DISCLAIMER :
Semua karakter yang digunakan adalah milik Masashi Kisimoto (karakter Naruto) dan Ichiei Ishibumi (karakter high school DxD) kesamaan dalam unsur cerita adalah suatu kebetulan. Isi fic ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun
RATING : M
GENRE : hurt / comfort , supernatural
AUTHOR : RyuzakiMisaki (last_lotus)
Lite Lust
Cerita sebelumnya :
Naruto, seorang anggota baru kepolisian mendapat tugas untuk mengawasi suatu sekolah.
Chapter II
Sector 10, konoha
Sektor sepuluh Konoha, tempat berkumpulnya konglomerat dari klan ternama baik luar maupun dalam konoha. Dan disinilah Naruto kini, dengan kaos putih polos Ia nampak keluar dari taksi. Dengan menenteng koper besar, wajahnya nampak cerah. Matanya menyapu daerah asing itu. Baginya sektor sepuluh adalah tempat terkutuk. Dengan maraknya hiburan malam, membuat tempat ini menjadi sarang yakuza.
Nampak Naruto memandangi daerah sekitar ketika Ia berjalan menyusuri trotoar. Di tangannya terdapat sebuah kertas berisikan alamat dan sebuah foto rumah. Sudah tiga jam sejak keberangkatannya dari kantor pusat.
Naruto P.O.V
Well disinilah aku, distrik ini begitu penuh dengan hiburan semu. Aku harap misi ini dapat kulalui dengan cepat. Aku mulai muak dengan tempat ini, bagaimana tidak baru sepuluh menit aku disini dan aku sudah melihat tiga tindakan melawan hukum.
Sepertinya aku sudah sampai, mataku menyandingkan foto rumah dari tuan Danzo dengan sebuah bangunan kuno. Ini adalah rumah tradisional khas jepang. Aku heran bagaimana bisa ada rumah seperti ini di antara gedung-gedung modern.
Nampak sepi, apa rumah ini tak berpenghuni? Aku melangkah masuk dan mendapati rumah ini memang tak berpenghuni. Hmm rumah ini penuh kamera pengawas. Beberapa kamera tersembunyi itu tak dapat mengelabuiku, lucu sekali.
Bila kuingat detail misi ini, Aku akan menjadi seorang siswa tingkat dua pada sebuah sekolah ternama. Aku harus menjadi pribadi yang bodoh dan ceroboh. Selain itu mulai sekarang namaku menggunakan marga Ayah.
Kau harus menahan diri dari tindakan penegakkan hukum Uzumaki! Begitulah kata-kata Danzo, Ia ingin aku bermain dengan kepribadian baru, tingkah baru, well aku ahlinya dalam berpura-pura.
End of Naruto P.O.V
Dugaan Naruto tentang tak berpenghuninya rumah ini ternyata salah. Beberapa detik setelah Naruto mengamati kamera tersembunyi itu, sesosok pria yang sangat akrab dengannya keluar dari pintu.
"Ne, Jiraya Jii-San!", dengan spontan Naruto terkejut.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tambahnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Naruto, Jiraya hanya tersenyum lebar dan mengangkat telapak tangannya, "Yo, Naruto!"
Dengan isyarat tangan, Jiraya meminta Naruto untuk masuk ke dalam rumah itu. Dan masih dalam kebingungannya Naruto berjalan mengikuti Jiraya dari belakang. Pintu ditutup sejalan dengan masuknya Naruto.
Rumah yang unik, kira-kira begitu pikir Naruto. Semua perabotannya benar-benar antik. Beberapa lukisan klasik terpajang dengan tidak beraturan. Guci hias dan tanaman bonsai menghiasi sudut ruangan.
"Kamarmu ada di pojok lorong, letakkan barangmu disana.", Jiraya berkata sembari berjalan mendekati ruang makan.
Tanpa menjawab Naruto melangkah menuju kamar yang dimaksud oleh Jiraya. Di sepanjang lorong Ia mendapati banyak barang-barang antik berjajar rapi. Namun nampaknya Naruto tidak begitu peduli dengan barang-barang itu. Melangkah santai Ia masuk kedalam kamarnya.
Naruto mendengus, "Kalian pasti bercanda."
Begitulah kata yang keluar dari mulut Naruto. Kamar kosong itu membuat Naruto terdiam. Tidak ada satupun furnitur yang ada di kamarnya. Naruto berjalan masuk dan mulai menata barang-barangnya di lantai. Sejenak kemudian Jiraya ikut masuk dan membuka jendela kamar Naruto.
"Jii-San, Kenapa kamarku kosong? Dimana perabotan yang lain?", menyadari Jiraya datang, Naruto bertanya masalah kamarnya.
"Eheh, Naruto kau tidak akan membutuhkan barang-barang itu." Jiraya terkekeh melihat ekspresi jengkel Naruto. Bagaimanapun Naruto sudah seperti keluarganya. Jiraya berbalik dan bersender pada tembok.
"Naruto, misi mu ini. Sepertinya ada yang tidak beres, aku mendapat laporan tentang banyaknya orang hilang dan kasus pembunuhan disini." Jiraya berkata dengan sesekali melihat ke luar jendela.
'dari mana Ia tau akan misiku?' sejenak Naruto termenung. "Memangnya apa yang aneh?", Naruto nampak menyembunyikan pikirannya. Mungkin sudah sewajarnya Jiraya tau, Ia segera menepis pikirannya tadi.
"Aku hanya mampir kesini, kudengar kau mendapat misi yang cukup rumit? Kau akan mendapat jawabannya nanti.", Jiraya berlalu keluar kamar. Langkahnya tegap membuat lantai kayu sedikit berderit.
"Naruto, aku akan pulang sekarang, jaga dirimu!", ucapnya.
Naruto termenung, Ia kembali teringat tentang perabotannya. Setelah merapikan barang-barangnya Ia keluar mencoba menjelajahi rumah besar tempatnya tinggal. Naruto memasuki setiap ruangan dan mendapati semua ruangan nampak normal dengan perabotannya. Bahkan ada empat kamar lengkap dengan kasur dan barang-barang lain. Mengerinyitkan dahi Naruto baru sadar bahwa kamarnya tadi adalah ruang bersantai.
"Sial aku dikerjai lagi oleh paman!", Naruto baru sadar bahwa Ia hanya dikerjai oleh Jiraya perihal kamarnya.
"Pantas saja kamarnya kosong, tapi biarlah aku akan membawa futon ke kamar tadi.", Naruto nampak bergumam pada dirinya sendiri.
Naruto meneruskan jelajahnya pada luar rumah. Halaman belakang yang besar dan tak terawat membuatnya sedikit bergidik. Naruto teringat pada sebuah cerita horor yang pernah Ia baca pada perpustakaan kepolisian. Gambarannya hampir mirip dengan rumah kuno ini.
'Sial aku baru ingat! Oh astaga aku alergi pada hantu', Naruto menelan ludah dan menengok kebelakang mengamati rumah kunonya. Pikiran parnonya datang seiring angin dingin menerpa tengkuknya. Well walaupun Naruto adalah remaja tangguh, namun Ia memiliki sebuah ketakutan besar terhadap sesuatu yang berhubungan pada supernatural.
Rumah yang tadinya normal-normal saja berubah menjadi menyeramkan ketika pikiran konyol Naruto timbul. Sepertinya hari-hari akan berlangsung berat untuknya.
Konoha International School
Sebuah sekolah yang sangat mewah. Begitulah pikir Naruto, langkahnya menyusuri lorong mencari ruangannya. Di sekitarnya beberapa siswa dan siswi menatapnya dengan pandangan aneh. Naruto berusaha mengabaikannya, namun matanya membulat ketika melihat seorang siswa yang menjadi target pengawasannya. Hidan, siswa nyentrik dengan seragam lusuh nampak sedang menjadi samsak oleh siswa lain.
Ya, Hidan di hajar dengan brutal. Naruto menatap nanar salah satu targetnya. Hidan nampak memegang simbol aneh dan bergumam.
'apa dia sedang berdoa?', pikir Naruto.
"Hei Pirang! Lihat apa kau!", salah satu pemukul berteriak pada Naruto, Ia mengacungkan jari tengahnya dan meludah.
Naruto menunduk tanpa menjawab, Ia kembali mencari kelasnya. Area yang sangat luas membuat Naruto butuh lebih dari setengah jam untuk menemukan kelasnya. Alibi saja, sebenarnya Naruto dapat menemukannya dengan mudah. Namun Ia memilih untuk menjelajahi seluk bekuk sekolahnya.
Naruto's Class
"Namaku Naruto Namikaze, umurku sekian dan hobi itu, aku mohon kerjasamanya!", Dengan senyum lebar Naruto mengenalkan dirinya. Tangannya menggaruk pantatnya yang tidak gatal.
Jorok, Bodoh, dan terlalu bersemangat, Naruto memerankan perannya dengan sangat bersih. Ia baru saja memperkenalkan diri di depan kelasnya. Belasan siswa yang melihatnya hanya menganggapnya angin lalu. Namun dua gadis nampak saling berbisik ketika marga Naruto disebut. Dan sialnya Naruto tak menyadari hal itu.
"Namikaze-Kun, kau boleh duduk sekarang, dan harap secara rutin mengganti celana dalammu", ucap guru yang dari tadi melihat garukan pantat Naruto.
Sepanjang pelajaran Naruto sibuk memikirkan kejadian yang menimpa Hidan, spekulasi mulai terbayang dibenaknya. Ia bahkan tak sadar bahwa dua pasang mata tengah menatapnya dengan intens.
"Memangnya kenapa kalau Namikaze? Ne Shion kau tak dengar?", bisik salah satu gadis yang dari tadi mengamati Naruto. Gadis dengan rambut merah itu nampak sebal ketika pertanyaannya tak direspon oleh kawannya.
"Oh, Maaf Tayuya-San sepertinya Naruto adalah-", Shion langsung mengalihkan ketika Naruto menoleh mencari sumber gumaman yang menyebut dirinya.
Naruto P.O.V
Sepertinya ada yang membicarakan ku. Aku menoleh dan mendapati tersangkanya, sedikit berlebihan kah? Hahaha. Rupanya aku satu kelas dengan Shion dan um wajah temannya itu? Sepertinya aku pernah melihatnya.
"Namikaze-kun , apa kau tak mendengarku!", suara tinggi beserta lemparan penghapus membuyarkan lamunanku.
Dengan reflek aku menghindari penghapus tadi. Sedetik setelah penghapus itu melewatiku aku baru sadar, seharusnya aku tak menghindar. Bagaimanapun juga aku sedang menjadi siswa ceroboh. Bodohnya Aku!
End Naruto P.O.V
"ittai", seorang gadis mengaduh kesakitan. Dahinya mengeluarkan darah akibat lemparan meleset tadi. Reflek semua anak menatap kearah gadis itu.
"Shion! Kau tak apa?", dengan panik Tayuya mencoba menenangkan Shion. Ironi sekali, Shion nampak memegangi dahinya. "Aku tak apa.",gumamnya.
"Namikaze-san, lihat dirimu! Terlambat pada hari pertamamu dan mengacau kelas! Sebagai hukuman, kaulah yang bertanggung jawab pada luka Shion!", dengan geram guru itu menunjuk Naruto.
Semua anak terpaku dalam sunyi, begitulah watak guru mereka. Mizuki adalah guru temperamen yang kerap menyalahkan siswanya. Bel berbunyi beberapa detik kemudian Mizuki membubarkan kelas dan pergi tanpa rasa bersalah.
"eh ano, Shion, ayo aku antar ke klinik sekolah?", dengan menggaruk kepalanya Naruto mendekati Shion.
"Dasar bodoh! Bagaimana kau dapat seceroboh itu ha!", Tayuya angkat bicara. Ia kini berdiri menuntun Shion meninggalkan Naruto.
Naruto dengan mata melebar tersenyum. 'ah untung saja semua mengira itu sebuah kecerobohan' Ia mengekor Shion dan Tayuya.
"Daripada itu, seharusnya kau melihat reflek nya menghindari penghapus tadi Tayuya.", Shion tersenyum dan menoleh pada Naruto.
"ahaha, itu hanyalah kebetulan", Naruto nampak tertawa kaku. Ia tak menyangka Shion sadar akan reflek nya.
Klinik dalam keadaan kosong ketika mereka sampai. "Tunggu disini Shion, aku akan mencari dokter jaga.", Tayuya berlalu meninggalkan Shion dan Naruto.
Darah menetes lebih banyak, beberapa pasang mata mengamati mereka berdua dari kejauhan. Naruto yang menyadari Shion kesakitan segera mengambil kotak obat. Namun ia kembali tersadar akan perannya menjadi siswa bodoh. Mana mungkin siswa bodoh dapat mengobati luka. Pikirnya.
Dilema antara misi dan rasa kemanusiaan sepertinya dimenangkan rasa profesional pada misi. Beberapa menit berlalu dan Tayuya belum kembali.
"ittai", Shion mengaduh ia mencoba mengobati lukanya sendiri. Naruto dengan tanpa sadar meraih kedua tangan Shion dan meletakkannya di meja. Ia mengambil alih kasa dan obat merah dari tangan Shion. Tak sampai semenit luka Shion selesai dibalut.
Tanpa sadar seorang gadis telah masuk kedalam klinik dan mengawasi mereka. Entah kapan gadis itu datang. "Darimana kau belajar membalut luka secepat itu? Namikaze-Kun?", suara dingin memecah keheningan Naruto dan Shion. Dengan reflek mereka menoleh mencari sumber suara. Semerbak harum lavender menguar. Shion menggigil ketakutan, Gadis tadi mendekat memperlihatkan wajah putih dan mata lebar.
Dengan wajah ketakutan Shion bergumam "Kami-Sama lindungi aku."
Naruto nampak kebingungan, apa yang terjadi dengan sekolah ini! Pikirnya. Semua yang terjadi seolah tak ada hubungan dengan misinya. Ia melihat gadis itu dengan seksama. Rambut panjang, mata lebar? 'apa aku melihat urat di sekitar matanya?' , Naruto mencoba fokus, aroma lavender membuat Naruto hanyut. Ia seperti terhipnotis.
'brak' pintu klinik dibuka paksa, nampak Tayuya terengah-engah.
"Shion-Sama, apa kau baik-baik saja?", Tayuya setengah berteriak menyadarkan Naruto.
Aroma lavender mulai hilang dengan cepat, begitu pula gadis tadi. Naruto seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Ia alami.
"Kau harus lebih tenang Tayuya, bawa aku pulang.", Shion berdiri, kata-katanya adalah ironi bagi tubuhnya ia berkata tenang sementara tubuhnya menggigil hebat.
Menyadari adanya Naruto mereka segera berbenah, "Namikaze-Kun, kami akan pergi ke kelas lebih dulu.", Shion berkata sembari mengatur nafasnya.
Naruto tak menjawab, Ia masih mencerna apa yang telah terjadi beberapa menit lalu. Telinganya menangkap obrolan Shion dari balik pintu klinik.
"Aku yakin sekali itu adalah Byakugan Tayuya."
"Pelankan suaramu Shion."
Bangun dari lamunannya Naruto berjalan hendak menyusul mereka, namun sepertinya langkah mereka lebih cepat. Naruto hanya menemukan angin ketika Ia mencari mereka. 'what the?', setengah berlari Naruto kembali ke kelasnya. Ia ingin segera pulang dan mencerna kejadian aneh yang baru saja menimpanya. "supernatural", gumamnya kecil.
End of Chapter II
Author note :
Akhirnya selesai juga, aku harap kalian suka dengan fic ini, wahai para pembaca, beri fav sama review dong, biar makin semangat nulisnya :D
Oh hai halo, kalo kalian bingung dengan jalan ceritanya wajar sih, Aku aja bingung :D tapi segera update nanti akan terang kok jalan ceritanya :D
Lotus out
