Years at Hogwarts


Green Shooter Nanodayo proud to publish a fiction.

Cast : Albus Potter, Scorpius Malfoy, Rose Malfoy, OC, and Many More

Disclaimer of this fiction is belong to me. But, the cast is belong to Mrs. J. K. Rowling

I'm sorry for the typos. But, i wish i get your criticsm on Review.


A/N : This is the second chapter of this fiction. Dan terima kasih untuk satu reviewnya, karena saya kira saya tidak akan mendapatkan satu review pun. :)


Chapter sebelumnya :

...

Mereka-pun berujar bahwa di perpustakaan mungkin akan lebih dapat membantu mereka apabila membutuhkan beberapa referensi. Kemudian mereka masuk ke perpustakaan.

"Oke, kita mulai dengan mengerjakan esai mantra. Mungkin lebih baik kita mencari buku tentang mantra levitasi―Madam Pince, Madam Pince, apakah ada buku tentang mantra levitasi?" Panggil Rose, Madam Pince pun mendekat.

"Ada, kebetulan sekali sedang akan kukembalikan ke tempatnya. Ini." Tawarnya pada Rose.

Mereka menyalin buku itu dalam diam. Karena Al tidak diberi esai, ia hanya membaca buku dengan judul 'Tanaman Air Utara dan Kegunaanya' sambil sekali-kali menganggukan kepalanya tanda paham.

"Hah, selesai. Eh, astaga. Sudah hampir jam malam. Bagaimana kalau kita segera ke asrama kita?" Dan mereka segera kembali ke Gryffindor common-room.


Setelah terengah-engah berlari karena takut akan ketahuan sedang berada di koridor oleh Mr. Filch si-tua-bangka-menyebalkan-yang-sangat-suka-sekali-menghukum-orang ‖―begitu kata mereka. Sekarang mereka sudah berada di Gryffindor common-room.

Gryffindor common-room sudah sepi sekarang. Lampu dari lilin dan lentera yang menerangi bahkan sudah dinyalakan dengan cahaya redup.

"Sepertinya mereka semua sudah tidur. Astaga. Bagaimana kita bisa mengerjakan esai kita disini? Ini sangat gelap." Keluh Rose

"Bagaimana kalau kita kerjakan esainya besok saja. Toh waktu deadline-nya masih lama." celetuk Scorpius.

"No way! Setidaknya kita harus mengerjakan hari ini. Kata mummy-ku kalau ada esai yang ditugaskan hari itu, lebih baik dikerjakan hari itu juga agar tidak repot kedepanya. Supaya tidak terburu-buru. Jadi nilai esai kita nanti maksimal." kata Rose panjang lebar.

"Memang ada benarnya juga sih, Aunt Hermoine. Jadi tidak terburu-buru." kata Albus

"Yah, baiklah, nampaknya aku kalah suara. Jadi?"

"Jadi apa?" Tanya Peter.

"Bagaimana cara kita mengerjakan esai jika cahaya dari lilin dan lentera-lentera diatas sangatlah redup?" jelas Scorpius.

"Mungkin Al tahu mantra untuk menambah terang lilin dan lentera."

"Yah, mungkin. Aku belum pernah mencoba juga sih."

"Tunggu apa lagi? Ayo coba."

"Engorgio" Al mengucapkan mantranya.

BRUSH! Api menyembur sangat besar.

"Reducto" Al mengucapkan mantra kebalikannya.

Semuanya terpekik. Untung tidak terlalu keras sehingga tidak membangunkan anak-anak Gryffindor lainnya.

"Kurasa itu terlalu besar Al." kata Liam.

"Yah, itu memang terlalu besar. Aku mengakuinya. Tapi mungkin aku tahu mantranya."

"Baiklah. Try then."

"Minio Engorgia" kata Al pelan, dengan konsentrasi. Dan benar saja, cahaya di common-rrom menjadi terang karena api mulai membesar. Tidak seperti tadi, yang apinya terlalu besar.

"Wow. Itu sangat keren, Al!. Hebat sekali kau sudah menguasai banyak mantra. Padahal hanya sedikit yang aku bisa." ujar Kian.

"Ah, tidak kok. Hanya kebetulan aku sering minta diajari Dad. Yasudah, ayo kita mengerjakan esai herbologi dan segera tidur agar besok pagi kita tidak bangun terlalu siang."

"Tapi bagaimana kita mengerjakannya? Tadi kita lupa meminjam buku herbologi pada madam Pince." sesal Rose.

"Sudah. Tenang saja. Aku punya buku tentang pupuk. Aku ambil dulu yah." Al kemudian naik menuju kamarnya, untuk mengambil buku yang ia maksud. Setelah ia menemukannya, ia langsung kembali turun ke common-room.

"Wah, untung sekali kau punya Al. Apakah kau membeli buku ini di Diagon Alley?" tanya Scorpius.

"Tidak, aku diberi oleh Uncle Neville."

"Neville? Apakah yang kau maksud adalah Prof. Longbottom?" tanya Kian.

"Iya. Memang kenapa?"

"Dia pamanmu? Dia kan pengajar herbologi untuk tahun ke tiga dan seterusnya. Kau tahu? Yah karena Prof. Sprout sudah cukup tua untuk menghadapi tanaman-tanaman berbahaya."

"Iya. Dia memang hebat." jawab Al.

Al menjelaskan semuanya secara runtut dan jelas. Sedang teman-temannya menyalin apa yang Al katakan "... Pupuk yang terbuat dari pembusukan rumput laut dari timur-tengah juga sangat terkenal akan kandungan nutrisi untuk tanaman-tanaman sihir. Dan blah―blah."

"Huaaah. Tanganku pegal sekali." Keluh Scorpius.

"Tapi dengan begini kita bisa santai karena esai kita sudah selesai bukan?" kata Rose bijak.

"Aku mengantuk." celetuk Kian. Sedangkan Liam dan Peter sudah menguap sangat lebar―seperti kuda nil mungkin.

"Yasudah, ayo bereskan ini semua dan tidur." Mereka membereskan segala perlengkapan mereka dengan sambil menguap berulang-ulang.

"Goodnite." kata mereka saling membalas satu sama lain. Lalu mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Berganti piyama. Lalu tidur.

Al terbangun ditengah tidurnya. Bukannya tidur lagi, ia malah mendudukan dirinya di pingiran tempat tidurnya. Ia lalu mengambil buku mantra―yang menurutnya buku bacaan―dalam diam. Setelah kira-kira satu jam, Al kembali tidur hingga keesokan harinya saat sinar matahari sudah mencuri-curi jalan masuk melalui kaca yang ada di kamar Al dan kawan-kawannya.

.::o0o::.

Denting piring yang beradu dengan garpu dan pisau terdengar bergema di aula besar. Ya, mereka semua sedang sarapan. Al memilih menyantap sandwich dengan telur setengah matang dalam diam. Setelah dirasa perutnya kenyang, Al kemudian berjalan-jalan untuk mengeksplorasi bagian-bagian dan ruangan-ruangan Hogwarts yang belum ia ketahui. Kenapa al tidak masuk kelas? Sekarang hari minggu, tentu saja saat untuk bersantai dari kesibukan padatnya kegiatan belajar mereka sebagai murid Hogwarts.

Rose lebih memilih ke perpustakaan untuk mengisi waktu luangnya. Scorpius dan Trio Auckland lebih memilih untuk mebayar hutang kurang tidurnya akibat semalam mereka tidur terlalu larut.

Mulai dari ruang piala, hospital wing, bahkan sampai lapangan quidditch pun ia datangi. Sebenarnya Al sudah sangat ingin sekali menaiki sapu terbang. Namun ia belum diperbolehkan oleh sekolah. Selain karena belum tahu cara terbang, ia juga tidak mempunyai sapu terbang. Terkadang, Al iri dengan Daddynya karena ia benar-benar hebat dalam hal terbang dengan sapu.

Setelah Al merasa lelah, ia lalu menyusul Rose diperpustakaan. Karena menurutnya perpustakaan adalah tempat yang nyaman karena di sana Ia bisa menemukan ketenangan.

"Rose." panggil Al sambil berbisik.

"Ada apa?"

"Boleh aku duduk di sebelahmu?"

"Tentu."

"Kau sedang baca apa?"

"The Tales of Beedle the Bard."

"Wah, aku menyukai buku itu. Ngomong-ngomong cerita apa yang kau suka?"

"Babbity Rabbity, mungkin. Kau?"

"Aku lebih suka The Deathly Hallows sebenarnya."

"Ah. Uncle Harry kan punya ketiga itu."

"Yah, dahulu. Namun ia telah membuang tongkat elder di jurang dekat hogwarts, dan membuang batu kebangkitan di hutan terlarang. Satu-satunya yang Dad punyai hanyalah jubah invisible, yang bisa membuat kita tak terlihat."

"Waah. Sepertinya itu hebat."

"Yah, memang. By the way, kau berada disini sejak kapan?"

"Aku? Yah setelah sarapan aku kesini. Kau sendriri setelah sarapan kemana dulu?"

"Aku berkeliling sekolah. Cukup menyenangkan sih. Hampir semua lantai sudah aku jelajahi. Kakigu pegal sekali."

"Kau tidak tidur seperti Scorpius dan yang lainnya?"

"Aku tidak bisa tidur di pagi hari."

"Oh, mereka sungguh seperti beruang."

"Haha, kau ada-ada saja Rose."

"Ngomong-ngomong. Kenapa kau tidak mengajakku. Pasti asik berkeliling di sekeliling sekolah."

"Aku tadi mau mengajakmu. Namun kau sedang mengobrol bersama teman-teman cewekmu. Aku tak mau mengganggu."

"Ooh, lain kali mengajakku ya."

"Oke. Eh, liat kau membaca aku jadi ingin membaca buku disini. Sebentar ya, aku mau mengambil buku dulu."

"Yah, silahkan." Al lalu pergi meninggalkan Rose untuk mencari buku yang akan ia baca. Al langsung berjalan menuju seksi buku-buku mantra―Al memang sangat tertarik dengan mantra. Setelah mencari-cari, Al menemukan mantra berjudul "Mantra Simple Untuk Keseharian". Lalu ia berjalan kembali ke Rose.

"Sudah menemukan bukumu, Al?"

"Yah, sudah. Ini, judulnya Mantra Simple Untuk Keseharian."

"Wooah, kau memang sangat tertarik dengan mantra ya?"

"Yah, bisa dibilang begitu sih. Kau tau, mantra itu sangat berguna."

"Yah, aku percaya. Jika kau tak bisa mantra twntunya tadi malam kita tak bisa mengerjakan Esai herbologi."

"Hehe. Itu hanya kebetulan aku tahu mantranya."

"Tidak, Al. Itu bukan kebetulan. Sebelum kita sekolah di Hogwarts, saat aku berkunjung ke rumahmu aku pasti melihat kau sedang mem-praktekkan mantra-mantra dari buku ayahmu."

"Wah, diam-diam kau stalker ku ya?"

"EH. Bukan. Kau terlalu percaya diri."

"Boleh kan?"

"Yah, aku tau."

"Ngomong-ngomong besok pelajaran kita apa saja, Rose?"

"Besok? Jam pagi ada Pelajaran Terbang dengan Ravenclaw, Jam siang ada Mantra dengan Slytherin, Jam sore ada Ramuan dengan Hufflepuff."

"Wah tak terduga. Aku sudah tidak sabar untuk besok."

"Kau sudah tidak takut lagi dengan Slytherin?"'

"Tidak, tapi lebih baik karena sekarang aku sudah bisa mengabaikannya."

"Oh."

"Yasudah, ayo kita ke common room. Kurasa membaca buku di sana akan terasa lebih nyaman." Usul Al.

"Ya, itu ide bagus."

Setelah meminta izin pada madam Pince untuk meminjam buku itu, mereka lalu ke common room. Ramai? Iya, common room saat ini memang ramai. Tapi untunglah, dua kursi di pojok sana kosong. Lalu mereka berjalan ke arah kursi itu. Sayangnya, saat mereka berdua hampir sampai ada dua anak yang sudah menduduku dua kursi kosong tersebut. Karena kecewa tak mendapatkan kuri si common room, mereka lalu memutuskan untuk membaca buku yang mereka bawa di kamar masing-masing.

Sesampainya di kamar, rupanya Scorpius, Liam, Kian, dan Peter sudah terbangun. Rupanya mereka sedang bermain suatu permainan. Permainan apa? Entahlah, Al tidak tahu.

"Dari mana kau Al?" tanya Liam yang pertama kali melihat Al masuk.

"Aku? Hanya berkeliling di sekeliling sekolah."

"Wuah. Dari tadi pagi?"

"Tidak, setelah aku lelah aku lalu menyusul Rose di perpustakaan sebentar. Mlalu kami kembali dan karena common room penuh kami akhirna memilih untuk membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan di kamar masing-masing."

"Astaga, Al. Apakah kau tidak bosan membaca buku terus?"

"Tidak. Itu hobiku."

"Ooh. Kau mau ikut main bersama kami?"

"Tidak ah. Terimakasih."

"Yasudah."

"By the way, besok pelajarannya apa saja Al?" tanya Scorpius.

"Besok? Jam pagi ada Pelajaran Terbang dengan Ravenclaw, Jam siang ada Mantra dengan Slytherin, Jam sore ada Ramuan dengan Hufflepuff."

"Terbang? Hebat. Aku sudah tidak sabar untuk itu."

"Ravenclaw?" bingung Kian.

"Iya, kita jam pagi dengan Ravenclaw. Kenapa?"

"Tidak ada apa-apa sih."

"Siapa pengajar pelajaran terbang?" tanya Al.

"Oh, itu madam Hooch."

"Siapa itu madam Hooch?"

"Ah. Besok kan kau akan tahu."

"Eh. Memang benar ya kata Rose dan Al." celetuk Scorpius.

"Memang kenapa?" Tanya Al.

"Buktinya sekarang kita bisa santai tanpa harus memikirkan soal esai. Pasti teman-teman kita sekarang sedang sibuk dan pusing mengerjakan esai mantra yang panjang dan melelahkan itu."

"Haha. Biasakanlah dengan hal itu. Supaya kita bisa lebih sering-sering bersantai."

"Ada-ada saja kau Al. Oh iya, nanti malam kau mau mengajari kami bab dua kan?" tanya Peter.

"Eh, kenapa terburu-buru?" bingung Al.

"Aku tahu kau sudah menguasai materi bab dua Al. Selain itu supaya kami juga tidak mendapat esai sepertimu." jawab Scorpius

"Boleh boleh saja. Setelah makan malam kita mulai ya?"

"Semakin cepat semakin baik supaya kita tidur-nya tidak terlalu larut seperti tadi malam. Aku takut aku akan mengantuk di pagi hari di hari selasa."

"Oke."

Setelah makan malam, mereka lalu berlajar bersma-sama di common room, tak lupa mereka mengajak Rose untuk belajar menjelaskan materi pada bab dua itu panjang lebar sambil sesekali memberikan praktik. Setelah dirasa cukup belajar mantra, dan karena mereka semua sudah mengantuk, mereka lalu tidur. Hingga keesokan harinya,

"Selamat pagi anak-anak. Pagi, Ignatius. Pagi Liam."

"Selamat pagi madam Hooch."

"Hari ini adalah kali pertama kalian mendapatkan pelajaran terbang di Hogwarts. Sekarang angkat tangan kelian searah dengan sapu lalu katakan 'Up' hingga sapu itu terbang ke tanganmu." sontak, bunya 'Up' bersahutan mulai terdengar. Semua sapu langsung terbang menuju tangan pemanggilnya. Tidak dengan Rose, sapunya hanya mengeliat-geliat di tanah. Sedangkan milik Scorpius malah berputar-putar dahulu sebelum tertangkap setelah adegan kejar-kejaran.

"Sekarang coba naiki sapu masing-masing, lalu jejakkan kaki kalian ke tanah secara perlahan agar bisa terbang." mereka semua sangat antusias sekali dalam mengikuti pelajaran terbang mereka. Hingga tanpa sadar mereka telah menghabiskan waktu pelajaran terbang mereka.

Mereka―Al, Scorpius, Rose, Kian, Liam, dan Peter― sekarang sedang berjalan bersama menuju koridor utama menuju kelas Prof. Flitwick setelah mempir ke Asrama Gryffindor untuk mengambil esai mereka.

"Oke, sekarang, sebelum pelajaran dimulai, kumpulkan esai kalian." Semua mulai mengumpulkan gulungan-gulungan perkamen pada prof Flitwick dengan muka suram makrena mengantuk. Tak terkecuali anak-anak Slytherin. Mungkin hanya mereka berenam―Al, Scorpius, Rose, Kian, Liam, dan Peter― saja yang mukanya cerah. Malahan bisa dikatakan terlampau cerah.

"Setelah kalian semua selesai mengumpulkan, sekarang akan ada pre-test untuk bab dua. Untuk perkamen soal dan jawaban sudah saya siapkan. Kalian hanya tinggal menyiapkan pena bulu dan tinta kalian saja." Muka anak-anak yang berada di ruang mantra itu hampir semuanya mendadak suram. Yah, kecuali mereka berenam yang tadi malam sudah belajar tentang bab dua.

Satu menit, dua menit, sepuluh menit, satu jam, dan akhirnya selesai. Ini benar-benar pretest yang tidak mereka semua duga. Semuanya ada 50 soal. Tangan mereka semua mungkin rasanya pegal karena hampir semua jawaban yang ada adalah tipe uraian buka isian dengan ciri-ciri 'Jelaskan', 'Sebutkan', 'Jelaskan dan Sebutkan'. Dan yang lebih membuat mereka semua kesal lagi, cara Prof. Flitwick mengoreksi semua jawaban pretest dan esai anak-anak hanya dengan mantra yang tentunya tidak akan melelahkan, ataupun membuat tangan-tangannya merasa pegal.

"Oke, untuk yang pertama, akan saya bagikan esai kalian. Sebenarnya cukup mengecewakan. Namun diantara kalian semua ada yang cukup memuaskan." kata Prof. Flitwick. "Yang pertama, nilai Exceed Expectation untuk Rose Weasley, Scorpius Malfoy, Liam Auckland, Peter Auckland, dan Kian Auckland. Dan, nilai Outstanding untuk Albus Potter karena kejeniusannya di pelajaran yang lalu. Untuk hadiah, asrama Gryffindor akan kuberikan Lima poin." semua tepuk tangan dari anak-anak Gryffindor pun terdengar. Anak-anak Slytherin memang ikut bertepuk, namun mereka melakukannya dengan setengah hati alias dengan tidak ikhlas.

"Yang kedua, untuk nilai pretest. Ini memang benar-benar membanggakan. Lagi-lagi, nilai tertinggi diraih oleh Albus Potter, dengan nilai Outstanding. Disusul dengan Rose Weasley, Scorpius Malfoy, Peter Auckland, Kian Auckland, dan Liam Auckland yang mendapat nilai Exceed Expectation. Untuk itu, lagi-lagi kuberikan 5 poin untuk asrama Gryffindor." Tepuk tangan terdengar bergema sekali lagi di ruangan mantra. Lebih keras dari sebelumnya. Hingga akhirnya pelajaran mantra di hari itu usai sudah dengan esai mantra yang ditugaskan untuk semuanya―kecuali mereka berenam tentunya karena telah berhasil di pretest dan esainya lebih dari Acceptable.

Setelah meletakkan buku mantra dan herbologi dan memasukkan buku mantra di asrama Gryffindor, mereka berenam lalu turun ke aula besar untuk makan siang. Kali ini semuanya tampak asik memakan ayam gorengnya sedangkan Al, Scorpius, dan Rose hanya tampak sedang memakan puding.

Mereka berjalan menuju ruang Ramuan untuk jam Sore. Sesampainya di sana, mereka rupanya yang pertama sampai sana karena ruangan itu kosong. Nyaris saja mereka kira mereka salah ruang hingga akhirnya anak-anak berjubah hitam dengan warna kuning di kerah jubahnya―Hufflepuff dan anak-anak Gryffindor yang lainnya datang.

Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang sudah tua muncul menggunakan jubah hijau dengan topi toga yang berbandul dari berlakang lemari yang penuh dengan bahan-bahan ramuan.

"Nah, selamat datang anak-anak. Aku yakin ini pertama kalinya kalian masuk ke kelasku. Namaku Horace Slughorn kau bisa memanggilku prof. Slughorn. Oke, silahkan kalian duduk nyaman di kursi masing-masing." Kata prof. Slughorn. Meja-maja di ruangan itu memang sudah ditata sedemikian rupa sehingga menjadikan mereka berkelompok enam-enam.

"Oke, untuk pretest, aku tak ingin kalian merasakan hal-hal yang membuat tangan pegal, jadi untuk pretest di pelajaranku kalian akan langsung praktik membuat ramuan. Kalian akan membuat 'Cure of Boils' di sore ini. Dan untuk bahan serta cara untuk membuat ada di Magical Drafts and Potions by Arsenius Jigger." perintah Prof. Slughorn cepat. Mereka langsung mengambil kuali yang sudah disediakan berikut bahan-bahannya di lemari―mereka masih menggunakan kuali dan bahan dari sekolah karena ini pertama kalinya mereka membuat ramuan.

Al, Rose, dan Scorpius tampak serius memperhatikan buku, membaca, memahami dan lalu mempraktekkannya. Persis dengan apa yang ada di dalam buku. Milik Al tampak sempurna, milik Rose juga sempurna, begitupun milik Scorpius.

"Oke, ramuan itu baru akan selesai minggu depan. Simpan ramuan kalian di lemari di ujung sana. Lalu kau boleh pulang ke asrama masing-masing." Semua langsung membereskan ramuan mereka masing-masing dan berlarian ke asrama masing-masing. Nampaknya mereka semua lelah dengan padatnya jadwal di hari ini.

Malamnya, mereka sekarang sedang duduk-duduk santai sofa di depan perapian sambil bercerita tentang hal yang sudah mereka lewati hari ini. Mereka juga saling bertukar cerita akan senangnya mereka hari ini karena tidak mendapatkan esai satu pelajaran pun dan mereka pun sangat berterima kasih kepada Al karena telah membantu mereka dalam belajar tadi malam.

Sebelum jam malam, mereka memilih untuk tidur karena jadwal untuk besok selasa akan ada pelajaran astronomi dimana mereka akan mengamati langit di malam hari. Jadi, lebih baik memperbanyak tidur sekarang agar tidak mengantuk saat pelajaran astronomi besok malam. Ditengah malam, saat semuanya tertidur pulas seperti biasa Al terbangun.

Keesokan harinya, setelah sarapan tentunya mereka menuju kelas Defense Against Dark Art untuk jam pagi mereka. Kalian tau Percy Weasley? Ia hingga sekarang menjadi staff pengajar di Hogwarts semenjak ia mengundurkan diri dari kursi kementrian dengan jabatan assisten junior menteri sebagai pengajar Defense Again Dark Art. Asik? Tidak. Dia terlalu dipenuhi dengan teori. Yang dilakukan anak-anak dikelasnya hanya mendengarkan, lalu menulis apa yang prof. Weasley katakan. Dan selalu dengan esai menulis yang sungguh membebani. Pretest? Katanya ia ingin membuat murid-muridnya terbiasa dulu dengan tugas yang menurutnya ringan itu.

Di Jam siang benar-benar lebih membosankan lagi. Hampir semuanya tertidur kecuali Al dan Rose. Mereka memang benar-benar cerminan murid teladan. Bahkan pengajar jam siang ini benar-benar lebih jauh membosankan dibanding prof. Weasley. Yah, kali ini mereka sedang dalam pelajaran Sejarah Sihir, yang diampu oleh prof. Binns. Satu-satunya guru hantu di hogwarts yang cara mengajarnya begitu-begitu saja. Siswa hanya disuruh menulis apa yang ia tulis di papan tulis dan menulis apa yang ia katakan. Ia kurang atraktif dan interaktif sebagai guru sebenarnya. Siapa yang tidak bosan jika seperti itu? Hanya menulis, menulis, dan menulis.

Setelah makan siang, murid-murid Gryffindor lebih memilih untuk mengisi tenaga mereka dengan cara tidur mengingat nanti malam hingga tengah malam anak-anak Gryffindor menjalani malam di atas menara astronomi di pelajaran astronomi.

Saat ini mereka sedang berdiri di depan teleskop masing-masing di atas menara Astronomi.

"Oke, anak-anak. Ada yang tahu di galaksi mana kita berada?"

Al mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mereka semua sudah tidak heran. Memangnya siapa yang selalu antusias mengangkat tangannya ketika ada pertanyaan-pertanyaan dari guru kecuali Al.

"Oke, Mr―"

"Potter sir. Milky Way―Bimasakti."

"Well done. Lalu adakah yang tahu ada berapa planet di tata surya?" Al kembali mengangkat tangannya.

"Please, sir. Ada delapan."

"Bisa kau sebutkan?"

"Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus."

"Lalu, planet merah itu sebutan untuk planet apa?"

"Mars, Sir."

"Planet bercincin?"

"Saturnus, Sir."

"Planet terbesar?"

"Jupiter, sir"

"Outstanding. Kau mengagumkan Mr. Potter."

"Terima kasih sir."

"Nah, untuk itu, aku akan memberi kalian esai untuk mencari tahu tentang planet-planet yang ada di tata surya kita ini beserta ciri-cirinya. Kecuali Mr. Potter tentunya." Sontak terdengar dengusan pelan dari anak-anak semua.

Setelah mereka semua sampai di asrama masing-masing, mereka semua memilih untuk langsung tidur karena mereka tetap saja merasakan ngantuk padahal tadi siang mereka sudah menghabiskan waktu mereka untuk tidur agar tidak mengantuk di malam harinya. Rose dan Scorpius terutama, ingin mengerjakan esai mereka sekarang ini juga. Namun karena kantuk mereka terlalu parah, mereka akhirnya juga memilih untuk tidur dengan nyenyak berbalutkan selimut mimpi.

Hari demi hari terus berlalu hingga sekarang musim dingin sudah datang. Poin-poin Gryffindor semakin hari semakin bertambah karena prestasi-prestasi Al. Dan sebentar lagi akan ada pengumuman seleksi Quidditch.

TO BE CONTINUED

Yeay! Chapter fict ini selesai dengan tidak elitnya hehe. Sebenarnya saya berniat membuat chapter ini agar seperti chapter pertama dengan Word Count 5k+ namun saya sudah stuck duluan hehe. Toh saya akan hiatus selama sebulan untuk menjalani Ujian Nasional besok tanggal 5 Mei 2014. do'akan saya ya teman-teman. Terimakasih sudah membaca fict saya. Oh iya, kebiasaan bangun tengah malam untuk belajar sebentar itu adalah hal yang sering saya lakukan. untuk itu saya terinspirasi oleh diri saya sendiri. Saya berharap anda mereview Fict saya ini untuk memberi kritik karena saya yakin masih banyak kekurangan disini. Maklum, masih author baru hehe. So, Would You Leave Any Review For Me? :) akan saya terima dengan senang hati