Naruto © Masashi Kishimoto
^3^
Warning: Naruto's POV, Out of Characters, Alternative Universe, Shounen-ai
^3^
~This Is Real!~
Chapter 2
by: Aoi no Tsuki
Perlahan-lahan aku mulai membuka kedua mataku. Kali ini tak ada halangan apapun untuk melakukannya. Yang kudengar ketika aku terbangun adalah suara jam dinding tua yang terpajang di ruang inapku.
Tik! Tik! Tik! Tik!
Suara jam itu terus berdetik dan berbunyi tanpa henti. Itu membuatku berdebar-debar dan merasa takut saat aku bangun.
'Sial!' umpatku dalam hati.
Aku benci Rumah Sakit. Aku benci tempat ini. Mana Ayah dan juga Ibu? Sosok mereka tak ada di sini.
Dengan perlahan-lahan dan hati-hati aku pun berusaha untuk mendudukkan diriku di pinggir ranjang yang kutempati. Kuraih tiang infus besi yang dingin itu lalu menggesernya. Rasa sakit sedikit kurasakan tapi itu hanya sebentar. Kakiku menyentuh lantai Rumah Sakit yang dingin. Dengan posisi yang kupikir yakin untuk menahan beban tubuhku, aku pun berjalan menuju koridor Rumah Sakit Konoha ini.
Suasana di koridor itu tak cukup ramai. Beberapa perawat berjalan hilir-mudik di tempat ini. Sebagian penjenguk menunggu di luar sambil duduk-duduk di kursi taman. Aku berdiri di tengah koridor dan menatap lurus ke depan. Yang kurasakan adalah udara segar yang menyambutku ketika aku berdiri di tempat itu.
"Kakak..." Suara itu membuyarkan lamunanku. Suara anak kecil yang terdengar sangat jelas di telingaku. Seorang anak kecil menyapaku. Rambut hitamnya tertutup oleh sebuah topi putih bergambar beruang kecil. Pakaian serba putih dikenakannya. Sama sepertiku, putih dan putih.
"Hei~" sapaku ramah padanya. Tangan kanannya memegang sebuah boneka kelinci yang sudah amat lusuh. Aku berusaha untuk menyamakan tinggiku dengannya. "Siapa namamu?" tanyaku sambil memegang kepalanya. Anak kecil itu terdiam sejenak. Matanya menatap lantai koridor ini. "Kau baik-baik saja?" seruku sambil memegang pundaknya.
"Konoha-maru."
"Oh, jadi namamu Konohamaru, ya? Aku... He-hei mau ke mana?" ujarku yang melihat anak itu berlari menjauh. "Apa aku salah berucap, ya?" Tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengejar anak itu tentunya tanpa berlari. Aku melihat jelas ke mana anak kecil itu pergi. Setelah selang dari beberapa kamar inap di Rumah Sakit, kuhentikan laju tiang infusku perlahan.
'1313'
Angka kamar itu sudah mencapai ribuan. 'Bagaimana bisa?' pikirku tak jelas. Lupakan! Yang jelas anak kecil itu tadi memasuki kamar ini.
SET...
Aku menyentuh kenop besi yang kurasa dingin pada kamar 1313 itu. Dengan jantung yang berdebar-debar aku memutar kenop itu perlahan.
KLEKK!
Kudorong pintu putih itu lalu mendorongnya begitu pelan. "Konohamaru?" Aku memanggilnya perlahan. Tak ada sahutan. Kututup kedua mataku ketika pintu itu telah terbuka sepenuhnya. Tapi di sana...
Kosong, sepi, dan tak berpenghuni.
Bagaimana bisa? Kamar itu kosong tapi, tapi, tapi anak kecil itu tadi... dia masuk ke dalam ruangan ini. Ke dalam kamar ini. Pikiranku mulai berpikir terus berpikir. Mana yang logika dan mana yang ilusi? Akh! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku bingung. Masih berdiri terdiam di depan kamar yang sudah terbuka itu. Kamar dengan tembok putih dan selimut yang masih terlipat rapi. Tak ada yang menempati kamar ini. Tak ada seorang pun! Aku hanya berkhayal.
'Pasti sedang berkhayal, 'kan?' tanyaku pada diriku sendiri. "Bohong... Ini pasti bohong..."
"Apanya yang bohong?" Seseorang menyentuh pundakku. Sontak, itu sangat membuatku kaget dan menoleh cepat ke arah sumber suara itu.
"Eh, Sa-Sasuke... Teme?!" pekikku menatap pemuda berambut hitam kebiruan yang sekarang berada di depanku.
"Kenapa kau keluar dari kamarmu, Dobe?" tanyanya dengan nada yang kurang sedap didengar.
"Biar! Tadi... anu... Itu... Tadi ada-"
"Sudah! Balik ke kamarmu sekarang. Ayo!" Pemuda Uchiha ini menuntunku dan memegangi tiang infusku dengan hati-hati. Dia memang baik. "Konohamaru..."
"Apa kau bilang, Dobe?"
"Ah! Tidak, tadi ada anak kecil yang-"
"Kau ini kenapa?" Langkah kami terhenti di tengah koridor Rumah Sakit. Sasuke menatapku dengan tatapan yang menginterogasi. Dia terus menatapku.
"Apa, hah? Apa?! Jangan menatapku seperti itu! Menyebalkan!" sahutku seadanya.
"Hn," Mata biruku beralih ke arah sosok lelaki yang sangat mirip dengan si Teme. Rambut hitam panjang dengan mata onyx yang mirip dengannya. Kerutan wajah terpampang di kulit putih pucatnya. Aku tak bercanda, benar-benar mirip. Lelaki yang kira-kira berumur dua puluh tahunan itu kini tersenyum hangat kepadaku. Heh! Tunggu! Tersenyum padaku?
"Emm, Teme?" panggilku kepada pemuda berpantat ayam yang sedang membenarkan posisi infusku.
"Hn?"
"Kau ke sini dengan siapa?" Pertanyaan bodoh mulai keluar dari mulutku. Sasuke tersenyum. "Aku hanya sendiri ke sini, Dobe."
"Kau yakin? Tak dengan sopir, Ayah, Ibu atau kakak mungkin?" ujarku menanyainya lagi.
"Tidak, aku hanya sendiri. Dasar Dobe! Lihat dengan benar!" jawabnya datar.
"Apa, Teme? Baka-Teme!" balasku tak kalah sadisnya.
"..."
"..."
Tak ada yang membalas lagi setelah itu. Semua terdiam. Suasana itu mulai menyelimuti kami berdua.
Sepi, sunyi, diam.
"Kakak," ujar Sasuke membuka percakapannya lagi. Nada itu terdengar lirih. Aku hanya terdiam menunggu dia melanjutkan perkataannya yang tertunda. "Dia... Kakak terbaik yang pernah ada di dunia ini,"
"Kakak yang terbaik, ya?" gumamku.
"Hn, tapi kecelakaan itu merenggut nyawanya. Dia... meninggal."
DEG!
Meninggal, satu kata yang akan ditemui oleh semua manusia, cepat maupun lambat. Satu kata yang berarti nyawa yang telah terambil dari raga kita. Satu kata yang melukiskan kita tak akan ada lagi di dunia ini.
"Maaf, aku turut bersedih atas meninggalnya kakakmu." seruku turut berduka. Aku memegang bahunya pelan. "Maaf ya, Teme."
"Thank's, Dobe." Sosok lelaki berambut hitam panjang itu mendekat ke arah Sasuke. Raut kesedihan terlihat jelas di wajah pucatnya. Lelaki itu berdiri di belakang Sasuke kemudian memeluknya dengan kedua tangannya, mencoba memberikan kehangatan pada Sasuke. Mulutku hanya membungkam dan terkunci rapat. Lelaki itu seperti bayangan di kedua mataku tapi terlihat begitu nyata. Apa dia...?
"Aku yang membuat kakakku meninggal. Aku yang-"
"Stop!" seruku memotong perkataannya. Kusentuh pipi itu lembut. Mata onyx-nya mulai basah. Dia menangis. Sasuke yang itu menangis mengingat kenangan masa lalunya. Tentang kakak terbaik yang pernah ia punya. "Jangan kau teruskan lagi! Kakakmu meninggal bukan karena kau, Teme. Bukan!" ujarku menegaskan.
"..." Dia hanya bisa terdiam. Bayangan itu kini terlihat tegar menatapku dan juga Sasuke. Senyuman terpampang dari balik wajah putih pucat pria itu. Tersenyum ke arahku... lagi?
'Tak lihat! Tak lihat!' ujarku dalam hati. Terus menerus kuucapkan kalimat itu. Aku memejamkan kedua mataku rapat-rapat. Ukh!
"Kau kenapa, Dobe? Jangan membuatku khawatir." serunya sambil memegang kedua pipiku.
"Aku tak apa-apa. Kau berlebihan. Hah~ Seorang Uchiha sepertimu juga bisa menangis, ya?" ejekku memancing perkelahian dengannya lagi.
"Cerewet, Dobe!"
"Benar, 'kan?" ejekku padanya.
"Diam!"
"Iya, 'kan? Hahaha..." Aku tertawa nista melihat seorang Uchiha bungsu menangis di hadapanku. Tapi aku senang bisa membuatnya tertawa lagi. Hanya itu yang bisa kulakukan.
"Shut up, Dobe!"
"Heh? Baka-Teme!" balasku. Ejekan-ejekan itu terus terlontar dari bibirku. Terus meluncur bagaikan meteor yang jatuh ke bumi.
"Tutup mulutmu!"
"Hahaha... Kau malu. Lihat wajahmu itu," tunjukku pada wajah putih susunya yang sekarang sudah berubah menjadi warna udang rebus. "Terserah katamu,"
"Hehehe..." Sasuke mengacak-acak rambut pirangku. Aku hanya bisa melanjutkan tawaku yang tak bisa tertahan lagi.
Kulihat lelaki itu kini berdiri di dekat jendela. Senyuman hangat yang diperlihatkannya sekarang. Bibirnya pun mengucapkan sebuah kata 'Arigatou'. Aku sedikit terkaget bahkan sangat kaget untuk mempercayainya. Lelaki itu mengucapkan kata 'terima kasih' padaku. Aku hanya tersenyum kelu.
"Teme..." panggilku dengan menelan ludah setelahnya.
"Hn?"
"Bagaimana jika kakakmu yang sudah meninggal itu ada di sampingmu?"
"Apa, Dobe?"
"Aku melihat kakakmu,"
"Bo-hong..."
...BERSAMBUNG...
MakLum~ Entah kenapa jadi buat fict kaya' gini. *digiLes*
Maaph jika masih ada kesaLahan dan typo daLam fict Tsuki.
…skaLi ripiew tetep ripiew ayo maju kasih ripiew…
Arigatou Gozaimashu
Aoi no Tsuki
