oomuoMingyu : iya dikit soalnya baru prolog nih wkwk. Ada lanjutannya, yap bener ini chapterrrrrr hehe. Wah iya, 12, siapa coba ya, aduh flashback masa lalu pas masih 12/? /apasih/ Okee terimakasih atas reviewnya, dipantengin terus yaa^^9

DevilPrince : iya sis masih prolog soalnya, next next bakalan dipanjangin kok, btw thank reviewnyaa~

Iceu Doger : iya maklum yang buat kan fangirl tingkat dewa /tung taratung/

Chapter 1

"Wonwoo, jangan lupa jam 8 datang ke sekolah. Seventeen tiba disekolah kita jam 8, kau harus datang lebih awal. Tepat waktu. Kali ini kumohon jangan terlambat dengan alasan yang biasa kau ucapkan. Kalau tid-" Wonwoo memutuskan panggilan yang tersambung dengan Junhong. Teman sekelasnya yang sekaligus juga sebagai sekretaris organisasi itu sangatlah cerewet. Ini baru jam 7 pagi, dan Wonwoo tahu Junhong sudah mengeluarkan sumpah serapahnya ketika Wonwoo memutuskan panggilan.

Demi bertemu dengan sang idola, Wonwoo rela bangun pagi agar tidak terlambat. Bahkan ketika tadi Junhong menelponnya, Wonwoo sedang membuat sarapan. Derita anak yang tinggal sendirian dan jauh dari keluarga, Wonwoo mengurus diri sendiri di ibukota, Seoul.

"Jam 9 sampai sekolahku.. Mungkin masih sempat untuk makan bekal buatanku. Semoga 'dia' suka." Wonwoo bermonolog sambil mempersiapkan bekal untuk si 'dia'.

Ting

Wonwoo melihat layar ponselnya dan melihat satu pesan. Darinya.

Kau tau kan aku akan ke sekolahmu? Sampai bertemu, aku merindukanmu, Jeonwon.

Wonwoo tersenyum ketika membaca pesan dari 'dia'. Tak mau berlama-lama, Wonwoo sudah siap pergi untuk bertemu 'dia', kekasihnya.

• APOLOGY •

Wonwoo berjalan melewati koridor dengan lamban. Ini baru jam 8, sedangkan murid-murid akan datang jam 9 saat acara dimulai. Jadi, tentu saja sepanjang koridor itu sepi.

Tiba-tiba, ada seseorang yang menarik tangan Wonwoo dan membawanya masuk ke dalam kelas. Wonwoo memejamkan matanya karena Ia takut dan masih terkejut setelah tiba-tiba ditarik paksa.

Cup

Wonwoo membuka lebar matanya ketika orang yang menariknya ini mengecup bibirnya. Ingin marah, Wonwoo langsung terdiam menatap wajah orang itu. Yang ditatap hanya menyunggingkan senyuman manis yang membuat matanya membentuk garis.

"Hai, ini aku." Orang itu menangkup wajah Wonwoo dengan kedua tangannya, membawa kepala Wonwoo untuk lebih dekat lagi dengan kepalanya.

"Aku benar-benar merindukanmu, Jeonwon. Argh rasa rindu ini benar-benar membunuhku."

Wonwoo baru tersadar setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut orang itu. "Mingyu, kenapa kau ada disini?" tanya Wonwoo kepada Mingyu, orang-yang-tadi-menarik-dan-mengecupnya.

Mingyu menabrakkan dahinya ke dahi Wonwoo dengan sedikit keras. "Tentu saja untuk bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu. Kita sudah 2 minggu tidak bertemu, tahu?"

"Wah memangnya salah siapa ya yang tidak ada waktu untuk ketemu~" Wonwoo memanyunkan bibirnya dan mencoba menatap ke arah lain, membuat pose pura-pura-tidak-tahu. Sedangkan Mingyu yang melihat itu pun langsung menarik wajah Wonwoo dengan kedua tangannya dan langsung to the point. Mengecup bibir Wonwoo yang lembut dan kenyal seperti perme i.

Mingyu tidak ingin hanya kecupan. Mingyu ingin lebih. Ditariknya tengkuk Wonwoo agar Ia dapat lebih dalam menguasai 'permainan kecil' ini. Jujur saja, bagi Mingyu ini masih kurang untuk melepas kerinduan yang Ia pendam selama 2 minggu terakhir.

Tidak sampai disitu, Mingyu memeluk erat pinggang Wonwoo, lalu Ia mencoba menggigit pelan bibir Wonwoo dan langsung memasukkan lidahnya, menyapu bersih gigi dan langit-langit didalam mulut Wonwoo. Wonwoo-pun mencoba mendorong dada Mingyu agar permainan ini dihentikan.

"Cukup Mingyu." ucap Wonwoo sambil berusaha mengatur nafasnya. "Ini tidak cukup untuk-ku sayang. Aku ingin lebih." "Tapi aku lelah."

Mingyu menampilkan senyuman mesumnya. "Baiklah. Sebagai gantinya cium aku 20 kali. Dan juga, aku akan menemanimu malam ini."

"20 kali? Sekarang?" Mingyu menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Wonwoo.

Wonwoo menghela nafas, namun, "Baiklah."

Mingyu menarik tubuh Wonwoo agar menempel dengan tubuhnya, lalu melingkarkan tangannya dipinggang Wonwoo, menahan agar Wonwoo tidak lari.

Wonwoo langsung mendekatkan wajahnya, dan mengecup pelan bibir Mingyu.

"Satu."

Mengecupnya lagi.

"Dua."

Mengecupnya lebih lama lagi.

"Tiga."

Cup

"Empat."

Cup

"Lima."

"Bagaimana jika aku beri kemudahan? Permainan seperti tadi dan langsung ke kecupan 20?" tanya Mingyu sambil menaik-naikkan alisnya.

"Aku tidak pernah bisa menang darimu, tuan Kim."

Mingyu langsung mencium bibir Wonwoo dengan cepat. Memiringkan kepalanya untuk mendapatkan posisi nikmat. Tidak ingin berlama-lama, Mingyu langsung memainkan permainan ini dengan lidah mahirnya. Mingyu sudah berada ditingkat atas, tidak bisa dihentikan lagi.

"Ya Tuhan! Kalian ini berbuat mesum disekolah! Tidak ada tempat lain apa hah?" permainan liar itu berhenti ketika seseorang berteriak dari depan pintu.
Mingyu menoleh, dan mendapati Jisoo berdiri didepan pintu.

"Hyung, tidak bisakah kau ganggu aku lain waktu? Aku sedang melepas rindu." Jisoo terkekeh mendengar ucapan Mingyu, lalu berjalan menghampiri Mingyu dan Wonwoo.

"Aku mencarimu, Mingyu. Karena acara kita akan segera dimulai." Wonwoo yang mendengar ucapan Jisoo langsung menepuk pelan dahinya. Bahkan ia lupa jika dirinya adalah panitia untuk acara itu.

Mingyu menarik tangan Wonwoo dan menggenggam erat. "Baiklah, mari kita pergi ke auditorium."

• APOLOGY •

Ketika hendak sampai di auditorium, Wonwoo melihat teman sepanitia-nya, Junhong berdiri didepan pintu masuk dan mengurus tiket acara. Wonwoo menoleh pada Mingyu, "Aku kesana duluan ya? Temanku butuh pertolonganku."

Mingyu mengangguk dan mengecup singkat dahi Wonwoo. Wonwoo tersipu malu dan langsung berlari meninggalkan Mingyu dan Jisoo menuju Junhong.

"Wonwoo-ya! Darimana saja kau?! Kau tidak tahu ya aku daritadi sibuk mengurus ini dan itu dan kau tidak tahu kemana. Padahal tadi kan aku sudah menghubungimu." Wonwoo hanya bisa terkekeh malu mendengar celotehan dari Junhong.

Tanpa Wonwoo sadari, sebenarnya sebelum Junhong memarahi Wonwoo, Ia sempat melirik tajam dan dengan tatapan curiga ketika melihat Wonwoo bersama dua pria menghampiri auditorium. Bahkan, Junhong melihat ketika salah satu dari pria itu mengecup dahi Wonwoo.

"Maafkan aku ya sayangku~ Tadi aku ada urusan. Nanti biar aku saja yang urus acara ini jika sudah selesai. Jangan marah ya?" Junhong sebenarnya tidak marah, tapi dia butuh penjelasan atas apa yang dilihatnya tadi.

Jam sudah menunjukkan pukul 08.45, bangku penonton pun sudah ramai diisi oleh murid sekolah. Masih ada segelintir murid yang datang lama, mengulur-ulur waktu. Pada saat inilah Junhong ingin mengeluarkan berbagai pertanyaannya pada Wonwoo tentang pemandangan yang dilihatnya tadi.

"Hei Wonwoo. Apakah aku boleh bertanya?" Wonwoo menoleh, lalu terbahak mendengar ucapan Junhong. "Ya Junhong-ah. Sejak kapan kau se-formal itu? Kalau mau tanya ya tanya saja."

"Itu- eh siapa dua pria tadi? Sepertinya kau akrab sekali dengan mereka." Wonwoo terdiam sejenak, lalu merubah mimik wajahnya setenang mungkin. "Temanku." jawab Wonwoo santai.

Junhong mengernyitkan dahinya, "Dua-duanya teman?" Wonwoo menjawab dengan anggukan tanpa menatap wajah Junhong yang sekarang semakin tidak percaya pada ucapan Wonwoo.

"Pria tinggi yang mengecupmu, itu juga temanmu?" Skakmat. Wonwoo terdiam. Lidahnya kelu. Bimbang, akan memberitahukan yang sebenarnya, atau malah mengangguk, mengiyakan sebagai jawaban dari pertanyaan Junhong.

"Dia.. Sahabat baikku. Kami sudah mengenal sejak masih kecil." Junhong menatap Wonwoo dengan tatapan tak percaya. "Yang benar saja? Wah aku saja tak pernah sampai sejauh itu selama aku berteman dengan Jongup."

Wonwoo terkekeh, "Akan kupastikan Daehyun mengamuk jika dia melihat kekasihnya dicium oleh orang lain, baik itu sahabatnya sekalipun."

Junhong menganggukkan kepalanya, "Benar sekali ucapanmu. Daehyun hyung itu cemburuan sekali~ Tapi aku suka." Wonwoo hanya bisa geleng-geleng sambil tersenyum melihat Junhong yang terbuai akan cinta buta.

• APOLOGY •

"Baiklah sekarang kita masuk ke sesi pertanyaan. Kami akan lemparkan botol kosong ini ke tiap satu tribun bangku, yang berhasil mendapatkan botol ini akan bisa melontarkan pertanyaan untuk kedua-belas member Seventeen."

Botol pertama-pun dilempar oleh pembawa acara ke tribun satu, dimana semua bangku penuh diisi oleh murid perempuan. Semuanya berusaha untuk mendapatkan botol itu. Namun, perempuan berambut panjang yang duduk ditengah-tengah tribun berhasil meraih botol itu.

"Namaku Jimin. Aku ingin bertanya kepada Mingyu oppa." Mingyu meraih microphone dan memandang wajah Jimin, menanti pertanyaan yang akan dilontarkan perempuan itu. Padahal jarak mereka jauh, tapi seolah-olah duduk berhadapan. 'Dasar sok romantis.' batin Wonwoo ketika melihat Mingyu bertingkah seperti itu.

"Apakah Mingyu oppa sudah mempunyai kekasih? Kalau belum, seperti apa tipe ideal wanita oppa? Kalau sudah, bagaimana ciri-cirinya?" pertanyaan Jimin membuat seluruh kaum hawa diauditorium itu menjerit. Mingyu tersenyum lembut. Ia tak tahu jika Wonwoo memandanginya dari bagian samping panggung, tempat seluruh panitia acara berkumpul.

"Aku sudah punya kekasih." Jeritan yang terdengar lebih riuh dan kencang setelah Mingyu menjawab pertanyaan Jimin. Perasaan Wonwoo campur aduk ketika melihat Mingyu yang nampak bersemangat menjawab pertanyaan. Senang jika dirinya diakui sebagai pacar, atau takut jika Mingyu memberitahu seluruh murid disini jika Wonwoo adalah kekasihnya.

"Dia tinggi, seperti model. Good looking, wajah dinginnya selalu membuatku ingin mendekatinya. Tidak manja. Tidak cerewet. Pendiam dan selalu saja bertingkah cuek. Selalu mengerti jika kekasihnya adalah seorang idol yang diminati banyak orang. Dia.. adalah belahan jiwaku yang dikirimkan oleh Tuhan. Hanya satu, untukku seorang." Wonwoo menahan airmata yang memaksa untuk keluar. Dipandangnya terus wajah pria yang sudah menjadi bagian hidupnya sejak kecil itu. Yang sudah menjalin hubungan tahap 'serius' selama 4 tahun dengannya.

Mingyu tersenyum melihat respon para siswi yang menjerit tak karuan setelah Mingyu menjelaskan ciri-ciri Wonwoo. Mingyu menoleh, menelusuri seluruh penjuru arah guna mencari Wonwoo. Mingyu tersenyum lebar ketika melihat Wonwoo sedang menutup mulutnya, juga menatap Mingyu.

Keduanya tampak serasi. Cocok satu sama lain.

Ya, lihat saja nanti.