A/N : Maaf! Di awal dan pertengahan ada scene OroSasu! Yang nggak suka bisa skip dari tanda ~***~ dan ke tanda ~***~ lagi, scenenya hanya sekilas /banyak/ untuk permulaan cerita XD *Bilang aja elu lagi resep SasUke!* /Coy, Sasuke seme di sini -_-"/
Ahahaha... yah begitulah... di sini Sasuke itu posisi berubah kalo sama Bakoro. Nggak lucu pan kalo badan gede kayak Orochi jadi uke *muntah*. Tapi sama Naruto dia seme, jadi jangan gentar buat baca yaw :3
Chapter ini lebih panjang, karena yah... I LOVE SASUNARU~ but still interesting with ORONARU~!
Yang tahan adegan OroSasu, silahkan baca dari awal~
THIS IS VERY NOT SAFE FOR YOU, CHILD!
FULL OF SEXUAL CONTENT AND BAD LANGUAGE!
A/N #2 : Aku merasa... ','a Orochi kok menang banyak ya di chapter ini? Udah dapet Sasu, eh Naru juga di-ehem- ama dia :v
Err... List chara yang dipake dan cukup penting buat dikasih tahu:
Orochimaru : 37 tahun
Naruto : 17 tahun
Sasuke : 16 tahun
Fugaku : 41 tahun
.
Enjoy ttebayo!
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei
Fiction : Uzumaki Kagari/Nick Say FuckerShit For Kagari
Genre : Romance(?), Drama
Rate : M
Chapter 2
[ Pairing : Suke-kohai cama Naru-senpai ]
[ Slight : OroSasu, OroNaru ]
Warning : Yaoi, Sho-Ai, Boys Love, MalexMale, Shota-con, Jiji-con, bisa dikategorikan Pedo, Rape(?), Lime, LEMON, OOC, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.
Sok atuh baca wae, abdi mah moal ngalarang da anjeun oge boga pikiran mana anu nyebabkeun dosa. XD *ketauan aslinya*
.
Thank for Read n Review
Maaf sebesar-sesarnya tidak membalas satu persatu review kalian...
.
Uzumaki Kagari/Nick Say FuckerShit For Kagari present
MINE EVER
Chapter 2 : Touch Everything's Mine
##*###*####*####*####*###*###*###*###*###*###*###*###*####*####*###*####*##
O. Kagari Hate The Real World .O
.
Angin dingin merasuk ke dalam ruangan sebesar empat lima kali enam metar dari celah jendela yang dibiarkan terbuka semalaman. Mengirimkan hembusan pagi menyejukan pada selimut yang tersibak oleh tangan putih porselen. Tubuh pemilik tangan bergetar pelan saat bagian-bagian dari tubuhnya yang tak tertutupi helaian kain apapun terterpa udara dingin.
Kaki telanjangnya menapak karpet abu-abu pembungkus lantai. Mencoba beranjak dari ranjang tempatnya bergulat semalam. Decihan pelan terdengar, merasakan lelehan cairan kental menuruni daerah selangkangannya mengaliri paha.
"Kau sudah bangun, Sasuke-kun,"
Tubuhnya berbalik ke belakang, menatap seseorang yang tengah membangunkan dirinya dari tempat tidur dengan tajam. "Bukankah sudah kubilang –" –PLAK!
Suara tamparan keras menggema di ruangan itu. Memperlihatkan bekasan merah pada pipi pucat hampir tertutupi rambut sehitam arang berantakan, hasil punggung tangan putih menampar dengan keras.
"Jangan pernah kotori aku dengan milikmu, menjijikan!" ucap pemilik tangan itu sinis.
Telapak tangan besar menyentuh bekas tamparan diwajahnya. "Maaf," ucapnya tenang. Manik hijau kekuningannya menatap pemuda telanjang, berdiri di samping ranjang miliknya dengan sorot datar.
"Aku mau mandi, jangan bicara apapun padaku sebelum aku memintamu!"
Langkah kaki teredam karpet bulu berjalan menuju kamar mandi, menutup pintu yang baru saja dibuka dengan suara keras.
Blam!
.
.
Orochimaru menghela napas. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup sejenak sebelum mengenyahkan tubuhnya dari tempat tidur. Ia mengambil pakaiannya yang tercecer di bawah tempat tidur satu persatu dan memakai seadanya. Matanya beralih melihat pakaian lain di lantai, bukan pakaiannya karena pakaian itu terlihat lebih kecil dan seperti seragam sekolah. Ia memunguti pakaian itu dan memasukannya ke keranjang di dekat kamar mandi.
.
.
... ~***~ ...
.
.
Cklek!
Senyum tipis Orochimaru mengembang begitu melihat pemuda onyx keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi seragam sekolah. Ia menaruh piring berisi roti bakar dengan irisan daging dan saus tomat ditangannya ke atas meja, lalu berjalan untuk menarik satu kursi terdekat sebagai tempat duduk bagi pemuda itu. Ia kembali menarik kursi lain untuknya sendiri setelah pemuda itu duduk manis dikursinya.
Setelah itu, dengan tenang ia dan pemuda onyx itu menyantap sarapan pagi yang dibuatnya. Seperti hari-hari biasanya.
"Kapan kau akan membawanya padaku?" tanya pemuda itu. Ia mendorong piring kosong di hadapannya sedikit menjauh.
"Sekarang aku sudah boleh bicara?" Orochimaru balik bertanya, dan mendapatkan tatapan tajam menusuk dari pemuda yang duduk di depannya. Sepertinya tidak senang karena ia tak langsung menjawab pertanyaannya.
Laki-laki berumur di atas kepala tiga itu menatap pemuda yang lebih muda dua puluh satu tahun darinya dengan ramah, "Kenapa kau sangat menginginkannya, Sasuke-kun?"
Sasuke membangunkan tubuhnya dengan kasar hingga kursi yang didudukinya tergeser ke belakang, "Itu bukan urusanmu. Kau hanya perlu bawa dia padaku. Atau aku akan bilang Papa jika aku tidak mau tinggal bersamamu," ucapnya. Pemuda itu berlalu pergi ke kamarnya dengan debaman pintu keras sebelum kembali terbuka, menampilkan dirinya yang sudah memakai blazer biru tua dan tas hitam yang diselempangkan dibahu kirinya.
"Kau mau berangkat? Aku bisa mengantarmu -"
Blam!
.
.
.
Orochimaru's POV
.
.
Aku menghela napas saat pintu depan apartementku ditutup dengan keras. Sepertinya aku sudah membuat Sasuke marah, terlebih dengan permintaan gilanya yang selalu kutunda-tunda. Membawa Uzumaki Naruto padanya?
Apa anak itu sadar apa yang dipintanya? Aku tidak tahu lagi harus menunjukan sikap seperti apa atas permintaannya itu. Sasuke selalu membicarakannya dan pasti berakhir dengan perdebatan yang tak akan bisa kumenangkan. Tentu tidak, aku tidak mungkin menolak permintaannya. Dia adalah orang yang paling kuinginkan. Yang paling kuharapkan untuk tak meninggalkan aku. Dia obsesi terbesarku saat ini.
Menggeser kursi yang kududuki ke belakang piring kosong di bereskan daru meja makan untuk selanjutnya kubersihkan. Piring-piring itu kutaruh di wastafel dan mulai membersihkannya.
Pikiranku saat ini benar-benar terbagi, entah Sasuke, entah itu permintaannya ataupun, bocah pirang yang seminggu lalu menggodaku di ruang properti sekolah. Entah bagaimana bisa menuruti keinginan anak itu dengan melakukan sex dengannya. Seseorang yang diinginkan Sasuke, tapi orang itu malah berkata menginginkanku.
Aku ingat dengan perjanjian kecil yang kulakukan dengannya. Tapi, apa harus menyanggupi syarat yang diajukannya. Helaan napasku terdengar lebih lelah dari biasanya. Kenapa anak zaman sekarang sulit sekali untuk dimengerti?
.
.
.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Ponsel di meja makan bergetar beberapa kali, memaksa untuk menghentikan aktifitas sejenak dan mengambilnya. Menemukan tiga e-mail yang belum terbuka di layar ponsel itu dengan waktu yang tidak terlalu terpaut jauh.
Aku membuka satu e-mail teratas dari alamat yang tak kukenali. Saat e-mail itu terbuka, aku hanya bisa mengerutkan alis melihat deretan kata yang tertera di layar ponselku.
From : Unknow
Title : Aku merindukanmu
Kenapa Sensei tidak masuk kelas kemarin?
Apa Sensei marah padaku?
Aku mohon maafkan aku, aku tahu aku keterlaluan. Tapi aku tidak berbohong saat aku bilang aku menginginkanmu.
Bisakah kita bertemu? Aku ingin bicara, kumohon.
Aku tidak perlu untuk berpikir siapa yang mengirim pesan itu. Dari apa yang tertulis, dengan jelas aku tahu siapa dia.
Mengesah pelan, aku membalas e-mail itu. Tidak ada cara lain selain ini.
Setelah membalas e-mail yang kuterima, ponsel itu masuk ke dalam tas kerjaku. Memilih untuk berangkat kerja lebih awal dan mengabaikan piring-piring kotor di wastafel.
.
.
.
.
.
Kelasnya yang sudah ramai dan berisik ketika ia masuk, membuat moodnya yang sudah buruk bertambah lebih buruk lagi. Sasuke mengacuhkan panggilan dari gadis perambut pink yang menyapanya dengan suara manis. Memilih untuk langsung duduk di kursinya yang berada pada deretan ketiga barisan paling ujung, dekat dengan jendela.
"Hei, Sakura-san menyapamu tahu,"
Onyxnya melirik pemuda nyentrik berjaket hijau yang duduk di depan mejanya dengan datar. "Hn," gumamnya sekedar menanggapi.
"Oh ayolah, Sasuke-kun! Masa mudamu jangan kau gunakan hanya untuk bermuram! Senang-senanglah sedikit!" ucap semangat teman sekelasnya itu. Sasuke melirik name tag dibaju pemuda itu sebentar dan melihat nama 'Rock Lee' tertera di sana.
Sudah tiga bulan ia pindah ke sekolah ini, namun ia sama sekali tak mengenal satupun dari mereka. Termasuk pemuda yang tengah menggebu-gebu memberinya ceramah, ia tidak peduli. Mengenal mereka hanyalah hal merepotkan yang tidak ingin ia lakukan. Dan Sasuke sama sekali tidak berniat untuk berteman.
Mata onyx mengerling saat menangkap surai pirang baru saja melewati koridor di depan kelasnya. Alisnya menekuk ringan, mencoba mencari alasan untuk seseorang itu berada di gedung sekolahnya, bukan tempat seharusnya.
"Sasuke-kun, apa kau mendengarku?"
Tangan yang terkibas di depan wajahnya membuat ia urung untuk terus menatap ke luar kelasnya. Ia melirik pemuda di depannya dengan datar, "Hn," tanggapnya dengan sikap berubah sempurna saat melihat pintu kelas terbuka oleh guru yang mengajar kelasnya hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke berdecih pelan, onyx dalam matanya memandang lalu lalang kendaraan di jalan besar kota dengan suntuk. Bibirnya tertekuk ke bawah, menandakan mood-nya yang buruk. Ia merogoh kantung celananya dan mengambil ponsel birunya dari sana. Membaca kembali satu e-mail yang memaksanya harus menunggu di depan sebuah toko buku selama lima belas menit.
From : Mine (Orochimaru)
Title : Tunggu di sana
Depan Toko Buku Gardenia, jam tiga sore.
Dia akan menemuimu di sana.
Ia berdecih lagi. Jam tiga sore? Ini sudah lebih dari lima belas menit dari waktu yang ditunjukannya. Sasuke akan benar-benar memberi laki-laki tua itu pelajaran jika berani menipunya seperti ini.
"Ano... Uchiha Sasuke?"
Kepalanya yang menunduk dengan segera mendongak saat namanya dipanggil. Ia menatap datar pemuda bersurai pirang yang tengah menunjukan cengiran lebar dan menggaruk belakang kepalanya, berdiri dengan canggung di depannya.
"Ehe –itu, apa kau lama menungguku?"
Air liurnya ia teguk dengan lambat, matanya menatapi bibir basah berwarna cerry yang bergerak-gerak saat pemiliknya berbicara, memaksanya untuk menahan diri agar tak menyerang pemuda di hadapannya saat ini juga.
Uzumaki Naruto.
Sasuke menegakan tubuhnya yang sejak tadi bersandar pada kaca toko, "Hn," ucapnya singkat.
"Ah, suman na! Aku tadi harus piket dulu, jadi aku baru bisa ke sini setelah selesai. Dan lagi Orochimaru-sensei juga bilangnya mendadak sih," ucap pemuda pirang itu. Mata birunya menatap Sasuke yang terdiam dengan heran. "Kamu marah ya?" tanyanya.
Alis Sasuke mengerut ringan, berusaha untuk mengerti maksud dari pemuda di depannya. "Dobe," ucap Sasuke.
"Do –be?" Kelopak tan mengerjap dengan bingung sebelum mata itu menyipit tajam. "Siapa yang kau sebut Dobe?" tanya pemuda pirang.
"Kau, tentu saja,"
"Ke –kenapa kau menyebutku begitu? Aku tidak sebodoh itu untuk jadi dobe! Kau kohai yang tidak sopan sekali, padahal aku sudah setuju mengajarimu kimia! Paling tidak panggil aku Senpai!"
'Kimia?'
Sasuke mendengus, jadi itu yang jadi alasan pria tua itu. "Kalau begitu kenapa kau terus bicara. Kau bilang akan mengajariku kan? Kau membuang waktuku," ujar Sasuke. Ia melangkahkan kakinya menjauhi tempatnya berdiri tadi.
"He –hei! Kau mau kemana?" Naruto menatap bingung arah Sasuke berjalan.
"Pulang," jawab Sasuke singkat.
"Bukannya kita harus beli buku dulu? Aku tidak bisa mengajarimu tanpa materi dasar,"
Langkah Sasuke terhenti, "Aku bisa suruh orang untuk membelinya," ucapnya dengan kaki kembali melangkah.
Suara langkah berlari kecil mendekati Sasuke, "Tapi kan toko bukunya di sini, kenapa harus menyuruh orang segala?" Si pirang mensejajarkan langkah dengannya.
Sasuke hanya meliriknya dalam diam tanpa menjawab. Mengacuhkan ucapan kesal yang didengarnya sepanjang jalannya pulang bersama pemuda pirang di sampingnya. Bibirnya tertarik ke atas dengan samar.
'Uzumaki Naruto, milikku,'
.
.
.
.
.
Bunyi peralatan makan yang saling bersentuhan ringan menemani acara makan dua orang yang tengah menyuapkan masing-masing hidangan ke dalam mulut. Membuat, setidaknya suasana tidak terlalu sepi dikarenakan tidak ada satupun dari mereka angkat untuk bicara. Setidaknya sampai satu sendok jatuh berdenting di atas lantai.
"Ambil," Sasuke menatap laki-laki bersurai hitam panjang duduk di seberangnya dengan datar. Laki-laki itu tampak menaruh sendok dan garpunya di atas piring berisi karenya dan berdiri. Manik hitamnya mengikuti gerakan pria itu, berjalan memutari meja dan berjongkok tepat di samping ia duduk.
Sasuke mendengus, ia menginjak sendok yang ia jatuhkan ke lantai begitu sebuah tangan pucat ingin mengambilnya. Ia menatap kepala yang mendongak kearahnya dengan datar.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanyanya.
Tangan pria itu mengangkat kaki Sasuke ke atas pahanya dan mengambil sendok yang tadi berada di bawah kaki itu. Sasuke menyeringai saat tangan pria itu mengelus betisnya. "Kau suka kakiku?" Sasuke mengelus pucuk kepala laki-laki itu, "Baiklah, karena kau membawa dia padaku. Kau boleh menyentuhnya sesukamu," ujarnya seraya mengambil sendok baru di atas meja dan mulai kembali menyantap makanannya.
Ia hanya sesekali melirik ke bawah untuk melihat laki-laki yang kini tengah melepas sandal rumahan yang dipakainya dan mulai mengecupi kakinya.
Laki-laki itu menempelkan bibir pucatnya untuk mengelus jari-jari kakinya. Sasuke menggerakan ibu jarinya untuk menekan bibir itu dan memasukan ibu jarinya ke celah kecil bibir Orochimaru yang sedikit terbuka. Bola matanya memutar malas saat lidah laki-laki itu memainkan jarinya dan mulai menghisapnya.
Tangan-tangan pucat milik laki-laki itu juga memijat bawah betisnya dengan gerakan yang membuat otot-ototnya melemas merasa nyaman. Sasuke mengesah, ia meluruskan kakinya agar pijatan itu bisa ia rasakan dengan lebih nyaman dan menaikan satu kakinya lagi ke atas pundak laki-laki itu. Ia sendiri masih menyantap makanan dengan khidmat.
Entah kenapa hidupnya bisa berubah dari anak keluarga kaya yang tidak tahu apa-apa menjadi seorang murid yang membuat seorang guru di sekolah tergila-gila. Mau melakukan apapun keinginan atau perintah Sasuke untuknya. Budak? Mungkin Sasuke bisa menyebut laki-laki tua itu dengan sebutan yang lebih rendah lagi.
Orochimaru. Laki-laki itu sangat menjijikan dimatanya. Bahkan kelakuannya sekarang lebih menjijikan lagi dari penampilan pria tua itu. Sasuke sadar pria itu sudah terobsesi padanya sejak pertama mata ular miliknya itu menatapnya. Dan yang Sasuke lakukan adalah memanfaatkannya.
Apapun yang ia mau, maka laki-laki itu harus mewujudkannya jika ingin terus ia izinkan untuk 'menyentuhnya'. Seperti membuat Uzumaki Naruto mendatanginya beberapa hari lalu, membuat pemuda pirang itu cukup 'dekat' dengannya sebelum pemuda itu benar-benar menjadi miliknya.
"Sasuke-kun,"
"Hn," Sasuke menanggapi tanpa minat panggilan suara berat dari laki-laki yang berlutut di samping kursinya.
"Seberapa jauh kedekatan yang kau inginkan dengannya?"
Sasuke melirik sekilas, "Untuk apa aku memberitahumu," ujarnya datar. Matanya menyipit saat tangan laki-laki itu bergerak menuju paha dalamnya.
"Kau tahu aku tidak suka, dia membuatmu tidak lagi perhatian padaku,"
Sasuke menarik kakinya turun dan menghadapkan tubuhnya pada laki-laki itu. "Oh, kau berani melarangku?" tanyanya dingin.
Orochimaru terlihat menghela napasnya, "Tidak,"
"Hn, baguslah. Kau tidak menarik kalau jadi pemberontak," tukasnya seraya bangun dari kursi dan berjalan memasuki kamar. Ia tidak lagi berselera untuk melanjutkan makannya.
.
.
.
.
.
.
"Hmm... 'Suke, apa kau benar-benar tidak mengerti soal ini? Bagiku kau bahkan bisa mengerjakannya dengan nyaris sempurna," Naruto melipat kedua tangannya di depan dada, kepalanya miring ke kanan. Berpikir dengan serius atas kertas jawaban yang baru saja di periksanya di atas meja lipat.
Mata sebiru lautannya memandang dengan intens kertas jawaban itu dan pemuda yang duduk di depannya secara bergantian. "Kau benar-benar tidak bisa, nih?" tanyanya sekali lagi.
"Hn," jawab pemuda di depannya terlampau singkat.
Naruto berdecak, ia mengacak surai pirangnya frustasi. "Kalau kau bisa menjawab soal kelas dua seperti ini, artinya kau tidak butuh les dariku tahu! Lagi pula kamu kan tinggal sama Orochimaru-sensei! Kenapa tidak minta dia saja yang mengajarimu!" ucapnya frustasi. Si pirang jadi merasa dibodohi karena orang yang diajarinya malah terlihat lebih pintar darinya seperti ini.
Sudah sekitar dua Minggu Naruto mengajari Sasuke. Tapi setiap kali ia memberinya soal, atau menerangkan sesuatu. Pemuda emo itu pasti berceletuk melanjutkan penjelasannya. Seolah-olah Sasuke memang sudah hafal di luar kepala materi yang mereka bahas.
"Tahu begini, aku tidak mau menerima permintaan Sensei. Kau juga menyebalkan, tukang perintah, sombong, sok tahu, tidak sopan, kenapa juga kau punya wajah tampan –" Naruto menutup mulutnya dengan segera. Ia menatap Sasuke yang juga balik menatapnya dengan pandangan sedikit terkejut.
"Tampan?" Sasuke mengulang sepenggal kata dari ucapan Naruto.
Naruto menggelengkan kepalanya, "Bu –bukan itu maksudku! P –pokoknya kau itu terlalu menyebalkan!" tukas Naruto cepat namun Sasuke masih tetap menatapnya dengan pandangan yang sama. Membuatnya gelagapan, "A –ah, sepertinya aku harus ke toilet dulu!" ucapnya dengan tubuh yang bangun dari duduknya di atas karpet.
Si pirang meringis pelan saat lututnya terpentuk meja lipat, terlihat sekali salah tingkah bagi pemuda onyx di depannya.
Sasuke mendengus geli, tangannya terangkat untuk menarik pergelangan Si pirang saat pemuda itu hendak pergi dari tempatnya. Membuat keseimbangan pemuda pirang itu runtuh dan jatuh menimpa meja juga dirinya.
"Sa –Sasu –" Naruto begitu terkejut saat tubuhnya menimpa pemuda onyx di depannya.
"Khu... wajahmu merah, Naruto-senpai," bibir Sasuke melengkungkan seringai kecil begitu tangannya mendongakan wajah Naruto dengan menekan dagu pemuda itu.
Wajah Naruto berubah merah sempurna, ini pertama kalinya Sasuke memanggilnya seperti itu. "Ap –apa?! Le –lepaskan aku!" ucapnya gagap. Ia mencoba menarik dirinya dari Sasuke namun tubuhnya tetap tak bergerak sedikitpun saat sebuah lengan malah menarik pinggangnya semakin dekat.
"He –hei!" seru Naruto tak terima.
"Hn, kau belum mengajariku semuanya," ucap Sasuke tenang. Tak mengindahkan rontaan pemuda pirang yang ditahannya.
Naruto menggeram, "Apa yang harus kuajarkan? Kau sudah tahu semuanya! Rumus fisika maupun kimia yang kuajarkan padamu bahkan kau hafal di luar kepala! Sekarang lepaskan aku!" ucapnya kesal.
Sasuke meremas pelan pinggul Naruto hingga pemuda pirang itu terperanjat karena terkejut. "Sains tidak hanya itu saja," ucap Sasuke, "Kau belum mengajariku biologi," lanjutnya.
Berusaha menahan kesal juga rasa 'tidak nyaman', Naruto menanggapi ucapan adik kelas kurang ajarnya itu. "F –fine! Tapi lepaskan aku!"
"Hn? Kenapa?" tanya Sasuke.
Satu erangan frustasi terdengar, "Aku tidak berniat mengajarimu dengan tubuh saling menempel. Teme!" ucap Naruto sinis.
Satu alis Sasuke terangkat, "Kau bilang ini saling menempel?" Sasuke mendengus geli. Tangannya semakin kencang melingkari pinggang Naruto dan membalikan tubuh pemuda pirang itu dengan cepat ke atas lantai.
Brugh!
Naruto mengerjap terkejut. Ia memandangi Sasuke yang saat ini menahan tubuhnya dengan sebelah tangan di lantai, berada di atasnya.
"Yang namanya menempel itu, seperti ini," Sasuke menundukan kepalanya dan dengan cepat meraup bibir yang begitu menggodanya dari tadi. Aji mumpung pemiliknya masih tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Emmfh!" Mata Naruto menutup dengan erat, kedua tangannya meremas kaus hitam yang dipakai Sasuke dengan erat dibagian dadanya. Bibirnya saat ini tengah dilumat lembut benar-benar membuatnya terkejut. Kohainya, menciumnya.
Sasuke mengakhiri aktifitasnya melumat bibir Naruto. Ia sedikit menjauhkan wajahnya untuk melihat wajah Naruto yang merona merah dengan matanya yang tertutup. "Pasif. Kurasa itu ciuman pertamamu," ujarnya.
Wajah Naruto langsung merona hebat, matanya terbuka dengan bulatan biru sempurna. "A –aku –ti –tidak! B –b –bu –bukan!" ucapnya gelagapan. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang semakin memerah.
'Shit!'
Sasuke menjilat bibirnya yang terasa mengering mendadak. Wajah yang menunjukan rasa malu di hadapannya ini sangat menggoda.
"Me –menyingkir dari atasku, Teme!" Sebelah tangan Naruto mendorong bahu Sasuke.
Bibir Sasuke menampilkan seringai, "Kenapa?" tanyanya seraya menangkap tangan Naruto yang berada dibahunya. Ia membawa tangan itu mendekat, lalu menyecupnya ringan. Tubuh pemuda pirang itu bergetar pelan karenanya.
"Unh... jangan t –tanyakan sesuatu yang sudah pasti! A –aku laki-laki, Bodoh!"
"Kau wanita bagiku," Sasuke berujar datar.
"Ap –apa!" Tangan yang menutupi wajah bergeser cepat. Menampakan raut kesal dengan alis yang menukik tajam. "Siapa yang wanita?! Kau itu buta? Tidak lihat kalau aku ini laki-laki!"
Sasuke menatap dari atas hingga bawah lalu kembali pada wajah kesal di hadapan tubuh di bawahnya. "Usiamu tujuh belas, tapi bahkan tinggi, berat badan dan suaramu tidak melebihiku yang masih enam belas," ujarnya.
"Itu tidak ada hubungannya! Ish, yang penting menyingkir dulu dari atasku!" seru Si pirang kesal setengahnya lagi malu.
"Hn? Bukankah kau akan mengajariku biologi?" tanya Sasuke.
Naruto menatap dengan sengit, "Kalau begitu cepat menyingkir, Teme!"
"Aku bosan berkutat dengan buku," Sasuke berucap, "Aku ingin praktik,"
Tubuh Naruto bergidik saat Sasuke meniup tangannya yang masih ditahan pemuda itu. "P –praktik?"
"Senpai,"
"A –apa?" tanya Naruto gugup. Entah mengapa panggilan Dobe masih lebih baik dari pada Sasuke memanggilnya seperti itu.
"Apa fungsi dari mulut manusia?" tanya Sasuke. Ia menarik tangannya dari pinggang Naruto dan membawanya untuk mengelus bibir lembab yang sempat dicicipinya tadi. "Hmm?"
"Euh... mulut –" Naruto menggerakan kepalanya ke kiri untuk menjauhkan tangan Sasuke darinya, "Mulut adalah tempat pencernaan pertama manusia –bisakah kita duduk saja? I –ini sangat tidak nyaman,"
"Lalu?" Sasuke mengacuhkan permintaan Naruto.
"Di dalam rongga mulut terdapat gigi yang berfungsi sebagai pengoyak, pe –pencabik dan penghalus makanan. Dibantu o –oleh lidah dan s –saliva yang mengandung enzim –ukh... ke –kenapa kau semakin dekat, Teme!" Naruto berucap risih dengan wajah Sasuke yang terus mendekat padanya.
"Kau menjelaskan pelajaran anak SMP, maksudku fungsi lain dari mulut, Dobe-senpai,"
Mata Naruto memandang bingung, "Fungsi –lain? Bernapas?"
"Tch!" Sasuke berdecih tak sabaran, "Aku tidak menyangka remaja yang sudah mengalami masa pubertas masih sangat polos seperti ini,"
"Ap –apa? P –p –p –polos?" wajah Naruto memanas saat melihat sunggingan seringai dibibir Sasuke. Apa lagi wajah pemuda onyx itu semakin mendekatinya. "Sasuke, menjauh da –Emnnh!" ucapannya terputus begitu bibirnya dengan cepat dibungkam oleh Sasuke.
Bibir itu kenyal, sama seperti pertama kali ia cicipi. Permukaannya pun sangat lembut saat lidahnya menjilat bibir itu. Menghisapnya dengan gerakan pelan dengan gigitan-gigitan kecil yang membuat lenguhan pertama dari pemuda pirang yang tengah diciumnya.
Sasuke menyusupkankan lidahnya pada belahan bibir Naruto, menyentuh barisan gigi di dalamnya sebelum menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya. Menjilati bagian demi bagian di dalam sana. Terutama bagian sensitif di langit-langit mulut Naruto.
"Hnng –Sa –hh-su..."
Ia menyeringai begitu desah namanya terdengar. Pemuda pirang ini benar-benar menguji pertahanannya.
Sasuke bergerak sedikit lebih agresif dengan menggigit bibir bawah Naruto dengan keras, membuat pemiliknya melenguh dan berjengit karena terkejut sampai-sampai meremas bahunya dengan keras. Lidah Sasuke memanfaatkannya untuk menyentuh lidah pasif pemuda itu. Membawanya menari dalam mulut yang sudah dipenuhi liur entah milik siapa, mungkin liur keduanya sudah bercampur menjadi satu.
"Mnnh –Ah!"
Tubuh tan itu bergetar begitu jemari dingin Sasuke menelusup pada bagian bawah baju seragam pemuda pirang itu. Mengelus perut yang bergerak bergejolak karena sentuhannya.
Manik hitamnya berkilat menatap wajah merona Naruto. Ia melepaskan bibir yang dicumbunya sejenak untuk membiarkan pemuda pirang di bawahnya mengambil napas yang nampak sudah begitu menipis diparu-paru.
"A –ah... Sasu –ke hen –ngh.. hentikan..." Naruto melenguh mendapati puting kanannya dipelintir tangan yang sejak tadi merabai tubuh depannya. Wajah tannya sudah berubah sempurna menjadi merah.
Sasuke menjilat wajah itu, "Kenapa?" tanyanya seraya mengecup cuping telinga Naruto. Onyxnya melihat tubuh Naruto meremang karena perlakuannya. "Kau sangat sensitif,"
"Mmhh~..."
Tangan yang mencubit puting di balik baju Naruto bergerak turun dengan gerakan yang sangat halus, membuat pemuda pirang itu menggeliat geli merasakan jemari Sasuke bersentuhan ringan menyusuri dada dan perutnya. Mata biru jernih Naruto terlihat mulai berair ketika tangan Sasuke sampai ke bagian terbawah perutnya, mendorong celana biru tua yang masih terpakai rapi dipinggulnya sedikit turun.
"Senpai," Sasuke berbisik, "Bagaimana kalau kita belajar tentang organ reproduksi manusia?" tanyanya dengan tangan yang membuka kancing serta menurunkan retsleting celana Naruto. Tangan itu bergerak mengelus permukaan kain tipis di baliknya.
Tok! Tok! Tok!
Gerakan Sasuke terhenti saat mendengar ketukan pintu di kamarnya. Onyxnya melirik kearah pintu.
"Sasuke-kun, Naruto-kun, apa belajar kalian belum selesai?" Dan suara berat yang didengar selanjutnya membuat Sasuke berdecih.
"Tch!" Sasuke melumat bibir Naruto sekali lagi sebelum membangunkan tubuhnya dan mendudukan dirinya di sebelah pemuda yang saat ini tengah dalam keadaan begitu berantakan. Sasuke harus berkali-kali menelan ludah melihat baju seragam yang tersibak sampai puting kecoklatan didada Naruto terlihat juga dengan celana yang sudah tak lagi dikancingkan, memperlihatkan celana dalam berwarna hitam milik pemuda itu.
Ia juga melihat celana dalam itu sedikit menggembung. Benda di dalamnya mungkin saja akan menegang sempurna ditangannya jika saja tidak ada yang mengintrupsi aktifitasnya.
"Hn, kami sudah selesai," ucap Sasuke menjawab pertanyaan dari suara di balik pintu kamarnya.
Naruto tersentak dengan ucapan Sasuke. Ia membangunkan tubuhnya dengan cepat dan langsung bergerak memutar ke belakang, memunggungi pintu yang mulai terbuka dari luar. Ia merapikan baju dan celananya dengan tergesa-gesa meski kesulitan karena tangannya saat ini begitu gemetaran.
Sementara itu Orochimaru yang berdiri di ambang pintu hanya melihat punggung Naruto yang sedikit gemetaran dengan datar. Ia melirik pemuda onyx di samping pemuda itu yang saat ini hanya menatapnya dengan tak kalah datar.
"Ini sudah malam, kalian bisa melanjutkannya besok," ujarnya, "Naruto-kun, aku akan mengantarkanmu pulang,"
"A –ah –te –terima kasih, Sensei," Naruto menanggapi dengan senyum kecil diwajahnya yang masih menunjukan rona merah. Ia meraih tas dan buku-bukunya di atas meja untuk ia masukan ke dalam tas itu. Matanya tak sekalipun melirik Sasuke.
"Baiklah, Sensei tunggu di depan," Orochimaru berbalik dan berjalan menjauhi kamar.
"Hei," Sasuke menatap Naruto yang hendak beranjak berdiri. Pemuda itu terlihat tersentak kecil mendengar suaranya, namun tak menanggapinya. Malah pemuda pirang itu berjalan cepat meninggalkan kamar Sasuke.
Ujung bibir Sasuke tertarik ke atas, mata onyxnya menatap kepergian Naruto dengan kilatan penuh ketertarikan. Bibirnya menyeringai.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto tersenyum saat melihat Orochimaru menunggunya di depan pintu apartemen laki-laki itu. Ia berjalan sedikit cepat hingga berhenti di depannya. "Ayo pulang, Sensei," ucapnya dengan tangan terselip dilengan laki-laki bersurai hitam panjang itu.
Tangan Orochimaru menepis pelan tangan Naruto, "Ini masih di apartementku," ucapnya singkat sebelum membuka pintu di sampingnya dan berjalan keluar diikuti Naruto yang menunjukan wajah cemberutnya.
Naruto berjalan dengan tenang di samping Orochimaru menyusuri koridor bangunan apartement megah itu. Sesekali manik birunya melirik Orochimaru hanya untuk menemukan laki-laki itu tak sekalipun memandangnya. Mereka hanya terus diam, bahkan ketika memasuki lift menuju ke bawah.
Si pirang hanya tersenyum kecil saat Orochimaru membukakan pintu di samping kemudi untuknya dan ia pun duduk tenang sampai Orochimaru duduk di sampingnya. Menjalankan mobil force hitam miliknya meninggalkan bangunan elit yang menjadi kediamannya.
.
.
.
.
"Berhenti di sini,"
Manik hijau kekuningan melirik remaja di samping tempat duduknya sebelum menghentikan mobil yang tengah dikemudikannya di pinggir jalan. Orochimaru menatap sekeliling yang hanya menampilkan bangunan rumah biasa yang sebagian lampunya sudah dimatikan, mengingat jam sudah menunjuk pada angka sebelas malam.
"Sensei," Orochimaru menatap datar pemuda pirang yang bergerak merangkak duduk dipangkuannya. Jemari pemuda itu menyisir helaian rambutnya dengan gerakan halus namun ia bisa melihat kilatan penuh ketertarikan dari apa yang dilakukannya. "Dia nakal sekali," ucap pemuda pirang itu.
.
.
Orochimaru's POV
.
.
"Dia nakal sekali,"
Mataku tak lepas untuk melihat senyum penuh godaan remaja pirang yang duduk dipangkuanku. Tak melepas penglihatan walaupun hanya sesaat pada orang yang tengah memelintir-melintir rambutku dengan gemas. Dari wajahnya saja, aku tahu anak ini menginginkan sesuatu dariku.
Aku mengesah, "Lakukan dengan cepat," ucapku.
Wajah anak itu berubah sumringah setelah mendengarnya. Kedua tangannya menyentuh ikat pinggangku dengan cepat dan melepaskannya dengan sangat mudah. Menurunkan celana dalamku dari tempatnya sampai milikku yang masih melemas terlihat oleh mata birunya yang berkilat nafsu.
"Tentu~" ucap anak itu dengan nada main-main.
Keningku sedikit berkerut saat jari-jarinya menggenggam kejantananku, mengelusnya dan mulai bergerak memijatnya naik turun.
"Hari ini dia menciumku," Aku menatapnya dengan datar, pikiranku melayang pada kejadian yang kulihat di kamarku beberapa puluh menit lalu. Aku memang sudah tahu itu akan terjadi, tapi aku tetap tidak menyukainya. Sasuke milikku menyentuh orang lain.
"Nnh... bibirku, terasa sangat tebal sekarang ini karena dia menggigitnya,"
Anak pirang itu menjilat bibirnya yang sedikit terluka di bagian tengah bawah. Cukup dalam, dan aku tidak menyukainya. Ini untuk pertama kalinya Sasuke meminta sesuatu seperti, seseorang. Dan dia menginginkannya untuk diperlakukan seperti apa yang kulakukan padanya.
"Kau menikmatinya?" tanyaku padanya. Jemariku menyentuh wajah merona Naruto, membuat biru dimatanya menatapku dengan kilat nafsu. Aku tersenyum tipis dan menarik wajahnya mendekat, menjilat bibirnya yang terluka sebelum aku membawanya ke dalam sebuah cumbuan panjang.
Melumat bibirnya dengan hisapan lembut dan kencang sampai ia melenguh nikmat. Aku melepas ciumanku dan menatapnya, "Siapa yang lebih membuatmu nikmat?" tanyaku lagi. Mataku menatapnya yang terengah dengan bibir terbuka dengan liur yang keluar membasahi dagunya.
"Ci –hah... cium aku lagi, Sensei... a –aku mohon..." pintanya padaku. Aku tersenyum dan menangkup dagunya. Anak ini benar-benar mabuk dengan sentuhanku, hingga gerakannya pada kejantananku di bawah sana lebih seperti meremas dengan kuat hingga hancur dibandingkan ingin membuatnya menegang.
Tubuhnya sendiri sudah bergetar hebat dengan daerah selangkangannya yang terus ia gesekan pada kakiku. Aku bisa merasakan anak ini sudah menegang sejak pertama kali duduk dipangkuanku.
Aku menjauhkan wajahku begitu ia berusaha menciumku dengan tidak sabaran. Wajahnya terlihat begitu menginginkan sesuatu yang tentu aku tahu apa.
"Kau benar-benar remaja yang kelebihan hormon, Naruto-kun," ucapku.
"Nnh... bukankah –Sasuke juga sama?"
Aku tersenyum, setengah mendengus geli mendengar pertanyaannya barusan. Benar, Sasuke juga hanya remaja yang dipenuhi hormon dan rasa penasaran tinggi. Anak yang sudah membuatku benar-benar terobsesi memilikinya.
Membuatku melakukan apapun keinginannya. Termasuk membuat pemuda yang tengah memanjakan kejantananku dan miliknya sendiri dengan gesekan hasrat penuh nafsu untuk menjadi miliknya. Cepat sekali celana anak itu sudah turun sampai lututnya.
"Ah! Ah... Sensei! Aku i –ingin penis milikmu masuk –masuk padaku!"
Aku membiarkan anak itu bermain dengan selangkanganku sementara aku membuka laci kecil di dashboard mobil dan mengambil satu kondom dari sana. Aku membuka bungkusan benda transparan itu, lalu memasangnya pada kejantanan anak itu.
"Se –sensei?" Naruto menatap bingung pada apa yang kulakukan.
"Aku tidak suka bajuku kotor dan membuat Sasuke-kun tahu kau itu seperti apa, Naruto-kun," ucapku seraya tersenyum. Selanjutnya anak itu menatapku dengan nakal, senyuman dibibirnya melebar.
"Ah~ kau sangat menyukai Sasuke ya?"
Aku tersenyum, "Benar. Karena itu kau harus baik-baik padanya, atau penisku tidak akan pernah masuk lagi dalam anusmu," ucapku vulgar. Ia hanya tertawa kecil dan mengalungkan kedua lengannya pada leherku.
"Apa itu ancaman?" tanyanya.
"Hmm, mungkin," jawabku. Daguku terasa basah saat Naruto menjilatnya.
"Kalau begitu, sekarang penis Sensei mau memasukiku kan?" ia kembali bertanya dengan senyuman manis diwajahnya. "Anusku lapar," bisiknya menggoda.
"Baiklah, tapi –" tanganku mendorong tubuhnya hingga menabrak dashboard mobil. Satu tanganku kugunakan untuk menempelkan benda lengket berwarna hitam perekat menutup mulut anak itu.
"Emmfh?!"
Ia terlihat terkejut dengan apa yang kulakukan dan menyentuh mulutnya yang sudah kubungkam paksa. Matanya memandangku dengan bingung.
"Ini sudah malam, aku tidak ingin membuat orang-orang terbangun mendengar teriakanmu menyebut namaku, Naruto-kun," ucapku.
Alis pirangnya menekuk kesal dan berniat untuk membuka perekat dimulutnya namun aku mencegahnya dan membawa kedua tangannya untuk kembali melingkar dileherku. "Bukankah kau menginginkanku?" pertanyaanku membuatnya mengesah pasrah dan mengangguk.
"Anak baik," ujarku seraya mengecup permukaan licin perekat yang menutupi mulutnya.
Aku melebarkan bongkahan kenyal bokongnya dan menyentuh kerutan kecil yang tersembunyi di sana. Ia terlihat melenguh, mengeratkan kaitan lengannya pada leherku.
Jari tengah tangan kiriku masuk dengan perlahan, menerobos lingkaran penuh otot kaku di anusnya. Memberikan sedikit gerakan putaran untuk mempermudahnya. Aku hanya tersenyum saat anak itu nampak ingin protes karena bukan kejantananku yang masuk ke dalam anusnya.
Tapi aku tetap melanjutkan kegiatanku dengan menambah satu jari lagi, jari tengah tangan kananku dan melebarkan lingkaran berkedut itu ke sisi kanan dan kiri. Ini lebih menyingkat waktu dibandingkan aku harus menusuknya berkali-kali.
Aku menggunakan jariku yang tersisa untuk membuat kejantananku berdiri tepat di bawah lubangnya. Mendorong tubuh di atasku untuk menubruknya dengan keras.
"EMMMFH! EMMFFH?!"
Aku tahu saat ini ia tengah menjerit jika saja mulutnya tidak dalam keadaan terbungkam. Melihat lelehan air mata yang mengalir dari kedua matanya yang terbelalak terkejut, kesakitan dan juga terdapat kepuasan di sana membuatku tersenyum tipis.
"Kau benar-benar masokis," tukasku.
Kedua tanganku beralih untuk menyentuh pinggulnya. Menarik tubuhnya naik hingga kejantananku sedikit demi sedikit keluar dari anusnya. Alisku mengernyit saat melihat beberapa bulatan merah pada celana dalam berwarna putih yang kugunakan. Anus anak ini mungkin robek karena kupaksakan. Tapi ia menikmatinya, aku tahu itu.
"Hnggh! EMH- MMH!"
Ia mengerang keras dengan kepala yang menengadah penuh. Membiarkan jatuhan air matanya terus membanjiri pipi dan mambasahi leher dan baju seragamnya. Aku akan mengakhiri ini dengan cepat.
.
.
.
.
.
.
Klek!
Orochimaru membuka pintu samping depan mobilnya, membantu pemuda pirang yang nampak meringis sakit saat berusaha beranjak dari duduknya. Namun dengan cepat tangan pemuda itu menolak bantuannya.
"Daijoubu desu, Sensei. Kalau kau membantuku seperti ini, orang rumahku bisa curiga," ucap Naruto. Ia memakai tasnya dan keluar dari mobil dengan memegangi pintu. Ia tersenyum kecil pada laki-laki berusia jauh di atasnya itu.
"Naruto,"
Hijau kekuningan menoleh sempurna ke samping, menatap seseorang, di mana saat ini tengah berdiri di depan pintu masuk rumah minimalis, tepat di mana mobilnya terparkir di depan rumah itu. Melihat pemuda dengan surai merahnya berjalan keluar seraya memandangi dirinya dengan ruby mendelik tajam.
"Ah, Kyuu. Kau belum tidur?"
Orochimaru kembali beralih menatap pemuda pirang di sampingnya. Muridnya itu terlihat tersenyum kearahnya.
"Sensei, dia kakakku. Uzumaki Kyuubi," ucap Naruto. Ia berjalan mendekati pemuda merah itu. "Kyuu, ini guruku di sekolah. Orochimaru-sensei, dia mengajar kimia,"
Pemuda merah itu menatap Orochimaru dari atas sampai bawah sebelum kembali menatap adiknya. "Kenapa kau terlambat pulang?" tanyanya menyelidik.
Naruto mengesah, "Kan sudah kubilang, aku memberi les adik kelasku. Harus berapa kali sih, aku mengatakannya padamu?" ucapnya dengan raut sebal.
Kyuubi berdecih, ia mendorong tubuh Naruto ke dalam rumah, "Masuk sana!"
"Eh? Tapi, Sensei –"
"Kau pikir ini jam berapa? Sudah masuk! Atau aku kunci pintunya dengan kau di luar rumah!" teriakan kesal itu membuat Naruto menggerutu meski tetap menuruti kakaknya.
"Tch! Dan kau," Sepasang ruby menatap Orochimaru dengan datar. Ia memandang balik dengan tatapan yang sama. Tidak berniat sekalipun menanggapi nada bicara kurang sopan dari pemuda merah itu.
"Jaga jarakmu dari adikku. Atau aku akan membuatmu menyesal!"
Sudut-sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk senyuman kecil yang ia tujukan pada pemuda merah di depannya. Brother complex, dan tipe yang bertindak nekad. Tapi sayang, Orochimaru tidak tertarik sama sekali berurusan dengan ancaman kecil pemuda itu.
"Mungkin akan sulit, Naruto-kun adalah murid Saya. –Sebaiknya saya segera pulang, selamat malam," ucap Orochimaru. 'Seharusnya kau katakan itu pada Adikmu,' mungkin seharusnya ia mengucap kalimat itu. Ia membalikan tubuhnya dan membuka pintu mobilnya.
"Sensei mau pulang ya? Kalau begitu sampai jumpa!" Orochimaru menoleh saat suara Naruto terdengar. Ia hanya tersenyum dan mengangguk pada pemuda yang saat ini tengah melambaikan tangan padanya di ambang pintu sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Naruto, masuk!"
Manik ularnya bisa melihat orang bernama Kyuubi itu seperti membentak Naruto dari dalam mobilnya yang mulai melaju pelan. Matanya menyipit saat pemandangan dari kaca spion mobilnya menunjukan kejadian yang sedikit janggal. Naruto merangkul leher pemuda merah itu dan terlihat menciumnya. Orochimaru mengesah, ia benar-benar tidak mengerti pemikiran remaja sekarang ini.
Drrrt... Drrrt...
Ponselnya yang bergetar dengan dering khusus untuk seseorang membuatnya segera mengangkat panggilan itu. Ia tersenyum saat mendengar suara seseorang di seberang sana.
'Kau dimana?'
"Aku di jalan pulang. Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu? Atau ingin kubelikan sesuatu?" tanya Orochimaru, nada bicaranya terdengar hangat.
'Kau sudah mengantar Naruto pulang?'
Senyumnya sedikit memudar, "Ya," jawabnya singkat, mengenyahkan sedikit rasa tidak nyaman saat lagi-lagi pemuda pirang itu membuatnya terlihat tidak ada.
'... kalau begitu, belikan aku kue,' ucap suara di ponselnya.
"Hmm, baiklah. Tidurlah dulu, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai. Oyasumi, Sasuke-kun,"
'Hn,' –tuut... tuut... tuut
Ponsel ditangannya ia taruh di kursi sampingnya dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Naruto,"
"..."
"Naruto,"
"..."
"Tch! Dobe!"
Tangan Sasuke mencengkram pergelangan tan orang yang sejak tadi terus berjalan cepat mendahuluinya. Ia sudah tidak tahan lagi terus main kucing-kucingan dengan pemuda ini. "Apa masalahmu?" tanyanya.
Naruto terlihat mendelik kesal dan berusaha menarik tangannya, "Aku tidak punya masalah apapun. Le –lepaskan tanganku, Sasuke," jawab pemuda pirang itu. Ia hanya menatap Sasuke sekilas sebelum melihat kearah lain.
"Lalu kenapa kau menghindariku?"
"A –aku tidak menghindarimu!" bantah Naruto. "Lepas Sasuke," pintanya pada pemuda onyx di depannya.
Sasuke melangkah maju, dan Naruto melakukan hal sebaliknya. Ia mundur dengan tangan yang terus berusaha lepas dari cengkraman Sasuke. "See? Kau menghindariku," ucapnya.
"Please, bisakah kita bahas nanti. Ini di sekolah, kau membuat keributan," mata Naruto melirik kanan dan kirinya. Ia menggigit bibirnya saat murid-murid lain terlihat memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik. Mungkin merasa heran karena melihat Sasuke yang berasal dari gedung sebelah ada di sini atau malah karena pemuda onyx itu terlalu dikenal di mana-mana.
"Apa kau berencana membuat gosip dengan melibatkanku? Kau itu populer, setidaknya jangan buat aku jadi pusat perhatian juga, Teme!" ucapnya dengan suara dikecilkan. Kepala pirangnya semakin menunduk begitu Sasuke terus menatapnya.
"P –pulang sekolah, kita bicara nanti. Sekarang lepaskan aku, please,"
Sasuke berdecak, "Fine," ucapnya. Ia berjalan mendekat dan berbisik pada pemuda pirang di depannya itu, "Tapi jika kau menghindar lagi, aku tidak akan segan untuk menyeretmu," lanjutnya dengan bibir tipis menguntai seringai begitu tubuh Naruto tersentak karena ucapannya. Ia melepaskan tangan Naruto dan membalikan tubuhnya, berjalan menjauh dari pemuda pirang yang masih berdiri mematung.
Naruto menyeringai.
.
.
.
.
.
Kaki beralas sepatu hitam sneakers menendang kursi di depannya hingga kursi itu terjatuh. Sepasang onyx menyipit tajam, menatap jendela ruangan yang ditempatinya. Sasuke menyandarkan dirinya pada meja keramik di ruang praktik. Suasana hatinya saat ini sedang buruk, dan itu semua karena pemuda pirang yang selalu menghindarinya.
"Aku sudah bilang untuk tidak melakukannya, Sasuke-kun. Tapi kau tetap melakukannya," ucap pria bersurai hitam panjang. Tubuhnya yang berbalut jas lab membungkuk, membenarkan kembali kursi yang ditendang Si pemuda onyx pada tempatnya lagi.
"Aku tidak meminta pendapatmu," ucap Sasuke dingin.
"Lalu, sekarang dia menghindarimu," tukas Orochimaru, ia menghindar saat Sasuke melempar sebuah tabung kaca kecil kearahnya hingga tabung itu pecah menabrak tembok di belakang tubuhnya.
"Itu tugasmu. Aku mau dia. Artinya kau harus buat dia jadi milikku!"
Orochimaru menghela napas, ia berjalan mendekati Sasuke, menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu pada meja. Memerangkap tubuh yang lebih kecil darinya itu diantara meja dan dirinya. "Kau sangat tahu, jika aku tidak suka saat kau membahas ini. Kenapa harus Naruto? Apa aku tidak cukup untukmu?" tanyanya.
Dengusan remeh terdengar dari Sasuke, manik hitamnya memandang hijau kekuningan dimata laki-laki di hadapannya dengan pandangan mencela. "Kau yang suka padaku. Apa kau sadar posisimu sendiri?" tanyanya dengan nada mencemooh.
"Jika kau ingin terus menyentuhku, maka jadikan dia milikku. Berhenti bersikap seperti aku ini kekasihmu,"
Jemari Orochimaru menyentuh permukaan keramik meja dengan erat, menahan rasa marahnya. "Kau tidak pernah seperti ini selama lebih dari satu tahun bersamaku, Sasuke-kun. Kau tidak pernah menginginkan seseorang sampai seperti ini," ujarnya berat. Ia menatap Sasuke dengan intens, "Apa kau menyukainya?"
Sasuke menyeringai.
"Kenapa jika aku memang menyukainya?" tanya pemuda itu. Kepalanya mendongak, menampilkan kesan arogan saat dagunya terangkat lebih tinggi.
"Kau cemburu?"
"Ya," Orochimaru menjawab dengan cepat, "Aku cemburu. Memikirkanmu menyentuhnya, menciumnya, memikirkan dia. Aku tidak bisa menerima itu," kedua tangannya bergerak lebih dekat pada Sasuke. "Itu membuatku marah, dan saat ini aku sedang marah,"
"Khu –haha... hahaha!" Sasuke tertawa keras, satu tangannya terangkat dengan jari-jemari yang saling merapat.
Plak!
"Berani sekali kau!" ucapnya sinis. Ia menatap wajah yang menoleh paksa akibat tamparannya dengan jijik. "Kau harus sadar dengan posisimu. Kau hanya orang yang terobsesi mencabuli anak dari sahabatnya sendiri. Memikirkan hal-hal kotor tentangnya! Dan sekarang kau berani untuk marah padaku?" tanyanya sarkas.
"Bahkan kau memperkosaku saat itu! Kau lupa?"
Sasuke mengelus lembut bekas tamparan diwajah Orochimaru dengan jemarinya, "Jangan macam-macam padaku jika kau tidak ingin kehilangan anak manis ini, Darling. Jangan sampai aku mengatakan semua perbuatanmu pada Papa," ucapnya.
Sasuke mengecup pipi memerah Orochimaru sekilas, "Okay?" bibirnya melengkungkan senyum tipis untuk sesaat sebelum wajahnya kembali tak berekspresi. "Aku kembali ke kelas. Kau harus membuatnya menjadi milikku. Hari ini," tegasnya dengan tangan yang menepis tangan Orochimaru darinya dan berlalu pergi meninggalkan laki-laki itu sendirian.
.
.
.
"Tch!"
Ia berdecih. Telapak tangannya menyapu bekas tamparan diwajahnya, ia menatap datar pintu lab yang tertutup. Sudah dua kali ia mendapat tamparan dalam satu Minggu ini hanya karena pemuda pirang yang membuat Sasukenya marah.
Meredam rasa kesalnya, Orochimaru mengambil ponselnya dari saku jas putih yang dipakainya. Menghubungi satu nomor baru yang ia tahu sebagai biang dari masalahnya.
"Aku ingin bicara padamu. Sekarang," ucapnya kilat dan mengakhiri panggilannya itu.
Obsesinya sudah terlalu terjerat saat ini dan posisinya yang sejak awal hanya bayang-bayang akan semakin tersingkir jika Sasuke benar-benar menyukai anak itu.
.
.
.
.
.
Dengan berdiri tegak di depan mobil hitam sport miliknya, Sasuke menatap satu orang yang tengah berjalan melewati lapangan dengan datar. Memandangi pemuda pirang yang terlihat begitu gugup dan berusaha untuk tidak beradu tatap dengannya. Ia menunggu pemuda pirang itu hingga berdiri tepat di depannya.
"Aku tidak bisa lama. Ja –jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"
Sasuke menatap pemuda di depannya datar, "Masuk," ucapnya dengan pintu depan mobil yang dibuka.
"Eh? T –tapi setelah ini aku ada pi –Hei!"
Ia menarik tubuh Naruto masuk ke dalam mobilnya. Mengacuhkan protesan tidak terima dari pemuda itu dan menutup pintunya sepihak. Ia sendiri berjalan memutari mobilnya dan masuk dari sisi lain, mengunci pintu mobilnya sebelum pemuda pirang itu kembali membukanya.
"Sasuke, aku tidak tahu apa maumu! Tapi turunkan aku!" ucap Naruto kesal.
Sasuke tidak mendengar.
.
.
.
.
.
.
.
Brugh!
Tubuh berbalut seragam sekolah terhempas ke atas sofa. Bibir mengalun ringisan dengan jemari yang mengelus pergelangan tangan memerah. Biru laut menatap antara bingung dan kesal pada pemuda bersurai raven di depannya, berdiri dengan mata yang memandanginya tanpa ekspresi.
"Katakan,"
Naruto menunduk saat nada dingin itu terucap dari pemuda di depannya. Tubuhnya merapat pada sandaran sofa begitu kedua tangan putih memerangkapnya.
"Aku sedang bicara padamu,"
Ia tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Ini sudah tiga hari pemuda pirang yang terduduk gugup di depannya terus menghindarinya. Mendadak tidak lagi bersedia untuk mengajarinya dan bahkan lari saat melihatnya dari kejauhan. Sasuke tidak suka diacuhkan, terlebih lagi oleh pemuda pirang ini.
Ia menundukan tubuhnya dan menumpu kedua tangannya pada sandaran sofa, memerangkap tubuh itu. "Kenapa kau menghindariku?"
Kepala pirang semakin menunduk, "Sudah kubilang, aku ti –tidak menghindarimu, a –aku hanya -" ucapan gagap itu membuat Sasuke berdecih.
"Kau menyukaiku," ucap Sasuke. Manik onyxnya melihat tubuh pemuda itu menegang. Ia menyeringai, "Apa kau terus memikirkan ciumanku waktu itu?" tanya Sasuke.
"A –aku, aku –"
Tangan Sasuke bergerak untuk menyentuh sisian wajah yang tak bisa dilihatnya, mengelusnya lembut menyusuri garis wajah Naruto hingga mencapai dagu pemuda itu. Ia menekan dagu itu untuk membuat wajah tertunduk di depannya bersejajar dengan wajahnya sendiri. Bibirnya kembali menyeringai begitu melihat wajah itu sudah dihiasi semburat merah, juga bibir cerry yang digigit pemiliknya.
Sasuke mendekatkan wajahnya, melihat pemuda itu menutup matanya dengan cepat. "Kau tidak ingin melawan?" tanyanya. Jaraknya dengan pemuda itu kini tak lebih dari satu centi.
Pemuda pirang itu hanya menggigit bibirnya lebih keras.
"Atau kau memang sengaja agar aku menyerangmu, Senpai?"
Seperti serigala. Mendesak, memojokan, lalu memerangkap mangsa dalam kekuasaannya. Napas hangat tubuh berdarah panas menerpa kulit gemetar buruan. Kelinci kecil tertangkap. Gemetar di pojok tebing bebatuan tanpa bisa menyelamatkan diri. Mungkin seperti itulah posisi Sasuke saat ini. Serigala buas. Kelaparan. Dengan mangsa manis di depan mata.
"Tetap tidak ingin melawan?" suara mengecil menandakan peringatan terakhir. Sasuke menyentuh punggung tangan Naruto dengan bibirnya. Membawanya menyusuri lekukan jari manis, kelingking, telunjuk dilumat dengan perlahan.
Mata berkilat melihat rona merah menyebar merata dipipi tan. Merah basah dibibir legit Si pirang menambah ketidak sabarannya. Sasuke meneguk ludah perlahan. Menahan gejolak untuk pemporak-porandakan tubuh di depannya dengan segera. Tidak boleh terlihat jika ialah orang yang sangat menginginkan pemuda pirang itu.
"S, Sasuke..."
Sasuke menatap biru berlinang air tertahan diantara garis-garis mata. Melihat mata itu begitu terpaku, padanya, dan pada bibir yang terus memberikan hisapan-hisapan kecil dipergelangan tangan. Bibir Sasuke tersenyum, tangan dalam genggamannya dibawa melewati leher, dibiarkan menumpu pada leher belakang.
"Got you, Senpai," bisiknya sebelum membenamkan wajahnya diceruk leher Naruto.
.
Sitrus, lemon dan sedikit manis dari kekayuan. Rasa memabukan, berkali-kali aroma yang sama terus menggelitik penciuman Sasuke sebelum ini. Tapi baru kali ini dia benar-benar dapat mencium aroma itu dengan jelas. Dan tak dapat diragukan lagi, ia mabuk, akan tubuh yang menguarkan aroma ini.
Lidah Sasuke terjulur menyentuh permukaan kulit dalam jangkauannya. Mencicipi sedikit demi sedikit setiap bagian leher Naruto. Memberinya kecupan dari yang teringan hingga bisa meninggalkan jejak-jejak kemerahan dikulit tan terbakar matahari pemuda pirang itu.
Erangan terdengar, aksinya semakin gencar mendapatkan reaksi diinginkan. Tubuh bergetar pelan dalam belaian tangan menjadi sasaran. Seragam sekolah terpasang di badan dibuka satu persatu kancingnya. Satu, dua, tiga seterusnya dari bawah ke atas. Perut rata naik turun dengan cepat, dada seperti gemuruh genderam begitu jemari Sasuke menyentuh kecil puting manis sewarna madu setengah menegang.
Mata mengerling, teralih dari kegiatan cipta mencipta bercak kemerahan pada kedua gundukan kecil didada Naruto. Sasuke menurunkan kepalanya, mengecup disepanjang jalan kulit Naruto hingga ketujuannya. Kecupan kecil, sekali dua kali lalu berlanjut dengan lumatan penuh pada puting menggoda itu.
Tubuh Naruto melengkung, punggungnya meninggalkan sandaran sofa karena rangsangan yang diterima diwilayah sensitif dada. Bibirnya ribut mengalunkan desah, antara protes atau menikmati.
Tangan meremas-remas kerah belakang Sasuke, penglihatannya kadang terpejam karena malu namun terkadang mengintip di balik kelopak mata berbulu mata lentiknya. Penasaran dengan Sasuke dan apa yang dilakukan kohai-nya pada dada rata laki-laki miliknya. Wajahnya semakin memerah begitu biru bulat dimatanya menangkap pemandangan yang membuat sesuatu diantara selangkangannya semakin menyesakkan.
Lidah pemuda Uchiha itu meliuk-liuk mengitari puting susunya. Lalu meraupnya dengan bibir basah, menariknya pelan lalu kencang. Membuatnya semakin menegang diantara daratan rata.
Tangan menyentuh inci ke inci bagian tubuh Naruto. Tubuhnya meremang, jari-jari panjang menjelajahi punggungnya, memijat lembut dan kembali bergerak hingga mendekati tulang ekornya. Naruto menggigit bibir. Mengerang-erang.
Ikatan pada pinggang dibuka dengan tidak sabaran. Sasuke melonggarkan celana Naruto, menurunkan retsleting dari depan, menyusupkan jari-jarinya dari belakang. Menyelip diantara belahan bokong kenyal dan lembut. Giginya menggigit-gigit gemas puting Naruto begitu tangannya menemukan kerutan kecil di bawah sana. Suara erangan semakin sering di dengar telinganya.
Mata onyx melirik wajah bersemu di atas. Tatapan lemah, rupa dengan ekspresi penuh keerotisan.
Sasuke memutar-mutar jari tengahnya mengitari kerut kecil diantara bokong. Mengetuk-entuk dan menekan.
"Nnh..."
Mulut melepas kuluman puting. Lidah menjilat bibir basah namun terasa kering miliknya. Pemuda pirang di hadapannya ini sangat membuatnya bergairah.
"Naruto-senpai," bisiknya ditelinga Naruto. "Kurasa penismu sudah begitu basah, keras, dan menyesakkan. Penis itu butuh ruang hangat seperti mulutku untuk muncrat,"
Mata beriris biru membulat, "Tu –tunggu dulu!" tangan terkalung dileher Sasuke merubah posisi mendorong dada pemuda itu. Naruto terlihat panik. "Ti-tidak perlu. K –kita hentikan saja. Okay?"
Sasuke melirik tangan di depan dadanya. Tangan itu gemetar, tatapannya datar. "Hm, tapi aku memilih untuk berlanjut, membuatmu merebah di bawahku, membuat bibirmu berliur dengan namaku terus mengalun dari mulutmu, memasuki anusmu dengan penisku. Itu terdengar lebih menyenangkan."
Naruto tidak tahu wajahnya bisa lebih merah lagi atau tidak saat ini, tapi kata-kata Sasuke barusan, terlalu vulgar. Ia menggeleng dan tubuhnya menjauh. "Sebaiknya a-aku pu –awh!" kata-kata itu terganti ringisan. Ia berhenti menggerakan tubuhnya, rasa panas dan sesuatu yang begitu asing menusuk liang diantara bokongnya. Semakin ke dalam, semakin menusuknya.
"Ngh... Sasuke –keluarkan!" pintanya dengan tubuh gemetar.
Jari tengah didorong dalam. Melewati kerut otot-otot menegang, menyempit karena rangsangan tiba-tiba yang Sasuke lakukan. Senyum seringai, bibir pucat terbuka, menggigit gemas pipi bergaris tiga, menghisapnya pelan.
Gerilya tangan gencar meremas diantara selangkangan. Menekan-nekan celana berbahan katun di balik seragam. Keras, dan basah. Sasuke mengecup di sepanjang leher, dada keperut, menggaris lurus hingga mencapai gundukan basah di selangkangan. Ia meraup kain menggembung itu ke dalam mulutnya.
Pemuda pirang mengerang-erang. Ketidak nyamanan dan rasa asing menggedor dalam dada.
Celana diturunkan. Bibir terbuka dengan lidah terjulur menyentuh kepala kejantanan yang sempat menampar dagu Sasuke. Daging tak bertulang menjilat percum di liang kecil kepala penis. Asin dan memabukan.
"Nnh –Sasuke!"
Sasuke menyeringai, mulutnya terbuka lebih lebar, penis tertanam sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Melumuri benda hangat berdenyut penuh urat itu dengan liur.
Mata melirik ke atas, memeriksa pemuda kesayangan yang tengah digerayanginya. Berpeluh, bernafsu, bibir terus mengalunkan desah kepasrahan. Menggairahkan dimatanya. Baju seragam acak-acakan dienyahkan. Membugili tubuh halus sewarna karamel. Pemanis tambahan dimata saat dirinya mengulum batangan kejantanan keluar masuk.
Tangan bergerak meraba-raba, meremas bokong kenyal, menggoda tubuh bergetar terserang kenikmatan. Sasuke memasukan jari keduanya. Si pirang mengerang, meremas bahu alfanya. Jari telunjuk menyisip diantara liang, menemani jari tengah di dalam. Bergerak merenggangkan, seperti gunting lalu berputar dan menusuk dalam tiba-tiba.
"Ahh!"
Kuluman dipercepat, titik kenikmatan dijebol dari depan dan belakang. Mengirimkan rangsangan nikmat tak tertahankan. Ketika penis dalam mulut Sasuke berdenyut tak sabaran, ia memasukan benda itu lebih dalam hingga bibir menyentuh ujung batang.
Semburan benih tenggelam langsung ketenggorokan. Membanjiri mulut, meluber keluar. Sasuke meneguh cairan berbau anyir memabukan itu, menelannya tak tersisa. Meminta lebih jika bisa. Lidah menjilat-jilat lubang kencing, mengecup dan menyedot hingga habis.
Tubuh kembali ditegakan, mensejajar badan dengan submisif tercintanya. Bibir menjilat peluh disisi mata, mengecup pelan pinggiran mulut tersengal lelah.
"Sasu... nghh..."
Obsidian hitam memaku pandangan sayu sepasang biru. Menyihirkan jerat tak terlihat.
Sasuke mengangkat satu persatu kaki Naruto, membuat kedua kaki telanjang itu berada di atas kakinya sendiri. Tubuh berseragam lengkap dipenuhi peluh hawa nafsu. Menahan gejolak keinginan untuk segera melahap pemuda di depannya bulat-bulat.
Retsleting turun dengan cepat, ikat pinggang melonggar. Tersampai seadanya pada celana. Penisnya sudah kegerahan, percum menetes-netes membasahi celana dalam. Buangan napas lega terlepas tak sengaja saat kejantanannya dikeluarkan. Sasuke menjilat bibir keringnya, batang Naruto kembali menegang malu-malu saat kelamin saling bergesekan. Ia mendesis.
Longgaran liang senggama terasa cukup bagi submisifnya. Dua jari bisa dengan mudah ditambah satu. Jari keluar, kejantanan bersiap di depan lubang, otot-otot kembali merapatkan diri. Menyempit lagi, tapi tak sedetik kemudian kepala penis melesak, mencoba masuk lingkaran.
Telinga mendengar henyakan dari Si pemuda pirang, tubuh telanjang menegang dengan remasan kuat dirasa bahu Sasuke. Bibir semerah stroberi bengkak merintihkan namanya.
"Ungh! Sasuke –sakit!"
Tangan meremas-remas, penyalur rasa sakit dikala mulut dibungkam paksa oleh cumbuan. Naruto memeluk sadar tak sadar. Gesekan kulit berurat menegang beradu ketahanan. Liangnya panas seperti terbakar. Mempersulit kejantanan lawan masuk menusuk dalam dirinya.
Masuk lalu keluar. Sepertiga batang kemaluan memompa memperlebar jalan. Menghentak-hentak hingga ujung penis tertanam diliang surga. Teriakan teredam tak dipedulikan. Sasuke menghentak penuh semangat. Lubang ketat mencengkram, sensasi panas seksual baru mengambil kendali otak.
"Ahh. Ahh. Ahh."
Naruto terus mendesah. Mengaktifkan saklar hewan buas kelaparan.
Kedua puting dipelintir jari-jari, ditarik-tekan mengikuti penis bergerak di lubang. Sperma menyembur tanpa belaian. Basah. Lengket. Perut Sasuke menempel licin pada perut Naruto. Desah napas beradu panas. Hitam obsidian menatap nafsu wajah berkeringat. Mata secerah langit berlinangan air ingin tumpah. Lidah terjulur menjilat menyapu butiran bening di ujung mata. Sasuke memonopoli titik-titik sensitif Naruto.
Rambut lusuh menempel lepek, tetesan peluh membanjiri kulit. Tubuh karamel di angkat duduk. Pinggul diturunkan semena-mena. Menusuk-nusuk liang mencari titik nikmat. Getaran nafsu memenuhi ruangan dengan aroma seksual.
Penis yang masuk semakin mempercepat gerakan. Menubrukan daging berselimut kulit disetiap geraknya. Desahan dan ringisan bersatu padu sebagai musik latar pengiring persetubuhan. Dua remaja memanja hormon kelelakian hingga terpuaskan.
Sasuke terus menekan-nekan pinggul Naruto. Tubuh Si pirang terlonjak-lonjak dalam kendalinya. Mendesah-desah. Meracau nikmat dan merasa kesakitan bersamaan.
"Ahh! Sasuke –aah!"
Nikmat. Nikmat. Nikmat. Rasa nikmat menyerang hingga keubun-ubun. Menggetarkan tubuh perkasa terbawa nafsu dan suasana. Penis yang semakin besar di dalam sarang, menegang tangguh menantang panasnya daging bergesekan. Getaran nikmat semakin dirasa begitu Sasuke merasakan spermanya mengalir deras menuju ujung kemaluan.
Satu tancapan dalam di liang yang dibobolnya dan semburan cairan tubuhnya tertanam dalam ruang ditubuh Naruto. Membanjiri tempat penisnya berada. Menambah hawa panas di dalam sana.
"A –AAH!"
Sasuke memejamkan matanya saat cairan dari kejantanan lain menyembur hingga wajahnya. Napas terengah dengan desahan panjang penuh nikmat. Lidahnya terjulur untuk menjilat cairan lengket disekitar bibir. Mata mengerjap terkena sperma sebelum benar-benar menatap wajah lelah submisif tercinta.
Tangan dipinggul melonggar. Tubuh di atas ambruk menimpanya. Kedua tangan bergerak memeluk, menyentub punggung berkeringat dengan protektif.
Napas tersengal terdengar ditelinga, "Sa –Sasuke –" kepala pirang menyelisik menunduk dalam di dadanya.
Sasuke tersenyum. Mengecup kening basah berkeringat. Menyisir helaian pirang ke belakang. Matanya terpejam setelah beberapa saat.
.
.
.
.
.
.
.
Membuka mata, kepala terdongak, biru langit berpantul lautan menatap wajah tidur struktur berkategori tampan dengan senyum. Melirik kearah lain, baju seragam berceceran di lantai dekat sofa. Naruto bangun pelan-pelan. Tak ingin manusia tampan tertidur pulas mendekapnya terbangun karena gerakannya.
Alis mengernyit merasa bagian bawahnya memompa keluar cairan putih di dalam dubur. Inginnya berdecak karena itu sangat tidak nyaman, tapi urung dilakukan. Tidak mau ambil risiko membangunkan Sang pangeran.
Ah... Benar. Pangeran polos yang sangat tergila-gila padanya. Pangeran tampan yang digilai Raja dihatinya.
Naruto menyeringai. Ia melihat wajah Sasuke sekali lagi, tangannya menggapai celana di lantai. Meraba-raba kantung, mengambil ponsel. Menyetel ponsel menjadi diam. Naruto kembali membaringkan diri di samping Pangeran Uchiha. Membiarkan tubuhnya didekap kembali karena terusik gerakannya.
Ponsel di balik, aplikasi kamera bersiap memotretnya, tersenyum manis bersama wajah tidur Uchiha Sasuke. Dua, tiga kali jepretan. lalu ia beralih pada aplikasi lainnya. Wajah bersemu kemerahan, jari-jari mulai mengetik dengan terampil di kolom pesan elektronik. Melampirkan dua foto tadi lalu mengirimnya.
Ponsel kembali ke kantung celana, begitu juga ia yang kembali memejam mata. Sekarang apa yang akan dimintanya nanti?
.
.
.
Orochimaru menatap ke depan datar. Jam di pergelangan tangan sudah menunjuk angka sebelas malam, pulang larut bukanlah kebiasaannya. Tapi untuk hari ini, ia sengaja. Membiarkan selama-lamanya apartement mewah miliknya kosong –tidak benar-benar kosong, karena ia tahu saat tiba di sini, ia akan menemukan dua pemuda bertelanjang tubuh, di atas sofanya, di apartementnya.
Ponsel ditangan diremas, layar menyala masih menunjukan foto dua orang berpeluk erat, satu tersenyum, satu tertidur lelap. Bibir mengalun desah lelah, ia berjalan ke meja makan. Menaruh tasdi atasnya dan menyuangkan air putih ke gelas. Meneguk rakus air penyegar tenggorokan dengan segera.
Kegiatan terhenti saat Orochimaru merasakan dekapan di perut, hawa panas menyerap pada kain baju bagian punggungnya.
"Konbanwa,"
Manik kuning kehijauan melirik sejenak, gelas kosong ditangan ditaruh di meja. "Konbanwa, Naruto-kun," balasnya pelan. Sesunyi mungkin agar tak menimbulkan kebisingan.
"Tak ada ciuman selamat malam untukku?" tanya Naruto. Dekatap mengendur meski tak terlepas.
"Pakai pakaianmu, aku akan mengantarmu. Ini sudah malam," tak melihat namun Orochimaru tahu ekspresi apa diwajah pemuda pirang di belakangnya.
"Ha'i~, demo –" kata terputus, bibir terbungkam sebelum menyelasaikan protesan kecilnya. Naruto memejamkan mata, tangan bergerak untuk mengalungi leher Orochimaru. Ia mendesah pelan saat bibirnya dilumat pelan. Ketika ia ingin ikut bermain dengan lidah, Orochimaru sudah menjauh.
"Pakai pakaianmu,"
Rambut pirang diacak, pemiliknya merengut karena singkatnya cumbuan selamat malam. Tak ingin berlama dengan tubuh telanjang mulai kedinginan, ia beranjak untuk memunguti satu persatu pakaian dan mengenakannya. Mata biru melirik guru kesayangan, tengah mengangkat pangeran tampan Uchiha dengan kedua tangan, menggendongnya penuh kehati-hatian. Ia melihat tak berkedip, mengikuti ke mana Orochimaru membawa Sasuke.
Di depan pintu, Naruto menatap dengan bosan adegan romansa Raja mengelus penuh cinta Pangeran hatinya. Tangan besarnya menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah tidur terlelap. Menyelimuti hingga di atas dada.
Mata beriris biru bertubruk pandang dengan kuning kehijauan, warna kedua memutus kontak pertama kalinya. Naruto hanya terdiam bersender di sisi pintu ketika Orochimaru melewatinya. Rasa keposesifan menyelubungi dada, tatapan lurus ke depan melihat putra tidur memejamkan mata tanpa melihat seringai diwajahnya saat ini.
.
.
.
.
Entah sudah berapa lama kebiasaan baru Sasuke terjadi. Pemuda berparas tampan itu terus bergelut dengan ponselnya sepanjan hari, tiada henti jika itu bukan saatnya ia untuk tidur. Tapi Orochimaru jelas tahu alasan di baliknya. Pernah sekali ia memeriksa ponsel anak itu, mendapati ratusan pesan masuk dibalas satu persatu.
Sudah lebih dari tiga bulan sejak Sasuke pertama kalinya bertemu dengan Naruto langsung. Memulai kedekatan lebih dari sekedar teman dan pemberi les pelajaran. Hampir setiap hari bertemu, dibawa ke apartementnya. Orochimaru tahu dan cukup sadar, Sasuke berubah. Perubahan yang cukup baik. Dalam pergaulan, ia tak lagi hanya diam di kelas atau melamun tak menanggapi sapaan. Si pemuda pirang juga mengenalkannya pada teman-teman lain kenalannya. Sasuke terlihat lebih ceria.
Tapi hal itu menjadi sumber kekhawatirannya. Sosok pengubah obsesifitasnya tak seperti Sasuke mengenalnya. Uzumaki Naruto, pemuda berambut pirang matahari menjadi sosok ceria tak terganti. Bukan sebagai main-main, Orochimaru tahu Sasuke lebih dari itu pada bocah asuhannya.
Ia itu egois. Keegoisannya untuk tetap memiliki Sasuke adalah prioritasnya. Membuat remaja enam belas tahun itu tetap merasa membutuhkannya. Hanya Orochimaru. Hanya ia. Sebab itu pula, Orochimaru tak membiarkan sekecil apapun rasa dari Sasuke untuk menyentuh murid pirangnya. –bukan. Pemikirannya salah. Kendali dari rasa obsesifnya mungkin sudah membuat Orochimaru salah langkah.
Sadar tak sadar, Orochimaru menyadari posisi samarnya semakin tak menjangkau hati Uchiha kesayangan. Ia menginginkan obsesifnya. Obsesifnya mengejar murid Si pihak ketiga. Satu yang tidak diketahui Sasuke. Hal nyata dari Naruto di mana Orochimaru terlambat untuk menyadari.
"Sensei tahu aku bisa saja meninggalkan Sasuke, semudah aku menyebut namanya,"
Orochimaru menutup mata, penis keluar masuk liang senggama. Bokong kenyal menubruk kulit paha berkali-kali. Sensasi penuh nafsu menggauli bocah remaja tujuh belas tahun. Tubuh naik turun memegang kendali. Biru safir bertatapan erotis memaku badan kekar rekan persetubuhan.
"Sensei sangat tampan, ahh... tampan. Tampan. Sensei adalah milikku!" racauan bibir membarengi desah nikmat. Mulut yang ternganga, liur menetes di balok-balok otot perut terbentuk sempurna. Bocah pirang tujuh belas tahun menjelma sebagai pelacur handal penjaja seks tanpa bayaran. Mengais penis besar idaman untuk dinikmati, menerobos anus lecet berkali-kali.
"Ah –Aku akan keluar! Sensei, pijat aku –manjakan aku!"
Tangan dewasa menyambut keinginan. Menggenggam batang kemaluan meneteskan percum basah membasahi. Naik-turun. Mengocok. Meremas.
"Ahh! Ahh! Ahh!"
Desah menikmati semakin menyelubungi indra pendengaran. Mata yang tertutup terbuka, memandang ke depan. Ia tersenyum. Menatap penis berdenyut tak sabaran dalam genggaman. Di mana organ reproduksi belum matang dipaksa berkali-kali digunakan.
"Meninggalkan Sasuke?" remas-remas dipenis mengencang. "Jika kau ingin kehilanganku, itu tidak masalah, Naruto-kun,"
Otot-otot liang senggama mengencang, mengapit batang kejantanan dengan gesekan kencang. Wajah erotis mengarah lurus, rasa lelah bercampur nikmat kentara jelas dimata Orochimaru.
"Kau –kau licik~ ahh! ahh! –Lebih keras! Sensei, -di sana!"
Tubuh di balik dengan cepat. Yang lebih besar menindih yang kecil. Pinggul maju mundur memberi tubrukan. Berkali-kali. Dalam. Nikmat. Bergairah seksual. Tubuh remaja Naruto bergetar, melengkung indah, terlonjak-lonjak menerima aktifitas seks kelebihan muatan. Jari-jari tangan mencakar selimut alas badan. Mata membuka dan menutup merasakan gejolak dada bergemuruh memberontak ingin keluar.
Semburan kencang membasahi dada. Puting tegang terbanjiri susu amis produksi alami lubang kencing. Lima atau keenam kalinya keluar dalam satu kali persetubuhan kali ini. Kadang Naruto kesal, pun ia kagum dengan ketahanan Sensei kesayangan. Laki-laki dengan umur jauh di atasnya itu belum sekalipun muncrat di dalam liangnya.
"Di dalam –aah! Ahh! Robek aku. Banjiri aku dengan benihmu Sensei!" meminta-minta. Mengais nikmat duniawi. Tubuh terhentak-hentak menikmati. Mulut tak henti meracau kotor membarengi. Orochimaru menusuk dalam, tak memberi jeda lebih dari sepersekian detik untuk prostat berhenti ditubruk. Hujam. Hujam. Suara becek bercum menemani gairah puber lelaki tiga puluh tujuh tahun. Hormon bergejolak naik-naik memompa cairan produksi telur kembar di bawah penis.
Kemaluan tegang menyembur seperti selang air menyirami tanaman. Panas, basah, penuh, licin. Tiga empat kali semburan sebelum habis sudah dari lubangnya. Penis dicabut, otot dubur melompong bolong meloloskan cairan seks keluar. Menutup otomatis karena terasa kosong ditinggalkan.
"Ngh~ Aku –penuh, oleh Sensei," tangan bergerak turun. Jari-jari mengelap sperma beleber di pintu masuk lubang. Naruto menjilat sperma ditangan, melumat jari berlumur cairan lengket rakus.
Orochimaru menatap tak minat. Jari-jarinya menyisiri rambut panjangnya ke belakang. Kegerahan dan mendadak kedinginan karena hawa AC mulai dirasa. Ia duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Matanya mengikuti gerak kepala kuning merayapi paha polosnya.
Penis berkerut setengah tidur dilahap mulut kotor Si remaja. Orochimaru memejam mata. Dibiarkannya bocah tak tahu rasa puas menyantap kemaluannya.
.
.
.
.
.
.
Puntiran tangan pada helai pirang terus berganti. Detik demi detiknya dinikmati pemilik marga Uchiha remaja muda dengan nyamannya. Sang terkasih yang bersandar dipundak menjadi kegiatan lain dikala tangan kanan membaca buku. Uchiha Sasuke melirik Naruto, mulut bercerocos bercerita, mata berbinar kesenangan dan tangan tak mau diam bergerak-gerak diudara.
"Masa Sensei itu bilang skala gedung yang kubuat salah? Katanya jika aku membuat gedung sepuluh lantai betulan, disandari saja gedung itu bisa roboh berantakan! Padahalkan aku sudah susah payah mengerjakannya! Terlebih aku sampai tidak tidur tahu!" Naruto bersungut-sungut, "Dari pulang sekolah, malam juga kukerjakan! Apa dia tidak tahu betapa kerasnya aku membuat replika gedung sialan itu! Terlebih dengan tubuhku yang sakit karena –"
Sasuke melirik lagi begitu ucapan terhenti mendadak. Seringai timbul, tangan bergerak menarik kepala bersurai pirang menghadapnya. "Sakit karena melakukan itu?"
Wajah memerah semerah tomat matang baru dipetik. Naruto gelagapan. Tangan Uchiha terkasih ditepis. "A –a –aku tidak bilang begitu!" sergahnya segera.
Uchiha muda tak percaya. Memutar bola mata dan kembali membaca buku ditangan. Ia acuh saat tubuh diguncang dengan suara cempreng membahana. Lama-kelamaan jengah juga. "Kau ingin kucium di sini?" tanya setengah mengancamnya.
Naruto bersidekep diam.
"Minggu depan kau ikut ke rumahku,"
Kelopak mata mengerjap. Biru safir menatap kebingungan. Tak terlalu mengerti ucapan yang baru didengar. "Rumah? Punya Orochimaru-sensei?"
"Bukan –Dobe. Apartement Orochimaru cuma kos-kosan bagiku,"
"Terus rumah yang mana?"
"Rumahku. Rumah keluarga Uchiha,"
.
.
.
End for this chapter
A/N : Huaaaaaaaaai~~~~ *^*/
Gimana kabar kalian para readerku tercintah! Sayah kembali dengan fik bulukan ini~ *goyang dribel*
Udah berapa lama ya nggak kulanjut? Err... setaon? #ditampol
hohohoho... padahal ni fik tuh udah ada sekitar 7k di leppy pas ituh... tapi gegara lemon SasuNarunya itu loh... *Gw ga ngefeel bikin lemon tu pair*
Jadinya ga lanjut-lanjut. Eh malah pas dilanjut dengan tiba-tiba... KO TULISAN GUE JADI BEGINI?! :"v
Yang baca tulisanku difik-fik lain ato awal ampe tengah chap ini dengan bener pasti ngerti dah.
Jadi maaf kalo feel tiba-tiba berubah di tengah ya. T,T~
Gaya tulisku berubah lagi karena lama ga ngetik cerita... *ngais tanah*
Kapaaaaaal! Minta duiiiit! /elu udah gila ya/
Wokeh! Nggak ngebacot lebih lama lagi!
See you next chappy Dear~ *Sini sayah cium*
Ehhhhhh! Satu lagi! Kok Naruto kesannya brengsek amat ya? =_=a
Rabu, 24/06/2015
