Chapter 2 update...

Langsung aja ya...

Naruto milik MASASHI KISHIMOTO-SAMA.

Tapi, 'Mai Luphly Stlawbelly' punya Liekichi-chan...

Happy Reading,,,,

*~`` = Mai Luphly Stlawbelly``~*====

Previous

"Kenapa aku menangis seperti ini? Dasar bodoh..." ucapnya lagi pada diri sendiri.

"Naruto-kun, aku pasti akan menunggumu, cepatlah kembali.." kata Hinata sambil memejamkan kedua mata lavender keperakannya seraya berdoa.

Chapter 2

Hinata tak menyadari bahwa sedari tadi dirinya terus saja melamun didalam kamarnya yang begitu mewah tersebut. Mata lavendernya terus saja menatap dalam-dalam boneka pemberian sahabat kecilnya, Namikaze Naruto, pada waktu sepuluh tahun yang lalu. Rasa rindunya sudah tak tertahankan. Terkadang ia berfikir untuk pergi ke Korea Selatan untuk berjumpa dengan Naruto lagi. Tapi lagi-lagi, dia harus menepis jauh-jauh fikiran itu. Karena, tak mungkin saja dirinya melakukan hal tersebut.

Bukan hanya boneka itu saja yang masih ia simpan baik-baik, tapi kebiasaan kecilnya yang sangat menyukai permen strawberry pun tak bisa luput dari kehidupan gadis manis dan jelita itu. Mungkin bagi Hinata, Naruto bagaikan buah Strawberrynya, yang tak bisa ia lupakan dan tinggalkan bayangannya walau hanya sesaat. Setiap hari, setiap detik, setiap menit, Hinata akan selalu terus memikirkan keadaan Naruto

Bagaimana lelaki itu sekarang? Apakah ia masih hyperactive serperti dulu? Apakah ia masih mengingatku sebagai teman masa kecilnya? Apa Naruto masih seperti dulu?, setiap hari hanya hal itulah yang selalu berkecamuk dalam benak gadis bermata lavender itu. Kalau ia bisa memutar waktu kembali, rasanya ia ingin sekali mencegah kepergiaan Naruto. Walaupun itu hal yang sangat egois. Bukan hanya itu, jarak yang memisahkan mereka pun cukup jauh. Sejak kepergian Naruto bersama kedua orang tuanya, gadis itu tak pernah sekalipun mendapat kabar tentang Naruto.

Ingin ke Korea Selatan, rasanya tak mungkin karena sudah pasti kakak dan ayahnya yang sangat overprotective, tidak akan pernah mengizinkannya. Ingin menghubungi Naruto, tetapi tak tahu nomor telepon kediaman lelaki bermata biru laut itu. Ingin mengirim surat, tetapi tak tahu alamat yang hendak ia tuju.

Hinata sangat merindukan tawa Naruto, cengirannya, leluconnya, bahkan kejahilan dan kekonyolannya yang mampu membuat Hinata tertawa terbahak-bahak. Jujur saja, sejak sepuluh tahu yang lalu Naruto meninggalkannya, gadis Hyuuga ini lebih suka untuk menyendiri, dia juga tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat pemalu. Padahal dulu Hinata kecil tidak terlalu pemalu dan juga ia sering tersenyum dan tertawa lepas. Mungkin karena ada Naruto saat itu disampingnya. Tapi sekarang, lelaki itu tak jua memberikan tanda-tanda kepulangannya dari Korea Selatan. Ya, walaupun Hinata masih agak ceria, tapi tidak seceria dulu saat Naruto masih menemani hari-harinya.

Hinata mencoba untuk menahan air matanya yang telah menggenang dipelupuk mata indahnya agar tak terjun membasahi pipi putih nan mulus itu. Tapi sepertinya usaha yang ia lakukan gagal total. Air mata itu ingin meluncur dipipi putih Hinata dengan volume dan kecepatan yang lebih banyak dan hebat lagi. Mencoba menahan, tetapi selalu aja akan berujung pada kesia-siaan. Itulah cara gadis Hyuuga itu selama ini untuk mengungkapkan ekspresi kerinduannya terhadap sosok Naruto.

"Hey Naruto-kun, kau jahat ya. Kau tega membuatku menangis seperti ini. Dasar..." ucap Hinata yang mencoba untuk tersenyum dan menghapus air matanya.

"Lihat, mataku sampai sembab seperti ini..." katanya yang mengarahkan pandangannya kearah boneka kelinci pemberian lelaki berambut jabrik, bermata sebiru laut.

Tok..Tok..Tok..

Ketukan dipintu kamar Hinata sedikit mengagetkannya akan lamunan yang sejak tadi membawa fikirannya jauh ke masa sepuluh tahun yang lalu bersama dengan Naruto. Gadis itu cepat-cepat mengahapus air matanya yang masih sedikit tersisa seraya menarik nafasnya dalam-dalam pula, agar tak menciptaan suara sengau dari bibirnya.

"Hinata-chan, apa kau sudah bersiap-siap untuk pergi kesekolah hari ini? kalau sudah, cepatlah kebawah. Ayahmu sudah menunggu untuk makan pagi hari ini." seru Neji dari luar kamar Hinata.

"I..iya kak, bilang pada ayah, makan saja duluan, jangan menungguku. A..aku belum selesai.." jawab Hinata kalang kabut. Dengan kecepatan penuh, Hinata langsung bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Neji yang mendapat jawaban tersebut dari adik sepupu kesayangannya, hanya mengerutkan dahinya heran. Setelah beberapa lama terdiam didepan pintu kamar Hinata, lelaki bermata lavender keperakan seperti Hinata itu lantas mengangkat bahunya. Bingung.

"Baiklah. Dasar Hinata, tidak biasanya seperti ini. Pasti tadi dia melamun tentang Naruto sampai-sampai melupakan semuanya." tebak Neji yang lantas pergi menuruni anak tangga untuk makan pagi terlebih dahulu dengan Hiashi-sama, pamannya.

*~``MaiLuphlyStlawbelly``~*

Setelah selesai mandi, Hinata langsung menyambar pakaian sekolah dan memakaikan ketubuhnya dengan gerakan yang tergesa-gesa. Jelas saja gadis itu terlihat begitu terburu-buru, karena ia sudah benar-benar kesiangan hari ini.

Setelah selesai mengenakan seragam sekolahnya, Hinata lantas mengambil tasnya dan tak lupa beberapa permen strawberry kesukaannya. Permen itu ia letakkan di kantung roknya yang berwarna coklat kotak-kotak.

Kalau soal bersolek, Hinata tak terlalu suka melakukan hal tersebut. Biasanya gadis manis itu hanya memakai bedak baby dan parfum lembut yang membuat semua orang tak bosan untuk menghirup harumnya. Hinata juga tak suka memakai polesa-polesan lipgloss dan lain sebagainya kebibir mungilnya. Karena kecantikan wajahnya yang telah terukir secara natural, tak membuatnya repot-repot untuk memoles wajah imutnya dengan make up berlebihan seperti yang banyak dilakukan oleh teman-temannya yang lain.

Wajahnya yang baby face dan manis, serta bibirnya yang mungil dan berwarna merah mudah, membuat orang tak ingin berhenti untuk memandang wajah lembutnya yang teduh nan manis.

Hinata adalah seorang gadis yang sangat sederhana dan tak suka membanggakankan kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya. Gadis manis itu bersekolah disebuah sekolah elite yang bernama "Kiyu School". Sekolah itu diberi nama Kiyu School, karena pemilik sekolah tersebut sangat menyukai musim gugur dan musim dingin. Oleh karena itulah, nama tempat Hinata bersekolah diberi nama 'Kiyu School', yang merupakan gabungan nama antara musim gugur atau Aki dan musim dingin atau Fuyu .

Dengan langkah cepat Hinata menuruni anak tangga sambil setengah berlari. Ayahnya Hiashi-sama, sudah berangkat terlebih dahulu kekantornya. Ayah Hinata merupakan direktur utama dari Hyuuga Corporation yang memiliki cabang disepuluh negara diAsia. Jelas saja ayahnya pasti sangat sibuk sehingga membuat Hinata terkadang sedikit kesepian. Untungnya ia memiliki seorang kakak sepupu yang sangat menyayangi dirinya, dan juga seorang adik perempuan yang sedikit bawel. Tapi walaupun seperti itu, Hinata tetap sangat menyayangi Hanabi. Mereka berdua memang memiliki perbedaan sifat yang mungkin hampir mendekati 360 derajat. Hinata yang lembut, baik dan pemalu, dan Hanabi yang bawel, cerewet, dan sedikit agak jahil.

Tapi justru karena perbedaan itulah yang membuat mereka saling melengkapi satu sama lainnya. Entah mengapa, Hinata terkadang suka menganggu Hanabi hingga adik kesayangannya itu kian marah dan ngambek. Bagi Hinata, Hanabi benar-benar terlihat sangat lucu kalau sudah seperti itu hingga Hinata menjadi gemas dibuatnya.

Hinata tampak kelelahan dan sedikit ngos-ngosan saat berada didepan meja makannya. Gadis itu mencoba untuk menarik nafasnya dalam-dalam dan mengambil tempatnya dikursi yang telah tersedia, sambil tersenyum manis kearah Neji dan Hanabi yang tengah memperhatikan kelakuaannya.

"Ohayou Neji-nii, Hanabi-chan..." sapa Hinata yang masih saja terus tersenyum kearah Hanabi dan Neji. Sesaat sang kakak sepupu melihat raut wajah Hanabi yang tampak cemberut dan sedikit kesal dengan Hinata. Neji sampai-sampai menahan tawanya agar tak lepas saking lucu dan gemasnya melihat wajah Hanabi yang cemberut seperti itu. Sedangkan Hinata hanya balas tersenyum tanpa dosa kearah Hanabi sambil mengambil roti tawar dan mengoleskan roti tersebut dengan selai strawberry kesukaannya.

"Ohayou Hinata-chan..." balas Neji seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangan kanannya yang lagi-lagi harus menahan tawa karena melihat kelakuan mereka berdua. Dua kakak adik yang berbeda, namun begitu sangat lucu dan menggemaskan.

Hanabi terus saja merengut melihat wajah Hinata yang dengan santainya mengunyah roti tawar berselai strawberry itu kedalam mulutnya. Tiba-tiba saja muncul ide jahil Hinata untuk mengganggu Hanabi karena adiknya yang terus menatapnya seperti itu.

"Hanabi kenapa sayang? Mau roti punya Hinata-nee?" tanya Hinata dengan nada jahil sambil tersenyum dan memasang wajah tanpa dosa. Hal itu membuat Neji semakin geli dan ingin tertawa dibuatnya. Lelaki itu sampai memegangi perutnya, mencoba untuk menahan tawa. Karena kalau sampai ia tertawa, Hanabi pasti akan marah juga padanya.

Entah dari mana Hinata mendapatkan bakat jahilnya. Mungkin karena dulu ia terbiasa dengan Naruto yang bersifat jahil. Jadi, sedikit demi sedikit kejahilan itu muncul juga pada diri Hinata.

"Hinata-nee, ini udah jam berapa? Nanti kita enggak dikasih masuk tahu..." ucap Hanabi dengan suara yang dikeraskan saking sebalnya melihat kakaknya, Hinata.

Neji yang tadinya matia-matian menahan tawanya, akhirnya tak sanggup bertahan lebih lama. Dan dengan keras pula lelaki itu tertawa terbahak-bahak yang membuat Hanabi menjadi semakin cemberut.

"Hahahaha..." tawa Neji pun kian meledak. Begitu pula dengan Hinata. Ia langsung berdiri dan menghampiri Hanabi lalu mencubit sayang kedua pipi adiknya saking gemasnya.

Sedangkan Neji, lelaki itu terus saja tertawa sampai-sampai ia harus mengeluarkan air mata dari sudut mata lavendernya.

"Neji-nii, kita berangkat sekarang." kata Hinata yang masih saja tersenyum jahil kearah Hanabi. Sedangkan adik kecilnya itu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Neji yang masih saja tertawa.

"Neji-nii, jangan buat Hanabi marah ya..." seru Hanabi dihadapan Neji. Lelaki itu selalu saja ingin tertawa setiap kali melihat tingkah Hanabi kecil.

"Dasar kau ini. Jangan cerewet seperti itu. Nanti Konohamaru tidak mau denganmu." ledek Neji sambil bangkit dari duduknya dan mengacak-ngacak rambut sepupu kecilnya itu. Semburat merah muda pun langsung hinggap dipipi Hanabi yang membuatnya semakin mendapat ledekan dari Hinata dan Neji.

Setelah memasuki mobil mungil berwarna silver tersebut, mereka lantas pergi kesekolah dengan Neji sebagai pengemudinya. Ya, mereka bertiga bersekolah disekolah yang sama. Hanya saja, tingkatannya saja yang berbeda. Hanabi masih duduk dikelas VII SMP, Hinata yang duduk dikelas X SMA, dan Neji, lelaki itu duduk dikelas XI. Walaupun mereka pergi bersama-sama seperti ini, tetapi saat memasuki perkarangan, nantinya mereka akan berpisah. Ya jelas saja, Kiyu school merupakan kawasan sekolah yang benar-benar elite dan sangat luas.

Setelah mobil berwarna silver itu memasuki pekarangan sekolah yang luar biasa luas dan indahnya, Neji lantas memakirkan mobil tersebut ditempat parkir yang telah tersedia yang hanya dikhususkan untuk parkiran mobil. Sebelum mencapai sekolah, Neji harus tancap gas dijalan karena tak bisa menghindari omelan Hanabi yang tedengar bercici cuit ria ditelingan mereka disepanjang jalan. Lelaki itu sampai pusing dibuatnya. Sedangkan Hinata, gadis itu malah tampak tersenyum-senyum melihat tingkah adik semata wayangnya itu.

Dan benar saja, kali ini omelan Hanabi benar-benar menjadi kenyataan. Saat mereka hendak memasuki gerbang sekolah yang sangat tinggi itu, gerbang itu telah hampir tertutup. Untungnya, karena mereka sudah lama mengenal sang penjaga gerbang tersebut. Jadi, dengan mudah mereka bisa meloloskan diri. Ya, walaupun juga dengan penambahan unsur wajah memelas dan jurus andalan 'Chappy Eyes No Jutsu' mereka bertiga.

"Tuh kan nee, Hanabi bilang juga apa. Kita pasti bakalan terlambat. Besok-besok kalau Hinata-nee lama lagi, ditinggal aja deh. Malah kelas Hanabi jauh lagi dari sini. Lagian pembangunnya juga sih, buat apa sih bikin sekolah yang super duper luas kayak gini. Kan capek jalannya..." omelnya lagi-lagi sambil memandang marah kearah Hinata. gadis itu lantas buru-buru melepas sabuk pengaman yang terpasang ditubuhnya.

"Ia deh, Hinata-nee minta maaf..." balas Hinata mencoba memasang tampang bersalah dan memelas untuk dimaafkan. Tapi hal yang dilakukannya malah semakin membuat Hanabi kesal. Gadis berambut indigo itu hanya mencoba menahan tawa melihat adik kesayangannya yang menggemaskan itu.

"Neji-nii juga sih, buat apa nungguin Hinata-nee. Jadinyakan telat kayak gini." omelnya kali ini kepada sang kakak sepupu, Hyuuga Neji. Lelaki berambut panjang yang terkenal cuek dan dingin itu, hanya balas tersenyum simpul kearah Hanabi yang mengakibatkan gadis kecil itu semakin kesal. Sebenarnya mereka bertiga memiliki sifat yang hangat dan lembut. Hanya saja, tak pernah mereka tunjukkan sifat tersebut kepada orang lain. Apabila berada dihadapan orang lain, mereka akan kembali kepada jalurnya masing-masing. Hinata yang pemalu, Neji yang cuek dan agak dingin, dan Hanabi yang tetap saja bawel.

Neji, Hinata dan Hanabi langsung membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil silver yang terlihat sangat mewah tersebut. Hanabi hendak tancap gas ingin berlari kebagian kelasnya saat seseorang menarik pergelangan tangan kecilnya. Gadis itu lantas tersentak dan tertarik kearah berlawanan dari arah yang ingin ia tuju. Ternyata seseorang yang menarik tangan kecilnya adalah kakaknya sendiri, Hyuuga Hinata.

"Ada apa lagi sih nee?" rengeknya manja.

"Gak ada kok, sepertinya Hinata-nee melupakan sesuatu." kata Hinata yang mulai berjongkok didepan Hanabi kecil. Neji hanya tersenyum simpul memperhatikan dua orang sepupunya itu.

"Memangnya nee lupa apa?" tanya Hanabi yang mulai agak kesal.

"Lupa ini..." Hinata langsung mencium kedua pipi Hanabi, dan setelah itu langsung mengacak-acak rambut adiknya itu.

"Hinata-nee, Hanabi kan malu kalau dilihat orang.." ucapnya cemberut.

"Biarin, wekk..." sambung Hinata yang berdiri sambil menjulurkan lidahnya kearah Hanabi seraya mengibas-ngibaskan tangannnya untuk mengisyaratkan agar Hanabi sesegera mungkin berlari memasuki ruangan kelasnya.

Mendapati isyarat itu, Hanabi lantas membalikkan tubuhnya dan hendak berlari untuk memasuki ruangannya. Tapi lagi-lagi, untuk kedua kalinya seseorang memanggil namanya dan menghambatnya untuk segera menuju kelas yang mungkin pelajaran pertama sudah dimulai.

"Hanabi…" panggil Neji.

"Apalagi Neji-nii?" tanya Hanabi agak ketus.

Neji langsung mendekat kearah Hanabi dan lantas mengikuti perbuatan Hinata. Diacak-acaknya rambut gadis kecil itu, hingga membuatnya semakin merengut kesal.

"Belajar yang baik ya." kata Neji lembut.

"Iya, iya.." jawab Hanabi pasrah dan kali ini tak ingin menunda langkah kakinya lebih lama lagi untuk segera masuk kedalam ruangannya.

"Hinata-chan, Neji-nii duluan ya..." ucap sang kakak sepupu, dan segera berlari untuk masuk keruangannya. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan dari ucapan Neji. Gadis bermata lavender itupun segera mengikui jejak kedua orang itu, dan lantas langsung berlari menuju kelasnya.

Hinata terus berlari melewati lapangan yang super duper luas itu. Gadis itu sampai terlihat merutuk dirinya karena larinya yang begitu lambat. Keringat mulai mengucur dari pelipis Hinata. Nafasnya sampai ngos-ngosan karena berlari begitu jauh hanya untuk mencapai ruangan kelas tempat ia menimba ilmu. Belum lagi bawaan tas berisi buku-buku yang ekstra tebal, yang sedang ia bawa juga. Hal itu membuatnya semakin lelah berlari. Tas itupun bagai tak muat menampung berat beban dari buku tersebut, hingga Hinata membawa sebagian buku yang lainnya dalam pelukan tangan kanannya.

Saking terfokusnya untuk berlari, gadis itu sampai terlalu memperhatikan jalan dengan baik. Hati dan fikiannya melayang entah kemana-mana. Sejujurnya, ia sangat takut datang terlambat kesekolah. Karena, saat ia masuk nanti, pasti semua orang akan memperhatikannya tanpa ingin melepaskan pandangan mereka. Bahkan sampai gadis itu duduk dibangkunya. Belum lagi, hukuman yang akan ia terima karena telah berani melanggar kedisiplinan dan peraturan sekolah.

Hinata yang tak fokus pada pandangan dihadapannya, tanpa ia sadari tubuhnya menabrak seseorang yang cukup tinggi dan kuat darinya hingga gadis itu terjatuh kebelakang. Buku-buku yang sebelumnya ia pegang dalam pelukannya pun, harus ikut jatuh berserakan ketanah. Hinata tampak meringis kesakitan sambil membersihkan sikunya yang kotor. Sedangkan orang yang ia tabrak, malah tak jatuh bahkan bergerak atau berpindah sedikitpun dari tempatnya semula. Seseorang itu tetap bisa mempertahankan posisinya semula.

"A..aduh, ssakit..." ringis Hinata kesakitan sambil mencoba untuk menumpukkan kembali buku-buka yang berserakan itu. Gadis itu sama sekali tak melihat seseorang yang masih berdiri dihadapannya sambil memasukkan sebelah tangan kanannya kedalam saku celana panjangnya.

Setelah selesai menumpukkan buku-buku yang tebal tersebut, Hinata lantas mencoba berdiri dan sedikit menepuk-nepuk rok petak-petaknya yang sedikit kotor.

Tubuhnya yang mungil sedikit oleng saat mencoba kembali tegak. Terlalu banyak bawaan gadis itu sampai rasanya tubuh mungilnya itu tak mampu untuk membawa berat benda tersebut. Rambut indigo panjangnya sedikit terlihat berantakan menutupi bagian samping wajah jelita Hinata. Hinata bisa merasakan lututnya terasa melemas. Gadis bermata lavender itu masih terlalu sibuk merapikan bajunya yang sedikit kotor dan berantakan. Kini Hinata telah berdiri tepat dihadapan seseorang tersebut. Seseorang yang tubuhnya tinggi tegap. Gadis itu saja, hanya setinggi dada orang tersebut.

"Hey, kalau jalan itu liat-liat." seru lelaki dihadapan Hinata dengan nada datar seakan-akan menyalahkan gadis itu bahwa ini semua adalah kesalahannya. Ya, walau sejujurnya semua itu memang akibat kelalaiannya yang tak terlalu memperhatikan jalan.

Hinata sedikit tersentak mendengar suara berat khas lelaki tersebut. Gadis itu lantas menghentikan aktivitas sebelumnya yang ia lakukan, dan membawa mata lavendernya untuk menatap seseorang yang berada dihadapannya itu. Bagaikan slow motion ketika kedua mata indah bertemu. Ya, mata biru laut yang sangat dirindukan gadis itu selama ini.

Hinata langsung membulatkan sempurna mata lavendernya saat memperhatikan lebih dalam seseorang yang ia tabrak tersebut. Bibir mungilnya pun sampai sedikit terbuka saking terkejutnya melihat sosok itu. Semua kenangan akan teman masa kecilnya itu bagaikan terputar kembali dalam otak gadis itu. Mencoba untuk mengingat lembaran demi lembaran data tentang orang tersebut. Mata biru laut itu terus menatap kearah sang lavender. Hinata sampai sedikit memundurkan langkahnya lagi untuk meyakinkan pandangan matanya.

Buku dan tas yang tadinya telah ia rapikan pun, kali ini harus jatuh kembali menyentuh sang bumi. Betapa tidak syoknya gadis ini, seseorang yang telah lama ia tunggu kini elah benar-benar sedang berada dihadapannya. Lelaki bermata biru laut, berkulit tan, goresan yang bagaikan kumis kucing yang terukir indah dikedua pipi, dan berambut blonde itu kini tengah berdiri dengan cool dihadapan Hinata.

Jantung gadis Hyuuga itu terasa bagaikan terhenti untuk sesaat. Begitu juga dengan sang waktu. Rasanya, segala kegiatan yang terjadi dialam ini bagaikan mempause kan aktivitas mereka untuk melihat pertemuan dua insan yang telah lama terpisah oleh jarak tersebut.

Tampan, mungkin itu adalah kata yang paling cocok untuk mendeskripsikan bagaimana seseorang dihadapan gadis itu. Hinata terus menatapi wajah seseorang itu tanpa berkedip sedikitpun. Ia perhatikan tiap lekuk dan tiap inchi ukiran wajah tampan itu. Lelaki itu tampak sedikit memiringkan kepalanya, karena begitu heran melihat reaksi sang gadis dihadapannya.

Hinata sampai mengedipkan mata lavendernya, dan mencoba untuk mengucek kedua mata itu untuk meyakinkan pandangannya. Tapi hasilnya tetap saja sama. Seseorang yang berdiri dihadapannya benar-benar mirip dengan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Teman masa kecil yang paling ia sayangi, Namikaze Naruto.

"Hey, kau kenapa?" tegur seseorang yang berada dihadapannya yang sudah ia pastikan bahwa lelaki itu benar-benar dia. Hinata yang menyadari akan kebodohannya, langsung menundukkan wajahnya dengan semburat merah yang menghiasi kedua pipi mulusnya. Hal ini menbuat gadis itu semakin bertambah manis dan imut.

"A..ano, a..aku hanya.." ucap Hinata salah tingkah sambil memainkan kedua jari telunjuknya dengan wajah yang sudah benar-benar merah. Lelaki itu menjadi semakin heran dibuatnya. Ia tampak menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi Hinata yang tergagap dan kikuk itu. Ia hanya terus memperhatikan apa yang ingin gadis itu lakukan setelah ini.

"Lain kali, perhatikan langkahmu..." ucap lelaki itu sambil menepuk pelan pipi putih Hinata dengan tangan kirinya, seraya berlalu meninggalkan Hinata. Gadis itu hanya dapat membeku ditempatnya tak mempercayai apa yang baru saja ia alami. Hinata benar-benar terpaku bagaikan patung disana.

"I..Itu, Na..Naruto-kun b..bukan?" ucap Hinata syok. Gadis itu benar-benar bisa terkena serangan jantung sekarang juga.

"Di..dia pasti Naruto. Te..teman masa kecilku, yang pe..pergi ke Korea Selatan sepuluh tahun yang lalu. Ta..tapi, ke..kenapa ia bisa ada disini? Dan juga, kenapa ia tak me..mengenaliku?" seru gadis Hyuuga itu tak percaya akan reaksi Naruto saat bertemu dengan dirinya. Hinata tampak menggeleng-gelengkan kepalanya berharap itu semua hanyalah halusinasi. Tapi, hal itu benar-benarlah fakta dan bukan hanya sekedar halusinasinya.

Dengan langkah gontai, Hinata mulai memungut kembali buku-buka dan tasnya yang berserak ditanah dan mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan kelasnya. Pagi ini les pertama adalah pelajaran kimia. Belum lagi hukuman yang akan ia terima dari guru kimianya yang terkenal galak itu. Hinata hanya mendengus kesal meratapi paginya yang tak mujur hari ini.

Gadis Hyuuga itu kini telah berdiri tepat didepan diruang kelasnya yang tengah tertutup rapat. Walaupun begitu, Hinata tetap saja bisa mendengar suara Anko-sensei yang begitu kuat itu. Tampaknya ruangan tertutup itu benar-benar tak mampu untuk meredam suara guru yang satu ini.

Dengan takut-takut Hinata mulai membawa kepalan tangan kecilnya untuk mengetuk pintu ruang kelasnya.

Tok..tok..tok...

Gadis itu hanya menunggu dngan pasrah didepan pintu tersebut. Sesungguhnya ia sangat takut saat melihat reaksi Anko-sensei nantinya. Hinata menarik nafasnya dalam-dalam saat mendengar suara decitan pintu yang menngartikan bahwa pintu ruang kelas itu sedang dibuka oleh seseorang.

Hinata merasakan bahwa bulu kuduknya benar-benar sudah berdiri, saat Anko-sensei memberikan tatapan sinis terhadapnya.

"O..Ohayou Se..sensei. Ma..maf, aku terlambat." ucap Hinata gelagapan.

"Kau Hyuuga Hinata bukan?" tanyanya sadis.

"I..Ia sensei, a..aku Hyuuga Hinata." Jawab Hinata tak kalah ketakutan dan gemetaran dari yang sebelumnya.

"A..apa kau tahu ini sudah jam berapa? Kau sudah terlambat mengikuti kelasku selama setengah jam." jelas Anko sensei ketus. Gadis Hyuuga itu hanya mampu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tak berani menatap wajah sangar sang sensei.

"Baiklah, kali ini kau boleh masuk dan mengikuti pelajaranku seperti yang lainnya. Aku memberikanmu dispensasi karena kau baru pertama kali ini terlambat masuk dalam pelajaran kimia yang aku ajarkan." sambung Anko-sensei. Hinata sedikit mengembangkan senyuman manis dibibir mungilnya saat mengetahui ada dispensasi yang diberikan untuk dirinya.

"Tapi," lanjut sang sensei tegas.

"Ta..tapi apa sensei?" tanya Hinata gelagapan. Gadis itu sampai bergidik ngeri mendengar ucapan Anko-sensei yang menyiratkan suatu pertanda yang tidak baik.

"Tapi sepulang sekolah nanti, kau harus mengepel disepanjang koridor, dari kelas X sampai kelas XII ini." tegas Anko-sensei dengan senyuman mautnya. Sedangkan Hinata, gadis itu hanya mampu menghela nafas berat.

"Baiklah sensei." jawab Hinata lemas.

"Yasudah, kau boleh masuk sekarang." seru sang sensei sambil mempersilahkan gadis manis itu untuk segera masuk kedalam ruangan kelas tersebut. Ya, seperti dugaan gadis itu, semua teman sekelasnya kini terus saja memperhaikannya tanpa berkedip. Gadis itu merasa bahwa dirinya adalah objek memalukan hari ini.

Begitu sampai ditempat duduknya, Hinata lantas mengambil buku pelajarannya dan mulai mengikuti pelajaran yang sedang disampaikan oleh Anko-sensei. Ya, walaupun sebenarnya hati dan fikirannya benar-benar tak sedang berada disana. Gadis itu terlalu sibuk untuk mengingat perjumpaan dengan seseorang yang sebenarnya diam-diam ia sukai itu.

"Hufft, Kenapa kau lupa padaku Naruto-kun?" ucapnya dalam hati. Mata lavendrnya tampak sangat sedih dan sayu mengingat bahwa Naruto tak lagi mengingatnya.

*~``MaiLuphlyStlawbelly``~*

Teeeeeet...

Bel tanda pulang berbunyi sudah di Kiyu School tersebut. Para siswa dan siswi elite yang bersekolah disana bersorak bergembira saat akhirnya mendengar bel penyelamat bagi mereka. Jelas saja mereka akan meresa sangat lelah dan penat, tujuh jam lamanya mereka harus memperhatikan pelajaran yang cukup menguras otak.

Tapi bagi Hinata, kepulangan itu merupakan awal dari kelelahan yang akan menguras seluruh tenaganya. Bagaimana tidak? Diperintahkan untuk membersihkan dan mengepel lorong sekolah yang luar biasa besarnya hanya dengan seorang diri saja.

Ya, walaupun ia tahu bahwa itu benar-benar kesalahannya. Dan ia harus bersedia melakukan apapun demi untuk menebus kesalahan tersebut.

Gadis itu telah menyuruh sang kakak Neji Hyuuga, dan juga Hanabi untuk pulang terlebih dahulu dan tidak usah menunggunya saat istirahat tadi. Dan ya, mereka menyetujuinya walau dengan hati yang berat. Jelas saja, mana ada kakak yang tega melihat adiknya harus melakukan pekerjaan berat seperti itu. Tapi, karena Hinata terus meyakinkannya, akhirnya lelaki berambut panjang itu mengerti juga dengan keadaan gadis tersebut.

Hinata menarik nafasnya berat seraya bangkit dari duduknya untuk mulai membersihkan lorong sekolah sebagai hukuman yang diberikan oleh Anko-sensei. Ino yang merupakan teman sebangku Hinata merasa sedikit kasihan melihat gadis itu.

"Hinata-chan, kelihatannya kau lelah sekali ya. Apa kau mau kubantu?" tanyanya prihatin. Ya, walaupun Ino itu terkenal sebagai biang gosip dan ratunya cewek centil, tapi sebenarnya ia sangat baik.

"A..ano, tidak usah I..Ino-chan, nanti Anko-sensei bisa marah padamu kalau sampai ketahuan." jawab Hinata sambil mencoba untuk menolak halus penawaran teman sebangkunya itu.

"Baiklah kalau begitu, selamat berjuang ya Hinata-chan. Mudah-mudahan saja kau bisa bertemu dengan senpai baru kita yang baru datang dari Korea Selatan itu. Katanya dia itu tampan sekali Hinata-chan..." seru Ino histeris dengan wajah centilnya.

"Sudah kuduga, dia pasti Naruto-kun." batin Hinata dalam hati.

"Yasudahlah, jaa..." seru gadis itu seraya keluar dari kelas dan meninggalkan Hinata yang masih berada didalamnya.

"Jaa.." jawab Hinata pelan.

Hinata langsung keluar kelas dan langsung menuju kekamar mandi sekolah untuk mengambil alat pel. Sekolah itu benar-benar sedang sunyi. Hanya ada beberapa anak saja yang sedang bermain basket atau bermain bola dilapangan yang super luas itu. Ditambah lagi, langit yang mulai mendung menjadi panorama yang membuat Hinata sedikit ngeri untuk berada lama-lama didalam sekolah itu.

Hinata kembali menyusuri koridor yang super panjang itu setelah mengambil peralatan pel dari kamar mandi. Tak lupa juga, gadis itu harus membawa seember air dari sana. Tubuhnya yang mungil itu sampai hampir terjatuh karena mencoba untuk mmembawa beban yang tak sanggup ia bawa.

Langkah gadis itu sampai terdengar menggema dilorong tersebut.

Sesaat sebelum mulai mengepel, Hinata mengambil sesuatu dari dalam kantung rok sekolahnya. Ya, permen strawberry kesukaannya. Dengan senyuman manis yang bertengger dibibir mungilnya, gadis itu mulai membuka bungkus permen tersebut dan mulai memakannya. Lagi-lagi teori yang selama ini selalu ia ungkapkan tidaklah salah. Permen ini selalu bisa membuat semua orang tersenyum karena keunikan dan kesegaran rasa yang dimilikinya. Hinata tampak sedikit terkejut saat mendengar suara geluduk yang begitu menggema disekolah berbahan baku beton kokoh tersebut. Tetapi hal itu hanya terjadi sebentar saja, karena permen yang sedang ia makan bisa membuatnya lupa akan segalanya.

Padahal awan sudah terlihat sangat gelap. Sang angin pun bagaikan sedang mengamuk diluar sana. Tapi semua itu bukan apa-apa bagi Hinata. Gadis itu terus saja tersenyum sambil memejamkan kedua mata lavender indahnya karena mendapatkan cita rasa sempurna dari permen yang sedang meleleh sedikit demi sedikit didalam indra pengecapannya. Hinata terus saja tersenyum manis selama memakan permen tersebut. Pergantian rasa yang ditimbulkan strawberry itu bagaikan menjadi suatu perpaduan yang tak ternilai harganya. Manis, asam, kemudian manis lagi, dan asam lagi, semua itu terbungkus dalam balutan kesempurnaan sebuah permen, tanpa menghilangkan rasa asli dari kesegaran buah merah tersebut.

Saking enaknya dengan permen strawberry yang sedang memanjakan indra pengecapannya tersebut, Hinata sampai tak menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang terus memperhatikan kelakuan lucunya. Orang tersebut hanya mampu tersenyum simpul melihat kelakuan Hinata yang tetap saja kekanak-kanakan.

Lelaki itu tampak semakin tampan dengan senyuman yang tengah ia pamerkan. Kedua tangannya terus saja ia sembunyikan dikedua kantung celanannya. Selain tampan, ia juga keren.

"Ternyata kau memang tak pernah berubah ya. Tetap saja menyukai 'pelmen lasa stlawbelly'. Bukan begitu Hyuuga Hinata yang cadel..." ucap orang itu tiba-tiba dengan nada mengejek. Hinata yang sejak tadi terus memejamkan matanya tidak menyadari kehadiran orang tersebut. Kontan gadis berambut indigo itu langsung membuka matanya dan melihat seseorang yang selama ini sangat ia rindukan.

"Na..Naruto-kun..." seru gadis itu tak percaya. Hinata lantas menundukkan wajahnya karena malu akan perbuatannya sejak tadi.

Lelaki bermata biru laut itu terus mendekati Hinata, sampai lelaki itu kini benar-benar berada tepat dihadapan gadis manis tersebut.

"..."

...

...

To Be Continued

Yuhu…

Chapter 2 selesai sudah….

hohohoho

Makasih banyak buat yang mau review ne fic gaje…., hhehheh

Sekali lagi terima kasih sebanyak-banyaknya.

Untuk itu mau minta tolong bwat R n R lagi ya….*Chappy eyes no jutsu*

R n R PLIZ…..

ARIGATOU GOZAIMASU ! =)