Chapter 2
My Mother
Yunho sedikit kaget oleh reaksi Jaejoong. Benarkah wanita itu adalah ibu Changmin? Mengapa ibu Changmin berkata seperti itu di ruang guru yang penuh oleh guru-guru? Apakah wanita itu ingin memanas-manasi mantan suaminya? Hal ini membuatnya malu dan merasa tidak enak kepada Tn. Shim. "Nyonya, silakan duduk!" Ia menunjuk kursi di depan mejanya, di sebelah ayah palsu Changmin duduk.
"Terima kasih, Pak Guru yang tampan." Jaejoong tersenyum manis kepada Yunho. Tatapannya masih tertuju pada wajah tampan wali kelas putranya itu.
Yunho pun duduk di kursinya. Sekarang di hadapannya sudah ada kedua orang tua Changmin. Ia bermaksud untuk menceritakan permasalahan Changmin kepada mereka berdua dan ia berharap mereka bisa lebih peduli lagi kepada anak mereka, walaupun mereka sudah bercerai. "Ehm..." Ia sudah siap untuk berbicara kepada orang tua Changmin. "Terima kasih kepada tuan dan nyonya sebagai orang tua Changmin yang telah meluangkan waktu untuk memenuhi undangan saya."
"Tunggu!" Jaejoong memotong pembicaraan Yunho. "Siapa pria ini? Apa urusannya dengan putraku?" Ia menatap curiga kepada pria yang duduk di sebelahnya.
"Nyonya, kumohon tenang! Kita berada di sini untuk membicarakan masalah putra kalian." Firasat Yunho mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada peperangan besar antara ayah dan ibu Changmin. Kasihan sekali anak didiknya itu. "Sebaiknya tuan dan nyonya menunda pertengkaran kalian, setidaknya sampai kita mendapatkan solusi untuk masalah Changmin."
Jaejoong memicingkan matanya. Ia menatap Yunho dan ayah palsu Changmin bergantian. "Apa maksudmu, Pak Guru? Mengapa kau terus mengatakan bahwa Changmin adalah anakku dan pria ini? Aku tidak mengenal pria ini."
"Nyonya, kumohon lupakanlah permusuhan kalian sejenak! Ini demi putra kalian, Changmin," ujar Yunho.
"Pak Guru, pria ini bukanlah ayah Changmin." Jaejoong bersikeras untuk meyakinkan Yunho.
Yunho mulai berpikir yang tidak-tidak. Jadi, Changmin anak siapa? Ia mulai mengerti sekarang mengapa orang tua Changmin sampai bercerai. Itu karena ibu Changmin berselingkuh dengan pria lain yang lebih tampan. Tentu saja Tn. Shim tidak percaya bahwa Changmin adalah anak kandungnya karena Changmin sama sekali tidak mirip dengan Tn. Shim.
Ayah palsu Changmin mulai kebingungan. Ia tidak tahu bahwa Changmin juga menyewa seorang wanita untuk berpura-pura menjadi ibunya. Namun, tampaknya wanita ini tidak diberi tahu bahwa Changmin juga menyewa dirinya untuk berpura-pura menjadi ayah. Jadi, apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus bekerja sama dengan wanita itu untuk menjadi orang tua Changmin? Akan tetapi, tampaknya wanita itu sulit untuk diajak bekerja sama. "Sayang, tenanglah!" Ia berkata kepada Jaejoong.
Jaejoong terkejut bukan main. Mengapa pria yang tak dikenalnya itu memanggilanya 'sayang'?
"Jangan membuat pak guru kebingungan! Dengarkanlah penjelasan pak guru terlebih dahulu!" lanjut pria itu.
Jaejoong tidak suka dipanggil seperti itu oleh orang yang tidak ia kenal. "Siapa kau? Mengapa kau memanggilku seperti itu?"
"Baiklah, aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi." Ayah palsu Changmin benar-benar kebingungan. Wanita sewaan yang berpura-pura sebagai ibu Changmin tidak bisa diajak bekerja sama. Jadi, panggilan apa yang harus ia tujukan kepada wanita itu? Ia tidak diberi tahu nama ibu Changmin, baik oleh Kyuhyun, maupun oleh Changmin sendiri.
"Selain itu, mengapa kau mengaku-ngaku sebagai ayah Changmin? Aku sama sekali tidak mengenalmu. Jadi, bagaimana mungkin kau adalah ayah dari anakku?" Jaejoong memarahi ayah palsu Changmin. "Seingatku aku tidak pernah menerima donor sperma dari pria lain. Anakku itu bukanlah bayi tabung."
Ayah palsu Changmin mulai frustasi dalam menghadapi Jaejoong. Bagaimana pun ia tidak boleh mengakui bahwa ia bukanlah ayah Changmin. Jika ia sampai gagal menjalankan perannya, ia tidak akan dibayar. Ia memutuskan untuk melawan Jaejoong. "Aku juga tidak mengenalmu, Nyonya. Bagaimana mungkin kau adalah ibu Changmin? Wanita semuda dirimu tidak mungkin punya anak sebesar ini."
Jaejoong tidak terima dituduh sembarangan oleh pria yang mengaku-ngaku sebagai ayah dari anaknya. "Berani-beraninya kau menuduh bahwa Changmin bukanlah anakku. Aku adalah ibunya. Akulah yang mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Kaulah yang palsu. Tidak mungkin anakku yang tampan ini mempunyai ayah sepertimu."
Yunho mulai pusing. Ia menatap tajam ke arah Changmin. Anak itu benar-benar kelewatan, mencoba menipunya dengan mendatangkan orang tua palsu. "Diam!" Ia berteriak kepada kedua orang tua palsu Changmin yang sedang bertengkar.
Seketika Jaejoong dan ayah palsu Changmin berhenti bertengkar. Mereka berdua ketakutan melihat amarah yang terpancar dari mata Yunho.
"Min, bawa kedua orang tua sewaanmu pergi dari sini! Kau diskors selama tiga hari." Yunho sudah tidak bisa memaafkan perbuatan Changmin. Kali ini anak itu sudah benar-benar kelewatan.
"Apa? Kau tidak bisa menskors anakku seenaknya. Memangnya apa yang telah ia lakukan, sehingga kau menghukumnya begitu saja? Kau bahkan belum menjelaskan kepadaku apa masalahnya." Jaejoong sangat marah. Ia tidak terima putranya dihukum tanpa alasan yang jelas.
Changmin akhirnya angkat bicara. "Pria ini memang bukan ayahku, tetapi wanita ini benar-benar adalah ibuku."
Yunho merasa kepalanya berdenyut. Apa lagi yang Changmin rencanakan kali ini? Ia tidak akan mudah dibohongi lagi. "Bawa mereka berdua pergi sekarang juga dan kau diskors selama tiga hari!" Ia mengulangi perintahnya.
Changmin tidak pernah melihat Yunho semarah ini. Pak Guru Yunho yang ia kenal selama ini adalah pria yang sangat penyabar. Ia menyadari bahwa perbuatannya kali ini sudah sangat keterlaluan dan melewati batas. Wajar saja jika wali kelasnya itu sangat marah. "Bu, ayo kita pergi!"
Jaejoong tidak mau bergerak dari tempatnya. Ia tidak kalah marahnya seperti Yunho. Ia menepis tangan Changmin yang menyentuhnya. "Aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum kau menarik hukumanmu kepada anakku."
"Nyonya, sudahlah! Kau tidak perlu melanjutkan aktingmu lagi. Semuanya sudah selesai," ujar Yunho. "Jika Changmin tidak mau membayarmu karena kau telah gagal melaksanakan tugas yang diberikan olehnya, biar aku saja yang membayarmu. Berapa?" Ia mengeluarkan dompetnya.
Jaejoong merasa terhina oleh ucapan Yunho. "Apa? Kau akan membayarku? Kau pikir aku adalah wanita macam apa? Pelacur, wanita murahan? Walaupun kau sangat tampan, aku tidak mau dibayar untuk menuruti perintahmu. Aku masih punya harga diri."
Yunho menjadi semakin bingung. Mengapa kini Jaejoong justru menuduhnya yang bukan-bukan? Kata-kata Jaejoong yang terakhir itu menggema di ruangan guru. Rekan-rekan gurunya kini menatapnya dengan penuh curiga.
"Bu, ayo kita pergi!" Sebelum situasi menjadi bertambah kacau, Changmin mengangkat tubuh ibunya dan meletakkannya pada bahu kanannya. Ia membawa ibunya pergi meninggalkan ruang guru.
"Min, apa yang kaulakukan? Lepaskan aku!" Jaejoong meronta-ronta. "Aku harus meminta penjelasan terlebih dahulu kepada wali kelasmu itu. Ia tidak bisa menskorsmu seenaknya."
.
.
.
Setelah membayar ayah sewaannya, Changmin membawa ibunya ke kantin untuk menenangkan diri. Ia tidak mengikuti pelajaran selanjutnya karena ia harus menangani ibunya.
Jaejoong masih merasa kesal. Ia duduk di bangku kantin sambil menikmati donat dan kopi susu. "Wali kelasmu itu tidak bisa berbuat seenaknya." Ia menjadikan donat sebagai pelampiasan kemarahannya. "Donatnya terlalu manis. Aku bisa gemuk jika memakannya."
"Kalau begitu, jangan dimakan!" ujar Changmin.
"Ini semua gara-gara wali kelasmu. Aku selalu merasa lapar jika sedang emosi." Jaejoong memakan donat ketiganya.
Changmin juga merasa lapar. Ia mengambil sebuah donat di atas piring.
"Eits!" Jaejoong memukul tangan Changmin. "Ini donat punyaku."
Changmin menatap ibunya. "Apa salahnya berbagi donat dengan anak ibu sendiri?" Dengan cepat Changmin mengambil donat dan melahapnya.
"Kau bisa gemuk jika kau memakan donat ini." Jaejoong berkata kepada putranya.
Changmin tidak mendengarkan ucapan Jaejoong. Ia tetap asyik memakan donat.
Jaejoong memperhatikan wajah putranya. Ia tersenyum melihat ekspresi ceria Changmin saat memakan donat. "Kau sangat suka donat ya? Pulang nanti ibu akan membuatkan donat yang banyak untukmu. Kau ingin rasa apa? Cokelat, stroberi, keju, atau yang lainnya?"
Changmin menatap ibunya. "Semuanya." Ia seakan lupa dengan masalahnya.
"Akan tetapi, ada syaratnya." Jaejoong menyeringai.
Perasaan Changmin mulai tidak enak. "Apakah itu?"
"Ceritakan kepada ibu apa yang sebenarnya terjadi! Mengapa ibu sampai dipanggil oleh wali kelasmu ke sekolah dan mengapa kau sampai diskors?" Jaejoong menuntut penjelasan dari Changmin.
Raut wajah Changmin berubah kembali serius. Selama ini ibunya tidak pernah mengetahui kenakalannya di sekolah.
"Pasti karena kemarin kau datang terlambat, bukan?" Jaejoong berdiri. Ia merasa bahwa ia harus mengkonfrontasi wali kelas anaknya.
"Bu, ibu hendak pergi ke mana?" Changmin mengejar ibunya yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kantin.
"Hey, kau belum membayar donat dan kopi susunya!" teriak penjaga kantin.
Changmin harus mengejar dan menghentikan ibunya. Ia tidak ada waktu untuk membayar. "Masukkan saja ke dalam tagihanku! Aku sedang terburu-buru."
Jaejoong berjalan cepat sekali. Ia sudah tidak sabar untuk memarahi wali kelas anaknya.
"Bu, sebaiknya ibu pulang. Aku akan membicarakannya lagi dengan pak guru." Changmin berusaha untuk mencegah ibunya masuk ke ruang guru.
Suasana ruang guru cukup sepi. Hanya ada beberapa guru di sana. Sebagian banyak sedang mengajar.
Yunho melihat Changmin berada di ambang pintu ruang guru. Ia pun memanggil Changmin karena urusan mereka belum selesai. "Changmin, masuklah! Mengapa kau hanya diam di sana? Aku tidak akan memarahimu." Emosinya tampak sudah reda.
Bukannya Changmin yang masuk ke dalam ruang guru, melainkan ibunya, Jaejoong, yang menerobos masuk. "Pak guru yang tampan, tolong jelaskan kepadaku mengapa anakku diskors?"
Yunho terlonjak kaget melihat Jaejoong. Kakinya terantuk meja. "Aduh, sakit!" Ia meringis kesakitan.
"Pak Guru, kau tidak perlu berpura-pura sakit. Aku tidak akan menggigitmu. Aku hanya akan meminta penjelasan darimu." Jaejoong sekarang terlihat lebih tenang menghadapi Yunho.
Selain Yunho, di ruang guru ada Park Yoochun, guru Bahasa Inggris, dan Kim Junsu, guru Seni Musik. Kebetulan tadi mereka sedang tidak berada di ruang guru saat Jaejoong dan ayah palsu Changmin menemui Yunho, sehingga mereka penasaran siapa wanita cantik yang meminta penjelasan kepada Yunho.
Yunho berhenti memegangi kakinya yang sakit. "Silakan duduk terlebih dahulu, Nyonya!"
"Nona!" tegas Jaejoong. Ia tidak suka dipanggil nyonya karena panggilan tersebut membuatnya merasa tua.
"Ya, baiklah. Silakan duduk, Nona!" Yunho mencoba untuk bersikap tenang.
"Pak guru yang tampan, mengapa anakku, Changmin, diskors?" Jaejoong memelototi Yunho.
Yunho menatap Changmin sekilas. Ia masih tidak memercayai bahwa Jaejoong adalah ibu kandung Changmin.
Changmin mengerti maksud Yunho menatapnya. "Bu, tunjukkan kartu identitas ibu!"
"Untuk apa?" Jaejoong berpikir yang bukan-bukan. Ia khawatir Yunho menyalahgunakan informasi yang ada pada kartu identitasnya.
"Pak guru tidak percaya bahwa ibu adalah ibu kandungku." Changmin menjelaskan.
"Pasti karena aku terlihat sangat muda," ujar Jaejoong dengan percaya diri. Ia pun menunjukkan kartu identitasnya kepada Yunho dengan jari telunjuknya menutupi tanggal lahirnya.
Yunho melihat dengan jelas nama lengkap Jaejoong. Ia pun kemudian menyocokkannya dengan biodata Changmin yang ada pada basis data siswa di komputernya. Nama ibu kandung Changmin yang tertera pada basis data memang Kim Jaejoong. Namun, ia tidak lantas percaya begitu saja. Wanita di hadapannya ini terlalu muda untuk menjadi ibu kandung Changmin. Jangan-jangan Changmin menyewa orang yang bernama sama dengan ibunya. "Nyonya..."
"Nona!" potong Jaejoong.
Yunho sedikit terkejut. "Baiklah, Nona. Bisakah saya melihat tanggal lahir anda?"
"Untuk apa?" ketus Jaejoong. "Apakah kau ingin mengerjaiku pada hari ulang tahunku?"
Yunho hanya melongo mendengar perkataan Jaejoong. Untuk apa ia mengerjai orang lain yang tidak ia kenal? "Tidak, bukan begitu. Aku tidak bermaksud untuk mengerjaimu, tetapi aku ingin mengirimkan hadiah ulang tahun."
Jaejoong menatap Yunho dengan penuh curiga. "Untuk apa kau mengirimkan hadiah ulang tahun untukku? Kita tidak saling mengenal."
Yunho mulai merasa kesal. Ia tidak bisa menang berbicara melawan Jaejoong.
"Kau tidak bermaksud untuk mengirimkan bom ke rumahku, bukan?" Imajinasi Jaejoong terlalu liar.
"Tentu saja tidak, Nyo...Nona." Kesabaran Yunho sedang diuji.
"Baiklah." Jaejoong akhirnya menyingkirkan jari yang menutupi tanggal lahir pada kartu identitasnya.
Yunho tercengang melihat tahun kelahiran Jaejoong. Wanita cantik di hadapannya itu ternyata lebih tua darinya, padahal ia mengira usia Jaejoong sekitar 25 tahun.
"Sekarang pak guru percaya bahwa ia adalah ibuku, bukan?" Changmin belum sepenuhnya merasa tenang.
Yunho mengangguk pelan. Memang sulit untuk dipercaya, tetapi ia terpaksa harus memercayainya. "Baiklah, Nn. Kim. Sekarang kita bicarakan masalah putra anda."
Meja kerja Yoochun dan Junsu berada cukup jauh dari meja kerja Yunho, sehingga mereka tidak terlalu jelas mendengar obrolan Yunho dan Jaejoong.
"Jadi, wanita itu adalah ibu Changmin?" Junsu bertanya kepada Yoochun.
"Sepertinya begitu." Yoochun menajamkan telinganya untuk menguping.
Junsu tampak terkejut. "Oh, jadi Pak Guru Yunho berhubungan dengan ibu Changmin? Pantas saja ia sangat perhatian kepada anak itu."
Yoochun menatap Junsu. "Sepertinya tidak demikian."
Junsu mencoba memperhatikan dengan seksama. "Ibu Changmin terlihat seperti seorang wanita yang sedang meminta penjelasan kepada kekasihnya yang telah ia pergoki sedang bersama dengan wanita lain."
"Pak Guru, anda jangan mengada-ada! Anakku tidak mungkin melakukan semua itu." Jaejoong tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Yunho mengenai putranya.
"Jika anda tidak percaya, silakan saja anda tanyakan kepada guru-guru lain!" Yunho melirik ke arah Yoochun dan Junsu yang sedang berpura-pura melakukan hal lain, padahal sejak tadi mereka memperhatikannya dan ibu Changmin. "Kebetulan di sini ada Pak Guru Park dan Ibu Guru Kim."
Jaejoong ikut melirik Yoochun dan Junsu. Ia memandang mereka berdua bergantian, kemudian ia kembali beralih kepada Yunho. "Mereka berdua adalah rekanmu, Pak Guru. Tentu saja mereka akan berada di pihakmu ."
Perdebatan Yunho dan Jaejoong tidak ada ujungnya. Yunho tetap tidak bisa meyakinkan Jaejoong yang tetap tidak percaya pada semua yang dikatakan olehnya.
"Jikalau semua itu benar, menurutku itu bukanlah masalah besar. Hal itu wajar dilakukan oleh remaja." Jaejoong tetap tidak mau mengalah apa pun yang terjadi. "Pak guru seperti tidak pernah muda saja. Aku yakin pak guru juga seperti itu saat masih SMA." Ia tersenyum dengan penuh percaya diri.
Sayang sekali, Yunho tidaklah seperti yang dikatakan oleh Jaejoong. Ia adalah siswa teladan di sekolahnya dulu. "Saya tidak pernah melakukan hal-hal itu dulu."
Senyum Jaejoong memudar seketika. "Aku tidak percaya."
"Nn. Kim, kita sedang membicarakan Changmin sekarang, bukan membicarakanku." Yunho merasa sangat lelah. Berdebat dengan Jaejoong menguras energinya.
Jaejoong sudah kehabisan kata-kata. "Pokoknya aku tidak terima anakku diskors. Permisi aku harus kembali ke toko kueku." Ia mengenakan kembali kacamata hitamnya. "Pak Guru, aku akan melaporkanmu kepada kepala sekolah karena kau sudah bertindak semena-mena kepada anakku."
"Silakan saja, Nona!" Senyum Yunho terkembang.
"Changminnie, ayo kita pergi!" Jaejoong menarik tangan Changmin.
.
.
.
Jaejoong masih merasa kesal kepada Yunho. Ia menyibukkan diri dengan membuat kue di toko kuenya. Ia melampiaskan semua kekesalannya kepada adonan kue. "Aku sebaaal!"
Para pegawai di toko kue Jaejoong sudah sangat mengenal sifat Jaejoong. Wanita cantik pemilik toko kue tempat mereka bekerja senang mencurahkan perasaan melalui kue, termasuk senang, sedih, dan marah.
Changmin membantu ibunya di toko kue siang itu. Ia merasa bersalah kepada ibunya. Ia merasa bahwa ia adalah anak durhaka. Tidak seharusnya ia mengecewakan sang ibu yang sangat ia sayangi. Sesekali ia menengok ibunya di dapur jika tidak sedang melayani pembeli.
"Nak, jangan kau makan terus kuenya! Kue-kue ini untuk dijual." Sejak tadi Ny. Jung memperhatikan Changmin. Hari ini ia mulai membantu Jaejoong di toko kue.
"Maaf, bibi siapa? Aku baru melihat bibi hari ini di toko. Apakah bibi adalah pegawai baru yang menggantikan pegawai yang mengundurkan diri?" Changmin masih saja mengambil kue yang dipajang di etalase.
"Aku adalah teman ibumu. Sementara Nn. Kim mencari pegawai baru, aku akan membantunya di sini." Ny. Jung memberi tahu Changmin. "Aku tidak pernah melihat ibumu sekesal ini. Apa yang terjadi?"
Changmin tersenyum kaku. "Ibuku bertengkar dengan wali kelasku di sekolah."
Ny. Jung tampak terkejut. "Ya ampun! Mengapa mereka bertengkar?"
"Semua ini adalah salahku." Changmin tampak menyesal. "Aku diskors selama tiga hari dan ibuku tidak bisa menerimanya."
"Wah, keterlaluan sekali wali kelasmu itu, Nak!" Ny. Jung ikut emosi. "Bagaimana mungkin anak sepandai dan sebaik dirimu bisa diskors? Ibumu sering bercerita kepadaku bahwa kau selalu menjadi juara umum di sekolah."
Changmin benar-benar merasa durhaka. Selama ini ibunya hanya mengetahui hal-hal baik tentang dirinya di sekolah. Pantas saja jika ibunya syok dan marah saat wali kelasnya mengungkapkan semua kenakalannya.
"Wali kelasmu itu menyebalkan sekali. Jika aku bertemu dengannya, akan kuhajar dia." Ny. Jung tampak sangat berapi-api.
"Tidak usah. Hehehe. Wali kelasku itu belum menikah. Jika bibi menghajarnya, tidak akan ada yang akan merawat lukanya. Hahaha!" Changmin membayangkan Yunho babak belur dihajar oleh teman ibunya itu.
.
.
.
Sepulang sekolah Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun datang ke toko kue Jaejoong untuk menemui Changmin. Mereka merasa menyesal karena tidak bisa menolong Changmin.
"Maafkan aku! Akulah yang mengantar ibumu ke ruang guru." Kyuhyunlah yang paling merasa bersalah.
"Tidak apa-apa." Changmin menepuk bahu Kyuhyun. "Justru aku harus berterima kasih kepadamu karena kau telah mencarikan orang untuk berpura-pura menjadi ayahku."
Kyuhyun tersenyum kecut. "Akan tetapi, pada akhirnya rencana itu gagal karena ibumu datang."
Changmin terkekeh. Ia tidak ingin membuat temannya itu merasa bersalah. "Kita ambil sisi positifnya saja. Aku tidak perlu pergi ke sekolah selama tiga hari. Hahaha!"
Teman-teman Changmin tahu bahwa Changmin hanya berpura-pura senang agar mereka tidak terus merasa bersalah. Changmin adalah teman yang sangat hebat di mata mereka. Mereka pun semakin menghormati dan mengagumi Changmin.
"Sekolah akan terasa sepi tanpamu selama tiga hari." Minho masih terlihat sedih. "Tidak akan ada yang menggoda Ibu Guru Kim lagi di kelas. Ia pasti akan merasa kehilanganmu."
"Kau kan bisa menggantikanku untuk menggodanya. Hahaha!" Changmin membayangkan betapa lucunya raut wajah guru Seni Musiknya itu jika sedang marah.
"Apa kami juga tidak usah masuk sekolah saja ya?" Jonghyun tampak tidak bersemangat.
"Tidak boleh!" tegas Changmin. "Kalian tetap harus masuk sekolah. Sekarang kita sudah kelas tiga. Ujian tinggal beberapa bulan lagi."
Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun tercengang menatap Changmin. Apakah mereka tidak salah mendengar? Changmin melarang mereka untuk membolos karena sebentar lagi akan ujian. Sejak kapan Changmin peduli pada ujian?
"Mengapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Changmin.
Kyuhyun memukul kepala Changmin. Pletak! "Apakah kepalamu tadi terbentur?"
"Aw, sakit!" Changmin meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya.
"Apa yang terjadi di ruang guru tadi? Apa yang pak guru lakukan kepadamu?" Minho mencurigai Yunho telah melakukan sesuatu kepada Changmin, sehingga sahabatnya itu berubah.
"Apa karena kau diskors, kau mulai memikirkan ujian?" tanya Jonghyun.
"Sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini. Kita harus mulai memikirkan masa depan kita. Kita harus mulai mengejar cita-cita kita." Tidak biasanya Changmin berbicara serius di hadapan ketiga temannya itu. "Kalian pasti punya cita-cita, bukan?"
Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun serempak menggelengkan kepala mereka. Selama ini cita-cita sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka. Bagi mereka yang terpenting adalah menikmati hidup mereka. Biarkan saja hidup mengalir dengan sendirinya seperti air.
Changmin tercengang melihat reaksi dari teman-temannya. Bagaimana mungkin teman-temannya itu tidak mempunyai cita-cita?
"Selamat datang!" Jaejoong menghampiri Changmin dan teman-temannya dengan membawa sebuah nampan. Di atas nampan tersebut terdapat donat dengan toping berwarna-warni dan minuman dingin. "Kalian pasti teman-teman Changmin. Senangnya kalian bisa berkunjung ke toko kue ini. Aku baru saja membuat donat. Silakan dicicipi! Ini adalah donat resep terbaru."
"Wah, terima kasih, Bibi Jae! Kebetulan aku sedang merasa lapar." Kyuhyun mengambil sebuah donat, begitu juga dengan Minho dan Jonghyun.
"Masih banyak yang harus kukerjakan. Selamat menikmati, anak-anak!" Rasa kesal Jaejoong sudah sedikit terobati dengan melihat teman-teman Changmin yang gembira menyambut donat buatannya. Ia pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Uhuk-uhuk! Apa ini? Mengapa rasanya seperti ini?" Kyuhyun merasakan kepala dan hidungnya sedikit sakit.
"Rasanya seperti makan wasabi," timpal Jonghyun.
"Ini adalah donat wasabi." Minho langsung menenggak segelas minuman dingin.
Changmin tersenyum lebar melihat teman-temannya. Sebenarnya ia ingin tertawa, tetapi ia tidak tega.
"Pantas saja kau tidak ikut mengambil donat, padahal kaulah yang paling brutal jika sudah berhadapan dengan makanan. Rupanya kau sudah mengetahui bahwa ini adalah donat rasa wasabi," tuduh Minho. Ia sudah menghabiskan dua gelas minuman dingin.
Tawa Changmin akhirnya pecah juga. Ia tidak bisa menahannya lagi. "Aku juga tidak mengetahui bahwa itu adalah donat rasa wasabi, tetapi aku bisa menebak bahwa rasanya akan aneh. Ibuku itu sedang kesal kepada pak guru. Jika ia sedang merasa kesal atau marah, ia akan memasukkan bahan-bahan aneh ke dalam adonan kuenya. Ia membayangkan wajah pak guru sambil mencampurkan bahan-bahannya."
Sementara Changmin dan teman-temannya asyik mengobrol, Yoochun turun dari Ferrarinya di depan toko kue milik Jaejoong. Ia membawa sebuah karangan bunga. Sebelum ia masuk ke dalam toko kue, tak lupa ia merapikan rambutnya di depan cermin.
Yoochun masuk ke dalam toko kue dengan penuh percaya diri. Ia disambut oleh seorang pramuniaga perempuan. Ia memberikan senyuman menggodanya kepada perempuan itu, sehingga perempuan itu tersipu-sipu. Park Yoochun memang senang menebar pesona kepada setiap wanita.
Yoochun melihat Jaejoong yang sedang membungkus kue untuk pembeli. Ia pun langsung mendekat ke arah wanita itu. "Bunga yang cantik ini hanya cocok untuk wanita yang sangat cantik seperti dirimu, Nn. Kim."
Jaejoong mencoba mengingat-ingat pria di hadapannya. Aha! Ia mengingatnya. Pria itu adalah salah satu guru di sekolah anaknya. Ia melihat pria itu tadi di ruang guru. "Terima kasih atas bunganya." Ia mencium bunga pemberian Yoochun dan meletakkannya di atas meja yang berada di dekat etalase.
"Nn. Kim, perkenalkan aku adalah Park Yoochun. Guru terkeren yang pernah ada di muka bumi ini." Yoochun mulai memuji-muji dirinya sendiri.
"Oh, ya?" Tentu saja Jaejoong tidak percaya. Menurutnya wali kelas anaknya yang tadi bertengkar dengannya jauh lebih keren daripada Yoochun.
"Tentu saja. Kau boleh bertanya kepada putramu dan teman-temannya." Yoochun menoleh ke arah Changmin dan gengnya.
Jaejoong menaikkan sebelah alisnya. Ia sama sekali tidak setuju.
"Nn. Kim, aku tidak akan banyak basi-basi. Apakah kau mempunyai waktu senggang akhir pekan ini?" tanya Yoochun dengan penuh percaya diri. "Maukah kau pergi berkencan denganku?"
"Maaf, aku sudah memiliki agenda kencan akhir pekan ini." Jaejoong menyeringai.
Yoochun sedikit terkejut. Ia mengira bahwa Jaejoong tidak sedang memilki hubungan dengan pria lain. "Kita bisa pergi berkencan setelahnya."
"Kencanku itu berlangsung seharian," balas Jaejoong.
"Kalau begitu akhir pekan berikutnya saja." Yoochun belum menyerah.
Jaejoong menggeleng. "Tidak bisa juga."
Yoochun sedikit kecewa. "Oh, baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali saja." Ia masih menebar senyumannya. Ia berharap Jaejoong akan terpesona.
Tidak seperti harapan Yoochun, Jaejoong sama sekali tidak terpesona. "Ah, sebelum kau pergi aku ingin memberikan ini untukmu." Ia menyodorkan sebuah kotak karton yang dihias dengan pita berwarna merah. "Ini adalah ucapan terima kasih karena kau telah memberikanku bunga."
"Wah, apa ini?" Yoochun terlihat senang. Harapannya kembali tumbuh.
"Aku baru saja membuat donat." Senyuman Jaejoong terlihat sangat manis.
"Dengan senang hati aku menerimanya. Rasanya pasti sangat enak, sesuai dengan pembuatnya yang sangat cantik." Yoochun tidak melewatkan kesempatan untuk menggombal. "Lain kali aku akan datang lagi kemari." Ia pergi meninggalkan toko kue Jaejoong dengan bangga. Ini adalah pertama kalinya ia ditolak oleh seorang wanita, tetapi ia tidak menganggapnya sebagai sebuah penolakan karena Jaejoong memberinya sekotak donat.
Setelah Yoochun keluar dari toko, Changmin dan teman-temannya tertawa terbahak-bahak. Mereka membayangkan raut wajah Yoochun saat memakan donat rasa wasabi buatan Jaejoong.
"Min, apakah kau akan mempunyai ayah baru? Sepertinya ibumu sedang menjalin hubungan dengan seorang pria."
"Ya, ibuku berkencan dan menjalin hubungan dengan toko kue ini. Setiap hari ia berkencan dengan kue-kue."
.
.
.
Changmin hanya memelototi televisi pada malam hari. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan besok. Ia menyuruh teman-temannya untuk tetap pergi ke sekolah saat ia sedang menjalani hukuman. Jadi, apa yang akan bisa ia lakukan selama tiga hari ke depan?
Jaejoong muncul dari dapur dengan membawa dua buah puding mangga. "Mengapa kau belum tidur? Sekarang sudah malam."
"Besok aku tidak pergi ke sekolah. Untuk apa aku tidur cepat-cepat." Changmin menjawab dengan malas, tetapi ia tidak malas untuk melahap puding mangga yang dibawa oleh Jaejoong.
Jaejoong melihat raut kesedihan pada wajah anaknya. "Jangan bersedih! Kau kan bisa bermain dengan ibu. Kita bisa membuat kue bersama-sama." Ia mengingat kembali masa-masa saat Changmin masih kecil. Ia sering mengajak Changmin membuat kue.
"Aku bukan anak kecil lagi, Bu." Changmin mengingatkan ibunya.
"Sebesar apa pun ukuranmu, tetap saja kau adalah anakku." Jaejoong mengacak-acak rambut Changmin dengan gemas.
"Bu, rambutku jadi berantakan," protes Changmin.
"Sepertinya rambutmu sudah panjang. Tunggu sebentar! Ibu akan mengambil gunting untuk mencukur rambutmu." Jaejoong pergi untuk mengambil gunting.
Changmin hanya bisa menghela nafas. Hanya untuk memotong rambutnya saja ibunya itu sudah tampak sangat antusias. Ia ingat dahulu saat ia masih kecil Jaejoong sering menguncir rambutnya seperti anak perempuan dan mendandaninya. Jangan sampai hal itu terjadi lagi saat ia sudah besar.
Jaejoong membawa gunting rambut, sisir, dan peralatan lainnya. Ia benar-benar serius untuk memotong rambut Changmin.
"Bu, tidak usah. Besok aku akan pergi ke tempat pangkas rambut." Changmin tidak ingin ibunya berbuat macam-macam pada rambutnya. Kucing peliharaan mereka kabur karena tidak tahan terlalu sering didandani oleh Jaejoong.
"Kau harus mengeluarkan uang jika memotong rambut di tempat pangkas rambut. Akan lebih hemat jika aku yang memotongnya." Jaejoong berdalih.
"Tidak usah, Bu." Changmin mulai merasa terganggu.
Jaejoong cemberut. Ia merasa kecewa karena Changmin tidak ingin ia memotong rambut anaknya itu. "Baiklah, aku tidak akan memotong rambutmu. Akan tetapi, aku tetap akan mencukur bulu ketiakmu itu. Bulu ketiakmu sudah terlalu lebat. Aku merasa geli dan terganggu melihatnya. Aku sudah tidak tahan ingin menyingkirkannya."
"Bu, jangan lakukan itu!" Changmin berdiri untuk bersiap-siap melarikan diri. "Memiliki bulu ketiak adalah salah satu ciri-ciri lelaki sejati." Ia berlari menghindari Jaejoong.
Jaejoong tidak menyerah. Ia berlari mengejar Changmin sambil membawa gunting.
"Bu, singkirkan guntingnya! Itu berbahaya." Changmin berlari seolah-olah ia sedang dikejar-kejar oleh pembunuh yang bermaksud menikamnya dengan gunting.
"Berhenti berlari, Min! Aku tidak akan memotong rambutmu, hanya bulu ketiakmu."
.
.
.
Changmin terbangun di atas lantai. Ia tidur bersandar pada pintu kamarnya. Semalam Jaejoong terus mengejarnya. Ia pun bersembunyi di balik pintu sampai terlelap. Ia bersandar pada pintu untuk mencegah ibunya masuk. Ibunya itu memegang kunci cadangan kamarnya.
Changmin terbangun karena mencium aroma yang lezat. Perutnya berbunyi minta diisi. Ia melihat sinar mentari memasuki celah-celah jendela kamarnya. Rupanya hari sudah pagi. Ia tidak perlu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah hari ini.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Changmin turun ke lantai bawah. Ia terkejut melihat meja makan penuh dengan makanan. Apakah ia sedang bermimpi?
"Selamat pagi, anakku tersayang." Jaejoong muncul dari dapur dengan membawa piring berisi ikan goreng dengan saus lemon di atasnya. Ia kemudian mencium bibir putranya.
Changmin terkejut karena sang ibu menciumnya tepat pada bibir. "Bu, jangan lakukan itu lagi, apalagi di hadapan orang lain! Aku sudah besar."
"Memangnya kenapa?" Jaejoong tampak tidak peduli. "Kau kan anakku. Aku bisa menciummu sesuka hatiku."
"Tidak apa-apa jika ibu melakukannya di rumah, tetapi aku akan merasa malu jika ibu melakukannya di hadapan teman-temanku." Changmin menjelaskan.
"Baiklah, ibu tidak akan melakukannya di hadapan teman-temanmu." Jaejoong tidak ingin membuat Changmin semakin bersedih. "Hari ini ibu memasak banyak makanan untukmu. Kau boleh makan sepuasnya."
Jadi, Changmin sama sekali tidak berhalusinasi. Yang ia lihat di atas meja makan benar-benar makanan. "Ini semua untukku, Bu?" Matanya berbinar-binar.
"Setelah kupikir-pikir, aku tidak ingin kau lebih menyayangi ibu tirimu daripada ibu kandungmu hanya karena ia memberimu ayam panggang. Hahaha!" Jaejoong merasa bangga kepada dirinya sendiri. "Makanlah yang banyak! Ibu harus pergi sekarang."
"Hati-hati, Bu!" Mulut Changmin penuh dengan makanan.
.
.
.
Jaejoong tidak pergi ke toko kue miliknya, tetapi ke sekolah Changmin. Semalaman ia tidak bisa tidur karena ia masih merasa kesal kepada Yunho. Ia ingin membalas wali kelas anaknya itu dengan mengadu kepada kepala sekolah.
Jaejoong melihat Yunho turun dari mobil. Para siswa memberikan salam kepada pria itu. Tampaknya Yunho sangat dihormati dan disayangi oleh para siswa. Ia bergidik melihat senyuman Yunho kepada para siswa. "Sayang sekali sikapnya sangat menyebalkan, padahal ia sangat tampan." Rasanya ia tidak akan puas jika hanya mengadukan wali kelas anaknya itu kepada kepala sekolah. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menemui kepala sekolah dan mengganti rencananya. Ia mendapatkan ide yang lebih baik, menurutnya.
Jaejoong menunggu bel tanda masuk berbunyi, sehingga keadaan menjadi sangat sepi di tempat parkir. Sebelum ia keluar dari mobilnya, ia melilitkan syal pada lehernya sampai menutupi mulutnya dan sebagian hidungnya. Tak lupa ia juga mengenakan kaca mata hitam. Jangan sampai ada yang mengenali dirinya.
Perlahan Jaejoong mendekati mobil Yunho. Ia melihat-lihat ke sekelilingnya sebelum ia merobek ban mobil Yunho dengan gunting yang dibawanya.
Jaejoong segera berlari masuk ke dalam mobilnya setelah ia berhasil membuat ban mobil Yunho bocor. Ia takut ada orang lain yang melihatnya. Ia pun segera melarikan diri.
Wajah Jaejoong dibanjiri keringat dingin. Jantungnya berdetak dengan cepat. "Ya Tuhan, ampunilah aku! Aku baru saja melakukan tindak kriminal."
.
.
.
Yoochun datang ke ruang guru dengan membawa kotak kue pemberian Jaejoong. Ia memamerkannya kepada guru-guru lain. "Kue ini adalah pemberian wanita yang tercantik. Ia membuatnya khusus untukku. Kalian jangan iri kepadaku ya! Hahaha!"
Guru-guru lain yang berada di ruang guru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Yoochun. Mereka sudah terbiasa dan memaklumi Yoochun yang seorang penggoda wanita.
Yoochun harus segera pergi mengajar. Ia meninggalkan kotak kuenya di atas meja kerjanya. "Jangan ada yang mengambil kueku ya! Donat-donat ini khusus dibuat untukku dengan penuh cinta."
"Tenang saja, Guru Park! Kami tidak akan memakan kuemu. Kami bisa membelinya di kantin jika kami ingin makan donat."
Tak lama setelah Yoochun pergi ke kelas, datanglah Junsu, guru Seni Musik, ke ruang guru. Meja kerjanya berada tepat di sebelah meja kerja Yoochun. Ia melihat sebuah kotak karton yang dihiasi pita berwarna merah di atas meja kerja Yoochun. "Ah, ini pasti hadiah untukku!" Hatinya berbunga-bunga. Akhirnya, Yoochun membalas perasaannya. Selama ini ia menaruh perasaan kepada pria berdahi lebar itu. Namun, tampaknya pria itu tidak mengatahui perasaannya dan lebih senang menebar pesona kepada wanita lain. Hal itu membuatnya sangat sedih. Namun, hari ini akhirnya semua kegelisahan dan penantiannya telah sirna.
Junsu membuka kotak karton tersebut. Ia menemukan donat berwarna-warni di dalamnya, indah sekali. Dengan semangat ia mengambil sebuah donat dari dalam kotak tersebut dan memakannya. "Hmm,... uhuk-uhuk!" Ia tersedak. Ia terkejut melihat wasabi di dalam donat tersebut. Ia sangat tidak menyukai wasabi. Ia benar-benar tak habis pikir mengapa Yoochun memberinya donat berisi wasabi. Apakah pria itu membencinya dan merasa terganggu oleh kehadiran dirinya. Oh, rasanya ia ingin menangis saja.
.
.
.
Changmin keluar dari tempat pangkas rambut dengan modul rambut barunya. Ia harus memotong rambutnya sebelum nanti ia bertemu lagi dengan ibunya. Jangan sampai ibunya yang harus memotong rambutnya, mengerikan sekali. Entah model rambut apa yang akan dibuat oleh ibunya. Kini ia terlihat jauh lebih tampan dengan model rambut barunya yang seperti Max TVXQ pada era Mirotic.
Changmin belum memiliki rencana hari ini. Bermain game, jalan-jalan, menggoda gadis-gadis, rasanya tidak menyenangkan melakukan semua itu tanpa teman-temannya. Ia pun membiarkan kakinya melangkah tanpa tujuan.
Setelah berjalan cukup jauh, sampailah Changmin di depan sekolahnya. "Mengapa aku datang kemari?" Sepertinya ia sangat merindukan sekolahnya, sehingga tanpa sadar kakinya melangkah kemari secara otomatis.
Jam pelajaran telah berakhir. Para siswa kelas satu dan dua berhamburan keluar dari gerbang sekolah, sedangkan kelas tiga masih harus mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan ujian.
"Apa yang sedang mereka bertiga lakukan ya? Semoga saja mereka belajar dengan baik." Changmin berbicara sendiri. "Ah, sepertinya tidak mungkin. Mungkin mereka melarikan diri ke kantin atau tidur di atap sekolah."
Tiba-tiba Changmin melihat wali kelasnya tampak kerepotan di tempat parkir. Ia menghampiri wali kelasnya itu. Yunho tetaplah menjadi guru favoritnya, walaupun guru itu telah menskorsnya. Ia sama sekali tidak marah, apalagi mendendam kepada Yunho. Bagaimana pun baginya Yunho jauh lebih perhatian kepadanya daripada orang tuanya. "Pak, apa yang sedang bapak lakukan?"
Yunho sedang mengangkat ban mobil cadangan dari dalam bagasi mobilnya. "Ada orang iseng yang merobek ban mobilku." Ia terlihat kesal. "Mengapa kau ada di sini? Bukankah kau sedang diskors?" Ia merasa lega melihat Changmin dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku merasa bosan. Jadi, aku datang saja kemari." Changmin membantu wali kelasnya itu mengangkat ban mobil. "Siapa yang melakukannya, Pak?"
"Aku tidak tahu." Yunho mengangkat bahunya. Ia berpikir mungkin yang melakukannya adalah para siswa iseng.
"Bukankah ada CCTV di sini? Pak guru bisa menghukum siswa yang melakukan hal ini. Hahaha!" Changmin merasa senang karena tidak hanya dirinya yang menerima hukuman dari Yunho. Mudah-mudahan pelakunya bukanlah teman-temannya.
"Benar juga. Mengapa hal ini tidak terpikirkan olehku?" Yunho menertawakan dirinya sendiri.
Yunho meminta rekaman CCTV dari penjaga keamanan. Ia dan Changmin memutar rekaman tersebut di pos keamanan.
Terlihat seorang wanita mengenakan syal dan kacamata hitam menusuk ban mobil Yunho dengan gunting. Walaupun wajah wanita itu tidak terlihat, Changmin sangat mengenal wanita itu. Pelakunya adalah ibunya. Syal yang dikenakan oleh ibunya adalah hadiah ulang tahun darinya untuk sang ibu dan gunting yang digunakan Jaejoong adalah gunting yang semalam Jaejoong akan gunakan untuk mencukur rambut dan bulu ketiaknya.
Changmin merasa sangat malu oleh perilaku ibunya. Ia menoleh ke sebelahnya. Sang guru masih terlihat tenang menatap rekaman tersebut. "Pak, apakah bapak bisa mengenali pelakunya?"
Yunho mengangguk. Pandangan matanya masih tertuju pada video rekaman CCTV. "Aku baru saja bertemu dengannya kemarin."
Wajah Changmin memucat. Bagaimana jika Yunho marah kepada ibunya? "Pak, kumohon maafkan ibuku! Kumohon bapak untuk tidak marah kepadanya!"
Yunho memaksakan senyumannya. Sebenarnya ia merasa marah kepada Jaejoong. Namun, kemarahannya memudar seketika saat melihat raut wajah Changmin. Walaupun Changmin sangat nakal, anak itu terlihat sangat menyayangi ibunya. "Tenang saja! Aku sama sekali tidak marah."
Changmin dengan suka rela membantu Yunho mengganti ban mobil. Ia merasa bersalah atas apa yang telah dilakukan oleh ibunya. Ia bertanya-tanya bagaimana rasanya mengganti ban mobil bersama ayahnya. Apakah rasanya menyenangkan? Ia tidak bisa seperti anak-anak lain yang mempunyai banyak waktu bersama ayah mereka. "Andaikan saja pak guru adalah ayahku."
"Hah? Apa maksudmu?" Yunho menatap Changmin. Sepertinya ia telah salah mengartikan perkataan Changmin.
Changmin baru menyadari bahwa Yunho bisa salah mengartikan ucapannya. "Maksudku andaikan saja yang kubantu untuk mengganti ban mobil adalah ayahku, mungkin aku akan merasa sangat bahagia."
"Oh," komentar Yunho. Ia mengira bahwa Changmin menginginkan dirinya menjadi ayah Changmin.
Changmin kemudian berpikir mengapa tidak Yunho saja yang menjadi ayahnya. Jika Yunho adalah ayahnya, ia bisa menjadi seperti anak lelaki lain yang dekat dengan ayah mereka. Ia tidak perlu merasa iri lagi kepada anak-anak lain karena ia sangat dekat dengan wali kelasnya itu.
"Akhirnya, selesai juga." Yunho mengusap peluh di dahinya. "Kau ingin pergi ke mana, Min? Aku akan mengantarmu."
TBC
min: ya, cerita baru. Selamat membaca!
sexiehmoan: ya, itu Yunjae. Yun sudah lupa karena kejadiannya sudah lama dan memang ia ingin melupakan gadis itu. Saya rasa artinya sama saja antara keliling dan putaran.
Guest: hahaha! Ya, begitulah kira-kira.
Nani mo: terima kasih ya. Untuk cerita kemarin hanya sampai disitu, tidak ada sequel -nya. Saya khawatir jika dilanjutkan akan feel-nya akan rusak.
Maharani: cerita yang kami buat masih sangat jauh jika dibandingkan dengan novel sungguhan. Akan tetapi, kami merasa senang apabila kamu terhibur dengan cerita ini. istilah 4D atau 4 dimensional, adalah sebutan untuk orang-orang yang memiliki kepribadian unik atau berbeda dengan orang kebanyakan.
Guest: benar sekali. Pak Guru akan memberimu nilai seratus. Hahaha!
MaxMin: ya, dilanjutkan. Terima kasih.
Guest: kadang-kadang saja Jae memasak, tetapi lebih banyak tidak memasak karena obsesinya adalah membuat resep kue terbaru.
meybi: sebenarnya Jae tidak terlalu centil, hanya saja ia spontan mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya, bersikap masa bodoh pada sekitar. Jadi, yang Jae katakan saat pertama kali bertemu Yun itu adalah spontanitas yang jujur. Hahaha!
sachan: jacin? Apakah maksudnya jatuh cinta? Oh, tidak semudah itu. Jae bukan tipe ideal yang Yun inginkan.
Cyaaz: mohon maaf karena kesabaranmu harus diuji.
babiesyunjae: terima kasih. Ide ceritanya biasa saja, kejadian umum yang ada di masyarakat. Ya, pada cerita ini Yun lebih muda daripada Jae, tetapi perbedaan usia mereka hanya dua tahun.
septyana lin kudo: tidak, obsesi Jae adalah kue dan toko kue nya. Jadi, Jae tidak akan langsung jatuh cinta kepada Yun.
hana: hahaha! Terima kasih.
Guest: tidak juga.
anakyunjae: tebakan nya sudah benar, tidak perlu bingung lagi. Hahaha!
kittyJj: saya juga bingung mau membalas apa. Hahaha!
ys: semangat! Update!
kimjaejoong309: ya, itu Yunjae dan Kangta. Wajar saja Boa seperti itu. Cemburu yang Boa rasakan lazim adanya, hanya di dalam hati dan tidak sampai pada perkataan dan perbuatan. Boa tetap bersikap baik kepada anak tirinya.
Guest: dulu Jae sangat sibuk dan lebih mengutamakan toko kuenya, sehingga urusan rumah tangga terbengkalai. Yun memang seksi. Akan tetapi, bagi Jae, Yun tidak lebih menarik dari kue-kuenya, hahaha.
my yunjaechun: update! Terima kasih.
namnam: ya, benar sekali. Lanjut!
Chwanggg: mereka sudah berjodoh dalam persahabatan.
Machiato: saya lebih menonjolkan sisi persahabatan Kyuline. Jadi, sepertinya tidak ada pair Changkyu. Mohon maaf.
Rsza: hahaha! Kamu sudah mengandaikan Yunho seperti cokelat ya. Sayangnya, bagi jae kuenyalah yang lebih menarik. Terima kasih ya!
cha yeoja hongki: aduh, komentarnya. Hahaha!
cassie yepo: dari manakah kamu merasa bahwa Kangta masih memiliki perasaan kepada Jae? Apakah kamu bisa membaca pikiran? Hahaha!
Guest : update! Terima kasih. Sebenarnya saya kurang mengerti dengan sifat 4D. Mohon maaf jika kelakuan JJ pada cerita ini kurang absurd.
Guest : tentu saja ada karena ini adalah cerita ber-chapter.
Grasshopper: silahkan datang ke toko kuenya saja ya! Hahaha! Ya, itu adalah Yunjae.
rly: ada yang lebih berbahaya lagi.
Key'va: lanjut!
rukee: terima kasih. Yunberry adalah si alfabet yang dulu, sedangkan qwerty beda lagi. Memakai nama 'qwerty' karena terinspirasi dari nama yunberry yang dulu.
gusti arie: terima kasih. Kami merasa senang apabila pembaca merasa terhibur oleh cerita ini.
