Koki-Koki Ganteng

Naruto belongs to Kishimoto-sensei

Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic ini penuh hal GAJE, AU, semi-OOC...XDD

Terinspirasi dari K-Drama "You are Beautifull"

Part II

Ini Ciuman?


'Baiklah, aku sudah memutuskan. Aku harus menyamar dan bekerja di tempat itu. Aku harus bisa mencari tahu rahasia apa dari kue-kue buatan 'Angel Bakery'. Ini semua demi 'Haruno Bakery'. Ya, ini janjiku. Aku harus mengembalikan kejayaan 'Haruno Bakery'.

.

.

"Kau yakin?"

"Tentu Kak! Ini demi 'Haruno Bakery'!"

"Kalau begitu, baiklah… Jaga dirimu baik-baik, Sakura. Bagaimana pun juga… mereka itu laki-laki."

"Tentu. Doakan aku, Kak!"

.

.

Sakura memandang bangunan di hadapannya. Bangunan dengan dinding kaca itu mampu tertembus indera penglihatannya. Dari tempatnya sekarang, ia bisa melihat sebagian besar isi di dalam ruangan itu. Toko kue itu tampak tutup, dengan tanda close menempel di pintu kaca toko itu. Sakura melirik sekitarnya, tak tampak satu pun koki 'Angel Bakery'.

"Maaf, toko kue kami tutup di Minggu pagi, Anda bisa datang nanti sore," ucap seorang pemuda yang tiba-tiba berada di belakang Sakura.

"Eh?" Sakura terlonjak kaget. Ia perhatikan pria yang tadi berada di belakanganya. Pria itu berambut kuning emas dengan cengiran yang hampir selalu dilihat Sakura pada wajahnya. Pria yang kemarin ia lihat di balik counter 'Angel Bakery.'

'Ia pasti salah satu dari maid sekaligus koki di 'Angel Bakery', batin Sakura.

"Nah, sampai jumpa nanti sore, Kak," ucap pria itu masuk menuju 'Angel Bakery'.

"Tu—tunggu!" panggil Sakura. Ia menjajari pria yang kini berada di depannya, tepat di depan pintu masuk 'Angel Bakery'.

"Ada apa lagi?" Tanya pria itu sambil memberikan senyum khas yang seolah tak pernah hilang dari wajahnya.

"Ngng… Aku… Izinkan aku bekerja di 'Angel Bakery'!" Sakura membungkukkan badannya, berharap pria itu menerimanya. Ia menegakkan kembali badannya. Kedua bola mata jadenya menatap penuh harap pada kedua iris biru langit milik pemuda itu.

"Eh? Aduh… Bagaimana ya—?" Pemuda itu tampak canggung dan bingung menjawab pertanyaan Sakura.

"Siapa pria itu, Naruto?" Sebuah suara mengalihkan pandangan Sakura dari pemuda berambut kuning terang di hadapannya.

Sakura berbalik, menghadap ke arah dimana ia bisa melihat siapa yang baru saja bertanya. Orang itu… Salah satu koki 'Angel Bakery'. Pria berambut hitam kebiruan yang wajahnya dingin.

"Ngng… begini Sasuke, kakak ini ingin bekerja di 'Angel Bakery'," jelas Naruto-pria berambut kuning terang.

Sasuke mengamati Sakura dari ujung rambut sampai kaki. Rambut merah muda pendek mencolok, wajah yang terlalu manis untuk ukuran laki-laki, dengan kemeja kebesaran dan celana panjang pas-pasan. Sasuke menaikkan sedikit alis kanannya, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.

"Kami tidak menerima orang baru," ucap Sasuke sinis lalu pergi begitu saja meninggalkan Naruto dan Sakura.

"Tu—tunggu!" ucap Sakura sambil mengejar Sasuke. Ia memblokir jalan di depan Sasuke, merentangkan kedua tangannya, menghalangi Sasuke beranjak lebih jauh lagi.

Sakura membungkukkan badannya, "Tolong terima saya!"

"Mmm…" Sasuke terlihat berpikir serius sebelum mengatakan, "tidak!" dengan senyum yang menyebalkan.

"Tolonglah…" Sakura kini meremas bahu Sasuke, menahan pria itu lebih lama sebelum mengabulkan pemintaannya. Sasuke mngernyit—menaikkan sebelah alisnya dengan gusar.

"Sepertinya ada sesuatu yang ku lewatkan?"

Baik Sakura, Sasuke, maupun Naruto segera menoleh ke asal suara. Tampaklah seorang pria dengan rambut merah berdiri di belakang Naruto.

"Gaara, untung kau datang," Naruto lah yang pertama kali membuka suaranya.

"Ada apa?" Tanya Gaara sambil melirik Sasuke dan Sakura.

"Begini, kakak itu—" Naruto melirik ke arah Sakura, "—ingin bekerja di 'Angel Bakery', tapi Teme tidak menyetujuinya," jelas Naruto.

"Tentu saja aku tidak menyetujui orang baru tanpa kualitas bekerja di 'Angel Bakery'," bela Sasuke, ia tersenyum meremehkan ke arah Sakura. Penekanan kata 'tanpa kualitas' membuat Sakura sedikit geram.

'Sombong sekali sih si 'Pantan Ayam' ini,' batinnya.

"Kenapa tidak kita terima saja, kakak ini?" usul Gaara sambil tersenyum.

"Eh, benarkah?" Sakura kini melangkahkan kakinya ke tempat Gaara. "Terima kasih," ucap Sakura sambil berkali-kali membungkukkan badannya.

"Heh, tidak bisa begitu!" sela Sasuke. Ia menuju tempat Gaara dan Sakura. Gaara tersenyum tipis, berusaha menenangkan Sasuke. "Kita lihat dulu perkembangannya Sasuke. Jika dalam seminggu ia tahan dan bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya, kita menerimanya. Jika tidak…" Gaara menggantungkan kalimatnya, melirik ke arah Sakura dengan senyum manis yang mau tak mau membuat pipi Sakura merona.

"Ba—baik, jika aku tidak bisa menyesuaikan diri dalam satu minggu. Aku akan mengundurkan diri." Sambung Sakura.

"Nah, masalahnya sudah selesai kan?" Gaara melirik Naruto—yang dibalas dengan cengiran—kemudian Sakura—yang dibalas dengan senyum lega—dan terakhir Sasuke—yang membalas dengan senyum tak puas. "Perkenalkan, namaku Sabaku Gaara."

"Aku Uzumaki Naruto, dan—oy! Teme!" Naruto memanggil Sasuke yang langsung masuk ke dalam tanpa memperkenalkan dirinya, "si Teme itu bernama Uchiha Sasuke."

"Hmm… Namaku Saku—eh, namaku Haru Sakuragi. Mohon kerjasamanya!" Sakura menundukkan badannya, sembari tersenyum memandang Naruto dan Gaara secara bergantian.

.

.

Sakura tertegun memandang dapur di hadapannya. Awalnya ia sangka, ketiga koki Angel Bakery pastilah sangat sibuk sehingga dapur mereka pasti kotor dan menjijikan. Namun, dugaannya meleset. Bahkan ia tampak terkagum-kagum melihat dapur yang rapih dan bersih. Ia bahkan terkejut melihat peralatan sederhana di sini. Mesing pemanggang roti di sini pun masih manual, bukan pemanggang roti otomatis yang cukup mahal.

"Kaget ya melihat dapur kami?"

"Eh?" Sakura tersenyum salah tingkah mendapati dirinya kepergok sedang mengamati dapur.

"Semua yang melihat dapur kami pasti akan kaget sepertimu. Sini, coba ulurkan tanganmu!" Pria berambut merah itu menarik telapak tangan Sakura, ia elus permukaan telapak tangan Sakura.

"Eh, itu—"

"Tanganmu halus sekali, Haru—" Gaara memandang Sakura dengan tatapan lembut sambil tersenyum tipis, "—seperti tangan seorang gadis."

Sakura buru-buru menarik tangannya dari pegangan Gaara. "Hahaha… Tidak, aku hanya, mmm… kebetulan saja, aku sekeluarga memang memiliki tangan yang halus. Hahaha…" Sakura berusaha mengalihkan pembicaraannya, "Mmm… Siapa yang pertama kali mendirikan Angel Bakery, Gaara-senpai?"

"Sasuke. Ialah penggagas awal toko kue ini. Kau pasti tidak menyangka jika orang sedingin dia mampu membuat kue dengan kelembutan yang sangat baik. Omong-omong, panggil saja aku Gaara. Tak perlu menambahkan senpai pada namaku."

"Aaa… Baik. Err… Gaara. Hehehe…"

"Dasar!" Gaara mengacak-acak kecil rambut Sakura. Dan matanya sedikit menyipit melihat jepit rambut kecil di atas telinga kanan Sakura, segera ditutupi kecurigaannya dengan tersenyum tipis.

'Ia seorang gadis?'

Sedang Sakura hanya tersenyum saat Gaara mengacak-ngacak kecil rambutnya, sampai sebuah suara menghentikan senyumnya.

"Jangan terlalu memanjakan anak baru itu, Gaara!" Sasuke berkata dengan nada datar, tetapi Sakura dapat menangkap dengan baik sindiran yang terkandung di dalamnya. "Ku lihat, ia belum mengerjakan apa-apa sampai saat ini."

"Jangan begitu Sasuke, ini baru hari pertama ia kerja, biarkan ia melihat-lihat dulu dapur dan cara kerja kita." Bela Gaara sambil memandang lembut Sakura.

'Menyebalkan sekali sih yang namanya Sasuke ini! Liat saja tampangnya yang belagu dan sombong. Eugh!' Batin Sakura.

"Apa kau liat-liat?" Bentak Sasuke pada Sakura.

"Aaa…"

"Nah, Haru. Kau di sini dulu, lihat bagaimana cara membuat adonan chiffon's cake dari Sasuke. Aku akan membantu membereskan ruang depan dulu dengan Naruto. Sasuke, jangan terlalu galak pada Haru." Gaara pun berlalu meninggalkan Sakura bersama dengan Sasuke di dapur.

"Nah, anak baru, lihat dan perhatikan baik-baik! Aku tidak akan mengulang semua ucapanku!" Gertak Sasuke, ia mengambil beberapa bahan kue dan seperangkat alat kocok manual dari rak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ditaruhnya semua itu di atas meja.

'Tch! Kenapa tidak Gaara saja sih yang mengajariku!' sungut Sakura dalam hati.

Satu jam ke depan dihabiskan Sakura mendengar segala ocehan Sasuke tentang bahan-bahan, alat-alat, bahkan beberapa cara mengocok telur dan terigu yang baik yang pastinya sudah dihapal Sakura di luar kepala—menilik statusnya yang lulusan sekolah koki terbaik di Italia. Sakura menutup mulutnya dengan tangan saat menguap ngantuk mendengar penjelasan Sasuke.

"Ooiii! Kau mendengarkan penjelasanku tidak?" Sasuke berteriak tepat di telinga Sakura.

Astaga, Sasuke-senpai! Bisa tidak sih tidak berteriak seperti itu?" Sakura mengusap-ngusap telinganya yang sakit akibat teriakan Sasuke.

"Kau, coba jelaskan ulang apa saja yang sudah ku jelaskan tadi!"

"Bahan-bahan kue yang baik jangan dibuka dari bungkusnya lewat dari satu minggu, kalau mengocok telur usahakan ujung pengocok menyentuh permukaan tempatnya dengan catatan tidak menekan sampai menggores—"

"Stop! Ok! Aku percaya kau mendengarkanku. Nah sekarang kau ambil kain pel itu! Kita akan membersihkan dapur sebelum mulai membuat kue!" Perintah Sasuke sambil menunjuk kain pel di ujung dapur.

"Tapi kan, dapur ini sudah bersih!" Tolak Sakura.

"Tidak ada tapi-tapian!"

"Dasar jelek!" desis Sakura pelan, namun cukup keras untuk didengar oleh Sasuke.

"Siapa yang jelek?" Tanya Sasuke.

Sakura memanyunkan bibirnya sambil bersungut-sungut kesal, ia berbalik menghadap Sasuke, bermaksud menjawab pertanyaannya. Ia tak tahu jika kini Sasuke tepat berada di belakangnya. Dan saat itu juga ia merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya.

Satu… Dua… Tiga…

"ARGHHHHH…!"

TBC


Saya tahu saya tidak bertanggung jawab dengan menghilangkan draft fic ini. Dan molornya fic ini yang baru diapdet hari ini. #pundung.

Tetapi saya sangat berterimakasih jika kalian memberikan feedback.

Terima kasih buat semua yang telah memberikan feedback di chap pertama. #hug

Jaa...