Chapter 2 langsung publish!

Disclaimer : Fairy Tail punya Hiro Mashima! Tapi kalau cerita ini punya saya!

Warning : Typos (Sudah pasti!), pairing GrayxJuvia, humor garing, gak kerasa, dsb.

Happy read and...

RnR, minna!


High School

Chapter 2


Keesokan harinya… Juvia sudah berdandan sampai lebih dari setengah jam! Ia bingung, ketika memakai benda yang berbentuk bubuk krem itu. Saat memakainya terlalu tebal.

"Hua! Juvia bingung!"ujar Juvia bingung berat.

"Juvia terlambat!"Juvia melihat jam yang sudah berada pada pukul 06.55 AM. Dengan segenap jiwa, ia menghapus bedak yang menempel diwajahnya. Dan memakainya dengan tipis kali ini. Buru-buru, ia mengambil tas dan segera pergi ke sekolahnya. Fairy Tail High School.

Dengan cepat, gadis yang penampilannya berubah sekitar 18 jam yang lalu berlari dengan cepat. Berharap gerbang belum ditutup. Keringatnya mengucur dengan slow motion.

"Ckiit!"Juvia ngerem mendadak ketika sudah di gerbang yang ditutup.

'Gawat! Juvia telat!'teriak Juvia dalam hati Ini karena perdebatan dirinya dengan bedak yang diberikan Lisanna.

"Kau juga terlambat?!"tampak dari belakang seorang pemuda menyusul. Juvia menolehkan wajahnya, dan kaget bahwa itu adalah Gray Fullbuster. Tiba-tiba Gray berhenti dan melongo.

"Permisi, apakah aku pernah mengenalmu?"ujar Gray dengan tampang watados. Juvia cengo.

"Ini Juvia! Juvia Loxar!"ucap Juvia.

'Wow…'batin Gray sedikit tak percaya.

"Ah, nanti saja dipermasalahkan! Sekarang bagaimana caranya kita bisa masuk ke sekolah dengan aman tanpa sepengetahuan Makarov-sensei."

"Aha! Lewat pagar belakang sekolah! Pagar itu pendek, tidak seperti pagar ini yang tingginya minta ampun…"ujar Gray. Juvia hanya ber-blushing ria. Mereka pun cepat-cepat menuju pagar belakang yang berkarat.

"B-bagaimana Juvia naik?"tanya Juvia,

"Naik saja ke punggungku… Berharap pak tua pendek itu tidak tau."kata Gray. Di tempat lain, Makarov tiba-tiba bersin.

'Ada yang membicarakanku 'kah?'batinnya pak tua yang 'memang' pendek itu.

"Uapah?! Juvia 'kan pakai rok!"tanpa menghiraukan, Gray memutar bola matanya dan segera mengangkat Juvia hingga gadis itu dapat mencapai atas.

"Whoa!"Juvia jatuh ke sebelah tembok. Sedangkan Gray langsung memanjat tembok dengan cekatan.

"Daijobu desuka?"tanya Gray kemudian menolong Juvia yang terduduk di tanah.

"Nah, sampai jumpa!"Gray buru-buru pergi. Padahal baru saja Juvia ingin mengucapkan terima kasih tetapi pemuda itu sudah pergi bagai ditelan bumi. Tanpa berharap lebih jauh, Juvia melaju ke kelas. Bahkan kecepatannya melebihi Valentino Rossi yang sedang balapan. Disisi yang lain, tiba-tiba Valentino Rossi tersandung semut. Begitu pula Juvia saat sampai di depan kelas.


"Juvia Lo…"

"Sreek!"dibukanya dengan cepat pintu geser itu.

"Gomenasai! Juvia terlambat!"kata Juvia sambil mengatur nafasnya. Pada saat itu siswa dikelas itu tercengang kaget kecuali Lisanna yang senyum-senyum gak jelas sampai dibilangin stress sama Natsu.

"Itu bukan Juvia!"protes gadis berambut scarlet itu dengan agak bingung.

"Masa sih ini Juvia?"Mavis saat itu juga bingung.

"Benarkah kau Juvia? Atau jangan-jangan hanya penyamar yang mau menyelidiki kelas ini?"tanya Mavis curiga, mata hijau kelamnya menatap Juvia dengan lekat dan teliti sampai matanya hampir keluar(?).

"Ini Juvia! Juvia Loxar!"seru Juvia,

"Brakk!"suara pukulan di meja terdengar dengan kencang. Menghentikan bisikan dan suara-suara di kelas itu. Suasana hening sejanak, bahkan Mavis Vermillion terdiam.

"Dia adalah Juvia Loxar yang asli! Bukan yang dipajang-pajang di toko!"seru Lisanna. Natsu yang disampingnya tercengang sambil jawsdrop.

"Lihat matanya! Lihat wajahnya! Lihat kulitnya!"teriak Lisanna.

"Sebutkan saja semuanya!"ucap Natsu. Lisanna langsung mendeathglare Natsu. Pemuda berambut pink muda tapi bukan banci itu langsung bernyali ciut. Siswa laki-laki malah melihat Juvia dengan tampang 'Aku jatuh cinta'. Kecuali Natsu yang setia dengan Lisanna. Padahal dalam hati ia meruntuk ingin juga(Kurang ajar!).

"Um… Baik… Silahkan duduk Juvia dan yang lain mohon tenang sebentar…"ujar Mavis. Lalu datanglah naga yang menghancurkan Tenroujima. Lho? Nyambung kemana?!

"Okeh-okeh! Tiga hari lagi sekolah kita akan mengadakan festival…"jelas Mavis,

"Lho, bukannya kita mengadakan festival ketika mau naik kelas?"tanya Erza,

"Biarin aja! Masalah buat loh?!"teriak Mavis seenak jidat. Para siswa jawsdrop.

"Ehem! Musim panas sudah ada pada puncaknya! Dan mungkin tak ada salahnya mengadakan festival! Tetapi sebelum mengadakan festival, besok diadakan tes!"banyak siswa mendengus kesal bahkan ada yang bunuh diri(?).

"Mavis-sensei, ada yang jatuh dari lantai 4…"lapor seorang murid,

"Biarin aja! Yang jatuh 'kan dia bukan Mavis!"perkataan itu nyaris membuat hati para siswa mencelos.

"Untuk apa tesnya?"tanya pemuda yang mempunyai mata sharingan.

"Woi! Ini bukan Naruto!"teriak semua siswa sampai kaca gedung pecah.

"Aduh… Siapa yang mau ganti rugi?"Mavis menghela nafas lelah.

"Okeh, tu de poin aja deh… Tes akan diadakan 24 jam mendatang! Jadi persiapkan diri kalian! Tes ini untuk mengelompokkan mana yang cerdas yang bedo!"ucap Mavis dengan tampang (sok) serius.

"Baik! Buka buku paket halaman 102!"dan akhirnya setelah pertengkaran heboh itu, pelajaran dimulai dengan tenang.


Beberapa jam kemudian, bel istirahat berbunyi.

"Akhirnya! Bel berbunyi!"Natsu langsung nge-dance di depan kelas.

"Helep mi!"Juvia lari terbirit-birit sampai nabrak tembok. Dia dikejar segerombolan siswa laki-laki yang terpesona olehnya.

"Wuaa! Berhenti mengejar Juvia!"tiba-tiba dua pemuda dengan wajah oke punya, datang membela kebenaran. Ce ilah! (Background: Bunga-bunga).

"Lyon dan Gray!"Juvia merasa terselamatkan.

"Um… Kau baik-baik saja?"tanya Lyon. Juvia mengangguk. Gray menghela nafasnya lega dan pergi ke sebuah tempat.

'Gray menjauh…'batin Juvia sedih. Juvia berjalan entah kemana karena lupa, berharap saja ia tidak tersesat sampai Indonesia.

"Kenapa ya?"gumam Juvia dengan ekspresi sedih. Juvia tak menyadari kalau dirinya sampai di kelas lagi. Sedangkan Gray langsung menarik paksa Natsu yang lagi asik makan nasi goreng super pedes di empang eh! Di kantin.

"Opo seh?!"tanya Natsu dengan logat Jawa yang entah ia dapat darimana.

"Aku mau curhat."ujar Gray dengan tampang (sok) serius. Akhirnya mereka menuju atap sekolah.

"So, apa yang akan kau curhatkan kepadaku?"tanya pemuda berambut pink itu tu de poin.

"A-aku… Kau yakin bisa menjaga rahasia?"tanya Gray dengan terbata-bata,

"Semoga aja deh…"ucap Natsu sambil mengacungkan jempol, membuat Gray malah tidak yakin kepada sahabat keras kepalanya itu. Ya iyalah kepala itu keras!

"B-begini… Aku menyukai sesorang! Untuk pertama kalinya! Bayangkan rasanya seperti saat kau jatuh cinta kepada Lisanna Strauss!"kata Gray menggebu-gebu. Natsu malah tertawa keras, membuat Gray segera menampar Natsu layaknya seperti yang ada di sinetron.

"Okeh! Okeh! Jadi kau menyukai siapa?"tanya Natsu, mengelus pipi merah akibat tamparan Gray yang memang rasanya membuat wajahnya mati rasa.

"Aku menyukai…"

"Teet! Teet! Teet!"sialnya bel berbunyi.

"Baik! Waktu curhat habis! Aku harus pergi, bye!"Natsu segera pergi. Gray mendengus kesal. Akhirnya ia pergi dari tempat itu, menuju kelas. Saat turun dari tangga, pemuda bermata onyx dan berambut hitam kebiruan itu berpapasan dengan Erza.

"Yo, Iinchou…"sapa Gray kepada gadis berwatak tegas itu. Wajah Erza tiba-tiba berubah menjadi horror, auranya berubah menjadi hitam keunguan.

"Cepat masuk kelas!"seru Erza Scarlet kemudian berjalan dengan cepat ke kelasnya.

"Ada apa dengan cewek monster itu?"ejeknya. Sebenarnya mungkin itu julukan yang pantas untuk seorang Erza Scarlet, karena ia pernah menendang Natsu hingga kepalanya menancap di tembok.


"Oke! Siapa yang bisa menjawab soal ini?"tanya seorang pria yang berprofesi sebagai guru itu di depan kelas.

"Saya bisa, Macao-sensei!"seru Natsu. Semua pasang mata di kelas, tertuju kepada pemuda itu.

"Umm…. Aku tak begitu yakin…"Macao tersenyum kecil, Natsu langsung meruntuk dalam hati. Terasa sesak dihati pemuda itu sebenarnya. Woi! Natsu gak jatuh cinta sama Macao kalee!

"Juvia rasa, Juvia bisa mengerjakannya!"Juvia yang daritadi diam dan menyimak langsung angkat kaki, eh angkat tangan.

"Ganbatte!"seru lisanna sambil mengacungkan jempol. Dengan malu-malu, Juvia maju, mengambil spidol dan menulis jawaban untuk soal matematika yang benar-benar sulit. Erza langsung mengubah tampang horornya menjadi bertambah buruk! What the hell is going on?

"Uugh… Juvia benar-benar populer…"geram Erza, oh ternyata gadis itu iri.

'Tapi aku tidak akan menghalanginya!'teriak Erza dalam hati, kalau sampai berteriak di kelas, nanti suara 'emas'nya bisa membuat orang-orang tepar.

"Juvia Loxar."ujar Macao dengan ekspresi tak menentu,

"Ha'i?!"Juvia langsung tegak,

"Jawabanmu betul! Omedeto!"seru Macao, semua murid tercengang. Yup, Juvia benar-benar bisa melakukannya. Sebenarnya Juvia dulu anti sosial juga tak mempunyai banyak teman sehingga ia lebih memilih di dalam rumah, dan mengisi waktunya dengan belajar.

"Kau boleh duduk."Macao mempersilahkan duduk. Dan proses belajar mengajar berlanjut.


Pulang sekolah, Gray menanti Juvia di gerbang sekolah. Juvia datang, dengan sekelompok manusia yang mengejarnya.

"Gray! Tolong!"teriak Juvia histeris,

"Woi! Setop euyy!"teriak Gray membuat yang mengejar Juvia mematung. Siapa murid yang tidak takut dengan anggota OSIS?

"Berhenti mengejar Juvia, dia lelah lari terus, tahu!"bentak Gray. Sedangkan Juvia terkapar di tanah habis kesandung kakinya Gray.

"Uh, sorry!"ujar Gray innocent, tak bersalah, pura-pura gak tau, dll. Akhirnya Juvia berdiri dengan tegak dan pulang ke rumahnya sendirian. Gadis bermata biru kelam itu mendengus kesal dan malu.

"Eeh! Tunggu!"Gray dengan cekatan menarik tangan Juvia.

"Ada apa?"tanya Juvia. Kami-sama! Hati Juvia sekarang sedang dilanda gempa sampai-sampai tangannya geter-geter.

"Eng-enggak apa-apa sih…"perkataaan Juvia barusan berhasil membuat Juvia sweatdrop diiringi jawsdrop.

'What the hell?!'batin Juvia nista.

"Err… Mau pulang bareng-bareng gak?"tanya Gray agak gugup.

"Ya, tentu!"ujar Juvia dengan semangat, tak lupa dengan merah-merah di pipinya. Mereka pun pulang bersama. Keadaan agak canggung, namun berubah drastis ketika ada gorilla lewat.

"Huaa! Gorilla! Pliss deh, emangnya ada gorilla di Magnolia?!"teriak Juvia dan Gray bersamaan, Ciee sehati nieh… Namun mereka tetap berdiri di tempat layaknya patung.

'Aku merasa seperti orang bodoh.'batin gorilla itu. Gorilla itu mencabut kepalanya. Mati dong? Tenang, cuma kostum kok! (Ditendang)

"Yare-yare, santai aja kale…"orang tersebut menampakkan wajahnya.

"K-kau adalah…"Gray melongo,

"Ah, tak perlu ditebak!"seru pemuda itu dengan senyumnya yang menawan,

"Kau Ichiya?! Gila! Ngapain kesini?!"tanya Gray shock,

"Mata-matai pasangan yang lagi bermesraan."Ichiya mengedipkan sebelah matanya dengan efek bling-bling, membuat Juvia hampir mau muntah.

"Eh? Kita enggak mesraan!"Gray merona tak karuan.

"Masa sih?"tanya Ichiya tidak yakin. Dua anak siswa dan siswi yang lokasinya berlambangkan Fairy Tail itu mengangguk cepat dengan efek malu-malu.

"Yaudah deh…"Ichiya kembali mengedipkan matanya dan pergi.

"Sumpah, gilak tu orang."Gray aja hampir mau BAB.

"Kalau begitu, kita berpisah disini ya. Sampai jumpa, err… Besok!"Gray buru-buru lari sampai hampir jatuh karena nginjek tali sepatunya.

'Haha!'Juvia tertawa nista dalam hati. Ternyata Juvia juga bisa mengejek, huahahaha!

"Aku harus pulang juga."ujar Juvia kemudian berjalan dengan riang ke rumahnya.


Humor garing? Maafkan sayaaaa! (Lebay)

Review para readers dan senpai adalah harapan Agdis untuk terus menulis!

Saran dan kritik diterima! Tapi jangan flame ya!