Gelap.
Dingin.
Pengap.
Oh, Tuhanku.
Jadi beginikah rasanya alam kubur?
Perlahan, Naruto mencoba membuka kelopak matanya yang lengket. Apa dia sudah mati?
Entahlah. Dia masih bisa bernafas tuh.
Atau jangan-jangan dia sudah berpindah ke alam lain?
Rasa nyeri dan berat seketika menyerang otaknya. Pandangannya kabur dan bergoyang. Naruto berkedip cepat, dan pemandangan samar yang semakin jelas pun tersuguh disana.
Asing.
Bingung.
Dia pun sadar tengah terbaring di alas yang keras dan dingin. Tangannya meraba dan selain keras, alas ini juga berdebu. Sempit. Karena di atas kepala si pirang, terdapat atap yang sama sekali tidak seperti atap. Coklat, senada dengan batu tempat ia tidur.
Apa sih ini?
Naruto masih mengedarkan pandangannya ke segala sudut, berkali-kali. Gelap. Hanya ada obor yang di gantungkan di sebelah lubang hitam besar, menyerupai lorong. Tak ada cahaya di ruang sempit yang tampak seperti gua ini. Naruto bahkan tak bisa memastikan apakah ini siang atau malam.
Tunggu.
Lho.
Lho. Lho. Lho?
Kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini!?
Kenapa ada obor segala!?
Naruto bangkit dari tidurnya. Menengok kanan, kiri, lalu kanan, dan kiri lagi. Panik.
Berkeringat.
Tidak ingat apapun.
Dia. Ada. Dimana?
Benar-benar alam kubur kah?
"GYAAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
Jus Tomat
Disclaimer : Naruto (c) Masashi Kishimoto
Story : Alice Amani Neverland
Rated : T
Warnings! : AU, SasuNaru/NaruSasu tergantung pandangan anda, parody, semi-fantasy, OOC, typo(s), EYD messed up dan kesalahan manusiawi lainnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#2 : Uchiha Sasuke
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sudah bangun" Sosok itu perlahan muncul dari kegelapan. Detak langkahnya menggema sempurna memenuhi sepi. "Kau berisik"
Naruto mengamati sepatu orang itu, lalu iris matanya bergerak naik sampai wajah itu terlihat.
Lagi, rasa takut luar biasa menghujam.
Kenapa tadi dia tidak mati sekalian saja sih?
"Sa-Sa-Sasuke. B-B-Ba-Bagaima-"
Dengusan malas si kulit pucat menghentikan ucapan Naruto yang terbata.
Naruto mundur secara refleks, tapi punggungnya tersudut di dinding batu yang juga dingin.
Gila.
APA-APAAN INI?
"Hittou. Dia sudah bangun ya?" Derapan langkah terdengar mendekat, dan satu per satu sosok asing memasuki ruang sempit itu dengan sedikit membungkuk saat ujung kepala mereka hampir menyentuh pintu.
Naruto diam-diam menghitung dalam hati. Ada tiga.. Ah, tidak. Ada empat orang termasuk Sasuke, berdiri mengitarinya dengan tatapan seribu arti.
Satu orang dengan rambut semerah bata, kelopak mata seperti panda dan coretan kanji pada dahi kirinya tampak tenang dengan tangan terlipat.
Disebelahnya, berdiri gadis yang juga berrambut merah hanya saja lebih cerah sedikit, dengan kacamata yang membingkai wajah cantiknya. Lalu, yang berdiri diantara gadis itu dan Sasuke, adalah seorang pemuda dengan rambut cokelat tua, mata yang tajam, dan simbol seperti taring berwarna merah tergambar di masing-masing pipinya. Dia sesekali terkekeh dan menggosok hidungnya.
Secara garis besar, tidak ada satupun diantara mereka yang tampak jelek.
Tanpa sadar Naruto melongo seperti orang tolol.
"Terus, bagaimana nih hittou? Semuanya sudah berkumpul, meminta kejelasan" Pemuda dengan tatto taring merah tadi tampaknya bicara pada Sasuke.
"Dan apa tindakan kita?" Timpal pemuda bermata panda masih dengan tangan terlipat.
Sasuke tampak berpikir.. Entahlah. Bagi Naruto, tampang seperti itu adalah tampang orang yang sedang berpikir.
"Aku sudah mengambil tindakan yang tepat. Aku tidak mengharapkan reaksinya akan seperti ini" Sasuke menunjuk-nunjuk Naruto.
Lho? Kenapa dia di tunjuk?
"Sasuke-sama, kami tidak bermaksud menyudutkanmu. Hanya saja.. Bisa di bayangkan bagaimana reaksi mereka nanti. Kita sudah susah payah bersembunyi. Pindah tempat lagi juga tidak mungkin selama anak ini masih hidup dan tahu tentang kita" Sekarang gadis berkacamata ikut-ikutan menunjuk Naruto.
Ciah. Sasuke di panggil dengan imbuhan 'sama'?
"Dengar. Aku bisa pikirkan solusi" Sasuke mendelik satu per satu ke arah mereka. "Kita urus Naruto dulu"
Urus?
Apa maksudnya 'urus'?
Apa mereka akan membunuh Naruto sekarang?
Naruto menelan ludah dan semakin mundur walaupun itu sia-sia.
"Aku Kiba" Pemuda dengan tatto taring itu mendekat satu langkah dan mencondongkan badannya ke arah Naruto. "Sekarang ceritakan padaku apa saja yang kau ingat tentang kejadian tiga hari yang lalu"
"Hah?" Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Kejadian itu loh. Kejadian tentang Sasuke-sama"
"He?" Hidungnya melebar bingung. Kejadian tiga hari lalu tentang Sasuke? Yang mana sih?
"Kiba, dia itu bodoh. Jelaskan lebih detail lagi" Timpal Sasuke. Hah?
Bodoh?
Sejak kapan Sasuke BISA BICARA dan mengejek Naruto bodoh?
"Teme! Sialan kau! Kau yang membawaku ke tempat aneh tanpa penjelasan dan memanggilku bodoh?"
"JANGAN MENGHINA HITTOU DENGAN KATA-KATA KASAR, BOCAH!" Bentak Kiba yang lantangnya melebihi suara panci jatuh.
Astaga. Sebegitu 'tinggi' kah kedudukan manusia miskin ekspresi bernama Sasuke ini?
Naruto mingkem seketika.
"Kiba" Sasuke menegur pelan. "Jelaskan saja"
Pemuda yang ternyata bernama Kiba itu lalu mendengus sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kau pingsan selama tiga hari dan-"
"HAH TIGA HARI!?" Jerit Naruto memotong percakapan. Perasaan baru tadi siang dia mengurung diri di ruang kesehatan dan Kiba bilang ia sudah pingsan selama itu?
"IYA TIGA HARI" Tegas Kiba. "Sebelum pingsan, apa saja yang kau ingat?"
Naruto lalu mencoba memutar ingatannya.
Dia diam, dan berpikir keras dengan kepala yang sedikit pusing.
"Aku melihat Sasuke membunuh Kurenai-sensei di toilet wanita.." Pandangan Naruto mengawang saat kilasan kejadian itu mulai terulang di kepalanya. "Tapi saat pulang, aku melihat Kurenai-sensei baik-baik saja. Aku takut dan pulang lewat jalan pintas di belakang sekolah, lalu.."
Samar.
Naruto mencoba mengingatnya, tapi rasanya sulit.
Samar dan tidak jelas seperti mimpi.
"Lalu?" Tuntut Kiba karena Naruto berhenti cukup lama disana.
Ah, selanjutnya apa ya?
"Sasuke datang, dan.." Mendadak pelipis Naruto terasa nyeri. Dia memijitnya pelan. Kondisi kepalanya benar-benar tidak baik sekarang. Dan dia dipaksa mengingat sesuatu yang samar. Begitu samar dan..
'GYAAAAAAAA!' Naruto menjerit, menggantikan senyapnya hutan dengan suara kesakitan. Pandangannya menggelap dan ia pun jatuh di rerumputan dingin.
Sasuke berdiri di sampingnya, memandangnya dan berniat berlalu sebelum Naruto mencengkram pergelangan kaki pemuda pucat itu.
'Kau ini.. Sebetulnya apa?' Katanya dengan nafas terengah 'Kau bisa membunuh orang dan menghidupkannya lagi, huh?"
Sasuke menoleh. Kaget. Dan dia pun mendekat, berjongkok di samping si pirang yang masih sadar meskipun darah sudah membanjiri wajah dan lehernya.
Sasuke tidak mengerti.
Bagaimana bisa Naruto tidak.. Lupa?
'Gagal?' Gumam Sasuke sebelum melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
'GYAAAAAA!'
"Aku ingat!" Naruto mengedipkan matanya. "Sasuke menggigit tengkukku. Tapi aku tidak mati. Dia terus melakukan hal yang sama setiap aku tampak sadar dan tidak.. Mati"
Ya.
Bagaimana bisa Naruto tidak mati sementara dia yakin itu sangat menyakitkan.
"Berapa kali Sasuke-sama menggigitmu?"
"Aku.." Naruto meraba tengkuknya sendiri. Dan.. Dia tidak merasakan ada bekas apapun disana. "Aku tidak menghitungnya"
Apa artinya semua ini sih?
DAN MEREKA INI SIAPA?
"Kenapa bisa begitu ya?" Kiba melipat tangannya, alisnya bertaut bingung. "Ini sangat aneh"
"Dan sangat berbahaya" Timpal pemuda bermata panda yang di setujui anggukan mantap dari gadis di sebelahnya.
"Kau seharusnya lupa, Naruto" Kiba mendecak kesal sambil mengetuk-ngetuk sepatunya.
"Lupa? Tunggu.. Ini maksudnya bagaimana sih?" Naruto mulai frustasi. "Bisa kalian jelaskan kalian ini apa?"
Lalu mereka memandang satu sama lain secara bergantian. Ragu-ragu. Sementara Sasuke cuma mendengus malas.
"Sasuke-sama?"
"Ceritakan saja. Tidak ada gunanya kita sembunyikan lagi"
"Uh" Kiba tampak gelisah sebelum mendekat lagi ke arah Naruto dan berkata. "Kami ini Habblut, Naruto"
"Hab-apa?"
"Habblut. Sebutan untuk vampir setengah manusia"
"HAH!?" Naruto membulatkan matanya dramatis. Masa sih? MASA SIH?
Sekali lagi, MASA SIH!?
Masa sih di dunia nyata ada vampir?
Tidak lucu. Ini bukan film atau novel dan ini tidak lucu. Absurd. Rasanya Naruto ingin menampar dirinya sendiri dengan pemanggang roti di rumah.
"Begini. Kami tidak berbeda denganmu. Hanya saja, kami butuh darah untuk asupan wajib. Seperti manusia yang membutuhkan air" Terang Kiba.
Naruto masih melongo.
"Dan karena kami habblut, kami mempunyai porsi setengah dari para rein yang akan menggigitmu sampai darahmu habis. Seperti donor darah, kau tidak akan rugi apa-apa karena kami hanya perlu sedikit" Gadis itu menambahkan, dan membuat gestur 'sedikit' dengan telunjuk dan jempolnya yang ia himpitkan.
Jadi.. Mungkin itu sebabnya ia dan Kurenai masih hidup.
"Lalu.. Yang dimaksud dengan lupa itu bagaimana?" Desak Naruto, belum puas akan penjelasan Kiba.
"Kami punya kuasa untuk menghapus ingatan orang yang kami gigit. Itulah sebabnya keberadaan kami aman. Sampai saat ini" Si mata panda ikut memberi penjelasan.
Ah, jadi itu sebabnya Kurenai tidak ingat..
'Anda.. Tidak bertemu Sasuke?'
'Sasuke? Tidak, aku tidak bertemu dengannya'
Oh.
OH, Ternyata begitu.
Ternyata semua se ANEH ini ya.
Gila.
"Sekarang Naruto sudah tahu. Kita harus menemui mereka" Pemuda bermata panda itu lalu beranjak keluar, di ikuti yang lainnya sampai Sasuke menjadi yang terakhir dari urutan.
"O-Oi tunggu! Sasuke!" Naruto yang masih di landa penasaran akhirnya turun dari batu besar tempat ia duduk dan mulai berjalan menyamakan langkah Sasuke.
Mereka berjalan menelusuri lorong dengan obor yang Kiba pegang di depan sana.
Sesekali Naruto kaget saat menapaki permukaan yang lembab dan air menggenang.
"Ini tempat apa sih, Sasuke?"
"Tempat tinggal kami"
"Lah? Tempat tinggal? Di tempat suram, gelap, dingin begini?"
"Apa yang kau harapkan, dobe?" Sasuke tertawa kecil. "Rumah kaca? Tubuh berkilauan?"
"Yah" Naruto memutar bola matanya. "Setidaknya begitu yang kudengar"
"Ini bukan novel remaja, Naruto. Tidak ada kisah yang di permanis disini. Faktanya, kami lemah pada cahaya matahari. Untung saja aku cuma habblut jadi aku bisa bertahan walaupun susah"
"He? Jadi itu sebabnya di sekolah kau selalu.."
Sasuke mengangguk singkat sebelum Naruto selesai bicara.
Ah, ternyata Sasuke tidak bisu.
Dia tampak berbicara dengan santai di tempat ini.
Oh tentu saja. Disini tidak ada sinar matahari.
Dan entah kenapa, rasa takut Naruto akan sosok Sasuke mendadak hilang.
Dia merasa.. Lega.
Luar biasa lega.
Tak berselang lama, lorong panjang ini pun menemui ujung.
Sebuah ruangan yang juga gelap. Hanya saja, lebih luas.
Dengan langit-langit yang tinggi dan lampu kristal besar, menggantung tak menyala.
Sarang laba-laba mempertegas bahwa bangunan ini sudah tua.
Rapuh. Banyak pilar kayu yang tampak tua dan basah. Juga jendela-jendela dengan kaca yang kusam. Kotor. Bahkan sama sekali tidak tampak seperti kaca.
Lantainya pun masih tergenang tanah dan air.
Bentuknya seperti gereja.
Atau.. Bekas gereja.
Karena disana ada banyak kursi yang tatanannya mirip dengan gereja.
Kursi-kursi itu tentu tidak kosong. Ada belasan orang yang duduk disana. Kelihatannya usia mereka berbeda-beda.
Dan Naruto menyimpulkan bahwa mereka..
Semuanya habblut.
Sasuke berjalan menuju mimbar yang berdiri di depan, menjadi pusat kursi-kursi itu. Dia membiarkan Naruto mengekor di belakangnya.
Riuh terjadi pada kerumunan orang itu. Beberapa diantara mereka menunjuk-nunjuk Naruto.
"Dengar" Satu ucapan singkat dari Sasuke membuat suasana berubah telak. Senyap seperti saat ulangan fisika. "Semua yang terjadi disini adalah salahku. Aku akan pikirkan tindakan selanjutnya. Anak ini-"
Sasuke menunjuk Naruto dengan jempolnya.
"-melihatku saat sedang minum jus tomat"
Disana, Naruto mengerinyit aneh saat mendengar ucapan Sasuke. 'Hell, Sasuke. Aku tidak pernah melihatmu minum jus tomat'
"Aku mengejarnya dan berhasil. Tapi sayangnya, ingatannya tidak terhapus walaupun sudah kucoba berkali-kali" Tambah Sasuke yang di tanggapi riuh seketika.
"Hittou!" Salah seorang dari mereka pun berdiri. Gadis dengan rambut pirang di ikat menjadi empat bagian itu lalu berkata, "Kenapa tidak habiskan saja jus tomat anak itu?! Dia tahu terlalu banyak"
Beberapa diantara mereka mengangguk setuju dan..
BRAK!
Satu gebrakan keras dari Sasuke mengembalikan suasana menjadi sepi seperti semula.
"Temari. Kurasa kau tidak lupa bahwa kita tidak membunuh manusia karena kita juga manusia" Kata Sasuke dengan datar. "Walaupun setengah"
Hah?
Membunuh?
Bukannya mereka sedang membicarakan jus tomat ya?
Naruto pun menggaruk-garuk rambutnya seperti monyet frustasi.
"Bagaimana kalau dia memberi tahu akatsuki setelah ini? Kita akan tamat!" Seorang lainnya, dengan kulit hitam dan rambut putih pun ikut berdiri. "Dia itu manusia, hittou! Kita tidak bisa percaya begitu saja!"
Sasuke menoleh ke arah Naruto dengan tatapan mendelik.
"Kau kenal akatsuki, Naruto?"
"Hah?"
"Akatsuki" Ulang Sasuke.
"Akatsuki apa?"
Sasuke pun mengembalikan perhatian pada orang-orang di hadapannya.
"Lihat? Dia bahkan tidak tahu apa itu akatsuki"
Naruto celingukan bingung. Rasanya dia ingin berteriak di atas menara tokyo 'MAKSUDNYA APAAN SIH?'
Belum jelas rasa penasarannya soal jus tomat, rein, dan habblut, ada lagi akatsuki?
"Maaf, hittou. Tapi kenapa kita harus percaya padanya? Tidak ada jaminan dia tidak membahayakan hittou!"
"Tunggu!" Naruto menyela ucapan pemuda kulit hitam itu dengan lantang. Semua orang seketika menoleh ke arahnya, tak terkecuali Sasuke. "Membahayakan Sasuke? Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, tapi kenapa kalian berpikir aku akan membahayakan Sasuke? Dia kan temanku!"
Sasuke cukup takjub dengan kata 'teman'.
Mereka bahkan tak mengenal satu sama lain sampai insiden itu terjadi kan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ah, pertemuan Naruto dengan kelompok itu rasanya memang sangat aneh.
Kenapa mereka merasa terancam dan takut pada manusia?
Bukannya manusia yang err.. 'Di makan' oleh mereka?
Fakta-fakta yang Naruto dengar dari mereka tidak begitu jelas.
Satu, Sasuke dan teman-teman anehnya adalah manusia setengah vampir-atau vampir setengah manusia.
Dua, dia lemah terhadap sinar matahari. Sasuke bilang, para rein (darah murni) justru akan mati jika terpapar sinar matahari. Karena dia-em, mereka-berdarah campuran, efeknya hanya lemas dan sesak nafas. Tapi jika terpapar langsung dalam jangka waktu lama, bisa mematikan.
Tiga, Sasuke makan dan minum seperti manusia. Hanya saja, dia memerlukan darah segar untuk menjaganya tetap hidup.
Empat, Kurenai dan Naruto bukan korban pertama Sasuke. Hampir semua penghuni Konoha gakuen pernah 'menyumbangkan darah' untuk Sasuke.
Lima, Sasuke adalah makhluk nokturnal. Maksudnya, jam istirahat Sasuke adalah siang hari, selama matahari ada. Dan jam aktivitasnya adalah malam hari. Well, kebalikan dari manusia. Tapi Sasuke memaksakan diri di siang hari karena dia harus sekolah.
Enam, tidak ada yang 'indah' pada dunia mereka. Para rein adalah monster mengerikan yang asalnya dari neraka, dan menetap di bumi dengan wujud manusia selama ratusan tahun. Dan terkadang, mereka yang bodoh akan jatuh cinta pada manusia dan melahirkan para darah campuran, seperti Sasuke.
Dalam bahasa lain, vampir adalah iblis. Dan Sasuke, setengah iblis.
Setengah iblis yang.. Ganteng.
Tujuh, mereka lemah pada manusia yang hapal akan mantra-mantra atau kitab Tuhan.
Delapan, Jus tomat adalah sebutan lain untuk 'darah'.
Sembilan, Sasuke bisa menghilangkan ingatan orang yang ia gigit. Hanya para rein yang menghabiskan darah manusia sampai mati.
Sepuluh, Sasuke dan kelompoknya yang bernama 'The Chairott' adalah kelompok habblut yang tersisa di dunia ini. Habblut dan para rein lainnya, telah habis oleh katsuki.
Naruto sendiri belum mengerti apa dan siapa itu akatsuki.
Yang jelas, mulai detik itu juga Naruto tahu bahwa novel dan drama yang ia ikuti selama ini adalah bohong.
Mereka hanya mempermanis kisah dan mengindahkan sosok vampir yang sebenarnya iblis mengerikan dari neraka.
Naruto kembali menjalankan rutinitas sekolah seperti biasa setelah mereka mengijinkannya pulang.
Dan kebetulan, hari ini pelajaran olahraga Gai sensei menjadi jam pertama.
Pelajaran kesukaan Naruto, tapi..
"Aku tidak ikut" Naruto bersandar santai di kursinya sambil bersiul.
"Tumben" Komentar Shikamaru saat seisi kelas mulai bubar, menuju ruang ganti.
"Perutku sakit"
"Che. Padahal Gai sensei bilang hari ini penilaian basket"
"Basket?" Mata Naruto berbinar-binar mendengar subjek olahraga kesukaannya.
"Perutmu masih sakit?" Shikamaru menaik-turunkan alisnya dengan jahil. Tidak. Naruto tidak boleh tergiur. Dia sudah bertekad untuk tetap di kelas-
-bersama Sasuke.
"A-Aku tidak ikut!" Naruto memalingkan wajah memantapkan keputusannya.
"Ya sudah" Shikamaru pun melenggang meninggalkan Naruto yang dilema besar. Basket, oh, basket.
Setelah sepi, Naruto pun menghampiri Sasuke yang duduk tenang di bangkunya.
Dengan heboh, dia menarik sembarang kursi dan duduk sok akrab di sebelah si kulit pucat.
"Sasukeeee!" Naruto menepuk pundak Sasuke dengan keras.
Dan Sasuke membalasnya dengan lirikan sesaat. Diam.
"Kau tahu tidak? Aku dapat nilai ulangan biologi 4 loh. Padahal aku sudah nyontek milik Shikamaru" Naruto mendesah putus asa. "Kau remidi tidak? Masa nanti aku remidi sendirian?"
Lagi, Sasuke tidak menanggapinya. Tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar bicara.
"Kau baik-baik saja Sasuke?"
Sasuke mengangguk pelan. Tapi wajahnya tampak lemah seperti waktu itu.
"Ah, kau perlu jus tomat ya?" Naruto lalu melepas tiga kancing pertama seragamnya dengan sigap dan frontal. Dan dia menyodorkan leher jenjangnya dengan sangat ambigu "Ayo jangan sungkan. Disini tidak ada siapa-siapa"
Sungguh sangat ambigu.
"Tidak usah" Sasuke menelan ludah. Antara menahan diri dari rasa hausnya akan jus tomat dan pemandangan itu. Naruto benar-benar tidak peka, ya.
Apa dia tidak sadar kulit kecoklatan nan eksotisnya bisa meruntuhkan iman siapa saja?
"Kenapa? Aku tidak enak ya?" Naruto berkedip tanpa dosa.
Lelah dengan ke tidak pekaan Naruto, Sasuke mendaratkan satu jitakan telak di kepala si pirang itu.
DUK!
"Itte!"
"Hentikan tingkah absurdmu dobe" Desis Sasuke.
"Aku kan cuma berusaha membantumu dattebayo"
"Aku baik-baik saja" Tegas Sasuke dengan nafas berat. Menjitak Naruto serasa marathon dua belas kilometer tanpa sarapan terlebih dahulu. Sekedar bergerak saja akan sangat berat bagi Sasuke jika di lakukan siang-siang begini.
"Sial kau teme" Naruto menggosok-gosok puncak kepalanya yang cukup pegal.
"Kenapa kau tidak ikut olahraga?"
"He?" Naruto nyengir "Tidak kenapa-kenapa. Aku benci basket"
Sasuke tahu kok Naruto berbohong. Dia sempat menangkap ekspressi berbinar ala anak-anjing-yang-diberi-tulang saat Shikamaru bicara soal basket.
"Nah, Sasuke. Aku mau tanya"
"Apa?"
"Tentang akatsuki.." Naruto menurunkan volume bicaranya "Kenapa kalian sepertinya takut sekali? Akatsuki itu apa?"
"Mereka manusia, Naruto"
"Eh?"
"Sekelompok manusia" Ralat Sasuke "Mereka fanatik terhadap ajaran Tuhan dan tugas mereka adalah membunuh kami, para vampir. Sampai tidak tersisa satu pun"
"Tapi kan.. kau dan teman-temanmu itu setengah manusia? Dan tidak merugikan manusia?"
"Tetap saja kami keturunan setan" Lirih Sasuke.
"Jangan bilang begitu!" Naruto menggeser kursinya sehingga ia menghadap Sasuke sekarang "Kau bisa lawan mereka kan?"
"Biar ku ulang, Naruto. Jangan percaya dongeng. Tidak ada kekuatan super disini"
Naruto diam seketika.
"Aku hanya mewarisi mata ayahku. Dan mata ini hanya membuatku bisa melihat di dalam gelap"
"Jadi.. Ayahmu yang seorang rein?"
"Ya"
"Dan ibumu.."
"Manusia"
Hening lalu menyesap untuk sesaat.
"Jumlah kami.. Awalnya seratus empat puluh orang. Kami terus berpindah dan berlari dari akatsuki. Sampai.." Sasuke menarik nafas. "Sampai hanya tersisa dua belas orang"
"A-Apa yang terjadi?"
"Tentu saja, satu per satu dari kami berhasil terbunuh oleh akatsuki"
Gila.
Dari seratus empat puluh jadi dua belas? Segitu mengerikan kah akatsuki?
"Bagaimana bisa?"
Sasuke diam sebentar.
"Mereka terdiri dari sepuluh orang, Naruto. Sepuluh orang dengan kemampuan supranatural" Sasuke menjelaskan lagi. "Dan cukup dengan pisau perak yang sudah di lumuri bawang putih, kami akan terbakar habis hanya dalam satu goresan"
Mata Naruto terbelalak seketika.
Hanya dengan itu?
Jadi hanya dengan bawang putih dan perak?
Para habblut.. Se rapuh itu?
Mungkin Sasuke memang keturunan setan penghisap darah atau apapun itu. Tapi memangnya Sasuke punya pilihan?
Dia hanya terlahir seperti itu dan bertahan hidup.
Sial akatsuki.
Dan bagi Naruto, Sasuke juga manusia. Walaupun cuma setengah.
"Sasuke. Kau tenang saja!" Naruto menggegap pundak Sasuke dengan tangan kanannya "Aku akan melindungimu. Aku akan melindungi kalian semua dari akatsuki!"
Sasuke lagi-lagi dibuat takjub dalam diam.
Mungkin ucapan Naruto begitu naif. Tapi meskipun naif, rasanya hangat.
Hangat sekali.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
A/N : Nahhhh chap dua akhirnya di update. Maaf ya, agak lama. Mungkin sudah banyak yang menduga. Tapi dari dulu saya memang selalu pengin nulis tentang dunia vampir xD wkwkwkwk.
Jangan lupa reviewnya ya, Minna-chan ^w^
