Disclaimer : Well, we all know that the Harry Potter series belong to JK Rowling, not me.


- The Wildest Thing -


Chapter 2

"Me-mengapa kau ada disini? Bagaimana mungkin?" Hermione tergagap.

Namun, jawaban yang diterimanya dari pria itu, hanya seringai khas-nya.

"Jawab aku, Malfoy." Hermione mulai meninggikan suaranya.

"Oho, Malfoy sekarang, Putri? Seingatku, kau memanggilku dengan nama depanku satu setengah tahun yang lalu." ia menyeringai lagi.

"Diam kau! Jawab pertanyaanku! Mengapa kau disini? Kau kan harusnya-harusnya..." Hermione tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Bahwa aku harusnya sudah mati?" ia melanjutkan kalimat Hermione yang terputus, "Benarkah, Putri? Kau mengharapkanku mati?" sorot matanya tertuju pada Hermione, namun tatapannya datar tanpa emosi.

"Well, tidak. Tapi... Para Auror sudah menyelidiki semuanya, mencari bukti yang bisa ditemukan. Kami semua juga mencarimu. Aku juga mencarimu. Namun..."

"Heh, omong kosong. Mana ada yang peduli padaku." ujarnya memotong perkataan Hermione.

"Aku! Aku peduli padamu, Draco!" tanpa disadari, sebulir air mata jatuh di pipi sang gadis.

"Simpan air matamu itu. Sangat tidak berguna. Sekarang kau lanjutkan cerita kecilmu tadi." matanya mnyorotkan pandangan yang dingin, beda sekali dengan dulu.

"Fine!" ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya secara kasar.

Draco hanya menaikkan alisnya.

"Oke, jadi begini. Setelah para Auror mengetahui bahwa Lucius telah...lolos dari Azkaban. Mereka segera mencoba untuk menghubungimu agar kau waspada. Namun, mereka tidak tahu kau berada di mana. Mereka juga mencarimu, tetapi tidak ketemu. Ya tentu, mereka sudah mengunjungi rumahmu, namun kau tidak ada. Lalu, mereka mencari ke tempat-tempat lain. Aku memberitahu mereka tempat-tempat yang biasa kau datangi, dengan harapan mungkin mereka bisa menemukanmu di salah satu tempat itu. Kau tidak tahu, Draco. Rasa teror yang kualami. Rasa takut yang sangat hebat menghampiriku. Aku...aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Tiba-tiba, patronus Harry datang menghapiriku, suaranya terdegar panik, mengatakan aku harus segera ke Malfoy Manor."

Hermione menghirup napas dalam-dalam, teringat akan ketakutan yang mencekam yang dialami dirinya saat itu.

"Betapa kagetnya aku, melihat Malfoy Manor yang setengah binasa. Seperti habis terjadi pertarungan yang hebat disana. Kuharap tidak, namun Harry membenarkan pertanyaanku. Menurut penyelidikannya, kau dan Lucius habis bertarung disana. Apa itu benar?"

"Belum saatnya kau tahu, Putri. Lagipula, ini saatnya kau bercerita, bukan aku."

Seketika, tampak wajah Draco terlihat lelah. Namun, hanya sekilas wajah itu diperlihatkannya. Ia tidak mau menunjukkan kelemahannya.

"Tolong jangan panggil aku Putri." Hermione berbisik.

"Kenapa? Terserah padaku aku ingin memanggilmu apa." ekspresinya berubah menjadi keras, tapi ada sedikit tanda kesedihan disana, dan rasa terluka.

Apa yang sudah ia alami selama ini? Hermione ingin menanyakan hal itu padanya, namun mengurungkan niatnya. Sepertinya waktunya belum tepat.

"Lagipula, kau suka kupanggil begitu dulu." Draco melanjutkan.

"Itu dulu, Draco. Satu setengah tahun yang lalu. Sekarang semuanya berbeda."

"Ya, memang semuanya berbeda. Karena itu, aku ingin kembali seperti dulu."

"Katakan padaku Hermione," ia mengarahkan pandangannya ke mata coklat sang gadis, menatapnya lurus-lurus. "mengapa aku tidak mati saja?" terdengar nada putus asa dari suaranya. Rasa muak pada dunia ini yang ia pendam, Hermione dapat merasakannya.

Ketika Hermione membuka mulutnya untuk menjawab, berusaha menenangkannya, Draco memotongnya.

"Huh, tentu saja. Dunia ini tidak adil. Tidak untukku. Tidak pernaha ada kebahagiaan untukku, semua hanya kepedihan. Kurasa takdir memang kejam saja padaku. Ingin menyiksaku di dunia ini sampai aku gila." sang lelaki mencibir dan mengalihkan pandangannya ke tembok di sampingnya. Ia tertawa. Tawa yang sinis.

"Omong kosong." sang gadis tiba-tiba berkata.

Lelaki berambut pirang itu menolehkan kepalanya ke arah gadis yang berbicara. Matanya menyiratkan bahwa ia menunggu sang gadis melanjutkan perkataannya.

"Omong kosong, Draco. Kemana saja kau, selama ini? Kau tahu bagaimana perasaanku, Draco? Saat aku melihat kertas yang ditinggalkan Lucius? Ia masih akan terus mengejarmu! Dan setelah sekian lama aku, Harry dan para Auror mencarimu, dan pencarian kami tidak membuahkan hasil, mereka mulai berspekulasi bahwa kau telah mati! Bahwa Lucius telah berhasil mengejarmu, dan membunuhmu! Hatiku rasanya hancur, Draco! Hancur! Aku tidak bisa menerima kemungkinan bahwa kau mungkin telah tiada. Dan sekarang, mengapa sekarang kau bersikap seperti ini terhadapku? Kembali seperti dirimu yang dingin seperti dirimu yang dulu. Kenapa? Dan jangan berani-beraninya kau bilang bahwa semua kehidupanmu hanya berisi kepedihan. Bagaimana dengan waktu-waktu yang kita habiskan bersama? Apa menurutmu itu juga kepedihan?"

Draco mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Ketika wajahnya kembali terlihat oleh pandangan Hermione, wajahnya terlihat dingin, tanpa emosi sekali lagi.

"Kurasa kau belum menyelesaikan ceritamu. Dan, satu lagi. Ini bukan saatnya aku bercerita padamu, dan menjawab segala pertanyaanmu. Belum saatnya."

"Lalu kapan saat yang tepat, hah? Ketika ajalku tiba? Oh, atau ketika tubuhku sudah membusuk di bawah kubur?" Hermione berkata sarkastis.

Draco tersenyum sedikit. "Rupanya kau tidak berubah."

Hermione merasa tercengang melihat Draco tersenyum. Ah, rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat senyum itu. Sekarang, sedikit bagian dari dirinya yang dulu, ketika masih bersamanya, terlihat. Betapa rindunya dia dengan senyum itu.

Perlahan-lahan, Hermione berdiri dari ranjang yang dia duduki tadi. Ia berjalan menghampiri Draco. Ketika ia sudah berada di hadapannya, ia memegang wajahnya. Tangannya seolah bergerak sendiri, menelusuri, mencoba mengingat kembali lekuk-lekuk, bentuk wajah lelaki yang pernah dicintainya. Well, mungkin kata 'pernah' tidak tepat, ia masih menjadi pria yang dicintainya. Hanya satu-satunya, segenap jiwa.

Draco tidak berusaha menghentikan tangan Hermione. Karena bagaimanapun juga, sekeras apapun daritadi ia berusaha membekukan hatinya, ia tidak bisa. Karena dia, Karena yang dihadapannya adalah wanita yang ia cintai, ia tidak bisa benar-benar mematikan perasaannya. Mengapa? Karena wanita inilah yang selalu melelehkan hatinya yang sudah lama beku, mengajarinya rasa cinta, rasa ingin melindungi sesuatu yang berharga, melindungi dia. Betapa ia sangat merindukannya. Ingin sekali ia mengatakan hal itu kepada wanita di hadapannya. Namun, hati kecilnya seolah mengingatkan, 'Jangan! Bukan sekarang saatnya. Nanti. Setelah kau bisa menceritakan semuanya, barulah kau bisa memeluknya lagi.'

Dengan berat hati, Draco dengan kasar melepaskan tangan Hermione dari wajahnya. Dengan memasang topeng indifference di mukanya, ia berkata dengan datar pada Hermione.

"Apa yang kau pikir kau lakukan?"

Hermione, seolah baru sadar dengan apa yang dilakukannya, menundukkan wajahnya, dan mengepalkan tangan di sisinya.

"Kau berubah, Draco."

"Kukira kau sudah menyatakannya tadi. Kau tahu Granger, hidup dalam pelarian dan diburu orang akan melakukan hal itu kepadamu."

"Terutama jika tanpa orang yang kau sayangi, dan orang yang memburumu adalah anggota keluargamu ." Draco bergumam pelan. Sangat pelan, sehingga Hermione nyaris tidak mendengarnya.

"Apa yang kau bilang tadi?" Hermione memfokuskan perhatiannya pada sang lelaki.

"Bukan apa-apa."

"Bohong, tadi kau bilang..."

"Berisik, kubilang bukan apa-apa!" Draco berteriak, marah.

Sungguh, ia membuat segalanya menjadi lebih sulit. Mengapa ia tidak bisa diam saja dulu, menunggu saatnya mendapat penjelasan dari dirinya sendiri? Ia belum siap saat ini. Hm, siapa yang ingin ia bodohi? Ini Hermione Granger, gadisnya, yang terkenal dengan keberanian dan tentu, sifat keras kepalanya. Ia takkan ragu-ragu melawannya, sampai mendapat jawaban yang ingin ia ketahui.

Perlahan-lahan, Draco melepaskan topengnya, untuk saat ini.

"Please Hermione. Jangan membuat hal ini menjadi lebih sulit. Aku akan memberi tahumu segalanya, tapi tidak sekarang, tidak hari ini. Kau berharap saja, hari itu adalah besok."

"Draco..." ia melihat wajahnya penuh dengan kelelahan, secara fisik maupun mental.

"Mungkin aku akan segera membutuhkan pemikiran cemerlangmu dalam waktu dekat ini. Istirahatlah yang cukup, Hermione."

Ia mulai berjalan menuju pintu.

"Draco, tunggu. Apa mak-..."

Namun, Draco sudah keluar dari ruangan itu.

"-sudmu..." Hermione melanjutkan kata-katanya yang terputus.

Oke, dia memutuskan, mungkin untuk sementara ia tidak melontarkan banyak pertanyaan kepada Draco, meskipun sangat ingin. Namun ia tidak tega terhadapnya. Wajahnya yang penuh derita, sorot matanya yang menyiratkan kelelahan. Demi Merlin, sebenarnya apa saja yang sudah terjadi padanya?

Hermione teringat akan kata-kata yang digumamkan oleh Draco tadi.

'Terutama jika tanpa orang yang kau sayangi, dan orang yang memburumu adalah anggota keluargamu.'

Apakah maksudnya? Lucius masih memburunya kah? Dan kata-katanya tentang orang yang ia sayangi, apakah ia mengacu pada dirinya?

Semua itu masih menjadi teka-teki baginya. Merasa lelah, secara emosional, Hermione tertidur dengan pikiran tentang Draco dan juga maksud dari kata-katanya di kepalanya.


A/N : And that's Chapter 2! Hope you enjoy this :). So sorry for any typos. Kasih tau aja ke aku di bagian yang mana ada typo-nya and I'll fixed it right away. Kalo ada pertanyaan, PM aja, ato nanya di twitter ku. (link on my profile)

Please Review, they keeps me motivated to continue this story. Thanks~