TIME

.

Arlian Lee

.

Jung Taekwoon / Lee Jaehwan

..and many more...

.

Disclaimer: Chara's are not mine, thsis is pure fanfiction, Alternative universe, Out Of Character

.

Genre's: Angst, romance, hurt, drama

.

Pair : LeKen slight! Others.

.

Please don't! Blame, Bash, Plagiarzm and other bad things

.

.

.

Chapter 1

.

Gesekan dedaunan menguat seiring dengan godaan sang angin. Menimbulkan bunyi gemerisik yang menyingkap kesunyian. Mereka tertawa riang di bawah balutan pantulan senja. Sesaat tawa itu melemah, tergantikan oleh pelannya sentuhan antar dedaunan. Di bawah rindangnya daun pohon yang saling tertawa itu, Jaehwan menatap lurus hamparan padang yang membentang. Setumpuk kenangan sempat ia telan beberapa kali.

Nyatanya ia tengah mengarungi kembali lautan memori yang telah ia tutup rapat. Bingkaian kepedihan yang mengumpul terkelupas begitu saja pada detik selanjutnya. Jaehwan sengaja melakukan itu. Hatinya yang memohon untuk bergumul kembali dengan masa lalu.

Bukan masa lalu yang terlalu menyedihkan mengambang saat ini. Hanya sebuah kenangan yang diukir bersama kedua orangtuanya. Saat dingin malam masih bisa Jaehwan rasakan dengan arogan, saat mentari pagi masih bisa Jaehwan tantang, saat cicit burung masih bisa Jaehwan jahili. Saat-saat dimana semua itu mampu Jaehwan lalui bersama dengan kedua orangtuanya.

Dan itu tak berlaku dalam waktu yang lama.

Hanya sampai usia lima belas tahun, waktu mengubah segala yang Jaehwan punya. Hingga pada akhirnya ia tak memiliki keberanian untuk bersikap demikian pada angin, mentari pagi ataupun cicit burung. Karena tak ada lagi sosok yang akan mendukungnya dari belakang.

Jaehwan tersenyum pilu. Bibir tebal itu melengkung dengan hambarnya. Binar cerah dari kedua kristalnya tak tampak terang. Kemungkinan yang ada hanya sorot sayu bercampur kepedihan.

Eomma dan appa.

Saat ini Jaehwan telah dewasa. Wajah manis yang tampak begitu menggemaskan telah terpoles kharisma dan ketampanan yang luar biasa. Namun jangan salah, rasa manis yang ditawarkan masih kentara dan mampu membuat siapapun luluh percuma. Dan semua karena waktu yang membawanya sampai pada detik ini.

Lee Jaehwan, lelaki manis dengan usia masih tergolong muda –dua puluh lima tahun- ini menghabiskan sorenya untuk menatap hamparan padang di depannya. Niat hati ia ingin menikmati sore dengan orangtuanya. Dalam lapisan otak Jaehwan masih hangat teringat bagaimana dulu ia sering berlarian di padang sana dengan sang appa. Mengejar anjing kesayangan ataupun sekedar bermain bola.

Sekali lagi Jaehwan tersenyum pedih. Jika ia boleh meminta, kembali pada masa itu mungkin adalah pilihan terbaik. Atau Tuhan akan mengembalikan kedua orangtuanya dan Jaehwan akan merasa bahagia.

"Semuanya berjalan begitu cepat. Sepuluh tahun sudah berlalu." Suara lirih Jaehwan terdengar setelah lama ia terdiam. Satu hirupan dalam mengiringi kelopak mata yang terpejam sejenak. "Eomma dan appa bisa melihat Jaehwan dari atas kan?"

Jaehwan mendongak.

"Eomma, appa! Ini saatnya Jaehwan melepas status lajang Jaehwan." Senyum malu muncul tiba-tiba. "Apa eomma dan appa akan merestuinya?"

Sekali lagi Jaehwan mendongak. Dari balik kelopak tipis miliknya, ada air yang siap menyapa dunia. Dan Jaehwan mulai mengerjab berulang.

"Kim Ajusshi menyarankan seseorang untukku." Untuk tiga detik ia berhenti. "Sepertinya aku akan menurutinya. Tidak masalah kan? Appa, eomma?"

Walaupun sebenarnya Jaehwan sendiri tidak tahu siapa sosok yang akan dikenalkan padanya. Namun hatinya percaya bahwa orang yang telah merawatnya sejak sepuluh tahun yang lalu itu tak akan mengecewakannya. Jaehwan sendiri pun tak memiliki masalah jika dirinya dilibatkan dalam acara demikian. Toh, dirinya juga tak mempunyai sesuatu untuk diberatkan.

Hingga tirai langit berubah warna, Jaehwan baru beranjak. Masih untuk beberapa saat, atensinya dibiarkan merekam beberapa kilau bintang di atas sana. Lantas ia tersenyum, berbisik lirih pada malam. Menitipkan salam bagi Sang Pencipta juga kedua orangtuanya.

.

.

.

Seperti yang telah diatur sebelumnya, Jaehwan tengah bersiap-siap dengan pakaian yang ia kenakan. Hanya kemeja berwarna biru muda yang dipadukan dengan celana putih dan sedikit tatanan rambut yang rapi. Memberikan kesan tampan bagi Jaehwan.

Adalah pertemuan yang telah disusun oleh sang paman membuat Jaehwan harus dandan seperti ini. Pukul tiga sore nanti ia akan bertemu dengan calon suami yang digadang-gadang oleh pamannya. Dibantu oleh kakak sepupunya, Jaehwan merapikan penampilannya.

"Kau tampak sangat manis Jaehwan." Sungkyu, sang kakak sepupu mencubit gemas pipi gembil milik Jaehwan. "Aku yakin pasti Taekwoon akan langsung menyukaimu."

Jaehwan tersenyum tipis. "Semoga." Sahutnya pelan.

"Kenapa? Apa kau ragu? Kalau kau ragu dan merasa kurang nyaman bilang saja. Nanti biar hyung yang akan katakan pada appa."

Segera Jaehwan menggeleng. Ia tak pernah berniat untuk merasa tak nyaman dengan perjodohan ini. Mungkin karena efek cemas untuk pertama kalinya bertemu dengan calon suami yang membuat Jaehwan harus memasang wajah demikian.

"Ti-tidak hyung, aku.." Jaehwan menunduk seketika. "Aku hanya takut kalau calonku tidak menyukaiku. Kami baru akan bertemu nanti 'kan? Bagaimana kalau dia telah berpikir jauh dan merasa kecewa setelah melihatku? Bagaimana kalau—,"

"Jaehwan-ah!" Sungkyu mengusap pipi Jaehwan dengan lembut lalu menggeleng. "Tidak mungkin! Calonmu pasti akan langsung jatuh cinta padamu. Kau itu manis, baik, periang dan menyenangkan. Siapa yang tidak akan suka denganmu?" Sungkyu tersenyum manis sekali. "Hanya orang bodoh yang tidak akan menyukai itu."

Bait kata yang terucap dari Sungkyu perlahan masuk ke dalam otak Jaehwan. Dengan pasti lelaki itu mencerna setiap untaian kata yang disampaikan. Apakah benar Taekwoon akan menerimanya dengan baik? Apakah ia akan menjadi sosok yang mampu meluluhkan hati Taekwoon? Meski sebenarnya Jaehwan sendiri tak begitu tahu siapa Taekwoon sesungguhnya.

"Hey! Apa kau melamun?"

Dan Jaehwan sedikit tersentak manakala tangan Sungkyu menepuk pelan pundaknya. Senyum canggung terukir ragu di wajah manisnya. Jaehwan menggeleng kecil.

"Jangan terlalu takut! Aku yakin pilihan appa tidak akan mengecewakan." Kerlingan kecil menjadi tambahan untuk membuat Jaehwan lebih percaya diri lagi.

"Aku berusaha untuk tidak takut hyung! Semoga pilihan ajusshi benar-benar menyukaiku!"

"Pasti! Sudah, ayo kau harus segera berangkat. Janjian kalian pukul tiga kan?"

Jaehwan menggangguk kecil. "Ya. Ya sudah, Jaehwan akan berangkat sekarang hyung!" Tukasnya seraya mengecek jam di tangannya.

"Baiklah! Semangat! Jangan grogi! Kau lebih dari cukup menaklukkan hati para lelaki!"

Lelaki yang lebih muda hanya menarik ujung bibirnya dalam. Lantas ia membawa tubuhnya keluar dari kamar untuk menuju taksi yang telah dipesan sebelumnya. Sungkyu pun turut mengikuti. Ia ingin memberikan semangat kepada Jaehwan yang tampaknya kurang begitu bisa mengendalikan rasa gugupnya.

Sungkyu mengenal dengan baik siapa Jaehwan. Lelaki muda yang telah ia anggap sebagai adik sendiri sejak sepuluh tahun yang lalu. Lelaki muda yang pintar, rajin dan penurut. Selama ia mengenal sosok Jaehwan belum pernah sekalipun Jaehwan mengecewakan keluarganya. Selalu kebanggaan ada bersama pundak Jaehwan. Apapun yang diperintahkan ataupun disarankan oleh keluarga Kim akan dilaksanakan oleh Jaehwan dengan baik. Termasuk perjodohan ini.

Dan Sungkyu hanya berharap semoga ini yang terbaik untuk Jaehwan.

.

.

.

Mungkin sudah sekitar sepuluh menit Jaehwan duduk dengan gelisah di antara kursi kosong yang mengisi kafe ini. Entah mengapa suasana kafe ini terasa seperti hendak ditutup paksa. Hanya ada segelintir orang yang menikmati hidangan disana. Sekitar lima orang sudah termasuk Jaehwan di dalamnya.

Dengan segelas moccacino yang masih setengah, Jaehwan mencoba menikmati alunan musik jazz yang mengalun lembut dari dua speaker yang terpasang. Ia menggerakkan kepalanya mengikuti lantunan itu dengan sesekali menengok ke arah pintu. Berharap sosok yang tengah ditunggu segera tiba.

Beruntung sang paman memberikan foto beberapa hari sebelum mereka memutuskan untuk bertemu. Namun sayangnya, Kim Ajusshi tidak memberikan nomor ponsel maupun ID media sosial apapun yang bisa digunakan untuk bercakap-cakap. Alasannya, beliau ingin Jaehwan bisa lebih dekat dengan Taekwoon secara lebih natural.

"Menunggu lama?"

"Eh?" Jaehwan nyaris melepaskan moccacino di tangan saat mendengar seruan pelan dari belakang. Lantas ia menoleh dan mengumbar senyum kikuk. "A-ah tidak."

Sosok lelaki tampan dengan tubuh tinggi dan tegap. Terbalut celana denim dengan paduan sweater berwarna gelap memberikan kesan yang luar biasa. Perpaduan antara tampan, keras dan dingin. Seluruh perpaduan itu nyatanya mampu membuat Jaehwan sedikit tak berkedip.

Ini sungguh berbeda dibandingkan dengan sosok yang ada di foto.

"Jalanan macet. Aku tidak bisa datang kesini dengan cepat." Jaehwan berani bersumpah jika senyum yang diberikan oleh lelaki itu adalah senyum terbaik yang pernah ia lihat.

Bak robot yang telah diatur sebelumnya, Jaehwan hanya menggangguk dengan senyum sebagai pelengkap.

"Hay, aku Jung Taekwoon. Senang bertemu denganmu."

Jaehwan menerima uluran tangan dari Taekwoon.

"Lee Jaehwan! Jaehwan juga senang bisa bertemu dengan hyung!"

"Hyung?" Taekwoon tertawa renyah mendengar panggilan itu. "Ah, aku lupa kalau kau lebih muda dariku dua tahun yaa? Wah, kau imut sekali."

Kelopak mata Jaehwan tak berhenti bergerak. Apakah sosok yang ada di depannya ini sungguh Taekwoon? Kenapa sikap dan penampilannya berbeda jauh? Siapapun yang pertama kali melihatnya akan beranggapan bahwa lelaki ini memiliki sifat yang dingin. Tapi nyatanya..

Jaehwan tersenyum malu. Bisa Jaehwan pastikan pipinya saat ini merona.

"Apakah iya? Oh ya, hyung mau minum apa? Biar Jaehwan pesankan."

Taekwoon menarik tangan Jaehwan yang hendak melambai. "Tidak-tidak! Lebih baik kita jalan-jalan saja dulu. Lalu setelah itu kita makan. Aku juga baru makan siang tadi dengan klien. Bagaimana? Apa kau tidak keberatan?" Tawar Taekwoon dengan wajah sedikit penuh harap.

Lelaki yang lebih muda itu mengulas senyum manis lalu mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Kita bisa keluar dari sini. Tapi Jaehwan harus membayar minuman Jaehwan dulu." Jaehwan beranjak dari duduknya.

"Biar aku yang membayar! Kau tunggu dulu saja di mobil. Kau tahu mobil hitam itu kan? Itu mobilku. Tunggulah disana." Pungkas Taekwoon seraya mengulurkan kunci kepada Jaehwan.

Sementara Jaehwan terdiam sejenak tak mengerti apa yang terjadi. Kenapa rasanya begitu cepat sekali? Apakah sosok yang ia temui memang begitu baik? Seolah keduanya telah berkenalan lebih dari setahun.

Jaehwan hanya bisa berharap semoga ini awal yang baik bagi hubungan keduanya nanti.

.

.

.

"Aku sudah menduga bahwa kau memang anak yang istimewa." Taekwoon memberikan tanggapan atas semua cerita yang diuraikan oleh Jaehwan.

Saat ini keduanya berada di salah satu taman dekat sungai han dengan tangan membawa masing-masing minuman. Baru saja Jaehwan menceritakan kisah hidupnya selama ini. Taekwoon, lelaki yang baru ia kenal kurang dari sejam itu tampak terkesima dengan apa yang diucapkan oleh Jaehwan.

"Lalu bagaimana denganmu hyung?"

Untuk sesaat, Taekwoon membiarkan keheningan menguasai mereka. Ia mengeratkan pegangan pada gelas plastik yang digenggam. Ditanya soal masalalu menyuruh hatinya yang telah menutup semua itu sedikit meradang. Kenangan masalalu yang tak begitu baik harus terpaksaa Taekwoon buka sedikit demi sedikit.

"Tidak terlalu baik." Gurat kepedihan jelas tercetak di wajah tampan Taekwoon. "Mungkin tidak seburuk kau! Tapi aku kehilangan appa saat masih berusia sepuluh tahun."

"Se-sepuluh tahun?" Mata bulat Jaehwan membesar. Ia terkejut dengan berita yang baru saja didengar. "Kenapa? Bagaimana bisa?"

Taekwoon menggeleng. Ia menoleh pada Jaehwan dengan sebuah senyum yang terpatri disana. Jaehwan bisa melihat sorot mata Taekwoon yang terpancar kesepian dan kepedihan.

"Jangan bahas itu! Aku tidak ingin mengingat masalalu!" Lirih Taekwoon.

Jaehwan paham. Mungkin membicarakan tentang orang tua yang telah meninggal akan menyebabkan rasa sakit itu tumbuh lagi. Lantas ia mengulurkan tangannya untuk mengambil sebelah tangan milik Taekwoon. Mengelusnya lembut lalu menggenggamnya.

"Tidak masalah hyung kalau hyung tidak ingin bercerita. Oh ya, lalu sekarang hyung bekerja di Ilsan Group yaa? Wah, itu perusahaan besar." Seru Jaehwan mengalihkan suasana sedih yang sempat dibangun oleh Taekwoon.

Lelaki itu mengangguk bangga. "Ya, dengan kerja keras aku bisa masuk ke perusahaan itu." Ungkapnya.

"Hebat!" Jaehwan menepuk tangannya disertai acungan jempol. Tingkah laku Jaehwan membuat Taekwoon tersenyum. Mungkin bagi Taekwoon melihat Jaehwan mampu menumbuhkan keceriaan yang lebih.

Taekwoon menyeruput minumnya kilat sebelum berujar.

"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau menyetujui perjodohan ini?"

"Uh? Ah, itu.." Jaehwan menunduk. Sorot matanya memaku pada tanah di bawah. "A-aku tidak tahu kenapa aku menyetujuinya. Mungkin ini memang yang terbaik untukku."

"Itu bukan alasan yang aku minta." Taekwoon mengusap pipi Jaehwan hingga membuat pipi itu berubah warna. "Kenapa?"

Jaehwan menggigit bibir bawahnya. Sungguh, ia merasa berbeda setelah bertemu dengan Taekwoon. Sesuatu menggelitik dirinya dan membangunkan setiap komponen dalam dirinya yang tengah tertidur.

"Sudah saatnya aku menikah dan aku juga tidak memiliki kekasih. Jadi aku pikir tidak salah menyetujui perjodohan ini."

"Kau percaya bahwa calon suamimu akan sebaik perkiraanmu?"

"Eh?" Alis Jaehwan naik sebelah. Pertanyaan yang tak terduga. Tak mengelak, ia menciptakan sebuah senyum. "Ya, aku yakin pilihan Kim ajusshi tidak akan salah."

Benar, apa yang menjadi pilihan Kim ajusshi tidak akan salah. Jaehwan sangat meyakini itu. Bisa dilihat dari bagaimana suami Sungkyu yang Jaehwan kenal sebagai sosok dermawan dan menyayangi keluarga. Ia yakin pasti pilihan untuk calon suaminya juga akan seperti itu.

Dan rasa yakin itu terjawab sudah setelah bertemu dengan Taekwoon secara langsung. Sepertinya Taekwoon melebihi ekspektasi yang dilukiskan oleh Jaehwan.

"Aku juga yakin bahwa kau memang pilihan terbaik." Taekwoon mengusak surai Jaehwan dengan gemas.

Pada akhirnya mereka menghabiskan hari pertama mereka dengan percakapan-percakapan ringan untuk mendekatkan jarak. Mereka tampak nyaman satu sama lain. Terutama Jaehwan. Lelaki itu merasa bahwa ia telah menemukan bagian lain dari dirinya yang menghilang. Rasa nyaman, hangat dan gelitikan kecil di sekujur tubuhnya begitu kental menggoda. Jaehwan bukan anak kecil lagi. Ia paham dengan hal ini.

Mungkin ia mulai mengakui bahwa Jaehwan perlahan jatuh cinta pada lelaki ini lalu berharap semoga ke depannya selalu diberi kemudahan.

.

.

.

Pagi datang seperti biasa. Sebelum Jaehwan bekerja di salah satu kafe dekat rumahnya, ia membantu Sungkyu untuk menyiapkan makan pagi. Di rumah ini tidak ada perempuan sama sekali. Ibu Sungkyu telah meninggal dua tahun yang lalu dan Sungkyu juga menikah dengan lelaki. Jadi dalam rumah ini hanya ada lelaki yang mengisi.

Ada dua keluarga, keluarga utama dan keluarga kecil Sungkyu. Jaehwan senang telah dianggap sebagai keluarga. Meskipun demikian, ia tidak ingin memanggil ayah Sungkyu dengan sebutan appa. Entah mengapa rasanya kurang nyaman di dengar. Walaupun Tuan Kim sejatinya telah menyuruh Jaehwan melakukan itu.

Dengan cekatan Jaehwan memasukkan makanan yang telah matang ke dalam piring dan menatanya di atas meja makan. Sungkyu sesekali meminta Jaehwan untuk menambahkan bumbu pada sup yang masih belum matang itu.

Tak butuh waktu lama, semuanya siap untuk di santap.

"Appa, Woohyunnie ayo kita sarapan!" Seru Sungkyu setelah menyelesaikan menata alat makanan di atas meja.

Jaehwan telah duduk manis di sisi kanan meja makan sembari menunggu keluarga lainnya untuk berkumpul.

"Menu kali ini sup jamur yaa?" Tuan Kim bertanya seraya menarik kursi duduknya. Aroma yang dihantarkan oleh kepulan itu mengena indera penciumannya.

Jaehwan mengangguk. "Ya, dan juga beberapa lauk pauk dari ikan."

"Sepertinya sarapan yang enak kali ini!" Sahut Woohyun ikut mengomentari menu sarapan.

Sungkyu duduk di sebelah suaminya lalu mengambilkan makanan untuk Woohyun dan sang ayah.

"Hari ini kalian ada agenda apa?"

Layaknya hari-hari biasanya, acara sarapan akan menjadi ajang untuk menceritakan rencana yang akan dilalui hari itu.

Jaehwan menyuapkan makanan lalu menelannya perlahan. Ia menjadi giliran pertama untuk menceritakan rutinitasnya setiap hari.

"Jaehwan akan bekerja ajusshi. Lalu Jaehwan akan menemui Sandeul nanti."

Tuan Kim mengangguk paham. "Bagaimana dengan pertemuan kalian kemarin? Apa kau merasa cocok dengan Taekwoon?"

"Ya, pilihan ajusshi tidak pernah salah." Jaehwan menjawab dengan malu-malu. Ia meraih gelas minumannya lalu menyesapnya kemudian.

"Aigooo~ rupanya kau sudah jatuh cinta padanya?" Goda Sungkyu dengan gemas. "Lalu bagaimana tanggapan Taekwoon? Apa dia merasa risih denganmu? Tidak kan?"

Jaehwan menggelengkan kepala. "Tidak. Bahkan Taekwoon hyung sangat perhatian padaku." Jawabnya malu-malu.

Sungkyu tertawa kecil seraya mengusap lengan Jaehwan dari seberang.

"Nah, apa yang hyung bilang! Dia pasti akan terpesona denganmu."

Tak menjawab, lelaki paling muda di keluarga itu hanya tersenyum manis. Benar yang dikatakan oleh Sungkyu. Mungkinkah Taekwoon terpesona padanya? Mungkinkah Taekwoon juga memiliki rasa seperti yang ia rasakan? Jaehwan tahu kalau itu terlalu cepat. Tapi siapa yang akan membantah jika memang itu adanya?

Bukan hanya Sungkyu saja yang merasa senang dengan perkembangan cepat dari keduanya. Tuan Kim yang notabene sebagai jembatan antara keduanya itu pun merasa senang. Dalam lubuk hati ia seolah telah menyelesaikan sebagian besar tanggung jawabnya. Ada beban yang tengah ia pikul atas kehadiran Jaehwan. Sebuah beban untuk memberikan Jaehwan kepada orang yang mencintainya selepas kepergian kedua orangtua Jaehwan.

Apabila memang perjodohan ini sesuai dengan rencana dan calon suami Jaehwan akan menerima juga mencintai Jaehwan dengan sepenuh hati, maka beban itu akan lepas. Tuan Kim akan bersykur telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

"Ajusshi hanya berdo'a untuk kebaikan kalian Jaehwan. Jika memang kalian adalah jodoh, kalian akan hidup bahagia." Tukasnya dengan senyum hangat mengiringi.

Jaehwan mengangguk setuju. "Aku berterima kasih kepada ajusshi yang telah mengenalkanku dengan Taekwoon hyung. Ajusshi memang yang terbaik!" Sahut Jaehwan dengan acungan jempol.

Yang lain sontak tertawa. Kehangatan begitu jelas menyerbak di sekitar mereka. Ada harapan yang tengah mereka torehkan untuk hari-hari selanjutnya. Sebuah kebahagian akan selalu mengikuti kemanapun dan kapanpun keluarga itu berada. Baik untuk keluarga Kim maupun untuk Jaehwan sendiri.

.

.

.

Dering ponsel Taekwoon membuyarkan fokusnya saat melangkah pada lorong kantor. Dengan segera ia mengambil ponsel itu dari dalam saku. Senyum miring tercetak manakala membaca deret nama yang tertera di atas layar.

"Eomma?"

Dari seberang terdengar desah lega seseorang.

"Aigooo~ kau kemana saja? Kenapa tidak menelpon eomma?"

Taekwoon mendorong pintu ruangannya. "Maaf eomma! Taekwoon sangat sibuk. Ada rapat penting yang harus Taekwoon hadiri." Sahutnya lalu meletakkan dokumen di atas meja.

"Baiklah kalau begitu." Nyonya Jung tampak senang dari seberang. "Bagaimana dengan calonmu? Apa kau senang? Kau tidak menolak kan?"

Seseorang masuk ke dalam ruangan Taekwoon sesaat Taekwoon akan menjawab tanya dari sang eomma. Ia menatap sejenak orang itu lalu menjauh untuk menjawab pertanyaan sang eomma.

"Ya, tentu! Aku tidak akan menolak apa yang kau inginkan eomma." Taekwoon mengalihkan pandangan pada sosok yang saat ini duduk di sofa ruangannya. "Itu adalah yang terbaik."

Nyonya Jung tertawa senang. "Syukurlah! Kau memang putra kesayanganku! Eomma hanya ingin memastikan itu saja. Oh ya, eomma ingin bertemu dengannya. Apa kau bersedia mengajak bertemu dengan eomma?"

Taekwoon tersenyum. "Pasti eomma. Bagaimana kalau lusa? Taekwoon akan membawanya bertemu denganmu." Jawab Taekwoon.

"Baiklah! Baiklah! Ya sudah, eomma tutup teleponnya. Kau bekerja yang giat yaa! Sampai berjumpa lusa anakku!"

Dan Taekwoon menutup telepon itu setelah mengucapkan rasa sayangnya pasa Nyonya Jung. Detik selanjutnya ia bergerak menuju sosok yang masih tenang duduk di sofa itu. Setenang apapun itu Taekwoon tahu bahwa ada hal tertentu yang tengah mengecoh otaknya.

"Ada apa?"

"Kau sungguh menerima perjodohan itu Jung Taekwoon?" Suara lembut sosok itu menyentak pendengaran Taekwoon.

"Ya." Taekwoon menegakkan duduknya lalu menatap luar melalui jendela. "Aku menyetujui perjodohan itu."

Taekwoon mendengar jelas sebuah desah berat yang lolos begitu saja dari lelaki itu.

"Ini pilihan yang tepat untukmu?"

"Setiap manusia berhak memilih bukan? Percayalah bahwa ini adalah pilihan terbaik!"

Sosok itu mengulum bibirnya. "Yaa, semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu Jung Taekwoon." Ucapnya pelan.

Taekwoon menoleh cepat pada sosok itu. Ada kerut tak suka yang muncul di keningnya.

"Kau!" Taekwoon menghembuskan nafasnya. "Terima kasih Cha Hakyeon! Kau juga akan mendapatkan kebahagiaanmu."

Hakyeon –sosok itu- tertawa aneh. Ia menyenderkan tubuhnya pada senderan sofa. "Ya, ya, ya. Kebahagiaan seharusnya menghampiriku saat ini! Tapi aku tidak tahu kalau akan berakhir demikian." Ucapnya dengan kekecewaan.

"Apa maksudmu Hakyeon?"

"Tidak!" Hakyeon tersenyum kecil. "Oh ya, kalau begitu kau akan melepas lajangmu Jung Taekwoon?"

Taekwoon terdiam sesaat. Dari raut wajahnya ada pemikiran yang entah mengapa membuat otaknya tak sanggup bekerja dengan baik.

"Ya."

Singkat.

"Kau akan bahagia! Tenang saja!"

"Ya, aku akan bahagia. Asal eomma-ku bahagia."

.

.

.

.

TBC

Yoooo man!

Chapter satu datang!

Bagaimana? Apakah ini memuaskan kalian semua? Apakah ini aneh? Ayo reviewnya lah!

Oh yaa mungkin ini updatenya akan lelet!

Soalnya saya sibuk luar biasaa..

Ada banyak kepentingan yang harus saja urus..

Do'akan saja kepentingan saya itu berjalan lancar biar updatenya juga lancar..

Wkwkwkwkwkw..

Oh ya, saya juga mau ngeremake loh, ada yang mau? Silahkan review!

Oke saya tunggu reviewnyaa.

Terima kasih yang sudah menunggu ff aneh ini..

Byung byung byung!

.

.

.

Salam hangat

.

.

~Arlian Lee~