.
"Be-belum waktunya Isabella. Aku tidak mau membuatmu kenapa-napa."
Tentu. JJ sangat mencintai gadis tersebut. Tidak mau jika tunangannya harus ikut meregang nyawa karena kesalahan yang ia buat.
"JJ. Aku akan selalu ada untukmu. Aku janji. Jadi.. Katakanlah semua masalahmu setelah kau siap." Isabella mulai beranjak pergi membuat JJ seakan tidak rela melepas tangan tunangannya tersebut. Pintu mulai tertutup dan JJ pun kembali merenung.
.
.
.
Xxx
.
.
.
Keesokan harinya JJ, Georgi dan Emil terlihat sedang bicara di sebuah gedung olahraga yang sudah kosong.
Tidak ada Victor disana padahal pemuda bersurai platinum tersebut tengah mencari mereka sedari tadi.
"Kenapa kalian mendadak ingin bertemu?" JJ mulai bertanya membuat Emil bangkit dari duduknya dan mendekati pemuda asal Kanada tersebut.
"Kami mau bertanya dimana tempat kematian anak itu."
"Maksudmu Yuri?" Tanya JJ. Emil dan Georgi mulai mengangguk.
"Iya.. Mungkin.. Dengan kita minta maaf di tempat itu kita akan diampuni dan tidak akan mati konyol."
JJ mulai berpikir.
"Kau benar. Kalau begitu sore ini kita berangkat."
"Iya."
Sore pun tiba. JJ dan kedua temannya terlihat mulai masuk ke sebuah hutan di belakang Sekolah Ice Castle.
Melewati ilalang yang tinggi. Semak belukar yang cukup tajam bahkan aliran sungai yang kecil sampai aliran sungai yang cukup besar.
Tap.
Kini mereka sampai tepat di depan tebing tinggi dengan penuhnya batu menghiasi tebing tersebut.
"Disana." JJ mulai menunjuk kedepan dimana beberapa kuncup tanaman kecil tumbuh diatas tanah yang sudah kering. Emil mulai mendekat seraya melihat-lihat seluruh tempat tersebut. Angin mulai berhembus dan entah kenapa membuat seluruh bulu roma mereka berdiri dengan mendadak. JJ sampai gelisah dibuatnya.
"Katsuki— Yuri. Maukah kau memaafkan kami? Kami tahu kami salah. Kami— kami sudah membuatmu menderita dan berakhir dengan kau bunuh diri. Kami mohon.. Berhentilah balas dendam. Kami janji akan menjadi pribadi yang baik. Sungguh."
Hanya angin yang berhembus. Emil sampai meneguk ludahnya gugup.
"Apa itu artinya iya? Atau—
"Ini masih sore tapi kenapa suasana sudah semencekam ini?" Georgi mulai bergumam. Ia sudah tidak tenang.
"Kurasa ini tidak akan berhasil." JJ mulai membuka suara hingga membuat Emil menghentikan ucapannya. "Kau tahu.. Orang-orang di kampus belum ada yang tahu jika Katsuki sudah meninggal. Sebenarnya—
Georgi mulai menatap JJ bingung begitu juga Emil yang mulai berdiri. Mereka sadar akan sesuatu.
"Kau tahu dimana pemakaman anak itu?" Tanya Emil, JJ mulai menggeleng.
"Ti-tidak. Aku tidak tahu."
Georgi dan Emil mulai ber 'Oh' ria sebelum akhirnya tertawa seraya menggelengkan kepala mereka.
"Begitu rupanya." Ucap Emil. "Itu artinya dia masih hidup. Dia ingin balas dendam pada kita. Ingat saat Victor bilang Chris dibunuh? Pasti dia pelakunya."
"Tapi Emil. Aku sudah yakin jika anak itu meninggal. Dia tidak bergerak. Tidak bernapas. D— dan darah membanjiri sekeliling tanah itu." JJ berusaha menjelaskan dengan telunjuk mengarah pada tempat terakhir ia melihat tubuh pemuda tersebut, namun Georgi dan Emil tidak mau ambil pusing.
"Lalu mana bekas darahnya?" Tanya Emil. JJ terdiam di tempat. "Kami akan mencari anak itu. Kalau ketemu dia akan langsung kami bunuh atau— kami perkosa lagi sampai mati."
Gluk!
JJ mulai meneguk ludah takut ketika mendengar Emil mengatakan hal tersebut.
JJ ditinggalkan sendiri karena Georgi dan Emil sudah meninggalkannya lebih dulu.
Angin masih berhembus.
Riak air masih terdengar dan seseorang tak dikenal masih terduduk di atas tebing sampai akhirnya hilang begitu saja ketika JJ membalik badan.
.
.
.
Xxx
.
.
.
"Jadi kau mau keluar Kota Victor?" Emil mulai bertanya. Kini mereka ada di rumah Georgi untuk tugas mereka. Sebenarnya Tugas Emil dan Georgi. Victor hanya membantu.
"Iya. Pamanku memanggil. Aku tidak tahu kenapa. Kau tahu mengkin dia mau minta saran perihal warna yang bagus untuk dekorasi rumah barunya."
"Begitu ya." Balas Emil. Ia mulai mengetik beberapa kata di layar Laptopnya.
"Iya. Oh iya. Pamanku adalah seorang Polisi."
Deg!
Mendadak Emil dan Georgi ketakutan dibuatnya.
"Be-begitu ya." Kini Georgi yang bicara ia mulai melihat Emil sekali-kali. "Berangkat kapan?" Emil kembali bertanya membuat Victor berpikir dengan tangan dibawah dagunya.
"Malam ini. Aku besok libur jadi mungkin mau bermalam disana."
"Ya. Kami mengerti. Hati-hati dijalan Victor."
"Terimakasih."
Dan tak lama kemudian Victor pun pamit dari rumah Georgi dan berjalan ke arah gerbang keluar. Tak lama kemudian Emil dan Georgi saling melihat dan berakhir dengan mereka berlari dengan balok kayu yang mereka bawa.
Tap tap tap.
Hilang.
Mereka kehilangan jejak Victor.
"Kemana dia pergi?" Tanya Emil. Ia sudah sangat takut. Takut Jika Victor akan melapor pada pamannya yang adalah seorang Polisi.
Di kiri tidak ada.
Di kanan tidak ada.
Di belakang tidak ada.
Di depan—
"Kalian sedang apa?"
Emil dan Georgi terlonjak kaget ketika Victor ternyata sedang berdiri di depan mereka.
"Ka-kami.." Bahkan dengan buru-buru Emil dan Georgi menyembunyikan balok kayu di belakang tubuh mereka.
"Aku.. Aku sebenarnya melihat kucing di pojok sana jadi aku dekati dulu. Kalian tahu?" Tanya Victor dengan wajah bersemu merah. "Sebenarnya aku suka sekali dengan kucing apalagi yang gemuk dan berbulu hitam atau yang bertotol-totol seperti macan atau.. Yang manis seperti ini."
Deg!
Emil dan Gerorgi kembali terkaget katika melihat Victor menunjukan sebuah majalah edisi dua bulan lalu dengan gambar seorang pemuda yang dijuluki Eros tengah memakai kostum kucing. Ia menjilat bibirnya. Memperlihatkan gigi taringnya yang tajam sampai membuat Emil dan Georgi ketakutan.
"Sudah dulu ya. Jemputanku harusnya sudah datang. Bye.."
Victor mulai berlari meninggalkan Emil dan Georgi yang masih mematung.
"Si-siapa dia?" Tanya Georgi terbata namun dibalas Emil dengan gelengan kepala.
"Ma-mana ku tahu.. Tapi.. Dia— mirip sekali dengan anak— itu."
Dan akhirnya Georgi dan Emil hanya bisa bertukar pandang sampai beberapa menit berlalu.
.
.
.
Victor sudah ada di tempat biasa.
Mendudukan diri seraya bersandar.
Melihat aliran sungai dibawahnya dengan sebuah majalah dipelukannya.
Tak lama kemudian seseorang mendudukan diri di dekat Victor sampai membuat dirinya menoleh dan langsung membenarkan letak duduknya dengan benar.
"Suasana malam yang indah."
"..."
"Aku sangat suka sekali."
"..."
"Hei, Victor kau tidak memakai sweater lagi?"
Victor mulai menoleh tepat pada seorang pemuda berkacamata yang tengah tersenyum ke arahnya.
Sedangkan dari arah lain Pichit mulai berlarian. Sepertinya ia baru akan pulang ke rumahnya.
"Victor?" Namun karena ia melihat Victor dari jauh maka pemuda berkulit eksotis tersebut berniat menyapa yang bersangkutan sekalian untuk bertanya perihal sahabatnya yang hilang dan belum sempat ia tanyakan.
Wajah Victor mulai bersemu merah apalagi ketika ia melihat betapa cantiknya bibir yang sedang tersenyum padanya itu. Sedangkan yang di tatap mulai melihat sekelilingnya dengan malu. Takut jika ia terlihat aneh di depan pemuda bersurai platinum tersebut.
"Maaf, Victor. Aku—
"Yuri." Potong Victor.
Pichit sudah ada di belakang Victor, hanya empat meter dari sana.
"Aku mencintaimu."
Deg!
Pichit membelalakkan kedua matanya kaget. Hatinya merasakan sakit. Air matanya mengalir begitu saja dan karena sudah tidak sanggup akhirnya Pichit pun berlari meninggalkan Victor yang mulai memeluk tubuh Yuri dengan perlahan.
Tidak ada balasan selain senyum dan elusan di kepala Victor.
"Aku pun mencintaimu, Victor."
"Aku janji akan membuatmu bahagia. Tidak akan lama. Aku janji."
"Dan aku menunggu janjimu itu."
Victor mulai memejamkan matanya tak peduli bulan mulai tertutup awan hitam, angin malam yang terus berhambus dan beberapa hewan malam yang keluar dan mulai bersuara.
.
.
.
Keesokan harinya disebuah Toko buku.
"Eh? Bukannya kau mau kerumah pamanmu, Victor? Kenapa kau masih ada disini?"
Emil mulai bertanya bingung setelah ia menutup selulernya dan menyimpan kembali di saku celananya.
"Jemputanku tidak datang jadi aku tidak berangkat. Lagi pula aku tidak bisa menyetir sendiri untuk kesana."
"Begitu ya." Balas Emil dan ketika ia akan membelokan badannya tiba-tiba seorang gadis datang dan menabraknya begitu saja. Handphonya pun sampai jatuh bahkan Emil tidak menyadarinya.
"Uhh.. Kasar sekali gadis itu." Gerutu Emil. "Oh iya.. Aku duluan ya."
"Tentu." Balas Victor.
Emil mulai melangkah pergi membuat Victor kembali menoleh namun pada sesuatu di atas tumpukan buku.
.
.
.
"Emil! Punyamu!" Victor mulai berteriak membuat Emil menoleh dan buru-buru menggeledah seluruh tubuhnya karena melihat Victor memegang sesuatu yang sangat ia kenal.
"Oh.. Maafkan aku." Sesal Emil. "Pasti ini terjatuh saat tabrakan tadi. Oh iya.. Terimakasih Victor."
"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Tentu."
.
.
.
Xxx
.
.
.
"Katakan JELEK!" Teriak seorang gadis cantik pada dua teman-temannya yang tengah memeluk Emil. Mereka sekarang ada disebuah taman. Berfoto bersama dan bersuka ria.
Jepret!
Jepret!
Jepret!
"Hahaha.. Muka macam apa ini, Emil. Jelek sekali kau ini."
"Bukannya kau ya yang bilang JELEK! Ya sudah aku pasang muka terjelekku saja." Balas Emil cuek namun dengan seringai menyebalkannya.
"Hahaha.. Terserah kau saja. Oh iya, Emil. Apa kau tahu Katsuki Yuri?"
Deg.
Emil mulai memalingkan wajahnya dengan keringat dingin yang tiba-tiba muncul.
"Ti-tidak.. Ma-maksudku— memangnya kenapa?"
"Dosenku menanyakannya lagi. Dia sudah tidak masuk kuliah hampir selama seminggu lebih. Tidak ada kabar. Teman-temannya pun menanyakan keberadaannya. Padahal dia itu masih siswa baru."
"Mungkin dia sakit dan tidak ada yang menengoknya." Balas Emil masih dengan nada gugup.
"Aku tidak yakin. Kata temanku yang tahu dimana tempat tinggal Katsuki. Katanya apartemennya itu selalu terkunci. Terlihat seperti tidak terurus dan.. Mencekam."
Gluk!
Emil mulai meneguk ludah takut.
"Ka-kapan kau terakhir melihatnya?" Tanya Emil basa-basi.
"Hana-chan aku mau lihat hasil foto-foto tadi. Aku mau membaginya."
Tiba-tiba seorang gadis datang pada Emil dan gadis yang di panggil Hana tadi. Hana mulai menyerahkan handphenya yang ternyata adalah milik Emil.
"Oh, tentu, Sakura. Tadi apa kau bilang Emil?"
"Kapan terakhir kau— melihat temanmu itu?"
"Em.. Selasa— sore yang minggu kemarin bukan yang minggu sekarang. Kau tahu wajahnya memang sedikit pucat. Cara jalannya cukup aneh. Ya.. Sudah tiga hari saat aku betemu dengannya cara jalan Yuri memang aneh. Aku tidak tahu kenapa tapi.. Mungkin memang Yuri sedang sakit saat itu atau— dia pulang ke rumah orang tuanya tanpa memberi kabar."
Tes.
Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis Emil membuat Hana meloleh dan menaikkan sebelas alisnya bingung.
"Kau gugup sekali."
"Ti-tidak aku—
'Ahh— ku-mohon.. Shhh..'
Deg!
Kedua mata Emil pun terbelalak dengan sempurna ketika ia mendengar suara yang sangat familiar di ingatannya.
"Hahaha.. Emil. Ku tahu menyimpang tapi aku tidak menyangka kau mengoleksi video porn gay juga."
Tap!
Dengan buru-buru Emil merebut handphonenya. Melihat sebagian Video tersebut dan buru-buru menghapusnya.
Ternyata benar.
"Ehh.. Kenapa diambil? Aku 'kan masih ingin melihat." Rengek seorang gadis berwajah Eropa.
"Wajah pemuda yang diperkosa itu mirip Eros tahu."
"Hah Eros? Siapa dia, Sakura?"
"Itu.. Pemuda yang selalu ada di majalah dewasa Negara China. Dia 'kan aslinya Model yang berasal dari Jepang. Tapi— aku rasanya pernah melihat dia disini." Emil mulai salah tingkah ia mulai meremas handphonenya dan buru-buru kabur dari tempat tersebut.
"EMIL!" Dan diteriaki ketiga gadis tersebut karena bingung. Emil masih terus berlari.
'Sial! Kenapa aku langsung menghapus video itu tadi. Tapi— perasaan aku sudah menghapusnya saat menghadiri upacara perpisahan dengan Mila. Lalu kenapa ada lagi?'
Tap!
Emil mulai menghentikan laju larinya.
'Apa benar dia masih hidup? JJ bilang mayatnya sudah tidak ada di tempat. JJ bilang dia sudah tidak bernapas. Apa ini balas dendam atau— anak itu memang sudah mati dan ada orang yang menemukannya lalu dia menguburkan mayat anak itu disuatu tempat?' Emil terus berdebat dalam pikirannya. Raut wajahnya terlihat sangat pucat apalagi ketika ia ingat dengan wajah memelas pemuda tersebut di video. Namun hal yang membuat wajah Emil makin pucat adalah Victor yang pernah mengembalikan Handphonenya.
"Apa Victor melihat isi video ini?" Dan Emil pun kembali berdebat dalam pikirannya. Dia sangat takut karena di bagian akhir video, Mila merekam semua wajah pelaku-pelakunya termasuk dirinya.
.
.
.
Xxx
.
.
.
"POKONYA KITA HARUS MEMBUNUH, VICTOR!"
Emil mulai berteriak prustasi di sebuah lapangan kosong di depan kedua temannya yang tersisa.
"Dan aku sudah mengatakan untuk yang kesekian kalinya. Aku— tidak mau!"
JJ mulai membalas kesal. Ia mulai berkeringat dingin karena berusaha menenangkan kekesalan salah satu temannya tersebut. Berbeda dengan Georgi yang terlihat menimang-nimang sesuatu dalam pikirannya antara ikut pilihan Emil atau pilihan JJ.
"Georgi! Victor pasti melihat video di mobileku. Lalu— paman Victor adalah Polisi bagaimana kalau dia melaporkan perbuatan kita?"
"Aku—
Belum sempat Georgi membalas, JJ sudah menyela perkataannya lebih dulu, bahkan mereka tidak sadar akan kedatangan Isabella yang langsung menyembunyikan dirinya di belakang pohon dengan niat mengajak JJ pulang namun terhalang.
"Kau bilang paman Victor adalah Polisi 'kan? Kau tahu kalau kita membunuh Victor yang ada kita akan dipenjara dengan mudah apa kau mau?"
Isabella langsung terbelalak kaget ketika ia mendengar kata bunuh dari mulut tunangannya tersebut.
Ia tidak bisa mendengar dengan jelas karena jaraknya yang terlalu jauh.
"Pokonya aku tidak ikut! Kalau kalian mau menjalankan rencana kalian ya lakukan saja. Aku pokonya tidak ikut!"
JJ mulai beranjak pergi.
"Dan kau akan dihantui rasa bersalah karena tidak mengikuti kami, JJ. Menurutmu siapa orang yang telah membawa kita semua dalam masalah besar ini? Ini semua gara-gara kau JJ! Kau yang menyarankan untuk membuat rencana penangkapan itu, kau juga yang mengajak kita semua untuk memperkosa anak itu sampai dia bunuh diri. Apa kau masih belum mengerti JJ? Semua adalah salahmu! Kau harus ikut bertanggung jawab!"
JJ mulai menghentikan langkah kakinya. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan.
Begitupun dengan Isabella yang mulai beranjak pergi dengan seluler di telinganya. Ia juga terlihat sangat ketakutan.
"Kalau kau tidak ikut membunuh Victor maka Victor akan melaporkan kita dan kita akan dipenjara. Kau tidak akan punya kesempatan menikahi tunanganmu."
JJ mulai terdiam, kini raut wajahnya terlihat bimbang.
"Kami akan memulai aksi kami sejam lagi saat Victor pulang dari jam Kuliahnya. Kami akan membawanya ke rumah kosong di atas bukit. Ya.. Tempat dimana kita membuat catatan kriminal karena tergoda dengan seorang pemuda sampai akhirnya memperkosanya. Sedangkan si pemuda yang menjadi korban kita ternyata sudah meninggal bunuh diri dan tak diketahui dimana mayatnya."
Hening. Angin mulai berhembus dan Emil masih menatap JJ kesal setelah ia mengatakan hal tersebut.
"Dan kalau kita tertangkap?" Tanya JJ. "Konsekuensinya sama 'kan? Kita tetap akan dipenjara."
"Memang." Balas Emil. "Tapi selama kita bisa merahasiakannya semua ini akan aman. Kita bisa membuat Victor seolah-olah mengalami kecelakaan. Kita akan menjatuhkan Victor dari lantai dua. Menulis sebuah surat yang mengatakan jika dirinya bunuh diri karena sudah putus cinta. Tenang saja. Aku punya sepupu yang bisa mencontek tulisan orang lain. Dia tidak akan curiga karena bahasa yang ku gunakan."
JJ mulai meneguk ludahnya berat bahkan setelah Georgi dan Emil meninggalkannya.
Dan benar saja satu jam kemudian, Georgi dan Emil melakukan aksi mereka. Tepat saat Victor pulang dan melewati sebuah jalan sepi mereka berdua membuntuti dari belakang. Dan saat mereka menganggukan kepala mereka serempak.
DUAGH!
Balok kayu dihantamkan dan Victor dibawa menggunakan mobil milik Emil.
.
.
.
TBC
.
.
.
Fic chap 2 selesai xD... Panjang seperti biasa. Tinggal satu chap lagi maka fic ini selesai.
btw untuk chap 3 akan penuh flashback dan lebih panjang dari ini. semua akan terungkap.
Potongan chapter untuk minggu depan.
"Tanganku sudah mulai lecet. Jika kalian menjatuhkanku dan aku mati lalu Polisi datang dan memeriksa tanganku bagaimana? Mereka akan berprasangka ada yang melakukan kekerasan padaku. Mereka akan mencari tahu sesuatu karena ternyata aku mati dibunuh dan bukannya bunuh diri. Dan kalau ketahuan kalian akan segera dipenjara."
"GEORGI!"
"Jahat sekali kau sampai membuat kedua tanganku lecet seperti ini. Rasanya sakit tahu."
"YURRRIIIII!"
"Oh iya... Saudara pria bernama Katsuki itu sudah datang hari ini. Dia— sangat marah. Bahkan— aku kena bentakan darinya karena mengaku adalah tunangan darimu, JJ."
"Guang Hong, kurasa aku telah jatuh cinta."
"Ma-maaf.. Tuan— Nyonya Katsuki. Sebenarnya.. Yang di makamkan itu— b-bukan Yuri."
. . . .
