ANDROID
.
.
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rated T
Genre : Romance, Hurt and Comfort
Pairing : NaruHina
Warning : Typo, OOC, abal, gaje.
.
ENJOY~
Part 2 : Who Are You?
CKITT!, BRAK!
Mobil besar itu mengerem mendadak dan mengakibatkan badan kendaraannya sedikit oleng ke sisi jalan,
Hiashi dan Neji yang melihat kejadian itu, terduduk lemas. Gagal sudah keduanya menyelamatkan Hanabi, gadis kecil kesayangan keluarga mereka.
"Hiks, hiks..Hanabi.." isak kecil terdengar dari bibir Neji, pemuda coklat itu menggigit bibirnya keras. Menyesal dengan keterlambatannya menyelamatkan adiknya. Sampai...
"Tenanglah, Neji Nii-san, Tousan..."
"Eh?" sebuah suara menghentakan pikiran dan tangisannya, Neji segera menolehkan wajahnya pada sumber suara itu..
Dan alangkah terkejutnya begitu ia melihat...
"Hanabi! Kau selamat!" pemuda coklat itu dapat melihat Hanabi yang tengah terisak di pelukan gadis yang kini sudah ada di depannya..
Hinata! Gadis indigo itu ternyata berhasil menyelamatkan adik kecilnya, Hanabi masih terisak kecil. Sampai mata putihnya itu perlahan-lahan terbuka dan melihat Neji yang berjalan mendekatinya, sontak saja membuat gadis kecil itu turun dari pelukan Hinata dan berlari menghampiri kakaknya.
"Huwaa! Neji-Niisan!" pekiknya kecil, masih berusaha menggapai tubuh pemuda coklat itu,
Bruk, Hanabi menghamburkan pelukannya kembali pada Neji, menangis keras. Gadis itu benar-benar takut, "Hiks,,hiks,,hiks aku takut Niiisan!" isaknya keras,
"Sudah, kau baik-baik saja sekarang~" ujar Neji menenangkan adik kecilnya itu, pemuda coklat itu pun perlahan berjalan mendekati Kaasan dan Tousannya yang masih berdiri membeku melihat kejadian tadi.
"Kaasan, Tousan! Hanabi selamat!" seru Neji, dan mendengar suara pemuda coklat itu, Hiashi dan Hikari yang semua merasa lemas, langsung saja berlari secepat yang mereka bisa untuk segera memeluk Hanabi.
"Hanabi!" teriak keduanya.
"Kaasan, Tousan!" Hanabi turun dari pelukan sang kakak dan berlari menuju kedua orang tuanya itu.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Kaasan sudah hampir jantungan tadi!" pekik Hikari seraya menangis tersedu-sedu.
"Hiks, hiks Aku takut tadi Kaasan, Tousan!"
"Apa kau ada yang terluka, sayang?" tanya Hiashi, mengecek apa anak perempuannya itu terluka atau tidak.
Hanabi menggeleng kecil, "Un, Aku tidak apa-apa, tadi Hinata Nee-chan yang menolongku!" seru gadis itu, sambil menunjuk Hinata yang masih berdiri di tempatnya tadi.
...
Hinata sendiri, ketika melihat keluarga itu tersenyum bahagia membuatnya merasa sedikit iri. Ia tidak pernah merasakan hal-hal semacam itu sebelumnya, Apa karena dia hanya sebuah Android?
"Hinata!"
Mendengar suara teriakan yang memanggilnya, gadis indigo itu tersentak kaget dan segera saja mengadahkan wajahnya,
"Semuanya.." gumam Hinata, begitu melihat Hiashi, Hikari, Neji dan Hanabi yang berlari mendekatinya, serta tanpa aba-aba lagi mereka..
Bruk, sebuah pelukan yang sangat erat keempat orang itu berikan padanya, gadis indigo itu sangat kaget sekarang. Pasalnya dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang,
"Ka..kalian kenapa memelukku?" tanya gadis itu.
"Terima kasih karena kau sudah menyelamatkan Hanabi, anakku tersayang~" ujar Hikari seraya mengeratkan pelukannya pada Hinata.
"..." Hinata terdiam sejenak, sampai...
"Itu memang tugasku," jawabnya singkat, senyuman kecil pun terlihat di wajah cantiknya.
"Karena semuanya sudah baik-baik saja sekarang,"
"Kalau begitu sekarang ayo kita pulang!" seru Hikari, membuat ketiga keluarganya sedikit sweatdrop melihat tingkah laku wanita cantik itu yang cepat sekali berubah-ubah.
"Hah~ Kaasan mulai lagi~" desah Neji kecil.
Sedangkan Hinata hanya bisa tersenyum kecil, 'Mempunyai...keluarga..itu...menyenangkan sekali!'
oooooooooooooooOOOoooooooooooooo
Di tempat lain
"Teme, apa kau lihat kejadian tadi?" tanya seorang pemuda berambut pirang pada pemuda raven di sampingnya.
"Hn, melihat apa?" tanya pemuda berambut raven itu kembali.
"Itu! Tadi ada seorang gadis yang tiba-tiba saja menolong anak kecil di jalan!" teriak pemuda pirang itu gemas.
"Hn, tidak," pemuda raven itu tidak menghiraukan ocehan temannya dan memilih untuk kembali berjalan.
"Hei! Dengarkan aku dong, Teme!" pemuda pirang itu yakin kalau tadi ia tidak salah lihat, sudah jelas-jelas terlihat kalau tadi seorang gadis berambut panjang yang tiba-tiba saja menyelamatkan anak kecil dengan kecepatan yang benar-benar berbeda dengan manusia pada umumnya.
"Hn, lebih baik kita bergegas. Kau tidak ingin membuat Sakura menunggu kan." ujar pemuda raven itu tenang.
Mendengar jawaban temannya yang datar, membuatnya menghela napas panjang. Ia berjalan lesu menghampiri pemuda di depannya sekarang.
"Hah, baiklah!"
.
.
.
.
Kembali pada Hinata
"Jadi kau ingin makan apa nanti malam?" tanya Hikari pada Hinata ketika mereka di perjalanan, sedangkan yang ditanya hanya bisa menaikkan alisnya tidak mengerti.
"Makan..malam?" tanyanya balik.
Wanita cantik itu terkikik kecil dan tersenyum, "Iya, makanan kesukaanmu, seperti katsudon, teriyaki, ayam goreng, atau yang lainnya~"
"..." Hinata terdiam sejenak, pandangan matanya kini beralih ke bawah, Ia tidak tahu harus menjawab apa..
"Aku ini android, jadi tidak makan pun tubuhku akan baik-baik saja.." gumamnya kecil,
"..."
Melihat Hinata yang tertunduk lesu seperti itu membuatnya merasa sedih, Ia sempat lupa kalau pada awalnya Hinata itu android dan android tidak makan apa-apa, yang di perlukannya hanya sebuah aliran listrik untuk mengisi kembali kekuatannya, hanya itu...
"Gomenne, Kaasan benar-benar lupa." Ucap Hikari seraya menyentuh lembut puncak kepala gadis indigo itu, membuat Hinata mau tak mau tersenyum kecil dan melupakan kejadian tadi.
"Tidak apa-apa Kaasan, aku sudah cukup senang bersama kalian semua," jawab Hinata, memperlihatkan senyuman di wajah cantiknya.
"Tousan, Kaasan jadi Hinata Nee-chan tidak bisa makan apa-apa dong?" tanya Hanabi tiba-tiba, mata gadis kecil itu sedikit redup ketika mendengar percakapan Hinata dan Hikari tadi, yang membuat Hiashi ikut-ikutan sedih.
"Nanti coba Tousan hubungi Kabuto dan menanyakan hal ini," ujarnya mencoba mencerahkan suasana di dalam mobil itu.
"Benar Tousan?!" suara teriakan kecil Hanabi terdengar memenuhi mobil, sepertinya gadis kecil ini lupa dengan rasa takut dan lukanya akibat kejadian tadi.
Hiashi mengangguk kecil,
"Yee! Nanti kalau Hinata Nee-chan bisa makan, aku dan Niisan pasti akan mengajak Nee-chan berwisata kuliner!" serunya semakin bersemangat, semua yang mendengar ocehan riang Hanabi sontak tertawa bersama-sama.
"Terima kasih Hanabi~" ujar Hinata lembut.
oooooooooooooooOOOOooooooooooooooo
Setelah akhirnya menghabiskan waktu sekitar lima belas menit, akhirnya keluarga Hyuga sampai juga di kediaman mereka. Sebuah kediaman Hyuga yang tergolong sangat besar, membuat Hinata yang baru saja turun dari mobil itu tersentak kaget melihat rumah yang amat besar menurutnya sudah berdiri tegap di hadapannya.
"Waah! Besarnya..." gumam gadis indigo itu kagum,
"Hihi, selamat datang di rumah kami Hinata-chan~" Hikari dan Hanabi menggenggam erat kedua tangan Hinata dan mengajak gadis itu masuk ke kediaman mereka yang besar itu, dan tentu saja Hinata tidak bisa menolak. Ia bagian keluarga Hyuga sekarang, jadi tidak ada salahnya kan?
Hiashi dan Neji mengikuti ketiga gadis di depan mereka dan hanya bisa tersenyum kecil,
...
Wanita berambut indigo itu membuka pintu besar di depannya dengan perlahan, dan segera mengajak Hinata masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk, jangan sungkan-sungkan!" seru wanita itu kembali.
"I..iya." Hinata masih menggenggam erat tangan Hanabi,
"Ayo, Hinata Nee-chan akan kutunjukan kamar Nee-chan sekarang!" ajak gadis kecil di sampingnya itu sebelum akhirnya.
"Eh, Hanabi sayang, sekarang mandi dulu, setelah itu biar Kaasan obati dulu lukamu dan kita makan bersama~" pinta Hikari pada anak perempuannya.
"Tapi Kaasan," niat ingin menolak perkataan Kaasannya langsung saja menghilang ketika melihat wajah Hikari yang masih sedikit khawatir melihatnya..
"Hah, baiklah. Tapi nanti aku dan Niisan ingin mengajak Hinata Nee-chan jalan-jalan di taman boleh kan?" pinta Hanabi kembali.
Dan tentu saja di jawab anggukan kecil dari Kaasannya,
"Yosh, kalau begitu aku mandi dulu ya!" teriak Hanabi seraya berlari kecil menuju kamarnya.
Mata lavender Hinata masih menjelajahi seluruh isi rumah besar itu, dari lukisan-lukisan indah yang terpasang rapi di setiap tembok, arsitektur rumah yang begitu menawan dan tak lupa beberapa ruangan yang benar-benar membuatnya semakin kagum. Karena ia baru pertama kali melihat rumah sebesar ini, tanpa buang-buang waktu lagi..
"Data check.." mata lavendernya mulai melihat dan menyimpan semua yang ia lihat ke dalam memorinya.
"Save memory," gumamnya kembali.
Dan tak sampai beberapa menit, "End the program." Kedipan-kedipan pun ia lakukan untuk menstabilkan dirinya lagi.
'Jadi ini yang namanya rumah,'
"Hinata! Ayo kemari!" suara teriakan kecil memanggil namanya, Hinata langsung merespon panggilan itu.
"Iya." Gadis indigo itu berlari kecil meninggalkan tempatnya tadi.
'Suasananya benar-benar hangat~'
.
.
.
.
Hinata berjalan menghampiri sebuah ruangan tempat Kaasan dan Tousannya tadi memanggil,
"Ada yang ingin kami bicarakan denganmu." Ucap Hiashi, Hikari segera menepuk-nepuk tangannya mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di sampingnya.
Hinata hanya bisa mengangguk kecil dan memilihi duduk di samping Kaasannya.
"Tousan ingin membicarakan apa denganku?" tanyanya langsung.
Sebuah senyuman kecil terlihat di wajah Tousannya itu, "Hinata, Kau tahu kan kalau kau itu seorang android?"
Mendengar pertanyaan Hiashi, "Iya, tentu saja aku tahu." Jawabnya singkat.
"Kami sangat menyayangimu walaupun kita baru bertemu hari ini,"
Hinata tersenyum, "Aku juga menyayangi kalian,"
"Dan kau tahu Hinata, kami benar-benar tidak ingin kehilanganmu."
Gadis indigo itu mengernyit bingung dengan ucapan Tousannya itu, "Aku tidak mengerti?"
Perlahan tangan kekar sang Tousan menggapai puncak kepala Hinata, dan mengusapnya lembut, "Sebenarnya mulai dua hari kedepan, Tousan dan Kaasan ingin menyekolahkanmu di tempat yang sama dengan Neji, dan.." Hiashi menghentikan perkataannya, dan menatap Hinata kembali...
Mencoba memikirkan apa arti perkataan laki-laki itu padanya, sampai akhirnya..
"..."
"Ah, Aku mengerti Tousan." Ujarnya setelah mencoba menggunakan kepintaran otak yang telah Profesor berikan padanya dulu, dan ternyata berhasil~
"Kau mengerti maksud Tousan?"
"Tousan dan Kaasan ingin agar aku merahasiakan identitasku ini jika bersekolah nanti kan?" jawab gadis itu.
"Kau tidak kecewa kan dengan permintaan kami?" Hikari menatap Hinata dengan tatapan sedih, yang entah kenapa membuat hati gadis itu tidak tega melihatnya.
Ia menggeleng keras, "Tenti saja tidak Kaasan, kalau memang itu keinginan kalian." Jelasnya.
"Kau tidak marah?"
Sekali lagi Hinata menggeleng, "Tidak, justru aku sangat bersyukur bisa bersekolah!"
"Tapi apa Tousan sudah memikirkan bagaimana Hinata bisa masuk ke sekolahku?" Kini Neji ikut andil dalam pembicaraan.
"Kau lupa Neji, kalau adikmu ini seorang android."
Merasa belum mengerti dengan penjelasan Tousannya, Pemuda coklat itu menggeleng kecil.
"Neji Niisan tidak usah takut, kepintaran otak yang telah Professor berikan kupikir sudah cukup untuk masuk di sekolah itu." jelas Hinata.
"Kalau boleh Niisan tanya, berapa IQ mu?"
"..." Hinata berpikir sejenak, dan..
Bagai mendengar suara petir di siang bolong,
"Kata Professor dua ratus,"
Dooeengg! Semua langsung terjungkal mendengar pernyataan gadis indigo itu,
"IQ mu setara dengan teman Niisan!" seru pemuda coklat itu,
"Teman?"
"Iya, salah satu teman seangkatan Niisan juga memilik IQ yang sama denganmu."
"Jadi kau sudah tahu kan maksud Tousan apa?" meski sebenarnya ia juga kaget dengan perkataan Hinata tadi,
"Aku mengerti Tousan,"
oooooooooooooOOOOoooooooooooo
Tanpa mereka sadari, sudah hampir tiga puluh menit mereka berbincang-bincang,
"Hinata Nee-chan, Niisan!" suara teriakan terdengar dari teras, membuat semuanya terkejut.
"Ups, sepertinya kita keasyikan berbicara. Kalau begitu Kaasan akan menyiapkan makanan dulu, nanti kalau makanannya sudah siap Kaasan akan menghubungimu Neji~" Hikari langsung beranjak dari sofa dan berjalan keluar dari ruang tamu.
"Hanabi sepertinya sudah menunggu kita, Ayo Hinata." Neji juga ikut beranjak bangun, bersamaan dengan Hinata.
"Tousan, kami bertiga ingin berjalan-jalan dulu di taman."
"Hinata, Neji ingat apa yang Tousan dan Kaasan katakan pada kalian tadi,"
"Ha'i Tousan." Jawab Hinata dan Neji bersamaan, kedua orang itu segera pergi meninggalkan ruang tamu.
'Aku akan mencoba menghubungi Professor,'
.
.
.
.
"Kenapa Niisan dan Nee-chan lama sekali!" seru Hanabi, gadis kecil itu sudah berpakaian rapi sekarang, luka yang tadi alami sudah terobati.
"Gomen, ayo kita segera ke taman sekarang?"
Hanabi mengangguk semangat dan langsung menarik kedua tangan kakak-kakaknya itu keluar dari rumah besarnya, "Ayo! Aku tidak sabar ingin memperlihatkan Nee-chan taman di dekat sini!" seru gadis itu kembali.
Hinata dan Neji hanya bisa tersenyum kecil, Melihat adik kecil mereka sudah tidak takut serta menangis seperti tadi membuat perasaan keduanya tenang.
...
Butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai di taman yang disebutkan oleh Hanabi, Konoha Green Park. Sebuah taman besar yang di kelilingi oleh pepohonan yang rindang dan banyaknya orang-orang yang bersantai serta bermain-main di sini.
"Ta da~ Ini dia taman bermain kesukaan Hanabi!" seru gadis kecil itu senang, gigi mungilnya pun terlihat saking bersemangatnya ia.
"Aku..suka..tempat ini.." ujar Hinata tanpa ia sadari, mata lavendernya pun tak mau melewatkan momen-momen ini. Melihat banyaknya orang-orang yang beraktivitas di sekitar sini entah kenapa membuatnya senang,
Ada yang berlari bersama anjing, bermain tangkap-tangkapan, ada yang tertidur di bawah pohon yang rindang, bahkan ada yang piknik bersama keluarga masing-masing~
Senyum kecil menghiasi wajah Hinata, betapa senangnya ia melihat ternyata kehidupan-kehidupan manusia biasa itu benar-benar menyenangkan, gambar demi gambar ia simpan dengan rapi di memorynya.
'Aku tidak sabar ingin memberitahu Professor tentang ini!' batinnya senang,
"..."
"Nee-chan mau ikut membeli ice cream tidak?" Hanabi tiba-tiba menarik kecil baju Hinata, membuat gadis itu terkejut.
"Eh, Se..sepertinya Nee-chan ingin melihat-lihat keadaan disini saja," jawabnya.
"Nee-chan tidak apa-apa kutinggal sendiri?" tanya gadis kecil itu lagi, matanya menyiratkan kekhawatiran padanya membuat Hinata senang.
"Tidak apa-apa, lagipula Nee-chan bisa menjaga diri kok." Jelasnya, berusaha meyakinkan adiknya ini.
"Kalau begitu aku dan Niisan mau pergi membeli ice cream di sana dulu ya!"
"Oke,"
"Nee-chan jangan kemana-mana lho." Hanabi memperingatkan gadis indigo itu lagi.
"Siap~"
"Ya sudah, Ayo Neji Niisan!" tanpa aba-aba lagi Hanabi segera menarik tangan Neji menjauhi tempat Hinata dan berjalan menuju penjual ice cream yang tak jauh dari sana.
"..."
'Lebih baik aku melihat-lihat dulu~'
.
.
.
Perasaan senang masih menghampiri Hinata, senyum di wajahnya tak pernah menghilang ketika melihat taman yang baru saja ia lihat hari ini.
'Menyenangkan sekali~'
Ia berjalan perlahan seraya menikmati suasana taman yang begitu menyejukkan, mata lavendernya terpejam nyaman, sampai..
"Hah," desahnya senang.
"..."
"KYAAA!"
"Suara apa itu?" langkah gadis itu terhenti begitu ia mendengar suara teriakan yang berasal tidak jauh dari tempat sekarang. Hinata mencoba menajamkan pendengarannya kembali,
"Tolong!" suara itu kembali terdengar.
'Sepertinya ada seseorang yang kesulitan?' batinnya, gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada seseorang pun yang melihatnya sekarang.
"..."
'Aman," merasa di sekitarnya kini sudah sepi, dengan cepat ia mengaktifkan kembali mode bertarungnya, mode yang hanya ia gunakan untuk menolong orang yang tengah kesusahan seperti yang tadi ia lakukan pada Hanabi.
Tapi begitu ia berniat untuk berlari secepat mungkin ke arah sumber suara itu, Hinata teringat kembali kata-kata Tousan tadi padanya.
'Gawat, Aku tidak boleh menunjukkan kekuatanku sembarangan!' serunya dalam hati, Hinata mencoba mencari-cari cara agar bisa menyembunyikan identitasnya. Sampai ia tak sengaja melihat..
"..."
"Ah! Mungkin dengan benda itu aku bisa!"
oooooooooooOOOoooooooooo
"Tolong!" suara teriakan terdengar dengan jelas di tempat itu, seorang gadis kini tengah berdiri panik melihat kedua temannya yang sedang di pukul habis-habisan oleh beberapa berandal.
"Heh! Jangan seenaknya berteriak!" seorang pemuda menutup mulut sang gadis membuatnya tidak bisa berbicara lagi.
Air mata mulai turun dari mata emeraldnya, Ia tidak tahan melihat kedua temannya itu di pukul.
"Khhenapa kalian melakukan inhii!" seru gadis itu masih dalam keadaan terbungkam.
"Heeh! Orang-orang kaya seperti kalian ini memang pantas mendapatkan pelajaran, mentang-mentang wajah tampan dan kaya saja sombong!" seru salah satu pemuda lagi.
"Sekuat-kuatnya mereka, kalau dilawan oleh lima orang dan melihat temannya ini di sandera pasti akan kalah juga! Hahaha!" gadis itu benar-benar ingin memukul dan mencabik-cabik kedua pemuda yang kini tengah mentertawakan kedua temannya itu.
'Kami-sama tolong kami!' batinnya takut,
Aksi pukulan itu masih terdengar, kini pemuda berambut raven dan pirang itu tidak bisa apa-apa lagi, melihat sahabat mereka di sandera seperti itu.
"Cih! Kuso, pengecut!" teriak pemuda pirang itu penuh amarah.
"Beraninya menyandera Sakura!" lanjut pemuda raven di sampingnya.
"Hee! Jangan macam-macam kalian, pukul mereka sampai wajahnya hancur hahaha!"
"Sasuke, Naruto!" gadis itu berteriak panik, melihat kedua temannya itu hampir babak belur.
'Kami-sama tolong!'
"..."
"Tolong Hentikan!"
Siiinnggg...
Aksi-aksi pukulan terhenti ketika mendengar suara teriakan kecil tadi...
Membuat semua orang disana menoleh ke arah sumber suara itu.
"Siapa yang berani mengganggu kami!"
"Kenapa kalian saling memukul!" suara itu terdengar lagi.
Baik Sasuke, Naruto, Sakura dan geng berandal itu ketika melihat siapa yang berani-beraninya mengganggu acara mereka terbelalak tak percaya..
"Menjauh dari sini!" teriak pemuda berambut pirang aka Naruto pada seorang yang berteriak itu, Ia benar-benar kaget melihat keberanian seseorang yang kini tengah berdiri di sana, seorang gadis berambut pendek, memakai topi, serta berkacamata berani menantang segerombolan berandal yang badannya lebih besar darinya, dan berusaha menolong mereka!
"Ti..tidak! Kalau kalian saling menyakiti seperti ini. Penelitian Professor bisa hancur!"
Semuanya tidak mengerti maksud gadis itu, dan hanya bisa terdiam sampai akhirnya..
"Gadis kecil! Kau berani mengganggu kesenangan kami!" salah satu berandal berusaha mendekati gadis itu.
"Jangan!" seru Naruto kencang berusaha menghentikan tindakan berandal itu, tapi tidak bisa karena tubuhnya yang terlalu sakit akibat pukulan-pukulan tadi.
"..."
"Professor maafkan aku kalau memukul mereka." Gumam Hinata kecil,
"Kena kau!" sebuah pukulan berandal itu layangkan tepat di wajah gadis di depannya, sampai...
Wushhh!
Bagai angin kencang, betapa terkejutnya berandalan itu ketika mendapati dirinya tidak berhasil memukul gadis di depannya tadi, dan kini yang ia pukul hanyalah sebuah udara.. tidak ada apa-apa!
Gadis itu hilang...
"Di..dimana kau!" serunya kesal.
"Dima..."
Plok, sebuah tepukan kecil mengagetkannya, dengan cepat ia menoleh ke belakang dan melihat...
"Mencariku?" senyuman Kecil terlihat di wajah gadis itu..
"KE..KENAPA KAU BISA ADA DI BELAKANGKU!"
TBC..
A/N :
Fiuh akhirnya Hikaru bisa menyelesaikan juga fic ini, Makasi banget bagi yang sudah me riview, mem fav, dan mem follow cerita Hikaru! Jadi seneng deh hehehe, :D
Big Thanks Too :
fazrulz21, hikari mafuyu, aftu-kun, uzumakimahendra4, beladewa lovelles , kensuchan , Shei-chan, Black market, Rin Keitami, The Nirvash Destruction, Lavenderamesthy, Trio Riuricky,
Sesi tanya jawab yukk! :
Naruto manusia apa bukan : Iya disini Hikaru buatnya Naruto manusia dan Hinata android hehe,
Panjangin chap : Maaf, batas cerita yang Hikaru buat Cuma bisa di bawah 3000 word #biasanya otak macet# hehe
Hinata Super Power : Yups bener banget, namanya juga android modern, hahaha :D
.
.
.
Jangan lupa ya meninggalkan jejak berupa RIVIEW
Sampai jumpa di part selanjutnya! :D
