Sanctuary Punya Cerita
.
.
.
Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada
Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshirogi
Kumpulan drabble tentang kehidupan Gold Saint di Sanctuary beserta anak didik mereka masing – masing. Disini GS original saya jadikan masih bocah semua, minus si Dohko. Segala atribut yang disebutkan dibawah adalah milik penciptanya masing – masing. Hope you enjoy, and keep cosmo!
Genre : Humor, Family
.
.
.
Threesome 2
Setelah hampir seharian bermain (bertengkar) dengan Aphrodite. Angelo dan Shura akhirnya pulang ke kuil masing – masing. Tapi saat dua bocah itu baru mencapai kuil Capricorn, Angelo mendadak teringat tentang pertanyaan mereka. Akhirnya bukannya kembali ke kuil Cancer, bocah itu malah nebeng Shura ke kuil tempat tinggal temannya.
Baru saja melewati pintu masuk, terkejutlah mereka begitu menyadari yang menyambut bukanlah tubuh menjulang Saint Capricorn selaku pemilik kuil, melainkan seseorang asing yang mengenakan surplice. Orang asing tersebut hanya memandang Angelo dan Shura yang sedang terkejut dengan wajah tanpa ekspresi, seolah itu tidak mengganggunya sama sekali.
"Ka-kamu..." Angelo menunjuk orang asing itu dengan telunjuknya, "Kamu salah satu anak Dewa Tidur 'kan!"
Sementara yang ditunjuk masih lempeng aja mimik wajahnya.
"Kamu juga salah satu dari empat Dewa Mimpi kan!" Angelo melanjutkan lagi, "Nama kamu... O..." bocah berambut biru tua itu mengelus dagunya berpikir, "Oreos 'kan!"
GUBRAKK!
Oneiros berusaha duduk kembali setelah tadi sukses terjungkal kebelakang mendengar namanya yang dipelesetkan oleh sang calon Cancer. Sembari memperbaiki pelindung kepalanya yang agak miring, Oneiros mendelik sebal kearah anak kecil yang mirip sekali Manigoldo baik wajah maupun tingkah lakunya. Sejak kapan Hypnos potong kambing buat ganti namanya? Dan kalau memang benar itu Dewa rambut pirang mau potong kambing, salah – salah yang dipotong malah ayang El Cid-nya tercinta selaku pemilik konstelasi kambing.
"Namaku Oneiros, bocah!" sang pemilik nama mendengus. "Kuberi kamu mimpi buruk nanti malam, baru tahu rasa!"
"Gak takut!" Angelo malah semakin menjadi – jadi. "Nanti malam aku juga gak bakal tidur kok. Mau begadang nonton bola sama Kak Manigoldo. UEEKK...!" bocah itu menjulurkan lidahnya menghina sang Dewa.
Wajah Oneiros sudah merah padam laksana mawar yang sering diemut gebetannya Minos, "Ampun deh, demi Hypnos! Ini bocah betulan minta dilempar ke dunia lain!"
"Sorry ya, Om. Hampir tiap hari aku dilempar ke dunia lain sama Kak Manigoldo. Jadi ancamannya udah expire." Masih lancang, sang calon Cancer malah ketawa nista melihat kedongkolan pria dihadapannya. Sedangkan Oneiros hanya bisa meremas pegangan kursi kuil Capricorn menahan marah. Sabar Oneiros, orang sabar disayang pacar.
"Angelo, yang sopan, dong!" Shura menjitak sang teman yang sedang terbahak menggunakan Excaliburnya yang masih tumpul. Tapi tetap saja sakitnya bukan main, "Nanti kamu kena kutuk, baru tahu rasa!" diam – diam Oneiros tersenyum dalam hati, 'Ah~ Shura. Anak baik, El Cid emang pantes ngurus anak. Gak kayak si Kepiting alay nan narsis itu.'
Angelo yang kepalanya benjol, manyun seketika. "Kena kutuk gimana? Itu Kak Manigoldo selalu ongkang – ongkang kaki didepan Dewa Kematian, sehat walafiat aja tuh. Kak Thanatos juga fine – fine aja responnya. Kenapa harus takut sama Dewa abal macam ini Om satu." Ew, Nak! Kamu sungguh ter-la-lu.
Tiba – tiba ada suara 'cklek' yang terdengar, suara layaknya sesuatu yang putus, dan itu berasal dari kepala Oneiros. Benar, pemirsa! Urat kesabaran milik Oneiros telah putus sepenuhnya. Cosmo angkara murka miliknya mendadak membara tak dapat terbendung lagi. Dewa itu bangkit dan berjalan cepat – cepat menuju sang bocah tengil pengganggu. Dia hampir saja mencincang tubuh anak didik Gold Saint Cancer itu menjadi empat bagian, kalau saja suara berat tapi lembut milik sang pujaan hati tidak berkumandang dari dapur.
"Onei, jangan menghambur – hamburkan cosmo sembarangan." Bersamaan dengan suaranya yang mendayu, Gold Saint Capricorn akhirnya memunculkan dirinya bersama nampan berisi dua buah cangkir serta sebuah teko yang ada dalam genggamannya. Berjalan pelan kearah meja.
"Tapi, Cid! Anak itu udah keterlaluan!"Oneiros menunjuk Angelo yang sekarang telah memasang wajah innocent gadungan. Cosmonya telah padam seketika.
"Angelo, ya. Shura juga ada. Sudah selesai main sama Aphrodite-nya." El Cid meletakkan nampan diatas meja. Entah ucapannya tadi itu berupa pertanyaan atau pernyataan, pasalnya El Cid menggunakan nada suara yang sama datarnya dengan ekspresi wajahnya. "Shura, sana ke dapur ambil gelas buat kamu sama Angelo. Kita minum teh sama – sama."
"Sip, Kak!" Shura memberi salut kepada gurunya itu sebelum berlalu menarik tangan temannya, "Yuk, Angelo!"
Oneiros yang gagal melampiaskan kekesalannya, hanya bisa duduk kembali dengan tampang ngambek sengambek – ngambeknya. "Kenapa sih, pake acara ngajak mereka segala, Cid? 'Kan rencana awalnya Cuma kita berdua!"
El Cid masih tanpa ekspresi menata cangkir yang hanya dua biji itu diatas meja. "Memangnya kenapa? Kalau kamu mau, usir saja mereka. Beres 'kan."
"Nggak, deh!" Oneiros menyandarkan punggungnya disandaran kursi, "Nanti aku adu mulut lagi sama itu anak asuhnya si Manigoldo. Heran, siapa sih orang tuanya?"
"Tidak tahu juga." El Cid menatap sang Dewa, agak geli melihatnya merajuk seperti itu. "Pope yang nemu, itu pun juga kebetulan. Karena dilihat kelakuannya yang mirip sama Manigoldo, semuanya sepakat memilih dia jadi gurunya. Maksudnya biar Angelo jadi lebih sopan, eh, malah semakin menjadi – jadi."
"Seharusnya dia dikasih nama Devil, Setan, atau Genderuwo. Ini malah Angelo! Gagal paham, banget!"
Shura yang telah kembali bersama Angelo yang sedang bersin – bersin (ini anak ngerasa juga ya, kalo lagi diomongin) segera mengambil tempat kosong, kemudian meletakkan gelas mereka diatas meja. El Cid bereaksi mengisi gelas – gelas itu dengan teh buatannya. A la Spanyol gitu lho!
"Eh... Kak El Cid. Aku boleh tanya sesuatu tidak?" Shura menyeletuk. El Cid yang sedang menuangkan cairan hangat bernama teh itu digelas, hanya mengangguk sebagai respon. Melihatnya, Shura segera menyikut pinggang Angelo, isyarat bahwa temannya itu diberi kehormatan untuk bertanya.
"Kak El Cid..." Angelo membuka suara setelah sang pemilik kuil selesai dengan semua gelas dimeja. "Kak El Cid tau gak, apa itu Threesome?"
JDARRR!
Guntur imajiner segea menyambar dalam benak El Cid dan Oneiros, tidak menyangka bocah – bocah dihadapan mereka ini akan bertanya mengenai sesuatu yang... sulit dijelaskan. Menutupi kegugupan, Oneiros buru – buru meminum tehnya. 'Astagaaa...! Demi Hades! Besok pasti bakalan ada badai besar!' batinnya. Sementara El Cid masih diam terpaku. Sebenarnya dia bingung mau bereaksi apa, daripada teriak menjerit kayak anak asuhnya Albafica, mending dia stay cool aja.
"Tuh 'kan apa aku bilang. Ekspresinya mereka bakal aneh – aneh." Angelo berbisik pelan ketelinga Shura.
"Kak El Cid kok diam?" Shura melambai – lambaikan tanganya didepan mata sang guru.
"I-itu..." El Cid terbata – bata, dia bukan pembohong yang bisa sukses membohongi anak kecil, dia juga tidak tega menjelaskan arti kata nista berawalan 'T' itu. Serba salah-lah dirinya. "Threesome itu... itu... apa Oneiros?"
"Uhuk!" Oneiros keselek teh, dia segera menatap sang Capricorn tidak terima. "Kok aku sih, Cid?"
"Kamu lebih berpengalaman." El Cid merespon sambil minum teh banyak – banyak. Menolak untuk bicara lebih lanjut. Ini apa coba artinya?
Walau gondok setengah mati, Oneiros memutar otaknya juga. Apalagi saat melihat tatapan meremehkan bocah kepiting berambut biru itu, bisa malu tujuh generasi dia gara – gara diledek sebagai Dewa dengan wawasan paling sempit. "Threesome adalah, sebuah kegiatan yang dilakukan oleh tiga orang secara bersaman." Dia mengakhiri penjelasan singkatnya dengan senyum paling manis yang dia punya, sekaligus berdoa supaya dua bocah ini mengerti.
Tapi sayangnya doanya tidak dikabulkan, "Cuma segitu aja?" Angelo mendengus, "Huh... kalo itu aku juga tau!"
"Begini saja." Shura mendapat akal, "Karena Kak Cid sama Kak Onei tidak bisa menjelaskan menggunakan kata – kata. Bagaimana kalau ditunjukan saja, seperti apa itu 'kegiatan'-nya."
El Cid mendadak merona, sama meronanya dengan Oneiros yang sekarang kembali terjungkal. Mereka berdua dengan kompak menjerit, "Heh...?! Apa?!"
"Kamu ini gimana sih, Shur! 'Kan Threesome butuh tiga orang. Kak El Cid sama Om ini aja mana cukup!" Angelo mengoreksi.
"Aku panggilkan Paman Sisyphus, kalau begitu." Shura beranjak dari duduknya dan berlari keluar kuil, tidak menghiraukan teriakan panik sang guru beserta pacarnya.
"JANGAAAANNN...!"
.
.
.
Pacar Baru
Pria berambut coklat dengan ikat kepala berjalan tegak menuju Kuil Scorpio yang tepat berada dibawah kuil miliknya. Cloth Sagittariusnya bersinar akibat pantulan dari sinar bulan yang merupakan pantulan dari cahaya matahari. Malam ini adalah gilirannya berjaga malam (bahasa kasarnya, ronda) bersama Kardia, Manigoldo (harus pake ancam – ancaman dulu, soalnya dia mau nonton bola katanya), dan Dohko. Mereka sepakat akan mendekam dikuilnya Kardia karena kalajengking satu itu ngambek. Pasalnya, setiap mereka dapat satu paket ronda bersama, hanya kuil Scorpio-lah yang tidak pernah dijadikan markas. Tidak ingin tubuh lubang – lubang karena mendapat akupuntur Antares gratisan, ketiga yang lain hanya bisa setuju saja.
"Yo, Phus! Baru datang loe." Manigoldo melambaikan tangannya, terlihat jelas disela – sela kulitnya yang tidak tertutup cloth, nampak banyak luka gores serta sayatan – sayatan aneh. Hasil karya Pisces Albafica gara – gara kesalah-pahaman tadi pagi. Sementara Sagittarius yang disapa hanya bisa mendengus.
"Jangan panggil saya begitu. Saya bukan kucing."
"Tapi 'kan kamu pamannya si Kucing." Manigoldo datang sifat rese'nya.
"Jangan lupa." Kardia menambahi, "Dia juga guru dari kakaknya muridnya si Kucing. Yang juga dijuluki kucing kecil." Selesai mengucap itu, Kardia tertawa terbahak – bahak diikuti Manigoldo disampingnya. Dasar trouble maker.
"Mereka itu singa, bukan kucing!" Sisyphus menegur, dia segera duduk disalah satu kursi ruang tamu kuil Scorpio. Menemani Dohko yang sekarang membagikan mug berisi kopi hangat buatannya. Made in China, bo!
"Tapi 'kan Sisyphus, singa sama kucing itu satu familia. Jadi bisa dibilang mereka saudara!" begitu melihat Sisyphus ingin menyanggah, Kardia buru – buru melanjutkan, "Degel yang bilang!"
"Terserah, deh!" Sisyphus yang lelah, akhirnya menyerah meladeni dua perusuh Sanctuary itu. 'Pantas saja Aiolos sering kalang kabut ngurus Milo sama Angelo. Guru mereka saja kelakuannya kayak begini!" innernya.
"Eh, kalian tahu salah satu Judge Underworld yang namanya Wyvern Rhadamantys tidak?" Dohko tiba – tiba bertanya, membuat mereka semua mengerutkan kening tidak habis pikir.
"Ya tahu-lah!" Manigoldo, Kardia, dan Sisyphus menyahut sewot. Duo Scorpio-Cancer itu orangnya memang suka sewot - sewotan, kalau Sisyphus sewot karena dia punya dendam pribadi sama itu hakim. "Kamu pikir kita ini siapa, sampai – sampai tidak tahu sama orang kayak si Wyvern itu."
"'Kan Cuma bertanya." Dohko manyun, "Soalnya tadi si Kagaho datang kekuil saya—"
"Eh cieee..." Manigoldo memasang tampang pura – pura malu yang bikin eneg, "Diapelin pacar cieee..."
"Cieee... jadi juga loe sama itu Bennu, Ko? Kapan jadiannya? PJ-an dong! PJ!" Kardia juga ikut – ikutan.
Dohko yang merah wajahnya segera menimpuk dua Saint perusuh itu dengan perisai emas dilengannya. Menciptakan benjol besar dikepala biru mereka masing – masing. Sementara Sisyphus sepertinya sudah maklum dengan adegan tadi, tidak mencoba melerai sedikitpun. "Dengerin dulu, saya belum selesai ngomong! Lagian siapa juga yang pacaran sama dia?! Mau saya kirim kalian ke Meikai, hah?"
"Ho-hoi... itu jurus gue, Ko. Jangan copas sembarangan." Meski kepala sudah hampir retak juga, tapi sang Cancer masih minta ditimpuk juga. Dasar maso. Sementara Kardia, sudah terkapar duluan dilantai.
"Bodo amat!" Dohko kemudian menatap Sisyphus selaku pendengar yang masih waras, dan mulai melanjutkan beritanya, "Tadi si Kagaho datang, dia bawa kabar besar. Rhadamantys punya pacar baru katanya. Baru seminggu mereka jadian, kalau tidak salah."
"Pacar baru? Siapa juga orang bodoh nan tolol yang mau – maunya pacaran sama Judge aneh itu?" Sisyphus menaikkan alis, dia terkekeh sambil mengambil mug bagiannya dan mulai menyeruput cairan hitam didalamnya.
Dohko awalnya diam, seperti menimbang – menimbang apa akan mengatakannya atau tidak. Tapi akhirnya dia memilih pilihan pertama. "Ponakanmu sendiri, Phus."
"Pppfffttt..." cairan coklat hangat menyembur keluar tak terbendung lagi dari mulut sang Sagittarius. Menyebabkan hujan lokal diwajah sang pemilik konstelasi timbangan. "Hah?! Apahh! Regulus punya hubungan sama itu orang?!" Sisyphus mengguncang – guncang bahu Dohko heboh, yang bahkan belum sempat membersihkan wajahnya. "Cepat, Dohko! Bawa saya ke Meikai sekarang juga! Saya harus beri perhitungan sama hakim gadungan itu!"
"Ti-tidak bisa, Sisyphus." Dohko ngeri mendapati Saint yang katanya paling bijaksana itu berubah ganas, "Sekishiki Meikai Ha seperti yang dibilang Manigoldo tadi, itu adalah jurusnya. Saya tidak punya kuasa apa – apa tentang begituan."
Dengan impuls kecepatan dewa, Sisyphus segera memburu Saint Cancer yang tepar sehabis digebuk timbangan emas. Mengguncang – guncang tubuh menjulang Manigoldo layaknya kocokkan arisan.
"Bangun Kepiting...! kirim saya ke Meikai sekarang juga!"
.
.
.
Luka
Shion duduk termenung dalam kuilnya penuh kehampaan. Cloth – cloth rusak yang perlu diperbaiki dia biarkan teronggok dihadapannya begitu saja. Baginya, luka yang dialami hatinya lebih parah daripada luka cloth – cloth para saint yang pernah dia perbaiki. Cloth yang rusak bisa direparasi, tapi hatinya yang tersakiti, siapakah gerangan yang bisa mengobati? Selayaknya cloth yang telah mati jiwanya, begitulah kira – kira keadaan hati sang Aries berambut hijau (saya ngikutin SS original) itu sekarang. Tak perlu jadi Cita Citata yang tiap hari jejeritan 'Sakitnya tuh disini~', cukup diam, dan semua orang akan tahu bahwa keadaan hatinya sekarang tidak sedang sehat walafiat.
Awalnya semua baik – baik saja, berjalan sebagaimana biasa kesehariannya, tapi semua itu berubah, saat negara api menyerang—maaf, salah ketik. Tapi semua itu berubah, saat orang itu, orang yang tega mencuri hatinya, satu – satunya Saint yang diperbolehkan memiliki senjata pada cloth-nya (well, kalau Sagittarius gak dihitung sih), datang kepadanya, di Minggu sore yang cerah.
"Shion, saya boleh minta pendapatmu tidak?" masih terngiang dengan jelas dalam kepala pria dari Jamir itu.
"Bukannya tiap hari juga kamu minta pendapat saya, ya?" dia tergelak, mendapati pemuda berambut coklat dihadapannya salah tingkah.
"'Kan ini lain!" meski diledek, dia tetap melanjutkan. Dengan wajah layaknya tomat tentunya. "Kalau orang yang sering membuatmu jengkel, tiba – tiba bilang dia naksir kamu, kamu bakal jawab apa?"
Shion tidak merespon untuk beberapa menit. Wajahnya mendadak berubah merah juga, walau agak samar. Dan manusia dihadapannya sepertinya tidak menyadarinya. "Yah... tergantung. Tergantung bagaimana perasaan saya sama dia." Dengan gugup, sang Aries melanjutkan, "Me-memangnya ada apa?"
Diluar dugaan, sang pemuda dari China itu menunduk tersipu, wajahnya merah sampai ketelinga. Dan entah kenapa perasaan Shion tidak enak seketika. "Tadi Kagaho datang. Dia bawa kabar, kalau katanya, Rhadamantys sudah punya pacar."
"Oh... bagus itu. Selamat buat Rhadamantys." Shion menyahut.
"Ta-tapi, dia datang bukan Cuma bawa kabar itu." Kegugupan melanda sang pembicara. "Kagaho bilang, dia tidak ingin Cuma Wyvern itu saja saya bahagia punya pacar baru. Dia juga mau. Dan dia nembak saya, Shion."
Bagai petir disiang bolong, Shion kaget bukan main. Sang pemilik surai kehijaun menggigit bibirnya kuat, tangannya terkepal. Dengan senyum terpaksa, Shion merespon, "Jadi, jawabanmu?"
Sang lawan bicara menggeleng. "Saya belum kasih jawaban apa - apa. Tapi..." dia mengangkat wajahnya, menatap sahabatnya itu dengan wajah berseri – berseri, "Seperti yang kamu bilang tadi, itu tergantung perasaan saya. Dan perasaan saya bilang, 'iya'."
BUGG!
Shion memukul meja dihadapannya setengah kuat setengah lemah, menyadarkan dirinya sendiri dari kenangan pahit sore naas kemarin. Kuat karena merefleksikan bagaimana hatinya yang sudah tidak kuat lagi. Lemah karena sayang jika mejanya hancur, meja kayu itu memang sudah bobrok setengah mati, tapi karena itu buatan muridnya tercinta, jadi masih dipelihara sampai kini.
"Dan kamu mau tahu apa kata perasaan saya, Dohko?!" Shion menjerit lirih, berusaha menelan suaranya bulat – bulat. "Perasaan saya bilang, 'TIDAK'!"
Pemuda itu mengepalkan tangannya kuat – kuat, sampai semua buku jarinya memutih. Bergetar, sayang, walau hatinya terluka setengah hidup, tapi air mata tidak mau juga menetes. "Pope pernah bilang, menangis bukan berarti orang itu lemah. Tapi tanda bahwa dia telah tegar terlalu lama. Tapi bagaimana dengan orang yang tidak pernah menangis selama hidupnya?" tersenyum pahit, sang Aries menyadarkan tubuhnya ke meja buatan anak didiknya. "Untuk apa punya kemampuan mereparasi cloth, kalau hati sendiri saja tidak bisa direparasi. Meski Cuma luka gores kecil. Kamu payah, Gold Saint Aries Shion."
"Guru Shion tidak payah, kok! Walau guru kalah hebat sama Kak Asmita." Shion menengadahkan kepala, begitu mendengar suara familiar menegurnya. Itu suara muridnya. Oh Athena... belum juga dirinya sembuh dari patah hati, sekarang satu – satunya muridnya telah mengetahui sebagaimana cengengnya dirinya. Rasanya dia ingin ke laut saja.
Disana tepat didepan pintu kamarnya, telah ada Mu, sang murid, dengan tangan kanan memegang pisau, juga lengan kiri penuh darah. Heh?! Penuh darah! "Mu! Tangan kamu kenapa?!" panik, Shion buru – buru menghampiri calon Aries berambut ungu muda itu.
Bukannya meringis atau apa, Mu dengan santai malah meletakkan pisaunya dilantai, kemudian mengepalkan tangan kirinya yang terluka. Membuat aliran darah segar menetes semakin deras dari luka sayatan pada lengannya. Yang mengherankan lagi, bocah itu malah menampung kucuran darahnya tadi dengan telapak tangannya, terus mengalirkannya sampai telapak kanannya penuh dengan darah miliknya sendiri, bahkan ada yang sampai menetes ke lantai. Walau perihnya lumayan, bocah itu tetap menahan untuk tidak mengeluh.
"Mu! Kamu ini apa – apaan?!" Shion mengeluarkan sapu tangan, hendak membersihkan lengan sang murid dari cairan kental berwarna merah itu. Tapi dihentikan oleh sang murid sendiri, bocah kelahiran Tibet itu perlahan menyodorkan tangan kanannya, yang telah penuh diisi darah, dengan senyum manis semanis – manisnya. Tepat kedepan wajah Aries gurunya. "Ini apa maksudnya, Mu?" Shion jelas bingung.
"Ini darah, Guru." Senyum Mu belum lepas sama sekali dari bibirnya, walau terlihat wajahnya mulai memucat. "Mu tidak tahu apa penyebab hati Guru Shion luka. Tapi kalau darah Guru Shion sendiri tidak bisa mereparasi hati Guru, Guru Shion bisa pakai darah Mu, kok." Dengan tulus, calon Saint Aries itu menatap Shion penuh kasih. Sementara yang ditatap mendadak diam seribu bahasa. Agak tersentuh dengan ucapan polos anak kecil didepannya, yang dengan innocent-nya menyamakan perumpamaan hati dengan cloth.
"Mu sayang sama Guru Shion. Bahkan Mu rela mati demi Guru." Anak kecil bersurai lembayung itu nyaris saja menangis, tapi dia tidak jadi menitikkan air matanya begitu melihat sang guru malah hampir terkekeh. "Mungkin sekarang Guru belum percaya. Tapi nanti, lihat saja. Memangnya Guru Shion tidak punya orang yang Guru sayangi sampai rela mati demi dia?"
"Ada." Entah kenapa perasaan sedih dan ingin ke lautnya hilang tanpa bekas begitu melihat Mu memandanginya. "Ada tentu saja."
"Dan Guru tahu 'kan, konsekuensinya apa!"
Bibir sang Aries mulai berkedut, menampilkan senyum amat tipis tapi juga amat tulus dari dalam hatinya yang mulai terobati. Bagaimana dia bisa lupa akan hal itu? Konsekuensi dari hal konyol (rela mati demi orang lain memangnya tidak konyol?) yang anehnya masih dipegang teguh oleh seluru Saint bahkan calon Saint sekalipun. "Jika dia bahagia, maka kamu akan merasa dua kali lipat lebih bahagia darinya. Dan jika dia bersedih..." Shion menghentikan ucapannya, kemudian membelai lembut mahkota ungu sang murid. "kamu akan merasa dua kali lipat lebih sedih dari dirinya."
"Makanya! Guru jangan sedih!" Mu merajuk dipelukan Shion. "Nanti Mu juga ikut sedih. Bahkan dua kali lipat lebih sedih."
"Ahaha... Guru tidak sedih, kok." Shion balas memeluk muridnya itu sayang, sambil terus mengelus rambut panjang ungu muda itu. "Cuma kadang – kadang saja."
Shion merasa nyaman, tidak resah layaknya tadi. Memang ya, cinta dan kasih sayang tidak selamanya berwujud pasangan, ia juga dapat mengambil wujud seorang murid polos yang meski menyusahkan tapi dapat menenangkan hati. Ternyata patah hati ada untungnya juga, setidaknya itu mengingatkan dirinya, bahwa seorang pemuda Jamir bernama Shion, masih memiliki orang yang rela mati demi dirinya.
'Its oke wae, Dohko. Bersama siapapun kamu, asalkan saya masih memiliki orang yang begitu tulus menyayangi saya. Saya sing rapopo.' (Weleh?)
.
.
.
Curhat 2
Resah. Gelisah. Galau. Putus asa. Tak tentu arah. Menderita.
Itulah yang sekarang dirasakan oleh sang pewaris Gold Cloth Leo. Dengan wajah murung semurung – murungnya, adik dari Aiolos itu berjalan tak tentu arah menaiki satu – satu tangga diatas kuilnya. Setelah menerima kenyataan pahit bahwa gurunya sama sekali buta soal urusan cewek, dia malah semakin terbebani. Ternyata pepatah yang mengatakan 'Masalah jika dibagi, akan semakin berkurang' itu tidak selamanya benar, yang sesuai seharusnya, 'Masalah jika dibagi kepada orang yang tepat, akan semakin berkurang'. Curhat pada orang yang salah, malah akan membuat sang pemilik masalah menjadi lebih kalang kabut. Ya, macam dirinya sekarang ini.
Dia harus curhat sama siapa lagi? Mu? Terlalu kekanak – kanakan (emang kamu nggak?). Aldebaran? Terlalu tidak mungkin. Saga? Kanon? Tidak, tidak. Mereka berdua terlalu mirip (halah! Malah ngaco ini anak kucing satu). Angelo? Aphrodite? Milo? Bisa diketawain sampai bodo dirinya kalau tiga anak heboh itu bisa tahu hal memalukan kayak begini. Kakaknya? Tidak, yang ada nantinya dia malah diceramahi dari A sampai Z, masih kecil-lah, belum mandiri-lah, masih ingusan-lah, tidur masih ngompol-lah (oh, Aiolia ternyata). Camus? Terlalu cuek, tidak simpati. Shaka? Terlalu alim, tidak terima kasih.
Karena tidak memiliki orang yang tepat untuk membagi masalah yang membebaninya, maka beginilah sekarang keadaannya. Resah. Gelisah. Galau. Putus asa. Tak tentu arah. Menderita.
"Ada masalah, Aiolia?"
"Nggak. Kepala Lia hanya pusing saja."
"Kalau begitu, sana minum bodrex, atuh."
"Lia gak bisa minum obat tablet."
"'Kan sudah ada syrupnya."
"Hanya ada yang rasa jeruk. Lia maunya rasa pizza."
"Oh..."
"..."
"..."
"..."
"..."
"Ngomong – ngomong, kamu siapa ya?"
"Saya? Saya kuntilanak."
"Oh..."
"..."
"..."
"..."
"UWAAAA... SETAAAANNN...!"
Aiolia kepeleset saking kagetnya, karena tidak hati – hati, singa muda itu malah jatuh berguling – berguling menuruni tangga. Akibat latihannya sebagai calon Gold Saint, walau terguling seperti itu, dia tetap berdiri dengan siaga dan bersiap melayangkan tinjunya kearah sang 'kuntilanak'. Tapi terhenti begitu dia menyadari banyak hal aneh yang terjadi. Pertama, ini masih siang, dan dari yang dia baca dari bukunya Angelo yang berjudul '1001 Macam Makhluk Halus', kuntilanak hanya beroperasi pada malam hari. Kedua, mana ada kuntilanak pake Gold Cloth? Rambutnya pirang lagi. Kuntilanak bule, eh? Dan ketiga, dia baru tahu kalau makhluk astral satu itu selain suka melayang – melayang, juga suka duduk bersila. Berdasarkan semua itu, Aiolia berusaha menyusun kemungkinan yang ada.
Pirang (cek). Ramping (cek). Duduk bersila (cek). Mata merem abadi (cek). Agak cantik (ugh! Double cek). Gold Cloth Virgo (cek).
"Eh?" Aiolia menelengkan kepalanya kesamping. Setelah sel – sel dalam otaknya tersambung semua matanya melotot horror, dia segera terjungkal kembali, dan menggelinding menuruni tangga dengan suksesnya. "Ka-Kak Asmita?" calon Leo itu bangkit lagi, dan berjalan sempoyongan menuju tangga dimana sang Virgo sedang duduk bersila sambil menutup mata ditengah – tengah tangga. Sama sekali tidak terganggu dengan aksi rolling dua kali sang bocah. "Kakak ngapain disini?"
"Meditasi, tentu saja." Asmita menjawab singkat sesingkat – singkatnya.
Aiolia tepuk jidat saking sweatdrop-nya. Seharusnya jawabannya sudah jelas, memangnya ada kata kerja lain selain 'meditasi' dalam kamus manusia yang katanya setengah Dewa itu. Sang singa muda akhirnya mengganti pertanyaannya, "Kak Asmita ngapain meditasi disini?"
"Ganti suasana. Bosan di kuil Virgo terus." Sang Buddha mengangkat bahunya cuek.
'Tapi gak ditangga juga kalee...' batin Aiolia, kalau saja didekatnya sekarang ada keyboard, bocah itu ingin sekali mengetikkan emoticon -_- "Trus Shaka-nya dimana?" daripada dia gondok, mending meneruskan percakapan dengan Saint satu itu, kapan lagi bisa ngobrol sama Asmita gurunya Shaka dengan intens kayak begini.
"Lagi meditasi di Kuil Papacy."
"Ganti suasana juga?"
"Iya."
Aiolia tepuk jidat lagi. Ini nih yang namanya murid lebih pintar daripada guru, atau diam – diam ternyata Asmita bisa kocak juga orangnya. Daripada semakin tidak karuan arah pembicaraan ini, Aiolia segera duduk tepat disamping sang Virgo, sambil mengikuti pose meditasinya. Hitung – hitung dapat pencerahan, siapa tahu habis meditasi ini dia sudah tidak galau lagi, atau kalau beruntung, dapat ide brilian menembak-Marin-dengan-cara-yang-baik-dan-benar.
"Kamu ngapain?" Saint yang buta tapi perasa itu bertanya, membuat Aiolia yang sedang berusaha meniru pola tangannya saat meditasi, segera menatap dirinya.
"Meditas, Kak." Bocah berambut coklat ikal itu menjawab ragu. "Gak boleh ya?"
"Bukannya tidak boleh. Aneh saja lihat kamu begitu." Asmita menyibak helai rambutnya yang tersapu angin, "Saya curiga, kamu punya masalah."
"Memang iya." Aiolia menghela napas berat. Mulai mengaktifkan galau mode on. "Lia naksir cewek, Kak. Tapi takut buat nembak." Menyadari bahwa Asmita tidak seperti Regulus yang ke-ember-annya sudah terkenal seantero Sanctuary, jadi singa muda itu tidak ragu menyampaikan uneg – unegnya pada pria disampingnya ini.
"Kamu masih kecil, Aiolia. Belum waktunya bagi bocah sepertimu untuk diracuni hal – hal keduniawian, seperti cinta." Watak ceramah – menceramahi sang Virgo segera muncul ke permukaan.
"Tapi Lia tulus kok, Kak. Dari hati. Cinta sejati." Aiolia tidak terima perasaan yang selama ini membuatnya berbunga – bunga disebut racun seenaknya. Emang mawarnya si Albafica?
"Cinta sejati?" untuk pertama kalinya dalam hidup sang calon Leo, dia melihat Asmita yang itu terkekeh. Atau bahasa kasarnya, tertawa merendahkan. "Orang - orang yang telah dibutakan oleh hal – hal keduniawian, tidak akan pernah mengerti hakikat cinta sejati."
Hening untuk beberapa lama. Hening karena Asmita masih meditasi (dan mungkin akan berlanjut hingga beberapa jam kedepan). Dan hening karena Aiolia sedang berpikir. Berpikir keras tepatnya. Rupanya kalimat bijak sang Buddha tadi benar – benar terngiang dikepalanya. Atau ada alasan lain?
"Berarti, Kak Asmita tidak tahu apa hakikat cinta sejati, dong." Aiolia mengelus dagunya menganalisa.
"Maksudnya?" Asmita tidak mengerti.
"Kakak 'kan buta."
Hening.
Hening lagi.
Masih hening.
Heningnya gak mau hilang.
"REGULUS! CEPAT BAWA PULANG MURIDMU INI, SEBELUM SAYA HILANGKAN KELIMA PANCA INDERANYA SATU PERSATU...!"
"Kyaaa...! Kak Asmita muncul tanduknyaaaaa...!"
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Mumpung malam Minggu, saya posting fic-nya. ^^ Makasih bagi semua yang telah menyempatkan diri merespon fic ini. Doakan saya supaya bisa nyelip – nyelip bikin fic diantara UTS yang bejibun. Dan juga bisa update lebih cepat lagi.
Saya terinspirasi dari novelnya mbak Dee yang judulnya Petir (seru lho! Walau bahasanya agak berat dan menjurus ke atheisme) dan akhirnya terciptalah scene Mu-Shion diatas. Juga FP Meme Comic Indonesia yang menyadarkan saya bahwa netter Indonesia itu kreatifitasnya patut diacungi jempol gajah (saking luar biasanya).
Oneiros : Apa itu maksudnya 'lebih berpengalaman'? mau mimpi buruk kamu nanti malam? (ngancem)
Saya : (merinding dangdut) Eh! Nggak kok. Itu maksudnya 'kan kamu sudah hidup berabad – abad, jadi punya wawasan untuk menjelaskan (alasan mati), la-lagi pula kamu 'kan Dewa.
Oneiros : Iya juga ya (garuk kepala)
Saya : Jadi, saya gak jadi mimpi buruk 'kan nanti malam?
Oneiros : (cuek) Au ah, gelap!
Dohko : Huhu... (pundung dipojokkan)
Saya : Itu si Timbangan Emas kenapa? (nanya ke Shion)
Shion : (cuek) Au ah, terang! (masih sensi dia-nya)
Pope Sage : Dohko ngambek. Katanya dific yang lalu, tidak ada yang milih dia jadi Gold Saint paling hebat. Makanya dia pundung.
Saya : Yaelah! Ngambeknya sama Tenma, dong. Jangan sama saya.
Dohko : DASAR TENMAA...! MURID DURHAKAAA...! (mukul beton)
Regulus : Huwaaa... Paman! Kenapa? Kenapa ponakanmu ini gak boleh punya hubungan sama Rhada? Apa salahku?! Apa salah ibuku?! Hidupku dirundung pilu! (ikut pundung bareng Dohko)
Sisyphus : (cuek) Au ah, remang – remang.
Regulus : Huuu... (gelindingan)
Eh... ini saya mau bales review :
Helena gracia : Wahh... kamu UTS juga! Kita senasib kalau begitu. Makasih udah review ya, ini sudah ada lanjutannya. Review lagi ya #semaunya
Yuma : Makasih sudah menyempatkan diri ^^ jadi semangat bikinnya! Bersyukur deh, ada yang terhibur. Review lagi ya #plakk
