Disclaimer.

Sui Ishida dan Ichiei Ishibumi

Rated: M

Warn: OOC, Typo, EYD yang ancur.

.

.

.

Chapter 2


Suara melenguh pelan keluar dari mulutnya ketika kesadarannya sudah kembali mengikuti matanya yang mengerjap beberapa kali. Menarik nafas pelan sembari meringis ketika kepalanya merasakan sedikit pening. Sedikit usaha, kepalanya terangkat dari meja kayu yang menjadi alas berbaring dan menyanggahnya dengan kedua tangan. Pijatan kecil pada kening untuk sedikit membuatnua rileks dilakukan sembari berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya kembali.

"Pagi?" Tanya pada dirinya sendiri. Cahaya mentari dari jendela yang menerangi apartemen sedikit tertutupi oleh gorden. Kemudian kedua tangannya terangkat keatas untuk meregangkan tulang dan sendinya yang sedikit pegal karena tertidur di meja.

"Apa hal yang terjadi semalam itu hanya mimpi?"

Raut wajahnya menunjukan ekpresi yang tidak bisa ditebak. Lintas gambaran kejadian-kejadian yang sepertinya dari mimpi tersebut kembali terputar di ingatannya yang seperti sangat nyata terjadi dan dialaminya. Entah itu seperti rasa lapar yang aneh, pisau dapur patah karena disengaja oleh dirinya yang menghujamkan ke perut, hingga ia seperti berteriak sendiri dan hilang kendali.

Memikirkan rasa lapar, sepertinya ia harus sarapan sekarang agar tenaga untuk beraktifitas hari ini cukup hingga waktu makan siang. Kewajiban mengikuti mata kuliah hari ini jangan sampai dilewatkan lagi karena sudah bolos selama dirinya berada di rumah sakit.

Ia berdiri dari kursi meja makan dapur apartemennya dan berjalan sedikit terhuyung akibat kondisi pening yang tidak kunjung berhenti memukul di kepalanya.

Dari dalam lemari pendingin, tangannya mengambil sebuah kotak susu dan beberapa roti isi yang masih ada. Setelah merasa menu sarapan yang sudah di ambil cukup untuknya; ia berjalan dan kembali duduk di tempat yang sama dengan merapatkan kursi menuju meja.

"..."

Entah, rasanya ia sedikit aneh melihat roti isi yang biasanya cukup untuk menggugah selera lapar di kedua genggaman tangannya. Tidak ada yang kurang, hanya hari ini ia kehabisan tomat yang dirasa tidak akan berpengaruh banyak untuk rasa rotinya. Ada sedikit rasa mual di perutnya ketika melihat seksama isi dari roti itu.

Chomp!

Tanpa banyak pikir ia mengambil gigitan pertama untuk rotinya. Hanya satu kunyahan yang berhasil dilakukan oleh giginya.

"Urggh!" Mendadak rasa ingin muntah ingin dilakukannya saat kembali ingin menguyah yang ada di mulut. "Uuargh!"

Rasa mual ingin muntah itu benar-benar menyakitkan. Kursi yang di dudukinya jatuh karena spontan berlari menuju wastafel dapur yang tidak jauh dari sana. Semua yang ada didalam mulut keluar karena lonjakan tenggorokanya benar-benar tidak menerima apa yang ia kunyah untuk sarapan. Keran air dinyalakan sambil membasuh mulutnya yang tidak henti untuk muntah. Ketika rasa mualnya sudah mulai memghilang, isakan pelan keluar mulutnya dengan air mata yang mengalir menuju sisa air basuhan di sekitar wajahnya.

"T-tidak mungkin.." Tubuhnya melemas hingga ia duduk terjongkok dilantai dan membenturkan kepalanya pada buffet wastafel dapur di ikuti isakan yang semakin kencang.

"Aku manusia! Aku bukan Ghoul!"

"Kenapa? Kenapa ini terjadi padaku!" Tangannya meninju lantai kayu apartemennya berulang kali. Merealisasikan rasa sulit di terimanya oleh akal sehat.

Ghoul. Monster yang memangsa manusia untuk di jadikan makanannya. Terdengar begitu menyeramkan bukan? Teror dari monster-monster tersebut membuat rasa cemas dan waspada untuk seluruh warga Distrik di Tokyo. Apa yang paling menakutkan diantara Kuchisake Onna atau Ghoul? Tentu saja mereka akan menjawab Ghoul. Saat kau berjalan di malam hari dan menemukan seseorang yang mengeluarkan sesuatu hal aneh di belakang punggung mereka; serta dengan warna mata abnormal, apa yang akan kau lakukan? Melawan atau lari hanya membuat hidupmu sedikit lebih panjang atau kebalikannya jika Ghoul itu berbaik hati; berakhir dengan tubuhmu yang dinikmati oleh mereka seperti memakan steak yang lezat.

Itulah paradigma orang-orang tentang monster yang mereka sebut Ghoul. Darimana mereka berasal, kenapa mereka ada dan siapa sebenarnya mereka; sebelum itu terjawab pun sudah terbirit kesetanan karena bertanya pada mereka sama dengan memberikan tubuhmu pada mereka.

Namun belakangan ini, rasa aman dapat dirasakan para warga Distrik. Ketika organisasi kepolisian tidak cukup mengatasi hal itu, lahirlah organisasi CCG atau Komisi Pemberantasan Ghoul yang terbentuk dari keberanian yang bersatu melawan para monster tersebut. Organisasi CCG secara langsung mengatasi dan mengawasi para Ghoul sesuai nama organisasi mereka. Namun, teror tidak pernah reda karena Ghoul itu sendiri.

Jika kutanya, apa kau bisa membedakan manusia dengan Ghoul secara langsung saat bertatapan? Cara mereka berpakaian, gaya hidup, lingkungan dan lainnya tidak jauh berbeda dari manusia. Yang membedakan adalah mereka memakanmu.

Hal itu yang membuat Kaneki tidak bisa tenang dari kemarin. Tak terkecuali hari ini, hanya sebentar melupakan itu namun takdir sekecil apapun memang tidak bisa dilupakan.

Lalu, bagaimana kehidupannya? Semuanya? Dan bahkan.. Hide? Apa yang akan dikatakan sahabatnya yang sangat dekat dengan Kaneki ketika ia menyadari setelah sahabatnya keluar dari rumah sakit dan berubah menjadi Ghoul? Benar-benar tidak bisa dibayangkan Kaneki.

"H-Hide... Aku harus bagaimana?"

.


Jemarinya memilah-milah daftar buku yang memiliki jilid dan judul yang berbeda pada rak buku di depannya. Dari huruf A-Z, genre, dan pengarang semuanya masih tidak bisa membuat Kaneki tertarik untuk membaca dan mengambilnya. Ekspresi yang masih sama; yaitu tidak tertebak seperti murung di wajah Kaneki memang mewakili hati dan pikirannya yang masih tidak bisa di terima bahwa dia adalah Ghoul.

Kelas kuliah hari ini mau tidak mau kembali ia lewatkan dan memilih pergi ke toko buku dekat apartemennya. Kondisi mood dan pikirannya sedang tidak stabil, lagipula juga ia tidak mau membuat kelas menjadi gaduh karena ia berubah menjadi beringas dan memangsa mereka bukan?

'Aku monster.'

'Aku Ghoul.'

Hanya kalimat-kalimat itu berputar di kepalanya dan terus diucapkan dalam hati bahkan sampai saat ini. Mungkin jika dibilang, Kaneki saat ini sedang fase cobaan 'Hidup segan mati tidak mau'

Merasa tidak ada yang benar-benar menarik untuk di belinya, Kaneki pergi dari sana sambil menundukan kepalanya menuju pintu keluar toko buku. Tujuan selanjutnya mungkin adalah sebuah tempat yang Kaneki butuhkan untuk mencari angin segar sebagai sebuah melemaskan sedikit rasa tegang di hati dan pikiran.

Pintu kaca toko di tariknya dengan sedikit tenaga dan sensasi angin luar ruangan menyambut indera peraba Kaneki. Tarikan nafas dilakukannya sambil melangkahkan kakinya menuju keluar. Tetapi selum sempat melanjutkan langkah keduanya, kakinya terhenti ketika kedua matanya melihat hal yang memecah perhatiannya kepada itu.

Menunggu lampu penyeberangan di perempatan jalan sambil menenteng tas dengan kedua tangannya kebawah dan di senderkan pada rok sekolah, seorang gadis yang kelihatannya adalah murid dari Sekolah Menengah Atas di sekitar Distrik 20 karena seragam khas yang dikenakannya. Posisi Kaneki yang berada hanya beberapa meter di belakang dengan posisi menyamping dapat melihat satu sisi wajah gadis itu yang memasang wajah jengkel dan bibir sedikit mengerucut.

Kaneki beku di tempat, matanya terpaku pada gadis tersebut yang belum sadar jika Kaneki menatapnya dengan intens. Sebenarnya, ia mengingat gadis itu; seperti apa yang ia tebak pagi tadi bahwa semuanya mimpi belaka. Dari raut wajah, warna rambut dengan dikuncir ekor, tinggi badan yang Kaneki coba tebak semua benar-benar di lihat oleh mata kepalanya dua kali yaitu semalam dan hari ini.

"E-eh?" Kaneki sedikit tersentak saat mata gadis itu bergulir kearahnya. Tak hanya itu, wajahnya memalingkan kearah Kaneki di ikuti gestur tubuhnya memutar.

"Kaneki-kun?" Panggilnya dengan nada bingung.

"A-ah! A-a-aku.." Kepalanya menengok kanan-kiri seperti linglung. Tangannya masih menahan pintu kaca toko buku yang terbuka begitu saja.

"Kenapa terlihat linglung, Kaneki-kun?" Tanya kembali gadis itu. Wajahnya sedikit mendongak keatas melihat toko yang Kaneki datangi. "Ah, ternyata kamu suka membaca buku ya."

Gadis itu sedikit terkekeh dengan intonasi nada yang manis membuat Kaneki makin gemetaran. Kepalanya yang menengok kanan-kiri kembali diam lagi sambil menatap gadis itu dengan ekspresi tegang. Kakinya sedikit bergetar menahan guncangan tubuhnya sendiri.

"Kamu apa benar baik-baik saja, Kaneki-kun?".

'Tolong. Berhenti memanggilku dengan suffiks dan nada manis itu!'

Ludahnya tertelan menahan grogi luar biasa yang tiba-tiba saja muncul saat gadis itu melihatnya. Astaga, Kaneki benar-benar tidak bisa untuk mengontrol dirinya untuk tenang!

"Hei kau yang berada di pintu masuk! Kalau kau jatuh cinta dengan pintu itu, tolong untuk membiarkan terlebih dahulu orang dibelakangmu untuk lewat!"

"Eh?" Kaneki sontak menatap belakang saat dirasa itu panggilan untuknya.

Dibelakangnya ada seseorang yang kelihatannya adalah mahasiswa sepertinya bersedekap tangan sambil menatapanya sinis. Tak hanya itu, orang-orang yang ada didalam termasuk kasir dan karyawan toko melihatnya dengan aneh.

"M-maaf! A-aku s-sedang tidak fokus!"

Kaneki keluar dari toko buku dan membiarkan orang itu lewat. Berkali-kali kepalanya menuduk melakukan Ojigi kepada mahasiswa tersebut hingga Kaneki melihatnya sudah pergi jauh.

"Fyuh~ Kenapa aku bisa seperti ini."

Kaneki menggaruk bagian kepala belakangnya yang gatal karena bingung. Kepalanya yang sedaritadi melakukan menatap trotoar jalan diangkatnya untuk Ojigi kembali diangkatnya sambil mengesap pelipisnya yang sedikit dipenuhi peluh.

"Kaneki-kun?"

"H-Ha'i?"

Kaneki lupa bahwa ada seseorang lagi yang sedang melakukan kontak komunikasi dengannya. Menoleh kearah panggilan dan menatap kembali gadis itu yang benar-benar bingung padanya dari ekspresinya yang tidak berubah.

"E-ehehe... Heee.." Kaneki terkekeh pelan dengan terpaksa sambil menggaruk pipinya. Entah bingung apa yang ingin diucapkannya pada gadis itu.

Gadis itu kemudian tertawa pelan dengan tangan yang menutup bibirnya. "Sifatmu ternyata mudah grogi ya, lucu melihatnya."

Kaneki harus mengakui itu. Melakukan hal yang dekat dengan orang lain yang tidak dikenalnya apalagi seorang gadis memang bukan keahliannya. Hide adalah pengecualian, karena mereka sudah berteman sejak kecil. Setidaknya Kaneki tidak terlalu grogi kalau ketemu Hide seperti sekarang ini.

Memang sedikit merepotkan.

.


"Hm, begitu. Jadi Kaneki-kun itu orang yang mudah grogi dan sedikit pemalu ya."

"B-bisa dibilang seperti itu, maka dari itu aku terkadang sulit untuk berteman dengan orang lain. Bertutur sapa pun aku tidak tau harus bagaimana melalukannya." Kaneki menundukan kepalanya sambil mengalihkan pandangan pada gadis yang ternyata adalah Akeno; seorang siswi dari salah satu SMA di Distrik 20 yang melihat 'insiden' Kaneki semalam.

"Kurasa seperti itu.."

"Kenapa bisa seperti itu?" Akeno bertanya dengan nada tertarik. "Apa memang kamu orang yang introvert?"

"Itu juga termasuk kok. Aku memang lebih suka membaca buku ketimbang bermain dengan teman sebayaku semenjak kecil. Ibuku sering membawakan buku untukku baca setiap hari." Kedua matanya memejam mengingat memori tentang seorang wanita yang dekat dengannya dan sering ia panggil 'Ibu'. Kaneki terdiam sesaat dan meremas tangannya sendiri yang berada di kakinya.

Bangku di taman yang cukup panjang jadi tempat duduk mereka berdua sekarang. Setelah Kaneki mulai berani bicara secara lancar dengan Akeno, mereka memutuskan untuk pergi berjalan-jalan, meski faktanya jalan-jalan tersebut di isi keheningan karena mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing dan tidak mau mulai topik pembicaraan.

Ketika langkah keduanya mendekati taman kecil yang cukup pas untuk destinasi jalan-jalan kecil mereka; Akeno menarik tangan Kaneki dan membawanya dengan tanpa perlawanan Kaneki. Setiap mereka sampai di spot tertentu yang cukup spesial disana, Akeno lah yang memulai berbicara duluan dan dijawab Kaneki cukup simpel namun entah membuat nyaman karena gaya bicara Kaneki yang menurutnya unik dan membuat sedikit tergelak tawa. Untung saja taman terlihat sepi, mungkin hanya beberapa orang yang lewat.

"Aku sangat menyayanginya.. Meskipun caranya agak kasar, aku menyayangi Ibu apapun sikapnya kepadaku. Hingga..."

"Hingga?" Akeno kembali bertanya. Namun yang didapatnya adalah perubahan ekspresi wajah Kaneki yang menjadi sedih dan diam tanpa melanjutkan penjelasannya. Lalu ia sadar arah perkataan Kaneki yang menuju kearah mana. Kemudian langsung berinisiatif meminta maaf. "Ah. Maaf! Kurasa aku terlalu banyak bertanya padamu."

Kaneki tetap diam. Helaan nafas dilakukannya sambil mengangkat kembali kepalanya menuju Akeno. Ia bergeleng. "Tidak apa-apa. Aku terkadang terlalu berlebihan pada masalahku sendiri sehingga malah membuat orang menjadi khawatir padaku." Kaneki terkekeh kaku sambil memasang wajah tersenyum paksa kembali.

"Kaneki-kun."

"E-eh. I-iya?"

"Apa kamu menyukaiku?"

"Ha?"

Tik tok. Tik tok. Ding!

"E-EEEH?"

Jantung Kaneki mendadak berdesir cepat ketika berhasil mencerna apa yang barusan di dengarnya dari Akeno. Otaknya yang gampang mencerna kalimat di buku-bukunya mendadak telat merespon ketika kalimat Akeno kepadanya cukup membuat kaget. Bagaimana tidak? Kau ditanya seperti itu pada seorang gadis cantik yang tertarik pada dirimu? Meski Kaneki kurang mengetahui bagaimana dekat dengan lawan jenis karena sifat introvertnya, tapi hal lantang dan sangat jelas itu pasti membuat siapapun paham apa maksudnya.

"Bagaimana, Kaneki-kun?" Akeno kembali menanyakan dengan tersenyum.

Duh, bagaimana menjawabnya? Apa ini semacam kuis yang pernah ditemukannya pada sebuah buku teka-teki? Mungkinkah Sherlock Holmes bisa memecahkan kasus pertanyaan seperti ini? Atau-Ahhh! Itu semua membuat Kaneki kembali menjadi grogi luar biasa!

"A-Aku. A-akuu..."

"Hm?"

Kaneki memegang dagunya seperti memegang janggut yang sebenarnya tidak ada disana. "I-iya. A-Aku s-suka..."

"Suka?" Kaneki mengangguk cepat. "Padaku?" Ia kembali mengangguk, kali ini sedikit kaku dan agak ragu.

"Ufufuf~ Reaksimu lucu dan manis lho jika kamu melihatnya tadi~"

"H-Ha'i?" Tanpa Kaneki prediksi, tangannya disentuh oleh Akeno dengan lembut sambil mengusap jari-jarinya; membuat ekspresi Kaneki menjadi tidak karuan.

"Awalnya aku hanya bercanda saja. Tapi mendengar bagaimana kau menjawabnya itu dengan serius, aku malah senang sekali Ufufuf~"

Astaga. Gadis ini cukup berbahaya juga! Sikapnya yang sulit ditebak dari penampilannya benar-benar berbalik jauh dari Kaneki yang secara dikatakan polos jika dibandingkan langsung. Sepertinya jawaban Kaneki salah besar dan membuat dirinya mungkin lebih waspada dengan Akeno-dalam arti pembicaraan tentang rasa suka.

Bruk!

"Kaneki-kun!"

Akeno panik saat Kaneki terhuyung jatuh dengan terpeleset dari tempat duduknya dan membuat Kaneki mencium setapak jalan di taman itu. Wajahnya memerah luar biasa dengan senyuman yang mirip dengan karakter 'serigala sedang jatuh cinta' di kartun barat dimana ekspresinya hampir sama.

Setelah usaha Akeno menyadarkan Kaneki yang entah itu pingsan atau apapun mereka kembali duduk dengan rapih di bangku taman dengan saling membuang pandangan kearah berlawanan.

"Ehem." Kaneki berdahak pelan lalu menoleh ke Akeno. "Kau tidak masuk sekolah hari ini?"

Merasa pertanyaan itu untuknya, Akeno berbalik. "Ahh. Kalau itu aku sedang ingin bolos." Jawabnya dengan senyum canda. "Dan-tolong panggil namaku dong, Kaneki-kun~"

Kaneki menelan ludahnya kembali saat Akeno memanggilnya dengan nada centil. "B-b-baiklah, A-Akeno-chan.."

"J-jadi aku benar bolos?" Tanya kembali Kaneki.

"Nggak kok. Aku masuk hari ini, tapi mendadak badanku tidak enak dan akhirnya aku izin dengan guruku untuk pulang." Ucap Akeno. "Memang terkadang merepotkan sih masalah ini, huff~"

"O-oh begitu." Kaneki mengangguk pelan. "Apakah parah kondisinya?"

"Ah-yaa.. Sebenarnya aku mempunyai masalah asma kok." Akeno menjawabnya dengan sedikit ragu. "Tidak apa-apa kok tapi! Aku hanya lupa bawa inhaler asmaku!"

"B-baiklah. Aku lega kau baik-baik saja." Kaneki tersenyum kaku.

"Lalu? Kaneki-kun sendiri? Tidak sekolah?"

Ia menggeleng. "Iee, masa sekolahku sudah selesai. Sekarang aku menjadi mahasiswa dari Universitas Kamii."

"Waaah! Universitas Kamii yang merupakan universitas terpopuler itu?" Akeno mendadak antusias saat mendengar status Kaneki saat ini.

"T-tidak terlalu populer banget kok."

"Lalu kenapa kamu tidak kuliah hari ini, Kaneki-kun?"

"Tidak kuliah hari ini?" Ulang Kaneki. "B-bisa dibilang mungkin karena kejadian semalam.. Aku menjadi tidak bersemangat kuliah hari ini..."

"Semalam.." Akeno coba mengingat apa yang dibilang Kaneki. Dan, ia sadar saat melihat wajah Kaneki yang sama seperti semalam.

Wajah yang tersiksa, menangis, depresi. Tidak menerima bahwa kini sekarang ia adalah 'setengah'.

Akeno menundukan wajahnya. "Maaf."

Benar, semalam dengan jelas ia melihat Kaneki yang bukan Kaneki sekarang. Salah satu mata yang hitam dengan pupil semerah darah, benda menyerupai ekor dibelakang punggung. Menyadari bahwa Kaneki bukan manusia, tapi Ghoul. Namun itu ditentang oleh Kaneki, masih ingat dipikirannya bahwa laki-laki yang sedikit lebih tua darinya tersebut berteriak bahwa ia bukan Ghoul.

Akeno tidak benar-benar mengetahui Ghoul itu bagaimana. Paling dipahami olehnya adalah Ghoul memiliki dua mata yang hitam saat berubah; tapi Kaneki hanya satu. Menyimpulkan bahwa Kaneki adalah setengah. Yah.

Setengah manusia dan setengah Ghoul.

Eksistensi yang merupakan penistaan dari dua hal yang berlawanan dalam satu tubuh. Sebuah anomali kehidupan.

'Ghoul memangsa manusia, manusia berlindung dari Ghoul. Lalu apa jadinya jika ada seseorang merupakan dua sisi itu dalam kesatuan?'

Akeno juga menyadari. Status Kaneki ini hampir mirip dengannya.

"Siapa sebenarnya aku?"

Kaneki berbicara sendiri.

"Niatku hanya mengantar sebuah gadis yang ketakutan pulang larut malam. Lalu secara terkejutnya ia memangsaku karena dia adalah Ghoul."

"Aku pingsan, terbangun dirumah sakit, lalu kemudian menemukan diriku sekarang adalah Ghoul."

Jadi seperti itu.. Kaneki mengantar seorang perempuan yang tidak disadarinya adalah Ghoul. Memang, Akeno sebenarnya bukan siapa-siapa. Tapi mendengar Kaneki mengantar perempuan lain membuatnya sedikit meringis di hati.

"Kaneki-kun..."

Air mata yang Kaneki tahan di pelupuk mata akhirnya turun. "Aku... Hiks.. Hide... Apa yang akan dikatakan Hide nanti?"

"Aku.. Aku ini manusia.. Bukan Ghoul.."

Kaneki merengkuk kepalanya di kakinya yang tertekuk di bangku, membenamkannya disana sambil terisak pelan.

Sebenarnya Akeno ingin Kaneki tidak meringkuk seperti itu. Tapi ia tidak bisa menentukan apa yang harus dilakukannya. Tangannya pun meremat rok sekolahnya sambil menggigit bibir.

"Kaneki-kun."

"Aku tidak mau kau celaka, Akeno-chan..."

"Jangan pedulikan aku.. Aku tidak mau membunu-".

"Hentikaaaan!"

"..."

"Berhenti berucap seperti itu. Aku paham."

Kaneki mengangkat kepalanya menatap Akeno. "Kena...pa?"

"Ubah posisimu seperti biasa duduk."

"Aku-"

"Kumohon lakukan!"

Akeno membentak Kaneki. Sementara Kaneki diam melihat Akeno marah padanya. Tanpa tanya lagi ia mengikuti permintaan Akeno.

"Wajahku terlalu menyedihkan untuk-"

Grepp!

Gerakan mendadak Akeno membuat Kaneki mendadak terdiam. Pasalnya kini tubuh yang terlihat rapuh dan lebih kecil darinya memeluk dengan erat sambil membenamkan wajahnya di dada Kaneki.

"Aku paham. Paham apa yang kamu rasakan."

Akeno mendongak keatas untuk menatap Kaneki. Secara halus, tangan kanannya mengusap pelan pipi Kaneki sambil memasang senyuman terbaiknya.

"Kalau kamu ingin menangis, beritahu aku. Aku akan berusaha memelukmu hingga kamu tenang."

Kalau kamu merasa ingin cerita, ceritakan padaku. Aku akan senang sekali mendengarnya."

Tanpa sadar, setetes cairan bening turun dari wajah ayu Akeno.

"Kenapa sampai seperti ini?" Tanya Kaneki dengan pelan.

"Apa yang kamu rasakan, dapat kurasakan. Depresi, kesedihan dan kebingungan. Akhirnya ada seseorang yang bisa menemaniku. Menemani bagaimana hal itu sangat menyakitkan."

"Aku bolos sekolah hari ini bukan karena asma. Tapi siklus 'sayap'ku yang muncul secara acak kumat, tidak dapat ku kontrol hari ini."

Akeno menurukan tangannya dari pipi Kaneki. Kemudian menundukan wajahnya kembali. "Selama itu aku berdiam diri di kuil hingga kumatnya hilang, setelah itu aku kira bisa mengejar waktu datang ke sekolah. Namun nyatanya aku malah jalan-jalan bersamamu." Akeno tertawa pelan hingga matanya terpejam.

"Sayap?"

"Lihatlah." Akeno menunjuk pada tempat duduknya sendiri di samping kiri Kaneki dengan.

Melihat arahan jari Akeno, Kaneki mengikutinya dan melihat ada objek yang membuatnya melebarkan mata. Mirip seperti sehelai bulu hitam seperti milik burung gagak namun ukurannya cukup besar hampir sepanjang jari manusia. Mungkin Akeno hanya bercanda lagi saja, Kaneki ambil kesimpulan itu ketika melihatnya dengan baik-baik. Wajahnya kembali menoleh dan menemukan bahwa ekspresi Akeno bukan seperti yang dilihatnya saat bercanda.

"A-Akeno-chan?" Tanya Kaneki. "J-jadi k-kau.."

"Aku adalah anak dari Malaikat Jatuh, yang terlahir dalam rahim manusia."

.

.

.

.

.

.

To Be Continued.


.

.

Hm, ternyata fandom ini masih sepi ya. Buktinya hanya fic ini yang ada di daftar Xover antara TG dan DxD. Mungkin hype season 2 TG dan season 4 DxD masih belum membuat para author tertarik menuangkan idenya disini. Atau si Ninja kuning oren yang mencari perdamaian dari fandom sebelah masih populer juga sampai saat ini-Plaak

Ngga boleh ngomong gitu, buktinya saya juga ikutan nulis tapi ficnya malah terlantar. Dasar memang author buaya(?)

Btw, inilah chapter 2. Mulai dari Kaneki yang terbuka ke Akeno, dan Akeno yang membuka latar belakangnya kenapa dia peduli dengan Kaneki. Trus trus, jadi beneran dong Akeno itu malaikat jatuh? Ada Iblis ngga? Atau ada ninja nyasar kemari-dzziiig!

Untuk hal lain seperti Iblis, fraksi blabla atau ninja nyasar ngga akan ada disini. Saya hanya akan menunjukan romansa cinta antara Ghoul dan... Tunggu di chapter 3 yaaa :p