WHAT IS LOVE

Presented by: Byun Min Hwa

.

.

.

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun (GS), Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS), etc.

Genre : Romance, Drama

Rate : M untuk kata-kata kasar & a little bit sex activity / NC-17!

Length : Chaptered

Notes : Maaf untuk Chap 2 aku repost karena kemarin ada sebagian teks hilang. Enjoy! ^^

.

.

.

Summary : Baekhyun telah menutup rapat pintu hatinya dikarenakan kejadian yang ia alami di masa lalu. Lalu, apakah Park Chanyeol yang notabene-nya adalah salah satu berandal sekolah mampu menyinari goa yang telah lama tak berpenghuni itu? Sebab menaklukkan Baekhyun tak semudah yang ia perkirakan.

.

.

.

Previous chapter

Bulu kuduknya meremang. Kyungsoo bergidik ngeri. Apakah toilet ini ternyata berpenghuni? Tapi mana mungkin hantu muncul di siang bolong seperti ini, begitu pikirnya. Kyungsoo semakin menajamkan pendengarannya untuk mencari sumber suara mengerikan itu. Kyungsoo mulai menggerakkan kakinya menuju salah satu bilik yang berada di toilet tersebut.

Saat tubuhnya telah berdiri tepat di hadapan pintu dari salah satu bilik, suara itu terdengar semakin jelas. Kyungsoo yakin suara itu berasal dari bilik yang ada tepat di depannya. Dia bingung harus melakukan apa. Menimang-nimang untuk membuka pintu itu atau tidak. Dan akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Persetan dengan hantu, rasa penasarannya lebih penting sekarang.

Tangannya gemetaran saat memegang knop pintu dari bilik di depannya. Dengan perlahan, Kyungsoo menggerakkan knop itu ke arah bawah untuk membukanya dan ….

CKLEK

"Kau!"

.

.

Chapter 2

Kedua bola mata Kyungsoo yang sejak lahir sudah lebar semakin melebar ketika menangkap dua orang manusia di depannya. Namun Kyungsoo tetap mendesah lega, setidaknya apa yang sekarang ia lihat bukanlah sesosok hantu menyeramkan dengan wajah hancur bersimbah darah seperti yang ada di pikirannya beberapa saat lalu.

Di depannya telah terpampang 'pemandangan' yang merusak mata. Terdapati Jongin sedang memangku salah seorang yeoja yang juga merupakan siswa dari sekolahnya, dengan posisi Jongin bersandar diatas toilet duduk.

Dirinya tak habis pikir. Jelas-jelas ini adalah toilet yeoja, tapi dengan seenak jidatnya Jongin berhasil menyusup kedalam dan menjadikannya sebagai tempat untuk melancarkan kegiatan mesumnya. Apakah tanda yang terpasang di depan toilet dengan gambar isyarat seorang wanita masih kurang jelas untuk ditangkap matanya? Atau malah Kyungsoo yang salah masuk toilet?

Keadaan keduanya sudah tak layak untuk disebut rapi. Seluruh kancing seragam Jongin lepas dari tempatnya, serta celana yang sudah melorot sampai batas lutut. Keadaan yeoja yang berada di pangkuan Jongin juga tak kalah kacau. Walaupun tubuhnya dalam posisi membelakangi Kyungsoo, namun Kyungsoo tahu bahwa seragam yeoja itu juga telah terbuka. Terlihat dari gerakan tangan Jongin yang sedang meremas salah satu payudara dari yeoja itu.

Bahkan pekikan Kyungsoo tak berhasil membuat mereka menghentikan kegiatannya. Dengan mata tertutup sempurna, Jongin dengan lihainya memainkan perang lidah dengan sang partner. Bunyi kecipak terdengar dengan jelas kala Jongin menekan tengkuk si yeoja dan berusaha memperdalam ciuman panasnya.

Pukulan ringan di dada Jongin menjadi akhir dari ciuman panas yang ia lakukan. Lelehan saliva menetes di dagu Jongin ketika kedua tautan bibir itu telah terlepas. Nafas keduanya masih tersengal mencari pasokan oksigen untuk dihirup.

"Kau pergilah duluan." Kata Jongin sambil membantu si yeoja merapikan seragamnya.

Setelah dirasa seragamnya sudah cukup rapi, yeoja tersebut langsung berdiri dari pangkuan Jongin dan berjalan melewati Kyungsoo yang masih berdiri mematung di depan pintu bilik. Saat Jongin sudah berdiri dan melangkah, Kyungsoo memundurkan kakinya secara refleks.

Jika Jongin terus melangkah maju, maka Kyungsoo semakin membawa tubuhnya untuk mundur berusaha menjauh dari Jongin. Namun sepertinya dewi fortuna sedang tidak berpihak pada Kyungsoo. Punggung mungilnya telah berbentur pada dinding toilet sehingga menghentikan pergerakan kakinya.

Tak ingin membuang kesempatan, Jongin segera memenjarakan Kyungso dengan kedua lengannya yang ia letakkan di samping kanan kiri si mata burung hantu. Kyungsoo menegang dengan dua telapak tangan terkepal dibawah. Dapat ia rasakan nafas hangat Jongin yang menerpa wajahnya.

Mata Jongin terfokus pada belahan bibir berbentuk shapeheart milik Kyungsoo. Ia majukan wajahnya secara perlahan yang membuat Kyungsoo spontan menutup kedua matanya. Telapak tangannya semakin mengepal dengan erat dan jantungnya terus berdentum secara hebat.

Beberapa detik telah berlalu. Namun Kyungsoo tak merasakan pergerakan apapun dari Jongin. Dengan takut-takut Kyungsoo kembali membuka mata dan terkejut saat Jongin menatapnya dengan tajam seolah tengah menelanjanginya.

"Tidak sekarang." Ucap Jongin tepat di depan bibir Kyungsoo.

Kyungsoo tak sanggup menjawab. Karena jika sedikit saja ia membuka suara, maka kedua belah bibir itu akan bertemu.

Jongin mundur perlahan untuk membebaskan Kyungsoo. Kemudian berjalan keluar meninggalkan Kyungsoo yang masih tergugu di tempat.

Lututnya terasa lemas, sehingga membuat Kyungsoo jatuh merosot hingga bokongnya menyentuh lantai. Perkataan Jongin yang ambigu membuat pikirannya berkecamuk. Entah apa yang akan terjadi padanya mulai sekarang. Sebab siapapun telah mengetahui bahwa Jongin tak akan meloloskan mangsanya begitu saja. Mati kau Do Kyungsoo.

.

.

.

Suasana kafetaria sekolah tampak ramai di saat jam makan siang seperti biasa. Suara satu orang dengan yang lainnya saling bersahutan memekakkan telinga. Dengan postur mungilnya, Luhan sedikit kewalahan saat membawa tubuhnya berusaha menerobos dari barisan manusia yang berjejer rapi untuk mendapat jatah makan siang.

Beberapa kali bahunya bertubrukan dengan bahu orang-orang yang masih mengantri hingga membuat ia harus menundukkan kepala dengan isyarat meminta maaf dari gerakan bibirnya.

Setelah berhasil lolos dari antrian panjang itu, Luhan mengedarkan pandangan untuk mencari meja kosong yang bisa ia tempati. Di tangannya telah tergenggam sebuah nampan berisi nasi goreng kimchi beserta satu cup bubble tea minuman favoritnya. Terdapat satu meja kosong yang terletak di sudut kafetaria. Mata rusanya berbinar seolah baru saja mendapat durian runtuh. Ia langkahkan kakinya dengan sedikit tergesa, takut jika meja incarannya akan diserobot oleh orang lain.

Bokongnya telah berhasil mendarat pada salah satu kursi yang ada di meja tersebut. Luhan tak langsung menyantap menu makan siang yang telah ia bawa. Ia masih menunggu Kyungsoo yang tadi berpamitan padanya untuk ke toilet.

Padahal saat mengantri untuk memesan menu makan siang, sudah menghabiskan waktu yang cukup lama bagi Luhan. Tapi kenapa sahabatnya itu belum juga kembali? Atau jangan-jangan Kyungsoo pingsan di toilet dan tak ada yang menolongnya? Luhan segera menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran konyol yang baru saja terlintas di benaknya. Tidak mungkin Kyungsoo pingsan, dia terlihat sehat selama mengikuti pelajaran.

Merasa bosan karena terlalu lama menunggu, Luhan sedikit melirik pada nasi goreng kimchi pesanannya. Belum lagi dengan kondisi perutnya yang sudah bertalu-talu minta diisi, membuat pertahanan Luhan mulai goyah. Mungkin jika ia memulai makan siangnya sekarang tak masalah. Kyungsoo pasti akan menyusulnya sebentar lagi.

BRAK!

Baru ia akan mengarahkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya, Luhan dikejutkan dengan suara benturan antara nampan dengan meja yang ditempatinya. Matanya menatap horror pada kedua namja selaku tersangka kejadian barusan.

"Kurasa hanya disini tempat yang kosong."

Dengan santai Chanyeol menarik sebuah kursi untuk kemudian didudukinya di salah satu sisi meja, berseberangan dengan Luhan. Diikuti dengan Sehun yang memilih tempat duduk disamping Chanyeol.

Sejenak kedua manik rusa milik Luhan bertubrukan dengan mata elang Sehun. Sampai Luhan mengalihkan pandangan memilih untuk memutuskan kontak mata terlebih dahulu.

Tak dihiraukannya ucapan Chanyeol. Luhan kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda. Tak jauh berbeda dengan Luhan, Chanyeol memilih untuk langsung menyantap menu makan siangnya dengan tenang. Sedangkan Sehun memilih untuk menyeruput sekaleng soda yang ada di genggamannya.

"Tumben kau sendiri, dimana teman pendekmu?" Chanyeol mulai buka suara.

Luhan melirik sekilas ke arah si penanya, namun memilih untuk tetap bungkam. Ia kembali memasukkan suap demi suap nasi goreng ke mulutnya secara brutal, seperti gelandangan yang tidak diberi makan selama satu minggu.

"Cantik-cantik rakus." Tambah Chanyeol dengan suara yang sengaja dibuat keras hingga terdengar oleh beberapa pasang telinga yang ada di sekitarnya.

Ada yang terkikik, ada juga yang menatap jijik pada Luhan. Namun sebagian besar tetap acuh dan memilih untuk segera menghabiskan menu makan siangnya.

Lagi-lagi Luhan tak peduli. Dia tetap memakan nasi gorengnya secara brutal dan membuat piringnya berdenting nyaring. Pada suapan terakhir, mata Luhan langsung tertuju pada sosok tubuh mungil yang berasal dari arah pintu masuk menuju kafetaria.

"Kyungsoo-ah! Disini, hey!"

Dengan mulut masih penuh dengan butiran nasi, Luhan berteriak memanggil Kyungsoo supaya sahabatnya itu menoleh padanya. Merasa belum cukup, Luhan melambaikan kedua tangannya pada Kyungsoo dan langsung tepat sasaran.

Kyungsoo berjalan perlahan menuju meja yang ditempati Luhan bersama Chanyeol dan Sehun. Kepalanya terus ditundukkan selama kakinya berjalan.

Luhan tak sadar jika sekarang Chanyeol tengah memandangnya dengan tatapan jijik. Diusapnya secara kasar wajah tampan yang menjadi korban dari semburan nasi hasil kunyahan mulut Luhan.

"Ya! Telanlah makananmu dulu sebelum bicara bodoh! Dasar cewek bar-bar!" bentak Chanyeol kepada Luhan.

Selesai menelan seluruh sisa nasi yang ada di mulutnya, Luhan menyesap bubble tea pesanannya dengan sedikit tergesa karena merasa tenggorokannya kering.

Chanyeol yang melihat tingkah Luhan seperti anak kecil hanya mendengus sebal. Tak salah jika ia mengatainya sebagai cewek bar-bar. Sedangkan Sehun tersenyum tipis. Sangat tipis sehingga tak disadari oleh Luhan maupun Chanyeol.

"Kemana saja kau? Kenapa lama sekali?!" bentak Luhan pada Kyungsoo yang baru saja duduk disampingnya.

Menyadari raut wajah Kyungsoo yang pucat dengan kepala tertunduk dalam, membuat Luhan mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi dengan Kyungsoo?

"Kyung, kau tak apa? Apa kau sakit?" diarahkan punggung tangannya menuju pada dahi Kyungsoo.

Normal. Tidak terasa dingin ataupun panas. Hanya raut wajahnya saja yang terlihat seperti orang tak enak badan.

"Hey!"

Suara Jongin yang sedikit nyaring dengan menepuk bahu Sehun membuat ketiga pasang mata disana mengalihkan pandangannya menuju Jongin. Ah, menjadi empat pasang ketika Kyungsoo juga ikut mengangkat kepalanya untuk menatap Jongin.

Kyungsoo terbelalak dan tubuhnya menegang. Hal itu tentu disadari oleh Chanyeol dan Sehun yang memang duduk tepat di depannya. Terkecuali Luhan, dia tak sadar jika sahabatnya sedang panik.

"Kyung, mau ku antar ke UKS?" Tanya Luhan kembali sambil menggenggam salah satu tangan Kyungsoo.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban. Ia hanya butuh diselamatkan sekarang. Tak betah jika harus berlama-lama berada di dekat Jongin.

Luhan segera memapah Kyungsoo berjalan keluar dari area kafetaria. Sampai punggung kedua yeoja itu telah menghilang dibalik tembok, Chanyeol menatap Jongin dengan pandangan menelisik dan berkata ―

"Kau berhutang penjelasan padaku hitam.".

.

.

.

"Pfft! Jadi kau tertangkap basah saat 'bermain' di toilet?"

Chanyeol menyemburkan makanan ringan yang sedang ia kunyah. Mendengar penuturan Jongin tentang apa yang terjadi pada Kyungsoo tadi siang, membuat Chanyeol tak bisa untuk menahan tawanya.

Ketiganya sedang berada di rumah Chanyeol sekarang. Menghabiskan waktu untuk sekedar berkumpul mencari hiburan dan menghilangkan rasa penat di tubuh selepas pulang sekolah. Jongin dan Sehun pun masih mengenakan seragam sekolahnya.

"Begitulah. Yeoja itu terlalu menggoda, langsung saja aku menyeretnya ke toilet." Matanya masih terfokus pada layar PSP yang dimainkannya.

"Lalu, kau apakan Kyungsoo sampai dia pucat begitu?"

"Hanya sedikit menggodanya saja, tak lebih. Atau mungkin belum." Jawab Jongin dengan kedua bahu diangkat acuh.

"Kau pikir aku tidak tau dengan maksudmu menggoda?" Chanyeol kembali menguyah snack yang ada di tangannya.

"Semua yeoja yang pernah kau goda itu, nantinya akan berakhir telanjang di ranjangmu dengan banyak kissmark di tubuhnya." Ucap Chanyeol santai.

GAME OVER!

Ucapan Chanyeol membuat konsentrasi Jongin buyar. Sampai membuat game yang sedang ia mainkan berakhir menandakan Jongin kalah. Segera ia banting PSP milik Chanyeol ke arah karpet bulu yang dijadikannya sebagai alas untuk berbaring.

"Tutup mulutmu keparat."

Dengan gerakan cepat, ia sambar pula tas gendongnya dan berniat untuk pulang.

"Hey kau, mau pulang tidak?" Tanya Jongin pada Sehun yang berbaring di kasur berukuran kingsize milik Chanyeol dengan novel yang sedang ia baca.

Sehun menutup novel yang sedang ia baca dan menoleh menatap Jongin. Tanpa protes sedikitpun, Sehun mengikuti Jongin yang keluar dari kamar Chanyeol.

Chanyeol bersandar pada tralis pembatas yang terhubung dengan tangga di rumahnya untuk menuju ke lantai bawah. Mengamati pergerakan kedua sahabatnya yang sedang berjalan memutar melewati tangga.

"Mau ku antar sampai rumah?" Tanya Chanyeol dari lantai atas.

"Tak perlu Park. Kami bukan bocah lagi." Jongin mendengus sebal tanpa memandang Chanyeol.

"Benar. Kami bisa menyewa taksi." Timpal Sehun.

"Ya ya, bukan bocah. Hanya bayi besar yang mempunyai hoby meremas dan menyusu pada setiap payudara yeoja diluar sana."

Jongin menghentikan langkahnya sejenak, untuk kemudian mendongakkan kepala pada Chanyeol. "Fuck you!" umpat Jongin dengan menghadiahkan jari tengahnya pada Chanyeol.

Chanyeol terkekeh mendengar umpatan dari Jongin. Sebenarnya, hal itu sudah biasa terjadi diantara mereka bertiga. Umpatan dan cacian bagaikan cara mereka untuk menunjukkan rasa kasih sayang pada satu sama lain. Aneh bukan?

"Hun, aku titip bayi besar itu ya! Pastikan kau mengantarnya sampai dalam kamar!"

Suara Chanyeol menggema di seluruh ruangan karena bisa dibilang tidak pelan. Sehun menanggapi dengan senyum tipis dan ibu jari yang ia acungkan pada Chanyeol. Sedangkan Jongin sudah mencibir tidak jelas dengan wajah yang ditekuk kusut.

BLAM

Jongin menutup pintu secara kasar sebagai pelampiasan rasa kesalnya pada Chanyeol.

Bukan tanpa alasan Chanyeol sampai bersusah payah menitipkan Jongin pada Sehun. Ia hanya tak mau jika harus direpotkan lagi. Masih terngiang di memorinya kejadian beberapa minggu yang lalu.

Disaat dirinya ditelfon oleh seorang ahjussi pemilik kedai ramen yang berada tak jauh dari rumahnya. Ahjussi itu mengatakan bahwa ada seorang pemuda yang mabuk di kedainya karena terlalu banyak menenggak beberapa botol soju.

Tentu saja Chanyeol tau siapa pemuda yang dimaksud. Karena ahjussi pemilik kedai ramen itu menghubungi Chanyeol menggunakan ponsel Jongin. Dengan alasan bahwa nama Chanyeol-lah yang berada pada daftar panggilan terakhir di ponselnya.

Benar-benar merepotkan. Sudah harus mengantarnya sampai rumah saat tengah malam, Chanyeol juga sempat tertahan di kediaman Jongin. Ayah Jongin memberondonginya dengan segala pertanyaan yang membuat Chanyeol kelimpungan. Belum lagi wajah garang yang selalu terpampang di wajah separuh tuanya, nyali Chanyeol menjadi ciut saat itu juga.

Dan keesokan harinya, Jongin berakhir dengan mendapat ceramah panjang kali lebar dari Chanyeol selama satu jam penuh. Disertai dengan segala macam umpatan dan cacian yang dilontarkan padanya.

.

.

.

Seberkas sinar menyilaukan berwarna orange kekuningan dari ufuk timur berhasil menerobos jendela kamar lantai dua kediaman keluarga Park. Mau tak mau membuat Chanyeol harus membuka matanya yang masih agak berat. Diraihnya jam kecil yang berada di atas nakas. Dengan mata setengah terpejam, Chanyeol melirik ke arah jam tersebut untuk memastikan pukul berapa sekarang. 6.35 KST. Masih terlalu pagi baginya untuk memulai aktivitas.

Disandarkan tubuhnya pada bagian kepala ranjang. Masih berusaha mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali. Selang beberapa menit Chanyeol menyibak selimutnya dan mulai beringsut dari kasur. Berjalan gontai menuju kamar mandi yang juga berada di dalam kamar pribadinya. Berniat untuk menyegarkan tubuh sebelum berangkat ke sekolah.

Chanyeol telah rapi dengan setelan seragam yang membungkus tubuhnya. Serta kaki beralas sepatu sport keluaran terbaru yang masih terlihat putih bersih tanpa noda setitik pun. Tak lupa ia mengoleskan gel pada bagian atas rambutnya. Ia atur sedemikian rupa hingga rambut itu sedikit tersibak ke belakang, mempertontonkan jidat lebar nan seksi kebanggaannya.

Merasa puas melihat penampilannya dari hadapan cermin, Chanyeol menyambar tas sekolah miliknya yang masih tergeletak diatas kasur. Bersiap turun ke bawah untuk sarapan sebelum berangkat. Seragam checklist, sepatu checklist, tas checklist, buku-buku pelajaran checklist. Chanyeol meneliti barang-barang yang harus ia bawa ke sekolah, memastikan jika tak ada yang tertinggal.

Ah itu dia. Chanyeol melupakan ponselnya yang masih tergeletak diatas nakas. Disambarnya ponsel tersebut bersama kunci mobil yang selalu ia bawa kemana saja. Saat berjalan menuruni tangga, Chanyeol mengusap layar ponselnya untuk membuka lockscreen. Ada 1 pesan belum terbaca.

From : Sehun

+6021846xxxxx

Aku akan diantar supirku. Berkumpul di tempat biasa.

.

.

Singkat. Jelas. Padat. Itulah Oh Sehun. Chanyeol mengerti apa yang Sehun maksud walaupun pesan singkat itu terkesan seadanya. Ia tak perlu menghampiri Sehun ke rumahnya karena dia sudah diantar oleh supir pribadinya. Dan mereka akan berkumpul di atap setibanya di sekolah. Kurang lebih begitulah maksud dari pesan singkat yang dikirim oleh Sehun.

Di meja makan telah tersedia satu potong roti tawar, bersama bacon dan telur mata sapi sebagai pelengkapnya. Chanyeol mulai melahap sarapan paginya, sendirian. Seperti biasa tanpa siapa pun yang menemani. Melihat ada dua piring bekas yang tergeletak di meja makan, membuat Chanyeol paham. Sudah pasti itu milik ayah dan ibunya.

Bibi Kang, salah satu maid kepercayaan orang tua Chanyeol kebetulan melintas di dekatnya.

"Bibi Kang? Kemarilah. Temani aku sarapan." Ucap Chanyeol.

Bibi Kang yang baru saja melintas dengan segenggam sapu ditangannya langsung menghampiri Chanyeol selaku tuan muda di rumah tersebut.

"Kenapa berdiri? Duduklah disini, Bi." Chanyeol menepuk-nepuk ringan bantalan kursi meja makan yang ada di sampingnya.

Bibi Kang menurut tanpa ragu. "Ne, Tuan muda."

" Ayah dan Ibu sudah berangkat ya, Bi?"

"Benar, Tuan muda. Tuan dan Nyonya sudah berangkat sejak Tuan muda masih tidur di kamar."

Chanyeol mengangguk paham. Berangkat sebelum Chanyeol bangun, dan akan pulang saat Chanyeol sudah terlelap. Begitulah rutinitas kedua orang tua Chanyeol.

Ayahnya yang menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan yang bergerak dibidang furniture, membuatnya sibuk dengan berbagai jadwal pertemuan dengan klien-kliennya. Belum lagi dengan cabang perusahaannya yang berada di luar Korea. Usaha yang sudah dirintis oleh Ayah Chanyeol sejak lama ini telah terbagi ke dalam beberapa cabang di dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya negeri tirai bambu serta matahari terbit sebagai negara tetangga tak luput dari jangkauan Ayahnya dalam memperluas usahanya.

Sedangkan Ibu Chanyeol, beliau memiliki sebuah butik besar di kawasan Myeongdong. Semasa mudanya, Ibu Chanyeol adalah seorang desainer baju khusus wanita yang cukup terkenal dibidangnya. Tak sedikit hasil karya dari tangannya yang telah dipamerkan oleh model papan atas. Hingga dimasa tuanya, beliau memutuskan untuk mengelola butik dengan produk yang sebagian besar adalah hasil karyanya sendiri.

Lalu, apakah Chanyeol adalah anak tunggal? Jawabannya adalah tidak. Chanyeol memiliki seorang kakak perempuan berselisih 5 tahun darinya yang bernama Park Yoora. Park Yoora bekerja sebagai pembawa acara berita di salah satu stasiun televise swasta di Korea. Jadwal yang padat serta letak tempat kerja yang jauh dari rumah, membuat Yoora harus terpisah dari keluarganya dan tinggal mandiri di apartemen. Yoora akan pulang setiap sebulan sekali ke rumah untuk mengunjungi orang tua serta adik kesayangannya.

Tak bisa dipungkiri bahwa Chanyeol sering merasa kesepian sebelum bertemu dengan Jongin dan Sehun. Setiap harinya ia hanya ditemani oleh para maid yang akan tiba di rumahnya saat jam makan pagi, dan akan pulang saat telah menyiapkan makan malam.

Namun Chanyeol bukanlan anak pembangkang yang memberontak pada kedua orang tuanya hanya karena merasa kurang diperhatikan. Chanyeol tahu diri jika semua yang dilakukan oleh Ayah serta Ibunya adalah demi kebaikan dirinya di masa depan. Jika di sekolah atau luar rumah Chanyeol bersikap berandal, maka di dalam rumah Chanyeol akan menjadi anak yang penurut bersama keluarga yang hangat.

Chanyeol kembali mengecek ponselnya dan mengetikkan nama Jongin saat membuka menu kontak. Ditekannya tombol dial untuk menghubungi Jongin. Pada nada sambung ke-empat, baru terdengar sahutan dari seberang.

"Yeoboseyo?" terdengar suara serak khas orang baru bangun tidur.

"Aigoo. Cepatlah bersiap kkamjong. Kau berangkat bersamaku atau tidak?!"

"Tidak. Aku akan berangkat sendiri."

"Baguslah."

PIP!

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Jongin dari seberang yang membuat Chanyeol geram.

"Brengsek." Chanyeol mengumpat lirih sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Maaf, apa Anda berkata sesuatu, Tuan?" Tanya Bibi Kang.

"Ah, tidak. Aku berangkat dulu, Bi." Diteguknya segelas susu hangat yang sudah disiapkan sampai habis.

"Apa perlu saya panggilkan Jungmoo untuk mengantar Anda?"

"Tak perlu, Bi. Aku akan berangkat sendiri."

Chanyeol berlalu menuju pintu keluar seusai tersenyum tipis pada Bibi Kang. Setelah tubuh Chanyeol menghilang dibalik pintu, Bibi Kang juga tersenyum tipis. Merasa senang melihat tuan mudanya telah tumbuh dengan baik sampai sebesar ini.

.

.

.

Lee Donghae telah memasuki kelas XII-2 yang tak lain dan tak bukan adalah kelas asuhannya.

"Aku minta maaf karena tak bisa menyambut kalian di hari pertama kalian masuk sekolah. Ada urusan mendesak dan tak bisa aku tinggalkan kemarin."

Seluruh siswa hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis pada Lee Donghae. Memaklumi alasan dari wali kelasnya tersebut.

"Ah. Ada yang ingin ku perkenalkan pada kalian."

Ucapan Donghae barusan membuat satu alis mereka terangkat. Penasaran dengan siapa yang akan diperkenalkan oleh Donghae Songsaenim.

"Kau, masuklah." Kepalanya menoleh ke arah samping pada pintu masuk.

Sesosok tubuh mungil muncul dari pintu tak lama setelah Donghae menyuruhnya untuk masuk. Kelas yang tadinya sunyi senyap menjadi riuh oleh pekikan para namja dengan siul-siul menggoda. Ada pula yang langsung menegakkan tubuh dan berlagak merapikan seragamnya supaya dapat memancing perhatian sosok yang sedang berada di depan kelas.

Sosok itu kini tengah berdiri tepat di hadapan para siswa kelas XII-2.

"Annyeonghaseo. Namaku Byun Baekhyun. Biasa disapa Baekhyun. Semoga kita bisa berteman." Baekhyun membungkukkan tubuhnya 90° di hadapan teman-teman barunya. Tak lupa seulas senyum manis yang sejak tadi belum luntur dari bibirnya.

Setelah perkenalan Baekhyun, Donghae mengedarkan pandangan kepada seluruh penghuni kelas.

"Ada yang ingin kalian tanyakan?" Tanya Donghae.

"Ya, Jongdae?" tambahnya lagi setelah melihat salah satu muridnya yang berwajah kotak mengacungkan tangannya ke atas.

Jongdae berdehem kecil sebelum bersuara.

"Baekhyun-ssi, bisa kau beritahu nomor ponselmu?" ucap Jongdae dengan sedikit meringis menahan malu.

Sontak seluruh penghuni kelas tertawa pecah mendengar penuturan dari Jongdae. Padahal baru beberapa menit yang lalu Baekhyun memperkenalkan diri, tapi sudah ada yang berani untuk meminta nomor ponselnya. Bisa terbayang seperti apa pesona seorang Byun Baekhyun.

Teman-teman Jongdae melemparinya dengan gumpalan-gumpalan kertas yang berasal dari laci mereka masing-masing. Tak sedikit pula yang mengatainya sebagai playboy cap kadal yang gagal melakukan modus. Jongdae hanya bisa meringis dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. Dan Baekhyun, dia tak bisa menahan tawa geli melihat Jongdae yang kelabakan karena menjadi bulan-bulanan oleh teman sekelasnya. Poor Kim Jongdae.

"Sudah, sudah. Baekhyun, kau bisa memilih tempat duduk kosong untuk kau tempati."

Setelah mendengar perintah dari Donghae, Baekhyun melangkahkan kakinya menuju barisan meja yang sekiranya masih kosong. Seluruh perhatian kelas masih tertuju pada Baekhyun. Kakinya melambat saat melihat ada empat meja kosong disana. Keningnya mengkerut. Apakah murid di kelas ini hanya sedikit? Atau memang jumlah mejanya yang dilebihkan?

Tak mau membuang waktu, Baekhyun segera memilih salah satu tempat duduk. Letaknya berada di dua baris dari belakang sekaligus deret kedua dari kiri. Tepat di depan bagian tengah 3 meja kosong di deret paling belakang.

"Hai, Baekhyun." Sapa gadis bersurai madu di depannya.

"Oh, hai?"

"Aku Luhan, Xi Luhan." Luhan mengulurkan tangannya pada Baekhyun.

Baekhyun menerima uluran tangan Luhan dan keduanya pun bersalaman dengan melempar senyum tipis. Hatinya merasa senang. Di hari pertama masuk sekolah, ia pikir akan sulit untuk berdaptasi disini. Tapi tebakannya salah. Baekhyun rasa semua orang menerimanya dengan baik. Tak terkecuali Luhan, orang pertama yang akan ia jadikan sebagai sahabatnya.

"Dan yang di samping kananku itu ―"

Mata Baekhyun mengikuti arah jari Luhan yang menunjuk pada seseorang. Yeoja mungil seperti dirinya, dan memiliki mata bulat menyerupai burung hantu. Dan ternyata yeoja itu sekarang tengah menatap Baekhyun dan Luhan secara bergantian.

"Namanya Do Kyungsoo. Dia sahabatku." Jeda sejenak. "Orangnya baik, yaa walaupun agak ketus dan kuno." Ucap Luhan dengan sengaja menambah volume suaranya.

Mendengar perkataan Luhan yang seolah mengejeknya, Kyungsoo langsung melemparkan deathglare padanya. Baekhyun terkikik geli pada dua orang tersebut. Ah, akan bertambah satu lagi orang yang akan menjadi sahabatnya, yaitu Kyungsoo.

Terlalu asik berbincang dengan Luhan, Baekhyun sampai tak sadar jika Donghae Songsaenim sudah menggenggam sebuah buku dengan memberikan penjelasan tentang sejarah Dinasti Han pada murid-muridnya. Posisi duduk Luhan kini juga telah kembali menghadap ke depan.

BRAK!

Baru saja Baekhyun akan mengeluarkan buku dari dalam tasnya, ia dikejutkan dengan suara gaduh dari depan. Dari pintu yang dibanting. Kemudian muncullah tiga orang namja berjalan menuju deretan kursi yang tadinya masih kosong.

Namja dengan poker face andalannya, duduk di sudut belakang samping jendela. Kemudian kembali memasang headset yang tadi sempat bergantung di lehernya.

Kemudian namja bertubuh paling jangkung diantara mereka bertiga, duduk di samping kanan namja berwajah datar, atau lebih tepatnya duduk di belakang Baekhyun. Dia hanya duduk dengan tangan bersilang dada dan terus memberikan tatapan tajamnya pada Baekhyun.

Dan yang terakhir, namja dengan kulit tan yang duduk selisih satu baris di belakang Kyungsoo. Sesampainya di tempat duduk, ia langsung membenamkan kepala di kedua lengannya yang ia tempatkan di meja.

Ada yang tau respon seperti apa yang ditunjukkan saat kedatangan si 'Trio Bangsad' ?

Luhan skeptis. Kyungsoo apatis. Baekhyun cabe -coret- Baekhyun melongo secara dramatis. Seluruh penghuni kelas hanya diam dan tak memperdulikan ketiga namja yang baru saja memasuki kelas tersebut. Kehadiran mereka bagai makhluk tak kasat mata. Bahkan Donghae Songsaenim hanya melirik sekilas tanpa minat kemudian kembali melanjutkan apa yang masih ia jelaskan.

Baekhyun semakin larut dengan pikirannya. Benarkah ini Hannyoung High School? Sekolah yang terkenal dengan keketatan dan kedisiplinannya. Bahkan dirinya juga harus melewati berbagai macam seleksi untuk dapat bersekolah disini.

Lalu, yang tadi itu apa? Mengapa ada siswa semacam berandal memasuki kelas barunya? Begitu pikirnya.

Sebuah tusukan kecil yang terasa di punggungnya berhasil memecah lamunan Baekhyun. Ia tolehkan kepalanya ke belakang, dan langsung disuguhkan oleh senyum idiot dari Chanyeol.

"Kau murid baru ya? Siapa namamu?" Tanya Chanyeol dengan kedua tangan bertopang dagu dan senyum manis yang dibuat-buat.

Jika saja Chanyeol melempar senyumnya pada yeoja diluar sana, pastilah ia akan mendapat respon yang baik. Tapi, tidak dengan Baekhyun. Baekhyun hanya menaikkan satu alisnya, kemudian kembali memutar tubuhnya ke depan. Mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan padanya.

Menarik. Batin Chanyeol. Tak ada satupun yeoja yang sanggup mengabaikan pesona seorang Park Chanyeol sebelumnya.

Senyum lebar ala joker yang biasanya terlihat idiot, berganti menjadi seringai menyeramkan yang sulit untuk diartikan.

.

.

.

Usai bel sekolah berbunyi satu kali, Donghae Songsaenim menutup bukunya dan bergegas meninggalkan kelas. Jam pelajaran telah berganti. Sebelum beranjak dari kelas, dia menjelaskan kepada muridnya bahwa guru yang akan mengisi pelajaran setelah dirinya tak dapat hadir dikarenakan sakit. Seluruh murid dipesan untuk belajar secara mandiri dan tidak menimbulkan kegaduhan.

Jam kosong. Tentu saja kesempatan ini tak akan dilewatkan oleh Baekhyun untuk lebih mengakrabkan diri kepada teman-temannya. Dirinya kini telah dirubung oleh Luhan dan Kyungsoo yang setia mendengarkan ceritanya.

"Jadi, ayahmu seorang pengacara?" Tanya Kyungsoo sambil menatap lekat pada Baekhyun.

"Benar. Itu sebabnya aku dipindahkan kemari."

"Maksudmu?" timpal Luhan.

"Beliau dipindahtugaskan dari Busan ke Seoul. Mau tak mau aku dan ibuku juga harus mengikutinya."

Jawaban Baekhyun membuat Luhan dan Kyungsoo mengangguk paham. Baekhyun memang berdomisili dan bersekolah di Busan sebelumnya. Salah satu klien yang membutuhkan jasa dari ayahnya, meminta beliau untuk pindah ke Seoul. Tanpa ragu-ragu Ayah Baekhyun menyetujuinya karena ia tak mungkin untuk bolak-balik dari Busan menuju Seoul. Kebetulan keluarga Baekhyun juga memiliki satu rumah di kawasan Seoul yang telah lama hanya dititipkan oleh maid yang mengurusnya.

Baekhyun menegakkan tubuhnya dan mulai memasang tampang serius.

"Boleh aku bertanya sesuatu pada kalian?"

Luhan dan Kyungsoo mengangguk secara bersamaan sebagai respon. Baekhyun mendekatkan kepalanya pada kedua sahabatnya.

"Ehem. Tiga orang itu, siapa?" suaranya terdengar seperti berbisik supaya tak didengar oleh yang sedang dibicarakan.

Kyungsoo menegakkan tubuh pertanda telah siap menjelaskannya pada Baekhyun.

"Yang berwajah datar itu namanya ―" jarinya menuju pada seorang namja di sudut belakang.

"Dia Oh Sehun." Luhan memotong ucapan Kyungsoo. "Wajahnya memang menyeramkan. Tapi dia tak pernah menyakiti siapapun."

Baekhyun mengangguk lucu.

"Yang duduk tepat di belakangmu itu, namanya Park Chanyeol. Dialah pimpinan dari 'Trio Bangsad'." Tambah Luhan.

Lagi-lagi Baekhyun mengangguk. Park Chanyeol. Namja yang mengajaknya untuk berkenalan, namun ia acuhkan. Dan. . .apa tadi? Pimpinan? 'Trio Bangsad'? Cih. Baekhyun berdecih dalam hati. Mendengar nama dari komplotan itu sukses memberikan kesan negative di mata Baekhyun. Sepertinya Baekhyun tak salah jika ia mengacuhkan Chanyeol.

"Dan yang sedang tidur itu ―" Baekhyun melirik ke arah Jongin. "Namanya Kim Jongin. Menurutku, dia yang paling berbahaya."

Ucapan Kyungsoo membuat Baekhyun menyatukan kedua alisnya pertanda meminta penjelasan lebih lanjut.

"Dia itu gila dan amat sangat. . .mesum." Kyungsoo semakin mengecilkan suaranya pada kata terakhir.

Mendengar penjelasan terakhir dari Kyungsoo, membuat Baekhyun bergidik ngeri. Sepertinya dia memang harus berjaga jarak dari ketiga makhluk aneh tersebut. Wajah mereka memang tampan, namun dari apa yang dijelaskan oleh Luhan dan Kyungsoo barusan, semakin membuat Baekhyun yakin bahwa mereka patut dihindari.

Luhan dan Baekhyun tak sadar. Bahwa saat Kyungsoo menyebutkan kata 'mesum', jantungnya berdentum hebat tanpa jeda. Sekelebat bayangan saat dirinya terjebak di toilet bersama Jongin kemarin kembali melintas di benaknya.

.

.

.

Tuk. . .tuk. . .tuk. . .

Baekhyun mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Setelah perkenalan singkatnya dengan Kyungsoo dan Luhan, mereka kembali duduk di tempat masing-masing. Kyungsoo terlihat sedang membaca buku pelajarannya. Sedangkan Luhan, ia masih asik dengan kegiatan memotong serta meniup kuku-kuku cantiknya.

Hhh… Baekhyun menghela napas kasar. Merasa bosan karena tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan. Matanya melirik pada jam yang terpasang di pergelangan tangannya. Masih ada jeda waktu yang lama jika menunggu istirahat. Akhirnya Baekhyun berdiri dan berniat untuk pergi ke suatu tempat.

"Baekhyun, kau mau kemana?" Tanya Luhan saat Baekhyun berjalan melintasinya.

"Aku akan ke perpustakaan."

"Mau aku temani?" Luhan menjeda kegiatannya sejenak.

"Tidak perlu, Lu. Kau lanjutkan saja kegiatanmu." Baekhyun memasang senyum meyakinkan pada Luhan.

Baru saja Baekhyun melangkahkan kakinya, ia kembali berbalik menghadap Luhan.

"Ada apa lagi?" Tanya Luhan dengan mengangkat satu alisnya.

"Itu... bisa kau jelaskan dimana letak perpustakaannya?" Baekhyun menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak terasa gatal dan meringis tanpa dosa.

.

.

.

Baekhyun mulai melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah. Mencari letak perpustakaan seperti yang sudah diarahkan oleh Luhan. Koridor terlihat lengang dan hanya sedikit orang yang melintas. Mengingat saat ini masih berada pada jam pembelajaran.

Karena letak perpustakaan sekolah berada di lantai dasar, Baekhyun harus menuruni tangga sebab kelasnya berada di lantai dua. Ketika berjalan menyusuri satu per satu tangga untuk menuju ke bawah, Baekhyun merasa seperti ada yang mengikutinya.

SRET

Kosong. Tak ada siapapun saat ia tolehkan kepalanya ke atas maupun ke belakang. Baekhyun mengedikkan kedua bahunya acuh dan kembali melanjutkan langkah menuju perpustakaan.

.

.

Setibanya di perpustakaan, Baekhyun menyusuri rak-rak berisi berbagai macam buku di hadapannya. Mulai dari buku pelajaran, kamus, sampai fiksi romansa pun tersedia lengkap disana.

Karena matanya terfokus pada jajaran buku yang berada di sampingnya, Baekhyun tak sadar jika ada yang melintas dari balik rak dan akhirnya bertubrukan dengan Baekhyun.

BRUK

Semua buku yang dibawa oleh namja yang ditubruk oleh Baekhyun pun jatuh ke lantai.

"Ah maaf. Aku tak sengaja." Baekhyun berucap sambil ikut memungut buku yang dipinjam oleh namja tersebut.

Selesai memungut dan mengembalikan buku-buku tersebut pada peminjamnya, Baekhyun kembali berdiri. Ia tatap wajah namja yang tadi ditubruknya. Namja berkulit putih dengan kacamata minus bertengger membingkai kedua matanya.

"Sepertinya kita berada di kelas yang sama." Baekhyun menjeda kalimatnya. "Kalau tak salah, kau duduk di deretan paling depan dekat meja guru. Benar?"

"Iya, benar." Jawabnya singkat.

"Siapa namamu?"

"Aku Kim Joonmyeon."

Baekhyun mengangguk singkat. Joonmyeon terkejut saat melihat sorot mata tajam yang ditujukan kepadanya dari arah belakang Baekhyun. Mengisyaratkan agar ia segera pergi meninggalkan Baekhyun.

"Maaf Baekhyun-ssi, sepertinya aku harus pergi sekarang." Joonmyeon undur diri dari hadapan Baekhyun dengan langkah tergesa dan tidak menghiraukan teriakan kecil Baekhyun yang memanggilnya.

Tak mau ambil pusing, Baekhyun kembali menyusuri rak untuk meniti buku yang dicarinya. Matanya berbinar lucu saat buku incarannya sudah ia temukan. Berada di salah satu rak yang berada tak jauh darinya. Sialnya, buku itu disusun pada deretan paling atas dari rak tersebut.

"Uuhhh…" Baekhyun sedikit mengeluh pada tubuh mungilnya. Merasa sedikit menyesal karena tak memiliki postur tubuh tinggi semampai bak Miranda Kerr.

Belum menyerah. Baekhyun sedikit berjinjit dengan tangan yang berusaha menggapai buku tersebut.

"Ayolah… sedikit lagi Baekhyun." Gumamnya meyakinkan diri.

HAP

Secara tiba-tiba, buku itu telah digapai oleh lengan kokoh nan kekar dari arah belakang. Seketika Baekhyun membalikkan tubuhnya. Dan wajahnya langsung berhadapan dengan dada bidang milik seorang namja. Yap. Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol.

"Astaga! Kau lagi rupanya." Kepalanya sedikit ia dongakkan untuk menatap Chanyeol.

Chanyeol terkekeh melihat ekpresi terkejut dari wajah Baekhyun. Mata mengerjap dengan bibir yang mengerucut lucu.

"Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun memicing curiga pada Chanyeol.

"Mengikutimu kurasa." Sahut Chanyeol secara frontal.

"Dasar sinting!"

Baekhyun mendengus sebal. Dirampasnya buku itu dari genggaman Chanyeol setelah berhasil membebaskan diri. Baekhyun melangkah menjauh dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Lagi-lagi membuat Chanyeol terkekeh melihat tingkah menggemaskannya.

Tak hanya sampai disitu. Chanyeol segera menghampiri Baekhyun yang ternyata sedang duduk di salah satu meja yang disediakan oleh perpustakaan. Walaupun Baekhyun menyadari kedatangan Chanyeol, dia tetap acuh dan pura-pura fokus pada buku bacaannya.

Chanyeol terus mengamati Baekhyun dari depan. Ia nikmati garis kontur wajah cantik Baekhyun sampai puas. Mata sipit yang akan terlihat seperti bulan sabit saat tersenyum. Chanyeol mengetahuinya karena sempat mencuri pandang pada Baekhyun ketika gadis incarannya ini tersenyum pada Luhan. Benar- benar sempurna.

Kemudian hidung mungil yang terlihat pas dengan postur tubuhnya, dan pipi merona yang sedikit berisi. Terakhir, pandangan mata Chanyeol turun pada kedua belah bibir tipis milik Baekhyun. Pasti akan membuat Chanyeol ketagihan saat berhasil menyecapnya. Belum lagi dengan sifat misterius Baekhyun. Benar-benar membuatnya gila. Chanyeol tak peduli jika dihadapkan oleh bidadari sekalipun. Ia hanya menginginkan Baekhyun jatuh ke tangannya.

"Sebenarnya apa maumu?" Baekhyun buka suara karena sudah tak tahan diperhatikan oleh Chanyeol.

"Mengetahui namamu. Itu saja."

Bukannya menjawab, Baekhyun kembali fokus pada bacaannya. Chanyeol tak kehilangan akal. Matanya melirik pada dua gundukan payudara Baekhyun. Tersemat name tag di salah satu gundukan tersebut. Byun Baekhyun. Chanyeol tersenyum idiot karena berhasil mengetahuinya.

"Apa yang kau lihat? Dasar mesum!" Baekhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dengan senyum idiot seperti itu, justru membuatnya berpikiran bahwa Chanyeol benar-benar mesum.

Chanyeol terkekeh saat mengetahui apa yang ada di pikiran Baekhyun.

"Aku hanya melihat namamu Baekhyun. Atau kau benar-benar ingin aku melakukan apa yang sedang kau pikirkan?" ucap Chanyeol dengan seringai menyeramkan.

"Bajingan." Baekhyun bergumam lirih sebelum meninggalkan Chanyeol.

Setelah mengurus peminjaman bukunya pada petugas yang berjaga, Baekhyun segera pergi dari perpustakaan. Tak ingin berada dekat-dekat dengan makhluk mesum semacam Chanyeol.

.

.

Baekhyun tak habis pikir. Ia kira Chanyeol akan berhenti mengikutinya setelah dari perpustakaan. Nyatanya namja jangkung tersebut masih setia membuntutinya dengan jarak yang cukup dekat. Bukankah Chanyeol sudah mengetahui namanya? Lalu apa lagi yang dia inginkan? Pikir Baekhyun.

Merasa geram, Baekhyun menghentikan langkah dan berbalik menghadap Chanyeol. Karena pergerakan yang tiba-tiba dan jarak Chanyeol yang cukup dekat, membuat Baekhyun terkejut dan berefek pada keseimbangan tubuhnya yang oleng.

Dengan sigap Chanyeol menangkap Baekhyun menggunakan salah satu lengannya. Jika saja refleks Chanyeol kurang baik, sudah bisa dipastikan bokong Baekhyun akan meluncur ke lantai dengan tidak elit.

Sejenak waktu seolah diberhetikan oleh alam. Baekhyun masih terpaku di dalam rengkuhan Chanyeol. Matanya beberapa kali mengerjap berusaha memproses apa yang terjadi padanya. Tak jauh dari Baekhyun, Chanyeol hanya diam tanpa mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun. Menikmati pemandangan sempurna yang tak akan ia sia-siakan.

"Lepaskan aku brengsek."

Baekhyun berhasil merusak suasana hening yang sempat terjadi. Bukannya segera melepas Baekhyun, Chanyeol justru terus menatapnya tanpa kedip.

"Lepaskan aku!" Baekhyun kembali berteriak.

"Aku sudah melepaskanmu. Tanganmu saja yang masih mencengkram seragamku."

BLUSH

Benar juga. Sebenarnya Chanyeol telah melepaskannya beberapa saat lalu. Justru tangan Baekhyun sendiri yang masih menempel pada lengan Chanyeol. Merasa dipermalukan, Baekhyun segera melepas tangannya dan beranjak menjauh dari Chanyeol. Tak ingin jika wajahnya yang sudah semerah tomat busuk sampai diketahui oleh Chanyeol.

Chanyeol terkekeh melihat punggung Baekhyun yang mulai menjauh. Tentu dirinya telah menangkap basah wajah merah padam Baekhyun akibat perbuatannya. Benar-benar menggemaskan. Dia bahkan harus berusaha menahan diri untuk tidak menerkam Baekhyun saat itu juga.

.

.

Gerutuan serta makian tak henti-hentinya keluar dari mulut Baekhyun. Dia merasa malu. Harga dirinya seolah telah diinjak oleh Park Chanyeol. Kyungsoo yang kebetulan berada di luar kelas untuk mencari udara segar, sedikit bingung saat melihat wajah Baekhyun dari lantai atas. Kusut ditekuk sudah tak berbentuk. Begitulah deskripsinya.

Baekhyun bahkan tak menyadari jika dirinya tengah melewati tepi lapangan sepak bola. Dimana murid kelas 1 tengah asik memainkan benda bulat tersebut. Dikarenakan salah satu dari mereka menendang bola terlalu keras, bola itu meluncur cepat ke arah Baekhyun. Kyungsoo yang menyadari Baekhyun dalam bahaya, sontak membulatkan matanya dan memekik tertahan.

"Baekhyun! Awas!"

.

.

.

.

TBC

[A/N]:

Taraaaaa Baekhyun udah muncul tuh sodara-sodara :D

Aku udah fast update kan? Iya kan? :3

ChanBaek momentnya masih kurang ya? u,u

Mian. Namanya juga masih permulaan cerita :" *nangis di pojokan*

Menurut kalian, alur dari ff ini terlalu cepet nggak sih? Atau malah lelet? Aku benar-benar mengharapkan jawaban dari kalian demi kelangsungan FF ini *halah*

Oh ya. Terimakasih buat yang udah fav,follow, dan review buat FF ini. FF ini bukan apa-apa tanpa kalian chingu :* *peluk satu2*

Semakin banyak respon positif, semakin cepat pula FF ini bakalan update :)

So, mind to review?

~Byun Min Hwa