Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Inspiride by : OreImo

Summary : Punya adik perempuan yang sangat manis dan imut, hebat dan berbakat menjadi ninja, serta menjadi idola banyak orang tentu menjadi kebanggaan buat seorang kakak. Tapi itu tidak berlaku untuk Bolt, apa yang bisa dibanggakan dari adik perempuan yang sombong, egois, suka seenaknya, pemarah, dan ceroboh seperti Himawari? Tentu saja, TIDAK ADA. Disinilah kesabaran seorang kakak di uji. Simak saja ceritanya. . .

Genre : Family, Sci-fi, Adventure, Drama, & Romance

Rate : T

Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan

Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Kamis, 23 September 2015

Happy reading . . . . .

Sebelumnya…

Bolt membungkukkan badan lalu mengulurkan tangannya hendak menolong adiknya, namun ketika tangannya sudah dekat, satu gerakan menepis tangannya.

"Jangan sentuh!" ucap Himawari dengan nada ketus. Kemudian berdiri dari posisinya, menepuk pakaiannya yang kotor, lalu berjalan meninggalkan Bolt yang masih terdiam.

"Tanganmu sepertinya cedera. Kau berlatih sampai memaksakan dirimu? Orang kuat sepertimu untuk apa berlatih seperti itu? Apalagi dunia sekarang sudah damai" tanya Bolt datar bertubi-tubi. Bolt sudah tidak khawatir lagi, karena Himawari sudah bersikap seperti biasanya berarti itu cukup membuktikan bahwa dia baik-baik saja.

"Memangnya aneh kalau aku berlatih keras seperti ini?" tanya Himawari yang belum jauh berjalan. Dia berhenti sejenak tanpa membalikkan badan.

"Kurasa tidak, berlatih itu hal yang wajar kan?"

"Begitu. . . . . " Himawari berguman sambil terus berjalan meninggalkan Bolt.

My Cute Sister? Nonsense

By Si Hitam

Chapter 2. Adikku tidak akan pernah bersikap baik padaku

PLAKKK..

Sebuah tamparan dipipi membangunkan Bolt dari tidurnya, padahal masih tengah malam. Begitu sadar, dia terkejut dengan posisi Himawari yang berada diatas tubuhnya yang menduduki perutnya. Posisi yang sangat rawan akan godaan untuk seorang remaja pria seperti dirinya.

"Kau...?" Bolt bersuara agak keras.

"sssssssttt... Tenanglah !" perintah Himawari agar Bolt tidak bersuara keras-keras.

"Ngapain kau malam-malam begini dikamarku? Ini masih jam 1, aku baru saja tidur"

"Aku ingin bicara sebentar, kekamarku sekarang!" ucap Hima dengan datar.

"Apa tidak bisa besok saja?"

"Tidak" jawab Hima serius.

.

Setelah masuk ke kamar Himawari, Bolt sedikit takjub dengan dekorasi kamar itu. Memang sudah hampir 5 tahun Bolt tidak pernah menginjakkan kaki dikamar ini lagi. Himawari benar-benar anak praremaja. Bolt terus menatap seisi ruangan yang didominasi warna pink dan lavender serta banyaknya boneka yang ada disana. Padahal seharusnya sebagai ninja, Himawari tidak perlu barang-barang seperti ini.

"Hey, jangan seenaknya memandangi isi kamar orang"

"Siapa juga yang memandangi isi kamarmu" elak Bolt. "Jadi apa yang mau kau bicarakan?"

". . . " Himawari belum ingin menjawab.

"Cepat lah, atau aku kembali tidur lagi" ancam Bolt karena dari tadi Hima mengacuhkannya.

"Tadi siang kau bilang tidak menganggap aku aneh kan kalau memang aku latihan hingga melukai diriku sendiri?"

"Iya, memang kenapa?" jawab Bolt lalu balik bertanya.

"Itu beneran? Sungguh? Kau serius kan?"

"Katakan sekali saja cukup kan?" Bolt mulai kesal

"Kalau kau bohong, ku bunuh kau" ancam Himawari.

'di-di-dibunuh?' Bolt jadi merinding mendengarnya.

"Baiklah, sekarang kau duduk disitu" setelah menyuruh Bolt duduk dilantai didepannya, Himawari juga duduk disisi ranjangnya berhadapan dengan Bolt.

Himawari membuka perban ditangan kanannya, memperlihatkan tangan yang agak membiru sehingga membuat Bolt terkejut. Bolt tidak menyangka cederanya akan separah ini.

"Kenapa tanganmu? Padahal tadi siang kelihatannya tidak seperti ini? Bahkan juga tadi saat kita sekeluarga makan malam bersama tanganmu terlihat baik-baik saja" tanya Bolt.

"Ini efek dari latihan jutsu baru yang aku jalani. Aku memakai salep khusus klan hyuga, jadi luka bagian luarnya tidak kelihatan untuk sementara, jika efek salepnya sudah habis akan jadi seperti ini."

"Kenapa kau tidak kerumah sakit untuk mengobatinya?" tanya Bolt lagi.

"Aku tidak mau ada orang lain yang tau."

"Kau bisa ke Klinik Uchiha kan? Bibi Sakura pasti mau jika kau meminta merahasiakan ini"

"Aku tidak menyukai keluarga itu" jawab Himawari ketus.

". . ."

"Jadi, bagaiamana pendapatmu?" tanya Himawari.

"hhmmm, mengejutkan" jawab Bolt enteng.

"Yang lainnya?" tanya Himawari lagi dengan pandangan menyelidik.

'harus bilang apalagi ya?' pikir Bolt dalam hati.

"Jadi?" tanya Himawari sekali lagi karena sejak tadi Bolt kelihatan sibuk dengan pikirannya.

"Kurasa itu tidak apa-apa. Kau yang merasakan efeknya, jadi terserah kau kan."

Himawari jadi heran dengan jawaban Bolt yang seolah tidak peduli padanya.

"Sudah lah, mungkin sebaiknya aku bicara saja pada papa dan mama" Himawari jadi pasrah.

"Jangan . . ."

Perkataan Bolt membuat Himawari bingung, apa sekarang kakaknya itu peduli padanya?

"Kalau kau memberi tau papa atau mama, mungkin kau akan dimarahi. Kalau papa sih pasti akan menuruti apapun keinginanmu. Tapi kalau mama, pasti akan melarang kau melakukan latihan seperti itu lagi. Kau berlatih pasti punya alasan kan?"

Himawari tertegun, "oh, begitu?"

"Baiklah, aku akan membantumu. Akan kuusahakan agar papa dan mama tidak tau apa yang kau lakukan walaupun aku sendiri tidak tau harus bagaimana."

"Yang benar?" tanya Hima senang.

"Ya, kalau kau butuh sesuatu saat latihan, katakan saja padaku, tapi selama aku sanggup melakukannya saja ya"

"Benarkah?" mata Himawari berbinar-binar karena kegirangan, dia menjadi sangat manis dan imut sekarang.

Bolt mengangguk.

"Kalau begitu, keluar kau sekarang dari kamarku" perintah Hima dengan ketus.

'Keluar lagi sifat deh aslinya didepanku, huh' Bolt segera keluar dari kamar Himawari sambil merasa kesal, tadi dipaksa kekamarnya, sekarang malah diusir.

Bolt sudah berbaring diranjang kamarnya.

'Ngantuk, haaah dasar bikin kesal. Ga ada manisnya sama sekali jadi adik perempuan' rutuk Bolt dalam hati lalu melanjutkan tidurnya yang tadi sempat terganggu.

.

PLAKKK..

Tamparan itu sukses membuat Bolt bangun lagi.

"Kau . . . ?" Bolt kembali dikejutkan ketika Himawari membangunkannya dengan cara yang sama seperti tadi. Posisi yang masih rawan.

"Aku baru sebentar tidur. Sekarang kau mau apa lagi?" ucap Bolt dongkol.

"Besok siang, temui aku ditempat latihan ku tadi"

.

.

.

Lapangan luas dipinggiran konoha, tempat latihan Himawari yang jarang sekali didatangi orang lain.

"Sebenarnya latihan apa yang kau lakukan hingga tanganmu cedera parah seperti itu?"

"Membuat jutsu baru varian dari rasenshuriken milik ayah" jawab Himawari enteng.

Himawari menjelaskan jutsu baru yang tengah dilatihnya. Rasenshuriken berelemen es. Sebenarnya Himawari tidak memiliki kekkei genkai elemen es, tapi dengan penambahan elemen chakra lain pada rasenshuriken, akan terbentuk elemen sekunder. Didunia shinobi ada lima elemen primer, yaitu api, angin, petir, tanah, dan air. Namun disamping itu juga terdapat elemen lain yaitu cahaya dan kegelapan atau yang disebut Yin dan Yang.

Ketika dua macam elemen chakra digabung maka akan terbentuk elemen baru yang biasanya hanya dimiliki oleh suatu garis keturunan tertentu yang sering disebut kekkei genkai. Seperti elemen es milik Klan Yuki, adalah kekkei genkai yang merupakan gabungan dari elemen angin dan air. Ada juga elemen lava yang berasal dari elemen tanah dan api, serta elemen kayu gabungan dari elemen tanah dan air.

Himawari memiliki afinitas besar terhadap elemen angin, warisan dari Naruto dan Klan Hyuga. Klan Hyuga juga memiliki afinitas terhadap elemen angin namun karena Klan Hyuga sangat menonjolkan taijutsu khas klan, sehingga jarang menggunakan ninjutsu elemental. Selain itu, Himawari juga mewarisi darah keturunan Klan Uzumaki yang memiliki afinitas terhadap elemen air, walaupun Klan Uzumaki itu lebih juga terkenal dengan teknik fuinjutsu mereka.

Kesulitan jutsu rasenshuriken es ialah pada tingkat konsentrsai yang satu level lebih tinggi dari rasenshuriken biasa yang berlemen angin. Jutsu ini dibuat dengan tiga tahapan. Pertama dengan mengumpulkan chakra ditelapak tangan, memusatkannya sehingga membentuk suatu bola chakra yang berputar yang dikenal dengan rasengan biasa. Tahap kedua ialah dengan menambahkan perubahan bentuk chakra menjadi elemen angin, dengan ini putaran rasengan menjadi lebih tajam akibat dari elemen angin yang membuat lapisan tipis udara seperti pisau-pisau tajam tak kasat mata. Sehingga terbentuk seperti putaran shuriken dengan sebuah bola sebagai intinya. Dan tahap terakhir dengan penambahan elemen air. Elemen air akan mendinginkan rasenshuriken tersebut sehingga menambah efek kerusakan dari jutsu ini. Akhirnya dengan tiga tahapan itu terbentuk rasenshuriken baru, Hyuton : Rasenshuriken.

Himawari menunjukkan rasenshuriken es yang telah dia buat, Bolt terkejut melihatnya. Bolt kagum dengan penampilan jutsu ini, sangat indah. Dibanding resenshuriken elemen angin biasa berwarna biru dan membuat suara bising berupa dengungan yang cukup menyakitkan telinga disertai putaran angin kecang seperti badai disekitarnya, resenshuriken es milik Himawari tidak menimbulkan badai angin disekitar jutsu, yang ada hanya kabut tipis es berkilauan yang mungkin berasal dari partikel udara yang membeku. Rasenshuriken es Himawari juga tidak menimbulkan suara bising.

Tidak lama setelah itu, rasenshuriken es lenyap dari tangannya membuat Bolt bertanya.

"Kenapa kau hentikan jutsu itu? Hanya tinggal dilempar seperti rasenshuriken biasanya kan, aku ingin melihat seperti apa daya rusak jutsu barumu."

"Itu masalahnya, aku belum bisa melempar jutsu ini. Jika aku melemparnya, resenshuriken akan meledak tepat dihadapanku saat baru kulempar, itu menyakitkan. Karena itulah, aku sering membuat rasenshuriken ini ditanganku sehingga tangan ku cedera akibat kelamaan memegang jutsu seperti ini ditanganku. Andai saja aku dapat melemparnya, tangan ku tidak akan cedera seperti ini."

"Begitu?"

"Ya, sepertinya aku harus memiliki kontrol chakra yang lebih baik agar dapat membuat rasenshuriken ini lebih stabil"

"Kau bisa belajar dengan Bibi Sakura, beliau merupakan kunoichi yang memiliki kontrol chakra paling hebat dikonoha" pernyataan Bolt ini membuat Himawari mendelik tajam

"Aku tidak mau berurusan dengan keluarga itu, aku sendiri yang akan menyempurnakan jutsu ini" kata Himawari dengan serius.

"Aku tidak tau kenapa kau tidak menyukai mereka. Tapi ya sudah lah, sekarang aku ingin melihat jutsumu. Aku penasaran seperti apa memangnya kehebatan jutsu yang kau ciptakan itu hingga kau mengambil resiko sampai melukai tanganmu sendiri untuk menyempurnakannya. Coba kau arahkan jutsumu pada pohon itu" kata Bolt sambil menunjuk sebuah pohon yang ada disisi tanah lapang itu.

"Kau bodoh ya, tadi sudah kubilangkan jutsu ini akan meledak didepanku ketika aku melepaskannya? Aku tidak mau seluruh tubuhku yang cedera, sudah cukup tanganku saja yang ku korbankan" kata Himawari ketus.

"Ck, kau ini." ucap Bolt jengkel karena disebut Himawari bodoh. "Kau sekarang sudah dapat menggunakan hiraishin kan?"

"Ya, walau sekarang masih terbatas karena ada delay 30 detik setiap aku berteleport. Memang kenapa?"

"Kau gunakan hiraishin untuk berteleport ketempat yang lebih jauh untuk menghindari efek jurusmu ketika akan meledak"

"Benar juga ya? Kenapa aku tidak terpikir sebelumnya" gumam Himawari. kemudian dia melempar sebuah kunai hiraishin kepohon yang ada disisi lain tanah lapang itu.

Bolt bingung, "Untuk apa kau melempar kunainya sejauh itu?" tanya Bolt.

"Kau pasti belum tau betapa mengerikannya jutsu ini" jawab Himawari sombong.

"Terserahmu lah, buat rasenshurikenmu dalam ukuran kecil saja. Aku tidak mau menarik perhatian orang seperti yang kau lakukan kemarin" kata Bolt lalu berjalan kearah pohon dimana kunai hiraishin yang dilempar Himawari tadi tertancap.

Himawari tidak menjawab, dia duduk dan berkonsentrasi mengumpulkan senjutsu. Dia mengumpulkan chakra alam karena chakranya sendiri sudah berkurang banyak untuk menunjukkan rasenshuriken es yang tadi pada Bolt.

Setelah selesai, kelopak mata Himawari menjadi orange yang menjadi tanda bahwa dia telah memasuki sennin mode. Himawari membuat rasenshuriken es ditangannya, namun dalam ukuran kecil, berdiameter sekitar 20 cm. Setelah jutsunya siap, Himawari langsung mengarahkannya kepohon didepannya. Ketika rasenshuriken itu telah dilepasnya dan hendak meledak, Himawari segera berteleport kesamping Bolt.

(ket : sennin mode Himawari hanya membuat kelopak matanya berwarna orange seperti Naruto, tidak membuat pupil matanya berubah seperti sage katak pada umumnya, karena pada bagian matanya, byakugan Himawari lebih dominan daripada perubahan mata sage katak)

BOOOOMMMM. . . .

Terjadi ledakan yang cukup besar akibat jutsu baru Himawari. Bahkan gelombang kejut dari ledakan itu sampai dirasakan Bolt melewati tubuhnya.

Bolt melongo, dia sangat tekejut melihat betapa mengerikannya jutsu ini. Pohon yang tadinya rindang lenyap tak bersisa menyisakan kawah berukuran sedang tepat dimana tadi pohon itu berada. Bekas ledakan itu seperti membeku, terdapat banyak bunga es disana seperti sedang turun salju. Bahkan Bolt yang berdiri cukup jauh dari bekas ledakan tadi, merasa menggigil kedinginan karena efek suhu dinginnya sampai ditempatnya berdiri. Pantas saja saat aku kesini kemarin udaranya terasa dingin, ternyata itu karena efek jutsu yang dia latih.

"Bagaimana, hebat kan jutsu baru ku?" kata Himawari dengan sombongnya seperti meminta pujian dari Bolt.

"Kalau aku buat jutsu tadi berukuran besar dengan lebar beberapa meter menggunakan kekuatan penuh yang kumiliki, aku yakin aku dapat membekukan seisi kota Konoha dengan satu jutsu ini saja. Hahahaaaa" lanjut Himawari sambil tertawa sombong.

Bolt menatap horor kepada adiknya 'memang tidak salah dia disebut-sebut sebagai prodigy Uzumaki-Hyuga. Dengan kekuatan seperti ini, dia dapat melenyapkan hidupku dalam sekejap jika aku membuatnya marah' pikir Bolt dalam hati.

.

.

.

Malam harinya, keluarga Uzumaki makan malam bersama dengan anggota keluarga lengkap. Naruto sekarang tidak sesibuk dulu lagi dengan tugasnya sebagai hokage.

Setelah makan malam selesai, Hinata sang nyonya rumah ini memulai pembicaraan. Memang keluarga Uzumaki selalu makan dalam keadaan hening karena Hinata, putri bangsawan hyuga yang terkenal dikonoha terbiasa dengan adat seperti itu dan kebiasaan itu sekarang dibawanya kekeluarga barunya. Walaupun awalnya Naruto tidak terlalu suka suasana hening, namun karena dia pernah tinggal dikediaman hyuga yang mewah saat awal pernikahannya dulu dengan Hinata mau tak mau membuat Naruto harus terbiasa.

"Seharian ini kalian berdua sama-sama pergi ya?" tanya Hinata pada kedua anaknya.

Kedua anaknya tersentak akan pertanyaan Hinata.

"Kalau kau Hima-chan, kau pergi kemana saja?" tanya Hinata pada Himawari terlebih dahulu karena Hinata yakin kedua anaknya ini tidak mungkin pergi bersama-sama.

"Aku pergi jalan-jalan bersama teman setimku, Mama" jawab Hima.

"Apa ada anak laki-laki yang menggodamu? Soalnya tim kalian itu perempuan semua dan selalu menarik perhatian" tanya Hinata lagi penasaran.

"kami mengacuhkan mere. . . "

"Heh. . . Jadi ada laki-laki yang berani menggodamu Hima-chan?" perkataan Himawari dipotong oleh Naruto, dia kelihatan hendak marah. "Katakan pada Papa, siapa mereka! Apa mereka tidak takut denganku. Hokage terhebat sepanjang masa. Akan ku hajar jika mereka mengoda putri kecilku yang sangat imut ini" lanjut Naruto lagi.

Anggota keluarga Uzumaki hanya bisa maklum akan tingkah narsis dan daughter-complex kepala keluarga mereka. Tidak tau dari mana datangnya, yang jelas sifat Naruto seperti ini sudah ada sejak kelahiran Himawari.

"Sudahlah Naruto-kun. Lagian tidak ada yang berani berbuat macam-macam dengan Hima-chan. Dia sangat kuat seperti dirimu, jadi pasti bisa menjaga dirinya sendiri" Hinata memcoba menenangkan suaminya.

"Iya Papa, aku bisa jaga diri kok. Lagian aku hanya shopping tadi siang" kata Himawari.

"Hah, belanja lagi?" sekarang Hinata yang heran. "Untuk apa kau belanja lagi, lemari pakaianmu sudah penuh, rak sepatumu juga"

"Sudahlah Hinata" sekarang Naruto yang mencoba menenangkan istrinya. "Hima-chan belanja dengan uangnya sendiri, lagipula uang yang diperolehnya dari misi yang dia kerjakan sekaligus perkerjaannya sebagai model majalah remaja cukup untuk memenuhi kebutuhannya, jadi kau tidak usah khawatir."

"Bukan begitu Naruto-kun, hanya saja tidak baik bersikap boros dan menghambur-hamburkan uang seperti itu"

"Mungkin saja itu untuk kebutuhan Hima-chan sebagai model" Naruto coba mencarikan alasan untuk membela putri yang sangat ia sayangi itu. "Benarkan Hima-chan?" tanya Naruto kepada Himawari.

"Um, ya. . . . . Kalau begitu terima kasih atas makanannya" Himawari segera berdiri dan membereskan sendiri peralatan makannya lalu beranjak kekamarnya sendiri.

'Jadi tidak ada yang peduli padaku ya?' pikir Bolt sambil tersenyum miris karena yang dibicarakan sejak makan tadi hanya tentang Himawari.

.

Pagi hari, Bolt turun keruang makan, terlihat Naruto yang sedang membaca koran juga Hinata yang sedang mencuci piring bekas makan disana.

"Ohaiyo" sapa Bolt.

"Ini sudah siang Bolt-kun" balas Hinata

"Sudahlah, lagipula ini hari minggu kan Mama?" kata Bolt. "Lalu dimana Hima?" tanya Bolt pada ibunya.

"Kata Hima-chan, dia akan berlatih bersama teman setimnya. Belakangan ini dia jadi sering keluar rumah" jawab Hinata sambil menuangkan susu coklat hangat kegelas kosong yang ada didepan Bolt.

"Oh"

"Kamu juga, jarang-jarang menanyakan Hima-chan seperti ini"

"Bukannya begitu" protes Bolt dengan suara agak keras karena panik ibunya tiba-tiba menanyakan tentang Himawari padanya. Bolt cukup yakin kalau ibunya itu tau persis bagaimana hubungannya dengan Himawari, jadi hal yang sangat janggal jika Hinata bertanya tentang Himawari padanya.

"Bolt, jangan bicara dengan nada seperti itu pada ibumu" Naruto yang tadi membaca koran jadi agak marah karena Bolt seperti membentak Hinata.

"Ha'i, . . .Ettooo, aku juga akan pergi hari ini. Aku ada janji dengan Sarada"

"Oh ya, lalu bagaimana nanti dengan makan siangmu?" tanya Hinata pada Bolt.

"Nanti aku bisa beli diluar kok" jawab Bolt sekenanya.

.

Sore hari, Bolt yang sepertinya sedang kelelahan karena baru saja menemani Himawari latihan sedang duduk sendirian merelakskan badannya di bangku taman konoha. Banyak orang yang lalu lalang disana. Mungkin karena ini hari minggu jadi banyak orang yang sedang keluar rumah.

"Hey, kau kenapa?" tanya seorang gadis berkacamata pada Bolt.

"Oh, Sarada. ada apa?" Bolt tidak menjawab malah bertanya balik pada Sarada.

"Aku hanya lewat sini dan kebetulan aku melihatmu. Jadi aku menyapamu saja" elak Sarada dengan sedikit gugup. Padahal sebenarnya Sarada bukan kebetulan lewat, dia memang sengaja mencari Bolt karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu karena kesibukan Sarada membantu ibunya di klinik. Mungkin saja Sarada rindu pada lelaki berambut pirang itu. "Kau kelihatan lelah, apa yang kau lakukan seharian ini?" tanya Sarada lagi dengan nada datar, lalu duduk disamping Bolt.

"Tidak juga, aku hanya membantu Hima latihan tadi sebentar"

"Eh, sejak kapan kau membantu Hima-chan latihan? Setauku kau tidak pernah akur lagi dengan adikmu"

"Yah, sejak aku tau dia melakukan latihan diam-diam. Dia latihan sampai membuat tangannya sendiri cedera. Aku tidak tau untuk apa ia latihan keras seperti itu."

"Kurasa pasti ada alasannya Hima-chan berlatih seperti itu. Aku juga selama ini berlatih keras hingga seperti ini karena aku ingin diakui, bukan karena aku adalah keturunan uchiha yang hebat, namun aku ingin diakui sebagai diriku sendiri. Karena hanya dengan itu aku akan berhasil meraih impianku sebagai hokage. Seperti yang dikatakan Nanadaime-sama, hanya orang yang diakuilah yang akan menjadi hokage."

Bolt tersenyum mendengar Sarada berkata seperti itu. Dulu saat Sarada mengatakan ingin menjadi hokage, Bolt menganggap itu adalah hal konyol. Itu dulu, karena Bolt saat itu membenci ayahnya yang selalu sibuk dengan tugasnya. Namun sekarang, Bolt jadi iri dengan Sarada yang sudah memiliki impian dalam hidupnya, sementara dia sendiri hanya orang biasa yang bermimpi ingin hidup biasa-biasa saja. Sungguh mimpi suram seorang pemalas.

.

.

.

"Tadaima" Bolt masuk kerumahnya saat hari sudah mulai gelap. Dia heran karena tidak ada yang menjawab salamnya, lebih tepatnya suasana rumahnya yang sepi. Walaupun memang biasanya hanya ibunya saja yang mau menjawab salamnya.

Ketika Bolt masuk keruang keluarga, dia terkejut melihat Himawari duduk berhadapan dengan ibunya. Perban yang biasanya melilit ditangan Himawari sekarang tergeletak begitu saja diatas meja. Tangan Himawari yang tidak lagi tertutup perban kelihatan membiru dan lebih penting lagi Hinata, ibu mereka tampak marah, atau lebih tepatnya menampakkan raut wajah khawatir sekaligus kecewa. Himawari hanya duduk didepan Hinata dengan menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ibu mereka.

Naruto yang melihat Bolt pulang mengajak Bolt menjauh dari ruangan itu.

"Papa tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Saat papa pulang tau-tau sudah seperti ini. Tapi sepertinya Hima-chan tidak sengaja menjatuhkan gelas yang dipegangnya saat dia mengambil minum. Mungkin karena mama mu merasa ada yang janggal, lalu dia menggunakan byakugannya, dan jadilah seperti sekarang" kata Naruto menjelaskan situasi dirumah sekarang.

Bolt sedikit tersentak dengan kata-kata Naruto

"Kau kelihatannya tidak terlalu kaget, jangan-jangan kau sudah tau mengenai cedera itu Bolt?" tanya Naruto penasaran.

"Eh. . Apa?"

"Tau kalau Hima-chan mempunyai cedera yang cukup parah ditangannya" lanjut Naruto lagi.

"Ya, aku memang tau. Itu akibat dari efek samping jutsu baru yang dilatihnya"

"Hah?, Memangnya Hima-chan melatih jutsu apa sampai tangannya cedera seperti itu?" tanya Naruto terkejut karena pernyataan dari putranya.

"Varian dari rasenshuriken. Dia belum bisa melemparkan rasenshuriken barunya. Karena terlalu lama rasenshuriken itu berada ditangan Hima, makanya tangannya bisa seperti itu" jawab Bolt singkat dan jelas agar Naruto paham. Bolt cukup tau kalau ayahnya ini masih bodoh kalau berhadapan dengan teori, walaupun sekarang sudah menjadi hokage.

"Kenapa baru kau katakan sekarang? Aku bisa membantunya melatih rasenshuriken kalau dia mau" tanya Naruto sewot, karena merasa Himawari lebih percaya pada Bolt dibanding dirinya sendiri sebagai ayah.

"Aku juga tidak tau apa alasan Hima papa"

"Ya sudah lah. Ibu kalian itu hampir tidak pernah marah, tapi siapa sangka akan jadi seperti ini"

Cccklek.

Pintu ruang keluarga terbuka. Himawari muncul dari balik pintu sambil menangis, dia lalu berlari keluar dari rumah.

"Bolt, lebih baik kau kejar Hima-chan. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa karena lari dari rumah dalam keadaan seperti itu." perintah Naruto pada anaknya.

'Sialan, dia kaburnya cepat sekali' umpat Bolt dalam hati ketika dia baru saja keluar dan berada didepan rumah, Himawari sudah tidak terlihat lagi.

.

Setelah cukup lama mencari, Bolt menemukan Himawari sedang memukul-mukul sebuah pohon di samping akademi ninja, bahkan pakai jutsu Jyuken lagi. Sambil teriak-teriak mengumpat "Bodoh, menyebalkan, bodoh. Sialaaan . . ." tepat pada pukulan terakhir, Pohon itu roboh.

Puk,

Kepala Himawari ditepuk Bolt dari belakang

"Yang bodoh itu kau. Tanganmu akan terluka lebih parah jika kau memukul-mukul batang pohon dengan beringas seperti itu"

Bukkk,

Himawari menggunakan sikunya untuk menyikut wajah Bolt yang dibelakangnya. menyebabkan Bolt terpelanting.

"Aarrrrgggh" Bolt meringis kesakitan karena memar diwajahnya.

"Oh, ternyata kau. Mau apa kau kesini?" tanya Himawari dengan nada kesal.

"Kau kabur dari rumah, makanya aku mencarimu."

"Untuk apa mencariku? Dasar menjijikkan" kata Himawari pada Bolt sambil memalingkan wajahnya.

.

Mereka berdua, Bolt dan Himawari sedang duduk dibangku dekat lapangan sparing akademi ninja. Himawari sudah puas setelah melampiaskan kekesalannya dengan merobohkan satu pohon dengan tinjunya ditambah membuat memar diwajah kakaknya. Sekarang Himawari merasa lebih tenang.

"Jadi apa yang dikatakan mama tadi?" tanya Bolt.

Himawari menggeram kesal dan mengepalkan tangannya.

Flashback

Mama tidak pernah protes apapun yang kau lakukan Hima-chan, kau bebas menentukan jalan hidupmu. Kau ingin menjadi ninja yang hebat dengan selalu berlatih keras, Mama tidak pernah melarangmu.

Tapi yang ini berbeda Hima-chan, kau berlatih sampai membuat tanganmu cedera parah seperti ini, apa kau tidak memikirkan keadaan tubuhmu? Sekarang dunia ninja sudah damai, tidak seperti saat Mama masih muda dulu, semua berkat kerja keras papamu. Jadi kau tidak perlu latihan seperti itu. Mama rasa latihan membuat jutsu mematikan seperti ini tidak berguna lagi sekarang.

Jika kau tetap ngotot melanjutkan latihan yang seperti ini, Mama terpaksa harus menghentikanmu. Mama hanya khawatir padamu, Mama tidak ingin kau kenapa-kenapa Hima-chan.

"Mama menyebut latihan ku tidak berguna. Padahal aku sudah susah payah memikirkan bagaimana membuat jutsu ini, bahkan mengorbankan tanganku hingga cedera seperti ini" kata Himawari sambil mengeratkan kepalan tangannya yang berada diatas pahanya.

"padahal, hiks, . . Aku hanya ingin . . . hiks aku tidak bisa berkata apa-apa lagi didepan mama", lanjut Himawari lagi. Kali ini sambil terisak dan air mata mengalir dipipinya

Bolt memberikan sapu tanganya pada Himawari. Himawari menyeka air matanya.

"Mama hanya khawatir padamu. Normal saja kan, setiap orang tua juga pasti tidak ingin anaknya terluka" kata Bolt bijak. "Aku yakin kau sudah tau apa yang akan terjadi pada mama jika dia sampai tau tentang hal ini. Dan sekarang karena mama sudah tau, jadi kau harus memilih." lanjut Bolt sambil menatap tajam kearah Himawari.

"Kau menyuruhku menghentikan latihan ini, padahal sedikit lagi aku akan berhasil menyempurnakannya" balas Himawari tidak terima.

"Kau itu sempurna, tidak sepertiku. Kau memiliki banyak bakat sebagai ninja, kau sudah cukup kuat, dan kau juga sangat cantik, kehidupanmu didunia modeling menjanjikan masa depan yang bagus, jadi tanpa jutsu ini pun kau memiliki kehidupan yang sempurna"

"Aku tau" kata Himawari dengan keras. "Tapi tidak bisa, aku tidak bisa menghentikannya, dengan jutsu ini aku yakin aku dapat mencapai impianku" lanjutnya lagi.

"Aku tidak tau apa impianmu. Tapi dimata mama, apa yang kau lakukan itu berbahaya. Mama pasti akan menghentikanmu jika kau tetap keras kepala"

"Meski begitu, aku takkan berhenti, aku takkan menghentikan ini sampai aku berhasil. Jika aku berhenti sekarang dan membuang impianku, maka aku bukan diriku lagi" kata Himawari dengan serius.

"Sudah kuduga. Baiklah, jawaban mu tadi tidaklah buruk"

Jawaban Bolt barusan membuat Himawari bingung.

"Hima, serahkan saja masalah ini padaku"kata Bolt meyakinkan Hima.

.

Dirumah, ketika hampir malam. Bolt menjelaskan pada Naruto bahwa Himawari akan pulang sebentar lagi, dan meminta agar dirinya diberi kesempatan berdua dengan Hinata. Naruto pun hanya bisa memberikan kata penyemangat pada Bolt.

"Mama" Bolt menyapa Hinata yang baru saja hendak memasak.

"Ada apa Bolt-kun?"

"Ini tentang Hima" jawaban Bolt ini membuat kegiatan memasak Hinata terpaksa ditundanya dulu. Mereka berdua duduk berhadapan dengan dibatasi meja makan.

"Sepertinya kau sudah tau lebih dulu dari mama kalau Hima-chan mempunyai cedera ditangannya?" Hinata memulai pembicaraan serius dengan sebuah pertanyaan.

"Ah, iya" jawab Bolt.

"Lalu?"

"Mama, aku ingin Hima diijinkan meneruskan latihannya. Hasil latihan Hima menunjukkan perkembangan, latihan yang dijalaninya sedikit lagi selesai, bahkan cedera ditangannya sudah berkurang daripada sebelumnya" Bolt mencoba menjelaskan.

"Eh, jadi sebelumnya cedera Hima-chan lebih parah dari sekarang?" tanya Hinata dengan nada marah.

Bolt terpaksa merutuki dirinya karena baru saja mulai, sudah salah ngomong.

"Baiklah, Bolt-kun. Coba kau beritahu alasanmu mendukung keinginan Hima-chan yang ini." kata Hinata dengan lembut, dia ingin memikirkan hal ini dengan kepala dingin.

"Dia tau sendiri bahwa latihan ini berbahaya, tapi dia tetap melanjutkan latihannya. Hima pasti memiliki alasanya sendiri kenapa melakukan latihan seprti itu. Dia memang tidak memberitahuku apa alasannya tapi aku yakin apapun alasannya, dia pasti memiliki impian yang berharga baginya dibalik itu, dan Mama mengatakan bahwa latihan itu tidak berguna?. Jika Mama melarang latihannya, maka Mama sama saja membuang impiannya. Dan jika itu terjadi Hima akan kehilangan arah dalam kehidupannya."

"Bolt-kun, Mama berbicara tentang resiko latihan ini, apa kau akan puas jika impiannya tercapai namun harus mengorbankan tangannya? Jika Hima-chan terus mendapat cedera seperti itu ada kemungkinan cederanya tidak bisa sembuh dan tangannya cacat permanen" Hinata memberikan alasannya. Sebagai ibu, Hinata tentu merasa sangat khawatir dan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya.

"Kita semua tahu Mama, Hima itu sangat berbakat. Aku yakin dia pasti bisa menyelesaikan jutsu yang dilatihnya tanpa mengorbankan tangannya. Apa Mama tidak bisa mempercayai Hima?"

"Bukan begitu Bolt-kun. Ini adalah kewajiban Mama sebagai orang tua terhadap anak. Mama sangat menyayangi Hima-chan, jadi Mama tidak ingin dia terluka dan dia menyesal dikemudian hari" Hinata masih kekeh bertahan pada pendiriannya.

"Temanku pernah mengatakan, sebagai seorang ninja dia berlatih keras demi mencapai impiannya. Aku yakin Hima juga begitu. Mungkin sama seperti papa dulu, aku memang tidak terlalu tahu kehidupan seperti apa yang dijalani papa saat masih muda, tapi aku yakin Mama jauh lebih mengetahuinya. Kata orang, papa dulu adalah ninja yang tidak berbakat, dianggap lemah dan selalu diremehkan orang lain. Tapi dengan satu impian besar, impiannya menjadi hokage, papa mulai berlatih keras, selalu berusaha dan berjuang mencapai impiannya. Dan sekarang papa telah berhasil meraih apa yang dulu diinginkannya"

Hinata menjadi bingung, tidak ada siapapun yang lebih tau tentang Naruto dibanding dirinya sendiri. Hinata tahu pasti seberapa keras latihan yang dijalani Naruto dulu. Bahkan dirinya yang dulu, seorang Hinata yang dianggap lemah bisa bangkit menemukan jalan takdirnya sendiri karena termotivasi oleh usaha keras Naruto. Tapi kenapa sekarang dia tidak bisa melihat tekad yang diwariskan Naruto pada diri Himawari?

"Mama, ku mohon. Ijinkan Hima menyelesaikan latihan jutsu ini" Bolt mencari celah ditengah kebingungan Hinata. "Mama bisa mempercayakan Hima padaku. Aku yang akan mengawasi latihan jutsu baru Hima, aku akan menjamin cedera Hima tidak akan lebih parah daripada sekarang."

"Baiklah, Mama rasa untuk kali ini Mama harus mengalah lagi menuruti keinginan kalian. Tapi kamu harus berjanji pada Mama, kamu benar-benar akan menjaga adikmu kan?"

"Ya, aku berjanji. Dan sebagai anggota keluarga uzumaki yang sangat menjungjung tinggi sebuah janji, aku bersumpah tidak akan mengingkarinya" jawab Bolt bersemangat lalu segera memeluk Hinata sebagai bentuk terima kasih.

Hinata senang dengan keadaan putranya sekarang, Bolt menjadi lebih dewasa. Hinata tersenyum dan membalas pelukan anaknya.

.

.

.

Tempat latihan seperti kemarin, Himawari sedang berkonsentrasi dengan latihannya dan Bolt mengawasi dari tempat yang cukup jauh. Tiba-tiba muncul seorang gadis cantik berambut hitam panjang bergelombang dengan seragam khas jounin dibalik kepulan asap tepat disamping Bolt.

"Kau. . ?" Bolt terkejut setelah tau yang datang adalah jounin pembimbing tim Himawari. Mirai Sarutobi, anak dari guru ibunya. Seorang jounin muda berbakat yang usianya tidak terpaut jauh dengan dirinya.

"Jangan terkejut seperti itu. Nanadaime-sama telah menceritakan kejadian lengkapnya, jadi beliau meminta ku sebagai jounin pembimbing tim 7 untuk ikut mengawasi latihan Hima-chan. Walaupun kita tidak terlalu saling kenal, kuharap kita dapat berkerja sama dengan baik untuk membimbing latihan Hima-chan" kata jounin muda tersebut dengan senyuman.

"Baiklah" Bolt hanya menjawab pendek. Dalam hati ia merutuk 'Dasar orang tua pengidap daughter-complex. Apa tidak bisa dia mempercayakan hal ini padaku saja?'

"Kurasa latihannya hari ini cukup sampai disini saja. Tim 7 mendapat misi, jadi aku harus meminta mereka bersiap-siap sekarang" kata Mirai pada Bolt, lalu berjalan mendekati Himawari

"Hima-chan, tim 7 hari ini mendapat misi. Kau siap kan?" tanya Mirai pada Himawari

"Eh, Mirai-nee. Sejak kapan kau disini?" Hima agak terkejut karena baru menyadari ada orang lain yang melihat latihannya. Hima tidak memanggil jounin pembimbingnya dengan sebutan sensei, tapi Mirai-nee karena Mirai adalah kakak asuh Himawari saat ia kecil dulu.

"Baru saja, tidak usah terkejut seperti itu. Aku mendapat tugas dari Nandaime-sama mengawasi latihanmu" kata Mirai untuk menjawab keterkejutan Himawari.

"Oh, jadi misi apa Mirai-nee?" tanya Himawari langsung tanpa peduli dengan tugas khusus yang diperoleh Mirai dari ayahnya.

"Untuk detail misinya lebih baik kau datangi sendiri kekantor hokage. Aku juga sudah menghubungi Amaru-chan dan Ryu-chan jadi kalian langsung bertemu disana lalu mempersiapkan diri. Tapi aku tidak ikut pada misi kali ini, jadi hanya kalian bertiga yang berangkat. Kalau begitu aku pergi dulu, aku ada keperluan lain. Jaa" kata Mirai lalu langsung hilang via shunsin.

Bolt melihat Hima juga akan pergi setelah diberitahu tetang misi timnya.

'Dia mungkin sudah agak berubah sedikit, tanpa aku pun dia pasti baik-baik saja. Kurasa tugasku sudah selesai'

"Hei," panggilan Himawari menghentikan lamunan Bolt. "Eemmm, , Arigatou, Onii-chan" lanjut Himawari dengan pelan kemudian segera pergi dari tempat latihan itu menuju kantor hokage.

Bolt seketika itu langsung shock, walaupun Hima mengatakannya dengan pelan, namun Bolt masih dapat mendengarnya.

'Ini tidak mungkin, . . mustahil, . . tidak mungkin adikku barusan memanggilku semanis tadi'

.

.

.

To be Continued. . . .

Note : Ini dia lanjutan ceritanya, udah masuk inti cerita nih, jumlah wordnya udah lebih banyak kan? Terus juga karena semua chara Naruto New Generation sudah remaja, berikut daftar umur mereka.

Uzumaki Himawari – 14 tahun

Uzumaki Buroto/Bolt – 17 tahun

Uchiha Sarada – 17 Tahun

Naruto – 37 tahun

Sarutobi Mirai – 20 tahun

Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.

Kalau ditanya Himawari yang ternistakan, kayaknya engga juga deh.. Semuanya kok pada dinistakan, apalagi generasi seangkatan Naruto. Hahahaaa.

Saya Newbie, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.