The Smile of Pain
Chapter 2
Disclaimer: Masashi Kishimoto-sensei 5ever! (Kalo 4 kurang greget, sekalian aja tambahin jadi 5) :p
Setelah ber-high-five, mereka tersenyum berjamaah(?). Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri yang berisi taktik strategi perang gerilya melawan sikap dingin Pain(?!) kecuali otak Kakuzu. Yeah,biarpun kapasitas otaknya sebenarnya 120 GB, lebih besar daripada Itachi yang 'cuma' 119 GB (Jangan bilang-bilang lho nti saya disegel sama Totsuka no Tsurugi lagi), otak Kakuzu full dengan benda super ajaib bernama UANG.
"Oke deh, sampe ketemu 365 hari lagi di sini ya!"Seru Hidan sambil melenggang keluar markas. Yang lain menatapnya dengan tatapan mata seperti melihat maling bebas dari penjara.
"Lo mau kemana?" Selidik Sasori. "Pulang"jawab Hidan enteng. "PULANG?!" Seru Kakuzu keras-keras dengan suara 100 desibel pas, nggak bisa ditawar. Semua menatapnya heran. Soalnya kan mereka dah hafal tuh isi kepala Kakuzu cuma sebatas 'Dengan usaha seminimal mungkin mendapat hasil semaksimal mungkin'.
Wah, si kakek berjilbab dan bercadar ini nggak cuma rajin menabung dan menutup aurat juga ternyata, dia diam-diam peduli pada pimpinan organisasinya! Seru Konan dalam hati.
"HUAHAHAHAHAHA! EMANG LO PUNYA RUMAH ?!"Seru Kakuzu seperti kesurupan setan uang. "Lo kali yang gak punya rumah! Paling juga lo nebeng di Bank Konoha buat ngenyis minta duit kan?!" Balas Hidan. Waduh, imej Kakuzu yang sudah dibangun di hati Konan runtuh lagi deh.
"Jangan mimpi beli rumah lo, Hidan! Beli nasi semut aja lo nggak mampu!" Ejek Kakuzu lagi. "Biar gue nggak makan nggak minum nggak tidur seabad gue gak bakal mati !" Balas Hidan. Ohya, dia mulai menunjukkan kemampuan(atau kelainan)khusus-nya.
"DIAM!"Seru Konan dengan suara khas perempuannya(?)
"Tidak akan ada yang pulang! Untuk sementara ini kalian akan tinggal di Amegakure, silakan pilih menara yang paling kalian sukai asal jangan mendesain ulang besi-besinya, terutama kau, Deidara, Sasori, dan...Tobi!" Tunjuk Konan.
"Hah?Tobi kan anak baik, Konan-senpai! Nggak mungkinlah Tobi ngacak-acak desanya Reida-san!" Bantah Tobi lugu. "Kamu kan biasanya cuma ngekor ke Sasori dan Deidara"balas Konan.
"Jadi kita ngontrak disini nih?"Sahut Deidara. Konan mengangguk. "Nggak ah. Mendingan gue tidur diatas kotoran Kyuubi asal gratis daripada nginep di kantor Hokage kelas VVIP tapi bayar"tolak Kakuzu.
"Ini gratis, baka"Konan akhirnya melancarkan serangan terakhir.
"Gitu ya...?Oke deh gue mau, tapi gue sendirian aja ya, sibuk ngitungin uang nih. Gue gak mau kalo serumah sama dukun santet gila itu"desis Kakuzu sambil melirik-lirik Hidan. "Siapa juga yang mau serumah sama lo. Gue juga butuh keheningan biar bisa merasakan anugerah Dewa Jashin..."balas Hidan sambil berdesis pula. Ampun deh, memang mereka ular ya?
"Tobi serumah sama Deidara-senpai dan Sasori-senpai yaaahhh?" Seru Tobi sambil melakukan pups eye no jutsu. Hah, emang matanya keliatan apa?
"No, no, no, Tobi. Aku butuh konsentrasi untuk menghasilkan mahakarya-un"tolak Deidara. "Aku juga" sambung Sasori. "Aaahh, senpai gak bakal bisa nolak Tobi! Penolakan kalian adalah awal dari penyesalan kalian!" Seru Tobi sambil mencopy-paste gaya motivator MetroTVKonoha Mario Teguh.
"Kalau Tobi serumah sama Saso-senpai dan Dei-senpai, Tobi bakal nyuciin semua seragam kotor senpai-senpai!" Tobi berpromosi.
"Pelayanan apaan tuh?Hmm!"sambut Deidara sambil bersedekap.
"Tobi sapu lantai dari paling bawah sampai atas"
"Kurang"Dukung Sasori.
"Tobi pijitin senpai-senpai kalo disuruh"
"Masih belum-un"
"Tobi bakal nurutin semua perkataan senpai-senpai!"
"Dikit lagi"sahut Deidara dan Sasori bersamaan.
"Tobi bakal mandiin senpai berdua"
.
.
.
"Bakuton: C-3 !"
"SATETSU KAIHO !"
.
.
"Tobi, kurasa hadiah paling baik untukmu adalah dokter kejiwaan yang super duper sabar"kata Sasori sambil manggut-manggut. Waduh, sepaket pelayanan kelas dewa begitu (kecuali yang terakhir) mana ada yang bisa nolak? "Hmm, oke deh, lo boleh sama kami, Tobi"kata Deidara akhirnya.
"Arigato gozaimazu, Deidara-senpai! Sasori-senpai! Tobi janji gak bakal ngerepotin kalian deh!"Serunya sambil membentuk tanda silang di dada.
Deidara melirik Konan. Oh sial, sekarang mata kunoichi itu sudah berubah lebih menakutkan daripada mata Reida mereka sendiri. "Ehm, sebaiknya kita cepat-cepat memilih menara dan merencanakan kegiatan kita esok hari" desis Kisame pada yang lain. Segera saja mereka melakukan 'Seribu Langkah no Jutsu'.
Keesokan harinya
(Baca ini dengan suara seperti narator Spongebob)
Tepat pukul 05.00 waktu setempat, Pain mendengar deringan di handphone ***** miliknya. Huh, ternyata sms dari Itachi. Ngapain juga pagi-pagi begini dia sms?Pikir Pain. Segera ia membuka dan menyerbu kalimat- kalimatnya.
'Ada 3 pekerja kantoran, nama mereka Naruto, Sasuke, dan Sai. Suatu hari, lift di kantor mereka rusak sehingga tidak bisa digunakan, padahal ruang kerja mereka berada di lantai 30. Terpaksa mereka bertiga naik tangga manual. Agar tidak merasa lelah, mereka bertiga berjanji akan berbagi cerita. Naruto mendapat giliran pertama dan menceritakan cerita-cerita lucu. Mereka tertawa terbahak-bahak hingga tak terasa sudah sampai di lantai 10. Kini giliran Sasuke yang menceritakan kisah seram. Karena seram, mereka naik tangga cepat-cepat hingga tak terasa sudah berada di lantai 20. Terakhir, Sai menceritakan kisah-kisah sedih hingga membuat mereka menangis. Akhirnya ketiga pekerja itu sampai di ruang kantor mereka di lantai 30. Namun Sai berkata ia masih mempunyai satu kisah sedih lagi. Awalnya kedua temannya menolak mendengarkan, tapi Sai bersikeras untuk bercerita. Kisah itu adalah :
'Kunci ruang kantornya KETINGGALAN di pos satpam di LANTAI 1'
.
.
.
Pain terdiam. "Ckckck, kasihan sekali ketiga pekerja itu"gumamnya pendek. Dia TIDAK tersenyum samasekali. Dua meter dari situ, di jendela kamarnya, seekor burung gagak segera meninggalkan tempat bertenggernya semula dan terbang ke salah satu menara, hinggap di bahu shinobi berambut raven yang mukanya keriput.
"Gimana, Itachi-san?"Selidik Kisame yang baru keluar dari kamar mandi. "Gagal, Kisame-san"jawab Itachi dengan mata sayu. "Padahal itu sms terlucu yang pernah kubaca, saat aku tahu itu dari Suigetsu saja aku sampai sakit perut gara-gara kebanyakan tertawa"ceritanya.
"Hmm...kurasa aku harus coba yang lebih lucu lagi"sambung Kisame. "Ah, jangan njiplak dong, emang lo punya Sharingan?Bikin lelucon yang lain kalo bisa jangan ikut-ikutan pake sms"saran Itachi sambil mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.
"Eeehh!Jangan dibuka pintunya, Ita..."
BYUUUUUURRRR...!
"HAH?!Kok se-kamar mandi isinya air semua?!Kamar kita jadi banjir nih!Kalo ketahuan Reida-san lo bakal jadi hiu panggang, Kisame!"Omel Itachi. Kisame garuk-garuk kepala. "Hehe, gue kan hiu. Gue paling suka saat-saat mandi di negara yang berlimpah air, Itachi-san. Jadi ya sengaja gue buat banjir kamar mandinya biar gue bisa renang di dalamnya...lagian kan tadi gue keluarnya lewat atap, bukan lewat pintu"jelasnya. (*Samehada mengangguk-angguk membenarkan*).
"Tau gitu mending lo nyebur aja ke gorong-gorong Amegakure yang airnya banyak"balas Itachi.
"Pain, sarapannya sudah siap"panggil Konan dari ruang rekreasi. Hah? Bukannya harusnya di dapur? Eh, ruang rekreasi disini nyatu sama dapurnya, jangan salah.
Dengan wibawa 100% shinobi kelas-S mata ungu itu duduk di sofa. Dia mencari-cari remote. Konan tertawa dalam hati. Gak bakal ketemu, Pain! Remote-nya dah kusembunyiin! Sekarang jangan harap lo mau nonton acara berita melulu, pikirnya. "Konan, mana remote-nya?"Pain akhirnya bertanya. Konan duduk di sampingnya tanpa basa-basi dan mengeluarkan benda hitam persegi panjang dengan banyak tombol di permukaanya, mengarahkannya pada televisi.
Mereka tepat waktu. Di stasiun televisi ******, judul besar terpampang nyata dengan cetar membahana kece badai bagai zamrud khatulistiwa yang mendarat di Halim Perdana Kusuma...*PLAK!*
' : THE CRAZY PARTY'
Konan tersenyum tipis. Jutaan orang di seluruh dunia menyukai acara semi-bisu ini. Apalagi dari zaman Madara upilan Pain belum pernah sekalipun menontonnya. Setidak-tidaknya dia akan tersenyum.
Setelah beberapa adegan yang mengocok perut, Konan tidak tahan untuk tertawa. Dia melirik Pain. Ugh, wajahnya tidak berubah dari duduk di sofa sampai sekarang. Hmm, tapi bagian puncaknya belum, tunggu saja dia pasti tertawa-setidaknya tersenyum.
"Orang itu bodoh sekali ya, Konan-san"simpul Pain begitu acara selesai. Failed 100% dia tidak tertawa bahkan tersenyum samasekali. Konan menghela nafas. Acara pun gagal. Usaha kedua dari sembilan gagal. Pain mengambil alih remote dan memindah saluran ke TvOne. Dia tidak bisa tidur semalaman kalau belum melihat yang namanya berita dunia, sekalipun itu berita bejat-bejat ancur seorang anak berusia 5 tahun bunuh diri gara-gara ibunya tidak memberinya uang saku. Ok, ayo kita lihat yang lain!
Pain keluar menara untuk menghirup udara segar berbau hujan. Sebenarnya sih dari kemarin sengaja ia non-aktifkan jutsu hujannya karena para Akatsuki lagi ngontrak gratis. Mendadak Kakuzu menyikutnya dari samping. Pain meliriknya dengan ekor mata. Kakuzu angkat-angkat alis. Pain diam. Kakuzu geleng-geleng kepala. Pain diam. Kakuzu angguk-angguk kepala. Pain diam. Kakuzu angkat-angkat bahu. Pain diam. Kakuzu muter-muter bola mata. Pain diam.
BYUR ! Kakuzu jatuh ke kubangan air hingga semua pakaiannya basah. Pain tetap diam. "Ngapain lo Kakuzu?Stress gara-gara utang?" Selidik Pain masih dengan wajah datar. Kakuzu geleng kepala lalu kabur. Cih! Guru ekonomi Akatsuki kita menyerah hanya dengan beberapa aksi yang hanya cocok ditunjukkan untuk bayi?
Kini giliran Deidara. Dia mencolek pundak Pain lalu menunjukkan seringai triple-nya. Triple, karena kedua mulut di tangannya juga tersenyum. Pain mengangkat satu alis. Heran.
"Eh, Reida-san. Kenapa Rock Lee dari Konohagakure nggak bisa pake Ninjutsu?" Deidara melancarkan serangan pertama. "Itu sudah takdir"jawab Pain beberapa detik kemudian. "Bukan, Reida-san! Itu karena dia mau beda sama yang lain, nggak pake ninjutsu-ninjutsu gitu-un,hehehe"Deidara terpaksa tertawa.
"Oh"jawab Pain pendek.
Deidara belum menyerah. "Reida-san, tau nggak kenapa Madara sama Hashirama tarung mati-matian di Valley of the End?"Dia melancarkan serangan kedua. "Ya jelas dong Madara kan beda pendapat sama Hashirama"jelas Pain sesuai dengan buku sejarah.
"Bukan, Reida-san! Itu karena Hashirama udah dapet cewek, udah dapet Mito Uzumaki sementara Madara masih jomblo-un!HAHAHA!"Kali ini mulut di kedua tangannya ikut tertawa.
"Oh"
Deidara masih belum menyerah walau sudah dua bom meledak berusaha menghancurkan semangatnya. "Reida-san tau nggak kenapa Hanzo dan Danzo bekerjasama-un?"Deidara melancarkan serangan lagi. Pupil Rinnegan Pain membesar. Dia memang sensi kalo ada yang nyebut nama 'Hanzo'. Dasar Hanzo si kecebong! Beraninya sama anak kecil doang! Buktinya sama gue juga langsung klepek-klepek! Ngapain juga dia nyimpen dua botol minum yang terhubung sama maskernya, dasar pimpinan gila, umpat Pain dalam hati.
"Nggak"Pain menjawab malas-malasan berusaha menahan amarah.
"Karena nama mereka hampir sama, cuma beda H dan D"jawab Deidara.
"Oh"
...
...
...
Ingin rasanya Deidara meledakkan diri dengan C-4 disitu sekarang juga. Tiga teka-teki yang menurutnya sangat lucu samasekali tidak berhasil membuat pimpinannya tertawa, bahkan tersenyum !
Pain melenggang pergi dengan santai meninggalkan Deidara yang tak habis-habisnya berpikir. Mungkin dulu pas masih kecil dia dicuci otak sampe lupa caranya tertawa dan tersenyum, Deidara berhipotesis.
-TBC-
Chapter 2 selesai! Di chapter berikutnya kita saksikan usaha Kisame,Duo Zetsu,Sasori,Tobi,dan Hidan!Apakah mereka membuat Pain tertawa atau sebaliknya?Arigato untuk review Anda semuanya!
NB:Sebenarnya gue juga benci kalo udah njelasin panjang-panjang (terutama sms) ternyata cuma dijawab 'Oh' doang -_-
-Nih dia review dari review:
Benafill McDeemone: Haha,sama,wali kelas saya juga sampe gemes buat segala cara biar saya tertawa. Walhasil saya maksimal cuma senyum aja...
sthefanyy KURAWA: YOSH! (y)
Aoi Uzumaki: Nih dia Chapter 2 Update !
BlueBubbleBoom: Ahay, saya agak bingungnya itu harusnya feminin apa feminim ? :DD
akbar123: Ketawa sendiri waktu baca fic itu hal BIASA... Soalnya saya juga sering kaya gitu koq...
