DISCLAIMER: Tidak ada keuntungan yang diambil dari sini. Tapi jika ada yang mau memberi saya imbalan dalam bentuk apapun, saya akan dengan senang hati menerima. :p
.
Langkah kaki berdentum pelan. Mencoba menembus putih yang pekat. Entah siapa yang memutuskan putih adalah lambang untuk sesuatu yang suci, kebenaran-cahaya. Pada kenyataannya, di lautan putih yang tak berhingga inilah ia tersesat. Kebenaran semu seakan mengolok-ngoloknya yang tak kunjung bisa keluar. Cahaya membutakannya.
Di saat seperti ini, dia merindukan kegelapan. Pelukan kelam yang menenangkan, dan menjanjikan kebebasan. Ya, hitamlah kebebasannya.
Suara dentuman itu tak pernah berhenti.
Langkah kaki terus mencari.
.
.
Tuk. Tuk. Tuk.
"Roll."
Tuk. Tuk. Tuk.
"Roll. Berhenti. Menabrakkan diri. Ke. Dinding. Kau mulai merobeknya, makhluk kecil." Hibari mendengus dengan suara rendah. Entah apa yang membuat hedgehog kecilnya itu menabrakkan diri ke dinding kertas ruang tamu rumah bergaya jepangnya.
Sang hedgehog berhenti dari kegiatan yang sudah ia lakukan selama satu menit lebih. Kancing hitamnya menatap pemiliknya, lalu memiringkan kepalanya. "Kyuu..."
Hibari menghela napas. "Apa yang kau inginkan, makhluk kecil?" Ia menutup berkas komite kedisiplinan yang sepertinya tidak akan pernah bisa diselesaikannya, kemudian melangkah mendekati peliharaan kecilnya. Tangannya meraih biji buah dari sakunya sebelum mengulurkannya pada animal box yang berulah. Senyum terbentuk di wajahnya saat makhluk kecilnya mencicit senang, buru-buru mendekati tangan yang terulur.
Senyum yang tidak bertahan lama, karena kaki-kaki kecil itu berhenti tepat satu inci di depan tangannya. Tubuh kecil itu mengerut ragu-ragu, sebelum mendongakkan kepalanya dan mengadu zenithnya dengan sepasang abu-abu. Dua detik saling tatap yang agak canggung berlangsung sebelum akhirnya sang hedgehog memutuskan pemiliknya tak bisa memahaminya.
Dia harus mengambil tindakan ekstrim.
Deretan giginya menusuk ujung jemari pucat itu. Tidak ada darah yang teralir, tapi gerakan tiba-tiba itu cukup untuk mengejutkan sang skylark, menyedot segenap perhatiannya pada tikus berduri yang kini melesat ke tempat yang sama-kembali menabrakkan tubuh kecilnya ke ujung pintu. Hanya saja, sekarang ia langsung berhenti setelah dua ketukan-ya, percobaan menabrakkan diri itu hanya bisa menghasilkan ketukan-dan mengarahkan pandangannya pada pemiliknya, lalu pada dinding. Ia mengulanginya berkali-kali sampai Hibari akhirnya menjawab,
"Kau mau keluar?" Hibari meraih pinggiran dinding-yang merangkap sebagai pintu geser-dengan tangannya yang tidak terisi biji buah, membukanya selebar mungkin dari jaraknya. Hedgehog itu mencericit kegirangan, melompat ke tangan Hibari yang masih terulur, merampas seluruh biji buah—yang hanya ada tiga—dan melesat keluar, melintasi halaman. Hibari menatap dingin saat bola duri itu mulai menghilang melintasi sesemakan, menahan dirinya agar tidak langsung mematikan apinya. Nanti juga dia akan kembali.
Sang Cloud Guardian sudah akan berbalik masuk untuk menyelesaikan berkas-berkasnya lagi, saat matanya menangkap sesuatu yang mengirim seluruh selnya pada perasaan de javu. Helai-helai bulu sayap putih berjatuhan, di tempat yang sama persis seperti bulu-bulu sayap yang ia saksikan sebulan sebelumnya. Kali ini, ia tidak menunggu helaian itu jatuh ke tanah untuk melihat ke atas.
Dan di sana, mengepakkan sayapnya dengan anggun, adalah burung hantu berbulu putih. Sekali lagi, kepakan sayap membelah kegelapan malam. Sekali lagi, sinar keperakan sang purnama menyinari punggunggnya yang… berduri?
Hibari melepaskan api ungunya ke segala arah, dengan cepat mendeteksi keberadaan tikus kecilnya. Napasnya tertahan saat tahu bahwa bola duri itu sudah hilang dari radius 50 meter dari tempatnya berada. Matanya memandang lagi ke langit. Burung hantu itupun sudah lenyap.
Tetap pada akal sehatnya, sang prefek mencoba menghentikan aliran apinya. Mengembalikan binatang kecil itu ke dalam gelang atribut awan-nya. Tidak berhasil. Hibari mendengus. Biji-biji buah itu… Para animal box bisa menghasilkan apinya sendiri bila mendapat energi dari luar, sama seperti pemiliknya. Ia tahu hal itu, hal yang sama seperti yang terjadi pada kucing milik Gokudera Hayato, Uri. Meskipun begitu, bukan itu hal yang dikesalkannya.
Ini adalah pertama kalinya ia tidak bisa mengontrol peliharannya sendiri. Dia merasa lemah, dan ia tidak suka itu.
"Hibari. Hibari." Hibird yang terbangun oleh hembusan angin malam dari pintu mencoba menyapa pemiliknya, atau jika sedikit lebih dipahami, sedikit kata itu bisa berarti pertanyaan. Dan entah karena rindu pada 'teman' sekamarnya, atau murni karena penasaran, burung kenari itu berkata lagi, "Roll. Roll."
"Tidak. Malam ini, tidak ada Roll." jawabnya dingin. Dengan kemampuan 'penggandaan' miliknya, dengan mudah dia bisa membuat duplikat Roll, dengan kemampuan yang persis sama. Bukan masalah sama sekali jika ia kehilangan satu. Lagipula, beberapa saat lagi binatang kecil itu akan kehilangan energinya, dan kembali ke Vongola Gear.
Hibari tidak melihat adanya masalah.
Lalu, kenapa dia begitu kesal?
Oh, ya, karena burung hantu itu mencuri peliharaannya.
.
.
Langkah kaki pergi meninggalkan rumah itu, diikuti dengan nyanyian—atau lebih tepatnya pekikan sumbang—konsisten dari burung kenari yang tak bisa kembali tidur. Angin malam mengibaskan gakuran hitamnya, membuat pita merah bertuliskan "Disiplin" di lengannya makin mencolok. Sepasang tonfa telah disiagakan. Bersama dengan sinar keperakan sang purnama, sepasang mata tajam mengirimkan aura membunuh ke segala arah. Namun tujuannya hanya satu,
Kokuyo Land.
.
.
.
a/n: Alright~ chapter dua terbentuk begitu saja. Semoga lebih bagus dari chapter satu u,u
feel free to leave any sort of reply~ menerima Dying Will Flame terutama dengan atribut Cloud dan Sky :p
