Disclaimer : Naruto adalah kepunyaan Mashashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan material apa pun dari fiksi penggemar ini. Hanya untuk kesenangan!
.
.
BAB 2
"Kakak akan pergi?" Hanabi bertanya sambil terus mengekori Hinata yang sudah beberapa kali mengecek bawaan. Kunai dan beberapa kertas mantera akan menjadi bekal yang penting.
Hanabi selalu tertarik pada kakaknya. Pada perjuangan dari sosok yang rendah diri, pemalu, dan selalu pesimis menjadi seorang yang penuh perhatian, percaya diri, dan menebarkan semangat pada orang lain. Perubahan yang membuat bahkan seorang Hiashi begitu terpukau pada putri sulungnya. Hanabi tahu siapa pahlawan dibalik sikap optimis pada diri kakaknya itu. Lelaki yang mula dianggap monster, dijauhi, dicaci sebagai anak pembawa petaka. Lelaki itu meski menjalani hidup keras, ia mampu mengubah pandangan masyarakat. Lelaki itu kini menjadi pahlawan desa.
Hanabi kembali menyamai langkah Hinata yang masih berkutat pada barang yang akan dibawa untuk misi. Tinggi Hanabi hanya sepundak Hinata sehingga remaja bungsu itu harus melangkah lebih lebar saat kakaknya menjejakkan kaki. Ada desah lelah tapi bersemangat dari Hinata; membuat Hanabi semakin antusias menginterogasinya.
"Ada tugas penting, Hanabi," kata Hinata singkat.
Fokus Hinata sesungguhnya hanya ingin melelahkan diri. Membuat raga menghabiskan energi hingga tidak memberikan kesempatan hati dan pikirannya melayang pada sosok yang menjadi pusat hidup gadis berparas ayu itu. Ada rasa bahagia sekaligus sesak. Dan itu melemahkannya. Hinata tidak ingin menjadi lemah lagi seperti yang dulu. Dirinya kini adalah hasil perjuangan dan pengorbanan orang yang dikasihi—Neji dan tentu, Naruto.
"Tugas apa?" selidiknya penuh harap bisa memperoleh sedikit informasi mengenai pekerjaan kakaknya itu.
"Kau tahu bahwa tidak boleh seorang shinobi membocorkan tugasnya. Itu bisa berakibat fatal. Kau harus pelajari itu." Hinata mengingat setiap pelajaran yang Neji ajarkan dulu. Menjadi lebih bijaksana akan banyak hal. Kini, tugas Neji untuk membimbing Hinata sudah usai. Giliran gadis itu mengajari Hanabi.
"Apa kau akan pergi bersama Nanadaime?" Pertanyaan Hanabi membuat Hinata mematung seketika.
Kata kunci itu terucap. Hanya dengan mendengar namanya mampu membuat seorang shinobi kuat seperti Hinata membeku. Hatinya memberontak untuk dibalas cintanya tapi pikiran dan sisi lain dari hatinya terlalu pengecut. Ia termenung cukup lama sampai akhirnya tersadar bahwa Hanabi menunggu.
"Ya," jawab Hinata lemah. Ia tidak berhenti bergerak untuk mempersiapkan keberangkatannya besok. Sejumlah pakaian dan bekal makanan berupa roti dan makanan instan dimasukkan dalam tas berwarna abu-abu yang cukup membuat gadis itu kewalahan karena berat. Entah sampai berapa lama tugas ini akan berakhir.
"Kak," Hanabi masih mengikuti tiap langkah kakaknya. "Kau tidak senang?"
"Tentu aku senang!" Hinata berdusta. "Pergi bersama Naruto-kun—" perkataannya berhenti sampai di situ. Merah pipinya menandakan bahwa hatinya masih saja tergetar ketika nama Naruto disebut. Orang benar mengenai ucapan pertama seolah tanpa sadar bahwa itu adalah keinginan paling dalam seseorang.
"Aku belum tidak mengatakan soal Nanaidaime," Hanabi menimpal. Tahu bahwa kakaknya masih saja terus memikirkan petinggi desa Konoha itu. Iba menggelayut. Rasa cinta yang belum berbalas mampu membuat orang gila!
Bagi Hinata, pergi menjalankan misi adalah hal yang menyenangkan setelah perang berakhir. Tentu saja. Suasana terkesan terlalu damai untuk beberapa shinobi yang haus tantangan. Bahkan seorang Shino yang pendiam pun mengeluhkan hal yang sama, 'tempat ini terlalu hening.'
Misi kali ini membuat Hinata setengah bersemangat. Bersama orang yang dikasihi, berharap saja bahwa gadis itu akan selalu merona tiap kali memandang Naruto. Namun, setengahnya lagi, ia harus merelakan bahwa harapannya untuk lebih dekat dengan lelaki itu mungkin sangat sulit. Sakura. Siapa lagi yang membuat hari yang seharusnya bisa lebih ceria karena bisa memandangi orang yang dicintai lebih lama tetapi bersanding dengan perempuan lain? Perempuan yang jelas-jelas telah memiliki tempat di hati sang pujaan hati.
Hinata merutuk dalam-dalam pikiran yang melintas mengenai Sakura. Tidak baik, Hinata! Sakura adalah sahabatmu!
Masih larut dalam keheningan, Hanabi berucap lagi, "Kupikir harusnya begitu. Tapi ketika kakak menjawab 'ya', seperti ada yang menusuk kakak dan sakit rasanya."
Selalu begitu. Hanabi mudah sekali membaca situasi. Atau Hinata yang mudah terbaca seperti sebuah buku bacaan ringan?
.
.
Angin semakin dingin jika memasuki musim gugur. Meski saat itu siang harim embusan angin jauh lebih besar. Sejumlah daun gugur dari pohon. Dan sudah banyak pohon yang ranggas. Jalanan jadi lebih sering kotor dan petugas kebersihan ekstra keras membereskan kotoran dari dedaunan yang rontok itu.
Sepanjang perjalanan setelah usai melaksanakan tugasnya, Naruto berjalan menuju sebuah daerah lapang yang penuh dengan batu nisan. Ia melewati beberapa nisan yang dikenal baik semasa hidup mereka. Langkah kakinya pelan. Matanya sesekali melirik nama-nama yang membuat pikirannya melayang kembali pada kenangan masa lalu. Makam gurunya yang paling disayang; Jiraiya. Menatapnya sejenak cukup menguras emosi Naruto. Kehilangan banyak orang yang dicintai membuat Naruto semakin tegar menjalani kehidupan saat ini.
Ia berhenti. Makam paling ujung dan terlihat masih baru. Makam teman perjuangannya saat menempuh ujian chounin. Ia ingat bagaimana nama yang terukir itu dulu dengan gigih melawannya. Naruto juga ingat bagaimana mayat yang terbaring di makam itu selalu berkata mengenai rasa sakit karena ketidakadilan. Bagaimana orang lemah seperti Hinata telah dipilih meneruskan kepemimpinan Klan dibanding dirinya yang jauh lebih hebat. Naruto pun menjadi saksi akan kegigihan sang pahlawan, Neji, yang gugur melindungi Hinata yang dulu menjadi musuh terbesar dalam hidup Neji.
Naruto terpaku. Ia sudah mempersiapkan ucapan yang hendak disampaikan di depan nisan itu sebelumnya. Tapi semua hilang.
Nisan berwarna abu-abu berbentuk prisma segiempat runcing itu menantang Naruto. Siap menusukkan bagian teratas itu pada dada bidang sang hokage.
"Mungkin jika kau ada di sini, kau langsung akan membunuhku," ujar Naruto sendiri—yang sebetulnya ditujukan pada Neji yang terbaring kaku.
Naruto mendesah berat. Beban yang ditanggung hatinya tidak pernah seberat ini. Dihina oleh rakyat Konoha kala itu tidak menguras energi hingga ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Ini soal cinta personal. Hal yang tidak mudah dipahami oleh sebagian orang termasuk dirinya.
"Aku tahu ia mencintaiku. Baru saja aku tahu," gumamnya. "Dan jahat jika aku mengatakan aku mencintainya padahal hati dan pikiranku hanya untuk orang lain."
Hanya embusan angin dan beberapa daun gugur yang membalas percakapan sepihak itu.
"Iya kan, Neji?" seolah Naruto berusaha mencari dukungan dari ketiadaan. "Apa yang kulakukan. Tidak menjawab Hinata."
Lagi, hening sesaat dan Naruto menemukan apa yang ingin dikatakan sejak semula. "Aku takut berada dekat dengannya. Takut membuatnya berharap banyak. Aku mungkin terlalu percaya diri. Tapi ...," pikirannya kembali pada Sakura.
Sakura menanti Sasuke begitu lama—dan setia. Tidak sekalipun perempuan itu berpaling bahkan memandang Naruto, orang yang selalu ada di sampingnya. Sakura memiliki harapan bahwa Sasuke akan membalas perasaannya meski itu seumur hidupnya akan terus menanti. Naruto takut jika Hinata akan menghabiskan seluruh hidup untuk menantinya.
Rasa bingung menyatu dengan rasa bersalah membuat Naruto tersungkur di hadapan makam Neji. Tangan sintetisnya terangkat lemah seolah daya terserap tanah dan merengkuh nisan itu. "Aku takut Hinata akan seperti Sakura. Menderita karena ketidakpastian. Bisakah kau bantu aku, Neji? Ini ... ini sangat sulit untuk kutangani sendiri."
Rasa sakit pada dadanya membuncah. Merasakan getir penantian tanpa harapan pasti. Sakura dan Hinata. Mengapa wanita begitu sulit untuk dipahami?
Dari jauh, Shikamaru menyaksikan kejadian itu. Ada tawa kecil yang terbentuk dari mulutnya. "Dasar bodoh."
.
.
Tim telah dibagi. Shikamaru dan Kiba telah lebih dulu pergi saat matahari terbit. Lokasi negeri pasir memang lebih dekat dibanding tempat yang akan dituju Naruto, Sakura, dan Hinata. Namun situasi di sana harus segera cepat ditangani. Naruto sangat mengandalkan kejeniusan Shikamaru sehingga jika urusan selesai, lelaki berambut hitam jabrik dan terkesan ogah-ogahan itu segera melapor kejadian yang sebenarnya. Apakah benar akatsuki berhasil menjaring sejumlah orang agar kelompok itu tetap eksis atau ada pihak lain yang memanfaatkan identitas akatsuki. Bagaimanapun, tidak semua anggota akatsuki brengsek. Itachi telah membuktikan bahwa tidak semua hitam selalu hitam. Adakalanya salah satu harus dikorbankan demi sebuah kebaikan. Dan Itachi rela menanggung semua kesalahan klan. Pengorbanan untuk hal yang lebih baik.
Hutan yang kini dilalui tiga orang itu tidak begitu lebat. Pengaruh musim gugur. Tidak lama lagi salju akan turun. Barang bawaan yang ada dalam ransel jauh lebih berat karena baju yang dipersiapkan lebih tebal dari biasanya untuk mencegah hawa dingin. Bahkan sekarang, Naruto sudah berbalut jaket tebal dan syal pemberian mendiang ibunya berwarna hijau dan putih. Syal itu selalu dikenakan lelaku itu bahkan saat udara tidak dingin. Mengenakannya membuat pemilik itu merasa dipeluk oleh sang bunda yang tak pernah sekalipun didapat.
Hinata melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan perasaan tak menentu. Ia memilih untuk berada di posisi belakang. Naruto dan Sakura berada di depan beberapa depa. Alasan yang ia berikan pada Naruto adalah agar mampu berkonsentrasi lebih saat menggunakan byakugan guna mendeteksi keberadaan Kabuto dan Orochimaru. Padahal ia tahu bahwa kedua orang tersebut masih tetap berada di tempatnya : pengasingan rumah panti asuhan. Berisi anak-anak yang tidak lagi memiliki keluarga akibat perang shinobi beberapa tahun lalu.
Gadis itu tak berani melangkah lebih dekat pada Naruto. Terlalu takut membuat dirinya pingsan alih-alih memandangnya cukup lama. Rasa iri tentu saja ada. Tapi Hinata tahu bahwa Sakura adalah sahabat Naruto. Sama seperti relasi Hinata dengan Kiba dan Shino. Tidak ada hak untuk melarang siapa pun bercengkerama dengan sahabatnya, kan?
Naruto-kun, kau sudah makan siang tadi? Tubuhmu agak kurus. Apa pekerjaan menjadi hokage membuatmu jadi lupa makan? Hinata membatin. Matanya selalu mengedar pada gerakan lincah sang pemilik rubah ekor sembilan itu.
Sudah separuh hari mereka melentasi hutan belantara. Mereka memutuskan untuk membangun sebuah dome dua buah di sebuah kaki pegunungan. Satu berwarna biru yang berukuran cukup besar; nantinya untuk Sakura dan Hinata tidur. Dan satu lagi berukuran lebih kecil berwarna hijau digunakan untuk Naruto.
Saat Hinata sedang mendirikan tendanya, Naruto mendatangi dan mengubah arah pintu tenda. "Jangan sampai pintu tendamu menghadap ke atas atau ke bawah sejajar dengan puncak atau lembah. Harus tegak lurus seperti ini," kata Naruto memutar tenda yang belum usai dibangun Hinata agar tidak menghadap puncak pegunungan maupun lembah. "Nah, begini lebih baik."
"Me-mengapa begitu, Naruto-kun?" tanya Hinata setelah mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya.
Naruto yang menyelesaikan pekerjaan Hinata berpaling memandangnya. Ya, Tuhan! Batin Hinata menjerit. Mata biru cerah itu tidak pernah berubah. Selalu mendatangkan debaran kencang pada jantungnya yang nakal.
"Angin akan mudah menerobos masuk ke dalam tenda karena pengaruh angin gunung dan lembah. Kau akan kedinginan apalagi ini musim gugur. Angin akan cukup kencang saat malam hari," terang Naruto. "Guru Iruka pernah memberitahuku soal ini."
.
.
Malam semakin larut. Tiga orang yang berada di tengah hutan sebuah kaki gunung itu masih membuka mata. Sinar bulan berusaha keras menerobos ranting-ranting pohon gugur. Hinata berbaring miring sambil terus memikirkan ucapan Naruto. Ia tidak ingin aku kedinginan? Pikirannya dimanja akan penjelasan Naruto tadi. Tersadar raga yang semula dipikir sudah tertidur beranjak keluar dari tenda. Sakura masih terjaga.
Gemerisik suara dedaunan yang diinjak dan disusul pembicaraan lirih, Hinata penasaran untuk ikut menyimak.
"Kau perhatian sekali pada Hinata. Apa itu sebuah pertanda—" Sakura berhenti tiba-tiba. Gelengan Naruto mengisyaratkan hal lain.
"Sebagai seorang lelaki jangan sampai ada wanita di sekitarnya yang jatuh sakit. Bagaimana pun aku harus menjaga rakyatku," Naruto menjawab.
Mereka berdua duduk bersisihan dengan pohon maple sebagai pembatas.
"Kukira kau sudah akan memberi kepastian." Ada nada kecewa pada ucapan Sakura. Perempuan itu menyayangi sahabatnya dan ia tahu bagaimana Naruto bisa menjadi sangat bodoh pada keadaan.
"Sebuah perhatian—" Naruto menghela napas berat. Ada sejumlah asap kecil terbentuk karena hawa dingin semakin menyusup tubuh. "Bisa menipu siapa saja. Rasa perhatian tidak selalu diikuti rasa cinta, kan? Kukira ini masalah perempuan," Naruto memberi kesimpulan.
Merasa disindir, Sakura menoleh untuk memberikan tatapan-aku-akan-menyincangmu-habis-habisan. "Itulah beda perempuan dan lelaki! Kami berperasaan, kalian berpikiran."
Naruto tertawa kecil melihat gadis itu meluapkan emosinya. "Semoga kalian juga berpikir meski hanya sekali saja."
Sebuah pukulan telak diterima Naruto hingga membuatnya merintih kesakitan. Wanita di hapadannya itu gorila jika sedang mengamuk. Tubuhnya bisa hancur berkeping-keping kalau berani menghina Sakura.
"Kami juga berpikir! Hanya saja kami ...," Sakura berhenti. Kembali bersandar pada pohon yang setia mendengarkan, "lebih percaya pada hati." Matanya tak berhenti melihat gumpalan mega yang berarak menuju arah barat. Sinar bulan kadang tertutup saat sejumlah mega melintas.
Meski mereka berdua berada cukup jauh dari lokasi tenda, Hinata mendengarkan percakapan itu. Tanpa terasa ada setetes air yang jatuh dari pelupuk mata. Hinata tidak ingin menahan kepedihannya. Lagipula tidak ada siapa-siapa di sini. Jadi, ia tak perlu merasa malu karena memperlihatkan kelemahan pada orang lain. Bagaimana caranya agar ini berakhir?
Hei! Bisakah kau berhenti berharap padanya? Rutuknya berkali-kali pada hati yang membuka lebar harapan. Bisakah kau ganti dengan yang lain? Lagi, gadis itu mulai terisak pelan. Ia masih yakin tidak akan ada orang yang akan datang. Hingga sekelebat mata, ada seseorang yang tiba-tiba saja muncul ke dalam domenya. Hinata menjerit tertahan. Ia tidak menyangka ada seseorang menggunakan Hiraishin no jutsu selain hokage ke-enam. Kecepatan perpindahan yang luar biasa nyaris membuat Hinata tidak mampu bernapas. Lalu terjadi begitu saja. Orang itu menggendongnya, berpindah cepat menuju pohon. Gerakan gesit dan dada yang rata dari sosok itu membuat Hinata yakin adalah seorang lelaki. Kepalanya mendongak sekaligus memberontak dengan mendorong dada pria itu untuk melepaskan tubuhnya dari gendongan.
"Lepaskan!" teriak Hinata namun tertahan pada suara yang membalas ucapannya.
"Diamlah!" suara itu dalam namun penuh ketegangan. Mendadak, Hinata dan orang itu sudah berada beberapa puluh meter dari tenda. Tepatnya, di sisi lain Naruto dan Sakura berada. Beberapa detik kemudian sebuah ledakan hebat terjadi di dekat tenda dan menghancurkan semua perbekalan tiga orang; Naruto, Sakura, dan Hinata. Dalam dekapan orang itu, Hinata membelalak. Beberapa detik saja mungkin ia sudah tewas. Orang ini, yang sedang menggendongnya, baru saja menyelamatkan hidupnya.
Tubuh Hinata menegang saat masih dalam gendongan, ia mencari wajah sang penyelamat. "Sa-sasuke-kun."
"Kau tidak apa-apa?" tanya sosok pria itu yang sontak mengejutkan Hinata. Perempuan itu memberontak untuk segera diturunkan. Sasuke mendesah sambil memejamkan mata kemudian menurukan perempuan itu. Begitu merepotkan, batinnya mengeluh. Meski begitu, sudah sewajarnya ia menyelamatkan gadis itu. Jika terlambat, mungkin akan menjadi penyesalan seumur hidupnya.
Bersambung
Catatan penulis : Jujur, saya masih bingung memakai jejaring sosial ini. Masih harus berkali-kali hapus cerita ketika sudah unggah. Untuk itu, jika masih ada kekurangan mengenai hal-hal yang biasa dicantumkan dalam cerita di harap beritahu saya. Dan terimakasih karena sudah membaca.
Jika ada pertanyaan mengenai pairing ini : NaruHina dan SakuSasu (sesuai penggambaran Master Kishimoto). P.s : Saya masih bingung memberi pairing pada sebuah cerita di sini seperti tanda kurung untuk pairing.
