Mereka berdua mengeratkan pelukan masing-masing. Tidak ada suara lagi terucap dari mulut mereka berdua. Hanya kebahagiaan yang sekarang membungkus mereka berdua.

Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu utama. Ludwig perlahan melepaskan dekapannya dari Emma.

Emma bertanya-tanya, "siapa yang datang pagi-pagi hari Minggu begini? Mengganggu saja mereka."

"Ah, palingan misionaris-misionaris jualan agama," jawab Ludwig yang sebenarnya hanya menduga-duga. Ia berjalan ke arah pintu, memutar kunci, lalu membuka pintunya.

Ternyata dugaannya sama sekali salah.


Di Penghujung Batas, a fanfiction

Ditulis oleh kuroakane

Hetalia: Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Warning: Human Names / AU / OOC / Germancest / GerBel / Historical Fic


2

"Selamat pagi, saudara-saudaraku."

Ludwig tahu itu siapa.

"A… Abel?"

"Betul sekali, adik iparku Beilschmidt. Oh iya, Emma-ku tersayang sekarang juga Beilschmidt, ya," ujar Abel pada adik iparnya.

"Bukannya kau akan datang besok?" tanya Ludwig heran. Ia yakin betul bahwa tadi istrinya bilang pria menyebalkan itu akan datang hari Senin besok, bukan sekarang.

Abel menggelengkan kepalanya. "Niet, Beilschmidt. Oh, sajak yang tak disengaja! Niet, Beilschmidt!"

Ludwig berbisik pelan pada istrinya: "Mein Gott, Emma. Bukannya kau bilang kakakmu ini datangnya besok?"

Tanpa sengaja, lelaki Belanda berwajah seram itu mendengar pembicaraan adik iparnya. "Hey, jangan salahkan mijn liefste zus, Beilschmidt!"

"Ah, memang salahku. Tadi aku tidak fokus sehingga salah bicara," bela Emma.

Abel mendengus. Sementara itu, sepasang suami-istri di hadapannya masih keherenan menemukan seorang Abel yang tiba-tiba menjadi banyak bicara seperti ini. Menyebalkan sih masih sama, hanya saja cerewetnya itu, lho.

Sementara keheningan menghiasi keadaan awkward itu, Emma angkat bicara lagi. Setidaknya, untuk mendinginkan suasana. "Sudahlah, broer, mari kita masuk saja."

.

.

.

"Jadi, mau apa kau kesini?"

Ludwig menatap Abel malas. Ia tidak suka berurusan dengan kakak iparnya. Dari awal bertemu saja, mereka sudah tidak cocok. Kalau bukan karena Emma, mungkin Ludwig tidak akan sudi melabeli pria tiga puluh lima tahun itu dengan sebutan 'kakak ipar'.

"Mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku sangat senang hari ini."

"Tidak. Aku tak peduli dengan hal itu. Sekarang katakan apa saja yang mau kau katakan, lalu segera pergi dari rumah ini."

Abel menghela nafas.

"Baiklah," ujar Abel seraya meletakkan setumpuk foto hitam-putih di meja tamu. "Aku menemukan pabrik uang berjalan."

Ludwig menaikkan sebelah alisnya, heran.

"Maksudmu?"

Abel merapikan dan menjajarkan foto-foto itu agar bisa dilihat dengan mudah. Di dalam foto-foto itu, nampak seorang pria yang mungkin jadi bahan pikiran Abel selama beberapa hari terakhir.

"Namanya Gilbert," ucap Abel. Mendengar nama itu, Ludwig teringat pada kakaknya. Ia kira, ia tak akan pernah mendengar nama itu lagi selama sisa hidupnya.

"Orang Jerman Timur. Aku lupa menanyakan nama belakangnya, tapi kurasa dia bisa kuperalat."

Tidak. Tidak, ia bukan Gilbert Beilschmidt. Gilbert Beilschmidt sudah mati.

"Hey, mau kau apakan orang itu?"

Pria Belanda itu menyengir kecil. "Kau tahu, lah. Dengan kondisi politik kalian yang seperti ini, media bisa jadi sumber uang terpercaya untukku."

Ludwig baru ingat bahwa kakak iparnya ini adalah seorang pemilik surat kabar harian multinasional yang sedang mendunia. Awalnya berbasis di Amsterdam, sekarang sudah sampai ke Berlin.

"Terus, untuk apa kau memberitahukan ini padaku? Kau mau menyuruhku berhenti dari kemiliteran dan jadi wartawan untukmu?"

"Tebakanmu kurang tepat, Beilschmidt. Begini, harus kujelaskan dulu. Aku akan menggunakan Gilbert sebagai bonekaku, anggap saja aku ingin mempersatukan Jerman Barat dan Jerman Timur. Aku sudah menghabiskan jutaan mark untuk membiayai sebuah partai underground kecil beraliran neo-liberal yang jumlah anggotanya tak lebih dari dua puluh lima orang bodoh yang sebenarnya hanya pengagum militer dan tak mengerti politik,"

Ludwig menghela nafas panjang. "Lanjutkan."

Abel tersenyum kecil. "Berhubung kurasa Gilbert cukup cerdas dan pandai bicara, aku akan memasukkannya ke partai itu supaya setidaknya aku punya bahan liputan 'panas' tentang Jerman Timur. Namun, seperti yang kuduga, ia tak mudah dibodohi. Bahkan, ia memberiku teka-teki. Kau mau tahu apa teka-teki yang ia berikan?"

"Apa?"

Si Pria Belanda menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya dan menyalakan cerutunya. "Bawakan aku seseorang di penghujung batas."

Emma datang dengan dua cangkir panas di atas nampan yang ia bawa. "Aku membuatkan teh hangat untuk kalian berdua."

"Bedankt, mijn liefste zus," ucap Abel pada adiknya. Emma kembali ke dapur.

Selama beberapa detik Ludwig tak bersuara. Ia hanya mengamati uap yang mengepul di atas cangkir tehnya sembari berpikir.

"Bagaimana, kau siap membantuku… Penjaga tembok?"

Tak ada jawaban.

Abel beranjak dari tempat duduknya.

"Baiklah, Ludwig. Begini saja: jangan lupakan pembicaraan kita barusan. Rahasiakan semuanya, jangan kau beri tahu siapa-siapa… Termasuk Emma. Kalau semisal kau menemukan jawaban dari teka-teki ini, kau harus memberitahuku secepat mungkin."

Ludwig ikut berdiri lalu menatap sepasang bola mata hijau milik kakak iparnya. "Sebelum itu, katakan: mengapa aku harus membantumu?"

Terjadi keheningan beberapa detik sebelum Abel menghindari tatapan mata biru Ludwig. "Karena kau adik iparku. Tak mudah melepaskan Emma untukmu, Beilschmidt."

Abel berbalik dengan cepat. Ia berjalan ke arah pintu dan meraih gagangnya. Namun sebelum itu, ia sempat berbalik dan mengatakan sesuatu yang bisa samar-samar terdengar oleh Ludwig.

.

"Emma adalah milikku dan kau tahu itu, Ludwig."

.


.

HALO SEMUANYA HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA TERNYATA BISA LANJUT JUGA INI FF.

Pake acara hamil-hamilan juga ini aduh moga nggak kayak sinetron, deh.

Bentar deh w mau nanya. Kalo satu chapter rata-rata isinya 800 words itu itungannya kependekan, pas, atau kepanjangan?

(INI MODUS SUPAYA ADA YANG NGE-REVIEW)

(KUROAKANE TUKANG MODUS)

(TUKANG KODE JUGA)

(TAPI MASIH JOMBLO)

.

yasallam

-kuroakane