A/N : Enjoy the re-uploaded chapter! Jangan lupa tinggalkan review, Minna-san!


Part 2 : Sebagai temannya

Suara gitar Yui menandai akhir dari lagu pada latihan hari ini. Yui langsung terduduk lemas di lantai sambil memeluk Giitanya.

"Satu lagu lagi, Yui!" Ujar Mio tegas.

"Mio-chan, aku capek~ Apa boleh istirahat sebentar?" Yui merengek.

"Tidak ada istirahat!" Mio menolak dengan tegas.

"Mio-chan kejam~" Yui menggerutu.

Mio menarik nafas panjang, "Ini hukuman untukmu, Yui. Kita kehilangan satu hari latihan hanya karena kau bolos."

"Kau sangat memalukan, Yui-senpai." Tambah Azusa membuat Yui semakin terisak karena tidak punya pembela. Lalu menoleh ke arah partner sejati sekaligus presiden klubnya yang selalu bisa diandalkan.

"Ricchan, bagaimana ini?"

"Gomenne, Yui. Aku tidak bisa mau kepalaku terkena sengatan ubur-ubur," Ritsu melirik ngeri ke arah Mio yang kemudian dibalas dengan pandangan 'siapa-ubur-ubur-yang-kau-maksud'.

"Pengkhianat!" Yui terisak, masih duduk di lantai.

Mereka akan memainkan satu lagu lagi. Sebelum itu Yui menyelaraskan bunyi gitarnya agar sama dengan gitar Azusa karena lagu yang akan dibawakan berbeda tempo dengan sebelumnya.

Ritsu tidak sedang dalam mood latihan kali ini kalau bukan karena Mio yang sedang dalam mode galak. Sebagian pikirannya masih menjurus pada Ojousama yang kini berdiri hening di depan keyboard dengan mimik yang tidak bisa ditebak. Karena senyum dan pandangan hangat itu tidak pernah absen dari wajahnya. Siapapun mungkin akan mengira bahwa Mugi adalah sosok jelita yang tidak pernah punya masalah serius. Nyatanya sih memang tidak seserius itu.

'Aku harus memastikan apakah keinginannya masih berlanjut atau tidak!' Ritsu bertekad dalam hati.


Selesai latihan, semuanya pulang. Ritsu dan Mio berjalan bersama seperti biasa. Saat ini mereka sedang berada di trotoar dengan Mio yang terlihat buru-buru.

"Ritsu, tolong tunggu sebentar disini, please!" Pinta Mio sambil menyerahkan tasnya pada Ritsu.

"Hn, jangan lama-lama."

Bayangan Mio menghilang setelah ia masuk ke sebuah jalan diantara bangunan. Ritsu tidak terlalu ingin tahu. Kalau Mio sampai menyerahkan tas padanya, berarti ia tidak akan lama. Sekejap terlintas pikiran jahil Ritsu. Tapi ide usilnya segera ditepis oleh siluet seorang gadis yang sedang berjalan menuju sebuah mobil mewah.

"Mugi?" Ritsu menatap mobil mewah dan temannya Mugi kemudian berpikir keras.

'Souka. Pasti sejak kecil hidupnya penuh aturan tuan puteri yang membosankan. Aku harus melakukan sesuatu untuk mewarnai hidupnya mulai sekarang!' Pikirnya asal-asalan.

Sedetik setelah itu, bohlamnya menyala. Tanpa pikir panjang, Ritsu langsung menjalankan langkahnya yang pertama.

"Hooooi, Mugi!"

Ojousama tampak sedang mencari asal suara. Ia terkejut saat melihat si drummer sedang berlari menghampirinya.

"Oi, Mugi, besok kita berangkat sekolah bersama yuk! Aku akan menjemputmu di stasiun. Bagaimana? Mau 'kan? Mau ya?"

Mugi memiringkan kepalanya masih ragu dengan tawaran Ritsu yang tiba-tiba.

"Apa kau yakin mau menjemputku? Bukankah stasiun malah lebih jauh dari rumah Ricchan ke sekolah?"

"No problemo!" Ritsu meringis sambil menunjukkan jempolnya. Mugi masih belum menangkap maksud Ritsu. Instingnya yang biasanya kuat jadi lengah. Dalam pikiran dan situasinya sekarang, ia hanya tersenyum menyadari betapa baiknya Ritsu sampai mempunyai keinginan untuk menjemputnya.

"Ritsu!" Suara Mio terdengar dari belakang. Keduanya menoleh dan muka Ritsu berubah pucat. Salah siapa meninggalkan teman penakut yang baru dari WC umum sendirian.

"Gomenne, Mio! Aku melihat Mugi lewat lalu menghampirinya. Hehe."

"Bilang dulu kek! Jangan meninggalkanku sendirian!" Mio mengomel lalu menoleh ke Mugi, dan sebuah mobil mewah di belakangnya. Mio melongo untuk beberapa saat kemudian langsung membungkuk formal secara tiba-tiba sambil menekan tengkuk Ritsu agar membungkuk juga.

"Mugi-chan, gomen! Apa Ritsu mengganggu perjalanan pulangmu?"

Ritsu mengerang kesakitan.

"Tidak apa-apa, Mio-chan. Ricchan hanya menyapaku. Aku yang meminta maaf karena aku harus dijemput di tempat ini."

"Hei, hei, yang seperti itu tidak perlu dipermasalahkan. Mio, geez, kau berlebihan."

Mio meminta maaf sekali lagi sambil tersenyum malu.

"Baiklah, aku pergi dulu. Ja mata ashita, Mio-chan, Ricchan!" Mugi mengedipkan matanya ketika memanggil Ritsu. Ritsu membalasnya dengan kedipan mata juga. Sepertinya Mio tidak menyadari apa-apa dan sebenarnya Ritsu juga tidak berniat untuk memberitahu ide gilanya. Yang harus ia lakukan berikutnya adalah berangkat sendirian pagi-pagi sekali.

"Mio, besok-"

"Oh iya, Ritsu! Besok aku harus berangkat pagi-pagi sekali karena piket. Kau tidak keberatan kalau aku berangkat duluan 'kan?"

'Perfect Timing! Dengan ini, dimulailah Operasi Mewujudkan Impian Mugi ala Super-Ricchan!' Batin Ritsu berpesta.

"Baiklah," Ritsu menyeringai.


"Oi, Mugi, apa kau baik-baik saja?" Ritsu bertanya.

"Ricchan..."

"Hehh? Kenapa wajahmu berubah sedih?"

"..."

"Mugi, jangan bilang kalau kau-"

"Aku ingin merasakan bolos juga!"

"Heeeeehh!"


Ritsu menghela nafas panjang. Ia tahu betul bagaimana rasanya tidak bisa melakukan hal yang sangat diinginkan. Rasanya seperti dipenjara dalam kamar sendiri. Menurut Ritsu, Mugi adalah tuan putri yang terkurung di kamarnya. Nyatanya memang hanya Ritsu yang mengerti bagaimana Mugi jika ia sedang menginginkan sesuatu. Asumsi Ritsu berdasarkan manga yang sering ia baca; Ojousama itu ingin menjadi gadis normal dengan kehidupan sekolah yang menyenangkan. Setidaknya, hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai teman.

Memikirkan aksinya sudah membuat Ritsu on fire. Ia mengangkat cengkeramannya tinggi.

"Yosshaaaaaaaaaaa!"

"Oneechan, berisik!"


– Stasiun X, pukul 05.45 –

Ritsu menunggu dengan sabar di stasiun. Tidak seperti tadi malam yang penuh percaya diri, pagi ini justru ia merasa sedikit gugup. Ia teringat insiden jitak-menjitak musim panas kemarin. Di akhir insiden Mugi mengatakan sesuatu padanya. Sesuatu yang tidak mungkin ia lupakan dengan mudah, karena setelah itu dengan tidak sengaja Ritsu berhasil mengabulkan keinginan Mugi.

Mugi keluar dari pintu stasiun. Melirik ke semua arah, lalu melambaikan tangan gembira saat menemukan Ritsu sedang berdiri di dekat vending machine.

"Ohayou, Ricchan!" Mugi menirukan gaya penghormatan saat upacara bendera.

"Ohayou, Mugi-taichou!" Balas Ritsu dengan nada yang sama, setelah itu keduanya tertawa.

"Kalau begitu mari berangkat!" Sebelum Mugi menggenggam tangannya, Ritsu sudah menariknya terlebih dahulu.

"Mugi, hari ini ayo kita..." wajahnya mendekati telinga Mugi, "...bolos," bisiknya.

Hening.

Ritsu menelan ludah.

Sebenarnya Ritsu malu dengan diri sendiri, dan sekarang ia sangat malu dengan Mugi. Padahal pengalaman bolosnya sudah terbilang tingkat tinggi. Tapi belum pernah yang sekonyol ini. Ini pertama kalinya dalam sejarah Ritsu sebagai siswi SMA. Dan situasinya sekarang adalah ia mengajak seorang teman. Seorang Ojou dari keluarga-stop! Ritsu hanya perlu membuang ketidak percayaan dirinya sampai beberapa jam ke depan demi kehidupan teman yang lebih berwarna. Ia janji pada dirinya sendiri akan menerima resiko apapun dari perbuatannya. Termasuk dijitak oleh Mio ratusan kali.

Angin berembus kencang bersamaan dengan suara berisik manusia yang lalu lalang. Saat itu juga Mugi menatap wajah Ritsu. Warna matanya yang berbinar seperti melihat malaikat – entah bisa disebut baik atau tidak – yang datang menolongnya dari kegalauan.

"Ricchan, mau aku peluk?"


Kelas masih sepi. Yang terlihat hanya siswi yang piket pagi ini. Yui tidak piket. Tapi entah sengaja atau tidak, hari ini ia datang lebih pagi dari biasanya.

"Ohayou, minna! Eh?"

Ia baru menyadari ketidaksengajaannya setelah ia dapati kelasnya yang sunyi, hanya ada tiga orang yang sedang bersih-bersih.

"Oh, Ohayou, Yui," sapa Mio.

"Yui-chan tumben ya?" Ucap seseorang yang sedang membersihkan papan tulis, sedikit meledek.

Seperti biasa juga, "Hehee.. Hari ini aku meminjam jam weker Ui," tidak merasa diledek.

Mio menaikkan sebelah alisnya, "Lalu Ui-chan pakai jam weker siapa?"

Sekali lagi Yui menyadari sesuatu. Semalam ia mengambil jam weker Ui sebelum adiknya itu masuk ke kamar. Ui pasti tidak menyadari kalau jam wekernya hilang. Pasti sekarang Ui sedang menikmati tidurnya yang terlewat nyaman.

"Huaaa! Ja ne!" Pamit Yui meninggalkan kelas sambil berlari.

"Hei, Yui, tunggu!"

Yui tidak menggubris panggilan yang terus menyerbunya bahkan ucapan selamat pagi dari gadis klub supranatural yang jarang bicara pun dilewati begitu saja. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Ui yang sedang merapatkan selimutnya. Bagaimana jika adiknya itu bangun kesiangan lalu memutuskan untuk bolos. Yui selalu menyadari kalau ia tidak lebih baik dari Ui, ia tidak ingin Ui mengikuti jejaknya. Walaupun Ui tahu hal seperti itu tidak mungkin ia tiru.

Di koridor Yui berpapasan dengan kohai favoritnya.

"Senpai!"

"Halo, Azunyan! Ja, Azunyan!"

"Chotto! Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tanyakan."

"Simpan untuk nanti, Azunyan, aku sedang buru-buru. Ja ne!"

Azusa hendak memanggil Yui lagi, tetapi Yui langsung pergi meninggalkan Azusa begitu saja.

"Bagaimana bisa ia buru-buru pagi-pagi begini?" Azusa hanya bisa melihat punggung senpainya. Begitu tidak ada harapan Yui akan kembali, akhirnya ia masuk ke kelas.

"Ohayou, Azusa-chan. Ada apa denganmu?"

"Oh, ohayou, Ui. Apanya yang ada apa?" Sejenak Azusa berpikir kalau Ui mempunyai kekuatan pembaca pikiran yang luar biasa.

"Lebih tepatnya melihat ekspresimu yang kebingungan saat ini," Azusa tertegun dengan jawaban enteng Ui. Setelah itu ia menceritakan kebingungannya.

"Souka. Rumah Mugi-senpai ya? Aku tidak tahu karena Oneechan belum pernah memberitahuku."

Azusa berfikir keras menatap langit-langit.

"Aku melihat Ritsu-senpai dan Mugi-senpai di sekitar pertokoan stasiun X. Bukankah tempat itu malah lebih jauh dari rumahnya menuju ke sekolah?"

"Mungkin Ritsu-senpai sedang mencoba jalur yang berbeda dari biasanya," ujar Ui tampak bijak seperti biasa.

"Um, benar juga. tapi mana mungkin orang seperti dia? Ah, sudahlah," sejenak Azusa meragukan drummer pemalas itu. Kerasukan apa tiba-tiba mencari jalan yang lebih jauh?

"Ne, Azusa-chan?"

Azusa menatap Ui, sepertinya kali ini ia menangkap maksud Ui; Jangan terlalu dipikirkan.

"Baiklah, aku akan menanyakannya nanti sepulang sekolah. Arigatou, Ui-chan."


Sudah lebih dari satu jam kami berkeliling kota. Mengajak Mugi mengenal jalan yang belum pernah ia lewati sebelumnya. Bahkan aku menunjukkan jalan-jalan kecil yang belum pernah ia lalui. Tentu saja aku menghindari jalanan besar, karena kalau sampai ada polisi beroperasi, kami akan ditangkap karena perbuatan kami. Mengingat aku dan Mugi masih mengenakan seragam sekolah. Aku benar-benar kurang persiapan. Aku berjanji ini yang terakhir kalinya.

"Sugoi, Ricchan! Aku tidak menyangka kalau disini ada jalan lain menuju stasiun," Mugi tidak bisa berhenti bilang 'Wah' setiap kami melewati jalan yang baru ia kenal.

"Masih banyak jalan rahasia lainnya. Tapi kau harus bersabar."

"Hai, hai! Ini akan jadi petualangan yang panjang dan seru!"

Sejenak aku merenungkan kata 'petualangan' yang baru ia katakan. Bahkan Mugi sama sekali tidak ingat dengan sekolah. Ngomong-ngomong aku juga menikmatinya sih.

Kami melewati beberapa rumah, dan sampai di sebuah halte kecil. Tidak banyak orang tinggal disini. Jadi halte ini seperti surga bagi kami untuk beristirahat. Kami segera duduk di kursinya untuk melemaskan otot kaki.

"Douzo,"

Aku tersentak saat sebuah cangkir dengan asap yang mengepul lembut ditujukan padaku.

"Whoa! Kenapa ada teh?"

"Ini teh herbal yang ku bawa untuk menambah stamina," tanpa dosa Mugi mengatakannya.

"Kau sudah mempersiapkannya ya?" Pertanyaanku ini... Mana mungkin 'kan? Aku yang mengajaknya saja tidak mempersiapkan apapun.

"Tentu saja," masih dengan senyum tanpa dosanya, "Aku tahu suatu saat Ricchan pasti akan mengajakku jadi aku mempersiapkannya."

Kami-sama... Apa yang ada di pikiran gadis ini? Aku sudah seperti penjahat sekolah. Tiba-tiba Sebuah bus berhenti di depan kami. Bus ini 'kan... jurusan pantai.


Dua menit lagi bel masuk. Tetapi belum ada tanda-tanda Ritsu dan Mugi muncul. Sejak tadi Mio dan Nodoka terlihat sibuk dengan ponsel masing-masing.

"Ponsel Ritsu tidak aktif," Mio tampak menyerah dan menaruh kembali ponselnya ke dalam tas.

"Tsumugi-san juga," sambung Nodoka. Sebagai ketua kelas, Nodoka tidak akan tinggal diam. Walaupun bisa ditunggu karena mungkin saja mereka terlambat.

"Si bodoh itu! Apa yang sedang dia lakukan?!" Umpat Mio, darahnya mulai meninggi. Jika memang Ritsu sakit, pasti ia yang akan mengantarkan suratnya. Tapi jika bolos, Mio tidak habis pikir. Baru dua hari yang lalu mereka membincangkan topik yang sama sekali tidak ada manisnya ini. Dan Mugi juga tidak ada kabar. Bagaimana bisa keduanya menghilang secara bersamaan? Atau mungkin terjadi sesuatu di jalan? Mengingat kelanjutan pemikiran ini pasti mengerikan, Mio segera menepis pikirannya yang aneh-aneh.

"Gawat. Yui-chan juga belum kembali," Nodoka menatap ke arah pintu kelas.

"APA!?"

Bel masuk telah berbunyi.


Tsuzuku