#01
.
.
.
"Kau mau hidup bersamaku?"
.
DLDR and RnR!
.
.
.
Terlalu banyak pekerjaan untuk dikerjakan, dan Dazai mengutuk pekerjaan itu. Karena, dia tidak dapat melaksanakan keinginannya. Sehingga keinginan itu hanya mampu dipendamnya selama beberapa hari, dan tak kunjung jadi kenyataan.
Satu per satu pekerjaan datang. Ketika terselip sedikit rasa lega untuk menemui orang itu datang, bersamaan dengan itu pekerjaan datang padanya. Dazai tak beristirahat, dia membiarkan dirinya bekerja lebih keras—menyelesaikannya jauh lebih cepat demi lebih cepat pula bertemu dengan orang itu.
Pekerjaan selesai, dan pemuda berusia 22 tahun itu menghabiskan me time dengan santai.
Dia berada di atas gedung sekolah lagi. Bukan untuk melompat dan tercebur ke kolam renang lagi, tapi untuk menemui seseorang. Dia pikir dia sudah keren dengan berdiri di pinggir atap dengan mantel cokelat yang berkibar-kibar tertiup angin musim gugur.
.
.
.
"Dazai-san?"
.
.
.
Rasanya, dunia berputar di antara mereka berdua. Dazai menoleh dan tersenyum lebar begitu melihat si rambut pucat berdiri di depan pintu dengan seragamnya. "Hisashiburi, Atsushi-kun." Pemuda itu berjalan mendekat dengan senyuman di wajahnya, disertai desiran angin musim gugur.
"Kau datang lagi." Nakajima Atsushi tersenyum canggung. "Hampir setiap hari aku melihat atap ini, dan atap hampir setiap gedung yang aku temui. Aku takut—mungkin—karena waktu itu gagal, kau akan mencobanya sekali lagi. Selain itu, nama sekolah akan buruk kalau kau bunuh diri di sini, Dazai-san."
Jarak antara mereka sangat dekat, Dazai yang mempersempit jarak sementara Atsushi hanya berdiri di depan pintu. "Aku tidak bunuh diri, kali ini aku ingin menemuimu. Sudah 3 bulan sejak kita pertama bertemu, bagaimana musim panasmu?" Dazai mendorong tubuh Atsuhi, masuk ke balik pintu dan menutup hubungan dengan atap.
Mereka duduk di salah satu anak tangga, membicarakan topik yang ringan, yang dapat dijangkau Atsushi. "Ada summer camp seperti umumnya, dan libur musim panas kuhabiskan dengan bekerja. Aku jadi memiliki tabungan untuk ke depannya." Murid SMA itu tersenyum canggung.
"Ne, Atsushi-kun," Dazai tahu kalau ucapannya akan terdengar janggal nanti, "kau bisa membereskan apa saja? Bagaimana dengan memasak? Kau hidup sendiri, dengan memperhitungkan fakta itu, harusnya kau bisa." Dazai menaruh tangannya di belakang, dan meluruskan kakinya.
Atsushi mengangguk, tentu dia bisa melakukan itu semua. "Untuk menghemat biaya, aku bisa melakukannya." Tapi dia sendiri tidak tahu untuk apa Dazai menanyakan hal itu. Jika menebak-nebak profesi Dazai, rasanya tak ada hubungannya dengan pertanyaan yang ke luar barusan.
"Kau mau hidup bersamaku?"
Setelah pertanyaan itu meluncur, atmosfer di sekeliling mereka berubah canggung. Atau lebih tepatnya, Atsushi yang merasa canggung. Sementara Dazai yang tadinya membuka mata, menatap langit-langit kusam, kini menutup matanya—harap-harap cemas dengan jawaban yang akan diberikan Atsushi.
"Kau …." Dazai menggantung kata-katanya, entah mengapa rasa canggung Atsushi menular padanya. "Dengar, tanpa membayar sewa apartemen, kau akan jadi lebih hemat lagi, Atsushi-kun. Apartemenku itu lumayan besar, aku hidup sendirian—katakanlah—aku sedikit kesepian di sana. Aku sering pergi ke luar untuk bekerja, jadi jarang kuurusi. Aku tidak bisa memasak juga. Dengan mempertimbangkan itu semua, aku ingin kau tinggal bersamaku."
Atsushi tidak langsung menjawab. Begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tapi Dazai tidak terlihat berbahaya, selain penyakit—jika itu memang penyakit—yang terus mendorongnya untuk melakukan percobaan bunuh diri.
"Apa semua percobaan bunuh dirimu selalu gagal, Dazai-san?"
Pertanyaan retorik itu harusnya tidak dijawab oleh Dazai. Dia masih hidup sampai sekarang, jadi sudah jelas jawabannya. "Ya," tapi dia menjawabnya dengan tenang. "Semua biaya, sampai kau lulus biar aku yang menanggungnya. Kalau kau sudah lulus—dari universitas, terserah bagimu ingin meninggalkanku atau tidak."
"Ii yo."
Dazai membuka matanya, menoleh pada Atsushi dengan kelopak mata yang tak berhenti berkedip heran. Untuk pertama kalinya, Dazai melihat Atsushi yang tidak tersenyum canggung, dan dia harus mengakui kalau senyuman itu sangat manis.
.
.
.
.
.
Entah mengapa jantungku berdegup kencang.
.
.
.
.
.
つづく
Author's note:
Im back! YEHET! Maafkan aku ya, tapi setiap chapter emang bakal sependek ini haha :'v
