OUR STORY
Jaehyun X Taeyong
NCT-U © SM Entertaiment
BL. AU. Typo (s). OOC (s)
.
Taeyong tidak tahu apa tepatnya yang barusan terjadi. Yang jelas tangannya tiba-tiba saja ditarik, membuat tubuhnya oleng karena kehilangan keseimbangan, dan berakhir jatuh dengan kecepatan tinggi dan menindih sesuatu. Atau, seseorang.
Ia merintih, merasakan perih karena tangan kirinya bergesekkan dengan permukaan beton yang kasar, membentuk luka lecet yang cukup panjang di kulit mulusnya. Tapi rasa perih itu cepat-cepat tergantikan oleh perasaan lain. Geli dan menggelitik, yang ia dapat dari hembusan nafas panas di lehernya.
Taeyong menggunakan sebelah tangannya yang terluka untuk menahan bobot tubuh, meringis lagi saat lukanya kembali bergesekan dengan permukaan kasar. Ia mengangkat wajahnya. "Apa-apa kau ini sebe―" Mata Taeyong terbelalak melihat siapa pemilik wajah di depannya, seseorang yang ia kenali. Alisnya menyerhit. "Jung― Jaehyun?" Panggilnya tak yakin. Setengah tak percaya menemukan sosok itu berada dalam jarak satu senti darinya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Jaehyun di wajahnya.
Butuh beberapa detik bagi Taeyong untuk memastikan jika sosok itu memang orang yang ia panggil. Dan butuh beberapa puluh detik tambahan untuknya menyadari posisi aneh macam apa yang kini ia punya dengan pemuda itu.
Lee Taeyong sedang menindih Jung Jaehyun.
Lelucon macam apa ini, batin Taeyong.
Taeyong cepat-cepat menyingkir dan mendudukkan diri, melepaskan pergelangan tangan kanannya yang masih digenggam Jaehyun. Tak berselang lama Jaehyun ikut mendudukkan diri, sambil memegangi bagunya yang sepertinya sedikit sakit karena berbenturan dengan beton keras.
Hening yang aneh mengudara.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan, Jung?" Ketus Taeyong tanpa melihat sosok yang ia ajak bicara. Jari-jari tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap luka lecet di sepanjang tangan kiri, mengetes seberapa parah luka yang ia dapat. Ia meringis lagi saat lukanya mendapat sentuhan. Tidak sampai berdarah, tapi tetap saja perih.
"Aku mencoba menolongmu."
Taeyong cepat-cepat mengangkat wajahnya. Alisnya mengerut bingung. Menolong?
.
Jaehyun menarik tubuhnya lebih dekat dengan tembok, menyandarkan punggungnya di sana. Dalam hati ia bersyukur karena sepertinya tak ada tulangnya yang patah. Hanya sedikit sakit, dan bagian belakang seragamnya jadi kotor. Dan jangan lupakan debaran jantungnya yang jadi sedikit aneh. Ya, tentu saja. Ia baru saja mencium leher seseorang secara tak sengaja barusan―terlebih orang itu adalah Lee Taeyong. Jujur saja, ia masih syok.
Jaehyun hampir saja melupakan sosok yang saat ini bersamanya, jika pemuda itu tak bertanya, "Apa maksudmu, Jung?"
Jaehyun tak bisa memberikan respon lain, selain "Huh?"
Ia bisa melihat pemuda itu memutar matanya jengah.
"Apa maksudmu dengan 'menolong'ku," jelas Taeyong.
Pemuda itu terlihat kesal. Dan apa-apan maksud pertanyaannya itu. Bukan dia yang harus menjelaskan sesuatu di sini. Jaehyun semakin tidak mengerti dengan pemuda itu, yang kini melayangkan tatapan kesal bercampur bingung padanya. Karena sungguh, Jaehyun yang bingung.
"Jung Jaehyun, aku bicara padamu."
Baiklah. Jaehyun lupa dengan siapa ia bicara sekarang.
Ia menghela nafas. "Aku melihatmu sendirian berdiri di belakang palang pembatas saat aku membuka pintu," mulainya. Jaehyun mengamati wajah Taeyong dan menemukan ekspresi kaget yang dibuat pemuda itu. Alis Jaehyun menyerhit. "Kau terlihat akan benar-benar meloncat dari sana, makanya aku menarik tanganmu." Otak cerdasnya mulai memikirkan kemungkinan bahwa apa yang ia lihat tidak benar-benar seperti apa yang ia bayangkan sebelumnya. "Aku kira kau mau bunuh di―"
"Tunggu sebentar!" Ekspresi wajah Taeyong menunjukkan bahwa ia benar-benar bingung. "Aku… aku tidak mengerti," balas Taeyong, mengerutkan kening. "Kenapa aku berdiri di tempat seperti itu?"
Baiklah, itu aneh, batin Jaehyun.
Kenapa pemuda itu malah bertanya padanya?!
Jaehyun mencoba menekan rasa kesalnya. Entah kenapa dia mulai menyesali dirinya yang datang ke tempat ini sejak awal. Dia hanya berniat baik, tapi kenapa serasa malah dipermainkan. "Aku tidak tahu," jawab Jaehyun sekenanya. Ia jujur, ia tak tahu. Ia bahkan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Pemuda itu, Lee Taeyong, terlihat masih berfikir keras. Dan saat itulah Jaehyun menyadari jika ada sebuah luka di tangan kiri Taeyong. "Kau― terluka?" Tangannya bergerak otomatis untuk melihat luka itu lebih jelas, tapi yang ia dapat adalah sebuah tepisan, penolakan nyata.
"Ya. Terimakasih untukmu," balas Taeyong, sarkas.
"Sama-sama," Jaehyun membalas kecut. Merasa tak enak karena membuat orang lain terluka. "Maaf. Aku tidak―"
"Sudahlah," potong Taeyong. "Ini bukan apa-apa, hanya luka kecil."
Jaehyun sudah akan membuka mulut untuk mengatakan jika tetap saja itu harus diobati, tapi Taeyong seakan bisa membaca pikirannya dan melayangkan tatapan padanya untuk tutup mulut. Jaehyun menghela nafas lagi. Sekali lagi ia lupa dengan siapa ia sedang berhadapan. "Baiklah," jawab Jaehyun, kalah.
Taeyong menyeringai.
.
"Kemana saja kau? Kami mencarimu dari tadi."
Taeyong masuk ke kelas, tepat sebelum bel masuk berbunyi. Dan omelan Yuta-lah yang yang menyambutnya. Ia meringis menuju bangkunya yang berada di paling belakang, sambil menjawab pendek, "Atap."
"Ngapain kau ke sana?" tanya Johnny.
Taeyong pura-pura tak dengar. "Kemana Ten?"
"Ten pulang duluan, ijin karena ada acara keluarga katanya. Dasar curang―" Taeyong hampir saja melonjak girang dalam hati karena mengira berhasil mengalihkan perhatian saat mendengar kalimat panjang lebar dari temannya itu saat menjawab pertanyaannya. Tapi Yuta tak bisa dikibuli semudah itu, "―dan kau belum menjawab pertanyaanku, Taeyong. Ngapain kau ke atap?"
"Err―mencari udara segar?"
Yuta menatapnya curiga.
"HEI―!"
Dan tatapannya berubah menjadi tatapan meminta penjelasan saat tiba-tiba Johnny mengangkat tangan kiri Taeyong dan memperlihatkan lukanya.
Taeyong mengeluh keras, memandang dendam pada Johnny yang membalasnya dengan cengiran.
Ia menceritakan kejadian kecil yang ia dapat saat di atap, tentu saja tanpa membawa nama Jung Jaehyun. Ia hanya bercerita jika kakinya tersandung, membuatnya jatuh dan menghasilkan luka di tangannya. Cerita yang tentunya tak cukup meyakinkan untuk membuat Yuta dan Johnny percaya. Karena mereka menatapnya. Dengan tatapan itu, tatapan tidak percaya.
"Kau sedang mencoba membohongiku, Taeyong?"
"Sebodoh-bodohnya aku, aku masih lebih pintar darimu, TY." Johnny menyeringai, menghiraukan kata-kata 'sialan' dari Taeyong untuknya. "Jangan kira kau bisa membohongiku. Aigoo~" tambah Johnny, sambil mengacak rambut temannya itu. Tak lama, karena tangannya langsung di tepis.
"Aku ga bohong!"
Percakapan mereka berhenti karena guru mata pelajaran berikutnya sudah datang. Taeyong bersyukur karena kedua temannya tak bisa bertanya lebih jauh, karena jika tidak pasti kebohongannya akan terbongkar saat itu juga.
Ia mengeluarkan buku paketnya dari kolong, membukanya dan menaruhnya di atas meja. Merebahkan kepalanya menyamping, menutup mata, dan mulai ti―
"Lee Taeyong! Pelajaranku baru akan di mulai dan kau sudah mau tidur?"
Seisi kelas beralih menatapnya, kemudian tertawa.
Taeyong mengangkat kepalanya, cemberut.
―Tidak jadi.
.
Jaehyun tersenyum pada penjaga perpustakaan sembari mengucapkan terimakasih, saat ia keluar. Setelah kelas selesai, ia memilih untuk berkunjung sebentar. Untuk mengembalikan buku yang telah ia pinjam. Hanya sendirian, karena Doyoung berkata akan pergi ke suatu tempat, membuat mereka tak bisa pulang bersama seperti biasanya.
Ia bertemu dengan beberapa temannya dan menyapa mereka, yang sepertinya masih akan tinggal di kawasan sekolah untuk kegiatan klub saat menuju gerbang sekolah.
Dan entah itu takdir, atau apa. Tapi ia menangkap sosok familiar lain dari seberang jalan.
Sosok itu lagi.
Lee Taeyong, sedang duduk di kursi halte bus. Menyandarkan kepala pada tiang, mendengarkan lagu entah apa lewat earphone di kedua telinga. Raut wajahnya datar (atau menyebalkan jika Jaehyun bilang) dan pandangan matanya menatap jauh ke depan, pada jalanan dan lalu lalang kendaraan. Ia terlihat seperti tengah melamunkan sesuatu. Dan yang membuat Jaehyun penasaran adalah dia melewatkan bus yang baru saja datang melewatinya.
Pemuda itu diam dalam posisi yang sama kurang lebih 10 menit sejak Jaehyun mulai menatapinya (Apa? Jaehyun hanya penasaran, makanya ia rela berdiri di pinggir jalan sampai selama itu) dan belum ada tanda-tanda akan bergerak.
Jaehyun menghela nafas, menyerah.
"Jika aku bisa, sekali saja, mengerti orang itu. Aku akan mengucapkan selamat untuk diriku sendiri," gumam Jaehyun sambil menggelengkan kepala.
Bus lain sudah mulai terlihat di persimpangan jalan.
Jaehyun mulai membuat langkah untuk menyebrang dan menuju halte. Hari sudah semakin sore, dan Jaehyun mulai kelaparan. Dan ia juga harus mulai berhenti mengurusi urusan orang lain, ah ralat, orang itu.
Langkah panjang-panjangnya membuatnya sampai dengan cepat.
Pemuda itu tak menyadari kedatangannya. Mungkin karena Taeyong ada di sisi lainnya, berada cukup jauh terhalang oleh beberapa anak sekolah lain seperti dirinya dan ibu-ibu yang kini berdiri, menunggu bus datang. Atau mungkin, ia memang sedang tak menyadari apapun. Dari sudut manapun, ia terlihat seakan berada di dunia yang berbeda.
Apa aku harus menyapanya?
Jaehyun menggeleng.
Biarkan saja. Kau tidak punya urusan dengannya, Jung Jaehyun.
Bus datang dan berhenti tepat di depannya. Pintunya terbuka dan orang-orang yang sedari tadi menunggu mulai menghambur masuk. Jaehyun tersenyum, mempersilahkan pada seorang ibu-ibu untuk naik terlebih dulu. Ia juga hendak naik, tapi tatapannya lebih dulu melayang pada sosok Taeyong yang masih tetap duduk di tempatnya. Tak terusik apapun.
Dia akan melewatkan bus lagi?
Jaehyun benar-benar tak sadar untuk sepuluh detiknya berdiam di depan pintu bus memandangi sosok itu.
"Nak, busnya akan berangkat," suara sang sopir terdengar.
Jaehyun tersadar. Ia melayangkan senyum menyesal, mencoba menghilangkan perasaan tak nyaman yang dia rasakan di perutnya saat itu dan melangkah masuk ke dalam bus. Hanya beberapa orang di sana, banyak kursi kosong tersisa. Jaehyun mengambil tempat di samping jendela.
Bus mulai bergerak menjauhi halte.
Jaehyun tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok itu, bahkan sampai sosoknya menghilang dari pandangannya.
Ia menghela nafas, menggelengkan kepalanya. "Bukan urusanku," gumam Jaehyun sambil mengalihkan pandangannya ke depan. Ia mengeluarkan salah satu buku yang tengah ia baca dari tas, mencoba melanjutkan bacaannya. Tapi perasan tak nyamannya semakin menjadi. Lalu sebuah ingatan mengenai kejadian di atap tadi tiba-tiba terbersit di benaknya. Juga luka itu, pemuda itu sepertinya belum merawat lukanya―
"Maaf pak, tapi saya ingin turun di sini."
Jaehyun tahu tindakannya adalah bodoh.
Ia sendiri bahkan tak tahu apa yang mendorongnya.
Ia turun dari bus dan berjalan kembali ke halte. Hanya untuk menemui sosok Taeyong, yang masih ada dalam posisi yang sama.
Nafasnya sedikit tersengal, "Hei, Lee Taeyong," panggilnya. Nama itu terasa aneh di lidahnya, dan pemuda aneh pemilik nama itu masih mengacuhkannya. Mungkin suaranya terlalu pelan dan Taeyong sedang mendengarkan lagu lewat earphone-nya. Jaehyun melangkah mendekat, dan berdiri tepat di depan Taeyong. Dan anehnya pemuda itu masih mengacuhkannya.
Jaehyun menyentuh bahu Taeyong, "Hei―"
Taeyong langsung tersentak. Kedua kalinya hari ini ia mendapati wajah Jaehyun tiba-tiba ada di depannya. "Kau mengagetkanku," keluh Taeyong, menghela nafas lega kemudian.
"Maaf?" Jaehyun ragu-ragu. Tidak yakin juga kenapa ia meminta maaf. Bukan salahnya jika pemuda itu terlalu sibuk melamun dan tak menyadari kehari Jaehyun. "Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Jaehyun kemudian, menyuarakan pertanyaan yang sedari tadi mengganggunya, entah kenapa.
Taeyong melepas sebelah earphone putihnya dan memandang Jaehyun dengan pandangan paling menyebalkan di dunia, pandangan meremehkan miliknya. Alisnya terangkat tinggi. "Apa yang orang lain lakukan di halte bus, selain menunggu bus, Jung?"
Jaehyun memutar bola mata. Perkataan dari orang yang sudah melewatkan dua bus, dan bahkan tak menyadarinya, batin Jaehyun.
"Oh," balas Jaehyun pendek. Ia menggigit pipi bagian dalamnya. Mencoba menahan diri untuk tak melemparkan sarkas yang sudah ada diujung lidah untuk membalas kalimat tak mengenakkan tadi. Ia memilih duduk juga di kursi panjang halte, meski tak cukup dekat dengan Taeyong.
Lalu apa?
Jaehyun tak punya ide apapun sekarang.
"Err― Aku tidak tahu jika kau memakai bus yang satu jurusan denganku sebelumnya."
Apa? Apa yang baru saja ia katakan? Terkutuklah mulut Jung Jaehyun yang melontarkan kalimat basa-basi tak mutu macam itu.
"Memang apa yang kau tau tentangku, Jung?" balas Taeyong, menyeringai. "Kalo tidak salah kita baru bertemu dan berkenalan kemarin."
Yang kutahu kau adalah orang paling menyebalkan di dunia, batin Jaehyun.
"Yah, benar juga. Aku hanya tahu hal-hal yang aku dengar dari orang-orang. Kau cukup terkenal," jawabnya. Tidak bisa menahan sarkas di kalimat terakhirnya.
Taeyong terkekeh, senang mendengar kata terkenal menghiasi namanya. Meski ia sendiri yakin jika kata 'terkenal' nya ini pastinya bukan tentang hal baik. "Terimakasih," balasnya.
Padahal Jaehyun tak ada niatan memuji.
Lalu hening lagi.
Jaehyun berdehem, jarinya menunjuk luka di tangan Taeyong. "Lukamu belum kau obati?"
Taeyong melihat lukanya sebentar lalu mengibaskan tangan. "Sudah kubilang tak usah difikirkan," katanya malas. Ia memasang kembali earphonenya yang tadi dilepas.
"Apa yang kau dengarkan?" Jung Jaehyun, ada apa dengan mulutmu hari ini? Jelas-jelas pemuda itu menunjukkan kesan jika ia tak berniat untuk mengobrol.
"Kau berisik sekali, Jung," keluh Taeyong, kembali melepas sebelah earphonenya. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia terganggu, membuat Jaehyun meringis. "Kenapa kau ingin tau?"
Jaehyun kembali berdehem dan mengangkat bahu. Kenapa aku ingin tahu? Jaehyun tak bisa menemukan jawabannya. Ia hanya penasaran. Segala sesuatu yang berkaitan dengan Lee Taeyong akhir-akhir ini selalu berakhir membuatnya penasaran. Kenapa ada orang seperti Taeyong di dunia ini?
Taeyong mengangkat alisnya sebelum menarik tali earphone yang ada di saku jaket dan memperlihatkan bahwa―
Earphone itu tak terhubung pada apapun.
"Huh?"
Taeyong menatap geli ekspresi Jaehyun saat itu, tapi Jaehyun sedang tak memperhatikannya. "Aku hanya sedang tak ingin mendengar apapun," katanya tanpa ditanya. Tangannya berpindah ke belakang, menyangga tubuhnya dengan berpegangan ke pinggir bangku. "Lagipula handphoneku tiba-tiba rusak beberapa hari lalu."
Jaehyun mengangguk saja, tak tahu harus merespon seperti apa.
Hening aneh mengudara lagi.
Jaehyun mengeluarkan bukunya dan kembali membaca, dalam hati berharap bus segera datang agar ia bisa cepat pergi. Ia tak membuka mulutnya lagi. Tidak. Ia tak mau mulutnya mengeluarkan sesuatu yang bodoh. Ia juga telah mendengar jika 'Lee Taeyong sedang tak ingin mendengarkan apapun', jadi alasannya untuk tak bicara semakin kuat.
Menit demi menit berlalu tanpa percakapan.
Dan setelah hening beberapa saat itu, ia mendengar suara Taeyong kembali berbicara padanya. Bukan, lebih tepatnya bertanya padanya.
"Jung?" Jaehyun menjawab dengan hm pelan. Tak mengalihkan pandangannya dari buku. Ia mengangkat wajahnya setelah tak mendengar lanjutan apapun selama semenit. Taeyong menatapnya, terlihat ragu. Tapi kemudian suaranya kembali terdengar, "Boleh aku menginap di rumahmu malam ini?"
Buku Jaehyun―
Duk!
Jatuh.
- To be Continued -
Annyeong~ kembali dengan lanjutan fanfict JaeYong ini. Semoga suka minna-san~
Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk semua yang sudah meluangkan waktu mereview chapter sebelumnya, maaf tidak bisa membalasnya satu-satu karena besok ada ujian. Doakan ya minna~ T.T
Ditunggu komentar untuk chapter ini. Maafkan jika ini aneh sekali
Hihi :3
Saranghae 3
