ALTERNATIVE

.

.

.

Author : Ciervo Azul

Title : Alternative

Genre : Fantsy-Romance-Drama

Length : 1 of 3

Cast :

.:. Luhan

.:. Sehun

.:. Boa

.:. Kangta

.:. Others

Warning :

.) AS (Age Switch as always)

.) BL (Boys Love)

.) Beberapa hal ga masuk akal(?)

Summary :

Luhan, vampire mungil yang baru duduk di level tujuh –atau sederajad dengan Junior High School tingkat pertama di bumi- diasingkan dengan satu misi oleh sang ayah yang merupakan salah satu bangsawan bangsa vampire karena kesalah yang ia perbuat. Di malam sunyi saat ia lapar, ia mencoba mengigit seorang namja –Oh Sehun- yang tinggal di sebuah mansion. Namun naas ia gagal dan tak bisa keluar dari mansion tersebut.

.

.

.

Di suatu kastil megah dengan aura menyeramkan di setiap sisinya, seorang namja mungil terlihat tengah mengerucutkan bibirnya.Namja-namja lain yang melihatnya hanya terkikik geli akan tingkah si bungsu. Ya, namjamungil itu adalah yang terkecil dan termuda di antara saudara-saudaranya yang lain. Saat ini keluarga besar penghisap darah itu tengah berkumpul untuk menyantap makan siang bersama dan saat itulah si bungsu yang diketahui bernama Luhan dimarahi oleh sang ayah, Xi Hangeng.

"Sudah papa bilang 'kan jangan menghisap darah manusia. Kenapa kau masih menghisap darah Son ahjumma, huh?" tanya Hangeng pada si bungsu, para hyung yang menyaksikannya masih sibuk terkikik, Luhan yang merasa terganggu langsung menghadiahkandeath -deer- glare yang malah terlihat menggemaskan. Para hyung-nya hanya bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi merona sangdongsaeng.

"Jawab papa Xi Luhan!" bentak Hangeng saat tak menerima jawaban dari Luhan.

"H-habis darah Son ahjumma manis, Lulu 'kan suka papa~" jawab Luhan sembari menggerutu.

"Hahh" Hangeng menghembuskan napas lalu menghilang dengan sekejap dari kursi makannya, selang beberapa detik kemudian ia kembali ke kursinya dan membawa si bungsu di pangkuannya. Beberapa kali ia mengusap surai coklat madu sang anak lalu tersenyum.

"Belum mendapat makanan alternative hmm?" tanya Hangeng yang jawab dengan anggukan imut oleh Luhan, parahyung-nya hanya tersenyum maklum.

"Hmm... Papa punya satu misi untuk Lulu dan selagi Lulu menyelesaikan misi Lulu bisa mencari makanan alternative, bagaimana?" Luhan menatap sang papa dengan penuh harap, pasalnya selama ini hanya hyung-nya saja yang mendapat misi.

"Misinya apa, papa?" tanya Luhan dengan mata berbinar *-*

"Lulu mau pergi ke bumi kan?" Luhan mengangguk dengan imut.

"Mau mau mau!" serunya dengan girang.

"Tapi di bumi banyak manusia... Nanti kalau Lulu gigit semua manusia bumi akan sepi, ahh papa akan memberikan misi ini pada Baekhyun hyung saja kalau begitu" kata Hangeng mencoba menggoda Luhan, matanya dikedipkan pada Baekhyun lalu dibalasoleh namja imut ber-eyeliner itu.

"Ya, papa. Aku siap" ucap Baekhyun dengan penuh semangat. Luhan mengalihkan pandangannya pada Baekhyun lalu menatapnya dengan deer eyes attack-nya yang dibalas dengan juluran lidah oleh Baekhyun.

"Papa~ Lulu tidak akan menggigit manusia. Lulu janji papa~ Berikan misi ini pada Lulu~" mohonnya dengan wajah memelas yang sangat imut, tangan mungilnya ditangkupkan di dada, deer eyes-nya yang berkaca-kaca membuat sang papa luluh dari pertahannya.

"Baiklah... Tapi Lulu harus janji tidak menggigit seorang manusiapun,okay?" ucap Hangeng dan di-iya-kan Luhan dengan anggukan antusiasnya.

"Papa yang terbaik!" pekik Luhan sembari memeluk leher sang papa. Hangeng tersenyum pada ketiga anaknya yang lain karena rencananya berhasil.

...

Mari kita (kita? Azul mah udah kenal *abaikan) berkenalan dengan keluarga Xi... Ekhem, sebelumnya kalian harus mengetahui di mana mereka tinggal. Mereka tinggal di EXO Planet di mana ada bangsavampire, werewolf, mermaiddan para mahluk mistis lainnya. Apa mereka sering berperang? Jawabannya tidak... Ya, mungkin dulu pernah. Tapi itu dulu, sebelum negara api menyerang yang dipimpin oleh Chanyeol di barisan terdepan sebagai pengendali api *abaikan kalimat terakhir _-_)*

Bangsa vampire adalah kasta tertinggi di planet EXO, karena itu para vampire sangat disegani oleh mahluk-mahluk lain. Karena hal itu banyak kaum lain yang menentang dan terjadilah perang, tetapi seperti sudah dituliskan oleh takdir bangsa vampire-lah pemenangnya dan sejak saat itu tak ada yang berani memberontak. Para vampire yang berstatus bangsawan memegang teguh rasa persatuan dan keseimbangan antar vampire dengan kaum lain, maka dari itu banyak anak werewolf, mermaiddan elf yang mereka angkat menjadi anak. Salah satu contohnya adalah Xi Hangeng, ia mengangkat masing-masing satu anak dari setiap mahluk berkasta di bawahnya. Itu terjadi karena Hangeng dan Heechul tak kunjung memiliki anak, jadilah mereka mengangkatXiumin –anak pertama- dari kaum mermaid,Kai –anak kedua- dari kaum werewolf,dan Baekhyun –anak ketiga- dari kaum elf. Sepuluh tahun setelah ketiga anak itu dijadikan anak mereka, Heechulpun mengandung. Tubuh Heechul yang lemah membuat ia tak terselamatkan saat melahirkan Luhan, karena hal itu papa dan para hyung-nya sangat memanjakan Luhan. Akhirnya Luhan tumbuh menjadi anak yang manja. Sesekali Luhan menghisap darah para pelayan yang bekerja di kastilnya karena mereka adalah manusia. Mengenai para manusia, mereka bekerja di sana sebagai pelayan dengan akses pintu waktu yang diciptakan oleh keluarga Huang, yang mana bisa membantu mereka kembali ke bumi kapanpun mereka mau.

Berbeda dengan Hangeng yang sudah menjadivampirevegetarian(?) yang tidak menghisap darah lagi, bukan hanya Hangeng seluruh vampire yang tinggal di EXO planet juga telah lama tidak menghisap darah. Karena darahlah yang membuat peperangan di planet itu terjadi, dimana para vampire menghisap darah kaum yang berada di kasta bawahnya. Di sekolahnya, Luhan selalu gagal di kelas pemilihan makanan alternative karena ia selalu berakhir dengan menghisap kantung darah yang tersedia. Meski begitu, Luhan selalu menjadi yang terbaik di kelasnya.

Kita mulai dari namja berpipi chubby bernama Xiumin, namanya akan berubah dengan sendirinya saat ia menapaki bumi untuk bertemu sang pujaan hati. Kalian bisa memanggilnya Kim Miseok jika kalian bertemu dengannya di bumi. Namja manis ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap air karena, kaki mulusnya akan berubah menjadi ekor ikan jika terkena air. Oleh sebab itu, Hangeng memberinya kekuatan untuk merubah air menjadi es, agar ketika di saat genting ia tidak akan berubah.

Beralih pada namja berkulit eksotis bernama Kai, yup sama dengan Xiumin namanya juga akan berubah jika ia menapaki bumi, nama buminya(?) adalah Kim Jongin. Ia adalah werewolf termuda di kaumnya dan itu membuat emosinya mudah naik yang berakibat tak lain dan tak bukan berubah menjadi werewolf . Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat Kai berada di bumi, Hangeng memberinya kekuatan teleportasi sehingga saat emosinya memuncak ia bisa berteleportasi ke Bulan, Mars, ataupun ke rumah Azul(?).

The last but not list,Baekhyun. Namjabermata sipit ini adalah elfyang bisa merubah wujudnya menjadi seperti manusia biasa, tanpa sayap dan tanpa telinga lancipnya. Di bumi namanya tidak berubah, hanya saja ditambahkan marga Byun di depannya, dan sama seperti yang lain ia mempunyai kelemahan. Kelemahannya yaitu, ketika jantungnya berdegup dengan kencang maka ia akan berubah menjadi wujud elf. Dan seperti kedua saudaranya ia diberi kekuatan, kekuatannya adalah cahaya yang akan ia keluarkan saat ia akan berubah sehingga tidak ada yang bisa melihat wujud elf-nya. (Okay,Azul tahu ini alesannya maksa banget tapi tolong dimaklumi ya? /xoxo readers/?) Sekian perkenalannya, kita kembali kecerita.

...

Luhan sudah menapaki kaki mungilnya di bumi. Namun, tempatnya berpijak adalah... Hutan. Luhan merasakan getaran menggelikan di sekitar perutnya. Ia lapar. Saking senangnya Luhan melupakan makan siangnya yang baru setengah jalan(?) dan langsung pergi menuju pintu waktu. Luhan sangat menyesal, ia hanya membawa sebuah ransel berisikan teropong masa depannya, permen karet aneh yang ia lupa dari mana asalnya, kartu hitam pipih yang diberikan papanya, boneka Bambinya yang terkecil, selimut baby blue-nya, botol susu kesayangannya yang sayangnya kosong –Luhan masih suka meminum susu dengan dot botol *bingung namanya apa _-_)a*-, atlas dunia milik Minseok, eyeliner milik Baekhyun dan benda kecil berbentuk aneh mirip balon yang belum ditiup yang ia temukan di kamar Kai –if you know what I mean *evil laugh*-. Tak ada satu pun makanan di dalam ranselnya.

"Lulu lapar~" ucapnya dengan nada merengek. Tak disangka tubuh mungilnya telah keluar dari hutan, ia melihat seorang kakek tua dengan sebuah gerobak aneh sedang bertengger(?) di pinggir jalan. Luhan menghampiri kakek tersebut lalu menatapnya dengan deer eyes attack andalannya. Si kakek menatapnya balik dengan bingung.

"Gadis kecil, di mana eomma-mu?" tanya sang kakek sembari menatap Luhan.

"Lulu bukan perempuan! Lagi pula eomma itu apa?" gerutu dan tanyanya bergantian.

"Ohh kau namja ternyata..." gumam sang kakek yang membuat Luhan mengkerutkan dahinya.

"Masa kau tidak tahu apa itu eomma?" tanya sang kakek heran, Luhan terdiam.

Jika kau tidak mengerti dengan bahasa mereka, makanlah permen karet yang papa berikan.

Luhan teringat akan pesan sang papa dan dengan segera membuka ranselnya, mencari permen karet pemberian sang papa.

"Hey, nak... Kau ini kenapa? Bukannya menjawab malah sibuk memakan permen karet" ujar sang kakek bingung. Setelah beberapa kunyahan Luhan membuka mulutnya.

"Ahh eomma-ku sudah tidak ada sejak aku lahir, harabeoji..." ujar Luhan dengan fasih, akhirnya dia mengerti.

KRUYUK

Pandangan si kakek beralih pada perut Luhan dan setelahnya pandangan geli si kakek bertubrukan dengan cengiran Luhan.

"Kau belum makan hmm?" Luhan mengangguk, si kakek menyodorkan sebuah roti yang ia jual pada Luhan.

"Ini apa?" gumam Luhan yang hampir terdengar seperti bisikan, si kakek memasukkan salah satu jarinya pada telinga lalu mengeluarkannya lagi.

"Kau bilang apa?" tanya sang kakek.

"Apa ini bisa dimakan?" tanya Luhan sembari memiringkan kepalanya.

"Hahh kau ini berasal dari mana sih?" tanya sang kakek yang jengah dengan tingkah Luhan.

"Aku dari EXO planet"

"Itu perumahan mana, nak?" Luhan mengerutkan dahinya, ia tahu apa arti perumahan tetapi yang ia maksud bukan itu, sungguh.

"Itu bukan perumahan, harabeoji. Itu planet" ujar Luhan menegaskan.

"Planet? Seperti Mars dan Venus?" Luhan mengangguk antusias.

"Yup, seperti itu"

"Daya hayal anak zaman sekarang memang sangat tinggi" ujar si kakek sembari tersenyum maklum, Luhan yang mendengarnya tampak sebal.

"Aku tidak berhayal, harabeoji! Aku benar-benar dari luar angkasa!" ucapnya sembari mengerucutkan bibir.

"Ya... Ya... Ya... Berarti kau adalah seorang alien, huh?" tanya sang kakek dengan nada meremehkan.

"Aku bukan alien, aku vampire...Lihat saja gigi taringku!" gerutu Luhan sembari memamerkan taring susunya yang belum juga menjadi taring dewasa.

"Yak! Lepaskan mainan gigi-gigi-anmu itu, cucuku juga punya tahu. Sudahlah jangan berbohong, berbohong itu tidak baik" ujar sang kakek dengan pandangan menuduh.

"Lulu tidak berbohong~" ujar Luhan dengan mata berkaca-kaca.

SRETTT

Dengan cepat sang kakek mengambil lagi roti di tangan Luhan.

"Sudahlah, cepat pulang sana. Dasar anak nakal" tanpa babibu sang kakek berlalu mengayuh sepeda-gerobak rotinya meninggalkan Luhan sendirian.

"HUWAAA LULU BUKAN ANAK NAKAL"

.

.::. Alternative .::.

.

Luhan berjalan tak tentu arah setelah keluar dari hutan dan mengikuti arah sang kakek tadi pergi. Luhan masih memegangi perutnya yang belum juga terisi, tak terasa langit mulai gelap. Luhan teringat akan atlas yang ia ambil dari kamar Xiumin.

Atlas ini bisa membantuku saat di bumi, aku hanya perlu mengucapkan apa yang kucari dan ia akan menunjukkan tempatnya.

"Kenapa tidak terpikir dari tadi?!" gerutunya sembari mengobrak-abrik ranselnya.

"Ini dia!" pekik Luhan kegirangan saat mendapatkan atlas bumi milik Xiumin, di letakkannya atlas itu di atas tanah lalu mengucapkan apa yang ia cari.

TING

Luhan menghilang bersama ranselnya dengan sekejap.

TING

Luhan sudah berada di pinggir balkon yang kira-kira berada di lantai tiga kediaman megah itu.

"Huaa Lulu takut ketinggian~" serunya dengan wajah berkaca-kaca sembari memeluk pagar pembatas balkon, dengan langkah pasti Luhan membawa tubuh mungilnya ke bagian dalam balkon.

"Papa tega tidak mau membantu Lulu... Hiks..." isaknya sembari berjalan menjauh dari tepi balkon.

KRUYUK

Suara mengganggu itu kembali datang.

"Bersabarlah sedikit..." ucapnya sembari memegangi perutnya.

DUK

Langkahnya terhenti kala dahinya mendapat kecupan manis dari kaca besar di depannya.

"Aww... Appo" ujarnya sembari mengusap dahinya yang sakit.

"Hmm... " Luhan memandang ke dalam kaca besar itu, tepatnya pada namja yang sedang berbaring di kasur Kingsize-nya.

"Papa, maafkan Lulu ya... Lulu janji ini yang terakhir kalinya..." ucapnya sembari menatap langit, tangan mungilnya memutarhandlepintu kaca itu yang ternyata tak terkunci. Dengan langkah pelan tapi pasti Luhan mendekati namja tersebut lalu mulai naik ke atas ranjang.

"Selamat makan..." gumam Luhan dengan suara pelan agar tidak membangunkan mangsannya. Gigi-gigi kecilnya mulai menggerayangi leher sang namja berkulit seputih susu itu namun tak ada setetes darahpun yang keluar.

"Kenapa tidak keluar? Apa kurang tajam?" gumam Luhan sembari terduduk dengan wajah ditekuk, sang namja yang pada dasarnya tidak tidur hanya tersenyum geli. Saat Luhan mencoba untuk menghisap darah dari leher sang namja lagi, sang namja-pun membuka matanya.

"Apa yang kau lakukan, gadis manis?" namja berkulit seputih susu itu membalikkan tubuhnya, menghadap sosok yang lebih mungil.

"Lulu bukan perempuan, hmm..." protes si mungil lalu memunculkan wajah berpikirnya.

"Ck kau bahkan lebih cantik dari perempuan, kau bernapsu sekali sampai menciumi leherku. Anak nakal. Panggil aku Sehun, sayang..." ujar Sehun dengan sebuah smirksamar di bibir tipisnya. Lalu mengukung Luhan sembari menindihnya.

"Mencium?" si mungil memiringkan kepalanya dengan polos, membuat namjayang lebih besar mengembangkan senyum di wajah tampannya lalu mengangguk.

"Lulu tidak mencium tahu... Lulu mau menggigit!" ujar si mungil dengan bibir cherry yang mengerucut.

"Lihat gigi taring Lulu, walau masih gigi susu tapi pasti bisa mengigitmu!" ucapnya lagi dengan nada kesal yang sangat kentara, sementara yang diajak bicara malah sibuk tertawa terbahak-bahak akibat ulah si mungil yang menggemaskan.

...

Sehun masih mengukung Luhan di atas kasur empuknya, Luhan yang memang sudah lelah tidak melakukan pemberontakkan sedikitpun.

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini cantik?" tanya Sehun sembari mengelus dagu lancip Luhan dengan gerakkan sensual.

"Geli~" Luhan menggeliatkan tubuhnya.

"Jawab pertanyaanku dulu..."

"Baiklah... Minggir dulu Sehun, Lulu mau bangun!" protes Luhan saat tubuh mungilnya tak bisa bergerak.

"Arraseo..." Sehun bangkit dari ranjangnya dan membiarkan Luhan duduk di sampingnya. Tangan mungil itu mulai melepas ranselnya.

"Hahh... Kau harus berjanji dulu harus percaya dan jangan menertawakan Lulu!" ujar Luhan sembari memberikan kelingking mungilnya. Oh ingatkan Sehun bahwa ia baru saja diancam oleh mahluk cantik di sampingnya.

"Ya, aku berjanji. Tapi sebelumnya panggil aku hyung... Karena kau pasti lebih muda dariku" ujar Sehun sembari menautkan jari mereka. Luhan mengangguk setuju.

"Sehun hyung..." ujar Luhan sembari tersenyum.

CUP

Bibir tipis Sehun baru saja menyapa bibir mungil Luhan.

"Anak pintar" Sehun mengusak rambut halus Luhan.

"Lulu memang pintar" balasnya dengan bangga.

"Jadi?"

"Ah, iya. Lulu datang dari sebuah planet di luar angkasa bernama EXO planet" tidak ada tanggapan dari Sehun selain senyuman manisnya yang tak pernah lepas sejak mendapati Luhan di ranjangnya.

"Lulu ini vampirelevel tujuh, Lulu punya papa yang tampan, mama yang ada planet surga dan tiga hyung yang aneh..." Sehun menyerngit saat mendengar planet surga.

"Surga itu bukan planet"

"Kata papa surga itu planet..."

"Kalau surga itu planet kau pasti bisa ke sana seperti ke bumi" Luhan terdiam.

"Jadi inti kedatanganmu ke sini untuk apa hmm?"

"Oh itu? Untuk mencari pangeran vampire dan membawanya ke EXO planet!" seru Luhan dengan girang, sementara Sehun hanya ber'o'ria sembari mengangguk-anggukan kepalanya.

"Sudah menemukan sang pangeran?"

"Belum..." jawab Luhan dengan nada sedih.

"Seharusnya raja saja yang menjemput pangeran, jangan anak kecil sepertimu. Nanti kalau kau diculik bagaimana?"

"Papa akan datang!"

"Papamu pasti sangat baik, ya?" gumam Sehun.

"Hmm apa yang kau bawa di dalam tasmu?" tanya Sehun dengan tatapan curiga pada ransel Luhan. Dengan malas Luhan mengeluarkan semua yang ada di tasnya, Sehun sempat terkikik saat melihat botol susu khas bayi itu keluar dari ransel Luhan dan satu lagi yang membuat Sehun berhenti terkikik saat mata tajamnya melihat benda laknat itu keluar dari ransel vampire mungil nan polos di hadapannya.

"Untuk apa kau membawa kondom?" tanya Sehun dengan wajah bingungnya.

"Apa?" tanya Luhan yang asing dengan kata kondom.

"Kondom... Yang ini" ujar Sehun sembari menunjuk benda yang dimaksud.

"Ohh balon ini namanya kondom?" Luhan mengangkat kondom itu sembari tersenyum berbanding terbalik dengan Sehun yang menepuk dahinya sendiri dengan tangan besarnya.

"Jadi kau pikir ini balon?" tanya Sehun setelah mengambil alih kondom itu dari tangan Luhan. Luhan mengangguk sebagai jawaban.

"Hahh aku akan menyita ini... Lanjutkan, ini apa?"

"Yahh tapi Kai... Nanti kembalikan ya, kalau tidak nanti Lulu diomeli" Sehun hanya mengangguk.

"Ini apa?" Luhan menatap teropong kesayangannya dengan mata berbinar.

"Ini teropong masa depan~" ujarnya sembari memeluk teropong itu dengan kedua lengan kecilnya.

"Masa depan?" tanya Sehun bingung.

"Yup, kalau hyung meneropong sesuatu atau seseorang maka hyung bisa melihat apa yang terjadi pada benda atau orang tersebut" Sehun menangguk mengerti, tangan mungil itu memberikan teropong aneh itu pada Sehun.

"Mau coba?" tanyanya, Sehun dengan sigap mengambil teropong itu lalu mengarahkannya pada ranjangnya.

"Nghh hyunggie~" nampak gambaran dua orang namja dengan postur tubuh yang berbeda

jauh tengah dalam keadaan tak berbusana.

Di atas, sang namja besar mengukung namja yang lebih kecil dengan beberapa kali sentakan ia berikan pada tubuh mungil itu.

"Apa sayang?" Sehun kenal suara itu. Sangat kenal. Itu suaranya sendiri.

"Lebih dalam, hyung~" dibawanya pandangan pada teropong itu ke arah samping sehingga sosok namja mungil itu dapat terlihat.

"Luhan..." lirih Sehun dengan napas tercekat, dilepasnya teropong itu dengan cepat.

"Kenapa hyung?" tanya Luhan dengan bingung.

"Sehunnie~ Cepat turun sayang..." sebuah suara menginteruipsi melalui intercom di kamar Sehun.

"Ne, eomma..." jawab Sehun dengan cepat.

"A-ani... Ayo kita turun, kau harus bertemu dengan eomma..."

"Eomma? Lulu mau punya eomma" ucap Luhan dengan mata berbinarnya, kedua tangan mungilnya ia gunakan untuk mengukung lengan besar Sehun. Keduanya berjalan keluar kamar dengan beriringan.

"Tidak bisa, eomma-ku ya eomma-ku" jawab Sehun dengan nada datar, tangan mungil itu terlepas dari lengannya.

"Lulu mengerti..." lirihnya dengan senyuman yang dipaksakan, sontak Sehun merasa bersalah karenanya.

"Mi-miahae... Hyung tidak bermaksud begitu. Kau bisa memiliki eomma juga kalau kau mau tapi jangan menanggis ya?" ujar Sehun kalang kabut setelah melihat mata Luhan yang berkaca-kaca.

"Jinjja?" Luhan mengubah ekspresinya dengan sekali kedip, kini mata rusanya kembali berbinar.

'Tahu begitu kubiarkan saja dia menanggis' geram Sehun dalam hati.

"Ne.... Sesukamu" jawab Sehun saat kaki jenjangnya menapakki anak tangga terakhir.

"Woahh kau menemukan gadis kecil ini di mana, Sehunnie?" ujar seorang yeoja paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya dengan riang.

"Lulu bukan perempuan!" protes si mungil berwajah cantik sembari mengembungkan kedua pipinya.

"Aigoo kau lucu sekali... Eomma jadi menginginkan seorang putri"

"Kalau begitu buat saja dengan appa" balas Sehun sembari menarik salah satu kursi di hadapannya.

"Duduklah, Lu..." pinta Sehun sembari menggendong tubuh mungil Luhan.

'Aroma bayi... Anak ini terlalu menggemaskan' batin Sehun.

Boa –eomma Sehun- masih memandangi kedua namja berbeda postur tubuh di depannya.

"Ayo... Ayo, dimakan. Oh ya, siapa namamu manis?" tanya Boa dengan lembut.

"Luhan, eomma~" ujar Luhan dengan senyum polosnya, Boa memandanginya dengan tatapan gemas.

"Ahh~ kau mengingatkanku pada Sehun kecil..." ujar Boa menerawang masa lalu.

"Eomma, jangan mulai" Sehun memandang Boa dengan tatapan datarnya.

"Memang Sehun hyung kenapa?" Luhan masih membiarkan piringnya kosong sementara Sehun sudah meletakan beberapa lauk di piringnya.

"Kau tidak makan?" tanya Sehun.

"Ah iya, Luhannie harus makan yang banyak ya biar cepat besar seperti Sehun hyung" Boa mulai mengambil alih piring Luhan dan dengan telaten mengambilkan nasi dan beberapa lauk yang tak pernah Luhan lihat di rumahnnya.

"Tidak ada sayur?" tanya Luhan memastikan yang terdengar berbeda di telinga Boa dan Sehun.

"Pintarnya~" Boa memuji.

"Kau makan sayur?" tanya Sehun dengan ragu. Luhan menggelengkan kepalanya dengan lucu.

"Hanya memastikan, di rumah Lulu tidak ada makanan seperti ini. Papa selalu memakan sayur dan Lulu tidak suka itu"

"Kau belum menemukan makanan alternative-mu?" tanya Sehun. Luhan menyerngit, pasalnya Luhan belum pernah menyinggung perihal makanan alternative vampire pada Sehun.

"Belum..." jawabnya yang dijawab dengan anggukan paham oleh Sehun, Boa menatap anaknya dengan penuh tanda tanya.

"Dia vampire, eomma..." ujar Sehun dengan cepat.

"Level berapa?" tanya sang eomma yang telah mengerti duduk permasalahannya.

"Level tujuh..." kini Luhan menjawab dengan ragu, mata rusanya memandang sepasang anak dan ibu itu bergantian.

"Ohh begitu, tunggu di sini sebentar..." Boa mengulum senyum manis lalu bangkit dari duduknya menuju sebuah ruangan di sebelah meja makan.

"Eomma kemana hyung?" tanya Luhan penasaran.

"Mengambil sesuatu..." jawab Sehun yang sedang fokus dengan makanannya.

"Lulu lapar... Lulu mau darah, Lulu hisap leher hyung, ya?" ujar Luhan sembari mendekati Sehun.

"Shireo! Kau harus belajar memakan makanan lain, lagi pula kau tidak bisa menghisap darahku..."

"Huhh memang sih... Tapi makan apa?"

"Ini..." suara Boa menginterupsi.

Boa keluar dari ruangan tersebut bersama beberapa maid di belakangnya, para maid membawa masing-masing satu macam makanan yang masih tertutup, mereka berbaris dengan rapi di sepanjang meja makan yang berbentuk persegi panjang. Luhan menyerngit tanda tak mengerti, sementara Sehun masih setia dengan gaya stay cool-nya.

"Buka" perintah Boa dengan suara halusnya, maka dengan serempak para maid membuka penutup dari tiap makanan yang dibawa. Luhan menatap semua makanan di hadapannya tanpa berkedip.

"Kau masih level tujuh 'kan? Aku juga pernah di level itu dan makanan terbaikku adalah makanan manis, tadi aku sempat membaca pikiranmu. Kau menyalah artikan rasa manis dalam darah manusia sebagai makanan. Jadi sekarang makanlah makanan yang kau suka" Sehun bersuara, dikulumnya sebuah senyuman tipis ketika Luhan mengangguk dengan antusias.

"Selamat makan!" seru Luhan dengan mata berbinarnya. Tangan mungilnya mulai mengambil ice cream cake yang berada tak jauh dari jangkauannya. Sesekali ia meminum minuman manis yang Sehun sebut bubble tea.

"Hyung..." seru Luhan di tengah kegiatan menggigitnya.

"Hmm?" Sehun menjawab sembari melanjutkan acara makannya.

"Luhannie suka?" tanya Boa yang kembali ke kursinya semula.

"Nge! (Ne!)" jawab Luhan antusias dengan makanan penuh di mulutnya.

"Pelan saja, sayang..." ujar Boa sembari tersenyum gemas.

"Hyung, bagaimana hyungdan eommatahu makan alternative? Apa kalian juga vampire?" tanya Luhan setelah menelan makanannya.

"Eomma bukan tetapi Sehun iya" ujar Boa membuat Luhan menyerngit.

"Maksudnya?"

"Nanti kujelaskan di kamar, sekarang kau makan dulu" ujar Sehun setelah menyeruput choco bubble tea-nya.

"Arraseo" jawab Luhan mengerti. Luhan selesai makan setelah memakan tiga potong ice cream cake, tiga cup ice cream vanilla, dua potong chesse cake, setengah piring mochi, dan empat cup bubble tea rasa taro yang malam itu ia claimsebagai minuman kesukaannya.

"Luhannie mau tidur sendiri? Nanti eomma akan siapkan kamar untuk Luhannie" tanya Boa sembari membersihkan sisa makanan di sudut bibir Luhan.

"Lulu tidak suka tidur sendiri..." rengek Luhan dengan suara manjanya.

"Aaaa kyeopta!" seru Boa kegirangan lalu jemari lentiknya secara otomatis mencubit pipi tembam Luhan dengan pelan. Sehun memandang kegiatan Boa dan Luhan dengan jengah.

"Kalau begitu Luhanie mau tidur dengan eomma?" tannya Boa dengan ekspresi gemasnya. Luhan baru saja mau membuka kedua belah bibir mungilnya namun, sebuah suara terlebih dahulu menginterupsi.

"Shireo! Dia akan tidur denganku malam ini, eomma" ujar Sehun tak terima.

...

Di sinilah Luhan sekarang, sebuah kamar mandi yang tak jauh berbeda dengan miliknya di EXO planet. Luhan baru saja menyelesaikan acara mandi malamnya, tubuh mungilnya dibalutbathrobe milik Sehun yang sangat kebesaran ditubuhnya, tangan mungilnya meraih gagang pintu kamar mandi yang memisahkan ruangan itu dengan kamar Sehun. Ditatapnya sang pemilik kamar yang sedang berkutat dengan buku dan alat tulis di mejanya.

"Kau sudah selesai?" tanya Sehun tanpa menatap Luhan.

"Ne, hyungie sedang apa?" tanya Luhan sembari berjalan ke arah Sehun.

"Mengejakan tugas. Rambutmu masih basah"

SRET

Sehun mengambil alih handuk di pundak Luhan lalu memutar tubuhnamja bermata rusa itu.

"Duduklah" tanpa buang waktu Luhan segera menurut. Sehun mengusap untaian rambut halus itu dengan perlahan dan lembut, sesekali ia tersenyum mengingat tingkah polos namja mungil itu.

"Jja,selesai. Sekarang ganti bajumu" ujar Sehun sembari menunjuk sebuah kaos biru laut miliknya di atas tempat tidur.

"Kau tidak membawa baju 'kan? Pakai itu dulu, besok eomma akan membelikan baju baru dengan ukuranmu jadi sekarang kau tidur dengan itu dulu" ujar Sehun panjang lebar. Luhan yang tak mau ambil pusing segera memakai kaos yang sebenarnya masih kebesaran pada tubuh mungilnya. Dengan mudahnya Luhan melepaskan bathrobe di tubuhnya melupakan seorang Sehun yang masih memandangnya, seketika itu juga Sehun tercengang.

GLUP

Sehun menelan ludahnya dengan susah payah, belum lagi ingatan tentang hal yang ia lihat di ranjangnya dengan teropong masa depan Luhan. Selesai dengan kaos Sehun, kini Luhan berbaring dengan botol susu kesayangannya, Sehun telah memerintahkan seorangmaid untuk mengisinya saat Luhan mandi. Bibir mungilnya masih sibuk menyedot susu dari botol itu seperti bayi, sesekali mata rusanya mengerjap-ngerjap pelan menandakan ia mulai mengantuk. Matanya menatap Sehun yang masih setia dengan pekerjaan rumahnya. Tanpa melepaskannya botol susu itu dari kedua belah bibir cherry-nya, ia membawa tubuh mungilnya itu ke arah Sehun.Namja berkulit kelewat pucat yang baru saja selesai dengan pekerjaannya itu merasa diperhatikan langsung memalingkan pandangannya pada namja yang lebih mungil, Sehun yang tidak tahan melihatnya langsung memeluk Luhan dengan gemas.

'Sial! Pantas saja appa menyuruh anak ini, sekarang saja aku sudah tidak kuat. Ani, aku akan menahannya di sini sampai appa sendiri yang datang' batin Sehun.

PLOP

"Hyung...Sesak..." rengek Luhan setelah melepas botol susu dari mulutnya. Sehun yang mendengar rengekan Luhan seketika merenggangkan pelukkannya.

"Mianhae...Lanjutkan minumnya" ujar Sehun sembari mengusap rambut Luhan. Luhan mengangguk patuh.

"Hyungiemau?" tanya Luhan sembari menyodorkan botol susunya pada Sehun, membuat namjaitu hadapannya terkekeh.

"Aku sudah tidak minum susu malam, habiskanlah..." ujar Sehun dengan lembut lalu membawa tubuh mungil itu kembali pada ranjang king sizemiliknya. Satu menit setelah ucapan Sehun, Luhan mulai memperlihatkan tanda-tanda mengantuknya. Sesekali ia menguap dengan lucu tak lupa mata rusanya ia usap dengan kepalan tangan mungilnya, membuat Sehun tersenyum karenanya.

"Tidurlah, kau pasti sangat lelah 'kan?" ujar Sehun sembari mengusap rambut Luhan. Namjayang lebih mungil menggeleng dengan wajah mengantuknya.

"Hyungbelum menjelaskan yang tadi..." ujar Luhan dengan suara lemahnya.

"Ohh itu, mana teropong masa depanmu?" tanya Sehun membuat Luhan menyerngit, diambilnya teropong yang berada di nakas sebelah kiri itu lalu memberikannya pada Sehun.

"Tidak, kau yang memakainya... Arahkan padaku" pinta Sehun sembari mengeluarkan smirktipisnya. Luhan menggaruk-garuk pipi kemerahannya yang tidak gatal lalu melakukan apa yang Sehun minta. Mata rusanya yang tadinya sudah akan menutup terbuka lebar setelah melihat penampilan Sehun yang seperti raja vampire, dengan wajah yang lebih dewasa, tak lupa jubah hitam dengan lambang EXO planet di dada kiri jubah dan lambang pusaran angin di masing-masing sisi kerahnya (kayak kerah baju pramuka yang ada lambangnya di kerah gitu)

"H-hyungpangeran vampire?" ujar Luhan dengan napas tercekat.

.

.::. Alternative .::.

.

Luhan terbangun dari tidurnya setelah tadi malam mengintrogasi Sehun dengan setumpuk pertanyaan yang tak habis-habis dari kedua belah bibir ranumnya dan terhenti karena, rasa mengantuk yang mengambil alih kesadarannya. Mata rusanya mengerjap dengan lucu, hal pertama yang ditangkap oleh indera penglihatannya adalah sisi kosong yang semalam di tempati Sehun.

"Hyungie kemana?" tanya Luhan entah pada siapa.

TOK

TOK

TOK

Ketukan pada pintu kamar Sehun menyita atensinya, dengan langkah malas kaki mungilnya mendekati pintu lalu membukannya.

"Sehunnie!" tiba-tiba seorang yeoja berseragam menghambur memeluk angin(?) di atas kepala Luhan.

1 Detik

2 Detik

3 Detik

"SEHUNNIE, KENAPA KAU MENYUSUT BEGINI?!" teriakan sangyeojamenggelegar di mansion keluarga Oh itu.

...

Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar dari ruang makan keluarga Oh, di sana duduklah Sehun, Luhan, dan seorang yeojayang diketahui bernama Krystal. Sesekali Krystal menatap Luhan seolah ingin memakan namjamungil itu sekali lahap. Sementara Sehun yang melihatnya menampakkan tatapan tajam andalannya pada sang yeojadengan sangat kentara.

"Hentikan itu! Luhan jadi takut melihatmu" perintah Sehun dengan dingin sementara Krystal yang diperingati hanya menganggapnya angin lalu.

"Luhannie mau noona suapi?" tanyanya tanpa menggubris ucapan Sehun. Luhan mengangguk lucu, baru saja satu suapanmacaroningin dilayangkan Krystal namun, tangan kekar Sehun sudah terlebih dahulu membawa Luhan pada pangkuannya.

"Biar aku yang menyuapinya" ujar Sehun, mata Krystal seketika membulat dengan binar yang sangat kentara di dalamnya.

"Sehunnie sudah membuka hati?" tanya Krystal yang tak ditanggapi Sehun, ia lebih memilih menyibukkan diri dengan menyuapi Luhan yang dipangku menghadapnya agar tidak melihat wajah Krystal.

"Lulu mau bubble tea" rengek Luhan dengan wajah memelasnya, Sehun mengangguk sembari tersenyum lalu mengambilkan bubble tearasa tarokesukaan Luhan.

"KYAAA KALIAN COCOK SEKALI! AKU FANPERTAMA KALIAN!" pekik Krystal dengan kencang membuat Luhan yang sedang menyeruput bubble teatersedak, seketika Sehun menatap Krystal dengan tatapan membunuhnya.

"Kau bisa diam tidak? Lihat yang kau lakukan, Luhan jadi tersedak" geram Sehun menahan emosi, tangannya ia bawa ke punggung mungil Luhan, menepuknya beberapa kali hingga Luhan merasa lebih baik.

"Mianhae..." ujar Krystal dengan wajah menyesal. Sehun tak menanggapi, mata tajamnya menatap jam dinding yang tergantung di atas pintu.

"Lu... Hyungakan pergi ke sekolah sekarang, kau tunggulah di rumah..."

"Dan kau, aku sedang tidak ingin semobil denganmu, ja-" lanjut Sehun sembari memandang Krystal.

"Yakk kau tega sekali pada sepupumu!" protes Krystal tak terima.

"Aishh ini..." ujar Sehun sembari melempar sebuah kunci mobil pada Krystal.

"Kkkk kau yang terbaik, aku duluan ya~" pamit Krystal sembari memberikan wink-nya pada Luhan yang berdampak pada tingkat emosi seorang Oh Sehun.

"Hahh anak itu..." gumam Sehun sembari menggelengkan kepalanya lalu memijat pangkal hidung mancungnya.

"Hyung..." panggil Luhan dengan nada manja sembari menarik-narik kemeja sekolah Sehun.

"Hmm?" Sehun menatap mata rusa itu.

"Lulu ikut, ya..." mohonnya sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada, jangan lupakan deer eyes attack-nya namun, Sehun menggeleng dengan ragu sebagai balasannya.

"Ti-Dak" dipindahkannya Luhan ke tempat semula lalu diraihnya ransel hitamnya.

"Hyung..." Luhan merengek dengan wajah berkaca-kaca membuat Sehun seketika frustasi akibat ulahnya.

"Haishh sudahlah, hyungakan pulang nanti sore. Sebentar lagieomma akan datang, jadi kau tunggu di sini jangan kemana-mana,arra?" Sehun mengacak rambut Luhan dengan gemas lalu pergi menuju garasinya.

"Ishh hyung menyebalkan! Sama saja seperti mereka huhh" sungut Luhan sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

...

Setelah keberangkatan Sehun ke sekolah Luhan hanya berdiam diri di kamar Sehun dengan bathrobeyang kebesaran menandakan si mungil baru selesai dengan acara mandinya. Luhan hanya berguling-guling di ranjang Sehun hingga bosan, sampai suara ketukan pintu terdengar untuk kedua kalinya di kamar itu.

"Siapa?" tanya Luhan sembari menyembulkan kepalanya.

"Ini eomma, sayang. Sehun sudah berangkat ke sekolah ya?" tanya Boa sembari membuka pintu kamar Sehun, tangan halusnya mengangkat tubuh mungil Luhan lalu menggendongnya di depan. Beberapa maid ikut masuk untuk membawa belanjaan Boa.

"Ne, hyungie tidak mau mengajak Lulu!" adu Luhan dengan wajah kesalnya. Boa terkekeh mendengarnya, diciumnya pipi menggemaskan Luhan lalu diletakkannya tubuh mungil itu di atas ranjang.

"Luhannie, coba pilih mana yang mau kau pakai" ujar Boa sembari menunjukkan berbagai macam potong baju yang ia beli untuk Luhan. Namjacilik bermata rusa itu mengambil sebuahsweaterberwarna baby bluedengan kepala rusa di tengahnya, tak lupa celana pendek berbahan jeansyang menutupi kaki mungilnya sebatas lutut. Luhan membawa semuanya ke dalam kamar mandi lalu memakainya. Boa menatap namja bermata rusa itu dengan gemas.

"Kyaaa ternyata cocok sekali" pekiknya girang. Luhan tersenyum, lalu memberikan tatapan memelasnya yang paling tidak bisa ditolak.

"Lulu mau ke sekolah Sehun hyung, boleh ne?" tanyanya sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Boa yang memang tak bisa menolak hanya mengangguk pasrah.

"Jinjja?"

"Iya sayang, tetapi, Luhannie harus memakai sepatu dan sarapan dulu baru Ahn ahjussi akan mengantar ke sekolah Sehun, arra?" ujar Boa sembari memakaikan sepasang sneakers di kaki mungil Luhan,namjabermarga Xi itu mengangguk lucu.

"Tetapi kenapa harus di antar? Lulu 'kan bisa pergi dengan atlas Xiumin hyung"

"Ini di tengah kota, sayang. Kau harus terbiasa diantar agar tidak mencurigakan" ujar Boa sembari membawa Luhan keluar dari kamar Sehun. Luhan mengangguk lucu dengan patuh, sampailah ia di pekarangan keluarga Oh yang super luas. Seorang namja paruh baya berseragam tengah menunggunya sembari berdiri di depan pintu mobil dengan seulas senyum hangat.

"Ah! Eomma hampir lupa, pakai ini sayang" ujar Boa sembari mengeluarkan sebuah liontin bulan purnama lalu mengalungkannya di leher Luhan.

"Ini untuk apa?" tanya Luhan sembari memiringkan wajahnya.

"Ini untuk menjaga Luhan agar tidak terpengaruh oleh sinar matahari" bisik Boa.

.

.::. Alternative .::.

.

SM Senior High School

Puluhan mobil berlalu-lalang memasuki sekolah termahal di Seoul itu, entah yang hanya mengantar sampai di depan pintu masuk atau mobil yang dibawa sendiri oleh para murid. Sebagian besar murid yang bersekolah di SM SHSadalah anak dari para petinggi negara, pengusaha dan para artist yang meniti karir mereka sejak dini. Tak terkecuali seorang Oh Sehun, pangeran sekolah yang sangat hemat dalam hal bicara dan sangat konsisten dengan ekpresi pocker face-nya. Calon pewaris dari perusahaan besar Oh Corporationini merupakan satu-satunya cucu dari pemilik SM SHSyang merupakan salah satu aset kekayaan yang dimiliki keluarga Oh. Sementara Oh Krystal –yang mengaku sebagai sepupu Oh Sehun-, merupakan puteri dari Oh Kangin –anak angkat Oh Sooman, kakek Sehun-. Kembali pada keadaan di SM SHS,sebuah kerubunan murid yang sebagian besar merupan yeojamenyita sedikit perhatian seorangnamja berkulit agak gelap yang sedang berjalan di koridor sekolah.

"Wahh Sehun kembali menduduki peringkat pertama" ujar seorang murid yeojakagum.

"Tentu saja, dia 'kan pangeran paling sempurna" timpal yeoja lain tak kalah kagum. Namja tanber-name tag Kim Jongin yang mendengar hal itu hanya memutar kedua manik gelapnya tanda jengah saat kaki jenjangnya terhenti tak jauh dari mading sekolah.

"Apa kau sedang menguping, Kim Jongin?" tanya seorangnamjamungil dengan pipi chubbytak lupa di sebelahnya berdiri seorangnamjayang sering Jongin panggil 'wajah kotak'.

"Untuk apa aku menguping? Jangan-jangan kalian yang mau menguping" jawab Jongin sembari mengindikkan kedua bahunya.

"Yak! Apa yang barusan kau bilang?!" Xiumin mulai memanas, Chen yang berada di samping menyaksikan perselisihan Kim bersaudara itu hanya terkikik geli tanpa mau menengahi.

"Wae? Kau sepertinya sudah memanas, hyung. Butuh air?" ujar Jongin dengan wajah meledek, tak lupa tangan kurang putihnya menggoyangkan sebuah botol air mineral ke arah Xiumin.

"Kita selesaikan di rumah!" bisik Xiumin final di telinga Jongin lalu menyeret Chen dengan tidak manusiawi ke kelasnya. Jongin sempat terkekeh seketika terdiam ketika sebuah tendangan dari kaki terlatih menyapa wajahnya.

BUGH

Jongin langsung memasang wajah malasnya seolah bergumam,'Selalu ditendang, memang wajah tampanku ini samsak?!'

"Jangan macam-macam dengan air pada kaki Xiumin hyung, Kai!" geram Baekhyun di telinga Kai a.k.a. Jongin lalu mengulurkan jemari lentiknya untuk membantu Jongin yang sempat tersungkur karena ulahnya.

"Hyung, apa kau tidak pernah berpikir Sehun seperti seorangvampire?" tanya Jongin dengan nada serius membuat emosi Baekhyun mereda.

"Ck... Mengalihkan pembicaraan. Kau mengambil kesimpulan dari mana?" tanya Baekhyun sembari menyerngit.

Kai menerima uluran tangan Baekhyun lalu berdiri, dia mengindikkan bahunya lalu beberapa saat kemudian matanya menyipit.

"Yak! Kau dengar perkataanku tidak sih?!" teriak Baekhyun yang membuyarkan keterdiaman Kai.

"Hyung, Luhan di sini!"

"MWO?!"

...

Bel masuk sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, semua muridpun sudah memasuki kelas mereka masing-masing. Namun, sesosok namja mungil bermata rusa masih asik berkeliaran di koridor sekolah dengan leluasa karena faktanya koridor itu sepi.

"Eoh? Itu 'kan Luhan!" pekik seorang yeoja bersurai dark brownsembari mendatangi sosok mungil yang berjalan entah kemana.

"Luhannie~ Kau sedang apa?" tanya Krystal saat sudah mensejajarkan tingginya dengan Luhan yang baru satu meter lebih beberapa senti.

"Krystal noona!" pekik Luhan girang lalu memeluk yeoja di hadapannya. Dengan tidak sabaran Krystal menggendong tubuh mungil Luhan gemas.

"Kau mencari Sehun, ya?" tanya Krystal dan mendapat jawaban anggukan imut dari Luhan.

"Wahh kebetulan sekali para guru sedang rapat, noona akan membawamu ke kelas Sehun. Dia sedang melakukan hal yang membosankan (read: membaca)" ucap Krystal dengan penuh semangat.

"Jinjja?" tanya Luhan dengan mata rusa berbinarnya.

"Ne! Tetapi, sebelumnya... Poppoyo~" pinta Krystal sembari menyodorkan pipi kirinya.

CHU~

"KYAA~" pekik Krystal kesenangan.

"Apa-apaan sih yeojaitu!" geram seorang namja bermata mungil sembari mengarahkan jari kelingkingnya memasuki gua pendengarannya saat mendengar pekikan Krystal yang terlihat membelakangi dirinya tanpa memperlihatkan Luhan dalam gendongannya.

"Ck, kau malah asik sendiri melihat seorang Krystal memekik! Palli! Luhan pasti sedang tersesat" teriak namja berpipi chubby di belakangnya.

"Hahhh iya iya, siapa juga yang sedang sibuk melihatnya" seru Baekhyung –si namja bermata mungil- itupun melanjutkan acara mari-mencari-maknae-kita ditemani Xiumin.

.

.::. Alternative .::.

.

BRAK

Pintu ruangan kelas yang berisi dua puluhan siswa itu terbuka dengan sang pelaku yang sedang menggendong mahluk –Luhan bukan manusia(?)- mungil yang sangat menggemaskan. Seketika mata seisi murid di kelas itu tertuju pada namjamungil dalam dekapan Krystal, pengecualian pada seorang namja albinoyang duduk di sudut ruangan dengan sepasang manik masih setia pada bacaannya.

"KYAA~" pekik para yeojadan namjaberstatus ukesaat melihat Luhan memandang mereka dengan senyuman manisnya. Mata rusanya masih mencari sosok namja yang ia rindukan.

"Hyungie!" pekik Luhan girang saat maniknya menemukan Sehun sedang serius membaca. Sontak semua murid menatap Sehun penuh tanya. Sementara Sehun masih acuh.

"Anak itu dongsaeng-nya Sehun?" celetuk salah seorang yeojayang sedang memperhatikan wajah Luhan dan Sehun secara bergantian. Sehun hanya mengerutkan dahinya saat mendengar namanya disebut. Krystal menggeleng dengan mantap.

"Luhan itu uke-nya Sehun" jawaban Krystal akhirnya bisa menyita perhatian Sehun yang sekarang memandangnya dengan tatapanhorror.

"MWO?!" coor seisi kelas dengan kompak.

...

Ruangan khusus untuk seorang Oh Sehun di sekolah menjadi tempat teraman untuk saat ini, begitulah yang ada di pikiran Sehun saat membawa Krystal dan Luhan kemari. Mereka duduk di sofa berwarna biru langit yang ditata memutari meja bundar yang berada di tengahnya. Sehun masih menatap Krystal dengan tatapan menusuk andalannya, sedang Krystal tak terlalu memedulikannya ia lebih memilih menatap Luhan yang sedang menyeruput jusnya dengan cara yang imut. Jangan lupakan tangan mungilnya yang memegang sekotak rhumballs.

"Bersihkan namaku, Oh Krystal!" geram Sehun sebisa mungkin menahan emosi. Luhan menatap sepasang namjadan yeojadi depan kiri dan kanannya secara bergantian. Tangan mungilnya mengarahkan sebuah rhumball ke mulut Sehun.

"Hyungie, aaaa~ " ujar Luhan sembari mengangkat tangannya setinggi mungkin untuk menyuapi bibir Sehun yang nyatanya terlalu tinggi dirinya. Sehun mendesah lalu merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tangan Luhan.

KLIK

Tepat saat Luhan sedang menyuapi Sehun, Krystal mengabadikannya momen itu dengan handphone-nya.

"Kyaaa~ Kalian manis sekali" ujar Krystal kesenangan. Sehun memandangnya dengan tatapan datar andalannya.

"Arraseo... Aku akan kembali ke kelas dan membersihkan namamu, tuan muda Oh yang terhormat. Annyeong, Luhannie~" ujar Krystal sembari melambai ke arah Luhan dan kembali ke kelasnya.

"Jadi, kenapa kau ke sekolahku?" tanya Sehun dengan tatapan teduh, Luhan yang tengah mengunyah rhumball-nya sembari mengerjap lucu membuat sebuah senyum terukir di bibir sangnamjaalbino.

"Aku merindukan, hyung..." jawab Luhan setelah selesai menelan bola coklat di dalam mulutnya. Sehun terkikik mendengarnya lalu membawa Luhan ke dalam dekapannya.

"Hyungie, ayo pulang ke EXO planet" ajak Luhan sembari mendongakkan kepalanya.

"Kau sangat ingin aku pulang, ya?" tanya Sehun sembari memainkan pipi gembil Luhan, sementara Luhan mengangguk lucu.

"Tetapi ada syaratnya" sambung Sehun sembari mengeluarkansmirkandalannya.

"Apa syaratnya, hyung?" tanya Luhan dengan tidak sabaran.

"Syaratnya adal-"

BRAK

"Hahh... Hahh... Benarkan hahh... Yang kubilang hahh... Bayi rusa itu di sini hahh..." seketika pintu ruangan pribadi itu terbuka dan menampakkan tiga namja yang Luhan kenal sebagaihyungangkatnya.

.

.::. Alternative .::.

.

"Ohh jadi mereka semua hyung-mu?" tanya Sehun sembari memandangi ketiga namja di hadapannya.

"Ne! Ini Xiumin hyung yang atlasnya kubawa, dia hyung pertamaku" ujar Luhan sembari menunjuk Xiumin, Sehun yang pada dasarnya tidak terlalu peduli akan keberadaan murid lain –selain Krystal- memang tidak pernah mengenal ketiga namja tersebut.

"Ini Baekhyun hyung yang eyeliner-nya kubawa" sambung Luhan yang beralih pada namja manis dengan guratan eyeliner di matanya.

"Nah, kalau yang ini Kai hyung, yang balon kondomnya kubawa!" pekik Luhan dengan suara keras membuat kedua namja yang dikenalkan sebelumnya memberi death glare pada namja tan di samping mereka.

"Kkamjong!" seru keduanya bersamaan.

"Jadi kau yang mengambil kondomku?!" ujar Kai tanpa mempedulikan kedua hyung-nya.

"Hyungie~" dengan segera Luhan membalikkan tubuhnya yang tadi dipangku membelakangi Sehun menjadi menghadap Sehun. Sehun secara reflek memeluk tubuh mungil Luhan dalam dekapannya.

"Gwenchana..." ujar Sehun sembari mengusap pungung kecil Luhan.

"Hahh dasar bayi vampire" gumam Kai dengan acuh.

"Bayi vampire? Jadi Luhan masih bayi?" tanya Sehun dengan wajah terkejutnya. Sementara Kai bingung harus menjawab apa.

"Aku juga vampire kalau kalian ingin tahu" sambung Sehun yang merasa tidak mendapat tanggapan.

"Lebih tepatnya pangeran vampire!" tambah Luhan tanpa mengubah posisinya.

"JINJJA?" seru Xiumin tak percaya.

"Sepertinya dugaanmu benar" ujar Baekhyun sembari menepuk bahu Kai.

"Kulitnya sangat menggambarkan hal itu" ucap Kai dengan penuh keyakinan membuat Sehun menyerngit.

"Kulitku memang begini, kau saja yang terlalu gelap" timpal Sehun dengan wajah tanpa ekspresinya sehingga ketiga namja yang ada di sana tertawa terbahak-bahak.

"Yakk! Aku ini eksotis bukan gelap" Kai membela diri.

"Hidungmu juga pesek hyung kkkk~" ujar Luhan yang membuat Kai semakin geram dan tiba-tiba...

"Grrr..."

WUSH

Seketika itu juga Kai menghilang dari ruangan tersebut.

"Dia kemana?" tanya Sehun dengan bingung.

"Dia sedang berubah menjadi werewolf, Yang Mulia..." jawab Xiumin sembari menahan tawanya.

"Ohh begitu, jadi Luhan masih bayi?" tanya Sehun penasaran.

"Yup, dia baru berusia lima puluh tahun walau dia berada di level tujuh, di bumi dia terlihat seperti lima tahun, Yang Mulia..." jawab Baekhyun yang ditanggapi dengan anggukan kepala dari Sehun.

"Jadi kau sudah berhasil menemukan pangeran, lalu?" tanya Baekhyun dengan penasaran pada namja mungil yang baru saja membalikkan tubuhnya menghadap para hyung-nya.

"Oh iya, syaratnya apa, hyungie?" tanya Luhan sembari mendongak guna menatap mata elang Sehun.

"Nanti kuberitahu di rumah" jawab Sehun sembari mengacak surai Luhan.

"Baiklah..."

"Apa kelas kalian juga kosong sampai istirahat?" tanya Sehun pada Xiumin dan Baekhyun.

"Ne"

"Hmm... Kurasa aku harus kembali ke kelas, aku titip Luhan pada kalian, ya? Kim saem akan masuk sebelum istirahat" ujar Sehun panjang lebar membuat kedua namja berstatus uke di hadapannya terpaku karena belum pernah mendengar Sehun berbicara sepanjang itu sebelumnya.

"Hyung pergi dulu. Jangan nakal, ne?" ujar Sehun sembari meletakan Luhan pada kursinya setelah sebelumnya Sehun berdiri dari sana.

"Ne! Hyungie belajar dengan benar, ne~" balas Luhan sembari berdiri di kursinya dan...

CHU

Luhan menarik dasi Sehun agar namja albino itu menundukkan kepalanya lalu mencium tepat di bibir Sehun, hanya sebuah kecupan singkat namun dapat menghangatkan hati Sehun.

'I'll get you, tonight' batin Sehun.

Setelah kepergian Sehun, kedua namja yang diketahui sebagai hyung Luhan segera mewawancarai sang adik seakan tidak ada hari esok.

...

Masion Oh

Malampun tiba, Luhan kembali meminum susunya setelah satu jam yang lalu ia makan malam dengan berbagai makanan manis kesukaannya. Sehun sempat menawari ketiga hyung Luhan untuk menginap di rumahnya namun ditolak dengan halus oleh ketiganya, katanya setelah selesai bersekolah mereka harus kembali menuju EXO planet. Sehun yang sedang memasukkan bukunya dalam tas tak sengaja menjatuhkan sepucuk surat yang merupakan undangan para orang tua murid untuk mengambil hasil belajar anak mereka selamat satu semester pembelajaran. Sehun menatap surat itu dengan sendu, pasalnya ia selalu melihat teman-temannya datang bersama para ayah mereka dan itu membuatnya iri. Meskipun ia menjadi peringkat pertama dan merupakan seorang pangeran, namun ia sama sekali tidak mendapati figur seorang ayah yang ia rindukan.

Namja kecil itu terus menangis saat melihat kedua orangtuanya bertengkar dari balik pintu ruangan. Semula ia tidak tahu apa yang terjadi kepada keluarganya dan siapa ayahnya sebenarnya. Tetapi, pada malam itu semuanya terbongkar. Sang ibu meminta sedikit waktu dari ayahnya untuk memperhatikan Sehun –si namja kecil- namun yang ia dapat adalah penolakan tegas dari sang suami.

"Sehun masih kecil, ia butuh perhatianmu!"

"Aku tahu, tetapi aku adalah seorang raja! Mengertilah, aku harus mengurus rakyat-rakyatku di sana... Aku tidak bisa selalu berada di sisinya dan kurasa Sehun bisa mengerti"

"Dia memang terlihat mengerti tetapi, tahukah kau di setiap hari yang ia lewati tanpamu ia selalu murung dan sedih"

"Anakku adalah seorang vampire yang kuat, semua vampire itu kuat!"

"Tetapi dia juga setengah manusia, Kangta!"

"Ahh ya, itulah yang membuatnya lemah... Dia setengah manusia, dia terlalu lama tinggal di bumi. Kurasa aku akan membawanya ke planetku"

"Andwae! Sehunku akan tetap di sini, aku tidak akan membiarkanmu membawanya!"

"Hahh baiklah, pada waktunya ia juga akan menjadi raja dan menggantikanku. Aku pastikan itu akan terjadi!"

"Itu semua harus sesuai pilihan Sehun, kau tidak bisa seenaknya memutuskan!"

"Baiklah, kupastikan ia akan menggantikanku di EXO planet. Kita tunggu saja"

...

"Hyungie..." panggil Luhan saat melihat Sehun melamun.

"N-ne?" jawab Sehun dengan sedikit terbata.

"Syaratnya apa, hyung?" tanya Luhan sembari menggenggam botol susunya yang isinya tinggal setegah. Sehun mengembangkan smirk-nya.

"Syaratnya... Kau harus menuruti apa yang hyung inginkan malam ini tanpa protes, arraci?" ujar Sehun sembari melangkah menuju ranjangnya tak lupa menggendong namja mungil bermata rusa itu bersamanya. Luhan menanggapi dengan anggukan antusias.

"Anak pintar... Sekarang buka bajumu ya?" ujar Sehun sembari menepuk butt padat Luhan lalu menurunkannya di atas ranjang. Tanpa protes Luhan segera membuka piyama two pieces serta dalamannya.

"Sudah, hyungie" ucap Luhan dengan senyum cerahnya. Sehun menggenggam tangan mungil Luhan lalu membawanya ke atas tubuhnya. Wajah mungil Luhan mendongak guna menatap sang pangeran.

"Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang nanti terjadi padamu" ikrar Sehun sembari mengulum bibir cherry mungil itu. Luhan mengerjap polos mendengar perkataan Sehun.

"Maksud, hyungie?" tanya Luhan setelah bibirnya terlepas.

"Kita akan menyatu, bersiaplah" Sehun meletakan tubuh Luhan di ranjang. Dengan gerakan cepat Sehun melucuti seluruh pakaiannya lalu merangkak ke atas tubuh Luhan.

"Whoaa punya hyungie besar sekali!"

.

.

.

TBC

.::. Alternative .::.

16:15 W.I.B.

12/04/15

18:36 W.I.B.

26/10/15

[REVISI] Tangerang, 11/05/16

00:24 W.I.B.