Disclaimer: Amano Akira
Catatan: Mungkin OOC. Jelas AU. Happy Science (Fan)Fiction Day!
Sawada Ieyasu duduk tegap dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada. Mata terpejam adalah tanda bahwa dia tengah berpikir, sementara rambut tidak terurus merupakan akibat dari kebingungannya. Kedua kaki terus diketuk-ketukkan dengan tempo teratur sekalipun dia tidak mendengar—terlebih menyenandungkan—lagu-lagu atau hal semacam itu;bentuk penenangan diri yang terlampau naif. Ieyasu tidak terbiasa termenung seperti sekarang—persis orang putus harapan—kecuali pada saat-saat tertentu yang benar-benar gawat. Bahkan situasi darurat seperti terbakarnya lab mereka karena tidak teliti dalam suatu eksperimen yang mengakibatkan semua aset percobaan tandas dua tahun lalu ditangani Ieyasu dengan kepala dingin sampai ke titik akhir permasalahan, hingga mereka dapat mengulang segalanya dari awal. Sampai dia dipercaya untuk menjadi pimpinan oleh enam anggota inti serta beberapa maniak sains, dari yang benar-benar berwawasan luas sampai para mahasiswa magang yang baru mengenal titik dasar teknologi era penghujung abad dua puluh satu ini.
Tapi sejak sekelompok ilmuwan terlampau genius yang menamakan diri mereka sebagai Arcobaleno muncul—di mana asal-usul kedatangan mereka masih samar—Ieyasu sadar bahwa euforianya pupus terlalu cepat, seakan mereka datang untuk menghancurkan apapun yang ia cita-citakan demi kelangsungan hidup manusia di balik tembok dingin laboraturium. Tidak, dia bukannya cemburu karena Arcobaleno menempati posisi sebagai ilmuwan paling diandalkan—dari awal mereka datang sampai sekarang. Siapapun dapat bersaing dalam sains, dan persaingannya—jelas—kelewat ketat. Dan dia juga tidak menyembunyikan diri di balik alasan: 'kelompoknya jadi tidak eksis, pers tidak mengerubungi lab mereka seperti semut mengerubungi gula'. Bahkan Ieyasu tidak pernah memikirkan terlalu jauh soal media sampai mendatangi mereka atau hal-hal cari perhatian lainnya; kecuali suatu saat ada hal yang harus disampaikannya, yang harus diluruskannya.
Seperti sekarang.
Ide gila para Arcobaleno soal terobosan baru dalam lingkup teknologi adalah penyebab dari tingkah uring-uringan asisten-asisten Ieyasu. Bahkan di lab ini, tinggal tersisa dirinya dan enam anggota lain yang sependapat. Sebagian besar maniak sains yang dikumpulkannya memilih untuk berada di pihak Arcobaleno dan meninggalkan lab tanpa rasa bersalah ataupun permintaan maaf langsung. Ieyasu memang tidak tahu apakah kelompok misterius tersebut menarik bantuan dari orang-orang luar, karena mereka selalu terlihat dengan anggota yang itu-itu saja. Baik dalam konferensi pers atau tersorot kamera secara tidak sengaja. Yang jelas, Ieyasu tidak habis pikir mengapa orang-orang terpercayanya menganggap ide sinting para Arcobaleno sebagai ide brilian.
Paling baru, memang.
Tapi paling berisiko.
Ah. Kloning manusia.
Sejujurnya, Ieyasu tidak membutuhkan pendapat apapun dari mereka yang awam soal sains. Tapi dia hanya tidak tahu harus mengatakan apa, ketika ilmuwan-ilmuwan tersebut justru memilih untuk mengesampingkan nasib manusia kelak dan tidak berkomentar, seolah Ieyasu dan kelompoknya merupakan kutu-kutu bodoh yang tidak sependapat dengan mereka. Dia akui, dampak yang ditimbulkan dalam kloning manusia ini memang banyak positifnya. Tapi efek yang timbul setelah—secara terang-terangan—Arcobaleno mendeklarasikan permohonan izin dari berbagai pihak untuk melaksanakan projek ini di hadapan media bukanlah harapannya.
Dia berharap ada penolakan. Dia berharap ada yang meluruskan selain dirinya. Bukan justru pasangan suami istri yang berkata, "kami sangat mendukung mereka, anakku sedang berusaha untuk sembuh dari sakitnya, dan kami begitu depresi. Kami tidak akan merasa kehilangan jika dalam waktu singkat saja mereka berhasil membuat dia kembali hadir di tengah-tengah kami setelah mendapatkan gen atau apapun yang pernah kami saksikan di televisi. Sekalipun bentuk kloning, selama seratus persen terlihat seperti manusia, bukankah mereka sama? Oh, tunggu, apa mereka juga menyimpan kenangan yang sama dalam benak mereka? Yah, intinya kami menantikan ini—bukan berarti aku ingin anakku mati."
Ieyasu menggeleng setelah mengingat ucapan mereka beberapa hari lampau lewat televisi. Apapun yang mereka katakan seolah ingin menunjukkan bahwa mereka begitu khawatir. Tapi dari nada bicara tempo itu, Ieyasu justru merasa bahwa pasangan suami istri tersebut sedang merasakan lega yang teramat sangat dan yakin betul bahwa para Arcobaleno akan berhasil. Seolah kehilangan atau perasaan ditinggalkan dapat dihindari. Seperti teknologi mulai menyusup dalam perasaan, memberi kesan bahwa tidak ada yang harus kautakutkan selama masih ada uang banyak dan orang-orang genius. Apapun itu.
Pemikiran kuno, dia paham. Zaman sudah melaju begitu cepat, dia tahu. Tapi dari sisi mana dia dapat disalahkan? Karena berusaha meluruskan penyimpangan ini? Bukankah dilihat dari segi manapun—tindakannya untuk menolak secara tegas—adalah hal bijak? Bayangkan. Manusia benar-benar melupakan perasaan sedih yang singgah serta pergi seiring berjalannya waktu karena mereka tidak benar-benar merasa kehilangan, mengandalkan duplikasi manusia, lalu berbahagia sampai akhir? Menjadi budak teknologi? Terus begitukah?
Tunggu.
Bukankah sebagai ilmuwan tersohor, kalimatnya agak kurang pantas?
Atau pada dasarnya, dia hanya cemburu karena tidak pernah terpikir sampai sana?
"Tuan!"
Ieyasu membuka mata dengan sentakkan, sehingga kini dia membelalak selama dua detik dan mengambil napas dengan rakus—baru tersadar bahwa dia menahan napas ketika mempertanyakan banyak hal dalam benaknya. Kedua lengan masih terlipat di depan dada, tapi kakinya berhenti mengetuk. Menatap enam orang yang ada dalam ruangan itu secara menyeluruh.
"Anda baik-baik saja?" tanya tangan kanannya yang berambut merah nyentrik, G.
Helaan napas terakhir sebelum dia membuka mulut. "Tentu."
Mereka kembali diliputi hening, tapi Ugetsu memberanikan diri untuk berujar, "saya memang tidak suka terburu-buru, mengingat kondisi Sawada-dono yang tidak dapat dibilang 'baik'. Tapi, mungkin semakin cepat menyelesaikan rapat semakin bagus?"
"Ya." G adalah satu-satunya yang merespon. Dengan pandangan ragu, dia kembali bertanya, "jadi, Tuan...?"
Seluruh mata tertuju pada Ieyasu. Didasari pertimbangan matang-matang, Ieyasu menjawab, "aku sendiri yang akan berbicara di hadapan pers."
"Kau yakin?" celetuk Knuckle, sebelum menghela napas. Pandangan yang mulanya tertuju pada sang pimpinan kini tertuju padanya. Sawada Ieyasu mengukir senyum, helaan napas Knuckle—mungkin saja—adalah bukti nyata bahwa orang paling religius di ruangan tersebut tengah terintimidasi dengan pandangan-pandangan tersebut. Dia bukannya tersenyum karena puas, tapi siapapun tahu bahwa dia meminta penjelasan lebih—atau ralat. Berhubung pertanyaan Knuckle barusan terdengar salah di telinganya.
"Yeah, yeah, pertanyaanku salah. Itu keputusanmu." Knuckle mengangkat bahu dengan gerakan yang agak berlebihan. "Memang konyol, tapi, kami perlu datang?"
"Tidak, Knuckle," jawab Ieyasu.
"Kau ya—oh, bukan. Kauakan membeberkan apapun yang kita katakan, Tuan Sawada?" Knuckle kembali bertanya.
"Semua yang pernah kalian pikirkan."
Mulanya, Ieyasu mengira bahwa mereka akan menunjukkan respon yang lebih positif, bukan raut wajah tidak enak hati. Berhubung pria ini cukup handal dalam hal semacam mengetahui pikiran dari raut wajah atau apapun yang sejenis karena diberkahi intuisi yang hampir akurat, tentu dia paham bahwa ucapan barusan belum dapat memuaskan keinginan rekan-rekannya. Dengan mengangkat alis, dia bertanya, "ada yang salah?"
"Nufufu, Ieyasu." Satu-satunya orang yang cukup berani untuk memanggilnya dengan nama kecil, Daemon, adalah yang pertama kali membuka mulut. Karena siapapun tahu bahwa Daemon belum menyampaikan maksud, Ieyasu memilih diam dan menatap pria itu dengan penuh tanda tanya. "Mana bisa kami diam tanpa melakukan apapun sementara kau muncul di televisi?"
Pria dengan rambut pirang itu mengangkat alis. Tinggi-tinggi. "Maksudmu?"
"Jangan gunakan kata 'kami'," ujar Alaude cepat-cepat seraya menyikut lengan Daemon, menimbulkan ringisan dari yang bersangkutan. Respon orang paling dingin di antara mereka membuat hening datang kembali, tapi Lampo yang dari tadi belum memiliki kesempatan untuk bicara langsung berdiri. Mungkin meluruskan, dan Ieyasu sungguh menunggu penjelasannya. "Bukannya kami ingin eksis juga di televisi atau apa, tapi... kami hanya diam dan menunggu?"
Ieyasu mengangguk beberapa kali bersamaan dengan Lampo yang kembali duduk tanpa rasa canggung. Dia kira mereka akan puas dengan hal semacam 'aksi-heroiknya-yang-muncul-tanpa-rekan'—dan tentu saja perkiraan pria dua puluh tahunan tersebut salah total. Bukan waktu yang tepat untuk tersanjung, memang. Maka dia berpikir, berpikir, berpikir. Apa yang dapat dilakukannya dan menguntungkan semua orang dalam ruangan ini.
"Acara debat sains dengan Arcobaleno," celetuk G tiba-tiba.
Ieyasu memang kurang nyaman ketika kembali mendengar nama a la Italia tersebut. Tapi karena tidak ada yang ingin merespon, dia menanggapi, "ada apa dengan debat itu?"
"Menjadi urusan kami. Anda tidak perlu datang." G tersenyum puas, seolah idenya adalah ide paling brilian. Ugetsu mengangguk, sepertinya mereka sependapat sekalipun belum bertukar ide secara langsung.
"Apa?" Laki-laki dengan jas lab yang disampirkan di bahu itu meminta penjelasan lebih dari para anggota. Namun, dia tidak lihat apapun selain dua ekspresi: bingung dan puas (yang hanya bersumber dari Ugetsu dan G).
"Begini, Sawada-dono." Ugetsu mengangkat tangan sedikit; meminta perhatian. Dia berdeham sebelum menjelaskan maksud dari ucapan G. "Jika Anda memang ingin berbicara sendiri di depan pers, terserah pada Anda. Maksud saya, tidak ada yang dapat membantah keputusan Anda—mengingat Anda adalah yang paling bijak. Tapi, kami—diwakili oleh G-dono—punya saran yang masih dapat Anda terima, atau tolak. Baiklah. Mungkin yang ada dalam ruangan ini belum sepenuhnya menangkap maksud G-dono, biar saya perjelas. Debat sains yang akan diadakan antara kita dan para Arcobaleno memanglah hal penting. Karena jika kita gagal, percobaan yang mereka inginkan, akan terlaksana, bukan?"
Asari Ugetsu mengambil napas, dalam-dalam.
Sayangnya, Daemon mengangkat tangan. "Oya. Terlalu bertele-tele, Ugetsu. Intinya, G, kauingin Ieyasu tidak datang dalam acara tersebut dan membiarkan kita berpartisipasi dalam debat?"
Anggukkan dari G. "Ya."
Daemon mengangkat kedua sudut bibir ke atas; terlihat senang sekali. Rekan-rekan lain juga begitu, pengecualian untuk Alaude yang membalas dengan dengusan. Sesungguhnya Ieyasu tidak terlalu senang untuk bersantai ketika orang-orang penting sedang 'berperang'. Tapi bukankah strategi G cukup adil? Apa risikonya jauh lebih besar? Tidak, 'kan? Lagipula, mereka tidak kalah pintar dan cukup dapat diandalkan dalam situasi semacam itu—apalagi pengalaman masing-masingnya dalam berkompetisi sudah sangat banyak. Hal ini hanya seperti pembagian tugas. Di mana Ieyasu bertugas untuk meyakinkan khalayak, sementara enam yang lain bertugas untuk meyakinkan ilmuwan-ilmuwan tersohor. Dengan menunduk dan helaan napas, Ieyasu mengangguk. "Impas."
Setelah beberapa detik, dia menyapu pandang dengan lebih teliti. Kepuasan tergambar jelas dalam wajah anggotanya; dengan cara mereka masing-masing. Ieyasu tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum, sekalipun bukan senyum lepas seperti biasa. Dia berdiri, diikuti oleh anggota-anggota lain, sebagai tanda dari berakhirnya rapat. Pembicaraan soal kegilaan ide para Arcobaleno atau apapun di baliknya terlupakan sejenak oleh pemikiran rangkaian kata semacam apa yang harus dia terangkan di hadapan media, sehingga dapat dimengerti oleh orang banyak.
.
d i s t o r s i
.
"Bagian kamera sudah siap, Pak!"
Berada di tengah-tengah kesibukan media membuatnya ingin menutup telinga secara terang-terangan. Teriakan, dentum langkah, mesin-mesin bising, dan bunyi apapun yang timbul. Mungkin dia tengah gugup atau apa, sampai semua terasa salah. Dan pertimbangan Ieyasu soal tidak membawa headset atas nama kesopanan adalah salah total. Untungnya, ruangan serba putih yang dibersihkan oleh robot-robot lincah setiap beberapa detik itu tidak memengaruhi mental Ieyasu terlalu jauh. Mengingat sebagian besar ruangan di lab juga berwarna putih, bahkan dia memiliki selimut dengan warna sama dalam jumlah banyak.
Berkali-kali dia melempar senyum pada kru-kru televisi yang lewat. Rasa bosan menunggu beberapa menit lagi menggodanya untuk meneliti satu per satu mesin yang digunakan dalam persiapan siaran langsung saluran televisi swasta ini. Tidak ada yang istimewa. Hanya jam dinding dengan kedua jarum setipis benang, televisi besar yang tebalnya hampir sama dengan kertas, sampai kamera-kamera gantung transparan. Masih terlihat, tentu. Tapi mungkin tujuan dibuat kamera semacam itu untuk mengurangi rasa gugup ketika siaran, entahlah. Jika kautahu akan ada kamera, mikrofon, dan apapun peralatan siaran yang tidak diingat Ieyasu, bukankah rasa gugup tersebut tidak dapat hilang dalam waktu cepat?
Lupakan.
Toh, dia tidak benar-benar gugup.
Dia menoleh ke arah kiri begitu saja. Perempuan muda dengan kemeja putih dan rok pensil warna hitam datang seraya menggenggam cermin bertangkai, memberi senyuman anggun pada Sawada Ieyasu yang dibalas dengan senyuman pula. Wanita bercepol itu datang, dan jabatan tangan terjadi secara refleks. "Terima kasih sudah hadir, Profesor Sawada. Kita akan segera mulai. Anda butuh air atau...?"
"Ah, tidak, terima kasih, Nona. Akan sangat menyenangkan jika kita langsung mulai." Jujur, pipinya terasa lelah karena senyum terus-menerus. Tapi tidak ada niatan untuk menghapusnya.
Si pembawa acara mengambil tempat. Beberapa meter di sebelah Sawada Ieyasu dengan posisi menyerong, sehingga terlihat bersebrangan. Mereka dipisahkan oleh meja kopi kayu yang terlihat antik—mungkin satu di antara sedikit benda yang tidak berwarna putih. Ieyasu memperhatikan gerak-gerik seseorang di balik mesin hologram, sampai wanita pembawa acara kembali bertanya dengan ramah, "latar kafe klasik, bagaimana?"
"Tidak masalah. Warna putih tidak selamanya dapat membuat mata saya segar," jawab Ieyasu dengan kekehan di akhir kalimat. Beberapa detik setelahnya, hanya orang dengan pengihatan kurang yang tidak dapat menyadari bahwa latar tempat mereka kini sudah berubah menjadi kafe ala Eropa; didominasi warna coklat. Sekalipun sudah terbiasa dikelilingi oleh kecanggihan teknologi masa kini, tetap saja, perkembangan hologram dari yang paling cetek sampai sekarang tidak membuatnya berhenti terkagum-kagum.
Sang pembawa acara mengangguk, lalu menghadap kamera. Ieyasu memperbaiki posisi duduk sebelum dia benar-benar disorot, lalu memfokuskan pendengaran pada ucapan si pembawa acara. "Ya , kembali lagi dengan saya dalam acara Perkembangan Sains Era Modern. Seperti yang kita ketahui, delapan ilmuwan genius yang menamakan diri mereka sebagai Arcobaleno telah mengajukan izin penelitian untuk kloning manusia yang sampai saat ini masih menjadi kontroversi." Ieyasu menatap wanita dua puluh tahunan tersebut sebelum mengambil napas berkali-kali. Dia melirik kru-kru televisi di hadapannya, lalu kembali memfokuskan pandang pada si pembawa acara setelah mendapat isyarat untuk bersiap-siap.
Ieyasu paham bahwa si wanita menjelaskan garis besar dari permasalahan mereka, mungkin ditujukan untuk orang yang belum benar-benar mengerti. Dia menunggu sambil mengetukkan jemari pada pegangan kursi dan mengulang-ulang apa yang harus dia katakan ketika diwawancarai. Jangan sampai membuat kesalahan, intinya.
"Saat ini saya sedang bersama dengan perwakilan dari golongan yang menentang kloning manusia ini. Beliau juga termasuk salah seorang ilmuwan terkemuka yang kita kenal, Sawada Ieyasu. Baiklah, menurut Anda, kenapa Anda melarang praktek seperti ini? Tentunya Anda memiliki alasan untuk itu, bukan?"
Pria ini tahu bahwa dia sedang disorot, jadi dengan cepat, dia merespon, "terima kasih sebelumnya karena telah mengundang saya berbicara di sini." Dia memberi jeda dan mengisinya dengan senyum tipis. Tarikan napas, dan dia mulai terlihat percaya diri. "Saya rasa kloning manusia merupakan hal yang cukup kelewatan dalam hal sains. Maksudnya, manusia masih terus berkembang baik dan berkembang dari zaman ke zaman, jadi untuk apa kita adakan kloning manusia? Saya rasa itu hanya akan membuang waktu para ilmuwan."
Menggebu-gebu, dan sangat bukan dirinya. Tapi rasa peduli memang sudah tidak datang menyergap. Dia hanya harus mengutarakan apapun yang ingin dia utarakan. Dan setengah berharap bahwa para Arcobaleno menyaksikan saluran ini.
"Saya tidak mengerti," ujar si wanita, jujur dan menyebalkan. "Sebagai ilmuwan, Anda tentu tahu bahwa hasil dari kloning manusia membawa sel-sel dari orang yang diambil sampelnya, kecerdasannya, fisiknya, dan berbagai hal lain. Einstein kedua dapat dibuat dalam sekejap mata dan itu bisa lebih memajukan kehidupan kita."
Helaan napas berat. "Itulah yang salah. Anda mengatakannya 'dibuat', seolah-olah mereka lahir untuk kita pergunakan seperti sebuah barang." Dan di akhir kalimat, dia tidak dapat menahan diri untuk tidak melayangkan tatapan tajam. Bagaimana mungkin kata 'dibuat' sungguh mudah meluncur dari mulut orang awam? 'Dibuat' lebih cocok dipergunakan untuk sesuatu semacam robot atau cyborg, bukan kloning manusia yang kemiripannya hampir seratus persen dengan manusia masa kini. Mungkin tatapan tajam barusan adalah bukti bahwa Ieyasu yakin dengan kemampuan para Arcobaleno, bahwa mereka akan membuat sesuatu yang diluar nalar orang banyak. Lebih menjurus ke rasa takut, dibanding rasa kesal.
"Eh, ah, itu ... saya tidak bermaksud demikian ... " Ieyasu memperhatikan wanita pembawa acara dengan detail dan mendapati kebingungan di dalam raut wajahnya. Sehingga dalam waktu singkat dia meringis, sebagai tanda permohonan maaf yang tidak diucapkan langsung, dan melanjutkan topik demi berlangsungnya acara. "Saya berpikir bahwa kloning manusia hanya akan membuat kita semakin terlena pada teknologi dan hanya berpangku tangan pada apa yang akan dibuat kloning-kloning itu. Manusia masih bisa berkembang biak dan menggunakan kecerdasan mereka hingga saat ini. Jika kloning manusia dibuat, ras manusia itu sendiri bisa saja lenyap." Panjang lebar. Jelas. Mantap.
"Wah, Anda dapat mengatakan hal seperti itu tanpa keraguan. Luar biasa," ucap si lawan bicara.
Cukup lama mereka berbincang soal prinsip dasar kloning yang sesungguhnya. Dengan basa-basi yang menjabarkan perihal teknik-teknik kloning sampai perdebatan ilmuwan zaman dahulu. Soal apa saja yang membuat kloning manusia tidak ada sejak dulu dan efek-efek—baik negatif maupun positif dari eksperimen tersebut. Berkali-kali pula pujian manis meluncur dari wanita pembawa acara. Ieyasu sudah agak lebih tenang—dibuktikan dengan gestur-gestur tubuh semacam gerakan tangan yang mulai muncul secara tidak sengaja , sekalipun perasaan tidak enak tetap berkecamuk.
Setelah cukup lama, Ieyasu mengangguk singkat. Berpikir untuk melanjutkan lebih jauh. "Saya memang tidak benar-benar mengenal baik pihak di balik ide kloning manusia ini, sekalipun kita semua tahu siapa dalangnya—" kalimat yang digantungkan adalah ciri khas ilmuwan ini, dan melanjutkan beberapa detik kemudian. "—tapi, siapapun mereka, saya siap berada di garis depan para penentang. Sekalipun hanya anggota saya yang berbaris di sana nantinya, atau bahkan saya sendiri."
Bam.
Si pembawa acara tampak kehilangan kata-kata. Mungkin merasa tidak nyaman dengan pengakuan Ieyasu yang terlalu 'berani'. Sehingga rasa rileks yang belakangan datang pupus tanpa sisa. Ieyasu sendiri tengah memejamkan kedua mata, mencerna apapun yang dikatakannya barusan. Apakah salah? Terlampau frontal? Tidak, dia rasa tidak. Tapi jika memang 'benar', mengapa perasaan ngeri seakan berputar di dadanya? Dia menahan napas.
Ketika matanya kembali terbuka, seorang kru di balik kamera memberi isyarat pada sang pembawa acara dengan papan digital bertuliskan: 'istirahat' dan Ieyasu berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan kelegaannya.
"Ingin tahu kelanjutan dari wawancara bersama Tuan Sawada Ieyasu? Tetap di—"
Ieyasu tidak mendengar kalimat si wanita sampai akhir. Bahunya merosot turun. Helaan napas lega meluncur begitu saja.
.
d i s t o r s i
.
Setelah siaran, Ieyasu mendapat kabar bahwa acara debat sains dimajukan menjadi malam ini. Namun dia tidak bergerak dari sofa beludru favorit dan enggan menghidupkan televisi sekalipun jentikkan jari dapat melakukannya. Sudah beberapa jam dia bergeming, dan hanya bergerak jika membutuhkan air. Lagipula sudah terlambat untuk menghidupkan televisi, sekarang. Acara debat sudah lewat jauh. Dia hanya perlu menunggu keputusan. Sekalipun, intuisinya menyuarakan hal paling menyebalkan sebagai hasil akhir debat.
Ponsel berdering.
Bagus sekali.
Dia mengambil dengan gerakan malas—mata masih kosong. Hampir saja dia menjatuhkan ponsel tipis tersebut jika dia tidak mengubah posisi duduk dan tetap ogah-ogahan. Kali ini, Ieyasu jauh lebih tegap. Berdeham untuk memastikan bahwa suaranya tidak terlalu serak, sebelum menerima panggilan dari G. "Halo?"
"Tuan Sawada, maaf mengganggu waktu Anda," kata G.
Ieyasu berdiri, meregangkan otot dan mulai berjalan. Menelusuri ruang keluarga rumah minimalisnya. Tangan kiri yang bebas memijat pelipis, tanda bahwa dia belum siap dengan apapun yang disampaikan G. "Tidak apa-apa. Ada yang ingin kausampaikan, G?"
"Yep." Dia mendengar helaan napas G. "Debatnya terlalu panas. Kami masih belum tahu hasilnya. Seseorang di antara mereka—kalau tidak salah, Luce—jatuh pingsan tanpa sebab jelas. Jadi, yah. Hasil diundur sampai Para Arcobaleno ada dalam kondisi prima," terang tangan kanannya.
Pria berambut pirang itu masih menelusuri ruang keluarga—kebiasaan tidak bisa diam ketika menelepon. Kali ini, jari-jari panjangnya menyentuh perabotan dengan ornamen-ornamen khusus, berusaha mencari jalan keluar. Memang tidak seperti yang diperkirakannya. Tapi tetap saja, penundaan bukan berarti hal baik. Sampai, rasa pesimis datang menyergap dalam hitungan detik. "Tidakkah kaupikir hal ini terlalu memakan waktu, G?"
"Eh?"
"Bukan bermaksud pesimis, tapi... kautahu. Aku merasa kita akan ga—"
"Tidak, Tuan! Saya akan berusaha untuk mendapat kepercayaan para ilmuwan! Saya masih di lokasi, bisa saja saya—"
"G." Bingkai-bingkai foto yang terpajang apik di lemari kaca menjadi perhatian. Dia menelusuri wajah satu-satu. Berusaha mendapat ilham sekalipun kemungkinannya kecil. Bagaimana mungkin, seseorang yang selalu mendapat jalan keluar tengah terjebak dalam suatu kondisi tanpa tahu harus melakukan apa? Dia memang genius, tapi orang genius bisa lelah sewaktu-waktu. Beberapa detik, dan dia tersenyum samar ketika tahu bahwa G masih menunggu jawabannya di seberang sana.
Cukup lama dia bergeming di hadapan lemari. Sampai, senyum yang mulanya samar menjadi lebar—penuh rasa lega. Seakan baru saja ditarik dari lubang gelap. Salah satu foto dengan bingkai kayu yang terlihat usang diraihnya. Figur Ieyasu remaja sebelas tahun lampau, dengan seorang pria tegap. Idolanya. Seseorang yang menarik Ieyasu masuk ke dunia sains. Pria yang ditemuinya dalam pameran edukasi tahun 2084. "Aku tahu, G."
"Soal apa?"
"Aku akan menemui seseorang malam ini. Kuharap alamatnya masih sama." Ieyasu bergegas. Tapi tidak mempersiapkan apapun. Hanya meletakkan bingkai kembali pada tempatnya, lalu menutup pintu lemari dengan perlahan. Dia berbalik dan tetap menggenggam ponsel sembari meraih jas formal yang dikenakannya saat siaran langsung. "Jangan tanya aku siapa orangnya."
Gumaman G agak kurang jelas. Yang dapat ditangkap oleh telinga Ieyasu hanya: "Perlu saya jaga rumah Anda seperti biasa?"
Ieyasu duduk di teras dengan tergesa-gesa. Dia memasang kaus kaki dan sepatu dalam gerakan cepat. Bahu dinaikkan untuk menjepit telepon. "Tidak, tidak. Biar saja."
"Bagaimana dengan robot bermasalah—"
"Mereka sudah tidak aktif. Karena beberapa alasan, ingat?" Pria berambut pirang itu berdiri, dan tangan kanannya kembali menggenggam telepon. "Aku harap dia dapat membantu kita."
"Yeah, siapapun yang Anda maksud." Sepertinya G tengah memutar kedua bola mata dan kebingungan. Karena tidak ada yang mengatakan apapun lagi, Ieyasu mengucap salam pengakhir sambungan, "sudah, ya."
Dan sambungan terputus.
.
d i s t o r s i
.
Ieyasu memarkirkan mobil agak jauh dari kediaman seseorang yang ditujunya. Hampir melewati pohon-pohon besar, tapi dia cukup yakin kalau memakirkan mobil di lahan kosong sebelah barat rumah tidak akan mengganggu siapapun. Setelah meluruskan badan mobil dan mematikan mesin dengan sekali tekan, dia meraih mantel yang memang diletakkan dalam mobil—berhubung cuaca cukup dingin. Pintu terbuka, kaki menapak.
Sudah lama sekali.
Suasana rumah orang yang dituju masih sama seperti sebelas tahun silam. Asri, bersih, segar; persis rumah orang-orang zaman dahulu yang diceritakan oleh kakeknya. Bahkan Ieyasu masih terkagum-kagum, melihat masih ada rumah yang—lingkungannya—jauh sekali dari perkembangan teknologi.
Cukup lama dia berjalan kaki, sampai tiba di depan gerbang sang empunya rumah. Dia memang bilang bahwa lingkungan rumah tersebut jauh dari teknologi masa kini, tapi tidak dengan bangunan rumah satu-satunya di lingkungan itu. Dari gerbang depan kelewat luas saja, sudah ada interkom. Dia menekan salah satu tombol, sampai suara orang yang dikenalinya terdengar jernih lewat alat canggih tersebut. "Sia—Ieyasu? Itu kau?"
Tentu saja pemilik rumah telah melihat wajahnya lewat kamera pengintai, jadi dia membalas dengan senyum. "Ya, Tuan."
"Astaga. Sebentar!"
Selang beberapa detik, gerbang depan dan pintu utama terbuka lebar. Secara otomatis, tentu. Ieyasu berjalan dengan agak cepat, seolah pintu-pintu itu akan menutup jika dia tidak bergegas. Tidak lagi memiliki minat untuk meneliti pekarangan depan, dia masuk tanpa ragu dengan pandangan yang disapu ke seluruh penjuru dan menyipitkan mata berhubung seluruh penerangan telah dimatikan. Sampai Ieyasu mendengar langkah tenang dari tangga bersamaan dengan hidupnya lampu-lampu. Sosok dengan topeng yang menutupi mata tersebut berjalan dengan wibawa yang memancar, ke hadapan pria berambut pirang itu.
"Ieyasu... Tamu yang tidak terduga." Pria tersebut membungkuk sedikit, memberi ruang bagi Ieyasu untuk melangkah. Setelah membuka dan menggantungkan mantel di tempat seharusnya, dia menatap si tuan rumah. "Tuan, ehm, Checkerface. Lama tidak berjumpa." Kecanggungan Ieyasu dalam mengucapkan nama alias sang pemilik rumah adalah bukti bahwa mereka belum benar-benar dekat. Dan dia mulai meragukan keputusannya untuk datang dan meminta bantuan.
"Ya. Lama tidak berjumpa. Mari." Dengan anggukkan, Checkerface menuntun Ieyasu ke ruang tamu. Tidak banyak berubah dibanding saat terakhir kali dia datang. Hanya lampu gantung keemasan yang semula berwarna jingga dan robot-robot yang berisik jadi lebih tenang. Selain itu, tetap mewah seperti biasa. Checkerface mempersilahkan Ieyasu untuk duduk di sofa untuk satu orang, sementara dirinya duduk di seberang. Dibatasi oleh meja kaca panjang.
Checkerface tidak berbasa-basi dengan menawarkan minuman pada Ieyasu, karena salah satu cyborg berseragam pramusaji datang dan membawa sebotol anggur merah ditambah dua gelas mungil. Ieyasu memperhatikan dengan jelas bagaimana pria tersebut menuangkan wine ke dalam dua gelas sekaligus. Bahkan sampai Checkerface menyodorkan gelas padanya dan membuka suara, "kenapa tidak telepon dahulu?"
"Ah. Kedatangan saya juga mendadak ... " Ieyasu tersenyum tipis—menyembunyikan kekakuan dibaliknya. Dia meneguk anggur sebagai bentuk formalitas. Agak canggung ketika melihat bahwa Checkerface tidak melakukan apapun selain memperhatikan tingkah lakunya, seperti apa yang dia lakukan beberapa detik lampau.
"Aku percaya bahwa kau membenci basa-basi," ujar Checkerface dengan sebelah bibir ditarik ke atas. Ieyasu bergeming, lawan bicaranya melanjutkan, "begitu pula aku. Jadi, tujuanmu?"
Tepat.
Ieyasu menghela napas, membulatkan tekad. Datangnya ia kemari harus membuahkan hasil. Sekalipun sedikit. "Saya menentang keinginan Arcobaleno untuk menjalankan percobaan kloning manusia."
"Aku tahu soal kau dan anggotamu. Tapi, apa benar, alasanmu hanya hal-hal sederhana semacam itu?" tanya Checkerface sembari meneguk minuman.
"Ya. Dan saya tidak menganggap hal tersebut adalah hal yang sederhana."
Mereka terdiam selama beberapa detik. Ketegasan Ieyasu seharusnya sudah jelas. Dan, perihal kelangsungan hidup manusia semacam meledaknya populasi sampai urusan dengan agama bukanlah hal sederhana. Siapapun pasti tahu.
"Aku juga kurang tertarik dengan kloning manusia atau apalah itu."
Hah?
"Anda serius, Tuan?" Antusiasme Ieyasu tentu ditutup-tutupi. Dia kira cukup sulit untuk meyakinkan ilmuwan dengan pendirian teguh seperti Checkerface. Tapi jika dari awal Checkerface berada di pihaknya, bukankah jauh lebih mudah? Namun jelas, Ieyasu tidak bisa cepat percaya dengan orang yang sudah lama tidak dijumpainya. Bisa saja Checkerface sudah banyak berubah, atau banyak hal yang tidak dia ketahui tentang laki-laki tersebut. Bukan ingin berpikiran negatif, tapi katakanlah, siapa orang yang dapat dipercaya begitu saja dalam dunia ini? Dia hanya perlu terlihat tidak mencurigakan.
Checkerface mengulas senyum. "Tentu. Jadi, kaudatang kemari hanya untuk bertukar pendapat, atau?"
"Tidak, tidak. Tentu tidak." Ieyasu menjawab dengan cepat. Kehati-hatian tetap meliputinya. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. Rangkaian kata yang akan diucapkan telah diperagakan dalam mobil. Pemilihan kata yang tidak terlalu frontal, tapi tersampaikan maknanya. Tanggapan-tanggapan sederhana soal kemungkinan jawaban Checkerface juga telah diperkirakan dengan sempurna. Dia hanya perlu kepercayaan diri datang kembali. "Barangkali, Anda tahu beberapa hal soal Arcobaleno?"
Ieyasu tahu bahwa Checkerface sudah jarang tampil di berbagai media sejak beberapa tahun silam dan menyendiri dalam istana besarnya. Dan mungkin sudah jarang keluar rumah tanpa tujuan khusus. Memang belum tentu, Checkerface tahu banyak soal Arcobaleno atau apapun yang dibutuhkan Ieyasu. Tapi, dia ingat betul bahwa saat pertama kali Ieyasu muncul dalam televisi sebagai remaja muda berbakat, Checkerface menjadi orang pertama yang menghubunginya. Mengucapkan selamat dan hal-hal klasik. Sekalipun mereka baru berjumpa satu kali sebelum saat itu. Walaupun tidak ada yang menyinggung masalah personal ketika pertemuan kedua dan seterusnya, dan seterusnya. Checkerface tidak pernah ketinggalan berita dalam dunia sains dan teknologi. Jadi adalah hal mungkin, bahwa Checkerface tahu beberapa hal yang tidak diketahui Ieyasu tentang Arcobaleno.
"Aku tahu beberapa hal. Apa yang kaubutuhkan?"
Benar, 'kan.
"Semacam markas, atau hal yang menginspirasi mereka dalam keinginan untuk melakukan kloning manusia," kata Ieyasu. Dia meneguk anggur sampai tandas, dan memberi penolakkan sopan ketika Checkerface hendak menuangkan anggur lagi. Dia menunggu, sampai Checkerface meletakkan botol anggur tanpa ekspresi dan menatapnya lagi.
"Maaf. Aku lupa bahwa kau menyetir." Lawan bicara Ieyasu mengangguk singkat, tapi Ieyasu dapat melihat seringainya. "Bermain licik?"
"Tidak." Ieyasu menahan napas. Berusaha untuk meyakinkan Checkerface bahwa niatnya tidak sekotor itu. Meskipun dia tidak bisa jamin bahwa tindakannya setelah berbincang dengan pria ini akan bersih total. "Saya hanya ingin tahu."
"Yeah, tentu. Masih banyak yang belum kautahu, Ieyasu. Dibuktikan dari jawaban-jawabanmu dalam wawancara." Checkerface menopangkan dagu pada telapak tangan yang terkepal. Ieyasu tahu bahwa pria ini menatapnya lurus-lurus. Penuh tekanan, dan mengerikan. Dalam saat-saat semacam ini, dia hanya perlu diam. Mendengar. Memperhatikan. Menerapkan. Sejak dulu, seperti itu.
Mungkin Checkerface tahu bahwa Ieyasu akan menjadi murid teladan beberapa menit ke depan. "Terlalu awam, konsep dasarmu soal ilmu pengetahuan masih dangkal. Masih meleset. Terutama bagian ini: 'Tapi, siapapun mereka, saya siap berada di garis depan para penentang. Sekalipun hanya anggota saya yang berbaris di sana nantinya, atau bahkan saya sendiri'. Aku benar dengan susunan kata?"
Ieyasu mengangguk. Ingin mempertanyakan beberapa hal, tapi dia memilih untuk mendengar Checkerface sampai akhir—atau mungkin terlalu gugup untuk bertanya. Dia tidak menyangka bahwa pria bertopeng tersebut menyaksikan seluruh wawancaranya. Dan bukannya mendapat respons positif, dia dapat kritikan.
"Tidak terdengar seperti dirimu, sungguh. Kau—" Checkerface mengarahkan jari telunjuk tepat di hadapan hidung Ieyasu. "—justru terdengar seperti pemberontak naif. Siapa yang akan mendukungmu jika kau sendiri? Keh. Jika tetap memberontak, bisa saja orang-orang suruhan Arcobaleno, atau bahkan mereka sendiri, menghabisimu sebelum kau sempat masuk dan berlindung dalam mobil. Zaman sudah berlalu, Ieyasu anakku. Pikiranmu terlalu kuno." Checkerface tertawa, Ieyasu berusaha menahan diri.
"Tapi, aku tidak akan mengomentari soal jawaban wawancaramu. Bahkan di hari-hari sebelumnya yang jauh lebih konyol." Ieyasu menghela napas mendengar ucapan ini. Sedikit kesal, tapi rasa lega lebih banyak mengambil alih. "Aku akan memberitahumu beberapa hal yang lebih bermanfaat."
Checkerface menjelaskan banyak hal soal Arcobaleno. Mulai dari ketidaksukaannya terhadap delapan orang genius tersebut sampai markas yang diketahui dari salah satu narasumber terpercaya milik Checkerface. Pria yang seumur dengan ayah Ieyasu itu menceritakan soal pengalamannya datang ke markas Arcobaleno secara khusus—tentu saja membuat Ieyasu kaget sekaligus senang—dan berbagai pengamanan di sekitar markas. Mulai dari pengamanan tingkat tinggi di gerbang depan, sampai pintu masuk yang hanya perlu menggunakan ID dari ponsel orang-orang terpilih. Termasuk Checkerface yang mengaku diundang sebagai tamu khusus beberapa tahun lalu.
Dia juga menjelaskan soal anggota Arcobaleno. Dari delapan nama yang diulang-ulang Ieyasu dalam hati supaya mengingatnya terus sampai karakter yang tidak diketahui publik. Ieyasu memang harus memuji daya observasi Checkerface, tapi mungkin sekarang bukan saatnya. Dia dapat banyak hal dari perbincangan kali ini, membuatnya bersyukur karena rencana mendadak ini tidaklah sia-sia.
Tapi apa yang akan dilakukannya setelah mendapat banyak informasi?
"Dan, Ieyasu," panggil Checkerface untuk mengembalikan fokus Ieyasu. "Aku rasa bermain bersih bukan satu-satunya pilihanmu. Kau sudah tahu sebagian besar yang kuketahui tentang Arcobaleno. Bagian ini kusimpan di paling akhir. Dan selain pelayan-pelayanku, hanya kau yang mengetahui ini. Aku. Memantau. Mereka." Penuh penekanan, penuh harapan.
Checkerface memang mengucapkan tiga kata tersebut dengan enteng. Tapi, semangat Ieyasu sudah tidak dapat ditutup-tutupi. Meskipun intuisinya mengatakan tidak, dia bersikeras bahwa Checkerface ada di pihaknya—sekalipun menentang intuisi adalah suatu hal sulit. Dia merasa diuntungkan dan buta dalam satu waktu. Tapi dari berbagai penjelasan soal kelemahan atau apapun itu, kecil kemungkinan bahwa Checkerface akan berbohong, mengingat tidak ada yang dapat membohongi Ieyasu—Checkerface sekalipun. "Boleh saya—"
"Tidak. Aku memantau dari kamar pribadi, dan kuharap kau menghargai privasiku. Terserah ingin mempercayainya atau tidak, tapi aku tahu bahwa seseorang dari mereka yang bernama Skull tengah menjaga markas di lapangan parkir. Kau dapat membuktikannya nanti. Jadi, aku akan—"
"Tunggu, tunggu. Maaf saya menyela, tapi, saya dapat membuktikannya?" Ieyasu mengulang ucapan pria yang lebih tua, meminta penjelasan.
"Aku kira tujuanmu kemari adalah meminta saranku?" Checkerface menjawabnya balik dengan pertanyaan sehingga Ieyasu bungkam dan kembali menjadi pendengar setia. Dengusan pria bertopeng itu terdengar jelas, sebelum melanjutkan, "jika memang ingin memberontak... aku rasa benar-benar memberontak bukan masalah?"
Mengerti arah pembicaraan Checkerface, Ieyasu menggeleng. Keras-keras. "Tidak beretika."
"Siapa yang peduli soal etika." Checkerface mengangkat bahu. "Bisa saja kau dihancurkan malam ini."
Dada Ieyasu seolah ditimpa bongkahan batu besar. Dia selalu menghindari cara kotor semacam menyerang markas secara langsung. Baik belum bersiap, atau bagaikan dalam amunisi lengkap seperti sekarang. "Tapi—"
"Kumpulkan anggotamu. Malam ini juga, karena tidak tahu apa yang terjadi besok. Aku sudah menceritakan soal kelemahan mereka dan anggota paling lemah—Luce—Arcobaleno, 'kan?" Checkerface terus mendesak.
"Saya tahu ucapan kali ini lancang. Tapi bukankah ucapan Anda justru tidak mencerminkan ilmuwan yang sebenarnya?" Ieyasu melipat kedua lengan di depan dada. Mengambil posisi bersandar senyaman mungkin. Karena dia tahu malam akan panjang. Berusaha mendapat penjelasan logis dari saran Checkerface yang tiba-tiba.
"Begitu? Apa kautahu, bahwa salah seorang dari mereka—Reborn—dapat membawa senjata dan menglabui siapapun dalam debat? Atau, atau, Verde. Si genius yang benar-benar licik dan lihai dalam segala jenis racun? Ah, mereka pernah mengundangmu makan malam?"
Ieyasu menggeleng.
"Mungkin belum. Verde tengah mengembangkan suatu racun. Aku sendiri tidak dapat memastikan jenis apa, tapi salah seorang informanku bilang bahwa racun tersebut cukup berbahaya. Melukai kerongkonganmu dalam hitungan detik, kalau aku tidak salah dengar." Checkerface mengambil napas seraya mengangkat bahu. "Begitulah. Aku hanya memberimu saran agar kau tidak salah langkah. Seorang Sawada Ieyasu tidak boleh mati konyol karena delapan orang berakal bulus."
Sungguh persuasif. Ieyasu menggigit bibir bawah.
"Anggotamu ada enam. Tujuh, ditambah kau. Aku akan meminjamkanmu ponselku—dan memang hanya satu. Mungkin anggotamu dapat—"
"Tuan."
"—mengalihkan perhatian di halaman depan sampai gerbang belakang. Memang agak sulit untuk masuk tanpa tanda pengenal. Tapi jika kawan-kawanmu dapat menghabisi beberapa dari mereka, mungkin kalian bisa lebih—"
"Tuan!"
Hening.
Tidak ada yang berkata-kata.
Bahkan Ieyasu yang menyela kalimat Checkerface, terdiam.
Ieyasu hanya bingung.
"Ieyasu," panggil Checkerface. Dengan nada bujukkan yang terdengar jelas sekali. "Jangan pernah merasa bahwa kau mengerjakannya sendirian. Aku tidak dapat membantu secara langsung, kautahu. Kondisi fisikku sudah melemah seiring berjalannya waktu."
"Saya tidak yakin," kata Ieyasu, kali ini intuisinya tidak mengatakan apapun. Dia berada di hadapan jalan buntu. Bam.
Checkerface menggeleng. "Keragu-raguanmu terlampau memuakkan. Kau belum percaya sepenuhnya kepadaku? Oh, oh, baiklah. Aku akan ikut dan menunjukkan arah. Tapi mungkin, aku tidak akan keluar dari mobilmu." Dia menunjuk tongkat yang dikenakan dengan jari telunjuk sebelah kanan.
"Baiklah," ucap Ieyasu, tanpa berpikir dua kali. Dia memang sudah berencana untuk memberontak dari hari-hari sebelumnya. Meskipun tidak punya nyali untuk melakukan hal semacam itu dengan cara kotor. Tapi, dia ingat bahwa Daemon pernah mengusulkan ide semacam ini pula dan disetujui oleh anggota lain, kecuali Knuckle, Ugetsu, dan dirinya. Agak malu, untuk menyuarakan ide yang pernah dia tolak mentah-mentah. Tapi, Checkerface tidak pernah sembarangan dalam memberi saran. Ayahnya bilang, saran Checkerface sembilan puluh persen tepat. Jadi tidak ada yang harus dirugikan.
Seharusnya.
Terlalu terburu-buru bukanlah masalah besar jika keberhasilan menunggu di depan mata, 'kan?
"Bagus." Senyum Checkerface jauh lebih mengerikan dibanding saat-saat sebelumnya. Seperti puas, dan ada beberapa hal yang tidak terdefinisi di dalamnya. Ieyasu memang tertekan, tapi perlu diakuinya bahwa dia merasa puas. Bahkan ketika Checkerface mengulang rencananya dari awal. Atau ketika pria itu membantunya menghubungi anggota-anggota Ieyasu. Sampai mendapat persetujuan dari seluruh anggota—Knuckle dan Ugetsu menggunakan paksaan—dan Ieyasu merasa kelewat senang. Seperti belum pernah merasakan kesenangan semacam ini. Karena dengan rasa senang tersebut, dia merasa tidak dapat melihat. Tidak dapat mendengar. Tidak dapat memikirkan hal lain selain rencana mereka, malam ini.
Bahkan, dia tidak ingat apapun yang dikatakan Checkerface setelah perbincangan tersebut, selain, "aku menunggu kehancuran salah satu pihak."
.
d i s t o r s i
.
Malam ini, helaan napas Ieyasu terdengar lebih berarti. Ketukkan buku-buku jemari Checkerface yang duduk di samping kursi kemudi seperti memiliki makna. Jumlah injakkan rem sungguh disayangkan jika tidak dihitung baik-baik. Bahkan bulan meminjam cahaya terlalu banyak. Sampai silau datang menyergap, tidak peduli dari sisi mana Ieyasu menghadap. Dari awal perjalanan, sampai tempat tersembunyi di balik markas para Arcobaleno. Tidak pernah dia terganggu dengan cahaya bulan, namun kali ini Ieyasu kesal. Seolah mereka terlihat lebih terang untuk menyaksikan malam yang panjang. Bertaruh untuk melihat sisi mana yang hancur dan berjaya.
Sekali lagi, Ieyasu tidak mengingat apapun pada malam itu. Seolah tubuhnya digerakkan oleh sesuatu sekalipun kesadaran didapat penuh. Dia tahu bahwa dia berbincang dengan anggota-anggotanya untuk membahas rencana mereka—kali ini tanpa Checkerface. Namun hal-hal yang diucapkannya seolah meluncur begitu saja. Tanpa perlu pemikiran jelas. Tanpa perlu beberapa hal yang ditambahkan. Kemantapan hati. Itu saja.
Sampai dia melirik anggota-anggotanya yang mulai maju. Bertempur tanpa ingat nama-nama mereka. Menyaksikan gemeratak tulang tanpa tahu milik siapa lolongan penuh penderitaan tersebut. Dia hanya melihat bahwa semua tidak berjalan terlalu mulus. Bahkan Checkerface sudah tidak ada di dalam mobil sesuai perjanjian—namun Ieyasu maju dengan perasaan kecewa dan tertipu. Menggenggam ponsel pengenal kuat-kuat dan bersumpah akan menghabisi Checkerface jika kali ini dia berhasil. Menggali motif pria tua tersebut jika masih punya kesempatan.
Dia merasa buta.
Terus masuk tanpa beban dan berbincang seperti robot pintar yang menahan air mata—tanpa tahu mengapa dia begitu ingin menangis. Detik-detik berjalan terlalu lambat. Tapi dia berbincang, berbincang, berbincang. Bersama Luce yang terlihat seperti dewi anggun paling angkuh.
Dia tidak ingat apapun selain keberadaan gas tanpa aroma yang mengganggu pernapasannya.
Hanya gelap.
.
pada kenyataannya, hitam adalah putih
.selesai.
.
a/n
Halo! Saya Bergenyx. Sekali lagi, Happy Science (Fan)Fiction Day!
Kolaborasi pertama saya (pribadi) yay. Uh-huh, Profe Fest emang bilang kalau saya bakal ngepublish part ini tanggal 2 Januari. Tapi begitu tau kalau deadline diundur—jadi males-malesan duh maafkan. Niat awal sih bisa publish paling lama tanggal lima. Tapi malah pas-pasan sama deadline cries.
Sedikit penjelasan, part saya ini sudut pandangnya Ieyasu sebelum pemberontakkan dimulai (kebalikan dari Profe Fest yang menceritakan sudut pandang Arcobaleno). Gimana mendadaknya pemberontakkan itu, kenapa mereka bisa memberontak padahal awalnya adem ayem, yah gitu deh. Bagian tempur emang nggak saya jelasin karena udah dijabarkan sama Profe Fest. Makanya saya buat bagian yang memang belum ada aja.
Ini endingnya tetep sama, kok. Ieyasu dkk tetep kalah.
Mohon maaf kalau ini ngerush dan agak membingungkan. Barangkali mau tanya-tanya, boleh (banget) kirim PM.
Terima kasih. Ada review, barangkali? :-)
