Chapter 2

"MWO? NAMJA ? jadi— ah… aku mual".

This is crazy! Apa hidupku akan berakhir begitu saja karena masalah ini? Bagaimana bisa appa memberikan keputusan sepihak seperti itu.

Ini benar-benar konyol. Apa tidak ada lagi hal yang lebih buruk dari ini huh?

"aarrgghht …."

CEKLEK

TREK

"sehu..un… hyaaahh! kau gila hah? Hampir saja bolpoint itu membuat karya abstrak pada wajah tampanku ini".

"….."

"ya~ bocah, ada apa denganmu? Mengapa kau hanya diam? Apa sesuatu terjadi pada otak terpencilmu huh? Ya! jawab aku bodoh".

"aiishh hyuunggg~ bisakah kau diam? Suaramu itu mengganggu indera pendengaranku". Mengapa dia datang malah semakin membuatku gila akan masalah konyol ini. Bisakah ada yang mengerti akan posisiku yang terpojoki seperti ini? Bahkan ummaku saja tak membela penolakanku. Ya, ummaku yang yeppoh dan teramat aku cintai melebihi aku mencintai yeoja manapun terkecuali bidadari indahku itu. Bidadari indahku? Hahh… bolehkah aku mempatenkannya sebagai milikku? Bahkan sekarangpun aku tak yakin jika akan mendapatkannya.

"salahkan dirimu yang hanya diam bagai setan yang kerasukan mahluk astral. Ck, memang ada apa denganmu? Jika kau mempunyai masalah besar dan ingin meringankannya dengan cara menceritakan masalahmu padaku, silahkan saja. Kau sudah ku anggap sebagai namdongsaeng-ku, Sehun-ah".

Apa benar seperti itu? Apa setelah aku menceritakan keluhanku akan masalah perjodohan itu, mungkin semuanya akan terasa ringan? Sebaiknya tak usah. Karena kurasa akan percuma.

Krik Krik Krik *Hening*

"hyung… "

"ne…"

"aku… "

"wae?"

"aku ingin bercerita tentang …"

"apa? Cerita apa? Ya! kau lama sekali"

"dengarkan dulu hyung…"

"baiklah, baiklah. Apa yang ingin kau ceritakan eum?"

"aku… sebenarnya aku…"

"eum…"

Hening *again* -_-

"a-aku … APPA AKAN MENJODOHKANKU! Eottokhae hyuuungg~?"

Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

"Buahahahahahaha".

Hhh… kubilang apa? Ini akan percuma.

"huhuhhffppppttt … haha, hhh… hhh, mian Sehun-ah. Aku hahh.. aku tak bermaksud menertawakanmu hanya—"

"mengejekku? Phabo."

"ya~ bukan itu maksudku bodoh. Maksudku hanya… hanya— hanya apa yah? hyaahh dasar bodoh, gara-gara kau memotong ucapanku. Aku lupa lanjutan kalimatku itu". Jerapah autis. Bilang saja kau tak mampu untuk membela dirimu sebagai terdakwa.

"aiishh sudahlah hyung. Aku tak butuh ucapan tak bermutumu".

"baiklah. Maafkan aku, memang appa-mu akan menjodohkan adeul tampannya ini dengan yeoja mana? Dan bagaimana dengan Krystal?". "haahh… tidak hyung… dan aku tidak tahu masalah Krystal"

Chanyeol POV.

"haahh… tidak hyung… dan aku tidak tahu masalah Krystal". Aiishh bocah ini, bukankah ia bilang barusan jika dirinya akan dijodohkan oleh Oh ahjussi— appanya. Lalu mengapa ia mengatakan tidak? Apa dia tengah terserang amnesia mendadak? Dasar setan idiot.

"apa maksudmu dengan tidak? Dan mengapa kau sampai mengatakan tidak tahu untuk kekasihmu itu?".

Kulihat ia melangkah menuju sofa diruangan ini dan mendudukan tulang ekornya dengan begitu malas. Ck, apa maunya?

"tidak hyung. Appa… appa tidak— appa tidak menjodohkanku dengan yeoja manapun melainkan… yeah, you know what? Dan untuk Krystal aku sedang tak ingin membahasnya"

Eoh? Apa ia bilang? Bukan dengan yeoja manapun. Itu perlu digaris bawahi, dan itu artinya. Ya… ya…

"ffpppphhhttt…."

"ya! ya! hyung autis. Tertawalah sesukamu, karena sebelum tertawa itu dilarang".

"ppfffhhtt… kyaaahahahahahaha~". Hahaha lihat itu. Ya~ kalian, apa kalian bisa lihat itu? Lihatlah wajahnya! Aiishh bodoh. Jangan memandangnya seperti itu. Kalian bisa meluncurkan konser liur perdana kalian.

Wajahnya semakin terlihat idiot. Ini patut diabadikan sebagai sinetron terbaru Indonesia yang berjudul 'Ratapan Setan Idiot'. Hahaha aku hanya bisa tertawa nista bersama author *abaikan!*

Memang siapa namja sial 7 turunan, 6 belokan, 5 tikungan dan 4 tanjakan yang akan menjadi anae setan kecil ini? Hahh … Kasian sekali namja malang itu.

"haahh … once again, I'm so sorry dude. Baiklah, aku akan serius. Siapa namja sengsara yang akan menjadi anae-mu nanti eum?".

"aku tidak tahu hyung. Dan aku tak ingin tahu". Acuh-dingin-datar. Jawaban ber-genre apa itu?. "aiishh bodoh. Mengapa kau sampai tidak tahu?".

"karena appa tak memberitahuku siapa namja yang akan menikah denganku. Ia hanya memberitahu asal-usul keluarganya dan nama namja itu. Bahkan aku tak tahu siapa dan bagaimana bentuk rupanya. Tapi bagaimana bisa appa memberi keputusan sepihak seperti ini. Bukankah ini terlihat konyol huh? Haahh … aku semakin mual".

Hiks. Kasihan sekali dia, sepertinya sinetron terbaru Indo itu memang benar-benar harus di tuangkan dalam dunia persinetronan. Aku menjadi semakin antusias untuk menjadi calo yang menjual kaset bajakan sinetron itu.

"baiklah. Aku sebagai sahabat-wakilmu-dan juga hyungmu, apa yang dapat aku bantu untuk meringankan beban masalahmu. Ya walaupun mungkin aku tak dapat berbuat lebih, tapi akan kucoba untuk dongsaeng idiotku ini".

Apa? Mengapa dia? Mengapa matanya berbinar aneh seperti itu menatapku? Jangan katakan jika ia mencintaiku diam-diam. Ya tuhan, aku masih abnormal untuk mencintai namja idiot seperti ini. Karena aku masih sangat dan teramat mencintai Baekkie baby. Saranghae baekkiiieee~

"hyung kau memang hyung-ku yang autis, eh maksudku hyung-ku yang terbaik."

-_- IDIOT.

"yasudah. Apa yang dapat aku bantu?". Ya! sekarang apalagi? Mengapa ia menatapku dengan senyum evilnya yang seakan ingin memangsaku hidup-hidup. Errr… aku takut ummaaa~

"aku ingin ... aku ingin kau membantuku untuk mendapatkan Kai—bidadari cantikku, agar aku dapat membatalkan perjodohan konyol nan gila ini. Eotthe?"

MWO? Apa bocah ini gila? Apa maksudnya mengatakan itu?

Ingin membuatku mati muda hah? Secara tidak langsung ia menyuruhku untuk terjun bebas kedalam kolam buaya. Aku fikir ia akan meminta bantuan bagaimana untuk menjadi seorang gay. Dan 1 lagi, bagaimana jika ia mengetahui bahwa Kai yang ia maksud seorang yeoja ternyata adalah seorang namja.

"ya! kau gila Sehun-ah, kau boleh meminta bantuanku apa saja. Asalkan jangan itu, aku sungguh tak sanggup jika harus berurusan dengan ayahmu. Ia begitu menyeramkan".

"hyuuungg~ jebaall. Aku tak tahu harus berbuat apa. Dan hanya kau yang dapat membantuku. Aku mohon hyung".

Eottokhae? Bagaimana ini Tuhan? Lebih baik aku menolaknya. Agar masalah ini tak berkelanjut jadinya.

"haahh…"

Author POV.

Ditengah malam yang dingin pada sebuah pinggiran jalan kota Seoul terlihat siluet seorang namja manis, sebut saja Kai tengah melangkah melewati jalan trotoar. Sesekali ia merapatkan cardigan soft green-nya untuk mentralisirkan hawa dingin yang tengah melanda tubuhnya. Bahkan ia lupa untuk membawa jaket kesayangannya pada musim dingin seperti ini. Sedikit merutuki kebodohannya.

Dan tanpa diduga ada seseorang yang tengah mengamatinya lewat mobil sport hitam yang terparkir rapih pada pinggir jalan. Entah mengapa namja yang tengah mengamati Kai, ingin sekali keluar dan menghampiri Kai. Tanpa pikir panjang ia bergegas keluar dan langsung berlari mengejar namja manis itu.

Kai. Namja manis itu tiba-tiba merasakan hawa hangat pada sekujur tubuhnya saat seseorang dengan secara tiba-tiba menyampirkan jaket tebalnya pada tubuh Kai. Dengan segera Kai menoleh untuk mencari tahu siapa orang yang berbaik hati padanya tengah malam ini.

"annyeong Kai…". Sesaat Kai hanya menatap namja tampan yang tengah tersenyum dengan lembut.

"eh, annyeong… mian, apa aku mengenalmu tuan?". Namja tampan yang ternyata adalah Oh Sehun itu hanya terkekeh alih-alih menjawab kebingungan Kai.

"apa kau lupa denganku?bahkan baru kemarin kita bertemu.". kini terlihat jelas jika Kai tengah berfikir keras untuk mengingat siapa namja yang tengah menatap penuh harap padanya. "ahh begini, apa kau ingat pertemuan kita kemarin di club tempatmu bekerja? Aku diperkenalkan Baekhyun hyung padamu. Karena ia bilang kau adalah sahabatnya". Tiba-tiba seulas senyum terpatri dengan indah digaris wajah Kai.

"Sehun, Oh Sehun. Benar kan tuan?". Jawabnya terkikik, sehun hanya tersenyum menang akan jawaban itu.

"that's right. well, apa kau ingin pulang? Mengapa hanya sendirian eum?"

"ah yeah. Aku sedang ingin menuju rumahku. Dan aku sudah biasa berjalan sendiri ditengah malam seperti ini".

"baiklah. mari kuantar kau untuk pulang, mobilku disana dan kau bisa tunggu sebentar".

"apa tidak merepotkan tuan?". "sama sekali tidak. Dan jangan kau panggil aku tuan. Panggil saja Sehun, arra?".

"eum… baiklah Sehun-sshi"

Kai POV.

Lelah. sama seperti malam-malam lainnya saat aku memilih keluar dari kediaman keluarga Kim, lebih tepatnya kabur saat appa menyuruhku untuk bersedia dijodohkan oleh seorang namja yang adalah adeul dari rekan bisnisnya.

bukannya aku ingin menjadi seorang anak yang membangkang akan perintah kedua orang tuaku, hanya saja aku masih belum siap jika sekarang harus menyandang status sebagai seorang anae dari namja. Bahkan aku sendiri saja seorang namja. Dan sekarang aku bekerja pada sebuah club sebagai dancer untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tak mungkin jika aku meminta kebutuhanku pada kedua orangtuaku sedangkan posisiku kini tengah kabur dari rumah mewah itu.

Kalian tak usah berfikir jika aku bekerja pada sebuah club malam seperti itu bahwa aku juga seorang namja yang bisa memenuhi hasrat para lelaki yang menginginkan tubuh para yeoja maupun namja penghibur disana. Aku hanya bekerja sebagai penari striptis ditempat itu, dan setelah selesai aku langsung membawa tubuhku pada tempat tinggal sederhana yang ku sewa untuk peristirahatan tubuh lelahku.

"sungguh melelahkan… terlebih sebelum sampai rumah, aku bertemu dengan seorang namja. yang ternyata ia adalah teman dari Baekhyun hyung. Dan mengapa ia memperlakukanku tadi seakan ia tengah memperlakukan seorang yeoja padaku. Hhh, aneh". Gumamku tak tahu pada siapa.

.

.

.

Author POV.

Cahaya mentari pagi yang sangat hangat tiba-tiba masuk melalu celah jendela kamar yang tengah ditempati oleh sesosok namja manis. Namun kini tidurnya seakan terganggu akan cahaya mentari yang menerpa wajahnya. Hangat, itu yang ia tengah rasakan.

"eungghh". Akhirnya lenguhan indah itu keluar dari bibir plum namja yang tengah menggeliatkan tubuhnya. Beranjak bangun menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan wajahnya yang terasa kaku.

Setelah merasa segar pada bagian wajahnya, ia berniat untuk membuat sarapan namun saat menuju dapur tak sengaja maniknya melihat sesuatu yang aneh berada pada meja ruang tamu.

"apa ini?". Gumamnya melihat sebuah kotak berwarna merah muda. Pikirannya benar-benar tengah penasaran dan dibukalah kotak yang ukurannya cukup besar itu.

"woahh … bagaimana ini bisa ada disini? Apa umma mengirimkannya untukku? Ahh mana mungkin, pasti appa tidak memperbolehkan umma mengirimkan sesuatu untukku sebelum aku kembali pada rumah mereka".

Sesaat ia tengah berfikir akan kotak yang berisi susu strawberry dan beberapa roti selai strawberry serta sebuah boneka beruang yang ukurannya lumayan besar. Bukankah ini terlihat kekanakan untuk seorang namja seperti Kai? Tsk. Hell yeah.

"surat?". Gumamnya lagi. Dibacanya secarik kertas yang diyakini adalah surat dari sipengirim tersebut. Dan tiba-tiba seulas senyum terpatri pada garis manis itu.

"bagaimana ia bisa mengetahui ini?"

Drrtt drrtt drrtt

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang bordering nyaring dari arah kamarnya. Langsung saja ia melesat menuju kamarnya untuk menerima panggilan pada ponselnya.

"yeoboseyo?"

"…."

"yeoboseyo, ada yang bisa kubantu?"

"…."

"ya~tuan-nyonya! Apa kau bisu eoh? Mengapa diam saja, jika tidak ada yang penting lebih baik aku matikan. Selamat pa—"

"ah yeoboseyo Kai. Ini aku Sehun, kau masih ingat?"

"eoh? Sehun? Ah yeah, aku masih ingat. Dan eum .. ada apa Sehun?"

Terdengar helaan nafas panjang dari orang diseberang sana.

"emm Kai, apa kau sudah menerima kotak berwarna merah muda?"

"kotak berwarna merah muda? Eh? Apa itu milikmu Sehun?" dan Sehun terkikik geli mendengar pertanyaan Kai. "ne. itu milikku dan kukirimkan untukmu Kai".

"untukku? Bagaimana kau tahu aku meny—". "itu tidaklah penting Kai. Baiklah sebaiknya kau sarapan dahulu, dan aku akan melanjutkan pekerjaanku. Annyeong Kai".

Sehun POV.

Haahh … tuhan, hanya berbicara melalui sambungan telepon saja sudah membuat dadaku bergemuruh hebat seperti ini. Bagaimana jika ia menjadi kekasihku dan kita banyak bicara. Mungkin aku sudah mati mendadak dihadapannya. Ck. Konyol.

"Chanyeol hyuungg~ ah neoumu haengbokhan".

"…."

"ya! hyung ada apa denganmu? Apa kau tengah mendapatkan ilham untuk menjadi namja yang normal eum?"

"…."

PLETAK

"ouch… appo". Ringis hyung autis ini. "ya~ mengapa kau menjitakku huh? Memang apa salah kepalaku bocah?".

"aiishh kepalamu memang tak salah sedikitpun. Hanya saja dirimu terlalu autis karena diam saja saat aku mengajakmu berbicara. Ck. Phabo".

"ya. ya. memangnya kau berbicara apa bodoh?". Aiishh dasar namja aneh -_-

"tidak jadi hyung. Aku sudah tidak berselera lagi untuk bercerita!"

"dasar bocah labil. Begitu saja sudah marah. Oh iya apa yang akan kau lakukan lagi selanjutnya untuk Kai?". Aku hanya tersenyum tampan(?) alih-alih menjawab pertanyaan hyung bodoh ini.

"aku akan mengirim paket itu setiap pagi untuk Kai, eotthe hyung?"

"ya terserah kau saja Sehun-ah. aku hanya dapat berdoa yang terbaik untukmu".

Kkk~ ia memang hyungku yang terbaik. Walau kadang kau terlihat sangat autis tingkat akut.

Author POV.

Seperti ucapannya beberapa waktu yang lalu pada Chanyeol akan niatannya untuk selalu mengirimi paket setiap pagi untuk Kai. Tak dipungkiri semakin hari hubungan mereka terlihat semakin dekat. Namun kedekatan itu tak juga disadari oleh seorang Oh Sehun akan siapa sebenarnya Kai yang ia maksud sebagai yeoja itu.

Kadang juga mereka menghabiskan waktu bersama untuk mengunjungi tempat-tempat yang indah. Seperti saat ini mereka tengah berjalan-jalan disekitar sungai Han. Namun salah satu dari mereka menganggap itu adalah sebuah kencan special. Ya, Sehun menganggap itu sebuah kencan. Karena baginya jika seorang namja dan yeoja menghabiskan waktu berdua seperti itu pasti tengah melakukan kencan. Namun beda dengan Kai, ia masih merasa sangat bingung akan sikap Sehun yang setiap hari mengiriminya sebuah paket yang belum tentu semua orang tau jika isi paket itu adalah barang-barang favoritnya. Karena jika bukan sahabat dan juga kedua orang tuanya, tidak akan ada yang tahu akan hal itu.

"Kai…"

Eum. hanya dengungan yang keluar dari plum kissable itu sambil sesekali ia menjilati es krim strawberry kesukaannya. Dan tanpa disangka mata mereka bertemu untuk beberapa saat, entah mengapa seakan waktu telah memberhentikan mereka. Tanpa mereka sadari salah satu dari mereka mulai mendekat dan yeah… Bibir mereka bertemu satu sama lain.

Manis. Kesan pertama yang Sehun terima dari garis cherry itu. Hanya sekedar menempelkannya saja tak berniat untuk melakukan lebih. Dan seakan waktu telah menyadarkan pikiran mereka kembali.

"ahh … mianhae, a-aku… aku sungguh tak bermaksud lancang padamu. Hanya saja tadi… eum, tadi ada sisa es krim pada sudut bibirmu. Yah, ada es krim".

"emm… g-gwenchana Sehun-ah"

Dan seketika keduanya menjadi canggung. Namun kembali mereka menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang sore itu.

.

.

.

07.45 pm Sehun's house

Terlihat mobil sport hitam tengah memasuki rumah mewah bergaya klasik kerajaan inggris. Memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu masuk rumah mewah itu. Memberi kunci mobilnya pada seorang pengawal yang menyambut kedatangannya. Melangkah masuk sambil sesekali garis lemonnya melengkungkan sebuah senyuman. Kini ia melewati ruang keluarga untuk menuju kamarnya. Namun sebelum ia sempat pergi melewati ruang keluarga seseorang memanggilnya.

"Oh Sehun…" panggil seorang namja tampan bermata sabit yang tak lain dan tak bukan adalah Jinki—appa Sehun.

"eh? Ne …". "kemarilah. Ada yang ingin appa sampaikan padamu".

"mwoya appa?". Sehun menyeret tubuhnya menuju sang appa yang tengah duduk pada sofa berwarna dark brown yang meninggalkan kesan elegant sambil menyeruput lemon tea favorit buatan sang anae.

"appa ingin memberi tahumu tentang perjodohan itu. Bahwa kau dengan Kim Jong In— calon anae-mu akan appa nikahkan secepatnya. Semuanya sudah disiapkan dan jika kau bertanya mengapa semuanya tiba-tiba itu karena kekhawatiran dari nyonya Kim yang tak ingin jika adeul tunggalnya itu terjadi sesuatu yang buruk. Maka dari itu pernikahanmu dengannya akan dilaksanakan lusa dan aku tak menerima penolakanmu".

"MWO? Lusa ? kau bergurau appa?". Jinki hanya tersenyum berseringai alih-alih menjawab pertanyaan adeul satu-satunya itu.

Oh Sehun. Namja tampan bermanik tajam ini sedari tadi hanya duduk gelisah pada ruang kerjanya. Hatinya benar-benar berkecamuk akan pembicaraan bersama appanya semalam. Bagaimana bisa jika ia akan dinikahkan dengan namja itu secepatnya. Bahkan kini hatinya benar-benar telah yakin hanya untuk seorang Kai. Berfikir keras bagaimana membuktikan pada sang appa jika ia benar-benar telah memiliki tambatan hati yang sudah memenuhi pikirannya belakangan ini.

Dan BINGO, terlintas ide gila yang entah itu akan berpengaruh dalam batalnya perjodohannya dengan namja yang tak sama sekali ia ketahui itu atau tidak.

"yeah. Aku harus melakukaknnya. Demi cinta dan perasaanku pada Kai".

.

.

.

"Sehun-ah, kau membawaku kemana? Dan kita sedang berada dirumah siapa?"

Sehun tersenyum lembut sebelum menjawab kebingungan Kai. "gwenchana, kau tidak perlu takut. Aku selalu bersamamu dan ini adalah kediaman keluarga Oh yang aku tinggali". Kai semakin bingung dengan apa yang akan Sehun lakukan.

"lalu untuk apa kau membawaku kemari?". "kau akan tahu nanti Kai". Lagi. Ia hanya memberi senyum terbaiknya agar mahluk dihadapannya tak merasa takut.

"dan kau tunggu sebentar disini ne, nanti kau harus masuk saat aku memanggilmu. Arraseo?". "eum. arraseo".

CEKLEK

"appaaa~ umma…"

"ya~ ummaaa… aku pulang".

Tiba-tiba kedua orang tua Sehun keluar dari tempatnya(?) sambil sesekali sang appa menggerutu kesal karena acara(?) malam bersama sang ane gagal oleh panggilan sang adeul. Ck, bahkan ini baru pemanasan. Benaknya.

"Ya! Sehun-ah ada apa? Mengapa kau berteriak-teriak tak jelas seperti itu huh? Kau mengganggu acaraku bersama umma yeppohmu ini". "ouch… appo yeobo". Telak sang istri menyikut perut sang nampyeon yang berbicara seperti itu pada sang adeul yang hanya ditanggapi decakan serta tatapan datar. Bahkan sifatnya sama persis dengan sang appa.

"ada apa baby? ada yang perlu kau sampaikan pada kami eum?". lembut, selalu lembut untuk menenangkan sang adeul.

"appa izinkan aku untuk membuktikan padamu bahwa aku telah mempunyai yeoja yang benar-benar terbaik untuk hidupku. Dan aku mohon batalkan perjodohan itu". Jinki hanya terdiam sejenak tak menjawab pernyataan sang adeul.

"cih… apa maksudmu berkata seperti itu? Apa dengan kau mengatakan itu padaku, aku akan membatalkannya begitu saja tuan muda Oh? BIG NO! sampai kapanpun aku akan menikahkanmu dengan Kim Jong In".

"tapi appa. Aku bisa membuktikannya, Kai… masuklah".

Sesaat semua pasang mata menatap kearah pintu masuk yang menampakkan sesosok namja manis yang hanya berani tertunduk tak berani menatap keluarga yang sedari tengah berdebat. Terlali tekut eoh?

Saat sesampainya ia berada dihadapan kedua orang tua Sehun, tiba-tiba mata sipit Jinki membelalak sempurna dan …

"Jonginnie …"

"ah ne?"

"eh?".

Mendongak menatap bingung pada namja dewasa yang tetap tampan. Bingung, bagaimana namja sipit itu tahu nama lahir ia.

"apakah aku mengenal ahjussi?". "ya, apa appa mengenal Kai? Dan mengapa kau memanggilnya dengan Jonginnie?"

"hahaha kau itu namja yang phabo? Apa dia orang yang akan kau kenalkan pada appa eum?"

"ne appa… dia Kai, temanku".

Sesaat jinki tersenyum penuh arti, namun tak ada satupun orang yang mengerti akan senyum dari Oh Jinki kecuali sang anae yang menatap mengerti.

"hmmm… baiklah, aku menyutujuimu. Jika kau berbahagia, akupun akan bebahagia untuk adeulku".

"woaahh… jinjja? Kau tidak berbohongkan appa?"

"aniyo. Besok kalian akan menikah dan malam ini aku akan mengabari berita bahagia ini pada Kim Minho. Selaku appa dari calon anae-mu, benarkan Kim Jong In?". tersenyum manis sampai menghilangkan manik sabit itu sambil menatap Kai yang kini menegang. Tak jauh dari itupun Sehun menatap horror pada sang appa kemudian beralih menatap Kai yang hanya diam mematung.

"K-kim Jong In? jadi … bukankah ia seorang—"

"yeoja? Hahaha kau ini namja phabo Sehun-ah. dia ini namja, putra tunggal keluarga Kim yang akan dijodohkan denganmu. Appa memang tak pernah bertemu dengannya secara langsung. Namun sebelumnya Kim Minho telah memberikan foto adeulnya yang manis ini. Dan kau Jonginnie, kau harus bersiap-siap karena besok adalah hari pernikahanmu dengan adeulku yang tampan ini. Haha"

"eh? Menikah?"

"j-jadi… j-jadi ia, ia seorang— ah umma~ aku mual".

TBC