SOAP
Harem ! Please
Murasakibara disini punya saya/eh
OOC
Murasakibara Atsushi mendengus sebal, pasalnya kini ia dikurung di dalam kamar super luas milik mantan kapten nya :Akashi Seijuurou: tanpa alasan yang jelas dan tanpa ditemani oleh satu orang pun. Singkatnya ia sendirian dalam ruangan tersebut.
Setidaknya alasan tersebut tidak akan begitu berpengaruh apabila tidak diperparah dengan tidak adanya satu cemilan pun yang merupakan nyawa tersendiri bagi seorang Murasakibara.
Tubuhnya yang tinggi menjulang tidak bisa duduk dengan tenang, sedangkan kedua tangannya ia remas satu sama lain seolah hendak menghancurkan sesuatu.
"Akachin ... akan kuhancurkan kau" gumamnya tertuju pada sang kapten bersurai merah yang entah sekarang berada dimana.
Kepalanya ia tundukkan sehingga matanya tertutup oleh helaian rambutnya yang memanjang.
"Lakukan saja jika kau bisa, Atsushi"
Suara itu ..
Dengan cepat Murasakibara mendongakkan kepalanya. Pintu besar laknat yang sedari tadi tertutup karena dikunci dari luar oleh pemiliknya, kini terbuka dan berdiri seorang manusia pendek otoriter yang berada tepat menghalangi jalan keluar tersebut.
"Akachin"
Suara itu terdengar sangat bersemangat, disertai dengan gerak tubuh secara refleks yang langsung berdiri menuju pemuda bersurai merah tersebut.
"Aku lapar. Aku butuh cemilan Akachin."
Murasakibar tau dengan sangat kalau mantan kaptennya itu kini sdang mengatur nafasnya, terlihat dari caranya yang mengambil nafas melalui mulut dan mengeluarkannyya melalui hidung dengan sangat teratur. Dadanya naik turun mengikuti pergerakan nafasnya.
Ia hanya tidak tau ..
Mengapa seorang Akashi Seijurou melakukan itu, seolah ia sedang melakukan sebuah pengendalian diri.
"Atsushi, menjauh dariku sejauh mungkin"
Itu perkataan mutlak. Nada tegas bercampur mengancam ada menjadi satu disana.
"Tapi Akachin, cemilan-" "Aku akan menyuruh Daiki untuk membeli kannya"
Dengan itu tidak butuh waktu lama untuk Murasakibara segera menjauh dan memilih duduk di kasur empuk yang ada disana.
Ia perhatikan bagaimana mantan kaptennya itu melihatnya sebentar sebelum kemudian berbalik keluar dan mengunci kembali pintu tersebut.
"Ah menyebalkan"
Umpatnya dalam hati sebelum akhirnya ia menjatuhkan diri di kasur empuk tersebut dan jatuh kedalam lubang mimpi.
"Daiki belikan sebanyak mungkin cemilan di toko terdekat secepatnya"
Akasi Seijurou dengan suara penuh penekanan berjalan menuju segerombolon pria dengan surai pelangi yang tengah berkumpul di ruang tamu rumahnya.
"Ano, Akashi-cchi kenapa-ssu ?"
Pertanyaan polos dari Kise Ryouta membuat sang tuan rumah mendelik marah.
"Cukup lakukan saja perintahku. Aku ini mutlak"'
Kise Ryouta mengkerut seketika
Aomine Daiki meneguk ludah kasar
Midorima Shintarou dengan tangan bergetar menaikan kacamatanya.
Dan ..
Kuroko Tetsuya yang berdiri diam dengan wajah datarnya.
Yah, Kiseki no Sedai saat ini tengah berkumpul di ruang –tepatnya rumah- milik sang mantan kapten. Penyababnya hanya satu,yaitu pemerkosaan –yang untung belum terjadi- yang menimpa Murasakibara Atsushi.
Setelah pertandingan kemarin –yang dimenangkan oleh sikecil Tetsuya dan tim basket sekolahnya Seirin- tiba-tiba saja mereka mendapat kan kabar dari Aomine dan teman parasitnya :Momoi Satsuki: melalui telefone kalau merek menemukan Murasakibara dalam keadaan yang cukup menggawatkan. Kontan saja, tidak butuh waktu lama untuk para anggota Kiseki no Sedai itu berkumpul di tempat yang telah momoi beritau sebelumnya dan melihat sang titan ungu terdiam-terduduk-terpaku disebuah bangku dengan Aomine Daiki yang ada sekitar 2 meter di depannya berwajah merah, kalau bisa dikatakan ber-blushing ria.
1 JAM Kemudian setelah Aomine kembali dari membeli cemilan,
"Kau berikan sendiri saja Akashi, aku tidak mau"
"Daiki .. berani kau memerintahku"
"Bu..bukan. Midorima, bawakan ini ke kamar, kau tidak melakukan apapun sejak tadi tchi~"
"Aku tidak mau nanodayo. Itu adalah tugasmu kalau kau mau kuingatkan"
"Hahh~, dasar wortel"
Twichh
"Eh .. ahahah, Aomine-cchi kejam-ssu. Kasian Midorimacchi kan !"
"Diam kau Kise, kau juga tidak melakukan apapun sejak tadi"
"Mouu, aku tadi membantu kok-ssu"
"Dari pada kalian mendebatkan sesuatu yang tidak penting, lebih baik cepat bawa cemilan itu ke Atsushi sekarang"
"Tidak mau /-ssu/nanodayo"
"Owhh, kalian berani melawan sekarang"
Gulpp
"Biarkan aku yang membawakannya, Akashi-kun"
"TIDAK BOLEHH /../../-SSU/NANODAYO"
"Huft"
Sudah terhitung 5 menit sejak remaja tinggi bersurai hijau itu berdiri didepan sebuah kamar dengan ukiran rumit yang terbuat dari pohon mahoni pilihan tersebut.
Tangannya yang berbalut kain kasa perlahan naik keatas meraih gagang pintu tersebut dan memutarnya dengan gerak slow motion.
Krak~
Pintu itu terbuka yang dengan cepat membuat si surai hijau aka Midorima menghela nafas. Entah karena gugup, atau merasa nervous.
"Murasakibara, aku bawakan cemilan dari Akashi-nanodayo"
Tidak ada sautan dari dalam yang membuat Midorima lebih memasukki kamar luas yang setara kamar hotel tersebut. Ia berjalan menuju sebuah meja kecil yang ada disana dan menaruh semua bawaannya.
Sekantung penuh Maibou. Sangat Murasakibara sekali.
Midorima mengalihkan pandangannya hingga terpaku pada sesosok tubuh dengan tinggi diatas rata-rata yang tengah tertidur dengan pulasnya di satu-satunya ranjang yang ada disana dengan posisi yang cukup tidak mengenakkan.
Bagaimana tidak, hanya setengah badannya saja yang berada di atas kasur dengan posisi tidur meringkuk tanpa bantal, sedangkan kedua kakinya menjuntai diatas lantai tanpa dialasi apapun.
Bisa diperkirakan, beberapa menit kedepan apabila pemuda itu tidak mengubah posisinya maka bisa dipastikan ia akan menrasakan apa itu yang namanya kesemutan.
"Oy, Murasakiba-SIAL"
Midorima menyentuh bagian dadanya dengan cepat. Bisa ia rasakan sendiri irama jantungnya yang berdegup cepat. Salahkan pemandangan didepannya yang ternyata semakin ia lihat dari jarak dekat, semakin menggairahkan.
"Apa yang aku pikirkan-nanodayo"
Wajah Midorima memerah. Dengan gugup ia naikkan kacamatanya yang sama sekali tidak turun dari posisinya, bahkan ia tidak sadar kalau kini keringat membasahi keningnya.
Dengan perlahan Midorima berjalan mendekat kearah Murasakibara yang masih tertidur.
Ia dudukkan dirinya di samping Murasakibara dengan sepelan mungkin seakan takut menimbulkan suara.
Indra penciumannya dengan telak dapat mencium sebuah aroma memabukkan menguar dari tubuh sang Center dari yosen tersebut. Tak bisa dihindari, si surai hijau maniak Oha-Asa itu lebih mendekatkan dirinya dengan tubuh didepannya yang membuatnya harus membungkuk.
Midorima bisa merasakannya. Sebuah sentuhan halus yang didapatkan bibirnya saat dengan sengaja ia tempelkan di pipi orang yang sampai kini masih tertidur itu.
"Jantungku. Rasanya iangin meledak-nanodayo"
Merasa tak mendapatkan reaksi atau perlawanan, Midorima meneruskan aksinya.
Pertama-tama ia hanya mengecupi pipi Murasakibara.
Kemudia ia berganti kekening.
Merasa tak puas, dengan was-was ia mengecup bibir pink yang ada didepannya itu.
Dan kini berakhir dengan Midorma yang melumat ganas bibir atas dan bawah manta rekan setimnya itu.
Posisinya sudah berganti diatas tubuh Muraskibara. Kedua tangannya menyanggah tubuhnya agar tidak terlalu membebani Murasakibara, sedangkan fokusnya masih pada uasaha melumat bibir sang lawan.
"Engh ..hah ..ha. Muro-chin"
Degg
Mata yang senada dengan surainya itu terbuka lebar
GOMEN CUMAN DIKIT. APDET NGEBUT. JARANG BUKA LEPPY. FOKUS PRAKTEK
