Start For Loving You
Disclaimer: Masashi Kishimoto dengan semua chara-chara dalam anime Naruto.
Pairing: Sasuke-Sakura
Rate: T
Warning: Cerita gaje, OOC, alur kecepatan, typo's, semi-Canon, dll.
Summary: 'Sakura, mulai saat ini aku akan selalu berada di sisimu dan aku berjanji tidak akan pernah lagi meninggalkanmu/Sa-...Sasuke-kun maaf, bisa kau sedikit menjauh dariku! Teman-teman bisa salah paham melihat kita dengan posisi seperti ini!/Um, Lyu cudah menunggu Kaa-chan cedali tadi untuk minta tambah, tapi Kaa-chan malah acyik belmecraan dengan Tou-chan!'
Author by: Hikaru Sora 14
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca serta me-review, mem-follow dan mem-fav kan fic ini ^_^ Tanpa kalian fic ini tidak akan berarti apa-apa.
Please Enjoy Reading
Don't Like Don't Read
"Aku pikir aku telah kehilanganmu, Sakura." Ucap Sasuke berbisik pelan di telinga Sakura, sambil mengacak-ngacak gemas surai merah muda milik gadis itu dan tersenyum lembut.
"Ekh?!" Pekik Sakura terkejut dengan tindakan Sasuke yang terkesan tiba-tiba ini. Apalagi perkataan pemuda itu yang sukses membuat wajahnya menjadi merona hebat. Apa itu artinya Sasuke sudah mulai mengharapkan keberadaannya?
.
.
.
Sasuke sangat senang sekali melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Sakura. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menikmati pemandangan indah yang terpatri di wajah cantik sang gadis musim semi itu.
Selama sembilan tahun penantiannya selama ini, Sasuke selalu bersabar dan berusaha untuk menekan perasaan rindunya kepada Sakura dengan melampiaskannya pada pertarungan. Namun, tetap saja bayangan sang gadis musim semi itu tak pernah juga bisa hilang dari hati dan pikirannya.
Kini onyxnya menatap lembut ke dalam emerald dihadapannya yang terasa begitu sejuk dan menenangkan, membuat sang putri tunggal Haruno itu menjadi sedikit kikuk dan canggung dengan sikap Sasuke yang tidak seperti biasanya.
Perlahan Sasuke meraih tangan mungil Sakura dan menggenggamnya dengan lembut, seakan tak ingin gadisnya ini merasakan kesakitan saat Sasuke menggenggam tangan halusnya. Sakura sendiri semakin tercengang dengan sikap Sasuke yang terkesan hangat dan lembut ini.
"Sakura, mulai saat ini aku akan selalu berada di sisimu dan aku berjanji tidak akan pernah lagi meninggalkanmu." Bisik Sasuke lagi pelan di telinga Sakura, membuat tubuh Sakura seketika menegang.
Emeraldnya sedikit melirik ke arah samping, atau lebih tepatnya ke arah Sasuke yang kini tengah berada pada jarak yang begitu dekat dengannya. Sakura tidak mengerti mengapa tiba-tiba Sasuke mengatakan hal seperti itu.
Perkataan ambigu yang diucapkan oleh pemuda Uchiha itu yang berpikir bahwa dirinya telah kehilangan Sakura. Tindakan lembut dan hangat pemuda itu yang sungguh di luar dugaan kepada Sakura, serta terakhir perkataan sang Uchiha bungsu yang sedikit menyiratkan arti bahwa Sasuke ingin selalu berada dekat dengan Sakura mulai dari saat ini sampai selamanya. Bukankah itu artinya Sasuke secara tidak langsung menyatakan bahwa dirinya tengah melamar sang gadis musim semi, eh?
Entahlah, tapi satu hal yang pasti yaitu Sakura tidak ingin dulu menyimpulkan terlalu jauh tentang kemungkinan-kemungkinan yang tengah ia pikirkan saat ini terhadap perbuatan Sasuke kepadanya. Sakura masih membutuhkan fakta lainnya yang benar-benar bisa meyakinkan dirinya tentang dugaannya terhadap perasaan Sasuke kepadanya.
Menyadari posisi mereka yang saat ini benar-benar terasa begitu dekat, Sakura menjadi merasa sedikit khawatir akan timbulnya suatu kesalahpahaman bagi orang lain yang melihat mereka dari arah seberang atau lebih tepatnya dari tempat Naruto yang kini tengah duduk di kursinya. Tentu saja dengan posisi seperti itu, Sasuke terlihat seperti sedang mencium pipi Sakura.
"Sa-...Sasuke-kun maaf, bisa kau sedikit menjauh dariku! Teman-teman bisa salah paham melihat kita dengan posisi seperti ini!" Ucap Sakura pelan dan sedikit ragu, namun tetap ia meminta secara halus kepada Sasuke.
Sakura tidak ingin teman-temannya nanti menggoda dirinya yang sedang bersama Sasuke, lagipula kediaman Naruto sekarang sedang ramai, tak sepantasnya jika mereka berada di posisi yang sedikit intim seperti itu. Meskipun pada kenyataannya, teman-temannya yang lain memang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tapi tidak menutup kemungkinan jika salah satu dari teman-temannya melihat mereka seperti ini.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan ucapan Sakura. "Apa kau sudah mempunyai kekasih, sampai-sampai kau berkata seperti itu kepadaku, Sakura?" Tanya Sasuke pelan dan datar, mengeluarkan isi pikirannya secara to the point.
Sasuke kembali merasa gelisah dan khawatir jika benar kenyataan yang sebenarnya adalah seperti itu. Padahal baru saja ia bisa sedikit bernapas lega, saat tahu bahwa Sakura bukanlah istri dari Gaara.
Jangan sampai kali ini, Sasuke benar-benar kehilangan gadis musim semi itu. Jika memang Sakura sudah memiliki kekasih, bukan berarti Sasuke sudah kehilangan harapan untuk memiliki Sakura, kan? Ya, Sasuke akan merebut secara paksa Sakura dari kekasihnya itu, karena Sasuke tahu jika Sakura masih menyimpan perasaan kepadanya.
Sementara Sakura sendiri merasa geli dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke. Bagaimana bisa, pemuda itu secara spontan menyimpulkan dirinya telah memiliki kekasih?! Bukankah sedari dulu, Sasuke sudah tahu jika Sakura hanya menaruh perhatian pada dirinya seorang?! Ah, rasanya pemuda Uchiha ini benar-benar telah salah paham terhadapnya.
"Bukan seperti itu, Sasuke-kun!" Ucap Sakura tersenyum simpul, sambil mendorong pelan bahu pemuda Uchiha itu untuk sedikit menjauh darinya.
"Kau sudah salah paham eh, Sasuke-kun?! Aku sama sekali tidak mempunyai seorang kekasih saat ini!" Tegas Sakura membantah dugaan Sasuke sebelumnya, namun tetap tak menutupi adanya semburat merah tipis yang menghiasi kedua pipinya tatkala dirinya menyatakan secara gamblang bahwa ia masih seorang gadis yang single.
Sasuke menyeringai tipis mendengar ucapan Sakura. Kekhawatiran yang tadi menyelimuti hatinya, sirna sudah hanya karena sedikit penjelasan dari sang gadis musim semi.
Karena terlalu merasa bahagia, bahwa gadisnya ini belum dimiliki oleh pemuda lain, spontan saja Sasuke mengecup sekilas pipi putih milik Sakura. Membuat sang empunya menjadi semakin gelagapan dan salah tingkah, dengan tindakan Sasuke yang terkesan tiba-tiba itu.
"Kalau begitu, mulai sekarang kau resmi menjadi kekasihku, Sakura!" Bisik Sasuke lagi pelan di telinga Sakura, membuat Sakura terlonjak kaget dengan perkataan Sasuke. Sakura lagi-lagi tidak mempercayai jika Sasuke saat ini bisa mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Kali ini perkataan Sasuke sudah benar-benar menegaskan tentang semua dugaan-dugaan Sakura sebelumnya. Kini Sakura semakin yakin, jika pemuda Uchiha di hadapannya ini sudah bisa menerima keberadaannya saat ini di sisinya. Meskipun pemuda itu memang belum mengatakan bahwa ia mencintai Sakura secara jelas, tapi perasaan pemuda itu sudah sedikit terlihat dari perkataannya yang terkesan manis dan juga tindakannya yang begitu lembut dan hangat.
Rasanya baru kali ini Sakura melihat sisi lain dari sang Uchiha bungsu yang tampak begitu normal jika dibandingkan dengan sisi lainnya yang biasanya terlihat dingin itu.
Sungguh Sakura merasa sangat bahagia dengan semua takdir yang telah Kami-sama ukir untuk dirinya ini. Meskipun di awali dengan penderitaan dan penantian panjang, namun kesabaran dan keteguhan hatinya membawa dirinya pada sebuah akhir yang terasa begitu indah dan manis.
Karena terlalu larut dalam perasaan bahagianya, Sakura jadi tidak menyadari kemungkinan jika teman-temannya telah melihat tindakan Sasuke yang menciumnya tadi. Segera saja Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk memastikan, jika tidak ada seorang pun di antara para anggota rookie sembilan atau pun para shinobi Sunagakure yang melihat tindakan yang dilakukan oleh Sasuke barusan.
Sakura sedikit menghela napasnya lega, tatkala dirinya tak mendapati seorang pun yang melihat adegannya tadi bersama dengan Sasuke. Sekarang tinggal gilirannya untuk segera menetralkan kembali detak jantungnya yang semakin tak karuan akibat perbuatan Sasuke.
"Kenapa? Kau takut jika mereka semua tahu, Hn?!" Tanya Sasuke sambil menaikkan sebelah alisnya merasa heran dengan ekspresi Sakura yang terlihat gusar.
"Sasuke-kun, apa kau bersungguh-sungguh mengatakan hal tersebut?!" Tanya Sakura balik, tanpa mempedulikan pertanyaan Sasuke sebelumnya. Emeraldnya menatap serius ke dalam onyx sang bungsu Uchiha tersebut.
"Hn. Aku bersungguh-sungguh, Sakura!" Tegas Sasuke berucap penuh keyakinan.
"Tapi...Bagaimana bisa?! Selama ini kau bahkan tak pernah mempedulikanku, Sasuke-kun?!" Tanya Sakura lagi, merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Sasuke.
"Biar nanti saja aku menjelaskannya, Sakura! Setelah acara ini selesai, kau harus ikut aku pulang ke kediaman Uchiha! Aku akan mengungkapkan semuanya di rumah." Ucap Sasuke tersenyum tipis sambil kembali mengeratkan genggaman tangannya pada Sakura.
Sakura sendiri hanya menganggukkan pelan kepalanya seolah menyetujui ucapan Sasuke. Sebuah senyuman manis terpatri dengan begitu sempurna pada paras cantiknya, membuat Sasuke semakin tidak tahan untuk segera merengkuh gadis musim semi itu ke dalam pelukannya.
Jika saja ia tidak ingat jika saat ini ia tengah berkumpul bersama teman-temannya, ia tidak akan segan-segan untuk segera meluapkan perasaan rindunya terhadap gadis yang dicintainya itu.
.
.
.
"Maaf, kalian semua jadi lama menunggu." Ucap Hinata yang kini baru saja keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi empat piring masakan.
Disusul oleh Ino, Tenten, dan Temari yang masing-masing dari mereka juga membawa nampan yang berisi empat piring masakan. Sementara Matsuri kini baru saja keluar dari kamar tamu yang berada di sebelah dapur, dengan menggendong putra kecilnya yang masih terlelap pulas.
Mereka berjalan ke arah meja makan dan meletakkan piring-piring berisi makanan itu di atas meja makan. Setelah selesai, mereka pun mendudukkan diri mereka pada kursi-kursi kosong yang memang sebelumnya telah mereka tempati saat mereka datang ke kediaman Uzumaki.
"Wah~...Tou-chan banyak cekali makanannya." Ucap Ryu riang tersenyum lebar dengan mata birunya yang berbinar-binar senang.
Kini Ryu tengah berdiri di atas kursi yang berada di antara kursi Hinata dan Naruto, karena tinggi badannya yang masih pendek membuat sang Uzumaki cilik ini tak dapat mencapai meja makan saat dirinya duduk di kursi.
"Hm, kau harus makan yang banyak ya, Ryu-kun!" Ucap Naruto tersenyum lembut sambil menepuk pelan pucuk kepala Ryu. Ryu hanya menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui ucapan Naruto. Sepertinya Ryu tidak menyadari tindakan Naruto yang menepuk kepalanya, karena Ryu terlalu antusias dengan makanan-makanan yang terlihat begitu lezat di depan matanya itu.
"Sini, biar Kaa-san ambilkan nasi dan lauknya untukmu." Ucap Hinata tersenyum sambil meraih mangkuk di hadapan Ryu dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk.
"Aligatou Kaa-chan." Ucap Ryu tersenyum senang dan mengecup singkat pipi tembem Hinata, setelah Hinata menyerahkan mangkuk yang berisi nasi dan lauk pauk itu pada Ryu serta sebuah sumpit kecil yang khusus dibelinya untuk Ryu.
Ryu kemudian duduk manis di kursinya untuk segera menyantap makanannya. "Itadakimacu." Ucap Ryu sebelum benar-benar melahap habis makanannya dengan cepat dan rakus. Terlihat butir-butir nasi yang sedikit menempel pada kedua pipi gembilnya tatkala Ryu sudah menghabiskan makanannya.
"Hei, hei, Ryu-kun! Kenapa kau malah makan duluan dan tidak menunggu kami semua!" Ucap Naruto sweatdrop dengan tingkah laku anaknya yang terkesan terburu-buru itu. Sementara Ryu hanya menunjukkan cengiran lebar tanpa dosanya yang terlihat imut itu.
"Ah, Tou-chan! Maaf, Lyu benal-benal cangat lapal cekalang." Ucap Ryu malu-malu sambil kembali berdiri untuk meletakkan mangkuknya yang sudah kosong di atas meja makan. Hinata segera membersihkan sisa-sisa butiran nasi pada pipi chubby Ryu, sebelum Ryu kembali duduk di kursinya.
"Hah~...Ya, sudah tidak apa-apa." Ucap Naruto mendesah pelan, sedikit memaklumi sikap putranya, Ryu. Sementara Hinata hanya terkikik geli melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Bukankah Ryu-kun sangat mirip denganmu, Naruto-kun?! Selalu tergesa-gesa dan antusias jika sudah melihat makanan, terutama ramen. Pasti tidak ada henti-hentinya, jika aku tidak melarangnya untuk berhenti makan. Bisa-bisa nanti Ryu-kun menjadi sakit perut karena sering mengikuti hobi makan ramenmu itu, yang bisa dibilang luar biasa, Naruto-kun." Ucap Hinata sedikit terkekeh mengejek suami tercintanya itu.
Sementara Ryu sendiri saat ini tengah duduk manis di kursinya, menunggu sang ibu untuk kembali menawarkan makanan kepadanya.
Naruto yang mendengar perkataan istrinya, langsung saja mengacak dengan gemas surai panjang Hinata, ditariknya kepala Hinata untuk kemudian ia kecup dengan penuh rasa sayang pelipis istrinya itu.
"Tentu saja Ryu-kun mirip denganku, Hime! Kalau begitu, anak kedua kita nanti akan ku usahakan agar bisa mirip dengan ibunya." Ucap Naruto berbisik pelan di telinga Hinata, sambil menampilkan sebuah seringaian tipis nan menggoda kepada Hinata.
BLLUUSSHH
Ucapan Naruto sukses membuat kedua pipi Hinata bersemu merah. Segera saja Hinata mengalihkan perhatiannya dari Naruto kepada putranya, yang sedari tadi diabaikannya.
"Ah, kau mau tambah lagi Ryu-kun?!" Tanya Hinata sambil mengelus lembut surai pendek putranya, berusaha menetralkan rasa gugupnya saat ini. Sementara Naruto hanya tersenyum simpul melihat reaksi Hinata yang seperti itu.
"Um, Lyu cudah menunggu Kaa-chan cedali tadi untuk minta tambah, tapi Kaa-chan malah acyik belmecraan dengan Tou-chan!" Ucap Ryu sambil mengerucutkan bibirnya, cemberut.
Naruto dan Hinata yang mendengar perkataan Ryu, langsung sweatdrop di tempat. Mereka tidak menyangka jika Ryu benar-benar memperhatikan kegiatan yang mereka lakukan barusan. Tentu saja kegiatan kalian tadi terlihat oleh Ryu, Ryu kan duduk di antara kalian berdua, Naruto, Hinata!
"Sudah, sudah! Lebih baik kau makan lagi ya, Ryu-kun!" Ucap Hinata agak sedikit canggung, sambil menyerahkan mangkuk milik Ryu yang sudah diisi kembali dengan nasi dan lauk pauk. Segera saja Ryu menyambar dengan antusias mangkuk yang disodorkan oleh Hinata tersebut.
"Hei, Ryu-kun! Lain kali jika Tou-chan dan Kaa-chan sedang melakukan hal seperti tadi, kau tutup mata saja ya! Mengerti!" Bisik Naruto di telinga mungil milik putranya yang kini tengah asyik menyantap makanannya. Ryu sendiri hanya menganggukkan kecil kepalanya, seolah ia mendengarkan dan mengerti dengan perkataan Naruto yang dibisikkan di telinganya.
.
.
.
"Kau tidak mau makan, Sasuke-kun?!" Tanya Sakura lembut kepada Sasuke yang sampai saat ini masih saja mengenggam erat tangannya, tanpa berniat sedikit pun untuk melepaskannya. Sebenarnya Sakura merasa sedikit tidak nyaman dengan sikap Sasuke yang seperti ini. Pasalnya, saat ini teman-temannya sudah mulai menyantap makan siang mereka, sedangkan mereka berdua sama sekali belum mengalasi nasi dan juga lauk pauk ke dalam mangkuk mereka.
"Tentu saja aku mau makan, Sakura." Jawab Sasuke tenang terhadap pertanyaan Sakura.
"Kalau begitu sekarang lepaskan tanganmu dari tanganku, Sasuke-kun!" Pinta Sakura secara halus kepada Sasuke.
"Hn. Tidak mau!" Tolak Sasuke tegas.
"Ekh, lalu bagaimana caranya kau bisa makan kalau begitu, Sasuke-kun?!" Ucap Sakura sedikit terkejut dengan penolakan Sasuke. Sakura benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan oleh Sasuke saat ini.
Sementara Sasuke kini tengah menampilkan seringaian tipisnya yang tampak begitu mempesona.
"Hn. Kau harus menyuapiku, Sakura!" Ucap Sasuke dengan nada yang sedikit manja. Membuat Sakura menjadi sweatdrop di tempat. Sejak kapan Sasuke bisa bersikap manja seperti ini?! Sungguh sikapnya saat ini berkebalikan 180 derajat dari sifat dingin yang biasa ditunjukkan olehnya.
Lagipula apa Sasuke tidak malu, jika nanti teman-temannya memperhatikan mereka? Apakah Sasuke memang sengaja ingin menunjukkan bahwa ia dan Sakura kini adalah sepasang kekasih, ah atau lebih tepatnya mereka baru saja menjalin kasih?
Entahlah, Sakura benar-benar tidak mengerti. Namun, Sakura sama sekali tak menampik adanya suatu perasaan bahagia saat Sasuke mengatakan hal seperti itu. Seolah-olah saat ini Sasuke menjadi sedikit bergantung pada dirinya.
Sakura sedikit terkikik geli, membuat sang pemuda raven mengerutkan keningnya bingung.
"Apa kau tidak malu, jika nanti semua teman-teman melihat ke arah kita, Sasuke-kun?" Tanya Sakura memastikan bahwa Sasuke serius dengan ucapannya.
"Hn. Tidak! Aku memang sengaja ingin menunjukkannya kepada mereka, Sakura." Jawab Sasuke yang kali ini menunjukkan sebuah senyuman manis untuk yang pertama kalinya kepada Sakura. Membuat Sakura semakin melayang dan terbuai oleh pesona ketampanan seorang Uchiha Sasuke.
"Ba-...Baiklah kalau Sasuke-kun ingin seperti itu." Ucap Sakura sedikit tergagap dengan semburat merah tipis menghiasi pipi putihnya. Segera saja Sakura mengalasi mangkuknya dengan nasi dan lauk pauk.
"Tambahkan tomatnya lagi, Sakura!" Pinta Sasuke halus, tatkala ia melihat Sakura yang sedang mengambil irisan tomat. Sakura hanya menganggukkan kecil kepalanya mengerti dan mengikuti perintah Sasuke.
Dengan malu-malu Sakura mulai menyumpitkan nasi dan di arahkannya sumpit itu ke depan mulut sang Uchiha bungsu. Sasuke perlahan membuka mulutnya dan menerima suapan nasi yang diberikan oleh Sakura. Selanjutnya Sakura menyumpit sepotong kecil daging dan disuapkannya pada mulut tegas Sasuke, disusul dengan sebuah irisan tomat yang begitu disukai Sasuke. Sasuke mengunyah dengan perlahan makanannya, dan sedikit senyum tipis terlukis di wajah tampannya.
"Hn. Kau juga makanlah, Sakura!" Perintah Sasuke kepada Sakura yang kini mulai menyumpit nasi lagi, yang pada awalnya akan Sakura suapkan kembali kepada Sasuke.
"Um, ba-...baiklah Sasuke-kun." Ucap Sakura gugup, menuruti perintah Sasuke. Segera saja Sakura menyuapkan nasi tersebut ke dalam mulutnya, disusul dengan potongan kecil daging sapi yang terlihat begitu lezat itu. Ciuman pertama secara tidak langsung dengan Sasuke eh, Sakura?
Seandainya saja Sakura dan Sasuke hanya tinggal berdua saja, pasti Sakura tidak akan bersikap malu-malu seperti itu untuk menyuapi Sasuke. Justru Sakura tidak akan segan-segan untuk selalu melayani pemuda yang sangat dicintainya itu dengan senang hati.
.
.
.
Kegiatan Sakura yang menyuapi Sasuke itu terus berlangsung sampai isi dari mangkuk mereka telah habis. Sakura kembali mengisi mangkuknya dengan nasi dan lauk lainnya, karena mereka belum merasa kenyang dengan makanan yang mereka tadi makan.
Hm, tentu saja kalian tidak akan merasa kenyang, jika satu mangkuk kecil makanan seperti itu kalian makan berdua!
Tidak seperti saat pertama kali Sakura melakukannya. Kali ini Sakura tampak lebih menikmati kegiatannya ini bersama dengan Sasuke. Sakura tidak lagi mempedulikan bagaimana nantinya reaksi teman-teman seperjuangannya yang melihat interaksi antara dirinya dengan Sasuke. Yang terpenting adalah kebersamaannya dengan Sasuke saat ini adalah suatu hal yang sangat berharga, yang tak boleh ia sia-siakan begitu saja.
Sesekali Sakura terkekeh geli saat melihat Sasuke yang sedikit memberenggut kesal karena Sakura dengan jahil menarik kembali sumpit yang mengapit irisan daging dari mulut Sasuke. Sasuke langsung saja menjawil hidung mancung Sakura sebagai pembalasan dari tindakan jahil Sakura. Pada akhirnya, mereka saling melemparkan sebuah senyuman kebahagiaan yang begitu indah terpatri pada wajah mereka berdua.
Mereka sama sekali tidak menyadari jika perhatian teman-temannya kini sudah mulai terfokus pada mereka berdua yang sedang melakukan adegan romantis layaknya sepasang kekasih itu.
Karin dan Suigetsu yang melihat ketua tim mereka, yang bersikap lembut kepada seorang gadis hanya mampu membelalakkan matanya terkejut. Hampir saja Karin berteriak histeris karena tidak rela jika Sasuke berdekat-dekatan dengan gadis lain selain dirinya, jika saja sebelumnya Suigetsu tidak sigap untuk segera membekap mulut sang gadis Uzumaki tersebut, yang membuat Karin terus-menerus meronta kepada Suigetsu saat ini.
Bisa-bisa semua orang yang berada di sini akan menderita kerusakan pendengaran akibat mendengar suara teriakan Karin yang terkenal menggelegar itu.
Sementara Juugo, hanya menampilkan sebuah senyuman tipis namun sarat akan makna kebahagiaan. Juugo memang merasa sangat senang melihat kedekatan Sasuke dan Sakura yang terlihat saat ini. Sepertinya Sasuke tampak begitu nyaman berada di sisi gadis merah jambu itu.
Menurut Juugo, memang selama ini Sasuke tampak begitu kesepian. Meskipun sudah berkelana selama lebih dari enam tahun bersama dirinya, Suigetsu dan juga Karin, tapi sepertinya rasa kesepian yang dimiliki oleh pemuda raven itu terlihat berbeda.
Bukan rasa kesepian karena tidak adanya teman yang menemani. Tetapi lebih kepada rasa kesepian akan kehadiran seseorang yang mampu mengisi kekosongan hatinya yang telah lama membeku, dan Juugo sangat merasa yakin sekali jika gadis musim semi itulah yang mampu untuk mengisi kekosongan hati sang Uchiha bungsu dan meruntuhkan segala ego yang dimiliki oleh Sasuke.
Sama seperti halnya Juugo, para anggota rookie sembilan dan para shinobi Sunagakure yang melihat kedekatan Sakura dan Sasuke, pun turut tersenyum simpul merasakan kebahagiaan yang saat ini tengah dirasakan oleh kedua sejoli itu. Memang sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, jika mereka semua sudah mengetahui tentang perasaan yang dimiliki oleh Sakura terhadap Sasuke.
Bahkan mereka pun sedikit terkejut tatkala pada suatu hari, Sakura pernah menyatakan bahwa dirinya tidak akan menikah, jika pemuda yang menikahinya itu bukanlah Sasuke. Padahal para anggota rookie yang lainnya sudah mulai membina kehidupan barunya dalam ikatan pernikahan bersama pasangan mereka masing-masing, tapi Sakura sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
Bagi Sakura, kehidupan pernikahan itu harus dijalani bersama dengan orang yang benar-benar kita cintai dan mencintai kita. Tak boleh ada sama sekali rasa penyesalan di dalamnya. Percuma saja jika Sakura memaksakan diri untuk menikah dengan pemuda yang tidak dicintainya. Hal itu justru akan menimbulkan luka batin tersendiri baginya.
Sepertinya Sakura lebih memilih untuk mengikuti jejak Shisounya yang tidak menikah karena perasaan cintanya yang begitu besar kepada kekasihnya, Dan. Begitu pula dengan Sakura, perasaan cintanya terhadap Sasuke sudah mutlak dan tak bisa di ganggu gugat oleh siapapun.
Meskipun pernyataan Sakura tersebut sedikit terdengar egois, karena itu berarti Sakura mengorbankan masa depannya hanya untuk menanti pemuda Uchiha itu, yang sama sekali belum diketahui jelas tentang bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap Sakura. Namun, mereka semua tetap mendukung keputusan yang telah diambil oleh Sakura tersebut.
Oleh karena itu, mereka semua merasa begitu bersyukur kepada Kami-sama, karena pada akhirnya kunoichi kesayangan Tsunade itu mendapatkan kembali apa yang menjadi impiannya. Mereka tahu, jika perasaan Sasuke kini sudah mulai berubah kepada Sakura. Tentu saja hal itu terlihat dari sikap Sasuke yang begitu hangat kepada Sakura saat ini.
"Ekhm, sepertinya akan ada pasangan baru yang akan menyusul kita semua ke pelaminan, eh?!" Celetuk Naruto tiba-tiba, berusaha menghilangkan keheningan yang sempat tercipta di antara mereka semua.
"Ekh?! Na-...Naruto-kun, apa yang kau katakan?!" Ucap Sakura sedikit terkejut dengan ucapan Naruto. Rona kemerahan kini tampak menghiasi wajah putihnya, merasa malu dengan kata-kata Naruto.
Sasuke sendiri saja belum secara langsung mengatakan bahwa ia ingin menikahi Sakura, bagaimana mungkin Naruto sudah menyimpulkan hal seperti itu. Ingin rasanya Sakura segera melayangkan tinjunya ke arah Naruto, karena sudah berkata dengan seenaknya saja seperti itu.
"Hn. Kalian tunggu saja! Akan secepatnya ku kirimkan undangan pernikahan kami pada kalian semua!" Ucap Sasuke sambil tersenyum menyeringai, menanggapi sindiran yang diucapkan oleh pemuda blonde tadi.
"Ekh?!" Sakura semakin dibuat tercengang oleh kata-kata Sasuke tersebut. Emeraldnya ia alihkan untuk menatap pemuda raven di hadapannya, yang kini masih menampilkan senyuman manisnya.
Sasuke melepaskan genggamannya pada tangan Sakura, kemudian ia rentangkan kedua tangannya lebar seolah menyambut sang gadis musim semi untuk masuk ke dalam rengkuhan dada bidangnya.
"Maukah...Kau menikah denganku, Sakura?!" Tanya Sasuke tersenyum tulus ke arah Sakura.
Sakura yang melihat tindakan Sasuke, merasa begitu terharu dan juga sangat tersentuh dengan ucapan Sasuke yang melamarnya. Beberapa butir liquid bening, kini mulai menyeruak keluar dari sudut-sudut mata indahnya, mengalir membahasi pipinya yang sedari tadi terasa begitu panas.
Segera saja Sakura menghamburkan dirinya ke dalam dekapan hangat sang Uchiha bungsu.
"Hiks...Aku mau...hiks...tentu saja aku mau, Sasuke-kun!" Ucap Sakura tersedu-sedu menerima lamaran Sasuke, dan tersenyum bahagia. Sasuke sendiri menghela napasnya lega, karena pada akhirnya ia bisa memiliki Sakura seutuhnya, selamanya berada di sisinya.
"Hn. Terima kasih, Sakura." Ucap Sasuke sambil mengelus sayang surai merah muda gadisnya.
Semua anggota rookie sembilan dan juga para shinobi Sunagakure mengucapkan selamat dan bertepuk tangan sambil tertawa bahagia melihat pasangan baru Konoha itu yang terlihat begitu serasi.
Namun, sepertinya kebahagiaan tidak dirasakan oleh Karin, yang saat ini tengah menangis terluka dalam pelukan Suigetsu.
"Tenanglah, Karin!" Ucap Suigetsu lirih, sambil mengusap pelan punggung mungil gadis itu yang terlihat bergetar.
-TBC-
Maaf...maaf...jika chapter kali ini justru malah mengecewakan dan tidak sesuai dengan harapan kalian...
Tapi terima kasih kepada para readers, reviewers, followers, favoriters, dan silent readers yang sudah berkenan untuk membaca fic ini...^_^
Um, sejelek apapun fic ini, saya harap semoga kalian semua tetap mau mengikuti fic ini ya, Arigatou...salam hangat ^_^
Balasan Review
Amai Ruri: Gomen, saya tidak bisa update cepat. Hehe...iya saya juga suka bagian Sasukenya salah paham. Um, semoga chapter ini tidak mengecewakan. Makasih udha R&R ^_^
azriel: Oke, ini udha lanjut kok...makasih Senpai udha R&R ^_^
nadira cherry: Um, sepertinya di chapter ini terjawab...hehe...Makasih udha R&R ^_^
hanzono yuri: Oke, ini udha lanjut. Makasih udha R&R Senpai ^_^
sofi asat: Sipp ini udha lanjut kok...^_^ Maksih udha R&R.
Miura Kumiko: Maaf saya tidak bisa update cepat, semoga chapter ini gak mengecewakan ya...Makasih udha R&R ^_^
Kumada Chiyu: Um, hehe...saya lebih suka Hinata sebagai istri Naruto...oke, makasih udha R&R Senpai...^_^
Hayashi Hana-chan: Makasih untuk semangatnya, semoga suka dengan chapter ini...^_^
Pie-chan: Salam kenal juga...^_^ Iya ini baru bisa update lagi, maaf ya...makasih udha R&R ^_^
cheryxsasuke: Hehe...saya sedang ingin membuat fic yang ringan dan sederhana. Ada sambungannya kok, maaf kalau mengecewakan ya. Makasih untuk semangatnya ^_^
Anka-Chan: Makasih Senpai ^_^ Semoga chapter ini tidak mengecewakan ya...^_^
Gramela: Gomen, baru bisa update lagi. Makasih udha R&R...^_^
haruchan: Iya Senpai, Ryu-kun memang lucu banget...hehehe...Um, saya juga berharap mereka beneran canon...ah, semoga menjadi kenyataan ^_^ Makasih udha R&R Senpai.
dewi sasusaku: Maaf telat update, iya ini udha lanjut. Semoga gak kecewa dengan chapter ini. Makasih udha R&R ^_^
