.
.
.
Second Chance
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Mystery, Fantasy, Family, Adventure
Warning : AU, gajelas, OOC, misstypo
Chara : Sasuke, Naruto, Ino, Hinata, Konan
NO BASHING CHARA
Happy Reading!
.
.
.
"Siapa kau?" Sasuke memberanikan diri bertanya pada gadis berambut biru tersebut. Tetapi gadis itu tidak menjawab, ia malah tersenyum misterius kepada Sasuke.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" Ino ikut-ikutan bertanya. Si gadis menoleh memandangnya. Senyumannya yang lebih tepat dikatakan seringai itu bertambah lebar.
"Selamat pagi, Sasuke, Ino, Naruto, Hinata." akhirnya gadis dengan iris quartz itu berkata. Angin berhembus, menerbangkan helaian rambut birun sebahunya. "Tapi ini pagi yang kurang bersahabat, ya." ia menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit yang terlihat temaram.
Cuaca di Ground Zero selalu berubah tak menentu. Tidak seperti di Dunia Manusia yang selalu berpola sama. Bisa dikatakan cuaca di Ground Zero menyalin cuaca di Pulau Langit, tapi sayangnya salinan tersebut selalu keliru. Mereka pernah mengalami matahari yang bersinar terik semalaman, membuat Ino sangat kesal.
"Aku tanya, siapa kau!?" bentak Naruto.
"Jangan begitu, Naruto. Adik perempuanmu yang berada di surga pasti kecewa saat melihatmu membentak seorang gadis sepertiku." ujar si gadis yang masih menyeringai.
Naruto tampak terperanjat. "Bagaimana kau tahu? Tentang adikku?" tanyanya.
"Ahaha…" si gadis tertawa, Sasuke dan Naruto berpandangan dengan bingung. "Ahaha! Ahahahahahaha!" gadis itu tertawa lepas, suara tawanya bergema ke seluruh Ground Zero. Hinata bergidik, gadis itu menebarkan aura mengerikan.
"Apa yang kau tertawakan?" Sasuke yang kelihatannya paling tenang bertanya dengan nada tajam.
"Sungguh menyenangkan aku lebih tahu tentang masa lalu kalian! Bahkan yang kalian coba sembunyikan satu sama lain!" seru gadis itu.
"Ka-kami sudah sepakat bahwa masa lalu kami ti-tidak ada hubungannya dengan sekarang!" balas Hinata.
"Benarkah?" si gadis kini menyeringai kepada Hinata. "Aku mengetahui masa lalu kalian, memori kalian semua. Dan aku juga tahu keinginan terpendam kalian semua." lanjutnya.
"Aku tahu kalian ingin menjadi manusia kembali." kesunyian melingkupi Ground Zero setalah perkataan si gadis. Tak ada yang bisa mengelak pernyataan itu, karena dalam hati mereka tahu itu adalah keinginan mereka. Keinginan yang mustahil untuk diwujudkan.
"Sasuke, kau ingin kembali menjadi manusia untuk meminta maaf pada orang tuamu kan? Dan kalau bisa, kau ingin menghapus perbuatan jahatmu kan?" tanya si gadis. Sasuke memicingkan matanya lagi, gadis itu mengatakan apa yang sebenarnya. Tapi dari mana ia mengetahuinya?
"Ino, sama seperti Sasuke, kau ingin meminta maaf pada kakak lelakimu kan? Karena telah membiarkannya terbunuh." lanjut gadis itu. Tiba-tiba saja Ino membulatkan matanya, tatapannya kosong. Badannya bergetar.
"Jangan terbawa emosi, Ino." bisik Sasuke yang melihat kondisi Ino. Gadis dengan iris aquamarine itu mengangguk singkat, lalu menutup mata, mencoba menenangkan dirinya.
"Naruto, kau juga ingin meminta maaf pada adik perempuanmu. Karena telah mengingkari janji kalian berdua." si gadis melanjutkan. Naruto menggeram sambil memandang gadis itu dengan tajam.
"Lalu Hinata. kau gadis muda yang ingin meminta maaf pada adik perempuanmu, karena sampai saat terakhirmu, kau masih menentangnya. Bahkan di Pulau Langit yang nyaman pun kau berusaha mencari cara untuk menjadi manusia." gadis berambut biru itu mengakhiri perkataannya.
Angin kembali berhembus. Tapi akhirnya matahari menampakkan cahayanya dan menyinari tanah berbatu merah di Ground Zero.
"Apa yang kau mau?" tanya Naruto memecahkan keheningan.
"Tak ada. Tapi aku menawarkan satu hal pada kalian. Aku bisa mengubah kalian kembali menjadi manusia. Apakah kalian mau?"
"Tidak mungkin." ucap Ino pelan, tapi si gadis dapat mendengarnya.
"Mungkin saja Ino, sama mungkinnya seperti aku mengetahui masa lalumu." balas si gadis yang mengenakan gaun hitam selutut tanpa lengan dengan jubah panjang yang juga berwarna hitam.
"Bagaimana kalau kami tidak mau?" sergah Sasuke.
Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya saja ia merogoh kantong jubahnya, dan mengambil sebuah berlian yang sisinya tidak beraturan. Tiba-tiba saja sisi berlian itu menampilkan beberapa wajah manusia.
Sasuke menyipitkan matanya. Ia tidak bisa percaya apa yang dilihatnya. Ia melihat ibunya, Mikoto, dan ayahnya, Fugaku. Bahkan ada kakaknya juga, Itachi.
Sementara itu Ino menggenggam erat-erat ujung gaun tidurnya. Gadis berambut pirang itu menunduk, tidak sangup menatap iris aquamarine kakaknya. Ino merasa sangat bersalah.
"Naruko..." ucap Naruto lirih. Ia bersusah payah menahan dirinya untuk tidak berlari maju.
Mata Hinata sudah berkaca-kaca, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang sudah akan keluar dari mulutnya. Perasaan bersalah kembali merayapi hatinya melihat adik perempuannya.
"Kalian tahu siapa ini kan? Ikut denganku atau jiwa orang yang kalian sayang akan kusiksa di Dunia Bawah." ancam si gadis.
"Baiklah!" seru Sasuke dengan suara parau, ia menoleh ke tiga orang lainnya yang mengangguk dengan sorot mata ketakutan.
Si gadis itu tersenyum, bukan senyum mengerikan seperti tadi. Itu senyum bahagia, senyum kebahagian yang dimiliki manusia. "Kalau begitu perkenalkan, namaku Konan!"
.
.
.
Mereka berempat sama sekali tidak tahu jika Konan akan mengajak mereka mencari syarat-syarat untuk kembali menjadi manusia saat itu juga. Dalam keadaan masih bingung dan penasaran, mereka buru-buru mengemas barang-barang mereka.
Konan mengatakan bahwa ada empat syarat untuk menjadikan mereka manusia lagi. Syarat pertama yaitu air mata putri duyung yang ada di Dunia Manusia. Syarat kedua adalah darah Cerberus yang berada di Dunia Bawah, lalu air dari mata air kehidupan yang hanya ada di Pulau Langit. Sementara syarat keempat atau yang terakhir, dirahasiakan oleh Konan.
"Hiii!" Hinata memekik, yang lain langsung menghampirinya, termasuk Konan. Saat ini mereka semua berada di rumah. Mereka sedang berkemas, tapi ketika Hinata sedang berusaha mengambil sesuatu dari tumpukan kertas milik Sasuke, entah kenapa ia memekik dan menjatuhkan kertas-kertas itu.
"Ada apa, Hinata?" Sasuke bertanya sambil mengambil kertas-kertas yang berserakan di lantai.
"Ma-maaf." ucap Hinata sambil membantu Sasuke memunguti kertas-kertas itu. "A-aku ingin me-mengambil bukuku, ta-tapi aku tak sengaja melihat ini." Hinata menunjukan sebuah kertas yang mengambarkan sesosok wanita berambut merah muda dengan wajah mengerikan. Gambar itu sudah disihir Ino atas permintaan Sasuke untuk membuat gambar tersebut bergerak.
"Kulihat dia sedang menyeringai padaku. Aku terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan kertas-kertas ini." lanjut Hinata. "Ma-maafkan aku." tambahnya sekali lagi.
"Tidak apa-apa, Hinata." ucap Sasuke sambil tersenyum.
"Memangnya siapa sih dia?" Ino menyambar kertas itu dari tangan Hinata dan memandangi wanita tersebut. Ada sebuah tanduk di kepala wanita berambut pink itu.
Sasuke membuka mulutnya untuk menjelaskan. "Dia Haruno Sakura, iblis wanita pembawa penyakit dan kematian. Ia mempunyai kekuatan-"
"Ehem!" tiba-tiba saja Konan bedeham dengan ekspresi aneh yang sulit dijelaskan. "Cepatlah berkemas." ucapnya.
.
.
.
Setelah selesai berkemas, masing-masing membawa satu tas kecuali Konan. Kini mereka berjalan keluar dari rumah.
Konan tiba-tiba berhenti, ia berbalik menatap yang lainnya. "Di sini saja." ujar Konan, ia mengangkat tangannya ke depan. "Mau membantuku, Ino?" tawar Konan pada Ino.
"Boleh saja." Ino sekarang memakai dress merah polos dengan pita putih di pinggangnya. Ia maju ke samping Konan. Ia mengangkat tangannya, sebuah bola merah keunguan mulai terbentuk, makin lama makin besar.
Konan juga melakukan hal yang sama. Tapi bolanya berwarna biru kehitaman. Sepertinya Ino agak terkejut mengetahui Konan bisa memakai sihir juga, ia beruaha menutupi keterkejutannya.
Dua bola raksasa yang mengeluarkan bunyi dengung itu terus saja membesar. "Sekarang lempar!" begitulah seruan Ino, Dalam waktu yang bersamaan, mereka melempar bola tersebut ke atas.
Bola raksasa tersebut saling berbenturan, yang langsung menimbulkan hempasan angin yang keras. Percikan listrik muncul dari kedua bola yang sekarang berputar cepat. Lalu akhirnya, terjadi ledakan yang cukup besar, aura merah dan biru menyebar kemana-mana. Sekarang tinggal sebuah lubang hitam kira-kira 2 meter di atas mereka.
"Ini pintu masuk Dunia Manusia yang aku ciptakan sendiri." sahut Ino. "Ayo masuk, sebelum pintu ini menghilang." lanjutnya.
Konan melompat duluan, disusul Ino, Hinata, Naruto, lalu yang terakhir Sasuke. Pemuda itu menatap Ground Zero terlebih dulu sebelum akhirnya melompat masuk.
.
.
.
"Ouch!" Naruto mengaduh ketika tubuhnya terjatuh ke rerumputan yang masih berembun, ia berdiri dan memungut tas ranselnya yang terlempar lumayan jauh.
"Di mana kita?" tanya Naruto setelah memungut ranselnya, ia sambil menoleh kesana-kemari. Kira-kira mereka sedang berada di sebuah taman bunga. Di situ, angin berhembus lumayan kencang, menggugurkan daun-daun.
"Di mana kau memikirkan tempat mendarat kita, Ino?" tanya Konan. Kini semua kepala menoleh ke arah Ino.
"Tempat ini bernama Edelsteen, dulu disinilah aku tinggal." jawab Ino, jika diperhatikan, nadanya terdengar sedih. "Sudah lama aku tidak ke sini, sepertinya rumahku dibongkar dan tempat ini dijadikan taman." Ino mendengus.
"Hei, Sasuke, aku baru sadar kau membawa sabitmu. Untuk apa?" tanya Konan tiba-tiba.
"Oh? Hanya untuk… berjaga-jaga." jawab Sasuke sambil melirik Konan.
Konan yang mengetahui arti dari lirikan Sasuke menyunggingkan senyum miring. "Berjaga-jaga terhadap aku, maksudmu?"
"Aku memikirkan segala kemungkinan." Sasuke balas tersenyum, tapi hanya senyum palsu.
.
.
.
"Katamu kita memerlukan air mata putri duyung." Naruto akhirnya angkat bicara, ia menatap Konan. "Jadi, pertama-tama kita harus ke laut dulu kan?"
"Yap, kau benar." ucap Konan. "Nah, Ino. Apakah tempat ini dekat dengan laut? Kita tak akan membuang-buang waktu soalnya."
Ekspresi Ino campuran antara bingung dan malu. "Err… Maaf, tapi sepertinya laut cukup jauh dari sini."
"Eh, tapi kalian bisa kuterbangkan, kok! Jangan khawatir!" Ino buru-buru menambahkan.
"Jangan merasa bersalah seperti itu, Ino." kata Konan seraya tersenyum. "Ke arah mana kita harus pergi, Ino?"
"Selatan." jawab Ino singkat.
.
.
.
Mereka berjalan menyusuri jalanan yang ramai. Banyak orang yang memperhatikan mereka karena penampilan mereka yang mencolok. Dan Sasuke sekilas melihat seseorang yang sengaja berhenti dan memotret mereka.
Terlihat Hinata yang mengeratkan pegangannya pada kain yang menutupi sayap malaikatnya. Sementara Sasuke sendiri tahu sia-sia saja mencoba menyembunyikan sabitnya yang kelewat mencolok. Ia hanya berharap tak ada polisi yang menghentikan mereka.
Akhirnya mereka meninggalkan jalan raya dan mulai memasuki hutan. Ino yang memimpin di depan tak mengatakan apa-apa, dan yang lainnya pun tak ada yang protes.
Kira-kira setengah jam kemudian, pohon-pohon mulai jarang, sampai akhirnya mereka benar-benar keluar dari hutan. Kini mereka berada di atas tebing, tepat 15 meter dibawahya adalah lautan. Naruto iseng menjatuhkan beberapa kerikil ke bawah.
"Jika lewat di situ," Ino menunjuk ke bawah, ke jalan raya beraspal di sebelah kanan mereka. Pantai di situ sangat sepi, hal itu menarik perhatian Sasuke. "Akan memakan waktu lebih lebih lama. Jadi aku memilih lewat sini, kita langsung terjun dari sini. Bukan masalah besar."
"Bukan masalah besar!?" Hinata jelas-jelas memprotes ide Ino untuk terjun bebas, ia memandang ke bawah dengan ngeri.
"Toh kita tidak akan-"
"GRAAAAAA!"
Perkataan Ino terpotong oleh suara teriakan dari atas. Mereka mendongak dan terkejut. Sekelompok orang bertopeng hitam dengan jubah merah dan sayap hitam melesat ke arah mereka. Topeng mereka hanya punya dua lubang untuk mata, dan mereka semua membawa pedang. Dapat dipastikan mereka bukan manusia.
"Siapa mereka?" tanya Hinata dengan panik.
"Mereka itu Nero! Penjaga di kerajaan iblis!" seru Sasuke, ia berlari menuju salah satu Nero yang mendarat di dekatnya, Sasuke mengayunkan sabitnya, tapi Nero tersebut dapat menangkisnya dengan pedang hitamnya.
"Ugh!" Sasuke mengayunkan sabitnya sekali lagi, kali ini mengenai Nero tersebut. Sasuke langsung melemparnya ke bawah tebing.
Ia menoleh ke arah yang lainnya dan menyernyit. Kelihatan jelas sekali Nero tersebut hanya mengincar Konan. Tak sengaja Sasuke bertemu pandang dengan Naruto yang juga menyadari hal itu.
Di sisi lain terlihat Ino yang menyerang para Nero tersebut dengan cara menembakkan gumpalan-gumpalan merah dari tangannya. Sementara itu Konan tidak melakukan apapun, ia membuat sebuah perisai tipis yang melingkupinya.
Karena para Nero sama sekali tidak bisa menyerang Konan, maka Nero tersebut juga ikut menyerang Sasuke dan yang lainnya. Salah satu Nero terbang dan mengacungkan pedangnya ke arah Hinata.
DUAK!
Naruto melesat melewati Hinata dan menendang Nero tersebut tepat di dadanya. Naruto memukul kepalanya dan menjatuhkan Nero itu ke bawah tebing.
"Kenapa kalian menyerang kami!?" Sasuke bertanya pada Nero yang sedang dihadapinya.
"Kami ingin menangkap seseorang bernama Konan-"
JLEB!
Sebuah sinar biru keemasan mengenai Nero tersebut yang langsung ambruk ke tanah. Sasuke menoleh ke belakang dan melihat Konan mengangkat tangannya yang bersinar, ia terlihat amat sangat marah.
Mereka kewalahan, para Nero tersebut sangat kuat. Tiba-tiba dari arah hutan keluarlah dua lusin pasukan berwujud kerangka berjubah hitam yang berjalan dengan langkah teratur. Kerangka-kerangka tersebut mengacungkan tombaknya.
"Sial!" Sasuke mengumpat kesal. Ino menembakkan gumpalan merahnya ke arah kerangka tersebut, tapi sepertinya tidak mempan. Dan Ino sudah terlihat lelah.
Tiba-tiba Hinata yang sedari tadi tidak melakukan apapun berlari maju. Sasuke membulatkan matanya terkejut. "Hinata! Jangan!" serunya.
Hinata melepas kain putih yang menutupi sayap malaikatnya dan melemparkannya ke udara. "Be-beraninya kalian menyerang kami?" Hinata menampilkan sorot mata dingin.
Semua terdiam, para Nero dan kerangka tersebut menghentikan gerakannya.
"Ka-kami utusan dari Pulau Langit dan sedang melakukan sebuah misi. Jangan ganggu kami! Pergilah!" seru Hinata.
Para Nero kembali terbang ke langit dan melesat pergi. Kerangka-kerangka tersebut juga kembali ke dalam hutan. Bagi Dunia Bawah, termasuk makhluk-makhluk tadi, mematuhi perintah Pulau Langit adalah kewajiban yang absolut.
"Nah, ayo cepat kita turun." ucap Hinata dengan panik sambil memungut kain putihnya. Perkataannya kini terbalik daripada yang tadi. "Aku tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk menyadari bahwa perkataanku tadi bohong." lanjut gadis berambut indigo tersebut..
"Hinata benar." sahut Naruto. "Nah, silahkan. Ladies first." ujarnya dengan tersenyum.
"Dasar!" sergah Ino sambil memukul bahu Naruto yang hanya terkekeh pelan. Tapi tanpa bisa dicegah, Konan langsung saja melompat ke bawah. Hinata terkesiap kaget.
"Huh, baiklah." Ino menyeringai dan berjalan menuju ke ujung tebing. Tiba-tiba Sasuke mencegahnya.
"Tunggu, ini kesempatan kita. Jelas sekali Nero dan Skull Troops mengincar Konan. Kita tidak tahu alasannya, tapi jika Dunia Bawah mengejarnya, bisa dipastikan bahwa sebentar lagi akan ada malaikat yang mengejarnya."
"Ia ketakutan dan kabur. Ini kesempatan kita untuk meninggalkannya." ujar Sasuke dengan sorot mata bersungguh-sungguh.
"A-aku tidak yakin…" Hinata berkata dengan suara pelan. "Menurutku, biarpun kita meninggalkannya sekarang, pasti ada juga yang akan menyerang kita."
"Melihat makhluk Dunia Bawah yang mengejarnya, ia pasti mengkhianati kerajaan Dunia Bawah. Lalu karena mereka melihat kita ikut menyerang mereka, kita juga akan dianggap target mereka." timpal Ino.
"Dan kalau Konan adalah iblis pengkhianat yang mengganggu keseimbangan dunia, para malaikat juga akan turun tangan." sambung Naruto.
Sasuke terdiam, ia terlihat sedang berpikir keras."Aku tahu… Jiwa-jiwa orang yang kita sayangi ada di tangannya. Mau tak mau kita harus mengikutinya."
"Baklah." Ino kembali menatap ke bawah tebing dan bersiap melompat. Tapi saat itu gerakannya terhenti, Ino tak kunjung melompat.
"Ada apa, Ino?" tanya Hinata dengan bingung.
Ino berbalik, pandangannya menerawang, ia lalu berkata lambat-lambat. "Kalau… Ini semua berhasil, kita akan menjadi manusia kembali, kan? Dan kalau kita juga dikembalikan ke masa masing-masing… Ini artinya perpisahan?"
Semua terdiam, mata Hinata mulai berkaca-kaca.
"Tentu saja." Sasuke berkata dengan tegas, yang lain menoleh pada dirinya. "Kalau begitu kita manfaatkan momen terakhir kita ini bersama-sama.
"Tapi-"
Sasuke memotong perkataan Hinata. "Kita harus saling membantu, untuk mencapai keinginan kita semua. Meskipun nantinya ingatan kita dihapus, hati kita akan menyimpan semua perasaan dan kenangan indah kita ini."
Pemuda berammbut raven itu berjalan menuju sisi tebing. "Ayo berusaha, untuk keinginan kita!" setelah menyerukan hal itu, ia menjatuhkan diri ke bawah.
"Ino." panggil Naruto. "Aku belum meminta maaf padamu soal kejadian tadi. Maaf Ino, karena aku tak bisa memahami perasaanmu. Aku menyayangimu." lanjutnya.
"Aku sudah memafkanmu, baka." balas Ino dengan senyum tulus, gadis itu lalu meloncat ke bawah.
"Naruto…" ucap Hinata pelan.
"Hilangkan keraguan dalam suaramu, Hinata. Seperti kata Sasuke, berusahalah, dengan sepenuh hati, untuk orang-orang yang kita sayangi." ucap Naruto, ia mengikuti Ino dengan melompat ke bawah.
Hinata tersenyum, setetes air mata lolos dari sudut matanya. Ia berjalan pelan menuju sisi tebing yang terjal dan menjatuhkan dirinya ke air yang dingin.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
A/N : Jujur, saya masih bingung dengan peran chara Naruto di sini. Mungkin karena cerita ini bergenre Fantasy, maka agak susah membayangkan imagenya seperti apa.
Dan maaf jika saya tidak bisa membalas review satu persatu.
Masih butuh kritik dan saran. Arigatou^^
