Contract © Kaori Suruga

Kuroshitsuji © Yana Toboso

Warning! OOC, YAOI, TYPO

[ Don't like, don't read ]

Chapter II

Make a Contract

.

.

[K]

—Ciel's POV—

Aku berjalan lunglai menyusuri jalanan Weston University. Biasanya aku pasti akan berjalan tanpa menarik perhatian. Tapi, sekarang berbeda. Semua mata orang-orang yang kutemui langsung menatap kearahku —tepatnya menatap iblis rupawan itu berjalan di sisiku dengan santai walau begitu banyak pasang mata yang menatap kearahnya yang terlihat menusuk.

Aku bukanlah anak yang menarik. Lihat saja, baju yang kukenakkan hanya sebuah t-shirt lusuh berwarna hitam dan jins yang sederhana sementara sosok di sebelahku ini mengenakan setelan serba hitam. jubah hitam panjang tanpa lengan dengan celana hitam senada berhiaskan rantai serta sepatu boot hitam. Bila diibaratkan aku dan dia layaknya bumi dan langit.

Dan kenapa dia bisa bersamaku? Ceritanya panjang.

[ Flashback ]

Bayangan hitam itu masih saja sibuk berloncatan dari puncak gedung satu ke gedung lainnya. bagusnya, malam ini bulan purnama muncul dengan sinar yang sama sekali tak terhalang awan. Sangat membantu dalam menerangi gedung-gedung tempat sang iblis berpijak dan membantu menenangkan jantung Ciel yang berdetak tak karuan —takut jika Sebastian terpeleset atau yang lainnya ketika berpijak dan untungnya hal itu tidak mungkin terjadi karena Sebastian memiliki keseimbangan yang sempurna.

Sementara Sebastian sibuk, Ciel menyempatkan dirinya melirik si iblis yang tengah menggendongnya bak pengantin baru tersebut. Matanya menyusuri garis-garis wajah yang terlalu sempurna di depannya dan iris merah yang menyita perhatiannya kini berbalik menatapnya.

"Ada apa?" Tanya Sebastian yang kini meloncat sambil menatap Ciel.

Ciel sontak bergidik ngeri melihat orang yang sedang melakukan hal ekstrim tapi tak memasang mata mengawasi langkahnya. "Tolong fokus saja ke depan!" Seru Ciel memperingatkan.

"As your wish, master."

Tak berselang lama karena kecepatannya, Sebastian menghentikan langkahnya di sebuah bangunan berupa apartemen tiga lantai. Gedung yang unik tapi terlihat sekali bahwa gedung itu sudah tidak berpenghuni selama bertahun-tahun.

Sembari menggendong Ciel dengan santainya Sebastian melangkah memasuki sebuah pintu yang ada di hadapan mereka. Bukan pintu lantai satu tapi lantai 10. Ciel menatap ngeri ketika matanya tepat menatap sisi beranda suram itu. Pembatas beranda itu sudah mulai lapuk dan beberapa terali besinya berkarat. Sementara itu, angin tak henti-hentinya menyambar tubuh Ciel dan Sebastian dengan kekuatan yang cukup untuk menghempaskan tubuh Ciel yang ringan ke sisi beranda lain dan terima kasih untuk Sebastian yang kuat merangkulnya sehingga Ciel tak goyah sedikit pun.

Mereka kini sudah di dalam gedung tua itu. Ternyata di bagian dalam tak begitu buruk. Lihat saja, temboknya masih begitu mulus. Bahkan ada beberapa sofa dengan penutup, sepertinya bisa digunakan. Ada juga beberapa lukisan aneh serta vas bergaya klasik. Ruangan bernuansa Eropa sepertinya.

Ciel yang sedari tadi sibuk memperhatikan sekelilingnya kini tubuhnya mendarat mulus di sofa putih yang sudah terbuka penutupnya. Kini posisi Ciel terduduk dengan sikap "anak manis". Raut wajahnya terlihat tegang. Sementara Sebastian duduk di seberangnya.

"Hng, Sebastian-san?"

Ketika Ciel menatap Sebastian ternyata Sebastian sudah menatapnya lebih dulu. "Ada apa?" Balas Sebastian datar.

Ciel hanya menggeliat risih di sofa dan kembali membenamkan matanya ke dasar lantai, "U-untuk apa kita disini?"

"Untuk membuat kontrak denganku."

"Err, bisa kau jelaskan tentang kontrak yang kau maksudkan itu?" Balas Ciel yang lebih terlihat seperti berbisik.

"Menjelaskan? Bukankah semua itu sudah termuat di buku yang kau gunakan untuk memanggilku?"

Sebastian memandang Ciel dengan irisnya yang berkilat dari cahaya lampu ciptaan sihir Sebastian dan Ciel hanya tetap bisa menunduk. Takut untuk balas menatap tentunya.

"Di buku itu hanya ada gambar pentagram serta mantra. Selebihnya, err sama sekali tidak ada penjelasan…" Lanjut Ciel.

"Baiklah akan aku jelaskan."

Sebastian tiba-tiba bangkit lalu bergerak ke tengah ruangan dan memposisikan dirinya di depan Ciel. Seperti seorang guru yang hendak menjelaskan pada muridnya.

Sebastian menggerakkan jarinya di udara kemudian terlihat cahaya menyembur dari ujung jemarinya. Sesuai dengan arah gerak pemiliknya, jemari itu membentuk sebuah gambaran yang bersinar dan udara sebagai media tulisnya.

Ciel memandangnya dengan takjub. Pentagram lima bintang kini terpampang di depannya dan terlihat sedikit bergoyang. Ah tentu itu terjadi, bagaimana pun medianya adalah udara.

Tak lama kemudian Sebastian menghentikan jemarinya dan cahaya itu pun lenyap. "Akan kumulai dan perhatikan karena aku hanya akan menjelaskannya sekali." Ucap Sebastian dengan ekspresinya yang tak terukir senyuman.

"Kau telah memanggilku kemari dengan tiga media yaitu darah, gambar, dan mantra—"

"—Aku sudah tahu bagian itu." Ucap Ciel yang memotong tiba-tiba.

Sebastian langsung menghujam Ciel dengan tatapan tajam, "Diam dan perhatikan."

Ciel terkejut kemudian kembali menatap tulisan-tulisan itu dengan sedikit ngeri, "Ma-maafkan aku."

"Kemudian tiga hal yang tadi aku sebutkan fungsinya hanya untuk memanggilku. Jika kau ingin aku mengabulkan permohonanmu, kau harus melakukan kontrak denganku. Kau akan menjadi masterku tentunya."

"Lalu caranya?"

"Caranya akan langsung aku tunjukkan padamu. Dan kau harus menerimanya."

Ciel tampak terkejut, "A-aku kan belum memutuskan untuk menjadi mastermu—"

"—Memanggilku berarti kau siap menerima konsekuensinya."

"Ta-tapi—"

Ucapan Ciel terpotong karena Sebastian sudah menerjang tubuh pemuda itu —yang ringan tentunya dan menjatuhkannya ke sofa.

Wajah Ciel dan Sebastian kini begitu dekat. Hanya terpisahkan dengan jarak 1 cm. Ciel sontak memejamkan matanya karena tak kuasa beradu pandang dengan sang iblis rupawan tersebut. Dan sedikit bergidik ketika nafas Sebastian membelai wajahnya.

"Sebastian-san to-tolong hentikan..."

"Mau tidak mau kau harus melakukannya. Aku sudah kehilangan cukup banyak energi ketika kau memanggilku ke dunia ini." Ucap Sebastian yang kini sibuk menyusupkan bibir marunnya ke belakang telinga Ciel.

"Ta-tapi kau harus menjelaskan apa saja yang diperlukan pada kontrak yang akan kita lakukan—"

"—Tidak perlu penjelasan ketika kita akan segera melakukannya."

Oh Tuhan tolong aku!

Sebastian menyusupkan jemarinya yang dingin ke dalam pakaian Ciel sementara bibirnya kini mulai sibuk menyusuri leher putih sang pemuda bersurai kelabu.

Ciel hanya bisa memejamkan matanya sembari berdoa. Mengira-ngira apa yang akan dilakukan sang iblis padanya dan ia tahu pasti itu sesuatu yang mengerikan. Tak lama, tiba-tiba tubuh Ciel menegang ketika merasakan Sebastian menjilat lehernya.

Jemari Ciel spontan meremas penutup sofa. Tapi tak ada perlawanan yang berarti sehingga Sebastian masih dengan mudahnya melakukan yang di sebutnya "kontrak" itu.

"To-tolong berhenti…"

"Sebentar lagi, ini tidak akan menyakitkan seperti yang ada dipikiranmu."

Terlihat di antara bibir marun sang iblis ada taring-taring runcing yang muncul. Ciel semakin ngeri ketika ia tahu bahwa sang iblis ingin meminum darahnya.

"Ka-kau ingin menghisap habis darahku?" Ucap Ciel sembari terisak.

"Bukan menghisap habis, jika kau mati aku yang akan mengalami kesulitan."

"Ta—AHH!"

Ciel bergeliat sembari berteriak kesakitan, matanya kini tak henti mengeluarkan bulir-bulir air mata. Sementara Sebastian tengah sibuk menghisap darah dari lubang yang dibuat taringnya di leher putih Ciel.

"Arkh, sakit! To-tolong hentikan!"

Sebastian belum menghentikan aktivitasnya dan tak berselang lama muncul simbol pentagram yang sama seperti yang digunakan untuk memanggil Sebastian di dada Ciel.

Setelah tanda itu muncul, Sebastian melepaskan gigitannya. Kemudian tubuh Ciel terkulai lemas dan tak sadarkan diri.

[ End of Flashback ]

Dan sekarang iblis ini mengikuti kemana pun aku pergi. Bahkan ke kampus seperti sekarang ini.

Aku menatapnya kesal, "Kenapa kau tak henti-hentinya mengikutiku?"

"Jika aku melepaskan pandanganku darimu aka nada iblis lain mendatangimu."

Ciel sontak menghentikan langkahnya, "Tu-tunggu, apa maksudmu dengan iblis yang lain?"

Sebastian ikut berhenti dan memanduku untuk duduk di bangku di sisi barat gedung fakultasku.

"Duduklah, master."

"Jangan memanggilku master! Kau membuat semua orang yang mendengarnya berfikir yang tidak-tidak!" Teriakku yang cukup membuat orang-orang berjarak kurang dari 10 meter mendengarku.

"Lalu aku harus memanggilmu apa?"

"Cukup panggil aku Ciel. Dan katakan pada semua orang yang menyapamu atau menayakan hubunganku denganmu bahwa kau adalah kakakku."

"Baiklah, Master."

"Hentikan. Kau tidak menuruti perintahku!"

"Tapi tidak ada orang lain disini."

Aku hanya bisa menghela nafas, "Terserah. Lalu jelaskan tentang iblis lain yang kau katakan tadi."

Teng Teng Teng

Tiba-tiba jam universitas menggema yang menandakan itu adalah pukul 6 sore.

"Aku akan menjelaskannya di rumah. Sebelum itu, kita harus segera pulang karena aku ingin menyiapkan makan malammu, Master."

.

.

[K]

To be continue

A/N : Yak update setelah sekian lamanya *nangis*

Langsung tancap gas pas lagi nangkring di pojokan (?)

Gomen minna kalau yang ini pendek, ide mentok disana *ketawa miris*

Arigatou buat yang sudah baca, Review please~