Hueeee.............DX
Minnaaa.........!!! Gomennaaaaaaaa........TT_TT
Karena part 1nya pada diprotes, kujadiin chap 2 aja dahh....-_-'
skali lagi maaphkan kecerobohan saya yang menghapus bagian 1 tanpa tau apa yang bakalan terjadii.....
Sebelum dimulai, mari sya jelaskan situasinya. Kisah ini dimulai tiga tahun setelah Sasuke meninggalkan Konoha. Semua setelah kejadian penculikan Kazekage, sya hapuskan :D. Intinya, pertemuan tim 7 yang baru dengan Sasuke tidak pernah terjadi, tetapi Sasuke sudah dengan sukses membunuh Orochimaru.
Beberapa OC yang akan bermain dalam chapter ini adalah:
- Chika Nagato, kunoichi asal Otogakure,
- Furuki, shinobi asal Otogakure,
- Ecchan Lavender, pegawai di sebuah penginapan,
- Haruki, kunoichi asal Konoha,
- Kosuke Maeda, shinobi asal Konoha, dan
- Haruna, kunoichi asal Konoha.
Chapter I
- Rendezvous -
"Terima kasih"
Hanya dua kata yang diucapkan Sasuke padanya terakhir kali mereka bertemu. Tiga tahun sudah berlalu, walau begitu tidak sedikitpun terlupakan apa yang terjadi pada malam mereka berpisah. Dan sekarang mereka berhadapan di tengah hutan pinus, di tengah-tengah tetesan salju yang mencair dari ranting-ranting pohon dan beberapa pria bertopeng yang bergelimpangan.
"Sasuke..", gadis berambut pink dengan jubah berwarna coklat pasir panjang menutupi seluruh tubuhnya menatap laki-laki berambut hitam mencuat yang berdiri tidak jauh darinya dengan takjub. Mata hitam yang sama dengan yang selalu ada dalam ingatannya yang selalu menatapnya dengan bosan. Wajah pucat yang selalu menunjukkan ekspresi dingin padanya, tidak sedikitpun berubah.
"Lama tidak bertemu, Sakura", secercah senyum terdengar dari suaranya. Sasuke yang sudah sangat lama dirindukannya sekarang muncul di hadapannya, menyapanya dengan sapaan terlembutnya yang pernah didengar Sakura.
"Sasuke-kun… apa…. Apa yang kau lakukan di sini?", suara lemah dengan nada tidak percaya muncul dari mulut Sakura. Sasuke hanya menatapnya. Senyuman kecil yang tadi muncul di sudut bibirnya sudah menghilang. Sakura yang biasanya dilihatnya memakai pelindung dahi di kepalanya, kali ini sama sekali tidak memakainya. Seharusnya seorang shinobi dalam misinya di luar desa akan menunjukkan identitasnya dengan pelindung dahi mereka.
"Kau sendirian?", Sasuke balik bertanya. Apakah dia mencari Naruto? Atau dia ingin bertemu Kakashi?, Sakura menyambut pertanyaan Sasuke dengan kecewa. Tidakkah bertemu dengannya juga bisa disebut dengan reuni? Sebelum Sakura menjawabnya, Sasuke sudah melesat di hadapannya, menatap lekat-lekat wajahnya dengan jarak yang tidak pernah dibayangkan oleh Sakura.
"Kau tidak berubah. Sedikitpun tidak ada yang berubah", Sasuke mengalihkan matanya dari mata hijau Sakura dan mengangkat tangannya, menyentuh poni di dahi Sakura.
"Rambutmu tetap pendek, padahal kau tahu aku lebih suka rambutmu panjang", Sasuke mengomentarinya dengan ringan, seolah mereka hanya teman yang tidak bertemu selama beberapa hari. Sakura menyadari posisinya dan segera melompat mundur menjauhi Sasuke. Sasuke kah yang ada di hadapannya sekarang?, pikirnya ragu.
"Apa….. apa yang kau lakukan di sini?"
"Kenapa? Kau sama sekali tidak kelihatan senang bertemu denganku. Bukannya selama ini kau selalu mencari-cariku?", Sasuke mengatakannya dengan ketus menerima tatapan bermusuhan Sakura. Dia sadar, kelakuannya agak berlebihan. Bukan dia kalau tiba-tiba menjadi sok akrab seperti itu, terlebih lagi setelah menghilang selama tiga tahun kemudian tiba-tiba muncul di dekat perbatasan Konoha.
Tega sekali dia bertanya seperti itu. Apakah setelah bertahun-tahun kami mencarinya, tiba-tiba dia memutuskan untuk kembali begitu saja?
"Apa yang kau lakukan di sini?", Sakura mengulangi lagi pertanyaannya dengan lebih mantap, tidak menghiraukan pernyataan Sasuke yang terdengar ganjil di telinganya.
"Ini bukan wilayah Konoha kan?! Kau sama asingnya denganku di tempat ini, Sakura. Jadi kau juga seharusnya tidak berhak bertanya padaku seperti itu".
Tiba-tiba Sasuke melesat mendekati Sakura lagi dan tanpa Sakura bisa menghindarinya, mata hijaunya sudah terkunci menatap mata merah berpendar Sasuke, dan dia langsung terjatuh di lengan Sasuke. Tepat saat itu, suara gemerisik yang menandakan adanya orang-orang lain yang datang terdengar lebih jelas. Dua orang lain dengan jubah abu-abu gelap yang sama dengan yang dipakai Sasuke muncul dan mendarat di belakang Sasuke.
"Sasuke!", suara ringan seorang perempuan terdengar dari salah satu pendatang. Sosok itu menatap onggokan tubuh yang berjatuhan di sekitar Sasuke kemudian menghampiri Sasuke dan membuka kerudung yang menutupi wajahnya yang terlihat pucat.
"Ada apa?", dia mengibaskan rambut coklatnya yang tergerai di wajahnya dan melongok dari bahu Sasuke yang sedang berlutut kemudian cemberut menatap Sakura kurang suka.
"Heh. Tidak. Gadis ini tadi sedikit mengalami masalah, jadi aku membantunya. Tetapi sekarang dia malah pingsan. Hey! Nona?", Sasuke dengan cepat meluncurkan rentetan kebohongan dari mulutnya dan dengan berpura-pura cemas menepuk-nepuk pipi Sakura dengan lembut
"Hey! Mau apa kau Sasuke?", suara berat seorang laki-laki terdengar dari seorang lagi di antara mereka, tetapi sosok itu hanya berdiri diam, sama sekali tidak mau pusing membuka kerudung yang menutupi wajahnya. Dia mencoba meminta penjelasan Sasuke yang masih saja sibuk dengan gadis berjubah coklat pasir di pangkuannya.
"Tujuan kita ke desa terdekat kan. Kita bisa mengantarnya ke sana. Tidak baik membiarkannya tidak sadarkan diri di tempat seperti ini", jawab Sasuke seadanya memunggungi kedua rekannya. Tangannya dengan ringan menyapu helaian rambut pink yang terurai di wajah Sakura.
"Kenapa tiba-tiba kau jadi baik begitu? Ternyata tipemu yang seperti itu ya? Furuki! Hentikan dia!", gadis berambut coklat pendek tadi hanya melipat tangannya di dadanya dan mengomentari Sasuke dengan sebal.
"Hei Chika! Bawakan tasnya!", perintah Sasuke ringan sambil mulai memegangi Sakura dengan mantap sama sekali tidak menghiraukan Chika yang mengomel.
"Heeh??!! Kenapa aku?!", gadis itu hanya mengomel terus walaupun akhirnya dengan langkah yang dihentak-hentakan dia mengangkat ransel Sakura yang tergeletak tidak jauh dari tempat Sasuke mengangkat Sakura. Furuki yang menjadi korban omelan Chika hanya berdiri diam melihat Sasuke yang mengangkat Sakura dalam pelukannya. Walaupun Chika memintanya berbuat sesuatu, mereka tahu Sasuke paling tidak bisa ditentang kalau dia sudah mengambil keputusan. Jadi, mereka berdua hanya mengikuti Sasuke yang membopong Sakura sampai ke desa terdekat.
000000000000000
Sakura membuka matanya dan menemukan dirinya terbaring di tengah kamar. Tubuhnya memang agak lelah beberapa saat lalu, jadi rasanya beristirahat memang membuatnya jauh lebih nyaman..
"HAH!", Sakura sadar dan segera terbangun. Dengan panik dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan menemukan sosok berambut hitam mencuat yang terakhir kali tampak meredup di hadapannya beberapa saat lalu sedang duduk di samping jendela. Laki-laki itu berbalik dan menatap Sakura,
"Sudah sadar?", senyuman tipis menarik sudut-sudut bibirnya. Dia tersenyum, Sakura bisa mengatakannya. Dia tidak akan tahu Sasuke sedang tersenyum kalau saja Sakura belum mengenal Sasuke sebelumnya. Tiba-tiba Sakura menyentuh paha kanannya, meraba-raba mencari kantong senjatanya.
"Heh?", matanya bergerak ke tangannya, kemudian ke tubuhnya yang sudah dibalut yukata putih bergaris biru, dan terakhir matanya menancap pada Sasuke dengan ganas.
"Jangan menatapku begitu! Bukan aku yang mengganti pakaianmu kok!", Sasuke tersenyum licik pada Sakura, justru membuat Sakura makin merasa bingung.
"Kau? Kau Sasuke?", pertanyaan Sakura sama sekali tidak mengejutkan Sasuke. Tetapi entah mengapa membuat Sasuke benar-benar merasa asing di hadapan Sakura. Wajah Sasuke tampak kecewa saat dia berdiri dan mendekati Sakura. Sakura sudah siap melemparkan selimutnya saat Sasuke semakin mendekat padanya.
"Apa yang akan membuatmu yakin kalau ini memang aku? Aku langsung mengenalimu saat kita bertemu, kenapa kau tidak? Apa kalian memang sudah lupa padaku? Tidak ada lagikah Uchiha Sasuke dari kelompok 7 bagi kalian?", kata-kata Sasuke seakan menghantam wajah Sakura. Sesulit itukah baginya untuk menerima kembali keberadaan Sasuke?
"Tinggallah bersamaku. Kalau kau tinggal bersamaku, kau tidak akan menyesal karena setiap hari kita akan melakukan sesuatu yang menyenangkan, kita akan bahagia…", itu adalah kalimat yang sama dengan yang diucapkan Sakura saat mereka berpisah.
"…setiap kata yang kau ucapkan padaku malam itu, aku tidak lupa. Aku sama sekali tidak menyangka akan ada yang memberiku janji seperti yang kau lakukan. Aku benar-benar berterima kasih padamu", perlahan wajah Sakura melembut. Hanya ada dia dan Sasuke malam itu. Dan dia sama sekali tidak menyangka, Sasuke akan mengingat setiap kata yang diucapkannya saat itu.
"Selama ini, apa kau tahu seberapa banyak yang sudah aku dan Naruto lakukan untuk mencarimu? Kenapa kau sekarang.."
"Aku tidak pernah berniat kembali lagi ke Konoha. Jangan salah paham. Jangan hanya karena kau menemukanku di dekat Konoha lantas kau berpikir aku akan kembali lagi ke Konoha. Berhentilah berpikiran naïf seperti itu Sakura. Apa kau pikir aku akan kembali ke tempat yang menghabisi keluargaku?! Aku tidak mau lagi berurusan dengan Konoha", Sasuke berdiri dan berjalan memunggungi Sakura, kembali lagi ke tempatnya duduk di samping bingkai jendela.
"Jadi, kau memang tidak akan pernah kembali lagi?". Kesunyian kembali membuat mereka termenung dalam pikiran mereka masing-masing. Ada rasa sedih yang tiba-tiba menguasai Sakura. Mungkin inilah terakhir kalinya dia bisa bertemu lagi dengan Sasuke, sayang Naruto tidak ada di tempat ini bersamanya.
"Lalu, apa yang kau lakukan sekarang?", Sakura bangun dan menghampiri Sasuke. Sasuke meliriknya sepintas saat Sakura duduk di dekatnya, di sisi lain jendela.
"Tidak ada…", Sasuke menjawabnya singkat, matanya masih menatap keluar jendela, kemudian dia mengalihkan pandangannya saat merasakan Sakura tersenyum. Senyuman yang hampir saja dilupakannya. Terakhir dia meninggalkannya saat Sakura menangis, bahkan dia tidak bisa menatap wajahnya langsung saat pergi meninggalkannya.
"…tapi aku senang kita bisa bertemu lagi", Sasuke kembali menatap keluar sebelum Sakura dengan terkejut menatapnya.
"Permisi", suara pelan terdengar dari balik pintu di seberang ruangan membuat Sasuke dan Sakura memutar kepala mereka ke arah pintu. Kemudian pintu bergeser terbuka dan seorang gadis memakai yukata biru es muncul di balik pintu dengan membawa dua tumpuk baki berisi makanan. Matanya sekejap menatap Sakura yang duduk di hadapan Sasuke dengan terkejut kemudian dengan wajah memerah menunduk menghindari tatapan Sasuke.
"Ecchan kan?!", sambut Sasuke terdengar menahan tawa, membuat Sakura menatap Sasuke curiga.
"I..Iya!", jawab gadis yang dipanggil Ecchan itu masih agak menunduk.
"Kau lihat, aku bukan penculik", Sasuke tiba-tiba merangkul bahu Sakura dan menyandarkannya ke tubuhnya. Sakura yang kelewat terkejut hanya bisa merah padam, pasrah saja saat Sasuke tidak juga melepaskannya.
Ecchan membawa bakinya masuk dan meletakkannya di tengah kamar. Setelah mengucapkan 'selamat menikmati', Ecchan menutup pintu dan kemudian terdengar suara gedebukan. Gadis itu sudah pasti berlarian segera menjauhi kamar Sasuke.
"Hhh..", Sasuke mendengus. Sakura segera mendorong Sasuke dan melepaskan dirinya dari pelukan Sasuke.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama tiga tahun ini hingga membuat Sasuke menjadi aneh begini?, Sakura mulai menatap Sasuke curiga.
"Anak itu yang mengganti pakaianmu. Dia menyangka aku menculikmu"
"Kau memang menculikku kan?! Sebenarnya apa yang terjadi padamu?", Sakura sudah tidak tahan lagi dengan sikap aneh Sasuke yang sangat berbeda.
"Tidak ada", jawab Sasuke singkat sambil berjalan menuju baki berisi makanannya.
"Sikapmu aneh! Itulah sebabnya aku tidak yakin ini kau!"
"Kau juga berubah. Bukannya biasanya kalau bertemu kau akan langsung memelukku?!", Sasuke mengatupkan kedua telapak tangannya dan segera memegang mangkok nasi dan sumpit, tidak menghiraukan Sakura yang sudah mulai berkutat dengan kekesalannya.
"Sudahlah, makan dulu".
00000000000000000000000
"OOI! NARUTOOO!!!", seorang gadis bertubuh kecil yang mewarisi gaya rambut Maito Gai versi coklat kemerahan, dengan marah menahan lengan laki-laki berambut hitam jabrik yang terluka di bahunya.
"Janga kabur!!! Kau pikir Kosuke tidak berat yaa???!!!"
"Maaf! Aku buru-buru!!!", jawab Naruto sekenanya sambil melesat ke tengah desa, kantor Hokage.
"Hoi, Haruki! Kau tidak perlu mengomentari berat badanku dengan berteriak di telingaku begitu kan?!", Kosuke di bahu Haruki dengan lesu mengomentari Haruki. Haruki hanya memapah Kosuke dengan susah payah ke pos di dekat pintu gerbang.
"Haruna-san! Genma-saan! Tolong bantu aku", Haruki setengah berteriak pada wanita yang dikenalinya dengan rambut hijau pendek sedang menunduk berkutat dengan kertas-kertasnya dan laki-laki yang sibuk menggigiti tusuk gigi di pos gerbang. Dua orang itu cepat-cepat mendatangi Haruki & Kosuke kemudian mengambil alih Kosuke dari bahu Haruki yang sudah kepayahan karena menyangga tubuh yang hampir dua kali lipat ukurannya dari tubuh kecilnya itu.
"Wah..wah.. Naruto sudah kabur duluan ya?!", tanya Genma menahan tawa.
"Iya! Dasar! Teman macam apa itu, meninggalkan beban seberat ini pada seorang gadis lemah macam aku. Pikirnya semua perempuan itu seperti Sakura ya! Awas saja kalau nanti dia kembali…..", Haruki marah-marah sendiri dengan berapi-api membuat Kosuke dan Haruna menyesal sudah membiarkan Genma memancing kemarahan Haruki.
Naruto mengetuk pintu Hokage dengan tidak sabar dan suara galak wanita menyambutnya dari dalam.
"Heh! Naruto?! Kau sudah kembali ya?!", Tsunade yang sudah bersiap mengamuk tiba-tiba melupakan niatnya begitu sadar yang sedang berdiri di hadapannya adalah Naruto yang hampir sebulan keluar dari desa untuk menjalankan misi.
"Sakura! Dia sudah pergi?", tanya Naruto tidak menghiraukan reaksi Tsunade.
"Ya. Kau agak terlambat sekitar….sepuluh jam", Tsunade menatap reaksi Naruto yang langsung berubah dari kasihan menjadi memelas.
"Kapan dia akan kembali?"
"Entahlah. Tergantung Kazekage. Mereka sedang membutuhkannya di sana. Dari pada itu bagaimana misimu?", Naruto mengkerut menerima pertanyaan Tsunade yang tepat sasaran. Seharusnya dia menghadap bertiga dengan Haruki & Kosuke yang ditinggalkanya di depan pintu gerbang. Haruki pasti akan memarahinya habis-habisan, dia harus segera kabur dari sini,
"Nona Tsunade. Ini yang terakhir", Shizune masuk membawa tumpukan kertas di tangannya dan seekor babi mengikutinya di belakangnya. Dia menatap Naruto dan mengucapkan selamat datang sambil meletakkan tumpukan kertas di meja Tsunade.
Kesempatan!, batin Naruto.
"Ah! Aku akan memanggil yang lainnya dulu. Nanti aku kembali lagi!", teriak Naruto dan langsung kabur meninggalkan Tsunade yang sebal dengan kelakuannya.
"Silakan ditanda tangani!", lanjut Shizune membuat Tsunade semakin sebal.
Naruto segera kembali ke arah pintu gerbang dimana kedua rekannya menunggunya. Sakura sudah pergi ke Suna seorang diri. Dia dan Kakashi menerima misi lain saat mendengar Kazekage memerlukan bantuan Sakura, jadi tidak ada yang bisa mengantar Sakura. Lagipula, misi itu hanya memerlukan Sakura saja, dan Sakura tidak akan suka kalau Naruto sampai mencemaskan apakah dia akan mampu sampai ke Suna dengan selamat.
Dan sekarang buktinya, Sakura terhenti di tengah jalan karena seseorang menculiknya.
TBC
huehehehe...... tel mi, apakah pembukaannya gaje??!! ataw mengecewakenn??!! tel mi plis..^^
sya tidag menyangka akan sangat banyak yang berminat jadi oc....
jadi binun ni sangking banyaknya, soalna blom pernah bikin pik pake OC-OC-an
demoo.....
arigatou gozaimashita sudah bersedia ikutan, jugak bersedia kubunuh heahahahaha....:D
ja, para OC yang blum muncul silakan tunggu ksempatan tampil di episode depan yaa....:D
jaaaaaaaa...........
