Disclaimer © Masashi Kishimoto
Chapter 2: Benang Merah yang Pudar
Hinata Hyuuga membuka matanya perlahan. Ah, hari sudah pagi. Saatnya kembali melakukan aktivitas seperti biasa—membereskan rumah, membuat sarapan, membuat bekal makan siang untuk dirinya juga Hanabi, pergi ke sekolah, belajar, dikerumuni banyak orang seputar jodoh.. Hinata mengeluh. Bukan, ia adalah anak dari Hiashi Hyuuga, ia selalu dididik untuk menjadi pribadi yang sopan, rajin, serta pandai bersyukur. Namun, kali ini ia melanggarnya. Bukan soal hari sibuknya karena menjawab seputar benang merah, tapi karena ia tersadar bahwa benang merahnya sudah menghilang.
Ia menatap jemarinya. Mungkin jika orang lain yang melihatnya, tidak ada yang aneh, normal-normal saja. Namun, yang melihat adalah dirinya sendiri, seorang Hinata Hyuuga—yang notabene memiliki kelebihan, mampu melihat benang merah takdir.
Mungkin, saat perjalanan ke sekolah nanti, ia tertabrak sebuah truk atau mungkin mobil mewah. Kemudian, ia mati—meninggalkan Ayah serta adik kecilnya.
Hinata menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran negatifnya. Mau mati nanti atau besok, setidaknya Hinata mencoba mempersiapkan diri.
.
.
.
Hinata Hyuuga melangkahkan kaki dengan sedikit was-was. Manik lavendernya sesekali melirik ke kanan-kiri, memastikan tidak ada mobil atau truk atau apapun yang membahayakan nyawanya. Sejauh ini aman. Namun, atensinya berhenti menyisir keadaan sekitar begitu mendapati seseorang yang sama persis dengan lelaki yang kemarin menubruknya.
Mereka berpapasan, lelaki itu sekilas menatap Hinata—lalu tersenyum kecil.
"Eh?" Hinata bingung. Ia menghentikan langkahnya, menoleh ke arah lelaki bermanik hitam pekat itu. Lelaki itu berjalan lurus, sendirian. Sesekali ia memainkan ponsel pintarnya tanpa menoleh ke sekitar.
Mata Hinata membulat ketika lelaki itu nekad menyeberang ketika lampu lalu lintas menampakkan warna hijau. Lalu semakin membulat ketika ia melihat sebuah truk hendak melintas.
"EH?!" Hinata semakin bingung, ia refleks berlari.
"T-tuan!" teriak Hinata.
Gadis mungil itu berhasil meraih lengan kekar lelaki bermanik hitam itu.
"B-bodoh," bisik Hinata. Baru pertama ini. baru pertama ini Hinata mengumpat. Baru pertama ini Hinata menyelamatkan orang lain—terlebih itu adalah orang asing. Baru pertama ini, Hinata memeluk orang lain dengan sangat erat.
.
.
.
"Terima kasih," Hinata berujar ketika lelaki itu menyodorkan air mineral.
Mereka kini duduk di sebuah bangku taman. Hinata sempat pingsan setelah menolong laki-laki itu.
"Hn," gumam laki-laki itu sebagai balasan.
"Sasuke Uchiha," ujar itu akhirnya.
"Eh? Uh.. H-hinata H-hyuuga," Hinata membalas uluran tangan laki-laki bermarga Uchiha itu.
"Kau yang kemarin?" tanya Sasuke.
"U-uh.. ya, itu aku," jawab Hinata sedikit malu. Laki-laki itu pasti berpikir kalau-kalau Hinata seorang penguntit!
"Ini antara dunia memang sempit atau kau adalah seorang penguntit?" tanya Sasuke sedikit pedas.
Benar, bukan?
"T-tidak!" Hinata berseru cepat. Pipinya menggembung.
"S-sebetulnya aku melihat sesuatu," kata Hinata akhirnya setelah menimbang-nimbang.
"Aku tampan?" tanya Sasuke sambil menyeringai.
"B-bukan itu! uh, benar kau tampan—maksudku, s-semua laki-laki itu tampan! Ugh!" Hinata bingung sendiri.
"Lalu?"
"A-aku ragu mengatakannya," Hinata menunduk. Ia melirik Sasuke sekilas—yang ternyata sedang menatapnya tajam.
"Uh.. baiklah," Hinata menghela napas panjang.
"S-sebetulnya a-aku bisa melihat b-benang merah seseorang. Namun, a-aku tidak melihat padamu. L-lalu, setelah kita b-bertemu di p-persimpangan jalan, b-benang merahku juga i-ikut menghilang. P-padahal b-benang merahku terikat p-pada s-seseorang yang kusukai," bisik Hinata panjang.
Hinata melirik Sasuke. Sasuke diam saja. Tak lama, ia tertawa lebar. Tawa yang belum pernah lihat. Maksudnya, tawa Sasuke adalah tawa yang sungguh berbeda dengan orang-orang.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"A-apa? S-siapa?" tanya Hinata panik.
"Orang yang kau sukai itu,"
Hinata menggembungkan pipinya, "Jika dia kekasihku, aku sudah akan mengatakannya dari awal."
Jawaban Hinata membuat Sasuke semakin tertawa.
"Kau tidak sekolah?" tanya Sasuke tiba-tiba, lagi.
Hinata menepuk jidatnya.
"Aku lupa! Sampai jumpa, Tuan!" Hinata beranjak, tapi lengan mungilnya tertahan oleh sesuatu. Tangan besar Sasuke.
"Pulang sekolah, kutunggu kau di sini,"
Apa itu?
"Eh? Hinata-chan!" seru seseorang. Naruto Uzumaki.
"Selamat pagi, Uzumaki-kun," Hinata menunduk sopan.
"Pagi, Hinata-chan! Kau dengan siapa?" tanya Naruto langsung.
"Uh.." Hinata melirik Sasuke yang sedang menatapnya tajam.
"Uh, Uzumaki-kun, sepertinya kita akan terlambat. Sebaiknya kita cepat-cepat!" seru Hinata.
"S-sampai jumpa, Tuan Sasuke," Hinata menunduk lalu meninggalkan Sasuke Uchiha sendirian.
.
.
.
Hinata Hyuuga adalah gadis yang patuh. Menuruti semua perintah Hiashi Hyuuga, taat pada peraturan yang berlaku, tak pernah melanggar peraturan sekolah, tapi yang membuat heran adalah kenapa ia mau-mau saja menuruti permintaan orang yang baru saja ia temui?
"Kukira kau tidak datang," Sasuke tersenyum pada Hinata.
"Entahlah, aku tidak biasa menolak permintaan orang lain," Hinata tersenyum kecil.
"Kau mudah dimanfaatkan ternyata," komentar Sasuke.
Hinata tertawa, ya seperti itulah dia.
"Omong-omong, ada apa Tuan Sasuke ingin bertemu denganku, lagi?" tanya Hinata.
Sasuke diam saja.
"Bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya Sasuke.
"A-apa?" Hinata bingung. Lelaki itu seperti bertanya kepada adiknya.
"U-uh, b-baik. seperti biasa, banyak orang yang bertanya mengenai jodoh mereka," ujar Hinata akhirnya. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menjawab—karena Sasuke meliriknya tajam.
"Bagaimana dengan benang merahmu?" tanya Sasuke lagi.
Hinata diam saja, sedikit lama.
"Hinata?" panggil Sasuke.
"E-eh? U-uh.. yaa.. m-masih menghilang," sahut Hinata pelan.
Sasuke menyunggingkan senyum tipis.
"Jangan bersedih, itu bukan akhir hidupmu," kata Sasuke.
Hinata menatap Sasuke tidak suka.
"Ya, aku tahu," lanjut Sasuke cepat begitu mimik Hinata seperti ingin protes.
"Tenang saja, jika kau masih tidak memiliki jodoh sampai bulan depan, kau bisa datang kepadaku," kata Sasuke.
Hinata menatap Sasuke bingung.
"Untuk apa?" tanya Hinata.
Sasuke hanya menyeringai."Mari kuantar pulang,"
.
.
.
"Terima kasih, hati-hati di jalan, Tuan Sasuke," Hinata menunduk sopan. Sasuke hanya menarik ujung bibirnya sedikit.
"Jangan lupa istirahat," Sasuke berbalik, meninggalkan Hinata.
"Salam untuk Hiashi-sama," lanjutnya.
"Huh?" lagi-lagi Hinata bingung.
Siapa Sasuke Uchiha ini? Kenapa dia membingungkan Hinata? Hinata menggeleng, Sasuke pasti kenalan dari keluarganya. Hinata sadar dari lamunannya, kemudian ia tersadar sesuatu. Sasuke Uchiha sudah berada di ujung jalan—dan jemari mereka terpaut.
.
.
.
Terpaut benang merah yang samar-samar.
TBC
Catatan Penulis:
Update yang lebih lama dari perkiraan DX
Terima kasih untuk para viewer dll 3 Bipo mencintai kalian 3
Sepertinya tidak akan ada perbincangan panjang lebar XD
Sampai jumpa di chapter berikutnya XD
