Sekali lagi, chapter ini masih dalam tahap pelatihan tim tiga belas. Latihan rutin tim tiga belas dengan Anko akan dimulai chapter berikutnya. Tapi, jangan khawatir, ada Anko pada akhir chapter ini. Review, Kritik, Comment, silahkan.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Team Anko: The Legend of Three Gutsy Shinobis
2
Author: Crow
Genre: Adventure/Friendship/Humor/Anko
Naruto berlari dengan lincah melintasi semak belukar, dan hutan area latihan. Dia masih teringat akan apa yang terjadi jika lonceng-lonceng itu berhasil direbut nanti. Apa kami memang harus bertarung satu sama lainnya? Apa setelah bekerja sama mencapainya, kita masih harus bersengketa?
Naruto memasang posisinya, dan bersembunyi di balik rerumputan yang tinggi. Tanpa memedulikan gatal yang ia rasakan, ia memerhatikan seluruh daerah yang dapat diamatinya. Untuk membuat dirinya berarti di mata orang-orang dan juga untuk membuktikan keberadaannya, dia harus menjadi Hokage. Apakah jalan itu harus melewai pengorbanan seperti ini?
Kiba melompat dari pohon ke pohon, berayun dan menggunakan putarannya untuk melompat semakin jauh ke pohon yang lain. Walau apapun yang terjadi, dia harus menjadi ninja yang diakui oleh dunia. Tentu saja dia berpikir mengenai pertarungan hidup mati nanti jika ujian Kakashi ini selesai . . .
Kiba memilih pohon yang paling tinggi untuk membantunya mengamati tanah lapang di bawahnya. Dia tidak akan gentar—dia harus menjatuhkan Kakashi. Dan nantinya, untuk menjadi ninja yang hebat, meninggalkan rekan adalah awalnya. Bukan begitu? Karena Kiba mengerti, menjadi seorang shinobi berarti akan ada yang harus dikorbankan untuk berdiri di puncak.
Sasuke mengarahkan tangannya ke batu sungai yang sangat besar. Dia memilih untuk bersembunyi di tempat yang paling dekat dengan daerah terbuka. Karena jika sesuatu terjadi, diab isa bertindak cepat. Lagipula, dia tidak bisa mengandal kedua orang itu, bukan? Mereka lemah, dan tak berdaya. Mereka hanya merepotkan. Karena itu harus disingkirkan, bukan begitu?
Sasuke berjongkok, menatap belakangnya—ke arah hutan. Tapi mengapa . . . bertahun-tahun terus sendiri, memiliki anggota kelompok terasa seramai ini? Sepertinya sudah lama sekali . . . Apakah ini juga akan segera selesai? Tim ini?
Sosok Kakashi berjalan keluar dari hutan, melangkah dengan tenang di tengah tanah lapang. Naruto, Sasuke, dan Kiba dengan segera meraih shuriken. Tanpa basa-basi untuk membunuh, mereka melemparnya. Ketiga shuriken tersebut menancap dengan telak, membuat Kakashi terjatuh ke tanah.
Poof!
'Seharusnya aku tahu,'—bisik Sasuke, segera menjauh dari tempatnya saat ini. 'Itu hanya bunshin,'
Kiba bersembunyi ke balik pohon, masih pada dahan tertinggi yang sama. "Akamaru, kita memiliki keunggulan. Kakashi itu memiliki sense yang sangat bagus; dia meninggalkan baunya pada bunshin, sehingga kita mengira bahwa itu adalah asli." Kiab tersenyum. "Tapi, tidak untuk kedua kalinya. Kita akan membauinya."
'Aku harus berpindah sekarang!'—seru Naruto dari dalam hatinya. 'Kagebunshin!' satu Naruto ber-poof, berjongkok disebelah Naruto asli. "Kau tinggal di sini, dan ciptakan kesan bahwa kau adalah aku yang asli."
Naruto bunshin memberi hormat. "Laksanakan, pak!" namun Naruto menggetok kepalanya.
"Jangan terlalu keras, bodoh!" Naruto bersiap berpindah. "Jika kuberi isyarat, kau dan kagebunshin yang lain langsung menyerangnya secara bersamaan, ok?"
Kakashi duduk dengan berpangku kaki, membaca Icha Icha Paradise sambil memangkukan dagu. Ia membalik satu halaman, dan bergumam. "Hm, sepertinya aku benar-benar meremehkan mereka. Keberadaan mereka benar-benar tidak bisa dirasakan lagi." Kakashi menutup buku, memasukkannya kembali ke dalam saku belakang. "Sepertinya, aku juga harus berhenti bermain-main, ya."
"Itu dia, Akamaru," bisik Kiba, dari atas pohon. "Aku yakin."
Kiba memperhatikan jounin itu untuk sementara. Sepertinya orang itu berjalan langsung ke tanah terbuka. Kiba tersenyum, ini kesempatan. Dia masih mau meremehkan kita. Kiba meraih satu bom asap dari tas kantong belakangnya. "Kita akan mengamuk, Akamaru. Kau siap?"
"Wau wau."
Sasuke melihat sosok Kakashi berjalan dengan santai ke tanah lapang. Ini adalah kesempatan. Tidak ada tanda-tanda kalau yang satu itu adalah bunshin. Seharusnya Kiba tahu—pikir Sasuke. 'Cepat bom asapmu!'
Naruto nampaknya juga tahu kalau itu adalah Kakashi yang asli. Dia sudah menyiapkan beberapa kagebunshin untuk saat seperti ini. Ini dia! Kesempatanku! 'Cepat mulai, Kiba!'
BOOM!
Tirai asap meledak dari tengah tanah lapang, isyarat penyerangan! Itu berarti Kiba positif dengan sasaran mereka saat ini.
'Ini dia!' seru keduanya di dalam hati secara serempak.
Naruto mengirim dua kagebunshin-nya, mempersiapkan yang lainnya. Sasuke menarik beberapa shuriken, melemparkannya dari atas. Sementara Kiba masih belum nampak di lapangan.
Kedua kagebunshin Naruto menerjang Kakashi, yang dengan mudah mengangkat satu Naruto dan menutup laju shuriken ke arahnya. CAP! CAP! CAP! Satu kagebunshin Naruto menghilang.
Dikejauhan, Naruto lantas mengirimkan yang lainnya. Dua lagi.
Sasuke membentuk segel elemen api. Masih jurus yang sama seperti sebelumnya. "Katon -!" namun ia tidak menyadarinya kalau Kakashi menangkap satu Naruto yang lain, dan melemparkannya ke arah Sasuke. Bertuburukan, kedua mata Sasuke harus sedikit kesusahan melihat dari balik asap poof bunshin tersebut.
Dua kagebunshin Naruto yang baru saja dikirimkannya, dengan serangan tiba-tiba memeluk tubuh Kakashi begitu erat. Sasuke tersenyum dingin, memotong benang lentur yang sedari tadi sudah ia pegang dengan satu tangan. Sasuke melompat dengan ulet ke belakang, memperlihatkan satu shuriken raksasa melayang dari belakangny ke arah Kakashi.
Kecepatan yang cukup mengerikan. Apalagi dengan pagutan erat dua kagebunshin. Namun itu tidak menghalangi tangan Kakashi untuk membentuk segel kagebunshin serupa dengan apa yang biasa dilakukan Naruto. Poof. Satu bayangan nyata Kakashi menampakkan diri. Dia menggetok kepala satu kagebunshin Naruto, membuatnya menghilang dengan asap poof.
Kakashi kagebunshin menarik Naruto kagebunshin sisanya. Bersama-sama, mereka menghalangi laju serangan shuriken, membuat shuriken besar tersebut kehilangan kecepatan dan kekuatan putarnya.
Kakashi berdiri tanpa luka, membersihkan debu pada dengkulnya. "Sepertinya kalian para bocah benar-benar meremehkanku, ya?" dia kemudian melirik Sasuke dihadapannya. "Bagaimana kalau mulai dari kau dulu, hm?"
Kehilangan satu rekan, berarti kehilangan kekuatan tempur. Dengan segera Naruto asli dan Kiba berlari keluar dari persembunyian.
Kakashi menghilang dan muncul dibelakang Sasuke, menyikut pinggang bagian belakang pemuda Uchiha. Kaksahi kemudian memberikan satu serangan sikut lagi ke arah pergelangan dengkul Sasuke, menjatuhkannya ke tanah.
Naruto muncul dari depannya, sementara Kiba berlari rendah dari belakang Kakashi. "Bagus, serang aku bersama-sama seperti itu."
Kiba melayangkan cakar tajamnya ke punggung Kakashi, selagi Naruto yang mengepalkan tinju dan bersiap menghantam wajah Kakashi. Tapi, sekali lagi, dengan ketepatan yang sangat mengagumkan, Kakashi menangkap pergelanga kedua pemuda tersebut. Kakashi menarik mereka berdua satu sama lain sehingga bertabrakan di udara.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Sasuke. "Sekarang! Serang dia!"
Kakashi menyadari Uchiha yang baru saja ditumbangkannya sudah memagut perutnya dengan sangat kuat.
"Ou!" seru dua yang lainnya.
Tapi Lagi-lagi, seperti tidak memiliki kelemahan, atau memiliki mata pada setiap bagian tubuhnya, Kakashi menangkap pergelangan Kiba dan Naruto yang bersiap melancarkan serangan berikutnya. Dia melempar dua pemuda itu, Kiba ke arah semak-semak sedangkan Naruto tepat ke atas aliran sungai.
"Tinggal kau sendiri, bocah Uchiha."
Sementara Kiba dan Naruto kembali meraih keseimbangannya dengan berdiri, mereka melihat Kakashi memukulkan sisi tangannya ke tengkuk Sasuke, membuatnya terjerembab ke tanah. Sasuke tidak ingat apa yang dilakukan orang-orangan sawah itu. Yang jelas, ia kehilangan kesadarannya saat itu juga.
-o0o-
Kedua mata Sasuke lambat laun mulai terbuka. Cahaya siang hari nampaknya membuat sang penerus satu-satunya Uchiha meringis. Tubuhnya serasa sakit, tengkuknya ngilu, ototnya begitu pegal. "Dimana ini?"
"Sasuke, kau sudah bangun!" seru Naruto, tersenyum riang. Dia berdiri dan melonjak dengan semangat.
"Kau pingsan selama kurang lebih tiga jam. Dan kami berdua hanya menjadi bulan-bulanan Kakashi." lanjut Kiba, menguap dengan bosan. "Orang itu kuat sekali, ngomong-ngomong."
"Wau wau!" setuju anjing mungilnya.
Sasuke berusaha melangkah, namun tidak bisa. Ia dengan segera menyadari bahwa tubuhnya dililit oleh tambang yang begitu erat pada salah satu tonggak kayu. Ada tiga tonggak, dan Sasuke diikat pada tonggak tengah. Naruto dan Kiba duduk bersila lagi kini.
"Bagus! Sekarang, kita bisa makan siang!" seru Kiba, disusul dengan lengkingan riang Akamaru. "Setelah ini akan benar-benar kita hajar orang itu!"
"Ha ha! Aku setuju!" Naruto bertegak pinggang, dan mengangguk ke arah Kiba. "Sasuke, buka mulutmu. Aa~"
"Ap-" malu dengan tingkah Naruto, raut Sasuke berubah redam untuk sedetik.
"Kakashi cuma memberikan kita jatah dua bento. Dan dia bilang kita tidak boleh memberikannya kepadamu sedikitpun." jelas Kiba, mengayunkan tangannya sambil memakan jatahnya. Ia memberikan Akamaru semua potong sosisnya. "Kita bagi tiga bento ini, dan akan kita lanjutkan lagi ujiannya."
Sasuke kehilangan kata-katanya. Kekonyolan macam apa ini, bisiknya di dalam hati. "A-aku tidak membutuhkan makan siang. Lepaskan saja tambang ini, dan aku akan baik-baik saja!"
"Tidak bisa, bodoh." jawab Naruto kini. Rautnya datar. "Kalau sampai Kakashi tahu, dia pasti akan membunuh kita. Karena peraturannya jangan melepasmu dan jangan memberimu makan. Itu hukuman, karena kau hanya memanfaatkan temanmu . . . atau apalah katanya tadi."
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke. Sebenarnya dia tidak ingin melanjutkan belas kasih ini, tapi itu menarik perhatiannya. Sasuke memang memanfaatkan temannya, tapi bukankah mereka sudah sampai pada kesepakatan untuk bekerja sama? Memanfaatkan kesempatan yang dibuat dan maju. Bukannya seperti itu?
"Sebagai tim, kita harus kompak dan terkoordinir. Tapi, Kakashi bilang kau hanya maju duluan dengan kami sebagai pengalih perhatian. Seperti itulah—aku juga tidak mengerti." Kiba kini tersenyum. "Tapi, tidak usah khawatir. Karena kita akan menendang bokongnya setelah makan siang."
Kiba mengarahkan bentonya pada Sasuke, "'nih, makan punyamu!"—tepat ke depan wajahnya.
" . . . Bukankah jika kita menang sekalipun, kita masih harus bertarung? Kita masih harus menghabisi?" Sasuke menajamkan matanya, dengan bento yang tepat berada dibawah wajahnya. "Aku tidak mengerti cara pikir kalian. Kita hanya akan saling memanfaatkan untuk bisa lulus. Tidak ada gunanya saling bersimpati!"
" . . . Aku juga berpikir seperti itu tadinya. Tapi," Naruto merunduk. "Tapi, aku tidak akan pernah bisa menjadi Hokage hebat jika membiarkanmu seperti ini saja. La-lagipula kita adalah tim. Rekan sesama tidak boleh saling meninggalkan. Bukan begitu, Kiba?"
Pemuda Inuzuka mengangguk serius. "Hm. Aku hanya ingin membuktikan pada Kakashi, kalau kita bisa menandinginya. Dan bahwa kita layak menjadi genin. Walau pada akhirnya salah satu dari kita akan tertinggal tahun ini, paling tidak . . . kita pantas menjadi genin utuh tahun depan."
"Lagipula, gelar Hokage tidak akan kemana-mana." ujar Naruto, tersenyum bersahabat ke yang lainnya.
"Kalian . . . Jadi kalian tidak masalah gagal disini?"
"Bukannya begitu!" seru Kiba, memotong kata-kata Sasuke. "Paling tidak kita sudah mencoba, jika memang pada akhirnya akan gagal juga. 'Kan sudah kubilang. Taku, kau ini bodoh atau apa 'sih?"
" . . . Aku akan maju. Walau aku harus melewati mayat kalian sekalipun." Sasuke merunduk, dan tenggeleam didalam kegelapan pikirannya. "Aku—kita memiliki tujuan, kenapa kalian semudah itu menundanya? Tentu saja, tujuan kalian begitu sepele. Tapi . . . aku tetap tidak mengerti."
"Daritadi aku juga sudah bilang kalau ada yang terus kepikiran olehku." Naruto mengalihkan perhatian rekan timnya yang lain. "Kita . . . kita tetap harus bertarung kembali nantinya. Tadinya aku berpikir bahwa tidak akan apa-apa untuk menjatuhkan salah satu dari kalian. Tapi sepertinya salah. Hokage tidak akan pernah mengorbankan temannya sendiri. Dan, aku juga akan melakukannya!"
"Jangan bicara sok keren, Naruto." Kiba tersenyum padanya. "Tapi, kau menerima repect dariku jika memang berpikir seperti itu. Kita akan menjatuhkannya, Naruto!"
"Oo!" pemuda pirang tersebut meraih tangan Kiba dan menepuknya satu sama lain.
"'Nah, makan Sasuke! Kau juga akan membantu kita nanti." ujar Naruto, memberikan satu suapan sumpit nasi pada Sasuke. "Buka mulutmu, sial! Aku sudah repot-repot menyuapimu!"
Sasuke menjauhkan sendok Naruto dari bibirnya, menjatuhkan suapan nasi tersebut ke tanah. "Jangan bercanda! Jangan mengeluarkan senyuman konyol itu dihadapanku!" Sasuke memelototi mereka berdua. "Kalian benar-benar naïf. Kalian tidak tahu apa-apa. Kalian tidak akan mengerti. Aku . . . aku tidak terima simpati kalian. Aku tidak membutuhkannya!"
Kiba menggemertakkan gigi-gigi tajamnya. Dia meraih kerah baju biru Sasuke dan merenggutnya dengan kuat. "Dengarkan aku! Walau apapun yang terjadi, kurasa aku mengerti apa yang Kakashi itu coba sampaikan pada kita. Dan rengekanmu tidak akan merubah apapun, Sasuke!"
Kiba melanjutkan. "Tidak ada genin yang bisa menandingi jounin. Ujian ini menuntut kita sebagai tim untuk bekerja sama, dan berusaha memenuhi persyaratan yang sudah diajukan penguji kita."
Naruto kini melangkah maju. "Aku dan Kiba sudah berbicara tadi. Sebagai shinobi, selalu ada yang kita korbankan. Tapi, kita harus berusaha mencegahnya sekuat tenaga. Jika memang dituntut, aku atau Kiba akan mengundurkan diri nanti."
"Yang penting, kita sudah memperlihatkan pada Kakashi bahwa kita bisa menjadi ninja!" Kiba menggaruk rambutnya. "Kau bodoh banget, 'sih! Naruto yang idiot saja mudah menerimanya."
"Tapi . . . tapi aku tidak bisa-"
Naruto memberikan suapan ansi yang banyak ke dalam mulut Sasuke. Ia berniat membuang, tapi memutuskan untuk mengunyahnya. Dia tidak bisa melawan kukuruyuk perutnya. "Dan, ini!"
Kiba membuka mulut Sasuke besar-besar, dan menyodorkan nasi-nasi makan siangnya ke dalam sana.
" . . . Aku tidak akan pernah mengerti kalian." ujar Sasuke, ditengah kunyahannya.
"Kau tidak perlu mengerti kami, bodoh. Ya, 'kan Naruto?"
"Oo. Kau cukup tahu, bahwa kita adalah satu tim!" Kiba dan Naruto tersenyum lebar ke teman mereka yang tengah terikat erat saat ini.
Pada saat itu jugalah sebuah ledakan besar terjadi. POOF yang besar perlahan-lahan menghilang dan memperlihatkan rupa Kakashi yang nampak marah. "Kalian melanggar perintahku! Itu berarti kalian melanggar peraturan ninja!"
Kiba dan Naruto terduduk. Wajah mereka menampilkan pengalaman yang tampaknya belum pernah mereka rasakan sebelumnya: horror. Ketakutan mencekam yang bahkan mereka sendiri terheran-heran. Apa meamng ada orang yang semengerikan ini?
Mereka berdua mengalirkan seluruh keringat dingin yang dapat mereka leberkan ke tanah. "T-t-tunggu, k-kami hanya-" Naruto keteteran, melayangkan tangannya ke depan.
"B-benar! K-kami hanya ingin berbagi makanan. Ti-tidak mungkin kami makan, sementara rekan satu tim kami hanya mleihatnya." Kiba melanjutkan. Dia melindungi Akamaru didalam jaket abu-abu bertudungnya.
Sasuke memperhatikan kedua temannya. Sampai saat ini juga, mereka masih membelaku?
"Jadi kalian melanggar peraturan yang sudah dibuat. Apa kalian tahu, kalau ninja yang melanggar peraturan itu ibarat sampah?" Kakashi semakin mendekat. Wajahnya masih menatap kedua genin itu dengan tatapan pembunuh. "Kalian tahu bahwa konsekuensi membocorkan informasi saja adalah haram. Apalagi melanggar peraturan domestik."
"Kami tahu!" teriak Naruto, mulai berdiri. "Tapi, kami tidak bisa membiarkan teman kami begitu saja!"
Kiba 'pun begitu. Dia mengeluarkan kunai-nya. "Walau kau akan menghukum, ataupun menghabisi kami—kami bertiga akan melawanmu! Kami akan menjadi ninja!"
" . . . Sejak kapan kalian menjadi akrab, aku penasaran?" Kakashi kini sudah berdiri di depan mereka, menatap bocah-bocah yang relatif lebih pendek darinya.
"Kami harus bersatu untuk menghadapi segala macam tantangan. Karena kami adalah rekan satu tim." ujar Naruto, berdiri bersebelahan dengan Kiba.
"Kalau kau masih penasaran juga, itu tertulis di buku pelajaran akademi!" lanjut Kiba.
Mata Kakashi nampak membesar. Ia nampaknya terkejut, mendengar seruan barusan. Dasar anak-anak. Selalu polos.
Kakashi tersenyum. Matanya memicing. Naruto, Sasuke, dan Kiba yakin kalau orang ini pasti tersenyum lebar dibalik maskernya. "Selamat."
"Selamat?" tanya Naruto. Sama seperti kedua temannya, Sasuke 'pun mengangkat sebelah alisnya. "Selamat apa?"
Kakashi kali ini mengangguk, meyakinkan mereka semua. "Selamat. Kalian lulus ujianku."
"Ha? Apa maksudmu?" Kiba bertanya. Akamaru memberikan lengkingan kecil.
"Aku menyelamati kalian karena sudah lulus. 'Kok malah bertanya apa maksudku?"
"Jangan bercanda! Sedari awal, peraturanmu itu membuat kami bersitegang, dan sekarang tiba-tiba kau datang dan meluluskan kami." Sasuke berdesis.
Kakashi kembali tersenyum. "Karena itu, kalian harus mencoba melihatnya lebih dalam lagi, anak-anak. Ninja yang melanggar peraturan adalah sampah, tapi kalian tahu apa sampah yang paling bau dan busuk di dunia ini?"
"Kentut Naruto . . ."
"Urusai, Kiba!"
Kakashi menghela napasnya. Dia yakin, Anko akan memiliki tim yang menarik hati. "Sampah tercela tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang menelantarkan sahabatnya."
Saat ini, Naruto, Sasuke, dan Kiba terpaku kepada wajah Kakashi. Sejak kapan orang ini berubah keren? Angin siang hari meniupnya dengan perlahan. Rambut peraknya berayun lembut seirama dengan angin. "Jika kalian menjadi ninja, selalu ingat itu. Apapun yang kalian lakukan, selalu pikirkan rekan satu tim kalian. Ambillah tindakan dengan resiko membahayakan rekan kalian seminimal mungkin. Karena bagaimanapun juga, tugas seorang shinobi dapat terselesaikan dengan adanya kerjasama antar sahabat yang saling percaya."
"Dan, satu lagi." tambahnya. Ia memicingkan matanya sekali lagi. "Kalian pergi misi bukan untuk berkorban nyawa. Tapi untuk pulang dengan senyuman kesuksesan untuk kalian bagi bersama rekan lainnya—sahabat kalian."
Saat itu juga Naruto dan Kiba seperti melihat sosok yang begitu hebat dihadapannya. Kakashi Hatake, bukan ninja biasa.
"Apa, 'sih? Si Kakashi mengumbar-ngumbar 'jalan ninja'-nya seperti itu." Anko tersenyum, mengangkat satu lengannya ke balik kepala, selagi tubuhnya bersender di atas dahan besar pohon raksasa. Anko menggigit setangkai dango yang ia pegang dengan tangan satunya. "Sepertinya, dari sini adalah giliranku."
-o0o-
"Aku tidak bisa percaya. Dia menipu kita."
"Jangan bicara seperti itu, Sasuke." sahut Naruto. "Lagipula kupikir dia adalah orang yang keren. Aku ingin menjadi ninja seperti dia. 'Siapapun yang menelantarkan temannya lebih buruk dari sampah.' Keren!"
"Heh, aku setuju." Kiba tersenyum, berjalan berdampingan dengan rekan satu tim tiga belasnya. "Tapi, ngomong-ngomong, kenapa kita ke onsen? Ingatkan aku lagi?"
Sasuke memasukkan satu tangan, membaca satu pesan dari Kakashi pada tangan lainnya. "Aku juga tidak mengerti. Kenapa onsen?" gumamnya. "Tapi Kakashi bilang, kita akan bertemu Anko Mitarashi, penanggung jawab tim tiga belas di onsen Seika."
"Mungkin, kita akan janjian disini dan pergi ke suatu tempat untuk berdiskusi. Aku tidak tahu." Kiba mengangkat kedua bahunya, ogah-ogahan. Ia menggaruk dagu Akamaru yang kelelahan, dan bertanya kepadanya. "Kau letih sobat?—Ah, aku juga capek banget. Aku cuma mau tidur sekarang!"
"He he,"
"Apa, Naruto?" selak Kiba.
"Ini, 'kan onsen. Kenapa kita tidak berendam?" dia tertawa seperti rubah. "Lagipula, kalau untuk kita pasti ada potongan harga. Kita 'kan dibawah 15 tahun."
"Hei, aku suka usulmu! Ayo!"
" . . . Dan jangan menarikku seenak kalian, si kembar tak berguna." tanpa perlawanan, Sasuke terseret dibelakang mereka berdua.
Uap panas membubul tinggi seluas mata mereka bisa melihat di dalam ruangan onsen. Onsen ini bergaya indoor. Dengan dinding-dinding yang terbuat dari kayu jati kokoh sebagai penopang keempat sudutnya. Aroma sabun, sampo, dan rempah-rempah menyelusup ke hidung tiga sekawan. Ini adalah undangan untuk merilekskan tubuh mereka.
"Hyaoo! Aku duluan!" seru Naruto.
"Oi, 'Yahooo!' adalah kata-kata ciri khasku, Naruto sial!" Kiba mengejar dari belakang Naruto. "Enak saja kau meniru!"
Setelah mendengar dua bunyi 'byuur!', Sasuke berjalan dengan setelan yang sama dengan kedua temannya. Handuk putih menutupi bagian bawah tubuh, dan sebuah baskom kayu berisikan penggosok punggung, sabun, dan semacamnya digenggamnya.
"HIIEEEE—!"
"Apa, 'sih. Kalian berisik saja daritadi." merendamkan tubuhnya diantara Naruto dan Kiba, Sasuke tidak menyadari siapa yang tersembunyi dibalik uap putih yang cukup tebal.
Kiba dan Naruto membatu dengan wajah yang memerah. Bukan karena uap panas, mungkin. Melainkan karena wanita berambut ungu berkuncir liar yang berada diseberang mereka. Wanita!
"Siapa kau?" tanya Sasuke, mempertahankan ketenangannya. "Dan, kenapa kau disini? Ini onsen pria, nyonya."
"'Nyonya', katamu?"
Wanita bermata violet cerah itu meraih rambut Sasuke dan menjambaknya. Dia mendekatkan wajahnya, dan berbisik. "Kau sebaiknya menjaga kata-katamu selagi menjadi bawahanku, bocah. Dan onsen ini bukan milik kalian, para pria. Kalian tidak baca papan tulisan onsen campur diluar sana?"
Dia melepaskan Sasuke, membiarkan si jenius Uchiha tercebur ke air hangat kembali. Sasuke mengucap-ngucap seperti: 'dasar wanita brengsek'.
"Bu-bukankah, kau yang tadi bersama Kakashi-sensei?" Naruto menunjuk wanita itu.
Kiba mengendus jounin tersebut lebih dekat. "Benar. Baunya sama dengan perempuan tadi siang."
"Jadi, kau jago mengendus, ya bocah?" tanyanya dengan suara yang mengundang. "Aku ingin kau mengendus bagian lain suatu hari nanti?"
"Hei, apa kau pembimbing kami? Karena Kakashi-sensei bilang kami harus menemuinya disini. Tapi, bukan didalam onsen!"
"Kalian ini tidak mendengar apa yang Kakashi bilang sebelum aku pergi tadi, ya? Tapi, santai, bocah." Anko membenarkan handuk putih yang membalut bagian dada sampai ¾ pahanya. Dia kemudian duduk di tepian kolam air panas, menyilangkan kaki, memperlihatkan lipatan pahanya yang sangat menggoda.
Naruto dan Kiba menelan gumpalan pada tenggorokan. Sementara Sasuke hanya melipat tangan dan membuang muka. "Namaku Anko Mitarashi. Aku adalah jounin spesialis interogasi, investigasi, dan penyiksaan. Yang terakhir hanya bercanda—kecuali kalau kalian ingin menganggapnya serius, aku tak keberatan. Benar, aku adalah jounin yang bertanggung jawab atas regu ini, tim tiga belas. Mulai dari sekarang, aku akan membimbing kalian dengan 'caraku'."
Caraku? 'Cara' seperti apa?—tanya Kiba dan Naruto didalam hati. "Tak ada komplain, tak ada rengekan—oh, kalian tidak akan percaya seberapa bencinya aku dengan rengekan. Aku tidak menganggap kalian sebagai muridku; melainkan anak buahku. Tim tiga belas mulai dari saat ini berganti menjadi Tim Anko. Dan Tim Anko akan menjalani misi level C ke-atas. Aku akan menggembleng kalian, sehingga kalian menjadi shinobi-shinobi yang mantap di masa depan nanti. Panggil aku Anko-sensei atau Anko-taichou, dan . . ." wanita tersebut menjilat sisi bibirnya. Mereka bertiga berani bersumpah, ekspresi yang ditampilkan Anko saat ini seperti ular yang kelihatan lapar dengan telur mangsa yang sudah tersedia di depannya. "Senang berkenalan dengan kalian bertiga."
A/N: Oke, akhirnya mereka bertemu Anko. Chapter berikutnya adalah Lemon. Lemon yang cukup Hardcore, coz saya udah selese nulisnya. Sama siapakah? Masih rahasia. Keep the reviews COMING! See you, n ciao ciao.
