Disclaimer:

Saint Seiya: The Lost Canvas © Teshirogi Shiori

Saint Seiya: The Legend of SanctuaryMasami Kurumada

Beyonders © Brandon Mull

Caharacters:

Aspros as Kaisar Maldor

Sisyphus as Pangeran Galloran

Regulus as Jason

Deathmask as Tim

Shura as Matt

Warning:

BL, OOC, Typo dan kecacatan lain

Selama berabad-abad, manusia telah menyebrang dari dunia yang kita tinggali, ke Lyrian dengan berbagai cara. Walaupun banyak diantara mereka yang memang sengaja berkelana di dua dunia itu tetapi sebagian besar tidak sengaja terlempar ke Lyrian. Mereka tersasar di gua-gua yang dalam, lalu muncul di daerah yang sama sekali asing. Mereka melewati lengkungan batu alam yang terkadang menghubungkan dua tenggelam di sumur yang dalam, memasuki lorong di dekat puncak gunung, atau yang lebih jarang, menyusup melewati batag pohon mati. Namun, tak ada yang pernah I yang melintas dari Bumi ke Lyrian seperti yang dialami Regulus.

Regulus yang berusia lima belas tahun tinggal di Kota Vista, Colorado. Karena ayahnya mempunyai karir yang gemilang sebagai dokter gigi, dan sepupunya yang baru saja diterima di jurusan kedokteran gigi di universitas ternama, sebagian besar kenalannya mengira bahwa dia akan menjadi dokter gigi juga. Keluarganya dengan terang-terangan mendukung hal tersebut.

Dia sama sekali tidak berminat dengan masalah perbaikan gigi. Malah, setiap dia menemani ayahnya memeriksa pasien dia merasa itu adalah kegiatan paling monoton dan membosankan yang pernah dia lihat. Mengikis gigi. Memeriksa dengan sinar-X. Mengoleskan fluoride. Sejujurnya, Regulus menginginkan hal yang lain.

Dari kecil, Regulus lumayan tertarik dengan dunia hewan. Dia membaca buku tentang mereka, menonton acara-acara yang menguak lebih dalam kehidupan mereka dan memohon izin untuk memelihara binatang. Akhirnya, Regulus memutuskan untuk mengambil jurusan zoologi sebelum akhirnya meraih gelar dokter gigi. Tidak seperti calon mahasiswa jurusan zoologi lainnya, Regulus bekerja di kebun binatang. Yang tidak dia pernah sangka, pekerjaan sukarelanya itu akan membawanya ke dunia lain.

Tidak seperti biasanya, udara di akhir Februari itu cukup hangat. Regulus sedang bersandar di susunan luar jarring batting cage ̶̶̶̶̶—semacam kurungan tempat berlatih memukul bola dalam olahraga bisbol̶̶̶̶̶—di Gelanggang Olahraga setempat. Deathmask berdiri di dalam kandang sambil melempar banyak bola. Shura, pemukul terbaik di tim mereka mendapat giiran memukul lebih dahulu. Shura memukul semua bola itu tanpa hambatan yang berarti.

"Jangan melempar terlalu kencang." Kata Regulus tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya.

"Tenang saja." Gerutu Deathmask.

Lemparan berikutnya Deathmask melempar bola kea rah sisi kiri kurungan. Regulus menatap bola itu dan buku yang sedang dia baca bergantian. Dia sedang menghafal sistem rangka manusia untuk ujiannya besok.

"Jangan baca melulu dong." Gumam Deathmask kepada Regulus yang terlihat kembali serius dengan buku yang sedang dipegangnya.

"Maaf, sehabis ini aku harus ke kebun binatang. Waktu belajarku tidak banyak." Kata Regulus menyesal.

Tak terasa matahari mulai lebih menyengat dari sebelumnya. Peluh sudah membanjiri ketiga anak itu. Dengan sigap Regulus melihat kearah jam yang melingkar manis di tangan kurusnya.

"Hm, sudah waktunya aku pergi ke kebun binatang. Kalian langsung pulang saja. Aku membawa sepeda." Ucap Regulus sambil memasukkan buku yang tadi dia baca ke tas miliknya.

"Hm. Sampai jumpa." Kata Deathmask dan Shura. Tanpa tau mungkin itu adalah kata terakhir yang mereka ucapkan kepada Regulus.

̶̶̶̶̶—Beyonders̶̶̶̶̶—

Setelah berganti pakaian menjadi seragam yang biasa dipakai oleh pegawai kebun binatang itu, Regulus mulai melakukan perkerjaannya. Membersihkan kandang, memberi makan hewan, hal tersebut dia lakukan atas sukarela karena ketertarikannya pada binatang.

Hari ini dimulai dengan membersihkan kandang kuda nil. Sebelum itu dia menyempatkan untuk memandangi rak kaca yang berlebelkan: MONUMEN KEBODOHAN MANUSIA. Disitu banyak terdapat benda yang ditemukan di kandang kuda nil seperti cukur rambut sekali pakai, pisau lipat, mainan rusak bahkan peluru.

Regulus berhenti untuk mengamati kuda nil raksasa yang sedang beristirahat tanpa bergerak sedikit pun di bawah permukaan air di lantai tangki. Dia satu-satunya kuda nil di kebun binatang itu. Pejantan yang akan berusia empat puluh tahun pada musim panas nanti. Regulus menggelengkan kepalanya. Mungkin jika sang kuda nil digantikan dengan patung, pengunjung tidak akan melihat perbedaannya.

Samar-samar, di tepi kesadarannya, Regulus mendengar alunan musik asing yang muncul dari air. Namun, dia pasti keliru. Dia mengitari area tersebut, berusaha menebak dari mana asal suara itu. Ketika volume musik meningkat, Regulus mengalihkan pandangannya kembali ke air dan harus mengakui bahwa suara tersebut sepertinya muncul dari kuda nil yang terbenam.

Apakah ada pengeras suara yang telah dipasang di tangki tanpa sepengetahuannya? Ataukah ini adalah suatu cara untuk membuat pengunjung tertarik untuk menonton si kuda nil?

Melodinya asing, dengan berbagai harmoni dan melodi tandingan yang slaing menjalin. Perkusi yang lembut dan dalam menjaga ritme. Regulus bersandar ke pagar pembatas, mencoba memakai logikanya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sebenaarnya. Andai ada orang lain agar dia dapat membuktikan dirinya tidak sedang berhalusinasi.

Si kuda nil bergerak-gerak, mulutnya yang lebar terbuka untuk sesaat, dan dalam waktu yang singkat itu, musik yang terdengar makin keras dan jelas. Seakan-akan memang dari kuda nil itulah alunan nada yang rumit itu berasal.

Suara music teredam saat mulut sang kuda nil menutup. Tapi volumenya perlahan makin keras. Mungkinkah si kuda nil menelan alat pemutar lagu? Itulah satu-satunya alasan yang masuk akal, tetapi tetap terdengar menggelikan.

Mungkin ini semua hanya halusinasinya. Mungkin dari awal tidak musik yang mengalun. Terlalu lama terpapar sinar matahari mungkin telah membuat sebagian sarafnya tidak berfungsi dengan baik.

Sambil menumpukan perut ke pagar pembatas, Regulus mencondongkan tubuhnya ke atas jeruji logam, bingung dengan melodi yang memikat itu. Jika dia mendekatkan telinga ke air, mungkin dia bisa memastikan apakah musik itu benar-benar dari bawah sana atau tidak. Si kuda nil masih bergeming.

Telinganya semakin dekat dengan permukaan air yang beriak, tetapi pusing tiba-tiba menyerang. Regulus limbung, kehilangan pegangan, lalu tercebur dengan kepala lebih dulu ke kolam dia atas kuda nil raksasa itu. Seolah inilah kesempatan yang dia tunggu seumur hidup dalam kandang, kuda nil itu bergerak dengan gesit kea rah Regulus. Dia menyerbu Regulus dengan mulut yang menganga, dan dentingan music terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Sebelum regulus sempat beraksi, tangannya sudah mencengkram lidah yang lengket itu, dan wajahnya meluncur di permukaan yang berminyak. Dengan posisi tengkurap, dia meluncur melewati lorong yang gelap dan licin itu. Apa yang sedang terjadi? Apakah dia akan mati karena dimakan kuda nil? Di tengah penderitaannya, musik terdengar lebih keras dari yang sebelumya. Dia berusaha berpegangan pada kedua sisi terowongan untuk memperlambat lajunya, tapi sayang, terowongan itu terlalu licin. Hingga sekonyong-konyong lengan dan kepalanya muncul dari celah pohon yang sekarat, dekat sebuah sungai yang diapit tumbuhan pakis.

̶̶̶̶̶—TBC—

Fiuh, akhirnya selesai chap pertama. Maaf atas keterlambatan update dan terlalu singkatnya chapter ini. Akhir-akhir ini selalu disibukin sama hal berbau sekolah. Tapi diusahakan bakal lebih cepet update dan lebih panjang buat chapter berikutnya.

Dan chapter ini masih kayak prolog yang kemarin, gak ada perubahan berarti dari cerita aslinya. Mungkin ceritanya bakal ada perbedaan dari cerita aslinya di chapter pertengahan dan akhir.

Terima kasih om Brandon Mull yang sudah membuat cerita yang menakjubkan ini, terima kasih para sensei yang udah nyipatin saint seiya, dan terima kasih untuk reader dan reviewnya. /bow/

Salam hangat,

Rim.