"Gakupo," gadis berambut gulali itu memanggil nama pemuda di sampingnya. Sorotan manik merah jambu sama sekali tidak beralih dari jalan raya yang tampak selebar penggaris kayu dari tempat mereka berdiri sekarang ini. Angin berhembus liar menerbangkan helai-helai rambut, mencakar gendang telinga. Namun, dia bergeming.

Hanya jemari-jemari saja yang mengunci erat kokohnya telapak tangan dari sang kekasih.

Mereka berdua telah memutuskan untuk mengakhiri jalinan asmara yang tak mendapat restu karena perseteruan pribadi antara kedua orang tua. Klise dan murahan memang karena masih ada saja beberapa orang yang tanpa sadar mengulang drama Romeo dan Juliet ─tapi memang begitulah adanya. Hanya saja, perbedaan mereka terletak di saat pemuda bersurai ungu itu hampir kehilangan kepalanya, sementara gadis yang dia cintai dipaksa menenggak racun, oleh ayah mereka masing-masing.

Bagi mereka, lebih baik keduanya tidak pernah ada daripada harus bersama ─Klan Kamui tidak akan pernah menerima klan Megurine, itulah alasannya. Bahkan kedua pihak tak segan mengutus para bawahan untuk melacak keberadaan mereka berdua dan melenyapkannya saat itu juga. Seperti saat ini.

"Jika memang kita harus mati," gadis itu meneguk ludah dan air mata yang berkubang di ujung batang tenggorokan, "Aku tak mau kita mati tanpa ku bisa melihatmu untuk yang terakhir kali.".

Namun, jawab, orang gila mana ingin mengakhiri hidup dengan cara tragis seperti jatuh dari ketinggian seratus satu lantai dan membiarkan isi kepalanya berserakan di jalanan sampai-sampai membuat beberapa kendaraan tergelincir saat menginjaknya? Ide bunuh diri seperti itu tak terlintas di kepalanya. Apapun bentuknya ─tidak satu pun. Itu hanya ide absurd dari sebagian wanita yang lebih mudah menggunakan perasaan dari pada pikiran rasional. Tololnya, lelaki itu menurut saja. Cinta memang bisa membuatmu bergerak tanpa berpikir dua kali, yah, sepertinya hal itu berlaku padanya.

Dengan gaya tarik gravitasi yang mulai menarik tubuh sedikit demi sedikit ketika hitungan mundur mencapai angka satu, perlahan-lahan iris berwarna jingga terbelalak. Tubuhnya telah miring dua puluh derajat. Dalam waktu yang krisis tersebut jika dia tidak segera mengubah keputusannya, sudah pasti mustahil untuk menemukan kesempatan kedua.

Terdorong oleh insting yang menjerit nyaring di kepalanya, dalam laju waktu yang entah kenapa seolah berjalan begitu lambat, dia tarik kembali tangan yang tergenggam di jemari wanita yang sangat dia cintai. Mengayunkannya ke sebuah jendela yang terbuka dan bergelantungan di sana. Sementara gadis itu terbelalak tak percaya.

Tubuhnya melesat jatuh, terbang bebas mengecil ditelan jarak.

Yang terdengar kemudian hanyalah suara klakson saling bersahut-sahutan dan bercak merah yang mana pasti tampak begitu mengerikan jika dia turun dan melihatnya lebih dekat. Adrenalin mulai terpompa tak terkendali begitu juga dengan aliran laju darah. Dia bisa merasakan tubuh mulai gemetar.


Senja sore di hari yang sama, lelaki itu hanya bisa merenung dan berseteru dengan jalan pikirannya sendiri. Mengapa dia berubah pikiran? ─dan─ mengapa juga dia harus mengikuti ide gila kekasihnya? Semua itu berputar-putar bagai turbin kencang menyeret sekelilingnya hingga semua memburam menjadi kilatan cahaya kelap-kelip yang berlarian mengitarinya. Warna-warna bercampur aduk, melukis dunia menjadi dimensi abstrak.

"Malam ini dia akan datang menjemputmu." Bisik sosok wanita berpakaian hitam berkerudung senada yang secara misterius muncul dari balik punggungnya. Tatapannya begitu datar, tajam dan dingin ─cukup manjur untuk membuat rasa waspada dan bersalah yang lelaki itu pendam berubah bentuk menjadi keringat dingin di permukaan kulit ketika saling bertatap muka.

"Apa maksu─"

"Karena dia terjatuh dalam posisi kepala hancur menghantam tanah," lelaki itu tak bisa berkata-kata. Siapapun wanita ini, dia tampak mengetahui sangkut paut dirinya dalam kematian sang kekasih. "Maka dia akan menghampirimu dengan kondisi sama seperti saat itu." lanjutnya kemudian, seraya berjalan menghampiri, sekaligus meninggalkan Gakupo setelahnya. Tak lupa membisikkan kata-kata terakhirnya sebelum kembali lenyap entah kemana.


"Jika kau ingin selamat, bersembunyilah di balik alas tidurmu, pejamkan mata dan jangan pernah membukanya hingga esok mentari tiba. Jika kau memang tidak percaya, jangan menyesal. Tidak seujung kuku jari pun kau akan bisa membalas dendam padaku, seumpama kau bernasib sama seperti dia."

Terdengar gila bagi Kamui Gakupo? Tentu saja. Tetapi apa yang tengah terjadi di kediaman besar klan Kamui membuatnya mau tidak mau mengikuti saran yang dia terima dari perempuan misterius sore tadi setelah tersentak dari kondisi antara lelap dan terjaga.

Suara penjaga menjerit-jerit kemudian lenyap, satu-persatu terdengar di berbagai sudut bangunan berarsitektur kuno tersebut ─begitu lewat pukul dua belas tengah malam. Ada yang memohon, menangis atau melakukan perlawanan dengan teriakan lantang ─meskipun ujung-ujungnya suara mereka teredam juga.

"Ptzchh..."

"Kau ada di mana..."

"Ztch..."

"Aku tidak bisa menemukanmu..."

"Ptzchh..."

"Kau ada di mana..."

"Ztch..."

"Aku tidak bisa menemukanmu..."

Itu adalah suara seorang perempuan sedang menyeret kepalanya menggunakan tubuh yang melayang terbalik di udara. Lelaki itu tak perlu melihatnya dengan mata kepala sendiri. Cukup menebak dari bunyi aneh serta suara serak dan berat dari pita suara yang tidak utuh tersebut, sudah pasti lebih dari cukup untuk memberi gambaran liar bagi imajinasinya.

"Ptzchh..."

"Kau ada di mana..."

"Ztch..."

"Aku tidak bisa menemukanmu..."

"Ptzchh..."

"Kau ada di mana..."

"Ztch..."

"Aku tidak bisa menemukanmu..."

Suara itu terdengar semakin dekat dan terus mendekat. Mengulang kata-kata yang sama tanpa henti dari bibir yang mungkin ─atau juga sudah pasti─ berbeda dari bentuk semula.

"Ptzchh..."

"Kau ada di mana..."

"Ztch..."

"Aku tidak bisa menemukanmu..."

Hingga akhirnya lenyap kembali. Menyisakan hening yang terlalu mencengkeram. Calon penerus klan Kamui ini pun sempat mengira bahwa mimpi buruk yang melompat dari dunia khayalnya telah berakhir. Tetapi sayang, di saat itu pula, dia melupakan deret terakhir pesan dari si wanita misterius untuknya.

Secara perlahan, dia pun membuka mata. Warna hitam sebagai rupa semu ketiadaan cahaya terpantul di kedua manik ungu yang mengintip ragu-ragu. Dan hal yang tidak dia sangka kemudian adalah, ketika lelaki itu merasakan hawa dingin perlahan merambat hingga terasa membekukan ruas-ruas tulang belakang. Disusul suara wanita yang sebelumnya menghilang tanpa jejak, sekarang membisikkan kata-kata tepat di daun telinganya.

"Akhirnya... aku bisa menemukanmu..."


Keesokan pagi, tampak wanita berkerudung hitam berjalan-jalan di dalam kediaman Kamui. Ekspresi datar yang melekat di wajah tidak berubah sama sekali meski berbagai mayat berpenampilan mengerikan bergelimpangan di sana-sini. Tujuan akhir wanita itu hanya satu, kamar dari si pemuda berambut sewarna langit senja tanpa mega yang kemarin dia jumpai.

Dan di sanalah, di balik sebuah pintu di ujung lorong barat bangunan, dia dapati satu-satunya mayat seorang pemuda yang dia cari keberadaannya. Matanya membelalak lebar, begitu pula wajah membiru dan bibir yang menghitam legam. Dia bersimpuh di dekat mayat itu, mengamatinya sekilas.

"Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya." dia mengatupkan bibir seolah menyayangkan kepergian pemuda tersebut. "Jangan pernah membuka mata hingga esok hari." Kemudian bangkit kembali, mendongakkan kepala pada satu sosok melekat di atas langit-langit yang sejak awal memang dia abaikan keberadaannya.

Sosok perempuan mengenakan dress musim semi mendekap erat seseorang dalam pelukannya. Kedua bola mata orang tersebut menghilang. Mulutnya menganga lebar seakan menjerit meminta tolong. Sedangkan salah satu lengannya terjulur bergelantungan, berayun pelan mengais-ngais. Jika bukan karena surai-surai berwarna ungu yang berserakan, orang tersebut, Kamui Gakupo, mungkin tidak akan dikenali lagi.

"Tapi sepertinya, kau memang mengubah pikiranmu kali ini." dan dia pun kembali lenyap begitu saja setelah menghadiahi satu senyuman simpul padanya.

Sama seperti sebelumnya, akan selalu ada pesan yang dia tinggalkan.

.

.

.

"Selamat berbahagia Megurine Luka."

.

.

.

"Terima kasih, nona Merli."


=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

I Can't Find You

Story © Nekuro Yamikawa

Adaption © HappyGirlForever [wattpad ]

Vocaloids © YAMAHA, Crypton Future Media & joined companies

Genre : Supernatural / Horror

Rate : T

Casting :

Kamui Gakupo - Megurine Luka - Merli

=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=

THANKS FOR READ...